Oleh : Cahyadi Takariawan
Uni Dian, salah seorang peserta Workshop Kepenulisan yang dilaksanakan oleh Perpustakaan Bung Hatta Bukittinggi Sumatera Barat (6 - 8 Juni 2022) mengajukan pertanyaan kepada saya.
"Dulu," katanya, "saya bisa tanpa beban menulis dan memublikasikan tulisan. Bahkan menerbitkan menjadi buku".
"Namun setelah kuliah S2, mendadak saya menjadi takut memublikasikan tulisan. Setiap selesai menulis, saya baca ulang tulisan, dan saya selalu menemukan alasan untuk tidak memublikasikannya dalam bentuk apapun. Semua tulisan hanya saya simpan," lanjut Uni Dian.
"Misalnya, saya merasa cerita yang saya kembangkan terlalu biasa saja. Tidak menarik. Tidak tampak sebagai tulisan seorang alumni pasca sarjana", sambungnya.
"Apa yang salah pada diri saya?" demikian pertanyaannya.
Saya menghargai kondisi yang disampaikan melalui pertanyaan dan pernyataan Uni Dian tersebut. Masing-masing kita memiliki –dan berada pada situasi serta kondisi yang berbeda. Setiap kita juga memiliki makna dan tujuan yang berbeda dalam proses menulis.
Benar kata orang, bahwa hidup ini pilihan. Maka yang diperlukan adalah kemampuan untuk memilah dan memilih. Apa yang harus kita lakukan dalam setiap satuan waktu yang kita miliki. Apa pilihan hidup kita dalam setiap keadaan? Apa yang menjadi harapan yang sesungguhnya dari proses kreatif menulis?
Saya bukan tipe perfeksionis. Saya selalu percaya bahwa manusia biasa --seperti saya, harus menempuh "protokol" kemanusiaan tertentu untuk menjadi seorang penulis yang hebat. Atau setidaknya, untuk menjadi penulis yang tumbuh menjadi lebih baik.
Jelas saya bukan penulis hebat. Mungkin juga tidak akan pernah menjadi hebat. Namun saya sadar harus menempuh protokol –berbentuk usaha terus menerus, untuk menjadi penulis yang tumbuh lebih baik, dari waktu ke waktu.
Saya bukan “unicorn”. Saya hanya jenis manusia biasa, maka harus mau menjalani protokol proses. Saya kira, sebagian besar dari Anda juga manusia biasa. Bukan unicorn. Maka nikmati saja proses yang tertatih ini.
Setiap kali menulis, saya selalu menetapkan "who" dan "do". Who, siapa segmen pembaca yang saya tuju dengan tulisan tersebut. Do, apa yang saya harapkan terjadi pada segmen pembaca, setelah mereka membaca tulisan tersebut.
Saya menetapkan tujuan yang jelas, untuk apa dan untuk siapa saya menulis. Jika sudah selesai menulis, saya edit sesuai kemampuan, kemudian saya posting di blog pribadi atau media lainnya.
Jika ada pembaca yang menilai negatif atau berkomentar jelek terhadap tulisan saya, tak ada masalah sama sekali. Saya akan tetap menulis dan memublikasikan tulisan. Mengapa demikian? Karena saya telah memiliki tujuan yang jelas dalam setiap proses menulis.
Bagi saya, menulis bukan sekedar iseng, mengisi waktu luang, atau gaya-gayaan, atau untuk mengejar rating dan popularitas. Sama sekali bukan itu tujuan saya.
Tidak terkenal, tidak hebat, tidak populer, sama sekali bukan masalah bagi saya. Namun jika hidup saya tak memberi manfaat bagi orang lain, ini masalah besar bagi saya.
Misalnya ada pembaca berkomentar, "Tulisan Pak Cah sangat jelek". Cukup bagi saya untuk mengucapkan terimakasih atas komentarnya. Namun apa masalah bagi saya atas komentar tersebut? Tidak ada.
Saya hanya perlu bertanya kepada segmen pembaca. "Apakah tulisan saya bisa Anda pahami? Apakah tulisan saya memberikan manfaat bagi Anda?"
Jika mereka menyatakan bisa memahami isi tulisan saya, dan bisa mengambil manfaat kebaikan dari tulisan tersebut, berarti tujuan sudah tercapai. Sesederhana itu.
Tak ada yang meresahkan kecuali bahwa tulisan saya tidak dipahami oleh segmen pembaca, dan mereka tak mendapat manfaat kebaikan dari tulisan saya. Ini berarti tujuan menulis tidak tercapai.
Inilah pilihan hidup saya. Menulis adalah salah satu cara untuk bermanfaat bagi orang lain. Menulis adalah salah satu sarana untuk menginspirasi dan memotivasi diri sendiri maupun orang lain.
Hidup benar-benar pilihan, dan Anda harus memilih. Saya sudah memilih. Bagaimana dengan Anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar