.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“One reason I tell my own story and share the stories of other amazing disabled people is because I want the world to reflect us—we are diverse, brilliant, and unique. More important, we should tell our stories in our own words; we are the experts about our lives” –Alice Wong.
.
“Saya memiliki kelainan fisik. Saya tidak bisa beraktivitas sebagaimana manusia pada umumnya. Ada kelainan dalam diri saya”, ini adalah salah satu alasan untuk tidak menulis. Menjadikan keterbatasan diri sebagai alasan untuk tidak menghasilkan karya tulis.
Mari kita lihat sejumlah penyandang disabilitas, yang memiliki karya tulis. Bagaimana mereka bisa melakukannya? Lalu bagaimana pula dengan Anda yang tidak memiliki kelainan fungsi dan kondisi tubuh? Mengapa tidak menulis?
Melampaui Keterbatasan
Nick Vujicic adalah motivator dunia berkebangsaan Australia. Lahir dengan kondisi sindrom tetra-amelia, tanpa tangan dan kaki. Di halaman situs webnya, ia menyatakan bahwa di saat masih kecil dirinya mengalami depresi dan rasa kesepian. Ia sering mempertanyakan alasan mengapa berbeda dari semua anak lainnya. Ia mampu menulis buku motivasi berjudul Life Without Limits (2007).
Keah Brown adalah seorang penulis, aktris, jurnalis, dan penulis skenario. Terlahir dengan serebral palsi, Brown menolak anggapan bahwa penyandang disabilitas itu lemah. Ia menantang pandangan itu dan tekun berjuang agar penyandang disabilitas diakui sebagai individu yang utuh. Karya tulisnya telah terbit di Teen Vogue, Netflix, dan The Today Show.
Sara Novic adalah penulis, guru, dan ibu yang menulis tentang pengalaman pribadi sebagai penyandang tuna rungu. Novic menulis novel pada tahun 2015 berjudul “Girl At War”. Bisakah Anda bayangkan, bagaimana seorang tuna rungu memahami kehidupan di sekitarnya –bahkan bisa menuliskannya ke dalam novel? Sungguh luar biasa.
Haben Girma kondisinya lebih berat lagi. Ia penyandang tuna netra dan tuna rungu sekaligus. Ia lulus dari Harvard Law School, dan menjadi pengacara serta advokat hak asasi manusia. Terlahir sebagai perempuan kulit hitam yang menyandang disabilitas, Girma kerap mengalami tindakan tidak menyenangkan dari lingkungan. Ia aktif menulis memoar “Haben” dan banyak tulisan wawasan, di blog pribadinya.
Melissa Blake terlahir dengan Sindrom Freeman-Sheldon, sebuah kelainan tulang dan otot genetik. Ia produktif menulis di blog “So About What I Said”. Blake menggunakan blog ini untuk “menjelajahi dunia di luar batas kecacatannya.” Ia belajar jurnalisme di perguruan tinggi, dan aktif menulis tentang berbagai topik.
Alice Wong terlahir sebagai penyandang disabilitas. Duduk di kursi roda, namun membuatnya aktif berkisah tentang mengolah dan memaknai keterbatasan. Ia adalah penulis dan editor. Salah satu buku karyanya adalah Disability Visibility: First-Person Stories from the Twenty-First Century.
“Salah satu alasan saya menceritakan kisah pribadi dan membagikan kisah penyandang disabilitas lainnya adalah karena saya ingin dunia mencerminkan kita. Bahwa kita beragam, brilian, dan unik. Lebih penting lagi, kita harus menceritakan kisah kita dengan kata-kata kita sendiri; kita adalah ahli tentang kehidupan kita” –Alice Wong.
Peter Winkler menderita rheumatoid arthritis pada sebagian besar hidupnya. Ia menggunakan sumpit plastik panjang untuk berkomunikasi. Dengan sakit yang dialaminya, Winkler menulis lebih dari 125 paper hasil penelitian di bidang matematika. Ia juga menulis buku populer, seperti Bridge at the Enigma Club, dan masih banyak lainnya.
Octavia E. Butler adalah salah satu penulis fiksi ilmiah terbaik sepanjang masa. Ia mengalami disleksia di sepanjang hidupnya. Butler mulai menulis cerita pendek pada usia sepuluh tahun. Ia menerbitkan tiga buku seri, dua novel dan satu kumpulan cerita pendek sebelum kematiannya pada tahun 2006.
Christy Brown adalah seorang penulis Irlandia yang menderita cerebral palsy dan hanya bisa menulis atau mengetik dengan jari-jari kaki kirinya. Memoarnya My Left Foot menceritakan kisah hidupnya dengan gangguan tersebut, dan diangkat menjadi film layar lebar di tahun 1989.
John Hockenberry mengalami cedera tulang belakang dalam kecelakaan mobil ketika dia berusia 19 tahun. Kejadian ini membuatnya menderita paraplegia dari dada ke bawah. Ia menulis memoar pada tahun 1995 berjudul Moving Violations: War Zones, Wheelchairs and Declarations of Independence. Ia menulis beberapa karya nonfiksi tentang perawatan kesehatan.
Fyodor Dostoevsky menulis buku Crime and Punishment setebal 700 halaman, saat ia menderita epilepsi lobus temporal yang langka. Penulis Rusia ini mengalami 102 kali serangan epilepsi dan menggunakan pengalamannya untuk membuat karakter yang juga menderita epilepsi. Dotoevsky adalah salah seorang sastrawan besar yang pernah hadir di muka bumi ini.
John Milton terkenal lewat buku kumpulan puisi Paradise Lost. Ia menulis puisi setelah mengalami kebutaan. Milton kehilangan penglihatannya sekitar 16 tahun sebelum menyelesaikan buku puisi tersebut. Milton menyuruh putrinya membacakan untuknya dan mendiktekan tulisannya kepada seorang transcriber. Ia menceritakan pengalaman kehilangan penglihatannya dalam sebuah soneta berjudul “On His Blindness.”
Muhammad Zulfikar Rakhmat terlahir dengan Ashpyxia Neonatal, yakni kekurangan oksigen pada otak yang menyebabkan tidak bisa bicara lancar dan kesulitan menggunakan tangannya untuk sejumlah aktivitas. Pemuda kelahiran Pati, Jawa Tengah 10 April 1992 itu kini menjadi ilmuwan dan penulis di berbagai media nasional bahkan internasional. Ia lulus master dan doktor dengan nilai sangat baik di Manchester University Inggris.
Luar biasa. Mereka tetap menulis di tengah keterbatasan fungsi dan kondisi tubuh. Bagaimana dengan Anda? Apa alasan Anda untuk tidak menulis?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar