Rabu, 24 Februari 2021

SEEKOR ULAR TELAH BERJASA MENYELAMATKAN IKAN YANG TENGGELAM DI SUNGAI

 



.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Internet mengizinkan satu miliar bunga mekar, namun sebagian besarnya berbau busuk” –Tom Nichols

.

Alkisah, suatu ketika seekor ular melintas di sebuah sungai. Sesampai di tengah sungai, ia tampak menyelam. Tak lama ular tersebut muncul di seberang, dengan seekor ikan berada di mulutnya.

Seseorang berhasil memotret peristiwa itu. Ia segera mengunggah foto dengan menulis status penuh kekaguman. “Seekor ular telah berjasa menyelamatkan ikan yang tenggelam di sungai”.

Tak lama berita ini viral di media sosial. Sangat banyak orang mengelu-elukan ular yang baik hati tersebut. Di zaman di mana hati nurani sangat mahal harganya, masih ada ular yang menolong ikan tenggelam.

Framing dan Kebohongan

Inilah “framing” atas sebuah kejadian. Framing yang dilakukan seperti ini, pada dasarnya adalah kebohongan. Ada permainan logika, atas peristiwa “ular membawa ikan” dengan memberikan makna sesuai dengan yang dikehendaki penulis atau pemesannya.

Pertanyaannya, mengapa orang tega melakukan kebohongan melalui tulisan? Menurut psikolog David J. Ley, ada enam alasan yang mem­buat seseorang melakukan kebohongan. Salah satu alasan kebohongan adalah ingin mengontrol situasi.

Orang yang memotret, mengunggah dan menulis kejadian tersebut dengan melakukan kebohongan, tendensinya adalah untuk mengontrol situasi. Apa situasi yang ingin dikontrol?

“Kesalahan” ular tersebut adalah muncul di permukaan. Muncul di publik. Masyarakat terlanjur mengetahui penggal kejadian saat ular membawa ikan di mulutnya. Jangan sampai publik mengetahui, bahwa sebenarnya ular tersebut memakan ikan.

Jangan sampai publik tahu bahwa sebenarnya ular tersebut bukan menolong ikan. Yang sesungguhnya terjadi adalah ada ular yang mencari mangsa di air. Lalu ia menemukan ikan untuk santapannya. Jadi ular membawa ikan di mulutnya sampai seberang, untuk dimakan.

Jika kita berpikir jernih, akan mudah menemukan kebohongan tulisan tersebut. Di antara logika dasar dalam kehidupan, ikan adalah salah satu makanan ular. Bahwa ikan memang habitatnya berada di dalam air. Bahwa ikan tidak tenggelam di air, melainkan hidup di air.

Maka ungkapan “Seekor ular telah berjasa menyelamatkan ikan yang tenggelam di sungai”, adalah permainan logika. Framing. Atau dalam bahasa lain, masuk kategori kesalahan logika alias ‘tahafut al-falasifah’.

Ketika ada pihak asing datang ke Indonesia, memberikan berbagai ‘bantuan’ untuk menyelamatkan Indonesia, benarkah itu membantu? Jangan-jangan mencuri? Bahkan merusak? Hati-hati terhadap framing.

Ketika Indonesia digambarkan ‘tenggelam’, lalu ada pihak yang menyelamatkan, apakah ini bukan framing? Apakah ini bukan permainan logika? Apakah ini bukan kebohongan? Hati-hati dalam menerima dan mencerna informasi.

Tulisan, Antara Membodohi dan Memberdayakan

Kita bisa menulis untuk membodohi publik, bisa juga untuk mencerdaskan publik. Ini pilihan. Kita mengetahui ada pusat produksi tulisan hoax untuk melakukan kejahatan dan penipuan. Setiap hari beredar tulisan untuk mencari mangsa, mereka yang sedang terlena akan berpeluang menjadi korban.

Tak jarang kita terjebak dalam framing yang dilakukan oleh pihak yang berkepentingan. Di media sosial, bertebaran sangat banyak postingan. Ada yang membodohi, ada yang memberdayakan. Ada tulisan yang mencerdaskan, ada tulisan yang menyesatkan. Semua dibuat dengan sengaja.

Korbannya, orang-orang yang ingin menjadi “pihak pertama” dalam kecepatan informasi. Maka jika Anda berada dalam 20 grup whatsApp, akan menjumpai fenomena mendapatkan postingan yang sama di 20 grup tersebut, yang diposting oleh orang yang berbeda-beda.

Mereka mendapat postingan tulisan yang sesuai dengan suasana jiwa mereka. Tanpa berpikir panjang, langsung forward ke semua grup whatsapp yang diikuti. Ini yang disebut oleh Tom Nichols sebagai “the death of expertise”.

Mengutip Hukum Sturgeon, Nichols menyebut bahwa “90 persen dari semua hal (di dunia maya), adalah sampah”. Menurut Nichols, “Internet mengizinkan satu miliar bunga mekar, namun sebagian besarnya berbau busuk, mulai dari pikiran iseng para penulis blog, teori konspirasi orang-orang aneh, hingga penyebaran informasi bohong oleh berbagai kelompok”.

Menurut Tom Nichols, tulisan di media online berpeluang membuat manusia makin bodoh, bahkan makin kejam. Di dunia maya sebagian dari kita tak ingin menguji informasi, berdiskusi dan berdebat sehat. Bahkan lebih suka untuk cepat melakukan forward dan copas tanpa menelaah.

Kesalahan utama, menurut Nichols, bukan pada internet, tapi pada kita. Kita punya masalah “bias konfirmasi”, yaitu kecenderungan alami untuk cepat percaya dan menerima begitu saja informasi yang sesuai dengan kecenderungan kita. Hilanglah kepakaran, berkembanglah copas dan forward tanpa konfirmasi.

Lebih mengenaskan lagi, mereka yang copas dan forward tanpa konfirmasi ini, merasa ahli atau pakar. Seperti ungkapan Bre Redana, “Sekarang, kalau di stadion ada 50 ribu penonton sepakbola, maka sebanyak 50 ribu itu pakar sepakbola. Semua bisa bikin opini dan menyebarluaskannya.”

Maka tulisan “Seekor ular telah berjasa menyelamatkan ikan yang tenggelam di sungai” bisa menjadi viral. Tersebar tanpa terkendali. Tanpa konfirmasi.

Semua kembali kepada kita. Hendaknya menulis untuk mencerdaskan. Menulis untuk mengedukasi. Menulis untuk memberdayakan.

Selamat menulis.

Daftar Bacaan

Senin, 22 Februari 2021

MENULIS MERINGANKAN PENYAKIT ASMA

 


.

Writing for Wellness – 45

Oleh : Cahyadi Takariawan

“A new study, published in the April 14, 1999 issue of the Journal of the American Medical Association, shows that expressive writing can even ease the symptoms of asthma and rheumatoid arthritis” — Chris Woolston, 2000

.

Asma adalah penyakit pada saluran udara yang membuat sulit bernapas. Terdapat peradangan saluran udara yang menghasilkan penyempitan sementara saluran udara yang membawa oksigen ke paru-paru. Penyempitan saluran ini menghasilkan gejala seperti sesak napas, batuk, dan sesak dada. Dalam kondisi yang parah, asma dapat mengakibatkan penurunan aktivitas dan ketidakmampuan untuk berbicara.

Tingkat keparahan asma bisa berubah seiring waktu berjalan, sehingga akan membutuhkan penyesuaian perawatan. Asma yang tidak terkontrol dapat meningkatkan kunjungan ke ruang gawat darurat hingga rawat inap di rumah sakit. Tentunya dapat mempengaruhi kinerja baik di rumah, lingkungan pergaulan maupun di tempat kerja.

Asma diklasifikasikan ke dalam empat kategori. Pertama, gejala ringan, berlangsung selama dua kali seminggu hingga dua kali dalam sebulan di malam hari. kedua, gejala persisten ringan, berlangsung lebih dari dua kali seminggu, tetapi tidak lebih dari sekali dalam satu hari. Ketiga, gejala persisten moderat, kambuh sekali dalam sehari dan bisa mengalami lebih dari satu malam dalam seminggu. Keempat, gejala persisten parah, berlangsung sepanjang hari umumnya terjadi di malam hari.

Penyebab dari penyakit ini sebenarnya belum diketahui secara pasti, tapi umumnya dipicu oleh alergi, polusi udara, infeksi pernapasan, emosi, kondisi cuaca, dan kandungan dalam makanan.

Menulis Ekspresif Meringankan Asma

Sudah banyak literatur yang menunjukkan bahwa menangani kebutuhan psikologis pasien bisa meningkatkan kondisi kesehatan psikologis dan fisik. Menulis ekspresif adalah salah satu teknik yang telah berhasil digunakan dalam beberapa penelitian terkontrol.

Intervensi menulis ekspresif yang dikembangkan oleh Pennebaker dan Beall telah diuji dalam studi tentang manfaat menulis bagi kesehatan. Subjek yang berpartisipasi diminta untuk menulis esai, biasanya selama periode tiga hari, mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka tentang pengalaman traumatis.

“Writing gives you a sense of control and a sense of understanding” –Joshua M. Smyth, 1999

Perbedaan telah ditemukan antara subjek kontrol (yang menulis tentang topik netral) dan subjek eksperimen (yang menulis pikiran dan perasaan traumatis), dalam frekuensi kunjungan ke rumah sakit, kesejahteraan subjektif, dan fungsi kekebalan. Intervensi menulis ekspresif emosional telah memberikan hasil perbaikan kesehatan bagi partisipan.

Helen E. Smith dan tim (2015) telah melakukan penelitian tentang pengaruh menulis ekspresif pada fungsi paru-paru dan kualitas hidup, dari pasien asma. Smith menemukan hubungan antara menulis ekspresif dengan perbaikan kesehatan pasien dengan asma sedang. Menulis ekspresif menjadi sebuah intervensi yang bisa direkomendasikan kepada penderita asma sedang.

“To write about a stressful event, you have to break it down into little pieces, and suddenly it seems more manageable” –Joshua M. Smyth, 1999

Studi serupa telah dilakukan sebelumnya oleh Joshua M. Smyth, asisten profesor psikologi di North Dakota State University, bersama tim (1999). Hasil studi tersebut diterbitkan dalam Journal of American Medical Association edisi 14 April 1999, menunjukkan bahwa menulis ekspresif dapat meringankan gejala asma dan rheumatoid arthritis.

Smyth menemukan, pasien dengan asma ringan hingga sedang atau rheumatoid arthritis yang menulis tentang pengalaman hidup yang penuh tekanan, mendapatkan perbaikan kondisi kesehatan yang relevan secara klinis pada empat bulan setelah intervensi.

“Patients with mild to moderately severe asthma or rheumatoid arthritis who wrote about stressful life experiences had clinically relevant changes in health status at 4 months compared with those in the control group” – Joshua M. Smyth, 1999

Smyth dan tim meminta 70 orang penderita asma atau rheumatoid arthritis untuk menulis tentang peristiwa paling menegangkan dalam hidup mereka. Peserta penelitian menulis tentang rasa sakit emosional mereka selama dua puluh menit, dalam kurun tiga hari berturut-turut.

“Menempatkan kenangan traumatis ke dalam kata-kata dapat membantu meredakan penyakit”, ujar Smyth. “Menulis memberi Anda rasa kendali dan pemahaman,” tambahnya.

Tim peneliti menguji apakah tulisan tentang pengalaman stres memengaruhi ukuran objektif status penyakit pada pasien dengan asma kronis atau rheumatoid arthritis. Dua jenis penyakit ini diketahui telah menyebabkan beban pribadi dan ekonomi yang besar, dan merupakan kondisi kronis yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Studi memberikan kesimpulan yang mendukung hipotesis, bahwa menulis ekspresif memberikan peningkatan kondisi kesehatan penderita asma kronis atau rheumatoid arthritis, empat bulan setelah intervensi. Perubahan kondisi kesehatan terjadi secara signifikan secara klinis.

“Untuk menulis tentang peristiwa yang membuat stres, Anda harus memecahnya menjadi potongan-potongan kecil,” ujar Smyth.

Empat bulan kemudian, 47% dari kelompok yang menulis tentang trauma masa lalu menunjukkan peningkatan kesehatan yang signifikan. Partisipan mendapatkan lebih sedikit rasa sakit dan rentang gerak yang lebih besar untuk pasien arthritis, serta mendapatkan peningkatan kapasitas paru-paru untuk penderita asma.

Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan dan kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Chris Woolston, How Writing Saved My Life, 20 Maret 2000, https://www.webmd.com

MENULIS UNTUK MENJAGA KESEHATAN MENTAL DI MASA PANDEMI

 


.

Writing for Wellness – 47

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Menurut WHO, sehat mental adalah kondisi individu yang yang berada dalam keadaan sejahtera, mampu mengenal potensi dirinya, mampu menghadapi tekanan sehari-hari, dan mampu berkontribusi di lingkungan sosialnya. Selama masa pandemi Covid-19, banyak kalangan masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan mental. Pandemi telah memunculkan sejumlah stres.

Sangat banyak jenis stres yang dimunculkan selama pandemi. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan, stres yang muncul selama masa pandemi Covid-19 dapat berupa:

1. Ketakutan dan kecemasan mengenai kesehatan diri maupun kesehatan orang lain yang disayangi

2. Perubahan pola tidur dan / atau pola makan

3. Sulit tidur dan konsentrasi

4. Memperparah kondisi fisik seseorang yang memang memiliki riwayat penyakit kronis dan / atau gangguan psikologis

5. Penggunaan obat-obatan (drugs)

Tentu saja masih banyak jenis kecemasan yang lain, misalnya terkait dengan tenaga kesehatan yang berjuang di rumah sakit untuk membantu pasien Covid-19, dan lain sebagainya. Termasuk para atlet yang dilanda kecemasan terkait perubahan jadwal berlatih maupun pembatalan pertandingan, yang bisa memengaruhi semangat mereka.

Empat Aktivitas Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi

Departemen Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (2020) merilis empat jenis aktivitas yang dapat menjaga kesehatan mental selama masa pandemi Covid-19.

Pertama adalah mindfulness. Yang dimaksud dengan mindfulness adalah suatu kondisi di mana pikiran, perasaan, dan tubuh kita berada pada saat ini, tidak mengembara ke masa lalu maupun masa depan, serta non-judgemental.

Kedua adalah expressive writing. Yang dimaksud dengan expressive writing adalah aktivitas merefleksikan pikiran dan perasaan yang Anda alami selama masa pandemi ke dalam bentuk tulisan.

Ketiga adalah guided imagery. Pejamkam mata, lalu bayangkan sesuatu yang menyenangkan, dengan berbagai modalitas seperti visual, auditori, dan kinestetik untuk membantu meningkatkan imajinasi. Meskipun kenyamanan ini bersifat jangka pendek, namun guided imagery bisa menjadi pertolongan pertama psikologis dalam menanggulangi kecemasan berlebih.

Keempat adalah self-talk. Berbicaralah kepada diri sendiri dengan kalimat positif. Perlu diketahui bahwa emosi cenderung dipengaruhi oleh pikiran kita, yang mana pikiran kita sangat tergantung dari bagaimana kita menafsirkan suatu peristiwa. Penting untuk kita memperbaiki kembali apa yang menjadi isi pikiran, karena pikiran yang positif akan meningkatkan kualitas emosi dan perasaan.

Menulis Ekspresif untuk Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi Covid-19

Emma Stone, bintang film Hollywood dan pemenang Oscar, yang berupaya membantu kaum muda mengatasi krisis Covid-19, melakukan kampanye untuk mendukung perjuangan selama masa pandemi. “Banyak dari kita menghadapi isolasi, kecemasan, dan ketidakpastian selama krisis Covid-19 ini”, ujar Emma Stone.

“Something I really like to do when I’m struggling with anxiety is a brain dump. What I do is just write down anything that I’m worried about” –Emma Stone, 2020

Stone menyarankan agar masyarakat melakukan ‘brain dump’, yaitu mengurangi beban-beban pikiran, dengan menulis. “Sesuatu yang sangat saya suka lakukan ketika berjuang menghadapi kecemasan adalah brain dump. Yang saya lakukan hanyalah menuliskan apa pun yang saya khawatirkan,” ujarnya.

“Saya hanya menulis dan menulis dan menulis dan saya tidak memikirkannya dan saya tidak membacanya kembali. Ini sangat sangat membantu bagi saya untuk menuangkan semuanya di atas kertas,” ujar Stone.

“I just write and write and write and I don’t think about it and I don’t read it back. I find it’s really, really helpful for me to get it all out on paper” –Emma Stone, 2020

Tempo Institute (2020) menyatakan bahwa menulis ekspresif sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan mental. Di antaranya, menulis ekspresif bisa meredakan ketegangan, dan menghadirkan ketenangan serta kebahagiaan.

Hal sama telah dilontarkan oleh Domtar dalam blog www.csrwire.com (2020) yang menyatakan bahwa menulis ekspresif sangat baik untuk kesehatan mental. Maka sangat relevan apabila menulis ekspresif menjadi salah satu pilihan alternatif intervensi untuk menjaga kesehatan mental selama masa pandemi.

Menulis Ekspresif untuk Menjaga Mentalitas Atlet

Paul A. Davis dan tim (2020) melakukan studi terkait kondisi atlet selama masa pandemi Covid-19. Mereka melihat, efek pandemi Covid-19 telah berdampak negatif pada kesehatan mental banyak atlet. Terdapat peningkatan laporan depresi serta gejala kecemasan dari para atlet.

Menurut pandangan Davis dan tim, gangguan pada jadwal pelatihan dan kompetisi dapat menyebabkan tekanan emosional atlet. Ditambah lagi dengan pembatasan kegiatan yang diberlakukan oleh pemerintah telah berdampak mengurangi ketersediaan dukungan sosial dan emosional terhadap para atlet.

Written Emotional Disclosure (WED) atau pengungkapan emosional secara tertulis, telah digunakan secara luas dalam berbagai bentuk, sebagai cara untuk pengelolaan sisi emosional. Protokol penulisan ekspresif telah digunakan sampai batas tertentu, dalam konteks olahraga dan terutama untuk mendukung pemrosesan emosional atlet selama rehabilitasi cedera.

Davis dan tim merekomendasikan agar menerapkan terapi dengan menulis ekspresif, untuk meningkatkan kesehatan mental atlet dan mendukung kembalinya mereka ke kompetisi. Telah banyak penelitian sebelumnya, yang menunjukkan kemanjuran protokol penulisan ekspresif untuk menjaga mentalitas.

Davis dan tim berusaha menguraikan bagaimana masing-masing mekanisme menulis ekspresif dapat mengatasi kompleksitas multidimensi dari keadaan yang timbul dari pandemi Covid-19. Misalnya terkait dengan kehilangan penghasilan pada atlet, kembali ke pelatihan dan melakukan kompetisi.

Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan mental.

Bahan Bacaan

MENULIS MENYELAMATKAN DARI KEPUTUSASAAN

 


.

Writing for Wellness – 49

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Writing gives me a reprieve from the darkness of life” – John Mulligan

.

Pada tahun 1994, John Mulligan, seorang veteran Vietnam, dilanda depresi berat. Ia mengalami kilas balik dan mati rasa, karena gangguan kejiwaan. Ia putus asa. Tidak memiliki semangat hidup.

Namun hidupnya berubah setelah mulai melakukan aktivitas menulis ekspresif, di bawah bimbingan Maxine Hong Kingston. Pada sesi pertama, Mulligan menulis tentang pemandangan mengerikan dari perang Vietnam. Ketika teman-temannya mengarahkan senjata kepada kerbau untuk bersenang-senang, sebuah balas dendam yang brutal.

Ia menulis tentang darah, kebisingan peluru, rasa kehilangan dan pemborosan yang luar biasa. Segala sesuatu yang mengganggu kehidupannya pasca perang. Seakan semua hadir kembali ke dalam pikirannya. Berutar-putar tanpa bisa keluar.

Usai menjalani terapi dengan menulis ekspresif, Mulligan meninggalkan ruang belajar dengan sangat gembira. Diceritakan, ia “bersiul dan melompat-lompat” kegirangan. Pada tahun-tahun berikutnya, dia berulang kali menemukan bahwa mengungkapkan kengerian masa lalu melalui tulisan, membantu menjernihkan pikiran dan meningkatkan semangat hidupnya.

“Saya harus menghadapi setan saya,” ujar Mulligan. “Saya hanyalah cangkang kosong yang berjalan. Menulis membuat saya merasa memiliki nyawa kembali.”

Menulis Adalah Terapi Ampuh

Ungkapan Mulligan mungkin tampak berlebihan. Akan tetapi banyak penelitian membenarkan kesimpulan Mulligan. Bahwa menulis tentang peristiwa traumatis dapat menjadi terapi yang ampuh bagi tubuh dan pikiran.

“Dozens of studies have found that most people, from grade-schoolers to nursing-home residents, med students to prisoners, feel happier and healthier after writing about deeply traumatic memories” – Chris Woolston, 2000

Sudah sangat banyak penelitian yang menemukan bahwa berbagai kelompok manusia, dari siswa sekolah dasar hingga penghuni panti jompo, siswa kedokteran hingga narapidana, merasa lebih bahagia dan lebih sehat setelah menulis tentang ingatan yang sangat traumatis. Demikian disimpulkan oleh James Pennebaker, PhD, profesor psikologi di University of Texas.

Ketertarikan Pennebaker pada potensi terapi menulis dipicu oleh perbincangan dengan operator poligraf pemerintah. Denyut jantung dan pernapasan penjahat, dia tahu, jauh lebih lambat segera setelah pengakuan daripada sebelumnya. Sejak saat itu, dia menghabiskan sebagian besar karirnya untuk membuktikan bahwa kita semua bisa merasa lebih baik setelah menghadapi masa lalu –melalui tulisan.

“Pennebaker’s interest in the potential of writing therapy was sparked by conversations with government polygraph operators. A criminal’s heart rate and breathing, he learned, is much slower immediately after a confession than before. Since then, he’s spent much of his career proving that we can all feel better after confronting the past through writing” – Chris Woolston, 2000

Menurut Pennebaker, efek menulis tidak hanya terkait sisi emosional. Salah satu studi Pennebaker yang diterbitkan dalam Journal of Consulting and Clinical Psychology pada bulan April 1988, menemukan bahwa mahasiswa memiliki lebih banyak sel T-limfosit aktif, sebuah indikasi dari stimulasi sistem kekebalan, enam minggu setelah menulis tentang peristiwa yang membuat stres.

Penelitian lain yang dilakukan Pennebaker menemukan, bahwa menulis ekspresif membuat kesehatan yang semakin baik, membuat lebih jarang berkunjung ke dokter, lebih optimal dalam menjalankan tugas sehari-hari, serta mendapat skor lebih tinggi pada tes kesejahteraan psikologis.

“Writing about stressful events can be powerfully therapeutic for body and mind” – Chris Woolston, 2000

Terapi Menulis Memerlukan Bimbingan

Joshua Smyth, Ph.D membenarkan apa yang telah dikemukakan Pennebaker. Menurut Smyth, menempatkan kenangan traumatis ke dalam kata-kata dapat membantu meredakan kekacauan dan meredakan bahaya. “Menulis memberi Anda rasa kendali dan pemahaman,” ujar Smyth.

“Untuk menulis tentang peristiwa yang membuat stres, Anda harus memecahnya menjadi potongan-potongan kecil, dan hasil akhirnya lebih bisa dikelola,” ujar Smyth.

