Tampilkan postingan dengan label Tantangan Menulis 30 hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tantangan Menulis 30 hari. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 November 2021

Peristiwa Iman #Day29

 


Trimakasih Tuhan akhirnya  saya bisa mengikuti  prosesi  wafatnya ibu tercinta hingga hari ke-7. Ini semua karena kebesaran Tuhan. Dengan perjuangan  dan doa akhirnya saya bisa  ‘lolos’ hingga akhir.  Semua hal jika mengandalkan Tuhan  pasti akan indah pada waktunya.


Awalnya  kami PCR ternyata #POSITIF . Hasil CT 37,94...hanya  butuh 0,06  untuk dinyatakan NEGATIF....#Gagalterbang padalah sudah beli tiket seharga Rp 2,6 jt DAN pcr rP 540 RB.  Hati jelas sakit, sedih yang luar biasa.


Berkat doa dan pergumulan,  ada  saja orang baik memberitahukan padaku.  Untuk ke Jawa jika sudah vaksin dosis 2 berarti syaratnya cukup  rapit test antigen. Info itu adalah  sebuah angin Sorga Buatku. 


#Bukti-diaplikasi : Untuk perjalanan kota Jawa-Bali, wajib melampirkan sertifikat vaksin COVID-19.  Bagi yang telah menerima vaksin 1 wajib melampirkan hasil tes PCR (2x24 jam) & yang telah menerima  vaksin  dosis 2 dapat melampirkan  hasil tes Rapit Antigen (1x24)

Trimakasih untuk  info yang  penting ini. 


Saya cek rapit antigen oleh bidan  hasil  #negatif.   Kami lanjut ke Klinik Larisa,  dr Rin Tipa  tamu ina hasilnya NEGATIF. Puji Tuhan doaku terjawab. Akhirnya saya beli tiket ulang di traveloka. Karena mendadak  dapat tiket ngecer.  Waingapu-Kupang. Kupang-Surabaya. Surabaya-Jogya. Ganti 3 pesawat. Tak apa, yang penting sampai ke Jawa. 


Tak kubayangkan jika aku tak bisa  pulang untuk bertemu ibu untuk terakhir kali pasti aku akan menyesal seumur hidupku. Perjalanan lancar hanya di Kupang ada sedikit kendala mempermasalahkan karena  bukti bukan PCR.  Aturan jelas, tapi saya tak mungkin berbala-bala dengan pegawai bandara. 


Mereka tidak mau memberikan boarding pass padaku. Dengan gaya yang cuek, sinis  dan muka tak bersahabat  bersikeras tak mau memberi cap KKP Valid padaku. Tuhan, kuatkan aku. Sabarkan aku. Hati bagai teriris pisau saat itu. Janganlah saya gagal kedua kali.  Tak terasa air mataku deras membasahi pipiku.  Nona itu mungkin ‘agak’ kasihan padaku.  Dia berkata padaku: “Ibu ada surat duka?!!”. Ya Tuhan, dia seolah tak percaya ibuku benar-benar meninggal!!, hatiku sesak mendengar perkataannya.  Kutunjukkan  fb yang ku post. Kutunjukkan juga WA group keluarga, postingan-postingan adikku tentang kedukaan. Waktupun  terus berjalan, jam 11.15 harus sudah terbang lagi beberapa menit. Hati was-was tak karuan.


Berkat Tuhan ada orang baik yang mau bertanggung jawab, hingga nona itu mau men-cap tiketku. Kuucapka berulang-ulang terimakasih padanya.  Saya pergi ke Jawa untuk ibu kandung yang  sedang menungguku untuk dikubur. Setelah di cap aku lari, cepet-cepet menuju ke gate-4 menuju Surabaya. Sampailah di Surabaya dengan selamat. Setiap perhentian selalu ku-post di WA. Dirumah duka menungguku, saat itu aku merasa jadi pemeran utama dalam sebuah drama. Setiap gerakanku  dalam pemantauan. Penguburan ditunda karena menungguku.


Pukul  14.40  WIB  aku tiba  bandara Adi Sucipto Jogyakarta. Pukul 15.29 WIB sampailah aku di rumah. Rumah duka. Ibu masih menungguku dalam keheningan. Sebenarnya penguburan  jam 13.00 tapi  karena menunggu aku jadi ditunda sampai  pukul 16.00. Tuhan sungguh amat baik. Hari itu tidak hujan, padahal biasanya setiap hari hujan.


Sampai di halaman rumah aku disemprot disinfektan hingga basah kuyup   dengan disaksikan para undangan yang mengikuti prosesi penguburan ibuku. Begitupun Yoga anak adikku yang menjemputku. Aku melewati pintu belakang. Aku cepat-capat  mandi dan ganti pakaian. 


Sudah disiapkan ruang isolasi untukku. Aku dipanggil oleh MC  untuk memberi penghormatan ibu untuk terakhir kali.  Para tamu seolah  sedih melihatku. Aku berusaha kuat  dan harus menerima kenyataan.


Ibadat selesai, saya hanya bisa mengikuti dari kejauhan.  Ibu dikubur di desa sebelah.  Di kuburan keluarga gunung lemah, sekitar 1,5 km dari rumah.  Aku mengisolasi diri.  Sekitar  satu setengah jam penguburan selesai. Para pamu  sudah pulang.


