Tampilkan postingan dengan label Sahabat Alineaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat Alineaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 September 2022

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

 

Oleh: Eli Halimah

The youth today are the leader tomorrow”

Ungkapan di atas artinya, “Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.” Lalu bagaimana kita mempersiapkan pemuda masa depan?

Salah satu cara mencetak pemuda masa depan adalah dengan keterampilan literasi. Pada abad 21 literasi berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan manusia, terlebih bagi seorang pemimpin.

Kemampuan literasi seorang pemimpin akan berpengaruh pada pengambilan keputusan yang mereka lakukan. Pada akhirnya, keputusan itu diharapkan bermuara pada kesejahteraan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Dalam rangka membekali calon pemimpin masa depan dengan keterampilan ini, sekolah kami telah merancang dan melaksanakan beberapa kegiatan pembiasaan. Kegiatan ini kami buat dalam tiga bentuk. Ada kegiatan yang berbasis membaca, berbicara, dan menulis.

Setiap hari Rabu, dari pukul 07.00 WIB hingga 07.30 WIB, seluruh siswa duduk di halaman sekolah. Mereka diwajibkan untuk membaca buku yang sudah disediakan oleh pustakawan sekolah. Buku itu akan mereka baca pada pekan berikutnya, sehingga mereka harus mengingat betul judul buku tersebut. Untuk mengantisipasi kesalahan membaca pada pekan berikutnya, pustakawan kami juga mencatat judul buku dan nama siswa yang membacanya.

Berikutnya, para siswa harus membaca dua halaman. Setelah sepuluh menit, saya memanggil beberapa siswa dari masing-masing kelas secara random. Siswa yang terpanggil diminta untuk menyampaikan kesimpulan atas apa yang sudah dibacanya. Pada tahap ini tidak semua siswa saya panggil karena kami hanya memiliki waktu sepuluh menit.

Setelah itu, siswa masuk pada kegiatan berikutnya yaitu menulis. Siswa yang telah diberi satu buah buku oleh sekolah, diminta untuk membuat tulisan. Tema tulisan sudah saya rencanakan untuk tiap pertemuan.

Tidak perlu tema yang rumit dan sukar, hanya hal-hal yang kecil dan mudah dicerna oleh mereka. Tema tersebut seperti, mengenalkan diri sendiri, bercerita tentang anggota keluarga, perayaan 17 Agustus, makanan dan kegemaran, cita-cita, dan lain sebagainya. Kegiatan menulis ini dilakukan dalam sepuluh menit terakhir.

Pada pekan pertama, hanya beberapa siswa yang mampu menulis hingga mencapai lima puluh kata. Namun, pada pekan-pekan berikutnya terjadi peningkatan pada produktivitas kosa kata mereka. Gaya kepenulisan pun sudah mulai membaik dan santai, tidak terlalu kaku. Variasi penggunaan kata pun semakin meningkat. Semua peningkatan perbendaharaan kata ini saya catat dalam buku khusus.

Di akhir kegiatan pembiasaan ini, saya mengumumkan dua kategori tulisan untuk masing-masing jenjang kelas. Pertama tulisan dengan jumlah kata terbanyak dan kedua tulisan dengan kategori menarik atau seru. Pada mereka, saya berikan penghargaan.

Bukan sesuatu yang mahal, hanya untuk memberikan apresiasi dan afirmasi atas semua usaha yang telah mereka lakukan. Hadiah yang saya berikan terkadang berupa pulpen, roti, atau susu kotak yang bisa mereka gunakan sebagai sarapan.

Antusiasme para siswa amat menggembirakan. Persaingan positif pun terjadi. Masing-masing ingin menjadi versi terbaiknya di pekan itu. Tentu hanya beberapa saja yang akan mendapat predikat tulisan terbanyak dan terseru.

Setiap pekan selalu ada siswa yang mampu menggeser temannya dalam dua kategori tulisan tersebut. Hal ini menandakan bahwa kemampuan mereka dalam menulis sudah mulai merata.

Haruskah mereka bersaing? Pada tahap awal, biarlah mereka bersaing agar semangat menulis semakin tersulut. Seiring jalannya waktu, saya berharap mereka menulis dengan ikhlas, tanpa mengharap penghargaan apa pun dari orang lain.

Sungguh, itu semua pengalam yang amat seru dan menyenangkan. Bahkan beberapa dari mereka sekarang berani mengirimkan tulisan pada saya. Saya amat terharu membaca semua tulisan mereka.

Semua tulisan siswa saya simpan dalam satu file dengan baik. Saya yakin, satu tahun ke depan, beberapa siswa kami mampu menerbitkan buku solo mereka.

Semoga Allah selalu membimbing mereka agar mampu menulis untuk kebaikan. Juga memberikan keteguhan hati pada saya untuk dapat memberikan jalan dan mempermudah akses bagi mereka agar keterampilan literasi mereka makin meningkat dan semoga bermanfaat bagi diri mereka khususnya dan orang lain umumnya.

Untuk anak-anak, terus berkarya lewat tulisan!

Bionarasi Penulis

Eli Halimah, S. Ag. M.Pd. Kepala Madrasah Aliyah Al-Khairiyah Tegalbuntu, Ciwandan, Cilegon. Dari ketidakbakatannya menulis, lahirlah empat buku solo dan belasan buku antologi. Bertekad akan tetap menulis hingga akhir hayat.

Mengatasi Kecemasan dalam Menulis

 

Oleh: Leni Cahya Pertiwi, SE, S.Pd (Alumni Kelas Emak Punya Karya)

Suatu hari tetangga saya datang meminjam uang, jumlahnya tidak banyak, satu juta rupiah. Dia berjanji akan mengembalikan pinjaman itu sebulan kemudian. Saya, meskipun sedikit menyangsikan janjinya, tetap meminjaminya sejumlah tersebut. Dalam hati berharap, dia akan mengembalikan tepat waktu.

Ketika tiba waktunya, tetangga saya tersebut wajahnya jadi jarang terlihat. Telah berlalu sebulan dari tenggat waktu, uang saya belum dikembalikan.