Smyth memberikan catatan, “Dibutuhkan upaya bersama – dan toleransi untuk rasa sakit emosional yang intens – untuk menulis tentang kenangan kelam”. Jika tidak dilakukan dengan tepat, menuliskan pengalaman traumatis justru bisa memperparah keadaan. Menurut Smyth, proses penyembuhan melalui menulis ekspresif harus terbimbing oleh ahli.

Kisah John Mulligan di atas, setelah melalui bimbingan menulis, ia bisa melakukannya sendiri di rumah. Ia berbahagia dan bersemangat menulis, hingga menjadi novelis. “A Little Pain” adalah salah satu buku karya Mulligan yang best seller.

Bagi Mulligan, menulis selalu merupakan perjuangan, tetapi juga kelangsungan hidup. “Menulis memberi saya kelegaan dari kegelapan hidup,” ujar Mulligan, yang novel pertamanya, Shopping Cart Soldiers, diterbitkan pada 1997.

Pennebaker percaya orang dapat mencoba terapi menulis sendiri, selama mereka mengikuti satu aturan: “Jika Anda tidak dapat mengatasinya, keluarlah.” Dalam bukunya “Opening Up”, Pennebaker menyarankan untuk menulis tentang tekanan hidup saat ini – tidak harus peristiwa dari masa lalu – setiap kali semangat mengendur.

Menurut Pennebaker, tanpa harus memperhatikan struktur kalimat atau tata bahasa, Anda bisa mencoba menggambarkan trauma dan menjelaskan perasaan melalui tulisan.

Selamat menulis, selamat menikmati kehidupan.

Bahan Bacaan

Briana Murnahan, Stress and Anxiety Reduction Due to Writing Diaries, Journals, E-mail, and Weblogs, Eastern Michigan University, 2010, https://commons.emich.edu/

Chris Woolston, How Writing Saved My Life, 20 Maret 2000, https://www.webmd.com

James W. Pennebaker, Expressive Writing in Psychological Science, https://doi.org/10.1177/1745691617707315, 9 Oktober 2017, https://journals.sagepub.com

MENULIS UNTUK MEREDAKAN ALEXITHYMIA


.

Writing for Wellness – 48

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Tidak semua orang bisa mengungkapkan emosinya dengan baik. Terlebih bagi orang yang mengalami alexithymia, hal ini menjadi suatu hal yang lebih sulit lagi. Alexithymia adalah ketidakmampuan untuk mengenali dan menyampaikan emosi.

Saat menghadapi pertanyaan, “Bagaimana perasaan Anda?” –seseorang mungkin bingung menentukan jawabannya. Inilah yang dialami oleh orang-orang dengan alexithymia. Meski paham bahwa dirinya tengah merasa senang, mereka tidak tahu cara mengungkapkannya.

National Geographic Indonesia (2019) menyatakan, alexithymia bukanlah penyakit ataupun gangguan mental. Kondisi ini bersifat subklinis. Artinya, ciri-cirinya tak bisa disamakan dengan gejala penyakit klinis seperti diabetes, gangguan bipolar, flu, depresi, post-traumatic stress disorder (PTSD), dan sebagainya.

Meski demikian, alexithymia adalah fenomena psikologis yang tetap diakui keberadaannya. Kondisi ini sering dikaitkan, bahkan muncul bersamaan dengan gangguan mental seperti depresi, PTSD, autisme, hingga skizofrenia.

Secara umum, ciri utama dari alexithymia adalah ketidakmampuan mengungkapkan emosi. Ketika berinteraksi dengan orang lain, mereka yang mengalami alexithymia cenderung menunjukkan perilaku sebagai berikut:

  1. Kesulitan mengenali emosi dan perasaan
  2. Kesulitan membedakan antara emosi dan respons tubuh terhadap emosi tersebut
  3. Kesulitan mengenali serta merespons emosi orang lain, termasuk ekspresi wajah dan nada bicara
  4. Memiliki cara berpikir yang sangat logis dan kaku tanpa menyertakan perasaan
  5. Tidak mampu menyampaikan perasaannya dengan baik
  6. Tidak memiliki mekanisme pengalihan emosi yang baik saat menghadapi stres
  7. Jarang berimajinasi atau berfantasi
  8. Terkesan kaku, menjauhkan diri, tidak punya selera humor, dan cuek terhadap orang lain
  9. Merasa tidak puas akan hidupnya.

Alexithymia adalah kondisi yang muncul dalam bentuk spektrum. Artinya, tingkat keparahan dan dampaknya berbeda pada setiap orang. Seseorang mungkin masih bisa mengenali emosinya, tapi ada pula yang tidak bisa melakukannya sama sekali.

Pada beberapa kasus, orang yang mengalami alexithymia bahkan tidak menyadari kondisi ini. Dampaknya adalah frustrasi pada penderita maupun orang-orang di sekitarnya, sebab ketidakmampuan mengungkapkan emosi menjadi hambatan dalam berinteraksi.

Mengatasi Alexithymia dengan Menulis Ekspresif

Teknik menulis ekspresif adalah metode yang berfokus pada ekspresi emosional tertulis yang mengharuskan orang untuk menulis tentang pengalaman traumatis atau sulit, dengan tujuan memperbaiki respon atas peristiwa tersebut. Ternyata beberapa studi menunjukkan bahwa menulis ekspresif bisa meredakan alexithymia.

Pada tahun 2008, Karen A. Baikie mengkaji pengaruh menulis ekspresif terhadap alexithymia, splitting, dan gaya koping represif. Delapan puluh delapan mahasiswa diminta melakukan menulis ekspresif dalam empat sesi, selama 20 menit, dengan tindak lanjut selama satu bulan. Studi menemukan hasil, menulis ekspresif memberikan manfaat bagi individu yang mengalami alexithymia dan split[i].

Studi Karen A. Baikie menemukan hasil, menulis ekspresif memberikan manfaat bagi individu yang mengalami alexithymia dan split.

