Tampilkan postingan dengan label Antologi 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antologi 1. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Agustus 2022

GURU PROFESIKU, SEKOLAH LADANG AMALKU

 


Oleh : Ledwina Eti

 

Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya bermutu, tapi guru yang bermutu dapat melahirkan ribuan orang-orang hebat.  (juproni.com)

 

               

Jika ditanya mengapa aku  ingin jadi guru?  Itu karena terinspirasi  bapak kandungku yang paling kuhormati dan kukagumi.  Beliau adalah seorang bapak yang  selalu bersahaja. Hidup tenang dan  selalu jadi panutan dimana saja berada. Jadi penasehat yang disegani oleh orang-orang di sekitar kami.

Bapak saya adalah seorang guru. Setiap  hari  pergi mengajar.  Dengan  motor tuanya L2S yang selalu menemani. Dia paling setia untuk tugas-tugas pengabdiannya. Demi untuk mencukupkan  kehidupan keluarga, bapak harus mengajar di beberapa tempat. Yaitu :SPG Van-Lith, STM Pangudiluhur dan SMA K. Pendowo Muntilan. Setiap pagi harus bawa bekal makan karena bapak pulang sore hari setiap hari.  

Dengan sifat yang bapak miliki: Rendah hati dan suka mengalah.  Kakek dan nenekku  begitu sayang  dan bangga dengan profesi bapakku. Setelah kakek saya meninggal warisan tanah seharusnya dibagi 3, karena  ketiga anak kakek adalah laki-laki. Tapi kenyataannya tidak begitu. Bapak menerima  seberapa saja yang diberikan kakek.

Bapakku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Kebetulan bapak sendiri yang mau sekolah waktu itu.  Kakaknya tidak mau sekolah. Mereka  suka dirumah saja membantu orang tua kerja sawah. Kakek dan nenekku adalah petani tulen.  Berkat  kerja keras dan tekun belajar maka bapak lulus kuliah, dan akhirnya jadi guru. Bahkan sebagai bukti ijazah bapak saat masih SGB ( Sekolah Guru Bawah) masih ada dan beberapa  nilainya 10.  Kami sungguh terkesan.

Saat itu “sang Guru” masih sering dilihat dengan sebelah mata. Jaman pak Umar Bakri. Guru tua, naik sepeda ontel, hidup sangat sederhana karena gaji yang diterima tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Akhirnya harus cari pekerjaan lain.  Itulah guru saat itu. Tapi jasa guru tak pernah  diragukan. Jasanya terlalu besar karena gurulah yang bisa mengantarkan anak-anak untuk meraih cita-citanya. Maka saat itu guru  dijuluki ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Saya masih ingat lagu guru yang selalu didengungkan diradio-radio dan di TV saat itu , bunyinya begini:

Kita jadi pandai karena pak guru.

Kita jadi pintar karena bu guru, 

Gurulah pelita, penerang dalam gulita

Jasamu tiada tara.

 

 

              Saya anak pertama dari empat bersaudara. Hanya saya saja yang jadi guru. Adik-adik  semua  Sarjana Teknik almamater UGM dan  Univ. Atmajaya.  Saya ingin jadi guru karena  guru pasti  akan selalu dibutuhkan. Mudah cari kerja dan pasti laku di sekolah untuk mengajar.  Guru akan dihormati dan dihargai.  Guru bisa melatih, mendidik, mengajar  peserta didik. Seolah ada kebanggaan tersendiri di sanubari dan di hati yang tak bisa diungkapkan. Mudah dirasakan tapi susah dikatakan. Begitulah. Bangga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk ikut mencerdaskan anak bangsa.

 

Hal itulah yang membuat saya selalu mengagumi bapak. Banyak nasehat-nasehat yang selalu kami dengar dari bapak yang seorang ‘guru’.  Serasa Indah dan menyejukkan hati. Dengan begitu akhirnya saya begitu tertarik  menjadi guru.

              Lulus SMA saya langsung daftar di IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan)  Sanata Dharma Yogyakarta. Saya ambil  FPMIPA  jurusan matematika. Tanpa menunggu lama, setelah lulus kuliah saya langsung bisa mendapatkan SK CPNS dan ditempatkan di daerah konflik Timor-Timur.  Saat itu, tahun 1990 Tim tim masih ‘agak’ genting. Tapi namanya abdi negara, harus rela ditempatkan dimana saja, di seluruh pelosok Nusantara. SK pertama kami mengajar di SMA Negeri Maliana Bobonaro . Sebuah kota kecil di Tim Tim. Saat itu baru satu-satunya SMA di kabupaten itu.  Semua adalah guru pendatang dari seluruh  Indonesia.  Ada yang dari batak, sulawesi, kalimantan, Jawa dan lain-lain. Yang  jelas seru deh saat itu  bisa berteman dan akrap dengan mereka.  Serasa senasib sepenanggungan.

              Bukan kebetulan, SK saya datang bersamaan dengan bapak kandung saya di Timor Timur. Di sekolah yang sama pula. SMA Negeri Maliana, Bononaro , Timor Timur.  Saya sebagai guru biasa dan bapak sebagai kepala sekolah. Selama bapak kandung jadi kepala sekolah, saya tak pernah punya tugas tambahan. Bahkan jadi wali kelas saja tidak. Jadi saya pribadi tak ada kemajuan, seolah tak kompeten. Seolah bapak tidak mempercayai kemampuan anaknya, hehe…Di Maliana tiga tahun lamanya.

Seiring berjalannya waktu bapakku (HR. Sudayat) dimutasikan di kota provinsi menjadi kepala sekolah di SMA Negeri 1 Dili Timur-Timur. Suamiku juga  adalah  seorang guru. Dia orang NTT, karena belum juga lulus PNS di tempat kelahirannya, akhirnya  ikut serta bergabung dengan kami di Tim Tim.  Sekali tes  CPNS langsung Lulus.  Dia ditempatkan di SMKK Negeri 1 Dili Timor Timur.

Kami bertiga berprofesi guru. Saat itu saya masih di Maliana, setelah suami PNS  saya mengajukan permintaan untuk  mutasi di Dili.  Benar, akhirnya saya dimutasikam di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur. Sebagai guru bersyukur saya diberi kesempatan untuk mengajar PGSD  menjadi Tutor.  Selain itu saya juga diminta untuk  menatar di BPG ( Balai Penataran Guru ) bahkan diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan Widyaiswara tingkat nasional di P4TK Yogyakarta 2 kali.

Sebuah kebanggaan bagi saya, karena tidak semua guru mendapatkan kesempatan itu. Itu berkat, menjadi fasilitator di BPG,  nota bene punya tambahan penghasilan. Puji Tuhan. Dengan begitu saya bisa membangun rumah untuk tinggal. Hari demi hari kita lalui dengan penuh syukur, sebagai keluarga baru kami menikmati seluruh anugerah yang sudah Tuhan berikan padaku. Kami menyadari Kabahagiaan tidaklah muncul  dari harta yang melimpah, tapi muncul dari kebiasaan  hidup yang wajar dan normal.

Kebahagiaan tidak berjalan lama. Suasana Timor Timur semakin mencekam. Pemberontakan terjadi dimana-mana. Beruntung saat itukedua anak saya sudah saya titipkan di Jawa bersama Eyangnya.  Suasana Timor Timur  bukannya semakin membaik tapi  akhirnya……Timor Timur merdeka!  Kami Warga Indonesia harus ‘dipulangkan. Korban berjatuhan. Suasana panik. Saya pun harus meninggalkan Tim Tim dengan segera. Harta benda yang ada kita tinggalkan semua.

Tahun 2000 SK pun turun di SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur, NTT. Kami merangkak  dari ‘nol’. Penuh keprihatinan. Penuh perjuangan. Kini  di tempat baru rumahpun  masih ‘numpang’ di kakaknya suami. Bersyukur kami punya SK PNS. Gaji kami tak berkendala.

Hari-hari kami jalani dengan penuh syukur. Kita berusaha untuk selalu bahagia atas nikmat Tuhan. Kita lupakan yang sudah berlalu, kita  membangun semangat yang baru di tempat yang baru. Trimakasih Tuhan kami masih diberikan nafas dan kehidupan.  Kami tak pernah menyesali yang sudah terjadi. Harta bisa dicari. Itu hanya ‘titipan’ dariNya.

Waktu terus berjalan tak terasa kini saya  meninggalkan Timor-Timur sudah 22 tahun. Jika tak kami tulis disini berarti  keluarga tak pernah tahu kalau kami adalah  korban konflik bencana. Sebagai guru, kami akan setia terus mengabdi hingga pension nanti. Aku tetap bangga dengan profesiku. Di  bulan April tahun 2026 tugas sebagai guru selesai. Empat tahun tak lama. Semoga Tuhan memberikan umur yang panjang.  Semoga di masa pensiun nanti masih bisa berkarya dan  bermanfaat bagi sesama. Amin.

 

#Pembelajar  sejati,

Longlifeeducation, Rela  terus belajar mengeluarkan tenaga, pikiran, mengeluarkan anggaran untuk membeli fasilitas/sarana yang diperlukan. Misal Komputer, HP, Printer, data yang memadai.

Jadilah pensil yang bisa menuliskan cerita bahagia. Jadilah penghapus yang bisa menghilangkan  kisah sedih.

Jika kamu hanya membaca buku orang lain, kamu hanya memiliki apa yang orang lain pikirkan.

Maka, tulislah kisahmu dalam buku, agar orang lain tahu ceritamu. Buku adalah sahabat paling setia. Dia rela mendampingi sepanjang waktumu. Dimanapun kamu berada.

 

 

Salam literasi...      Penulis bernama Ledwina Eti Wuryani, Asli Magelang Jawa Tengah  yang tinggal dirantauan sejak tiga puluh tahun yang lalu.  Lulusan  IKIP Sanata Dharma tahun 1989.  Seorang ibu dengan 2 putra ( Marcel dan Anto), ibu rumah tangga dari suami Drs Adi Ch. Muhu, mantan korwas Sumba Timur.  Penulis adalah guru di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT. Pernah  juara 2 gupres tingkat UPTD wilayah 10 NTT.  Pernah jadi Tutor PGSD , penatar (Widyaiswara)  di BPG Timor-Timur. Sudah  banyak artikel  ditulis oleh penulis dan yang ditulis di berbagai media masa  ,lokal ada juga yang  propinsi NTT.  Sudah 50-an  buku solo dan  Antologi sejak  ada  wabah Pandemi corona Maret 2020. Tulisan antologi ada cerpen, puisi,  story telling, Cerita tentang Belajar dari rumah ( PJJ)  dan lain-lain.  Penulis bisa dihubungi melalui email ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 11 Juni 2022

A34. KETIKA HIDUPKU HARUS BERJUANG Day 34

 


Mungkin saja kisah dan pengalaman  hidupku ini biasa saja. Bukan hal yang menarik. Namun aku selalu yakin bahwa setiap kisah perjalanan kehidupan manusia, ada hikmah yang bisa diambil dan dipelajari. Semua tergantung dari cara memberi makna atas peristiwa tersebut.

 

Pada  suatu hari aku bertanya pada diri sendiri. Ingin  Punya masa depan yang lebih baik? Ya sekolah!.  Lulus SMA  saya harus kuliah. Bersama teman-teman rame-rame daftar Sipenmaru (Seleksi penerimaan mahasiswa baru : Red) . Alhasil  tidak lulus!. Hati kecewa!.  Pasti!! Tak boleh patah semangat!, banyak teman yang bernasib sama denganku. Akhirnya saya mendaftar di IKIP Sanata Dharma. Puji Tuhan diterima!. Saya mengambil jurusan matematika.  Pertimbangannya, jurusan itu pasti laku. Yah!, kalau tidak jadi PNS  berari bisa memberi les privat. Bisa  kerja di tempat bimbingan belajar siswa.   Modal  bisa berhitung berarti bisa juga buka usaha kecil, bisnis, misal buka warung. Fakultas matematika  identik dengan  angka dan perhitungan.