Suatu hari saya bertemu denganya secara tidak sengaja, wajahnya mendadak pucat, terlihat cemas. Sapaan saya dijawab dengan permintaan maaf  karena belum bisa mengembalikan pinjaman, padahal saya sama sekali tidak menyinggung tentang utangnya.

Ilustrasi diatas menggambarkan suatu kondisi yang membuat seseorang merasa cemas.

Lalu, apa itu cemas? Menurut KBBI cemas berarti risau hati (karena khawatir, takut); gelisah. Apa yang bisa membuat orang cemas? Jawaban ini tentu tergantung keadaan.

Seseorang mungkin akan merasa cemas saat menghadapi tes wawancara kerja, calon pengantin yang cemas menghadapi hari pernikahan yang semakin dekat, atau seorang suami yang cemas menunggu istrinya bersalin di ruang operasi, dan seperti cerita di atas, seseorang yang cemas karena takut ditagih utangnya. Pun seorang menulis, dapat  mengalami kecemasan.

Lalu, apa saja kecemasan yang dialami oleh seorang penulis?

Dikutip dari buku Modal Dasar Seorang Penulis, Cahyadi Takariawan yang akrab disapa Pak Cah menuliskan beberapa jenis kecemasan yang sering menghambat kreativitas seorang penulis.

Di antara kecemasan tersebut adalah rasa cemas terhadap kualitas tulisan, kecemasan terhadap penilaian orang lain, dan kecemasan terhadap deadline.

Cemas terhadap kualitas tulisan lumrah dialami oleh penulis pemula, bukan tanpa sebab.  Kurangnya pengalaman dan jam tulis yang masih sedikit, membayangi setiap kalimat yang akan dituangkan menjadi sebuah artikel.

Untuk mengatasinya kita hanya perlu berlatih sesering mungkin. Semakin sering menulis, semakin banyak tulisan yang mampu dihasilkan, pada gilirannya akan memengaruhi  kualitas tulisan kita. Ingat, tak ada penulis yang langsung jadi, semuanya butuh proses.

Peningkatan kualitas tulisan dengan sendirinya akan menghilangkan kecemasan berikutnya. Seorang penulis dengan jam tulis yang semakin banyak, tak lagi terkungkung oleh penilaian orang lain. Sama seperti seorang pilot pesawat yang memiliki jam terbang tinggi, akan tetap  tenang saat bertemu  awan comulonimbus. Jadi, berhentilah memikirkan komentar negatif terhadap tulisan Anda. Ingat, seperti iklan sebuah produk shampoo, ‘Rambut Aku Kata Aku’.

Untuk mengatasi kecemasan menghadapi deadline, Pak Cah menyarankan untuk membuat pengaturan waktu yang baik.

Menulis di awal waktu sangat disarankan, karena kita memiliki kesempatan yang cukup banyak untuk mengendapkan tulisan. Membacanya kembali berulang-ulang, lalu menyunting menjadi artikel atau tulisan yang siap disajikan pada pembaca.

Mungkin belum menjadi artikel yang sempurna. Namun, setidaknya telah melewati proses penyuntingan berlapis, yang tentu akan berbeda hasilnya jika dituliskan dalam kondisi terburu-buru.

Masih merasa cemas dalam menulis? Tenang, Anda tidak sendirian, saya mengalaminya, bahkan tulisan ini dibuat saat saya cemas terhadap deadline. Penulis sekelas Pak Cah saja masih mengalami kecemasan kok. Hanya saja, jangan jadikan kecemasan sebagai dalih untuk tidak menulis. Salam hangat dan tetap semangat.

Biografi Penulis:

Leni Cahya Pertiwi, selain seorang penulis, dia pun berprofesi sebagai pengajar di sekolah menengah atas, Kerinci, Sumatera. Telah menerbitkan buku solo berjudul “Happy Mama, Ibu bahagia Lahirkan Generasi Mulia”

Beberapa buku Antologi: Bianglala Kehidupan di Masa Korona, Cinta Untuk Palestina, Unforgettable, Moments, Cinta Dalam Diam, Kidung Senja, Mutiara Cinta Dua Dunia.

Senin, 20 Juni 2022

“The Habits Manifesto” Model Gretchen Rubin (2)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

As with dieting, exercising, and other somewhat painful activities, there’s no better time to start a writing habit than right now. It won’t magically become easier tomorrow or next week or next month” –Claire Splan, 2020.

.

Gretchen Rubin adalah penulis di New York Times, penulis buku The Happiness Project, Happier at Home dan Better than Before. Rubin telah melakukan banyak penelitian tentang kebiasaan dengan membawa berbagai studi perilaku ke dalam penilaian pribadinya. Ia menilai tentang apa yang berhasil membangun kebiasaan dan apa yang tidak berhasil.

Selanjutnya Rubin memaparkan apa yang dia sebut sebagai “The Habits Manifesto” atau Manifesto Kebiasaan berupa dua belas tip untuk menciptakan dan memelihara kebiasaan. Rumus ini ia peroleh dari riset dan pengalaman pribadinya. Ada beberapa poin menarik dalam The Habits Manifesto yang bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

Kita Bisa Mengelola Apa yang Kita Ketahui

We manage what we monitor” –Gretchen Rubin.

Rubin menyatakan, bahwa manusia akan bisa mengelola hal-hal yang diketahui dan dipantaunya. Jika Anda tidakmengetahui dan tidak memantau sesuatu, Anda tidak akan dapat mengelolanya.

Misalnya terkait waktu. Sangat mungkin ada banyak waktu hangus dan hilang namun tidak Anda sadari. Anda merasa sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk menulis. Padahal bisa jadi ada slot-slot waktu yang hilang begitu saja karena tidak Anda amati. Jika Anda mencermati semua penggunaan waktu dalam kegiatan keseharian, nisacaya Anda akan menemukan slot yang sesungguhnya luang dan bisa dimanfaatkan.

Demikian pula dalam proses menulis. Kapan waktu yang efektif bagi Anda untuk menulis, dimana tempat yang paling nyaman bagi Anda untuk menghasilkan karya tulis, dengan sarana apa Anda paling lancar menulis? Coba amati dengan seksama, maka Anda akan bisa mengelola dan mengatur semuanya.

It seems to help a lot to track your writing habit and the more details you track, the better. It can be the number of words or pages written, the number of hours spent writing, or some other metric. However you measure it, write it down” –Claire Splan, 2020.

