Kamis, 16 Juni 2022

Belajar Disiplin Diri dalam Menulis (2)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Saya bangun sekitar pukul 05.30, dan siap untuk minum kopi dengan suami. Saya meninggalkan rumah pukul 06.00 pagi, dan mulai menulis pada 06.30” –Maya Angelou.

.

Salah satu kunci keberhasilan dan produktivitas para penulis dunia adalah disiplin diri. Mereka menetapkan batasan untuk diri sendiri, demi menghasilkan karya berkualitas. Ini rupanya masalah sebagian besar dari kita. Maunya kita, dengan santai dan semau sendiri, namun bisa menciptakan banyak karya.

Mari kita belajar disiplin dari para penulis besar dunia. Saya mengajak Anda belajar tentang kedisiplinan menulis. Bukan soal isi tulisan. Bukan pula soal nilai dan value kepribadian.

Bagaimana WH. Auden menulis? Sastrawan Inggris ini termasuk kelompok manusia pagi. Auden terkenal sangat disiplin dengan semua waktunya. Ia bangun sekitar pukul 6.00 pagi, membuat kopi untuk dirinya sendiri, dan segera memulai aktivitas. Ia senang mengisi teka-teki silang.

Pikirannya bekerja paling tajam dari pukul 7.00 sampai 11.30, dan dia jarang gagal memanfaatkan waktu emas ini untuk menulis. Auden melanjutkan pekerjaannya setelah makan siang dan berlanjut hingga sore hari. Ia rehat pukul 18.30. Kemudian menikmati ‘upacara’ makan malam. Auden tidur awal, tidak pernah lebih dari pukul 23.00. Ini semua agar bisa bangun awal, dan menunaikan rutinitas harian.

“Dia memeriksa arlojinya berulang kali,” ugkap seorang teman Auden. “Makan, minum, menulis, berbelanja, teka-teki silang, bahkan kedatangan tukang pos—semuanya diatur dalam hitungan menit dan dengan rutinitas yang menyertainya,” lanjutnya.

Sekarang kita simak kedisplinan E.B. White, seorang novelis dari Amerika. Perhatikan bagaimana ia menciptakan kondisi menulis. “Saya tidak pernah mendengarkan musik ketika saya bekerja. Saya tidak memiliki perhatian seperti itu, dan saya tidak menyukainya sama sekali”, ujar White.

“Saya dapat bekerja dengan cukup baik di antara gangguan rutin. Rumah saya memiliki ruang tamu yang merupakan pusat dari seluruh kegiatan keluarga. Itu adalah lorong ke ruang bawah tanah, ke dapur, ke lemari tempat telepon berada. Ada banyak lalu lintas” –E.B. White.

“Tapi itu adalah ruangan yang cerah dan ceria, dan saya sering menggunakannya sebagai ruangan untuk menulis, terlepas dari keramaian yang terjadi di sekitar saya”, sambung White. Ia tidak perlu menunggu sepi sunyi untuk menulis. Di tengah kebisingan keluarga, ia bisa asyik menulis.

Anda pasti pernah mendengar nama besar Maya Angelou, novelis Amerika. Ia termasuk kelompok manusia pagi yang sangat berdisiplin dengan waktu. “Saya bangun sekitar pukul 05.30, dan siap untuk minum kopi dengan suami. Saya meninggalkan rumah pukul 06.00 pagi, dan mulai menulis pada 06.30”.

Angelou biasa menyewa hotel dekat rumahnya untuk menulis sebuah novel. Dalam 30 menit semenjak meninggalkan rumah, ia sudah mulai menulis di kamar hotel tersebut. “Saya bersikeras bahwa semua hiasan harus diambil dari dinding. Saya tidak ingin ada hiasan apapun di dinding”. Ia tidak ingin ada sesuatu yang bisa membuyarkan konsentrasinya, walau hanya vas bunga.

“Bekerja sesuai program, bukan sesuai mood. Berhentilah pada waktu yang ditentukan” –Henry Miller.

Selanjutnya kita belajar dari Anthony Trollope, seorang novelis dari Inggris. Trollope bangun pada pukul 05.00 pagi. Dibangunkan seorang pelayan yang dibayar ekstra, untuk membangunkannya di pagi hari dengan secangkir kopi. Mulai menulis pukul 05.30 pagi, sampai pukul 08.00 sebelum berangkat kerjake kantor pos.

Trollope terkenal dengan kedisiplinan jumlah kata per satuan waktu. Setiap limabelas menit, ia menulis 250 kata. Ia sangat cermat dalam menghitung waktu. Sebuah kedisplinan tingkat dewa, sehingga bisa menghasilkan 250 kata per 15 menit. Ini jumlah yang sedikit. Namun yang menjadi titik perhatian utama kita adalah –kedisiplinan diri.

Sekarang kita belajar disiplin Henry Valentine Miller. Ia adalah seorang penulis kontroversial di Amerika Serikat. Pada tahun 1932, Henry Miller, mengungkapkan “11 komando” yang membuat dirinya bisa konsisten menulis pada jadwal kerja dan rutinitas harian selama bertahun-tahun. Sebelas komando Miller itu adalah sebagai berikut.

1. Kerjakan satu per satu sampai selesai.

2. Tidak ada lagi buku baru, tidak ada lagi materi baru untuk “Black Spring”.

3. Jangan gugup. Kerjakan dengan tenang, gembira dan santai.

4. Bekerja sesuai program, bukan sesuai mood. Berhentilah pada waktu yang ditentukan!

5. Ketika Anda tidak dapat mencipta, Anda dapat bekerja.

6. Berikan sedikit semen setiap hari, daripada menambahkan pupuk baru.

7. Jaga manusia! Lihat orang, pergi ke berbagai tempat, jika Anda mau.

8. Jangan menjadi kuda-kuda! Bekerja dengan senang hati saja.

9. Buang program saat Anda menginginkannya — tetapi kembali lagi keesokan harinya. Konsentrasi. Persempit. Fokus.

10. Lupakan buku yang ingin Anda tulis. Pikirkan hanya buku yang sedang Anda tulis.

11. Menulis dulu dan selalu dahulukan menulis. Lukisan, musik, teman, bioskop, semua bisa dilakukan setelahnya.

Tentu saja tidak semua “sebelas perintah” harian Miller tersebut cocok untuk Anda. Tidak semua bisa diterapkan oleh banyak orang. Namun saya kira akan tetap ada poin-poin menarik untuk menjadi motivasi menulis secara produktif.

Bagaimana dengan Anda? Sedisiplin apakah Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...