Kamis, 16 Juni 2022

Belajar Disiplin Diri dalam Menulis (1)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Saya menjaga rutinitas ini setiap hari tanpa variasi. Pengulangan itu sendiri menjadi hal yang penting. Saya melatih diri sendiri untuk mencapai kondisi pikiran yang lebih dalam” –Haruki Murakami.

.

Salah satu kunci keberhasilan dan produktivitas para penulis dunia adalah disiplin diri. Mereka menetapkan batasan untuk diri sendiri, demi menghasilkan karya berkualitas. Ini rupanya masalah sebagian besar dari kita. Maunya kita, dengan santai dan semau sendiri, namun bisa menciptakan banyak karya.

Maunya kita, tak perlu bersusah payah, namun bisa rutin menciptakan tulisan. Maunya kita, tanpa perlu perjuangan panjang, buku langsung terpampang best seller. Benar-benar selera instan.

Mari kita belajar disiplin dari para penulis besar dunia. Saya mengajak Anda belajar tentang kedisiplinan menulis. Bukan soal isi tulisan. Bukan pula soal nilai dan value kepribadian.

Bagaimana Mereka Disiplin Diri dalam Menulis?

Saya ajak Anda melihat kedisiplinan menulis Leo Tolstoy, sastrawan besar Rusia. Tolstoy menulis novel War and Peace sebanyak 587.287 kata. Sepuluh kali lipat novel biasa. Biasanya, novel memerlukan sekitar 50.000 kata. Rupanya Tolstoy menciptakan mahakarya yang sangat melegenda.

Apa kabiasaan hidup Leo Tolstoy? “Saya bangun pukul lima pagi, dan tidur paling lambat jam sepuluh malam”. Nah ini dia. Tolstoy rutin bangun pukul lima pagi, dan tidur tidak terlalu larut. Maksimal pukul 10 malam harus sudah tidur. Ini membuatnya bangun tidur menjadi fresh.

“Makan secukupnya, hindari makanan manis. Saya olahraga dengan berjalan selama satu jam setiap hari.” Ini adalah contoh kedisiplinan diri. Bahkan Tolstoy menetapkan jargon, “Saya harus menulis setiap hari tanpa gagal”.

Kita lihat kebiasaan Alice Munro, cerpenis asal Kanada. Peraih hadiah Nobel yang satu ini adalah spesialis penulis cerpen. Ia tidak menulis novel di sepanjang karier menulisnya. Cerpen Munro berkisar antara 40.000 – 100.000 karakter. Cukup panjang untuk ukuran cerpen pada umumnya.

Kapan Munro menulis? Rupanya ia tipe manusia pagi. “Saya mulai menulis pukul 8 dan selesai pada pukul 11. Setelah itu saya akan melakukan hal lain selama seharian penuh”. Menulis rutin tiga jam sehari, dilakukan dengan penuh disiplin diri. Munro benar-benar konsisten, meskipun harus mengurus suami, anak-anak dan menjaga toko buku miliknya.

“Ketika saya sedang mengerjakan sebuah buku atau cerita, saya menulis setiap pagi secepat mungkin setelah cahaya pertama hadir” –Ernest Hemingway.

Sekarang kita belajar dari Haruki Murakami, novelis Jepang. “Ketika saya tengah berada dalam mode menulis untuk sebuah novel, saya bangun jam empat pagi, kemudian menulis selama lima hingga enam jam”, ujarnya. Rupanya Murakami juga tipe manusia pagi.

Agar tubuh dan pikiran selalu segar dan sehat, ia melakukan olah raga. “Pada sore hari, saya berlari sejauh sepuluh kilometer atau berenang sejauh seribu lima ratus meter, atau melakukan keduanya”, ujarnya. Dengan badan yang segar, ia akan mampu menulis dengan optimal.

“Setelah olah raga itu, saya membaca dan mendengarkan musik. Saya tidur pukul sembilan malam”. Murakami tidur bahkan sangat awal. Pukul sembilan malam ia sudah tidur. Memastikan memiliki istirahat yang cukup.

Kedisiplinan diri dalam ritme menulis, sengaja ia ciptakan. “Saya menjaga rutinitas ini setiap hari tanpa variasi. Pengulangan itu sendiri menjadi hal yang penting. Saya melatih diri sendiri untuk mencapai kondisi pikiran yang lebih dalam,” ujar Murakami.

Kita beralih ke Ernest Hemingway, novelis Amerika. Hemingway terkenal dengan ungkapannya, “Ketika saya sedang mengerjakan sebuah buku atau cerita, saya menulis setiap pagi secepat mungkin setelah cahaya pertama hadir”. Ia termasuk kelompok manusia pagi.

Baginya, pagi adalah waktu yang sangat tepat untuk menulis. “Tidak ada yang mengganggu Anda pada waktu itu. Dinginnya pagi saat bangun, akan menjadi hangat saat mulai menulis”, lanjut Hemingway. Suasana pagi membuat pikirannya segar dan terbuka.

Bagaimana iamemulaimenulis dipagi itu? “Anda mulai dengan membaca apa yang telah Anda tulis kemaren, karena Anda selalu berhenti ketika Anda tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Anda melanjutkan menulis dari sana,” jelasnya.

Berikutnya kita belajar kedisplinan diri dalam menulis, dari Susan Sontag, novelis Amerika. Dalam buku hariannya di tahun 1977, Susan Sontag menulis resolusi pribadi yang membantunya mempertahankan kebiasaan menulis harian. Perhatikan bagaimana ia membangun kedisiplinan diri melalui resolusi berikut ini:

  • Saya akan bangun setiap pagi paling lambat jam delapan (boleh melanggar aturan ini sepekan sekali).
  • Saya makan siang hanya dengan Roger Straus (boleh melanggar aturan ini setiap dua pekan sekali)
  • Saya akan menulis di buku catatan setiap hari.
  • Saya akan memberitahu orang-orang untuk tidak menelepon di pagi hari, atau, saya  tidak menjawab telepon yang masuk.
  • Saya akan membatasi bacaan saya pada malam hari. (saya terlalu banyak membaca, sebagai pelarian dari menulis).
  • Saya akan menjawab surat sepekan sekali.

Sontag juga kelompok manusia pagi, meskipun tidak sepagi Hemingway dan Tolstoy. Ia mendisplinkan untuk menulis dengan membuat janji yang harus ditepati oleh dirinya sendiri.

Begitulah para penulis besar dunia menciptakan karya. Satu hal yang menjadi kesamaan di antara mereka adalah kedisplinan diri dalam menulis. Bagaimana dengan Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...