Aku akan merasa berdosa kepada ibu kalau hari itu aku tidak melihat kubur ibuku. Saat itu juga. Aku meluncur ke kuburan sendiri dengan  motor Supra kepunyaan adikku. Sampai di kuburan sekitar pukul 18.00 WIB. Suasana sepi luar biasa.  Tak seorangpun ada di situ. Aku mencoba memberanikan diri. Bulu kudukku terus berdiri. Aku mencoba terus naik. Terus naik. Kuberanikan diri. Ya Tuhan .....bulu kudukku semakin menjadi.  Aku tak tenang  untuk berdoa. Rasa ketakukan  tak bisa kutolak. Aku berusaha menenangkan diri. Tapi nyaliku tak mau diajak kompromi. Halusinasi selalu muncul dipelupuk mataku. Sorepun semakin gelap, hanya bunyi gesekan pohon bambu yang kudengar menambah suasana ngeri menusuk kalbuku......


Secepat kilat aku lari  turun dan  kucoba telpon adikku. Kutelpon lagi dengan  hati yang terus berdebar kencang. Batu-batu  nisan  seolah  saksi bisu menambah suasana mencekam saat itu. Sang pemilik batu nisan seolah bangun  menundukkan kepalanya, mengucapkan 'selamat' padaku. 


Hhh!!! Adikku tak jawab-jawab juga. Setelah beberapa kali untunglah adikku menjawab.  Akhirnya dik Edi , adikku nomor dua  balik lagi ke kuburan untuk menemaniku walau dia sudah hampir  sampai di rumah.


Legaaa...... Trimakasih Tuhan, aku bisa melanjutkan doa untuk ibuku tercinta. Ibu....  'maturnuwun nggih' saget pinanggih ibu,  saya  bisa menemui ibu. Tuhan trimakasih tak terkira akhirnya saya bisa menemui ibu tercinta.

Tamu masih banyak di rumah. Banyak juga teman-temanku dan teman –teman adikku yang datang. Saya ikut menemui tapi dari kejauhan. Sedih sekali rasaku saat itu jadi orang yang terisolasi karena terpapar corona  walau sebenarnya sudah sembuh. Aku berusaha tegar. 


Daripada aku tidur di ruang isolasi yang sepi, aku merasa tak nyaman.  Aku mencoba mencari kamar kosong yang lain. Kulihat kamar ibuku begitu gelap.  Kunyalakan lampu, ternyata lampunya mati. Aku tak berani minta tolong siapapun. Mereka  sibuk semua. Yang lain sudah tidur.  Ya ampun... aku harus berani. Dalam doa  pasti aku berani.  Sebagai  orang pramuka pantang menyerah dan harus berani. Kamar ibuku rapi,  malam itu aku tidur sendiri di kamar ibu. Pagi hariya adik-adikku memuji keberaniaku, tapi aku menikmati. Hingga hari ini saya terus tidur di kamar ibu. 


Rumahku adalah peninggalan nenek, luas sekali ukurannya bisa sekitar 20x20m2. Suasana sepi.... Sebuah tragedi kalau misal tengah malam mau ke toilet. Pasti harus membangunkan orang lain  untuk  menemani. Saya tinggal di Waingapu sudah 21 tahun, 2 adikku di Jakarta. Adik bungsu yang menjaga ibu di rumah bersama istri dan Evan anaknya tunggalnya. Jadi kami sudah merasa asing di rumah orang tua sendiri. Apalagi aku sejak SMP sudah kos, SMA asrama, kuliah di Jogya, jadi rumah keluarga sendiri seolah lingkungan yang  asing.


Aneh bagiku, sejak saya datang sampai sekarang saya tak punya rasa takut. Justru ibu merasa selalu menemaniku setiap saat. Bangun jam 03.00 saya masak untuk sarapan pagi. Tengah malam menulis dan kerja tugas atau PR. 


Tamu masih berdatangan hingga hari ketiga. Saya sungguh terharu dengan  kepedulian warga di kampung kami.  Rumah saya persis di depan mesjid Al-Huda. Saat kami ibadat loudspeaker mesjid dikecilkan, padahal saat itu  hari raya Maulid Nabi. Begitu juga di hari yang lain. Kerukunan beragama sangat tinggi. Terbukti  ibu-ibu sigap membantu kami memasak saat kami berduka. Mereka menyumbang ada yang membawa amplop dan banyak juga yang membawa belanjaan berupa sembako. Kurasakan indahnya persaudaraan antar umat beragama di kampung Gejayan.


Setiap ada duka/kematian  untuk warga minoritas seperti kami, ibadat dilakukan 2 kali. Pukul 17.00 ibadat katholik. Setelah selesai dilanjutkan  ibadat yang muslimin,  kenduri namanya. Acara itu adalah  melestarikan trasdisi leluhur. Untuk  kematian  acaranya adalah: Peringatan hari pertama, hari ke-3, hari ke-7 , hari ke-40, hari ke-100  hari ke-1000. Hari ke1000 adalah pemasangan  batu Nisan.