Sebelumnya, Dario Paez dan tim (1999) telah melakukan penelitian yang melibatkan sekelompok mahasiswa psikologi. Mereka ditugaskan menulis selama 20 menit dalam tiga hari. Peserta yang menulis secara intensif tentang peristiwa traumatis dan memiliki defisit disposisional dalam pengungkapan diri, diukur dengan subskala Skala Alexithymia Toronto, menunjukkan efek positif pada ukuran pengaruh yang dilaporkan sendiri.

Alesia Renzi dan tim (2020) juga melakukan studi serupa. Di antara tujuan penelitian Renzi adalah untuk menyelidiki pengaruh alexithymia, pengaruh intervensi penulisan ekspresif, dan menganalisis protokol penulisan melalui penggunaan Linguistic Inquiry and Word Count (LIWIC). Tiga puluh lima wanita yang menjalani perawatan reproduksi berbantuan (assisted reproductive treatment / ART), berpartisipasi dalam penelitian ini dan mengisi kuesioner sosiodemografi menggunakan Skala Alexithymia Toronto.

Para partisipan menjalani tiga sesi penulisan, dilanjutkan dengan menulis tentang emosi mereka saat ini. Partisipan adalah wanita dengan alexithymia rendah dan alexithymia tinggi.

Analisis dalam kelompok selama tiga sesi menulis mengungkapkan bahwa wanita dengan alexithymia rendah melaporkan jumlah kata lebih banyak, yang menunjukkan keefektifan metode menulis ekspresif.

Studi lain dilakukan oleh Tasmania del Pino dan tim (2016). Mereka mengevaluasi efek kesehatan mental dari intervensi berdasarkan eksperimen ulang, melalui tiga sesi penulisan ekspresif. Semua peserta dievaluasi sebelum dan sesudah penulisan emosional dalam pengaruh positif dan negatif, kecemasan, depresi, pikiran mengganggu dan penghindaran kognitif. Selanjutnya, tingkat optimisme dan alexithymia dikendalikan.

Hasil penelitian menunjukkan efektivitas menulis ekspresif pada pengaruh positif dan negatif dan depresi. Di antara kovariabel, hanya optimisme yang berpengaruh signifikan terhadap variabel emosional.

Michael Arend Strating (2016) melakukan penelitian tentang alexithymia. Penelitian menggunakan data arsip yang terdiri dari kuesioner laporan diri dan narasi tulisan ekspresif yang dilakukan oleh 241 mahasiswa. Mereka menuliskan berbagai kesulitan yang tidak terselesaikan setelah mengalami kejadian yang mengecewakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alexithymia terkait dengan pengurangan gejala stres, depresi, dan kecemasan, terlepas dari kondisi penulisan.

Alessia Renzi (2019) juga telah melakukan penelitian untuk mengevaluasi efek teknik menulis Pennebaker pada tingkat kehamilan, alexithymia dan kesehatan psikofisik selama perawatan reproduksi berbantuan (assisted reproductive treatment / ART).

Partisipan terdisi 91 perempuan yang mengalami perawatan ART, dibagi menjadi dua kelompok eksperimen  dan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen, partisipan diminta menulis tentang pikiran dan emosi mereka tentang pengalaman infertilitas. Hasil penelitian ini mendukung kemanfaatan teknik menulis ekspresif selama ART dalam mempromosikan keberhasilan pengobatan.

Demikian pula studi yang dilakukan oleh Kate M. Pluth (2012). Hasil studi Pluth menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan emosional dan alexithymia berkorelasi dengan parameter penggunaan kata tertentu.

Berbagai studi di atas menunjukkan bahwa menulis ekspresif menjadi salah saru metode yang bisa diterapkan untuk intervensi alexithymia. Meskipun kondisi penelitian dan hasilnya sangat beragam, namun ada hal yang menjadi kesamaan. Bahwa menulis ekspresif memberikan pengaruh terhadap penananganan alexithymia.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Alesia Renzi dkk, Giving words to emotions: the use of linguistic analysis to explore the role of alexithymia in an expressive writing intervention, 7 Sepember 2020, https://www.ncbi.nlm.nih.gov

Alessia Renzi dkk, The effects of an expressive writing intervention on pregnancy rates, alexithymia and psychophysical health during an assisted reproductive treatment, https://doi.org/10.1080/08870446.2019.1667500, 24 September 2019, https://www.tandfonline.com

Dario Paez dkk, Expressive writing and the role of alexythimia as a dispositional deficit in self-disclosure and psychological health, DOI: 10.1037//0022-3514.77.3.630, September 1999, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov

Karen A. Baikie, Who does expressive writing work for? Examination of alexithymia, splitting, and repressive coping style as moderators of the expressive writing paradigm, DOI: 10.1348/135910707X250893, Februari 2008, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov  

Kate M. Pluth, Alexithymia, Emotional Intelligence, and Their Relation to Word Usage in Expressive Writing, 2012, https://scholarship.claremont.edu

Michael Arend Strating, Alexithymia and Expressive writing: Emotional Awareness in Working Through Distress, 2016, https://scholar.uwindsor.ca

NatGeo, Alexithymia, Kondisi yang Membuat Seseorang Sulit Mengenali dan Menyampaikan Emosi, 19 Desember 2019, https://nationalgeographic.grid.id

Tasmania del Pino, Wenceslao Penate, dkk, The efficacy of expressive writing intervention: the role of optimism and alexithymia, https://doi.org/10.1989/ejihpe.v6i3.179, 29 Juli 2016, https://www.mdpi.com

. 

MENULIS NARATIF UNTUK MENGHADAPI RETAKNYA KELUARGA

 



.

Writing for Wellness – 50

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Gambaran tentang keluarga “sempurna” yang sering ditayangkan majalah, TV, atau media sosial, membuat banyak orangtua dan anak yang mengembangkan harapan terlalu tinggi terhadap diri sendiri maupun keluarga. Kesenjangan ini memicu stres, terlebih ketika menghadapi realitas adanya keretakan dalam keluarga.