Claire Splan memiliki pengalaman pribadi tentang kebiasaan ini. Menurut Splan, “Melacak kebiasaan menulis akan sangat membantu, dan semakin banyak detail yang bisa Anda lacak, semakin baik untuk Anda”. Dengan mengetahui hal-hal detail dari kebiasaan menulis yang Anda miliki selama ini, Anda akan semakin bisa mengelola untuk bisa lebih produktif.

“Ini bisa berupa jumlah kata atau jumlah halaman yang berhasil Anda tulis, jumlah jam yang Anda habiskan untuk menulis, atau parameter lainnya. Bagaimanapun Anda mengukurnya, tulislah”, ungkap Splan.

Dalam buku How I Went from Writing 2,000 Words a Day to 10,000 Words a Day, Rachel Aaron menyatakan bahwa ia menyimpan spreadsheet yang melacak waktu mulai menulis, waktu berhenti, di mana ia menulis, dan berapa banyak kata yang ditulis pada setiap sesi. Dengan informasi detail itu, Aaron dapat menentukan ada waktu-waktu tertentu dalam sehari, tempat-tempat tertentu, dan jangka waktu tertentu yang ia menjadi lebih produktif.

Jika Telah Siap, Segera Mulai Sekarang

Once we’re ready to begin, begin now” –Gretchen Rubin.

Penundaan adalah masalah sangat banyak orang. Dalam bidang apapun, selalu ada masalah penundaan. Termasuk dalam hal menulis. Banyak orang menyatakan ingin bisa menulis dan ingin memiliki karya tulis, namun selalu menunda untuk memulai.

“Seperti halnya diet, olahraga, dan aktivitas lain yang agak menyakitkan, tidak ada waktu yang lebih baik untuk memulai kebiasaan menulis selain sekarang”, ujar Claire Splan. Menunda hampir selalu punya arti tidak sama sekali. “Besok” atau “lusa” adalah kata-kata apologi untuk menyatakan tidak akan melakukannya sama sekali.

“Penundaan dari hari ini, tidak akan secara ajaib menjadi lebih mudah dikerjakan besok atau pekan depan atau bulan depan. Resistensi akan tumbuh ketika Anda menunda memulai”, lanjut Splan.

Gretchen Rubin sangat serius ketika ia menyatakan harus memulai sekarang. Kebiasaan apapun yang ingin Anda tumbuhkan dan Anda miliki, hanya akan bisa muncul dengan efektif apabila Anda memulai sekarang. Bukan besok, bukan lusa.

Now is the time. Stop choosing to write. Just write. Write now” –Claire Splan, 2020.

Ketika Anda menghibur diri dengan mengatakan “aku akan menulis besok”, maka kalimat sama akan menjumpai Anda keesokan hari. Ketika Anda mengatakan “aku akan mulai menulis pekan depan”, maka kalimat sama akan Anda dapatkan pekan depan. Begitu seterusnya. Setiap penundaan akan diikuti dengan penundaan berikutnya, hingga akhirnya seseorang meninggal dunia tanpa melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya.

Yang perlu Anda lakukan hanyalah menulis. Bukan ingin menulis. Bukan bercita-cita menulis. Bukan bermimpi untuk menjadi penulis. Anda hanya perlu menulis. Itu saja, maka Anda telah menjadi penulis.

“Gretchen Rubin mati-matian menjelaskan tentang ini. Sekaranglah saatnya. Berhentilah memilih untuk menulis. Tulis saja. Tulis sekarang”, ungkap Splan.

Anda sudah siap?

Bahan Bacaan

Claire Splan, Make Writing a Habit, Not a Choicehttps://shutupwrite.com, 18 November 2020

Menciptakan Habit Menulis “8 Menit Setiap Hari” (2)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

A writing sprint is an exercise in which you write as many words as you can in a limited amount of time” –Nissa Annakindt, 2019.

.

Mungkin selama ini Anda sudah rutin menulis setiap hari, dan bahkan menghasilkan “naskah jadi” setiap hari. Namun pertanyaannya, apakah kecepatan menulis Anda terukur? Apakah efektifitas dan efisiensi penggunaan waktu Anda meningkat? Ini menyangkut berbagai macam kegiatan yang harus Anda lakukan di luar menulis, yang juga harus diselesaikan.

Untuk itulah Anda perlu berlatih “writing sprint” atau sprint menulis. “Writing sprint” adalah latihan menulis kata-kata sebanyak mungkin dalam waktu terbatas. Tujuan dari “sprint menulis” adalah untuk meningkatkan jumlah kata yang berhasil Anda tulis dalam satuan waktu tertentu, sekaligus meningkatkan kecepatan dan efisiensi menulis.

Jika Anda berharap mampu lebih banyak menulis kata dalam satuan waktu tertentu, atau  sudah rutin menulis tetapi ingin memiliki lebih banyak waktu untuk mengerjakan hal-hal lain, maka ini adalah teknik yang bisa Anda coba. Jika Anda terlatih, maka waktu menulis Anda menjadi efektif, dengan jumlah kata yang meningkat.

The purpose of a writing sprint is to encourage you to increase your word count and improve the speed and efficiency with which you write” –Nissa Annakindt, 2019.

Mengapa Anda tidak menulis secepat mungkin sampai akhir bab atau chapter tertentu? Cara seperti ini tidak memberi Anda tantangan. Tidak ada akhir yang pasti untuk batas waktu yang telah Anda habiskan. Jika Anda membatasi waktu, maka semua akan lebih terukur. Anda menjadi mengerti kecepatan menulis, dan bisa memperkirakan waktu yang diperlukan untuk menulis satu artikel atau satu cerpen.

Misalnya kecepatan menulis Anda adalah 20 kata per menit, maka untuk menulis artikel koran atau majalah sebanyak 1.000 kata, Anda memerlukan waktu 50 menit. Kurang dari satu jam. Jika Anda ingin menulis cerpen 2.000 kata, berarti Anda memerlukan waktu 100 menit, atau satu jam lebih 40 menit. Kurang dari dua jam.