Satu persatu  saudara-saudara dan adik-adikku pulang.  Hari demi hari mulai sepi. Semoga adikku bungsu yang jadi tuan rumah bisa beradaptasi dengan kehidupan baru ‘tanpa’ ibu.Trimakasih Tuhan  untuk kasihmu. Trimakasih untuk peristiwa iman yang kuterima.  Semua acara  kedukaan kami berjalan dengan lancar. Dari ibu sakit di Jakata ( RS St. Carolus)  hingga wafat sampai pulang ke Muntilan berjalan Lancar. Acara pengebumian dan segala acara  dimudahkan. Semua hal  tak ada kendala.

Semua ini berkat Tuhan selalu mendampingi, menemani, menuntun kami.


Trimakasih Juga untuk semua yang terlibat. Dari hati yang paling dalam  kami keluarga besar ‘Heribertus Sudayat (Alm)’ bapak mengucapkan trimakasih tak hingga kepada  Saudara/i, teman-teman, handaitaulan untuk bantuan, penguatan, penghiburan dan doanya untuk kami. Ibu sudah tidak sakit lagi, ibu sudah  dalam peristirahatan bersama para Kudus di Sorga.

Kiranya Tuhan akan selalu memberkati Bapak /ibu, Saudara/i sekalian. AMIN.

Good Bless You.


#30harimenulis
#30haripunyanaskah
#siapataujadibuku
#alineakuchallenge - 29
#alineakuwriter

#alineakuLedwinaEti

















Sabtu, 09 Oktober 2021

Karya Tulis Ilmiah (KTI) Menjadi Buku

 



 


Pertanyaan 1 : Apa itu KTI ?

Karya tulis ilmiah yang selanjutnya disingkat KTI adalah tulisan hasil litbang dan/atau tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah (Perka LIPI Nomor 2 Tahun 2014)

ebelum membahas bagaimana cara mengubah KTI menjadi buku, saya sampaikan konsep mengenai KTI terlebih dahulu

Karya tulis ilmiah adalah tulisan yang menyajikan gagasan, deskripsi atau pemecahan masalah secara sistematis secara objektif dan jujur didukung oleh fakta, teori dan bukti-bukti empirik menggunakan bahasa baku (Dalman, 2016: 5).

Karya tulis ilmiah yang selanjutnya disingkat KTI adalah tulisan hasil litbang dan/atau tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah (Perka LIPI Nomor 2 Tahun 2014)

 

Pertanyaan 2 : Apa sajakah yang termasuk dalam KTI ?

KTI terdiri dari 2
KTI non buku
1.                  Kesarjaan : Skripsi, tesis, disertasi
2.                  Hasil penelitian ( Esay ilmiah): Laporan , makalah artikel, komunikasi pendek
3.                  Ulasan resensi
KTI  Buku
1.      Didaktik ( bahan Ajar) : hand out, diktat, modul, buku ajar, buku referensi
2.      Pengayaan : Monografi, buku teks, buku pegangan (hand book), buku panduan
3.      Kompilasi : Bunga rampai, prosiding

 

 

Secara umum KTI ada dua yaitu KTI Nonbuku dan KTI Buku

Karya Tulis Ilmiah yang terdapat dalam buku 4 PKG adalah

A.                  Publikasi Ilmiah Berupa Hasil Penelitian atau Gagasan Ilmiah Bidang Pendidikan Formal

Laporan Hasil penelitian

Laporan penelitian dapat berupa penelitian tindakan kelas, penelitian eksperimen, penelitian deskriptif, penelitian perbandingan, penelitian korelasi,

Makalah Berupa Tinjauan Ilmiah Gagasan atau Pengalaman Terbaik (Best Practice

 

B.                  Publikasi Buku Teks Pelajaran, Buku Pengayaan, dan Buku Pedoman Guru

Publikasi ilmiah pada kelompok ini terdiri dari: (1) Buku Teks Pelajaran, (2) Buku Pengayaan yang terdiri dari Modul/Diktat pembelajaran, Buku dalam Bidang Pendidikan, Karya Terjemahan, dan (3) Buku Pedoman Guru.

 

C.                  Karya Inovatif

Mengacu pada paparan di atas, ternyata tidak semua KTI itu berupa buku. Memang secara wujud, PTK, PTS, Tugas Akhir, skripsi, tesis, desertasi itu berupa buku, namun bukan buku. Lebih tepatnya adalah laporan hasil penelitian dan sifat publikasinya pun terbatas.

Teknologi Tepat Guna

Karya Seni (Karya sastra novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan naskah drama)

Membuat/Memodifikasi Alat Pelajaran/Peraga dan Alat Praktikum

 

 

Pertanyaan 3 : Bagaimana struktur penulisan KTI ?

Umumnya KTI tersusun atas bab-bab dengan penomoran yang struktural sesuai dengan jenis KTI serta institusinya:



Struktur di atas umumnya dijadikan sebagai standar dalam Menyusun bab-bab dalam KTI meskipun untuk KTI sejenis skripsi, tesis, desertasi, tugas akhir memiliki gaya yang berbeda di setiap kampus

Pertanyaan 4 : Apa sih perbedaan laporan KTI dan KTI yang dikonversi menjadi buku ?