            Berani Kuliah berarti  berani  berjuang untuk memenuhi segala kebutuhannya.  Apapun!, dari  biaya kuliah, kos, kebutuhan hidup, buku sampai pada  perlengkapan  lainnya.  Orang tuaku hidup sederhana, ayahku guru dan ibuku hanya di rumah saja. Gaji guru dulu tidak seperti sekarang.  Kalau  hanya mengandalkan gaji, rasanya kurang. Apalagi untuk biaya sekolah 4 orang anak. Yah!! tak  cukup, apalagi sampai perguruan tinggi.

            Saya anak pertama dari 4 bersaudara.  Orang tua mengharapkan  kami ‘harus’ sekolah di Jogya. Apapun! Ayah dan ibuku  berjanji akan  ‘usaha’ dengan  mengikat kencang  pinggangnya. Biarlah yang di kampung  hidup  sederhana, tapi anak-anak harus  bisa sekolah dengan baik di kota. Itu harapan besar orang tuaku.  Janganlah hidupmu nanti seperti  orang tua sekarang. Menurut  cerita mereka sejak  bapa dan ibu pacaran, mereka  sudah bermimpi untuk anaknya bisa sekolah di Jogya. Kota propinsi yang berjarak 40 km  dari kampungku. Semua!, Ya Semua anaknya harus di kota!”: kata  bapak penuh harap.

            Demi mewujudkan  mimpi itu,  ibu  akan rajin  kerja sawah. Menanam padi dan sayur untuk dijual di pasar tradisonal dekat rumahku.  Kami  hidup prihatin dan penuh kesederhanaan.  Kami menyadari  tugas berat orang tuaku untuk bisa menyekolahkan aku dan adik-adiku.

            Kalau kami kos pasti mahal. Tidak produktif!.   Akhirnya kami disewakan rumah. Kami  sulap rumah sederhana itu menjadi warung.  Untuk melatih mandiri, ibu mengajariku memasak. Maksudnya, supaya kami bisa  kuliah dan biayanya diambil dari hasil jualan. Akhirnya kami sepakat mengikuti ide orang tuaku.

            Waktu SMA  sampai kuliah semester 2 saya tinggal di asrama. Tiga orang adikku kos.  Seijin  orang tua, saya  keluar dari asrama. Sebagai anak sulung aku harus siap mendampingi mereka.Betapa besar  biaya hidup dan kebutuhan kami.  Orang tuaku melatih kami untuk mandiri.   Demi  mimpikami  apapun usaha dan kerja keras  haruslah dilalui. Tak ada kesuksesan yang diraih tanpa cucuran keringat dan air mata...Namun jika kita melakukannya dengan penuh keikhlasan maka ...air mata kebahagiaan akan menggantikan semuanya...

Waktupun berjalan seperti air yang mengalir. Orang tua di rumah. Kami 4 orang  di Jogya bersama dengan warungku. Menu yang kami jual nasi campur, bakso, dan soto. Warung  terletak di depan SMA De britto, karena kebetulan adikku nomor tiga sekolah di situ. Sekolah Favorit, terkenal dan merupakan sekolah impian. Biaya sekolahnya  ‘lumayan’ mahal untuk ukuran kami.

            Pagi bangun jam 01.00 untuk belanja di pasar dilanjutkan memasak . Pekerjaan kita nikmati dengan suka cita.  Kami berjuang bersama-sama. Mbak Sri dan Yu  Tinuk yang selalu setia  membantu kami. Mereka menganggap kami  seperti keluarga. Kami  menghargai dan menghormati mereka. Tanpa mereka warung kami  pasti tidak bisa berjalan dengan baik.

            Orang tuaku sudah  bertanggung jawab, menyewa mahal rumah itu. Mereka pinjam bank . Mereka  pula yang menyicilnya. Saya bertanggungjawab  untuk mencukupkan kebutuhan  hidup dan sekolah  kuliah  aku dan adik-adikku. Berat!!.  Kita selalu  hidup dengan motivasi. Tak ada keberhasilan yang tanpa perjuangan.  Hidup masa depan kita harus lebih baik dari orang tua. Tentunya supaya kelak bisa  gantian membantu  orang tua kalau mereka sudah tidak berdaya.

Kami harus  pintar membagi waktu antara kuliah dan  menjaga warung. Kampusku dekat, di jalan gejayan. Kami  jalan kaki ke kampus. Hanya sebuah motor! Jadi  pakai bergantian  dengan penuh  pengertian.  Jadwal  kuliah kami tempel di tembok,  begitupun adik-adikku. Tentunya supaya  kita bisa  ada yang  ‘jaga’  untuk melayani pembeli. Kami ber- moto, “pembeli adalah raja”.  Jangan mereka  kecewa dengan pelayanan kita.  Sekali kecewa  pelanggan akan kapok. Mereka  tak akan pernah  datang lagi untuk  belanja. Pelayanan, kebersihan dan rasa  wajib diperhatikan. Senyum ramah juga kita utamakan.

Jam istirahan SMA De Brito  jam 10.00.  Pada Jam 09.00 kami sudah merasik bakso, soto dan es jeruk, tes teh.  Jam bel istirahat berbunyi mereka  terhambur menuju  ke warung kami.  Banyak langganan kami yang setia. Setiap hari mereka datang.  Nasi campur,Bakso soto dengan  harga pelajar. Yang penting  murah deh. Kami  bahagia sekali menikmati kehidupan waktu itu.

Warung tutup jam 21.00  kami hitung hasil jualan hari itu. Kami harus  bisa menyisihkan sedikit untuk persiapan kebutuhan  kuliah. Uang sisa  kita habiskan untuk belanja warung. Begitu seterusnya. Itu, yang setiap hari kami kerjakan. Jadi hari-hari  terasa  sibuk, begitu berharganya waktu  sehari 24 jam  yang diberikan Tuhan. Kami harus berusaha  bisa untuk menyelesaikan semuanya dengan baik.  Kita tak boleh mengecewakan orang tua. Belajar, bekerja  dan berdoa (3b). Prinsip!.

Sebut saja Mas Eko,  mahasiswa  UPN jurusan pertambangan. Dia sudah pegawai  tapi tugas belajar. Salah satu langganan kami. Dia begitu naksir berat  adikku. Setiap ke warung pasti   dia membawa  teman-teman yang berbeda.  Seneng kita. Sebagai penjual  ada langganan yang setia.

Singkat cerita, akhirnya dia menyatakan ‘cintanya’ kepada adikku.  Setelah  minta persetujuan  saya. Ya, iyalah! : Jawabku.  Kami belum   berani kasih tahu orangtuaku. Biarlah  semua berjalan  layaknya air yang mengalir. Janganlah pacaran mengganggu kuliah dan usaha kami itu.  Pikir saya,  kalau  masa depan sudah jelas. Kenapa mesti di larang?.

Yu Tukini,  salah  satu yang membantu masak, kami anggap  sebagai kakak. Dia cantik, pintar masak . Suatu hari kakakku, anak dari bude ( kakaknya bapakku :Red).  Dia tinggal di Sumatra. Main di Jogya. Saat main di warungku dia naksir yu Tukini. Setiap hari ia datang. Dia setia  dan akhirnya jadi istrinya. Sebagai Orang terpelajar diapun pacaran tidak pernah neko-neko. Dia tidak pernah mengajaknya keluar, karena tugas utama yu Tukini adalah memasak di dapur. Setelah menikah Yu Yu Tukini  diboyong  ke Sumatra untuk jadi  istrinya. Kami semua senang keputusan ini

Saya kuliah di IKIP.   Calon guru. Waktu itu, guru  biasa dipandang ’sebelah mata’.  Kita masih ingat nyanyian ‘umar bakri’.  Dimana  lirik  lagu itu menceritakan tentang kehidupan guru yang  teramat sangat bersahaja dan hidup sederhana. Naik Sepeda bututnya. Indentik  dengan  kesengsaraan  dan penderitaan yang tak ada putusnya.  Itulah. Saya pun siap untuk dalam pengabdian seperti pak Umar. Karena guru adalah menjalankan tugas mulia. Guru harus bisa menjadi teladan. Guru punya rasa iklas  berbagi, rela memberi.  Guru  bagai  lilin yang rela terbakar untuk menyinari.

Pada suatu hari, saya di Ruang baca untuk  menyelesaikan tugas  dosen karena remidial mata kuliah Kalkulus 2, tiba-tiba ada orang yang menggesar tempat duduk untuk mendekatiku. Aku kaget dan terhentak!!. Dia  menebar  senyumnya dan menyorongkan tangannya ke arahku. Aku jadi  kaku dan gugup!. Aku   jadi salah tingkah melihat laki-laki itu.. Namaku Adi: “ Boleh berkenalan??!!. Dengan hati masih gugup kaku, aku menyodorkan tanganku. Eti....: jawabku  sekenanya. Boleh aku duduk di sini!: “ suara lelaki itu memohon.  Akhirnya  aku menganggukkan kepala, tanda setuju.

Dia  cerita kalau dia sering  melihat aku duduk sendiri di tempat yang sama.  Sudah lama ia memperhatikanku. Dia bilang aku yang selalu serius dan tekun.  Dan memuji banyak hal  tentang aku......aku merasa tersanjung, serasa  berdiri di atas awan dan tak injak tanah,.....aduh!!!  kalau aku jatuh, bisa mati ne ( pikirku dalam hati).....Aku jadi malu. Ternyata selama ini  ada saja orang yang  memperhatikanku. Di sepanjang hidupku belum ada orang yang memujiku. Aku hanya bisa nyengir antara percaya dan tidak. Mungkin  begitu perkataan laki-laki kalau ada maunya!.

Ternyata dia ikut kegiatan  pramuka dikampus. Padahal saya juga ikut kegiatan yang sama. Waktu itu  kami  belum berkenalan. Dengan begitu akhirnya ada perhatian. Nach!! Setelah kenalan  akhirnya jadi lebih  dekat dan lebih akrab. Dalam pramuka panggilan yang  lebih tua adalah kakak. Panggilan untuk  yang lebih muda adik. Mulai saat itu  akhirnya saya panggil dia dengan kak Adi. Ternyata dia  Pengurus, sebagai pemangku adat waktu itu.

Waktu terus berjalan. Dia selalu menyempatkan untuk menghampiriku dimana aku berada. Sebenarnya  aku  dilema. Pekerjaanku banyak. Tugas dan tanggungjawabku masih berat. Semua harus diselesaiakan. Tapi jujur. Jangan munafik deh, sebenarnya hatiku sudah  ‘jatuh’ karena dia. Tapi aku malu mengakuinya. Tugas utamaku lebih penting.

Saat  kak Adi begitu memperhatikanku. Saya seolah  merasa ’aku jadi berharga’. Aku jadi tersanjung.  Kebahagian selalu  ada. Hari-hari  terasa bermakna. Hidup pun terasa indah. Waktu kujalani dengan suka cita,. Pekerjaan kunikmati...yang penting...,  pekerjaan  berjalan sesuai target. Tapi aku harus ingat ‘satu hal’.  “Warungku!!” Itu janjiku untuk orang tuaku. Jangan karena pacaran semua berantakan. Mati!!. Wahh,  kalau warung  kurang  perhatian  bisa pelanggan setia akan pindah ke warung lain.  Berabe!! Bagaimana nanti nasibku dan adik-adikku.

Beruntung sekali saya pernah tinggal di asrama 4 tahun lamanya. Dari situ  kami banyak  belajar menghagai waktu yang ada. Waktu begitu berharga. Harus  kita gunakan dengan  baik jangan  digunakan hal yang sia-sia. Kak Adi adalah mahasia satu kampus cuma  jurusan yang berbeda. Dia di Fakultas Ekonomi jurusan Pendidikan dan Dunia Usaha ( PDU). Orang NTT. Dia yang selalu memotivasi saya. Dari semester 1 sampai  semester akhir dia dapat beasiswa. Hebat ya. Dia rajin menulis untuk lomba dan  dikirim ke koran atau majalah.  Begitu gigihnya  dia cari informasi-informasi hingga menguntungkan dia.