Nah, dengan mengetahui hal ini, Anda bisa mengalokasikan waktu menulis di sela-sela kesibukan harian Anda yang sangat padat. Anda mengerti kebutuhan waktu untuk menyelesaikan satu naskah tertentu, maka bisa mengelolawaktu secara lebih efektif dan efisien untuk mengerjakan hal-hal lain.

The 8-Minute Writing Habit

By setting a time limit, you are forcing yourself to finish in that time. And maybe you won’t finish, but you can still get as far as you can so that you have time to do other life things” –Nissa Annakindt, 2019.

The 8-Minute Writing Habit adalah sebuat teknik menciptakan habit menulis yang dikemukakan oleh Monica Leonelle. Tujuan teknik ini adalah melatih kebiasaan menulis harian, dalam satuan waktu tertentu yang singkat. Leonelle menyarankan satuan waktu menulis 8 menit.

Mari kita mulai berlatih “writing sprint” menggunakan model Monica Leonelle. Cukup delapan menit dalam setiap sesi menulis. Berikut rambu-rambu untuk menggunakan teknik “8 menit menulis”.

Pertama, pikirkan dan siapkan satu tema tertentu untuk Anda tulis. Tema bebas, bisa berupa cerita, pengalaman, kejadian, peristiwa, perasaan, keinginan, harapan, kritik, atau apa saja. Carilah tema yang mudah untuk Anda tuliskan. Hal ini agar saat menulis, Anda benar-benar sudah siap dengan segala sesuatu.

Kedua, Anda harus menulis tema tersebut dalam waktu 8 menit. Selesai atau tidak selesai, Anda harus berhenti menulis setelah 8 menit. Gunakan pewaktu untuk memastikan bahwa waktu menulis Anda benar-benar 8 menit.

Ketiga, Anda bebas menulis, boleh fiksi atau nonfiksi. Boleh berbentuk cerita, dongeng, berita, narasi, atau bentuk apapun yang Anda kuasai.Pilih bentuk dan gaya menulis yang paling mudah bagi Anda.

Keempat, Anda menulis dengan kecepatan wajar, sebagaimana kebiasaan masing-masing. Jangan berusaha mengebut atau mempercepat cara menulis. Yang dihitung bukan semata-mata kecepatan menulis, namun kemampuan rata-rata Anda menghasilkan tulisan per satuan waktu tertentu. Ini agar Anda mengetahui progres pertumbuhan kemampuan menulis dari waktu ke waktu.

Langkah Teknis

Dalam setiap sesi “8 menit menulis”, yang perlu Anda lakukan adalah hal-hal teknis sebagai berikut:

  • Pilih alat menulis sesuai kebiasaan Anda masing-masing, misalnya handphone, laptop, tab, komputer, buku tulis, dan lain-lain.
  • Atur penghitung waktu untuk 8 menit.
  • Aktifkan penghitung waktu, dan langsung mulai menulis selama 8 menit.
  • Berhenti menulis setelah tepat 8 menit, dan hitung jumlah kata yang berhasil ditulis.
  • Ulangi beberapa sesi dengan cara yang sama.
  • Hitung rata-rata  jumlah kata yang bisa Anda tulis dalam 8 menit.
  • Buat catatan untuk mengetahui perkembangan kemampuan menulis Anda.
  • Lakukan dalam beberapa hari.

Format laporan perkembangan, buat yang mudah dan sederhana saja, misalnya:

Hari, tanggal            : _______________________

8 Menit Pertama      = …. kata

8 Menit Kedua         = …. kata

8 Menit Ketiga         = …. kata

Rata-rata menulis    = …. kata / 8 menit = …. kata / menit

Jika Anda telah melakukan dalam beberapa hari, misalnya 7 hari, maka buatlah laporan rata-rata kemampuan menulis.

Rata-rata menulis hari pertama     = …. kata / 8 menit = …. kata / menit

Rata-rata menulis hari kedua        = …. kata / 8 menit = …. kata / menit

Rata-rata menulis hari ketiga        = …. kata / 8 menit = …. kata / menit

Dan seterusnya….

Rata-rata menulis dalam 7 hari     = …. kata / 8 menit = …. kata / menit.

Inilah kemampuan rata-rata menulis Anda dalam waktu tujuh hari. Jika Anda berlatih rutin setiap hari menulis 8 menit, kemampuan menulis Anda akan terus meningkat dengan sendirinya. Maka dari laporan perkembangan tersebut, Anda semakin mengetahui kemampuan menulis yang Anda miliki sesungguhnya.

Tantangan selanjutnya adalah Anda menulis setiap hari minimal satu sesi atau 8 menit. Jika sedang ada waktu lebih, boleh menulis lebih banyak, misalnya 2 X 8 menit. Bahkan jika sedang libur bisa lebih banyak lagi, misalnya 5 X 8 menit. Sampai Anda merasakan kebiasaan menulis harian sebagai hal yang ringan dan menyenangkan.

Rutinkan menulis setiap hari minimal satu sesi. Rasakan hasilnya.

Bahan Bacaan

Jumat, 17 Juni 2022

“The Habits Manifesto” Model Gretchen Rubin

 


 .

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I decide what I’m going to work on before I sit down to write. I establish the blog post topic or the scene from my novel or completely fresh writing project I’m going to work on before I’m in front of my computer screen” –Claire Splan, 2020.

.

Gretchen Rubin adalah penulis di New York Times, penulis buku The Happiness Project, Happier at Home dan Better than Before. Rubin telah melakukan banyak penelitian tentang kebiasaan dengan membawa berbagai studi perilaku ke dalam penilaian pribadinya. Ia menilai tentang apa yang berhasil membangun kebiasaan dan apa yang tidak berhasil.

Selanjutnya Rubin memaparkan apa yang dia sebut sebagai “The Habits Manifesto” atau Manifesto Kebiasaan berupa dua belas tip untuk menciptakan dan memelihara kebiasaan. Rumus ini ia peroleh dari riset dan pengalaman pribadinya. Di antara poin menarik dalam The Habits Manifesto itu adalah ”make it easy to do right and hard to go wrong”. Mari kita selami.

Buatlah Mudah untuk Melakukan yang Benar dan Sulit untuk Salah

Make it easy to do right and hard to go wrong” –Gretchen Rubin.

Salah satu cara membangun kebiasaan menulis, adalah membuat menulis menjadi hal yang mudah dilakukan. Tindakan ini penting, karena “menulis seringkali sulit” (Claire Splan, 2020). Menulis tidak selalu mudah, terlebih bagi para pemula. Maka pikirkan cara agar menulis menjadi hal yang mudah untuk dilakukan.

Ada pengalaman menarik dari Claire Splan, bagaimana ia menerapkan manifesto kebiasaan tersebut. Splan menyatakan, ia berusaha membuat menulis menjadi mudah dengan dua cara.

Pertama, ia merencanakan dan memutuskan tema yang akan ditulis sebelum duduk untuk menulis. “Saya telah menetapkan topik untuk posting blog atau adegan dari novel atau proyek penulisan, sebelum duduk di depan layar komputer saya. Cara ini bisa meminimalkan jumlah waktu yang saya habiskan untuk menatap layar kosong”, ujar Splan.

Kedua, ia membebaskan dirinya untuk berubah pikiran dari rencana dan keputusan semula. “Saya membiarkan diri saya berubah pikiran tentang apa yang sedang saya tuliskan. Jika cerita yang ingin saya tulis tidak sesuai, tidak apa-apa bagi saya untuk menulis sesuatu yang lain, selama saya terus menulis”, ungkapnya.

“I allow myself to change my mind about what I’m working on. If the scene I intended to write just isn’t coming together, it’s OK for me to write something else, as long as I just keep writing” –Claire Splan, 2020.

Pengalaman Claire Splan tersebut mungkin cocok bagi sebagian kita. Saya memiliki pengalaman pribadi yang sedikit berbeda dari Splan. Bagi saya, membuat menulis menjadi mudah adalah ketika memilih tema-tema yang menjadi keseharian saya. Misalnya, saya menulis tentang kejadian, pengalaman, peristiwa, keadaan dan berbagai hal yang saya alami, saya pikirkan, saya rasakan, atau saya lihat dan saya dengarkan.

Saya meyakini, menuliskan hal-hal yang ada di sekitar kita, membuat menulis menjadi mudah. Saat menulis terasa mudah dan mengasyikkan, meninggalkan menulis menjadi susah. Ini yang mempercepat terbentuknya habit menulis.

Lebih Mudah Mengubah Lingkungan Daripada Mengubah Diri Sendiri

It’s easier to change our surroundings than ourselves” –Gretchen Rubin.

Menurut Gretchen Rubin, lebih mudah mengubah lingkungan sekitar kita, dibandingkan dengan mengubah diri kita sendiri. Mari saya berikan contoh mudah. Jika Anda merasa lebih nyaman menulis di ruang tertutup, lebih mudah bagi Anda untuk menciptakan setting ruang yang nyaman, daripada harus memaksa untuk menulis di ruang terbuka.

Anda bisa menata perlengkapan menulis, seperti meja dan kursi, di sebuah ruang tertutup yang Anda jadikan sebagai ruang kerja. Bahkan Anda bisa membeli perlengkapan yang mendukung guna menciptakan kondisi kenyamanan yang lebih, seperti memasang AC di ruang tertutup Anda. Ini semua lebih mudah Anda lakukan dibandingkan mengubah kebiasaan menulis ke tempat terbuka.

Contoh lainnya, jika Anda terbiasa menulis di laptop, dan merasa sulit menulis menggunakan smartphone, maka lebih mudah bagi Anda untuk menghadirkan laptop yang cocok dengan tipe diri Anda. Mengubah diri Anda agar lancar menulis dengan perangkat lain, akan lebih rumit dibandingkan dengan menghadirkan laptop baru agar Anda produktif menulis.

“I may never be the kind of person for whom a writing habit comes easily. But I can change my environment to better fit a writing habit” –Claire Splan, 2020.

Claire Splan menceritakan pengalaman pribadinya. “Saya mungkin tidak pernah menjadi tipe orang yang kebiasaan menulisnya mudah. Tetapi saya dapat mengubah lingkungan saya agar lebih sesuai dengan kebiasaan menulis”, ungkapnya. Menciptakan lingkungan agar nyaman untuk menulis, lebih mudah dibandingkan dengan mengubah kebiasaan menulis yang sudah dimiliki.

Maka Splan segera menghias ruangan dan fasilitas, agar lebih nyaman dalam menulis. “Saya membeli meja, dan saya memiliki tempat khusus untuk menulis. Saya membuatnya nyaman dan menginspirasi, semampu saya”, tambah Splan. Dengan mengubah lingkungan menjadi nyaman dan menyenangkan, Splan menjadi lebih produktif menulis.

Bagaimana pengalaman Anda dalam menciptakan kebiasaan menulis? Mari sharing.

Bahan Bacaan

Claire Splan, Make Writing a Habit, Not a Choicehttps://shutupwrite.com, 18 November 2020

Kamis, 16 Juni 2022

Apa Alasan Anda untuk Tidak Menulis? (7)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

When your books and articles hold that much more passion and emotion because you live it yourself every day when you look into your kid’s eyes” –Jewel Eliese, 2018.

.

Apa alasan Anda untuk tidak menulis? “Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sibuk dengan urusan kerumahtanggaan”, mungkin sebagian dari Anda akan menyatakan demikian.

Jewel Eliese (2018), seorang bloger produktif menyatakan, Anda mungkin menjadi ibu rumah tangga yang sekaligus penulis, namun menghadapi beragam jenis kendala. Seperti apa profil ibu rumah tangga yang sekaligus penulis? Eliese menggambarkan beragam kondisi ibu rumah tangga yang ingin produktif menulis.

Anda adalah ibu rumah tangga sekaligus penulis produktif “ketika di tengah-tengah menulis momen puncak dari cerita Anda, dan tokoh protagonis hampir mencapai tujuan akhirnya, tetapi Anda terganggu oleh rengekan anak Anda untuk ditemani bermain bola, atau minta makanan camilan”.

Bagi sebagian ibu rumah tangga, “menemukan waktu menyendiri untuk menulis hampir tidak mungkin”. Waktu Anda telah habis untuk mengurus hal remeh rumahan, memasak, membersihkan dapur, mencuci, menata ruang, dan kapan akan menulis? “Anda menunggu sepanjang hari untuk bisa menulis, hanya untuk menikmati tidur lebih awal”.