Saat menghadapi stres, setiap keluarga memiliki respon yang berbeda. Mengutip laman Scanva, ada beberapa respon yang sering terjadi. Di antaranya adalah adu argumen, pertengkaran, dan bentuk komunikasi buruk lainnya; kelelahan dalam keluarga; kebingungan, terutama pada anak-anak, tentang hubungan dengan anggota keluarga lainnya; pelarian dengan makanan, alkohol, dan zat adiktif lain.

Pada dasarnya semua keluarga memiliki masalah dan stres masing-masing. Namun setiap keluarga mengalami efek stres yang berbeda, dan menangani stres dengan cara berbeda. Maka Scanva menyarankan agar semua mampu bekerja sama sebagai sebuah keluarga untuk menghadapi stres.

Di antaranya adalah dengan membicarakan perasaan secara terbuka. Jaga jalur komunikasi tetap terbuka sehingga setiap anggota keluarga merasa nyaman menyuarakan perasaan mereka jika mulai merasakan stres. Pilih suasana nyaman dan tenang untuk berbicara dari hati ke hati, biarkan semuanya berbicara dengan lancar mengalir tanpa diinterupsi dan dihakimi.

Pada dasarnya semua keluarga memiliki masalah dan stres masing-masing. Namun setiap keluarga mengalami efek stres yang berbeda, dan menangani stres dengan cara berbeda.

Semua persoalan yang menekan dan menimbulkan stres, sebisa mungkin segera mendapat penyelesaian. Jika tidak dikhawatirkan akan menimbulkan keretakan keluarga. Ketegangan yang semakin meningkan menyebabkan peningkatan pula dalam intensitas konflik, yang bisa berdampak buruk bagi anggota keluarga, terlebih anak-anak.

Sebuah penelitian pernah dilakukan oleh Nurtia Massa dan kawan-kawan pada tahun 2020, yang bertujuan untuk mengetahui dampak keluarga broken home terhadap perilaku sosial anak. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara terhadap anak-anak yang dari keluarga broken home.

Dampak keluarga broken home terhadap perilaku sosial anak yang paling menonjol adalah mudah mendapat pengaruh buruk dari lingkungan dan mudah terlibat permasalahan moral.

Ditemukan beberapa perilaku sosial anak yaitu rentan mengalami gangguan psikis, membenci kedua orang tua, mudah mendapat pengaruh buruk dari lingkungan, memandang hidup adalah sia-sia, tidak mudah bergaul dan permasalahan moral. Dampak keluarga broken home terhadap perilaku sosial anak yang paling menonjol adalah mudah mendapat pengaruh buruk dari lingkungan dan mudah terlibat permasalahan moral.

Refleksi Diri dengan Menulis Naratif

Dampak negatif dari keretakan keluarga tentu harus disadari sepenuhnya oleh orangtua, agar mampu menemukan solusi yang paling tepat. Salah satu cara menyelesaikan persoalan keluarga adalah dengan meredakan ketegangan personal. Misalnya suami dan istri yang tengah mengalami keretakan, bisa menempuh mekanisme cooling down agar tercipta suana ‘perdamaian’ di antara mereka.

Setiawati Intan Savitri, seorang psikolog, bersama rekan-rekannya (2019) melakukan penelitian terkait salah satu cara merespon keretakan keluarga, dengan refleksi diri. Saat individu berusaha mengatasi dampak emosional menghadapi keluarga retak, individu mencoba untuk melakukan refleksi atas peristiwa tersebut meski kadang sulit karena individu larut pada emosi negatif (ruminasi). Namun, individu juga mampu melihat pengalamannya secara adaptif dari perspektif pengamat dengan merespon tekanan dengan berjarak, sehingga mampu memaknai atau mendapatkan solusi dari tekanan.

Savitri dan tim melakukan penelitian untuk menggambarkan proses refleksi diri adaptif ketika merespon peristiwa retaknya keluarga dengan cara menulis narasi dengan kata ganti personal satu (perspektif pelaku) dan menulis narasi dengan kata ganti personal nama-diri (perspektif pengamat).

Studi yang dilakukan Kross dkk (2014) menyatakan bahwa kata ganti personal nama-diri merupakan metode untuk refleksi diri yang dianggap lebih adaptif dibandingkan dengan menggunakan kata ganti personal satu (perspektif diri pelaku) yang menyebabkan efek larut pada emosi negatif.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Subjek penelitian berjumlah tujuh orang, terdiri lima wanita dan dua pria. Data diperoleh dari teks tulisan subjek yang mengikuti eksperimen menulis naratif selama empat hari berturut-turut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa instruksi menulis dengan bahasa yang berjarak menggunakan perspektif pengamat, jika dibandingkan dengan instruksi menulis dengan menggunakan perspektif pelaku, pada level tertentu dapat membantu proses refleksi diri adaptif dengan mekanisme yang berbeda.

Menemukan Solusi dengan Hati dan Pikiran Jernih

Menulis naratif tentu saja tidak serta merta bisa menyelesaikan keretakan keluarga. Namun menulis naratif bisa dilakukan oleh suami dan istri yang tengah berada dalam keretakan hubungan. Saat suasana jiwa mereka dilanda emosi tingkat tinggi, sangat sulit untuk bisa menemukan solusi dan titik temu yang disepakati.

Dengan menulis naratif sebagaimana direkomendasikan oleh hasil studi Savitri dan tim, setiap individu bisa mengalami proses refleksi diri. Hingga tercapai suasana yang lebih kondusif. Hati dan pikiran yang tenang, untuk melahirkan energi perbaikan suasana. Masing-masing pihak telah mampu merefleksikan kondisi, sehingga bisa berbicara dan berdiskusi yang membawa solusi.

Selamat menulis, selamat menemukan kedamaian.

Bahan Bacaan

MENULIS EKSPRESIF UNTUK MENGHILANGKAN KESEDIHAN

 


.

Writing for Wellness – 51

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Feeling sad can alter levels of stress-related opioids in the brain and increase levels of inflammatory proteins in the blood that are linked to increased risk of comorbid diseases including heart disease, stroke and metabolic syndrome” – ScienceDaily, 2016

.

Sedih adalah salah satu kondisi yang bisa terjadi pada semua manusia, tanpa terkecuali. Bahkan kesedihan menjadi ciri kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang tidak pernah merasakan kesedihan. Bahkan pada orang-orang pilihan seperti para Nabi sekalipun. Dalam sejarah dikenal ada ‘tahun kesedihan’ yang dialami Nabi Muhammad saw.

Meski demikian, terlalu banyak bersedih tidak baik bagi kesehatan manusia. Sebab merasa sedih dapat meningkatkan kadar protein inflamasi dalam darah yang terkait dengan peningkatan risiko penyakit penyerta, seperti penyakit jantung, stroke, dan sindrom metabolik. Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di The University of Pusat Ilmu Kesehatan Texas di Houston (UTHealth) menyatakan hal tersebut.

Salah satu sumber kesedihan adalah kehilangan orang-orang terkasih, seperti pasangan hidup, orangtua, bahkan sahabat dekat. Adalah wajar dan manusiawi, ketika kehilangan orang terkasih, kita merasa sedih. Terkadang bahkan sampai larut dalam kesedihan. Diperlukan intervervensi yang tepat untuk mempercepat pulih dari kesedihan.

Berbagai Cara Menghilangkan Kesedihan

Sangat banyak cara untuk mengelola kesedihan. Pada orang-orang beriman, mereka memiliki cara menghilangkan kesedihan dengan kembali kepada keyakinan imannya. Misalnya, bagi umat muslim, mereka akan menghilangkan kesedihan dengan sabar dan shalat (QS. 2 : 45 – 46), juga memperbanyak dzikir (QS. 13 : 28).

Selain menggunakan metode spiritual, mereduksi kesedihan juga bisa dilakukan dengan menyibukkan diri dalam berbagai aktivitas positif. Tidak membiarkan hati dan pikiran terus menerus mengingat kesedihan yang dialami, namun mengajak otak untuk sibuk dengan berbagai hal yang positif. Pada dasarnya otak hanya akan fokus kepada satu hal dalam satu waktu.

Salah satu aktivitas yang bisa mereduksi kesedihan adalah dengan menulis ekspresif. Courtney E. Ackerman (2021) menyatakan, menulis berfungsi untuk meningkatkan kesehatan mental dengan membimbing kita menghadapi emosi yang sebelumnya dihambat.

Menulis mampu mengurangi stres, membantu memproses peristiwa sulit, dan menyusun narasi yang koheren tentang pengalaman kehidupan –Courtney E. Ackerman (2021)

Menulis mampu mengurangi stres, membantu memproses peristiwa sulit, dan menyusun narasi yang koheren tentang pengalaman kehidupan. Menulis memungkinkan bagi kita untuk melalui pengalaman berulang terhadap emosi negatif, misalnya terkait dengan ingatan traumatis, sebagaimana hasil studi Baikie & Wilhelm (2005)

Menulis Ekspresif untuk Menghilangkan Kesedihan

Setiawati Intan Savitri, seorang psikolog, dan tim melakukan penelitian pada tahun 2019 lalu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengaruh tulisan ekspresif terhadap tingkat kesedihan seseorang melalui desain sekuensial. Dilakukan percobaan menulis ekspresif selama 3 hari berturut-turut selama 15 menit setiap hari, kemudian dilakukan analisis terhadap isi tulisan peserta.

Penelitian ini menggunakan desain eksperimen teknik pencocokan pre-post test yang dilanjutkan dengan analisis isi. Melibatkan 30 partisipan, yang kehilangan orang tua lebih dari enam bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mengalami penurunan tingkat kesedihan relatif terhadap kelompok kontrol, teks menunjukkan hasil yang menarik untuk dibahas lebih lanjut.

Savitri dan tim membuka wawasan kita bahwa menulis ekspresif bisa menjadi sarana meredakan kesedihan karena kehilangan orangtua. Dalam studi lain, menulis ekspresif juga mampu meredakan kesedihan yang diakibatkan kehilangan sahabat dekat. Seperti studi yang dilakukan oleh Davide F. Margola dan tim.

Margola dan tim melakukan studi untuk menyelidiki pengungkapan emosi tertulis pada remaja untuk menghadapi peristiwa traumatis yang mereka alami secara kolektif. Peristiwa traumatis kolektif tersebut adalah kematian mendadak seorang teman sekelas. Tentu saja, kehilangan salah seorang sahabat memberikan kesedihan tersendiri bagi teman sekelas.

Dua puluh siswa sekolah menengah diminta menulis tentang reaksi emosional mereka terhadap kematian salah seorang teman sekelasnya, selama tiga hari berturut-turut. Tulisan-tulisan tersebut diproses menggunakan Linguistic Inquiry dan Word Count (LIWC) dan dianalisis menggunakan perangkat lunak metode campuran (T-LAB).

Analisis tekstual mengungkapkan elaborasi progresif peristiwa traumatis selama tiga hari penulisan, bergerak dari perspektif faktual ke pemrosesan emosi, menuju restrukturisasi emosional dan kognitif yang terintegrasi. Secara khusus, siswa dalam lintasan stabil-positif dan pemulihan lebih banyak menyebutkan teman sekelas yang meninggal dan mencerminkan pemrosesan kognitif yang lebih besar dari trauma tersebut.

Siswa dalam lintasan stabil-negatif menggunakan lebih banyak referensi diri dan kata-kata emosi negatif dan menunjukkan tingkat penghambatan yang lebih besar. Hasilnya memberikan petunjuk awal untuk proses penyesuaian pada kematian remaja. Terdapat pengaruh untuk memproses kesedihan menjadi pemaknaan kognitif, melalui tulisan ekspresif.

Dari berbagai studi, semakin menjelaskan peran menulis ekspresif untuk meredakan kesedihan, pada contoh kasus karena kehilangan orangtua atau sahabat dekat. Menulis ekspresif mampu mengolah peristiwa traumatis menjadi pemaknaan kognitif yang membuat kesedihan mereda.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...