Seperti biasa dia menghampiri diperpustakaan.  Akhirnya dia membuka kartunya untuk saya. Ibu kos mau menjodohkan  putri kesayangannya ke dia. Hari mulai berganti. Selama  5 hari  aku  tak ketemu kak Adi. Ahh!! Jangan  berpikir tentang dia!!, : suara hati untuk menghibur diri. Jujur....aku  kok  jadi rindu padanya. Perasaanku terasa aneh!. Tidak seperti biasanya. Aku berusaha untuk  melupakan, kucoba dan terus kucoba!. Duhhh!!!, tak bisa!!. Ini kah yang namanya  cinta???. Aku  berusaha  untuk menyibukkan diriku  untuk pekerjaan dan tanggung jawabku. Kubuat diriku untuk  bersikap seperti biasa. Jangan karena ‘hal’ kecil  ini  mengganggu dan merusak  usaha dan kuliah saya!.

Saat  aku kuliah jam pertama  temanku Siwi berbisik padaku. “Tadi saya lihat ada surat  untukmu”: katanya padaku.  “Oh, ya!,Coba nanti tanya pak Tarmo, Sekretariat FMIPA”: jawabku bersemangat.  Karena kabar dari Siwi tadi, sepanjang kuliah jam itu aku jadi tidak bisa konsentrasi. Pikiran penuh penasaran. Hati tak karuan. Siapa gerangan???!!. Anehh! Jam kuliah pun habis. Akupun bergegas meninggalkan ruangan. Aku ngacirrr  menuju sekretariat. Betul!!  ternyata untukku!!. Disebaliknya tertulis Sip: Adi Chritian Muhu.  Dag dig dug hatiku gementar sambil mengambil surat itu. Dadaku  berdetak kencang!!. Jantung ikut berdebar!.

Apa  gerangan isi kabar di dalam??!! Tak mungkin aku membacanya di situ. Setelah mengucapkan trimakasih pada  pak Tarmo, penjaga Sekretariat. Aku segera meninggalkan tempat itu.  “Waduhh!! ku baca dimana surat ini ya” : kataku dalam hati yang bingung.  Kalau dibaca di warung tak mungkinlah, nanti  seluruh penghuni warung tahu bisa berabe. Mau di perpus siapa tahu kak Adi ada di sana., Ahh!!!....serba bingung!. Akhirnya  aku pergi menuju kapela dekat kampus. Aku duduk di teras dengan  dada berdetak kencang ku buka surat itu.

Ada tulisan sangat indah. Begitu tertata rapi. Satu per satu kubaca kata yang tertulis di kertas wangi warna pink dan bergambar bunga klasik itu. Bolehkah  aku  mengatakan ‘  perasaanku padamu? Ada  kata ‘maha penting’ yang harus  kusampaikan padamu. Aku mencintaimu,  aku ingin jadi pengawalmu.  Hanya itu tulisan di dalamnya. Dari  surat itu hatiku jadi tak karuan. Antara bingung, senang, jengkel, terharu....senang karena biar aku  ‘super cuek’ tapi ada saja orang yang  naksir aku.  Sedih!!  Kalau aku  pacaran pasti akan mengganggu seluruh rencana kerja dan cita-citaku. Oh Cinta!!!  Bikin Pusing ternyata!

 Kadang  saya idealis,  pacar adikku kalau datang dengan motor pribadinya. Hidup berkecukupan. Saya membayangkan, pasti hidup mereka nanti akan bahagia. Kebahagian seolah terukur dari materi yang dia sandang sekarang. Dia  tidak perhitungan untuk mengeluarkan uangnya. Kalau bayar makan uang kembalian  tak pernah diminta. Ya saya  memaklumi karena memang dia  tugas belajar. Dia sudah pegawai. Di pertambangan pula. Gaji gede. Mantapp!

Lahh11 Aku! Aku jadi membandingkan dengan kak Adi!. Dia orang jauh yang  penuh kesederhanaan. Dia kuliah biayanya berusaha  untuk cari beasiswa. Jujur sebenarnya aku bangga dengan kegigihannya.  Dia rajin menulis di koran-koran untuk mendapatkan uang. Kalau janjian makan, mbayar ya gantian. Kecuali pas dia dapat berkat, saya ditraktirnya.

 Yang membuat saya terharu, dia  cerita ke saya. Untuk biaya kuliah dan hidup di Jogya. Dia mengandalkan  bantuan. Dia  kirim  surat ke Ben Boi, waktu itu  penasehat  presiden dari NTT. Lukas Kaborang, Protokol  di Propinsi NTT. Supersemar dll. Dia selalu kirim Nilai (KRS) lengkap dengan IP –nya yang   intinya  memberitahukan bahwa  saya orang miskin dari NTT,  nyaris di Drop Out karena tak ada biaya tak ada. Sedih!!. Nach!, dari situ  akhirnya ada saja yang mengirimkan uang padanya.  Dengan adanya  dana yang terbatas setiap hari  dia naik sepeda kesayangannya. Sepeda itu dibelinya dari hasil uang tabungan yang  bisa ia sisihkan  dari  sisa uang makan dan uang kuliahnya.

 Bukan berarti ‘saya’  songong. Saya juga  bukan orang mampu. Bapak bilang, wong jawa kalau  cari jodoh perlu memikirkan “bobot”, ‘Bibit” dan”bebet”.  Hanya saya ‘belum siap’ memperkenalkan dia ke  penghuni warung, apalagi ke ortu. “ Tunggu waktu yang tepat. Sampai lama  saya memikirkan hal itu.  Dua tahun berjalan  tanpa siapapun yang tahu.  Saya berusaha sembunyi kalau saya  ada tambatan hati. Mbak Sri Saja  pacaran dengan kakak sepupuku anak dari budeku yang finansial tercukupi dan ‘keren’. Satu lagi , mbak Yur yang  tinggal bersamaku ada pacar  mas  Narto yang  kuliah  di Jakarta!. Nach aku!!. Aku terus beralasan jika kak Adi meminta untuk ke warungku. Apalagi untuk datang ke  rumah orang tuanku. Pernah satu kali ke warung. Tapi seolah  dia adalah teman mahasiswa biasa yang  pergi makan di warungku. Saya berusaha  buat senetral  mungkin supaya  penghuni warung  tidak tahu kalau dia pacarku.