When your in the middle of writing the final climactic moment of your scene and your protagonist is just about to reach their ultimate goal, but you’re interrupted by your child’s urgent need to play ball. Or have a snack” –Jewel Eliese, 2018.

Anda adalah ibu rumah tangga sekaligus penulis produktif “ketika isi tulisan Anda menyimpan lebih banyak gairah dan emosi, karena Anda menjalaninya sendiri setiap hari ketika Anda menatap mata anak-anak”. Apa yang Anda tulis telah mewakili sangat banyak sisi emosi seorang ibu, dan oleh karenanya Anda terlarut dalam cerita yang Anda ciptakan.

Anda menulis di rumah “saat si kecil berjalan-jalan dengan buku catatan dan pena, berpura-pura menjadi Anda”. Tidak menyapa, membuat anak Anda kecewa. Jika menyapa, membuat Anda berhenti menulis, di saat Anda tengah menemukan momen pencurahan ide yang optimal.

Sebagian ibu “harus bersembunyi di rumah sendiri untuk menulis”. Mereka mengunci dikamar dan meminta kepada suami dan anak-anak untuk tidak mengganggu. Tanpa tindakan itu, sebagian ibu benar-benar tidak bisa menyelesaikan tulisan.

Ibu Bekerja Kantoran yang Disiplin Menulis

“Saya bangun pukul 5 pagi, menulis selama satu jam, kemudian bersiap-siap untuk berangkat kerja” –Joanna Penn.

Dalam beberapa postingan sebelumnya telah saya sampaikan, contoh ibu rumah tangga yang sekaligus novelis sukses, adalah Barbara Kingsolver. Tentu masih banyak yang lainnya lagi. Kini kita belajar kepada ibu rumah tangga yang juga penulis sukses, Joanna Penn.

Ia telah menulis banyak buku, di antaranya Stone of Fire, Crypt of Bone, Ark of Blood, One Day in Budapest, Day of Vikings, Gates of Hell, One Day in New York, Destroyer of Worlds, End of Days, Valley od Dry Bones, dan lebih dari 30 buku lainnya. Bukunya telah terjual lebih dari 600.000 eksemplar di 149 negara, dalam 6 bahasa.

Joanna Penn bukanlah pengangguran. “Saya menulis empat buku pertama ketika saya bekerja penuh waktu sebagai konsultan di Brisbane, Australia”, ungkap Penn. Ia adalah ibu rumah tangga, yang bekerja formal kantoran, dan bisa menghasilkan empat novel pertama.

Saat itu, Penn harus berangkat kerja berpagi-pagi, agar tidak terlambat masuk kantor. Ia bekerja formal di kantor konsultan, dari Senin hingga Sabtu. Sebelum berangkat kerja tentu ia harus menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Namun ternyata, pada waktu pagi yang sibuk dan sempit itu, ia masih bisa menulis.

Bagaimana ia melakukannya? “Saya bangun jam 5 pagi dan menulis sebelum saya berangkat kerja, karena begitu saya tiba di kantor, saya tidak punya waktu untuk menciptakan kreativitas lagi”, ujar Penn. Sebuah manajemen waktu yang sangat rumit dan pelik, namun toh ia bisa menjalaninya.

“Saya bangun pukul 5 pagi, menulis selama satu jam, kemudian bersiap-siap untuk berangkat kerja”, lanjut Penn. Tentu saja, Anda tidak harus sama persis dengan Penn —sebab Anda bukan Penn. Ambil saja semangat dari kisahnya. Tentang pukul berapa Anda bisa menulis, adalah hal teknis. Masing-masing kita akan berbeda.

Menulis satu jam pada pagi hari sebelum berangkat kerja, tidak ia kerjakan tiap hari. Ia melakukan rutinitas itu hanya tiga hari dalam sepekan. “Saya melakukan rutinitas menulis seperti itu tiga kali sepekan, karena saya suka tidur!” ungkapnya. Hanya tiga hari dalam sepekan, namun disiplin ia lakukan.

Penn adalah tipe manusia pagi. Ia merasa sangat optimal hidupnya jika menulis pada waktu pagi. Sebelum bertemu hiruk pikuk kehidupan, dan keramaian dinamika pekerjaan. “Menulis sebelum melakukan hal lain sangat efektif bagi saya, karena saya tipe manusia pagi”, ujar Penn.

“Jika Anda tipe manusia malam, Anda mungkin menemukan kenyamanan menulis di malam hari, setelah anak-anak tidur, atau setelah pasangan Anda tidur. Saya tahu banyak penulis tipe burung hantu malam”, ungkap Penn. Tentu Anda harus pandai mengamati kondisi diri dan keluarga Anda. Apakah Anda tipe manusia pagi atau manusia malam?

Barbara Kingsolver dan Joanna Penn hanyalah sedikit contoh bagi Anda yang tak ingin beralasan. Jika Anda suka beralasan, teramat banyak alasan yang bisa Anda kemukakan untuk tidak pernah menulis apapun dan tak memiliki satu bukupun. “Karena saya ibu rumah tangga yang bekerja kantoran, mana mungkin punya waktu menulis?” Inikah alasan Anda? Nikmari saja.

Bahan Bacaan

James Clear, The Daily Routines of 12 Famous Writerswww.jamesclear.com

Jewel Eliese, You Know You’re a Writer Mom When… https://writingcooperative.com, 3  Desember 2018

Apa Alasan Anda untuk Tidak Menulis? (8)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

When people say ‘Oh, why don’t you just write when the kids are at school?’ And I then explain that we also homeschool” –Jewel Eliese, 2018.

.

Apa alasan Anda untuk tidak menulis? “Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sibuk dengan urusan kerumahtanggaan”, mungkin sebagian dari Anda akan menyatakan demikian.

Jewel Eliese (2018), seorang bloger produktif menyatakan, Anda mungkin menjadi ibu rumah tangga yang sekaligus penulis, namun menghadapi beragam jenis kendala. Seperti apa profil ibu rumah tangga yang sekaligus penulis? Eliese menggambarkan beragam kondisi ibu rumah tangga yang ingin produktif menulis.