Laporan Penelitian :
1.      Sasaran Pembacanya terbatas kalangan tertentu ( terlebih  jika sifatnya publikasi terbatas)
2.      Sistematika penulisan dalam penomoran sub bab yang kaku dan baku
3.      Sajian datanya mulai dari data mentah hingga data yang diolah
4.      Bahasa baku yang butuh pemahaman


Buku
1.      Sasaran pembacanya bisa  semua  kalangan yang memiliki interest terhadap isi buku
2.      Sistematika penulisan fleksibel disesuaikan dengan isi buku
3.      Minim sajian data berupa data mentah. Umumnya hanya data yang berarti bagi pembaca saja yang dicantumkan.
4.      Bahasa mudah dipahami
5.      Ber-ISBN

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan buku?

Konferensi UNESCO tahun 1964 merumuskan definisi buku sebagai terbitan tercetak tidak berkala berjumlah sedikit-dikitnya 49 halaman, tidak termasuk halaman kulit.

Buku terdiri dari tiga bagian yaitu :
Mengacu pada definisi tersebut, maka ciri-ciri buku adalah :
1.      Terbitan tercetak tidak berkala (tercetak dapat secara fisik maupun elektronik (e-book)
2.      Sekurang-kurangnya 49 halaman (beberapa pakar menyebutkan tebal ini khusus bagian isi  utama)
3.      Memiliki kulit (cover)
4.      Adapun untuk ukuran minimal 15,5 cm x 23 cm (Standar UNESCO)

Secara subtansi isi, tidak ada perbedaan isi laporan KTI dengan isi buku hasil konversinya. Karena sejatinya isi buku mencerminkan keseluruhan isi laporan KTI.

Secara sistematika, tentunya gaya penulisan KTI dengan penulisan buku tentu berbeda. Ada penyesuaian-penyesuaian sistematika KTI yang dikonversi menjadi buku dengan tujuan agar kesannya tidak kaku. Misalnya penomoran tiap sub bab-sub bab

Secara Bahasa, meski sama-sama ilmiah, hasil konversinya tentu harus dimodifikasi sehingga Bahasa dalam bukunya lebih luwes, bersifat lugas dan tidak lagi mencantumkan kata-kata seperti penelitian ini, peneliti, teman sejawat, penulis

 

Pertanyaan 5 : Bagaimana cara mengkonversi KTI menjadi buku?

Memodifikasi Judul

Judul KTI umumnya mengandung unsur : variabel penelitian, objek penelitian, dan seting penelitian (baik tempat maupun waktu).

Biasanya judul baku KTI mengikuti kaidah tersebut

Judul buku hasil konversi ini seperti judul buku-buku lain harus menarik, unik, mudah diingat, dan mencerminkan isi buku. Kemenarikan judul buku sifatnya subjektif.

Sebagai buku ilmiah, judul buku hasil konversi harus mencerminkan isi. Bahasanya lugas. Tidak menggunakan Bahasa kias. Maka judulnya harus dimodifikasi agar menarik

Contoh

Judul Laporan KTI

Peningkatan aktivitas belajar dan hasil belajar Materi Fungsi dengan Peneratapan Strategi Tim Kuis pada siswa kelas 10 SMA Negeri 2 Waingapu Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2021/2022

Judul Buku : Strategi Tim Quiz dalam Pembelajaran Matematika

Penulis Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

 

Memodifikasi Sistematika dan Gaya Penulisan

KTI Nonbuku yang berupa laporan hasil penelitian umumnya ditulis dengan sistematika dan penomoran yang baku seperti yang telah saya uraikan di atas.

Nah, pada saat laporan tersebut dikonversi menjadi buku, maka harus dimodifikasi gayanya sesuai dengan gaya penulisan buku. Tidak tampak lagi adanya sub bab-sub bab yang membuat isi buku seolah-olah terpisah-pisah. Seperti telah disingung di atas, tidak semua data boleh disajikan dalam buku. Hal-hal yang bersifat privacy tidak boleh dicantumkan dalam buku.

Pertanyaan 6 : Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan saat mengkonversi KTI menjadi buku?

Pertama, keaslian laporan hasil penelitian

Penulis memastikan bahwa laporan yang akan dikonversi menjadi buku memang benar-benar hasil karyanya dan bukan hasil plagiasi.

Tidak dipungkiri bahwa banyaknya publikasi ilmiah melalui media digital justru disalahgunakan oknum tak bertanggung jawab untuk melakukan plagiasi

Kedua , menghindari kompilasi yang terlalu banyak.

Penulis sering terjebak dalam kegiatan plagiasi dalam bentuk Kompilasi. Maksudnya penulis hanya sekedar meng-copas pendapat asli para pakar.  Guna menghindari hal ini, penulis bisa menggunakan berbagai macam gaya selingkung, misalnya gaya Harvard yang banyak dipergunakan.

Ketiga memilah dan memilih data yang dipublikasikan

Seperti telah disingung di atas, tidak semua data boleh disajikan dalam buku. Hal-hal yang bersifat privacy tidak boleh dicantumkan dalam buku.

Keempat, modifikasi bahasa buku

1.      Hindari pemakaian penanda transisi menurut hal itu sesuai dengan pendapat lebih lanjut si A menyatakan berdasarkan hal tersebut

2.      Tidak lagi mencantumkan kata-kata seperti penelitian ini, peneliti, teman sejawat, penulis

Kelima, hindari pengambilan sumber kutipan kedua atau pendapat yang kurang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah

Pada laporan KTI, biasanya penulis mengambil sumber kedua dalam kutipannya, yang biasa ditemu dengan transisi * (Si A seperti dikutip Si B)* Si A mengutip pendapat si B menyatakan bahwa Saat mengambil pendapat dari blog, penulis perlu memperhatikan tingkat akurasi pendapat tersebut disandingkan dengan pendapat para pakar

Keenam, wajib menuliskan semua daftar Pustaka yang dipakai sebagai rujukan dalam buku untuk mendukung keabsahan buku sekaligus menghidari plagiasi.

Hal ini perlu diwaspadai karena penulis terkadang lupa telah melakukan pengembangan sumber kutipan untuk memperkaya teori-teori yang disajikan.

Biasanya lupa hanya mencantumkan daftar Pustaka sama persis dengan laporan KTI.

Ketujuh, memperhatikan kaidah penyusunan buku ber-ISBN

Agar memperoleh ISBN, maka penulis sebelum mengirimkan naskahnya perlu memperhatikan kelengkapan naskah (a) judul buku, (b) kata pengantar, (c) daftar isi, (d) isi buku terdiri dari bab-bab, (e) profil penulis/ pengarang, (f) daftar pustaka, khusus untuk buku ilmiah atau ilmiah popular, (g) sinopsis yang ditempatkan di cover belakang buku, dan (h) cover buku

 

pertanyaan ke 7 : Apa tujuan mengkonversi KTI menjadi buku

Tujuan Keilmuan

Sebenarnya, hasil penelitian selain bermanfaat dalam pengembangan keilmuan, juga dapat bermanfaat dalam menemukan permasalahan sesuai ranah yang diteliti. Permasalahan tersebut tentunya tidak hanya teronggok dalam laporan, namun perlu dicarikan solusi.

Dengan mengkonversikannya dalam bentuk buku, maka permasalahan tersebut akan diketahui oleh khalayak sehingga menjadi dasar bagi penelitian lain untuk menemukan solusinya.

Misalnya bagian dalam refleksi PTK dapat dimanfaatkan sebagai sarana pemecahan masalah saat guru menerapkan suatu metode yang diterapkan pada penelitian selanjutnya

Buku dapat dikonsumsi publik secara luas sebagai bahan referensi.

Memberi petunjuk pada pembaca untuk melakukan hal serupa tapi tak sama (modifikasi action berdasarkan referensi buku hasil konversi)

Tujuan Pengembangan Teknologi

Contoh yang banyak ditemui adalah PTK yang mengujicobakan atau mengembangkan media-media pembelajaran dengan karakteristik unik dan mengandung unsur kebaruan. Karya-karya inovatif yang dipublikasikan akan menjadi referensi dalam pengembangan teknologi pembelajaran.

Teknologi tepat guna hasil temuan yang selama ini lebih banyak dipraktikkan di kanal online sebenarnya juga dapat dibukukan sehingga menjadi buku yang inspiratif.

Karya-karya hasil INOBEL merupakan contohnya

Tujuan Pengembangan Karier/Profesi

Pada beberapa jabatan memang menuntut adanya publikasi berupa buku, misalnya widyaiswara, dosen, bahkan guru.

Syarat kenaikan pangkat dari unsur pengembangan profesi bagi guru dan dosen khususnya seperti yang terdapat pada buku 4 PKG juga diatur mengenai penerbitan buku.

Tentu saja penulisnya juga akan mendapat popularitas jika bukunya berhasil menjadi best seller.

Tujuan Ekonomis

Saat masih berupa laporan maka KTI nonbuku seperti PTK, PTS, Tugas Akhir, skripsi, tesis, desertasi kurang memiliki nilai ekonomis. Mengingat bentuknya berupa laporan, sehingga sulit untuk dijadikan sebagai bahan rujukan.

Umumnya hanya sebagai pelengkap pada bagian hasil penelitian yang relevan ataupun penguatan dari penelitian dari peneliti lain.

Pada sisi lain, mengubah KTI menjadi buku seolah seperti mempatenkan hasil laporan karena masuk penerbit, dilindungi hak ciptanya dan memiliki ISBN


Pertanyaan 8 : Bolehkah laporan KTI apa adanya langsung dijadikan buku?

Sah-sah saja penulis langsung menerbitkan KTI-nya menjadi model seperti buku (tapi bukan buku).

Mengapa demikian? Sebab penerbit seperti percetakan mandiri maupun penerbit Indie biasanya tidak melakukan pembatasan yang ketat seperti halnya penerbit mayor.

Motif kepentingan untuk mengejar angka kredit biasanya menjadi dasar penulis yang sekedar membuat laporan KTI nya diterbitkan menjadi buku.

Bukan mengkonversi KTI menjadi buku.

Penerbit seperti halnya penerbit Indie memang tak bertanggung jawab atas semua isi buku maupun pemasarannya, meskipun ada beberapa yang membantu proses pemasaran.

Namun secara persepsi pembaca yang akan menilai kelayakannya. Nilai jual KTI yang langsung dibukukan tanpa dikonversi tentu akan berbeda dengan yang memang dikonversi jadi buku

Jadi perlu dipahami diawal bahwa : Meng-ISBN-kan KTI tidak sama dengan mengkonversi KTI menjadi buku ber-ISBN

Oleh sebab itu, penulis juga harus jeli dalam memilih penerbit. Caranya, bacalah buku konversi KTI hasil terbitan suatu penerbit.