Saya anak pertama, dia anak bungsu. Kata nenek  ‘abu’nya kita memang berbeda. Sikap pun pasti  beda. Saya anak pertama membutuhkan sosok  seorang kakak. Dia adalah anak bungsu  yang membutuhkan seorang adik. Begitu katanya.!! Saya pun merasa lebih ‘dewasa’ dari dia. Kita saling membutuhkan. Kita saling melengkapi. Cinta  terus tumbuh setiap hari.  Kita saling menghormati privasi masing masing.  Kita  biasa  curhat, sharing tentang suatu hal. Tentang kehidupan. Tentang masalah. Tentang  masa depan. Kebetulan dia suka menulis, jadi  wawasan luas  dan selalu bisa memberi solusi. Itu yang membuat saya semakin ‘membutuhkan’.

Akhirnya, waktupun tiba.  Aku  berani memperkenalkan ‘dia’ ke  penghuni warungku. Ke adik-adikku, mbak Yur, yu Tukini dan yu Tinuk.  Suasana jadi  tambah  rame. Aku  harus percaya diri. Akhirnya  mas Wahid pacar adikku kenal kak Adi.  Mereka jadi saling  menghargai, saling menghormati.  Semua  jadi penyemangat. Kita jadi merasa  bersaudara dan saling mendukung. Puji Tuhan, semua jadi berjalan lancar. Tak ada hambatan yang berarti  antara kuliah, usaha dan teman dekat. Kita semua saling memotivasi.

Aku dan kak Adi kuliah di  tempat yang sama Sanata Dharma. Adikku dik Rita UGM dan mas  wahid di UPN. Adikku Edi nomor tiga kuliah di UGM dan Istri juga Sanata Dharma. Terakhir!! Dik Rudi Atmajaya  istrinya  dari YKPN. Semua alumni Jogyakarta.  Suatu saat kita bisa napak tilas ke sana. Mengenang  waktu sama-sama kuliah. Jadi mahasiswa yang  penuh cerita. Ada suka cita. Ada duka lara, sengsara dan nestapa.  Aku, berempat: Eti Wuryani, Eli Wuryandari ,Edi Wuryanto  dan Rudi Wurdiyanto  adik bungsuku akhirnya  kami sudah hidup layak.

Trimakasih tak terhingga  kuucapkan, sekolah dan Kampusku yang membawa berkat.  Warungku yang jadi dewa penyelamat hingga menuju cita-cita. Kedua Orang tuaku yang  sudah  berkorban, bersusah payah menjadi donaturnya.  Yang tak kalah   penting adalah ‘Tuhan’ku yang  senantiasa  menuntunku, hingga  semuanya berjalan lancar dari awal hingga akhirnya.

Inilah Sepenggal cerita kisahku. Tentunya pasti berkah juga untuk teman semua yang pernah kuliah. Pasti punya cerita yang menarik!. Cerita yang unik!. Penuh kenangan. Trimakasih kampusku, karenamu membuatku jadi ‘berguna’.  Berguna untuk  pribadi, keluargaku, masyarakat, agama dan negaraku. Kini  saya adalah ASN  alias abdi negara yang  ditempatkan di salah satu pelosok Nusantara!. Yaitu Kota   Waingapu, Sumba Timur, sebuah kota kecil  di pulau  paling timur Indonesia.

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 35

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti

#Sabtu,11Juni2022

 

 

 

 

 

 

Minggu, 15 Mei 2022

JEJAK TARI WARISAN LELUHUR

 

 

 


          Pada saat jam istirahat Guru Mbehar  duduk di bawah pohon ketapang sambil merenung.  Semilir angin menyapu rambutnya yang hitam lurus. Wajahnya  hitam manis. Bola matanya yang tajam  tiap hari menyempatkan membaca buku-buku sastra yang sebagian besar menceritakan suka duka kehidupan  dan keharmonisan kehidupan manusia dengan alam sekitar kita.

Guru Mbehar adalah seorang kepala sekolah di SD Paberiwai. Sebuah SD di dusun terpencil tanah Marapu. Tanah Sumba yang daerahnya berupa perbukitan, dan hamparan padang sabana luas. Daerah ini sangat jauh dari hingar bingarkanya kota. Saking tertinggalnya  belum tak ada, sinyalpun vala (tiada) maka ana-anak belum kenal  yang namanya Hand Phone.

Sebagai kepala sekolah tentunya ia punya kuajiaban memajukan sekolah agar tidak terlalu ketinggalan dengan sekolah  lain. Apalagi mengingat era global saat ini. Dia berfikir keras bagaimana bisa bersaing dengan sekolah lain.  Tak terasa kini usianya sudah 46 tahun. Dia masih membujang.  Waktunya sampai mau habis demi mengabdikan diri di  SD kampung itu. Dia tak sempat tebar pesona untuk wanita-wanita cantik  kembang  dusun di  situ. Dia selalu setia  akan tugas  dan   tanggung jawabnya sebagai abdi negara. Sebagai kepala Sekolah  ‘nama baik’ sekolah ada  dipundaknya. Harus dipertaruhkan!. Betapa bahagianya kalau  sekolahnya  bisa  dikenal ‘baik’  oleh masyarakat  sekitar.

Sedang asyik- asyiknya berpikir dalam kesendirian itu di bawah pohon itu, tiba-tiba pundaknya di ditepu seseorang. Pak Mbehar  kaget.  Nona Hada Indah adalah  gadis  dari kampung sebelah putrinya bapak Kadus (Kepala Dusun).  Dia baru pulang dari Malaysia menjadi TKW di sana.

“ Maaf  Pak  Guru ganggu, boleh saya  menemani duduk di sini “ : Sapa nona.

“ Ya… iya, yaya silahkan  duduk “ Jawab Guru Mbehar agak gugup. Berani juga ni anak, batin pak Mbehar. Gadis itu langsung duduk disebelah pak guru.

“ Ada apa si Pak Guru kelihatannya serius banget ?” Tanya Nona.