When you have more words in text messages than total words written” –Kaylee Garling.

Anda adalah ibu rumah tangga sekaligus penulis “ketika lebih banyak menulis kata-kata dalam grup chating daripada total kata untuk naskah Anda” (Kaylee Garling). Atau ketika “Anda bertanya-tanya apakah harus menambahkan adegan tertentu dalam cerita Anda, menimbang jika anak-anak membacanya suatu ketika nanti”.

Anda adalah ibu rumah tangga sekaligus penulis “ketika Anda memiliki lebih banyak kaus kaki untuk dilipat daripada kata-kata untuk ditulis”. Bagi sebagian ibu yang lainnya, orang-orang menyarankan “mengapa kamu tidak menulis saat anak-anak sedang bersekolah?” Kemudian Anda menjelaskan bahwa “anak-anak kami sekolah di rumah, homeschooling”.

You have more socks to fold then words written” –Jewel Eliese, 2018.

Anda adalah ibu rumah tangga sekaligus penulis “ketika orang-orang mengira bahwa Anda tidak melakukan apa-apa sepanjang hari kecuali mengurus anak”. Pada sebagian ibu yang lain, orang-orang menganggapnya tidak berpenghasilan, karena hanya suami mereka saja yang bekerja di kantor.

Sungguh luar biasa kesibukan seorang ibu rumah tangga. Namun, benarkah dengan berbagai kesibukan itu membuat mereka tak bisa menulis, dan tak ada waktu lagi untuk menghasilkan karya tulis?

Manajemen Perhatian, Bukan Soal Waktu

When you say you don’t have the time, what you are really saying is: Something else is more important right now than writing” –Victoria Lynn Schmidt, Ph.D.

Ada sebuah pertanyaan menggelitik dari Joanna Penn, “Where are the edges of your day?” Ini pertanyaan Penn kepada Anda semua yang mengatakan tidak punya waktu semenit pun untuk menulis. Sebab, memang aneh jika menyalahkan keterbatasan waktu sebagai penyebab tidak menulis.

“Di manakah ujung harimu?” tanya Joanna Penn. Ia telah membuktikan, bahwa sebagai ibu rumah tangga yang bekerja formal di kantor konsultan, ia mampu menghasilkan banyak novel. Ujung hari Penn, adalah terlahirnya banyak kata-kata untuk dituliskan. Ada banyak ide telah berhasil dituangkan.

Kesibukan mengurus anak dan rumah –bahkan bekerja formal kantoran, tidak dijadikan alasan untuk tidak menulis. Tentu saja hal ini menunjukkan, Joanna Penn memiliki tekad dan disiplin yang tinggi untuk bisa sukses menjadi penulis tanpa mengorbankan keluarga. Ada sisi manajemen perhatian yang harus sangat dijaga dan diperhatikan.

Menurut Victoria Lynn Schmidt, jika seseorang mengatakan bahwa dirinya tidak punya waktu untuk menulis, sesungguhnya ia tengah menyatakan bahwa “ada sangat banyak hal penting harus aku lakukan, selain menulis”. Ini jawabannya. Bukan karena tidak punya waktu, namun karena ia menganggap, ada banyak hal lain jauh lebih penting daripada menulis.

Are all these other tasks you’re completing, all of them, more important to you than writing? If so, then stop beating yourself up about not writing and put this book down” –Victoria Lynn Schmidt.

Setiap orang berhak memiliki definisi masing-masing atas apa yang menjadi prioritas dalam kehidupannya. Apa yang penting dan hal apa yang tidak penting dalam kehidupannya. Definisi tentang prioritas ini sangat relevan jika dikaitkan dengan banyaknya keinginan yang hendak dilakukan.

Lynn Schmidt menyatakan, jika semua aktivitas lain yang Anda lakukan menurut Anda lebih penting daripada menulis, maka “berhentilah menyalahkan diri sendiri tentang tidak menulis, dan berhentilah membaca tulisan ini”. Jika memang menulis tidak penting, tentu tidak relevan bagi Anda untuk menuntut diri sendiri agar bisa menulis.

Jika Anda menyatakan benar-benar tidak memiliki waktu untuk menulis, secara teknis masih harus diperinci lagi. Yaitu, bagaimana Anda menggunakan waktu-waktu selama ini. Lynn masih mempertanyakan alasan “tidak punya waktu” yang sering dijadikan pembenaran untuk tidak menulis apapun.

You absolutely cannot say you don’t have the time unless you write down all of your activities for one week and prove it!” –Victoria Lynn Schmidt.

“Anda baru benar-benar bisa mengatakan tidak punya waktu, jika Anda telah menuliskan semua kegiatan harian Anda selama satu minggu, dan membuktikan bahwa tak satupun menit tersisa”, ujar Lynn Schmidt. Coba Anda lakukan saran Schmidt ini. Bikin daftar aktivitas Anda selama sepekan, dan cermatilah. Benarkah tak ada slot waktu sama sekali untuk menulis?

Benarkah seluruh slot waktu sudah sangat padat terisi kegiatan? Tanpa ada jeda, tanpa ada waktu yang bisa dimanfaatkan untuk menulis? Jika benar demikian, maka sah bagi Anda mengatakan tidak memiliki waktu untuk menulis.

Jadi, apa sebenarnya alasan Anda untuk tidak menulis? Benarkah Anda tidak memiliki sedikitpun waktu untuk menulis? Sudahkah Anda cermati semua waktu Anda?

Bahan Bacaan

James Clear, The Daily Routines of 12 Famous Writerswww.jamesclear.com

Joanna Penn, How Do You Find Time To Write? www.thecreativepenn.com. 28 Maret 2018

Apa Alasan Anda untuk Tidak Menulis? (11)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“One reason I tell my own story and share the stories of other amazing disabled people is because I want the world to reflect us—we are diverse, brilliant, and unique. More important, we should tell our stories in our own words; we are the experts about our lives” –Alice Wong.

.

“Saya memiliki kelainan fisik. Saya tidak bisa beraktivitas sebagaimana manusia pada umumnya. Ada kelainan dalam diri saya”, ini adalah salah satu alasan untuk tidak menulis. Menjadikan keterbatasan diri sebagai alasan untuk tidak menghasilkan karya tulis.