Cermati isinya, maka Anda akan dapat menilai kualitasnya. Apakah hanya sekedar menerbitkan apa adanya atau memang benar-benar memperhatikan kualitas terbitannya.

Kelihatannya untuk hal ini PMA Literasi Istikamah bersama Bunda Sri Sugiastuti ahlinya


Nah, inilah  ilmu yang sangat penting , trimakasih  banyak pak Eko Daryono, S.Kom  untuk ilmunya.  Mungkin  sahabat literasi   sudah  punya  KTI  yang siap dibukukan .  Bisa mengikuti panduan ini. 


Karena materi ini sangat penting, maka ingin saya bagikan hasil dari Bimbingan gratis  Menulis hingga menerbitkan buku , yang diselenggarakan  oleh WIM PMA  digagas oleh  founder ibu Kanjeng ( Dra  Sri Sugiastuti, M.Pd)  Tanggal  9 Oktober 2021  melalui   fliyer  yang saya lampirkan 

Trimakasih-trimakasih  banyak   untuk ilmunya.


#30harimenulis
#30haripunyanaskah
#siapataujadibuku
#alineakuchallenge - 17
#alineakuwriter
 
#alineakuLedwinaEti  

 










 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 07 Oktober 2021

NASIB #10

 


Cerpen.

 

Pada Suatu hari aku disuruh bantu masak di rumah kak Ester, seperti biasa kalau ada acara-acara pasti langganan aku  harus datang bantu-bantu.

“Rambu, makanan di meja  sudah ditata semuanya udah selesai belum?” tanya  kak Ester.

“Iya, kak  ini udah selesai,” jawabku tersenyum sambil merapikan baskom bekas makanan dan sayur.

“Ya udah, kalau gitu. Kamu makan dulu sebelum tamu datang,” ucapnya.

Biasa kalau  pulang arisan, teman-teman suka bungkus makanan untuk dibawa pulang, aku kan perasaan kalau melarang mereka , karena memang sudah tradisi kami, “ lanjutnya.

Kak Ester  orang Jawa, mereka punya paguyuban Jawa, setiap bulan  giliran untuk ketempatan. Mereka selalu makan-makan, memasak khas jawa. Mereka  kumpul, cerita- cerita, ka ka ki ki...tertawa, tertiwi. Rame sekali  dengan ngomong jawa yang kental. Aku sendiri  tidak mengerti apa yang mereka  omongkan.

“Nggak usah, kak. Aku masih kenyang, kebetulan tadi sebelum berangkat ke sini makan dulu di rumah,” dustaku. Padahal perut ini sedari tadi terasa  lapar dan  keroncongan.

Sengaja berangkat siang supaya aku tak terlalu lama di sini, hanya minum teh manis tadi  terlebih dulu di rumah, untuk ngganjal perut agar tak cepat lapar.  Ternyata tetap saja lambungku ini meminta jatah. Mungkin  karena efek terlalu lama mencium bau rendang dan makanan lezat yang aromanya sangat menggoda saat kuhidangkan di meja.

Sebenarnya malas makan di rumah kakak iparku yang satu ini. Bukan karena malu atau geli, tapi aku malas jika makan di sini bersama anakku maka ia akan menyindirku di depan teman-temannya yang orang Jawa itu, seakan-akan aku tak pernah makan enak. Biasa keluargaku  kan kalau makan sederhana, tidak  pakai tata cara, tidak pakai aturan.  Tidak seperti keluarga kak Ester yang  makannya pelan-pelan penuh perasaan, sedikit, rapi, tidak  bunyi dan bla bla,  banyak aturannya deh pokoknya. Tambah kak Ester orangnya super cerewet.

Maka aku malu kalau disuruh makan di kak Estes, begitupun anak-anak dan suamiku nanti kena  sindir. Dari pada sakit hati dan malu!. Dan aku berjanji kalau di rumah kak Ester, aku  tak  akan mau makan. Ya, aku tak akan mau.  Aku tak suka dengar bahasa yang  suka ‘merendahkan orang, terkhusus padaku dan keluargaku.

“Maklumlah, Bu. adik ipar saya ini emang jarang makan enak. Jadi, sekalinya makan sama anaknya di sini kayak orang rakus,” ucapnya kala itu, membuatku yang sedang mengunyah makanan hampir tersedak.

Gegas kuraih air minum di hadapanku dan meminumnya perlahan agar makanan yang hendak ditelan tak keluar.

 

Kusudahi makan yang baru beberapa suap karena sudah tak berselera. Kini hanya anakku yang kusuapi dengan nasi  dan  kuah  ayam  sisa dari baskom.

“Bu Ester  memang baik, ya. Royal sama saudara ipar,” ucap mama Tika salah satu teman arisannya kak Ester..

“Iya, benar!. Mama Tika, bu Ester memang orang baik,” timpal wanita paruh baya di sebelah  Mama Wiwid.

“Ah!!, Ibu ini biasa aja  kok ... namanya kita saudara jadi harus saling bantu. “Adik saya, Bram  ‘kan penghasilannya nggak kayak suami saya, jadi, mereka makan seadanya terus tiap hari,” ungkapnya enteng tak menghiraukan perasaanku yang mulai tersakiti.

 

Aku tahu hidupku susah. Suamiku Mas Bram bekerja sebagai guru honor komite yang hanya berpenghasilan sebulan lima  ratus ribu yang tak bisa mencukupi kebutuhan hidup selama tiga puluh hari.

 

Untuk menambah penghasilan, suamiku juga mengajar les dari siang sampai malam. Mas Bram adalah pria pekerja keras yang mandiri, tak mau mendapatkan bantuan apa pun dari keluarganya yang kaya dan sukses. Ia ingin berhasil karena usahanya sendiri. Biar  miskin tak apa. Ibarat makan  dengan ‘hanya’ menjilat garam pun akan tetap  dijalani.

Aku mencintai mas Bram karena orangnya  jujur, rendah hati dan mandiri. Dari kecil dia sudah  dilatih mandiri oleh orang tuanya, bahkan dia cerita kalau  dulu sejak SD dia biasa bawa kue, donat atau es  buatan mamanya untuk di jual di kelasnya.

Memang Pernah suatu ketika ia di tawari suaminya kak Ester  diserahi  salah satu tokonya untuk kelola. Namun, ditolaknya. Ia ingin sukses karena prestasinya, bukan karena ada orang di belakang yang membantunya sukses.

Sejak itu, kak Ester  jadi sinis sama keluarga kami. Kak Ester  tersinggung saat mas Bram menolak tawarannya waktu itu. Mungkin itu salah satu pemicu ia selalu menghinaku.

Tiba-tiba aku tersentak kaget saat Marcel  anakku menarik  ujung blus yang kukenakan.

“Ma, aku  lapar.....!!,” ucapnya. Aku membungkuk agar sejajar dengannya lalu berbisik pelan agar tak di dengar orang. Kucubit  pipinya pelan-pelan, “ sabar ya..., jangan  makan disini!”, Aku berusaha memberi pengertian kepada anakku.

“Marcel, nanti ya, kita makannya di rumah saja bareng bapak , hhh!!, menggangguk terlihat terpaksa!” ujarku berharap ia mengerti.

“Sekarang, Marcel minum aja dulu, ya?” Ia mengangguk patuh. Kuajak dia ke tempat tidur untuk dia ‘nunut’  tidur di kamar Wili  anaknya kak Ester.

            Aku jadi merasa berdosa sudah membiarkan anakku kelaparan, tapi mau bagaimana lagi, jika aku dan Marcel  makan di sini Kak Ester pasti akan mengejek kami rakus . Ah, aku tak mau itu terjadi lagi. Walaupun miskin begini juga aku masih punya harga diri. Aku tak mau sakit hati ini terulang kembali.

 

Usai Arisan, aku bersiap untuk pulang, ku bangunkan Marcel yang masih tertidur setelah jajan kue donat dan  teh gelas di bu Yubi tetangga sebelah.

Untung saja uang kembalian ongkos angkot tadi siang masih sisa sepuluh ribu, sehingga anakku bisa mengisi perutnya yang kelaparan.

Aku masih  menunggu mas Bram jemput.  Aku bantu-bantu merapikan bekas-bekas makanan.  Menyapu lantai dan memunguti gelas plastik bekas air mineral.

Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mas Bram  muncul. Segera ku tengok Marcel, kubangunkan dia ku ajak keluar dan sekalian berpamitan sama kak Ester.

“Aduh, maaf, ya, Rambu. kehabisan, makanan  ludes!  semua  udah pada abis”! kata kak Ester kepadaku.  “ Teman-teman tadi  sudah bungkus dan dibawa, kamu pulang nggak bawa  nggak  bawa apa-apa ya!”  lanjutnya.

“Iya, kak!. Nggak apa-apa!” ,Aku menjawab dan langsung ngeloyor pergi usai berpamitan.

Sepanjang jalan menuju rumah aku hanya terdiam, Marcel kembali tertidur di pangkuanku sambil memeluk bapaknya yang sedang fokus menjalankan motornya yang butut.

 Mas Bram tumben tak ada suaranya. Biasanya dia suka berceloteh jika sedang berkendara denganku. Jangan-jangan ia juga sedang menahan lapar?

Tiba di rumah, setelah menidurkan  marcel di kamarnya, aku menuju dapur membuka tutup saji, mencari sisa nasi tadi pagi. Syukurlah masih ada, aku bisa menggorengnya untuk kami makan sekarang. Nasi goreng kesukaan mas Bram, karena kebetulan juga tak ada  lauk dan sayuran di kulkas.

“Dik, emang nggak dapat sisa makanan dari kak Ester tadi?” tanya mas Bram  padaku.

“Nggak, mas, kehabisan!, kata kak Ester.” Aku menjawab sambil mengiris bawang.  Ia mengangguk-angguk penuh pengertian. Mas Bram sangat tahu sifat kakaknya tercinta.

 

#30harimenulis

#30haripunyanaskah

#siapataujadibuku

#alineakuchallenge - 10

#alineakuwriter

 

#alineakuLedwinaEti  

 

 

Waingapu, 1 Oktober 2021

 

A11 Kehidupan #11

 


 

Saya bergitu  terkesan dengan  kata-kata yang disampaikan oleh  pak Dahlan Iksan tentang  kehidupan bunyinya begini:

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketulusan.

Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar keikhlasan.

Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang memaafkan.

Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan. Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketangguhan.

Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kemurahan hati.

Tetap semangat. Tetap sabar. Tetap tersenyum. Karena kamu sedang menimba ilmu di Universitas Kehidupan.

 

Hidup kita harus  dijalani dengan  penuh syukur.  

Di hari minggu pagi-pagi  suasana cerah,  burung pipit berbunyi indah menyambut pagi menambah suasana  sejuknya pagi, disusul yang mentari yang tersenyum  dari peraduannya. Oh Tuha  bahagianya hari ini. Aku  tersenyum dan bersyukur padaNya untuk hari baru ini.

 saat itu aku bangun tidur aku melihat  mbak-mbak sayur lewat depan rumahku  dengan  memikul  ember besar berisi sayuran diatas kepalanya sambil menggandeng anaknya yang balita. Sambil  berteriak, sayur.... sayur.........Sedih  melihat perjuangan  hidup mereka. Dengan begitu  saya jadi  terus berucap syukur  atas nikmat Tuhan, saya  masih punya kehidupan yang lebih baik dari dia.

 

Ada  saja  orang yang  miskin, hari-hari sebagai seorang pemulung, pemungut  botol dan gelas air mineral. Mereka  rutin setiap hari kulihat seorang bapak dan 2 orang anak yang bersamanya. Mereka  mengorek sampah san mengambil  barang yang  bisa dijual di pengampu. Tapi mereka  masih bisa bilang bersyukur   tidak jadi pengemis yang hanya meminta-minta.

 

 

Pada suatu hari  seorang pengemis jalan-jalan menyusuri  trotoar dan meloihat  ambulan berjalan cepat dengan  bunyi sirine dari mobilnya, nguing,nguing, nguing....pastinya  mobil itu membawa orang sakit berat. Sang pengemis  masih mengurut dada,  dan berkata “ Syukur Tuhan  saya masih diberikan kesehatan”.

 

 

Disebuah rumah sakit umum saya yang waktu itu menjaga  suami di ruang ICU,  beliau sakit jantung dan  terinveksi Covid-19.  Cobaan berat bagiku saat ibu. Saya yang menjaga suami juga sakit.  Badanku lemah tak berdaya karena saya juga terinveksi.  Aku melihat  satu ruangan denganku meninggal.  Keluarga mereka menangis  histeris dan hanya menunggu dari luar. Akhirnya  mereka dikubur  secara Covid dai KM 8. Saya hanya bisa meratapi,  tak kuasa menahan tangis saat itu......tapi syukurlah  Tuhan masih memberikan kehidupan pada kami berdua. Kami  bisa pulang  dan sehat sampai hari ini.

 

 

Ternyata hanya orang yang sudah mati yang tidak dapat berkata , ‘syukurlah’

Semoga  kita  selalu  bersyukur atas  nikmat yang Tuhan berikan kepada kita.  

Tuhan masih  memberikan nafas, kesehatan dan  kesempatan  hidup untuk kita.

 

Atau sesekali kita berkunjunglah ke-3 tempat, Yaitu rumah sakit, penjara  dan  kuburan. Kita akan merasa  terus bersyukur dan bersyukur......  Kita  akan selalu merasa bahagia jika kita  terus bersyukur.

 

Di rumah sakit kita akan memahami bahwa tidak ada yang lebih berharga dari pada kesehatan

Di penjara kita akan menyadari bahwa kebebasan adalah  hal yang paling berharga.

Di kuburan kita akan menyadari bahwa hidup ini tidak berarti apa-apa

 

Karena tanah yang kita pijak hari ini akan menjadi atap kita di esok hari

selagi kita masih  diberi  waktu dan kesempatan  perbanyaklah  berbuat baik  pada orang lain

hendaklah kita selalu bersyukur terlepas dari apapun  keadaan kita.

Salam Sehat, teruslah  berbuat baik.

Tuhan akan senantiasa  melindungi dan memberkati kita semua.

 

#ArtiKehidupan

Hidup adalah anugerah, terimalah.

Hidup adalah tantangan, hadapilah.

Hidup adalah penderitaan, atasilah.

Hidup adalah pertandingan, menangkanlah

Hidup adalah kewajiban, lakukanlah

Hidup adalah kesukaan, nikmatilah

Hidup adalah janji, penuhilah

Hidup adalah kasih, bagikanlah

Hidup adalah kesempatan, gunakanlah

 

Isilah hidup ini dengan kebaikan dan bersyukur  bagi kemuliaan Tuhan.  Hiduplah dengan selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal dan  berbuatlah yang menyenagkan hati Tuhan.

 

Berkatilah semua orang yang kami jumpai hari ini semoga kami selalu bisa menunjukkan kebaikan  seperti Tuhan baik kepada kami.

 

 

Selamat  Hari Minggu, Salam sehat, semoga  corona  cepat berlalu.

 

#30harimenulis

#30haripunyanaskah

#siapataujadibuku

#alineakuchallenge - 11

#alineakuwriter

#alineakuLedwinaEti  

Waingapu,  3 Oktober 2021

 

 

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...