“Ah, tidak kok, Cuma berpikir sedikit tentang masa depan anak-anak,  mereka banyak yang alpa, lanjutnya. Anak-anak banyak tidak datang sekolah.”, jelas pak Umbu. Atau!!, mungkin sedang musim paceklik ya Rambu ( panggilan perempuan orang Sumba Timur : red) .  “Saya dengar semua warga sini hasil ladang gagal total , benarkah?”, tanya Guru Behar kepada Nona serius.

“Ia ya benar pak Guru, sekarang anak- anak membantu orang tua mencari ubi hutan ( iwi) untuk  makan,”.Jawab Nona sambil tersenyum manja. Setelah beberapa saat mereka ngobrol  Guru Mbehar  ijin meninggalkan Nona karena jam terakhir  pelajaran sudah mau habis. Nona sambil tersenyum meninggalkan Guru Mbehar. Terlihat sejak pertemuan itu pak Umbu dan Nona  sering mengadakan pertemuan. Mereka berdua terlihat semakin akrab. Ini tanda-tanda baik  untuk bisa berjodoh.  Nona orangnya agresif. Nona membuat pak umbu tak berdaya dengan sifat kolokan dan manjanya. Sebagai lelaki normal  dia pasti membutuhkan pendamping hidup. Akhirnya iapun jatuh cinta. Getaran cintapun semakin terasa antara mereka. Guru-guru mulai tahu kedekatan pak Mbehar dengan Nona Hada Indah, mTetangga sekitar juga tahu, mereka ikut  mendukung sang kepala sekolah.

`             Tepat jam sepuluh bel sekolah terdengar nyaring menembus perbukitan. Bel sekolah dipasang menggantung di pojok ruang Guru.  Bel terbuat dari bekas lempengan besi berbentuk bundar seperti piringan seng besar kalau di pukul nyaring menembus radius tiga kilo meter. Dulu jaman belanda katanta untuk patokan buruh tani  tanda untuk istirahat. Tiga puluh menit istirahat anak-anak masuk kelas kembali. Mereka taat dan serius mengikuti kegiatan belajar mengajar.

         Tepat jam satu lebih lima belas menit SD  sudah sepi semua siswa pulang kerumah masing-masing. Yang tersisa hanya suara seng atap sekolah saling bergesekkan digerakkan angin. Sebelum para guru pulang, Guru Mbehar minta supaya meeting  sebentar untuk mempersiapkan ujian  AKM. Persiapan harus lebih  dini supaya hasilnya lebih baik, maksudnya. Rapat selesai hingga jam 15.00 WITA. Para gurupun kemudian  pulang dengan perut lapar tapi tak berani protes.  Bersyukur tapi bu May nggiri ke sekolah bawa jagung rebus yang dibawa ke sekolah jadi jam istirahat bisa makan rame-rame sebagai ganjal perut. Begitu dia. Dia rajin berkebun maka jagung hasil berlimpah.

Guru Mbehar  agak pulang lambat, dia masih membereskan meja yang berserakan. Tiba-tiba pintunya diketuk seseorang.

“Selamat sore Pak Guru….., dia menoleh ke belakang  ternyata yang datang Nona. Pak Mbehar mempersilahkan Nona duduk.  

Sambil duduk ia menyampaikan  amanat bapaknya.

“ Kalau tidak keberatan, Bapak saya ada suruh mampir ke rumah “, Pinta Nona  sambil tersenyum manis mendekati Guru Mbehar.

“ Memangnya ada apa ya?, tanya pak Mbehar penasaran.

‘Tidak ada apa-apa pak guru, Bapak hanya ingin supaya sesekali bapak datang ke rumah”, kata Nona datar. ‘Itu jika pak guru berkenan, kalau tidak juga tidak apa-apa, lanjutnya. Memang  pak Mbehar dan pak Kadus  sudah saling kenal. Mereka biasa bertemu  Cuma pak Mbehar  belum tahu rumah pak Kadus, bahkan tak tahu pula kalau pak kadus punya  anak gadis. Dalam hati  ia jadi berfikir, ini namanya pucuk dicinta ulam tiba. Hehe… dia jadi senang karena pastinya akan semakin membuka jalan  hubungan dia dengan anak gadis pak kadus.

“Iya ya Rambu , baiklah“ jawab Guru Nggaba menyatakan kesediaanya. 

Kemudian Guru Nggaba dan Nona berjalan menuju rumahnya yang berjaran sekitar 1 km. Sampai di rumah nona ternyata Ayah Nona sudah menunggu di ruang tamu. Ayah  sedang duduk-duduk  sendir. Ada tersedia kopi panas di atas meja   juga sepiring petatas rebus panas.  “Permisi! ”, sapa Guru Mbehar di depan rumah pak Kadus.

“ Mari mari !!  masuk Umbu guru ( Panggilan terhormat seorang laki-laki : red) “ jawab pak Kadus antusias mempersilahkan tamu. Pak Umbu Mbehar  segera mengambil tempat duduk. Mereka berbicara masalah  komite sekolah dan beberapa masalah lain.

Sementara  masih dalam pembicaraan, tiba- tiba Guru Mbehar  tertegun melihat di rumah kecil sebelah  terlihat ada beberapa  kendang dan gong. Peralatan  musik tradisionil untuk mengiringi tari “kandingan” dan “kabokang”. Dengan serius Guru Mbehar memperhatikannya. “Wahh.....ini bagus untuk ekstrakurikuler sekolah”, pikirnya.

Ia bertanya tentang alat musik itu pada pak Kadus.

“ Ooo itu Umbu  Guru!,  itu sisa- sisa alat kesenian dusun dulu“ : kata pak Kadus.

“ Kenapa kok tidak difungsikan kembali, padahal masih bagus  “ Tanya Guru Mbehar sambil melirik ke wajah Nona. Nona diam kemudian memandang Guru Mbehar secara reflek tersenyum membuat ada getaran hati pak Mbehar   menggejolak luar biasa.