Mari kita lihat sejumlah penyandang disabilitas, yang memiliki karya tulis. Bagaimana mereka bisa melakukannya? Lalu bagaimana pula dengan Anda yang tidak memiliki kelainan fungsi dan kondisi tubuh? Mengapa tidak menulis?

Melampaui Keterbatasan

Nick Vujicic adalah motivator dunia berkebangsaan Australia. Lahir dengan kondisi sindrom tetra-amelia, tanpa tangan dan kaki. Di halaman situs webnya, ia menyatakan bahwa di saat masih kecil dirinya mengalami depresi dan rasa kesepian. Ia sering mempertanyakan alasan mengapa berbeda dari semua anak lainnya. Ia mampu menulis buku motivasi berjudul Life Without Limits (2007).

Keah Brown adalah seorang penulis, aktris, jurnalis, dan penulis skenario. Terlahir dengan serebral palsi, Brown menolak anggapan bahwa penyandang disabilitas itu lemah. Ia menantang pandangan itu dan tekun berjuang agar penyandang disabilitas diakui sebagai individu yang utuh. Karya tulisnya telah terbit di Teen Vogue, Netflix, dan The Today Show.

Sara Novic adalah penulis, guru, dan ibu yang menulis tentang pengalaman pribadi sebagai penyandang tuna rungu. Novic menulis novel pada tahun 2015 berjudul “Girl At War”. Bisakah Anda bayangkan, bagaimana seorang tuna rungu memahami kehidupan di sekitarnya –bahkan bisa menuliskannya ke dalam novel? Sungguh luar biasa.

Haben Girma kondisinya lebih berat lagi. Ia penyandang tuna netra dan tuna rungu sekaligus. Ia lulus dari Harvard Law School, dan menjadi pengacara serta advokat hak asasi manusia. Terlahir sebagai perempuan kulit hitam yang menyandang disabilitas, Girma kerap mengalami tindakan tidak menyenangkan dari lingkungan. Ia aktif menulis memoar “Haben” dan banyak tulisan wawasan, di blog pribadinya.

Melissa Blake terlahir dengan Sindrom Freeman-Sheldon, sebuah kelainan tulang dan otot genetik. Ia produktif menulis di blog “So About What I Said”. Blake menggunakan blog ini untuk “menjelajahi dunia di luar batas kecacatannya.” Ia belajar jurnalisme di perguruan tinggi, dan aktif menulis tentang berbagai topik.

Alice Wong terlahir sebagai penyandang disabilitas. Duduk di kursi roda, namun membuatnya aktif berkisah tentang mengolah dan memaknai keterbatasan. Ia adalah penulis dan editor. Salah satu buku karyanya adalah Disability Visibility: First-Person Stories from the Twenty-First Century.

“Salah satu alasan saya menceritakan kisah pribadi dan membagikan kisah penyandang disabilitas lainnya adalah karena saya ingin dunia mencerminkan kita. Bahwa kita beragam, brilian, dan unik. Lebih penting lagi, kita harus menceritakan kisah kita dengan kata-kata kita sendiri; kita adalah ahli tentang kehidupan kita” –Alice Wong.

Peter Winkler menderita rheumatoid arthritis pada sebagian besar hidupnya. Ia menggunakan sumpit plastik panjang untuk berkomunikasi. Dengan sakit yang dialaminya, Winkler menulis lebih dari 125 paper hasil penelitian di bidang matematika. Ia juga menulis buku populer, seperti Bridge at the Enigma Club, dan masih banyak lainnya.

Octavia E. Butler adalah salah satu penulis fiksi ilmiah terbaik sepanjang masa. Ia mengalami disleksia di sepanjang hidupnya. Butler mulai menulis cerita pendek pada usia sepuluh tahun. Ia menerbitkan tiga buku seri, dua novel dan satu kumpulan cerita pendek sebelum kematiannya pada tahun 2006.

Christy Brown adalah seorang penulis Irlandia yang menderita cerebral palsy dan hanya bisa menulis atau mengetik dengan jari-jari kaki kirinya. Memoarnya My Left Foot menceritakan kisah hidupnya dengan gangguan tersebut, dan diangkat menjadi film layar lebar di tahun 1989.

John Hockenberry mengalami cedera tulang belakang dalam kecelakaan mobil ketika dia berusia 19 tahun. Kejadian ini membuatnya menderita paraplegia dari dada ke bawah. Ia menulis memoar pada tahun 1995 berjudul Moving Violations: War Zones, Wheelchairs and Declarations of Independence. Ia menulis beberapa karya nonfiksi tentang perawatan kesehatan.

Fyodor Dostoevsky menulis buku Crime and Punishment  setebal 700 halaman, saat ia menderita epilepsi lobus temporal yang langka. Penulis Rusia ini mengalami 102 kali serangan epilepsi dan menggunakan pengalamannya untuk membuat karakter yang juga menderita epilepsi. Dotoevsky adalah salah seorang sastrawan besar yang pernah hadir di muka bumi ini.

John Milton terkenal lewat buku kumpulan puisi Paradise Lost. Ia menulis puisi setelah mengalami kebutaan. Milton kehilangan penglihatannya sekitar 16 tahun sebelum menyelesaikan buku puisi tersebut. Milton menyuruh putrinya membacakan untuknya dan mendiktekan tulisannya kepada seorang transcriber. Ia menceritakan pengalaman kehilangan penglihatannya dalam sebuah soneta berjudul “On His Blindness.”

Muhammad Zulfikar Rakhmat terlahir dengan Ashpyxia Neonatal, yakni kekurangan oksigen pada otak yang menyebabkan tidak bisa bicara lancar dan kesulitan menggunakan tangannya untuk sejumlah aktivitas. Pemuda kelahiran Pati, Jawa Tengah 10 April 1992 itu kini menjadi ilmuwan dan penulis di berbagai media nasional bahkan internasional. Ia lulus master dan doktor dengan nilai sangat baik di Manchester University Inggris.

Luar biasa. Mereka tetap menulis di tengah keterbatasan fungsi dan kondisi tubuh. Bagaimana dengan Anda? Apa alasan Anda untuk tidak menulis?

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...