 “ Mari diminum Kopinya, mumpung masih panas! “ Pinta pak Kadus. “ Ya  Pak  “, Jawab Guru Mbehar. “Mohon izin pak Kadus seumpanmya saya pinjam kendangnya apa boleh ?”  kata Guru Mbehar memohon.“ Boleh-boleh!! Boleh sekali!! Jawab pak Kadus semangat.  Silahkan!!  jangankan hanya kendang, semuanya boleh dipinjam! Saya siap membantu melatih  di sekolah!” : jawab pak Kadus antusias. Nanti saya membantu melatih menabuh tamburnya. Nona anak saya yang melatih menari!   Saya  senang sekali  ada yang melestarikan kesenian kita” Jawab pak Kadus terlihat senang. ‘Dulu kami  rajin berlatih karena para penabuh sudah keluar kota dan ada yang sudah meninggal akhirnya tidak ada yang urus’, lanjutnya.

              Pak Kadus senang karena ternyata pancingannya masuk.  Sebenarnya pak kadus ingin menjodohkan anaknya dengan pak Mbehar. Nah, dengan adanya kegiatan ini otomatis hubungan putrinya dan pak guru akan semakin dekat.

Benar saja sejak ada  ekskul menari, anak-anak semangat datang sekolah.  Tiga bulan kemudian SD Paberiwai   geger.  SD  itu  jadi sumber cerita semua warga. Siswa- siswinya sudah pandai menari dan menabuh kendang, tambur dan gong. Titisan dari leluhur turun pada para siswa, sehingga mereka sangat lincah menari  ‘kabokang’ dan ‘Kandingang’. Berita ini bahkan menembus ke dusun- dusun lainnya. Akhirnya murid -murid yang dulu keluar langsung daftar lagi . Kini murid di SD itu full,  bahkan melebihi kapasitas. Spektakuler!, betapa bangganya sang kepala sekolah dan guru-gurunya.

            Pembelajaran  berjalan lancar. Guru tetap semangat mengajar. Siswa juga antusias, Setiap hari senin dan jumat Sore ada ekskul menari. Hari itu yang menjadi ivent indah bagi para warga berkumpul dan  bersuka cita melihat para siswa berlatih kesenian tradisionil peninggalan leluhur.

            Karena anak-anak sudah pada mahir menari dan  menabuh gong dan kendang, akhirnya  warga sekolah bersama komite sepakat untuk mengadakan ‘pentas seni’. Acara berjalan  lancar dan sangat meriah. Para warga dari seluruh dusun datang. Mereka antusias dan bergembira ria. 

 

Dua bulan lagi  akan  ada pemilihan kepala desa. Ada 2 kandidat. Salah satu Kandidat Calon adalah Umbu Mahakonda, orang terkaya di dusun sebelah. Beliau memesan tarian SD Paberiwai  untuk memeriahkan  acaranya. Dia  yang akan mendanai seluruh acara. Anak-anak  senang mendengar kabar itu. Mereka  mempersiapkan  dengan sangat baik  Acara sukses dan berjalan lancar. Kini SD semakin banyak dikenal karena kesenian  yang hebat disitu,

Ternyata  keberhasilan Guru Mbehar tak berbuah manis. Ada seorang pemuda bernama Umbu Nuku, Orang  kaya di kampung lamerip ‘murka’. Dia sudah lama naksir Nona Hada Indah. Dia yang merasa lebih berhak memperistri  Rambu anak pak dusun itu. Menurut adat  Rambu Hada inda adalah ‘anak om’.  Dia punya kuajiban memperistri supaya  keluarga tidak terlepas. Umbu Nuku  merasa  pak guru Mbehar  sudah ’merebut’  calon istrinya.  Dia  sakit hati. Nona Hada Indah  orang yang dicintai, dianggap selingkuh.

Umbu Nuku geram. Dia berpikir keras bagaimana  cara menjatuhkan pak Guru Mbehar. Akhirnya dia menemukan ide jahatnya. Ia lapor ke polsek dengan tuduhan pak Kepala Sekolah SD Paberiwai  mengadakan acara keramaian. Menghimpun masa disaat korona. Tidak memperhatikan protokol kesehatan.

Beberapa kali pak Umbu Behar dipanggil ke kepolisian. Ia dianggap menyalahi aturan pemerintah setempat. Dia dianggap menggunakan kekuasaannya untuk hal yang tidak baik. Berbagai hujatan ia terima dari kubu  Umbu Nuku. Akhirnya pak Umbu Behar tidak berdaya. Entah bagaimana-bagaimana  sebulan kemudian  mobil  polisi datang ke sekolah. Nampak Umbu Nuku juga ada bersama mereka. Tanpa berkata mereka langsung menangkap guru Mbehar. Mobil beriringan membawa pak Guru Mbehar ke kota untuk mempertanggungjawabkan  tindakannya. Semua warga, guru dan para siswa  bersedih. Mereka berduka  bahkan tak sedikit yang menangis melihat ‘sang kepala sekolah’ di borgol. Ibu guru menari, Nona berlari-lari sambil menangis mengejar mobil polisi yang membawa guru Mbehar.

Sebulan di dalam penjara   , mendengar kabar  guru Mbehar ditemukan meninggal dibangsal sel penjara. Sediiihhh…….sekali!, kasihan  pak Umbu Mbehar. Menurut cerita  Pak Umbu Mbehar  mogok makan selama di Penjara. Dia Stress berat. Dia Depresi. Dia sakit tak bisa diobati lagi. Akhirnya dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Betapa malangnya beliau.  Kabar itu sudah didengar oleh Nona yang selama ini sudah menjalin cinta.  Cintanya terkubur. Ratapan dan tangisan dari keluarga pak Mbehar, keluarga Nona  dan keluarga besar SD Paberiwai. Selamat jalan Pak Guru Hebat. Jasamu tiada tara.  Semoga Tuhan menyiapkan tempat indah bagimu. 

 

PROFIL PENULIS

 

Penulis Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah.   Tinggal di Timtim 10 tahun ( Kabupaten Bobonaro 3 tahun, Dili 7 tahun) dan di NTT sudah 22 tahun.  Seorang ibu 2 putra,  sekaligus  guru  di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT. Penulis adalah salah guru yang suka menulis di Media masa, majalah dan buku. Sudah 50 lebih  buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003 Waingapu, Sumba Timur NTT.  Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat bagi sesama.

 

 

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...