Tampilkan postingan dengan label Belajar menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar menulis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Mei 2022

GURU MILENIAL HARUS KREATIF, INOVATIF DAN INSPIRATIF

 Nama Guru : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

Tema : Lomba Guru Inovatif dan Inspiratif

Diselenggarakan oleh : Kemdikbud

Memperingati : Hari Guru Nasional





Selamat Hari Guru Nasional!. Tetap semangat!!.  “G u r u ”. Jika  kita  berbicara tentang  guru.  Ini adalah  topik yang tidak pernah  habis untuk dibahas. Dari  jaman  nenek moyang kita dulu hingga sekarang, tak akan hilang ditelan waktu,sampai kapan pun. Kita berbicara Sekurang-kurangnya  sepuluh tahun terakhir saja. Selalu menarik. Selalu kompleks dan selalu seru.  Walau guru-guru sudah banyak yang berlalu (pensiun). Muncullah guru-guru baru, dengan semangat baru,  sebagai guru penggerak  untuk Indonesia terus maju. 

Ada ketidakpuasan masyarakat terhadap guru.  Tidak sedikit orang tua yang merasa kecewa pada guru. Mungkin karena ada yang anaknya tidak lulus ujian. Bisa juga karena nilai ujiannya jelek. Ada juga yang kecewa karena  anak kesayangannya tidak  diterima di perguruan tinggi yang diharapkan. Pemandangan semacam ini  akan terlihat setiap  akhir tahun.  Setelah  penerimaan bukti kelulusan dan kenaikan kelas.   Mereka kecewa, karena seolah-olah  guru tidak bisa mengajar. Guru kurang bisa melatih dan mendidik siswa. 

Keberhasilan seorang peserta didik  sebenarnya tidak sepenuhnya karena guru. Tidak serta merta  keberhasilan  murid itu karena ketidakmampuan  guru dalam mengajar. Benar. Guru  tetap harus berinovasi, tapi tanpa  peserta didik  yang  pro aktif, ya sama saja bohong. Tak ada  seorangpun sukses  tanpa  sentuhan  guru. Jadi Apapun  kita saat ini, guru-guru kita  pasti ikut mewarnai dan  menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan peserta didik.

Gelaja  yang ‘kurang’ bagi guru  untuk saat ini.  Ketika ada guru yang tak mau belajar. Guru tidak mau menggerakkan  siswanya  untuk terus belajar dan membuka pikiran.  Guru Tidak berani  mengajak siswa  untuk kreatif dan tidak pandai  berkolaborasi dengan tuntutan kemajuan zaman seperti saat ini.

Apalagi  pada jaman  milenial seperti saat ini.  Guru  harus belajar untuk mengikuti  kemajuan teknologi yang semakin pesat. Selain  mempelajari iptek, kita juga harus membangun  pendidikan karakter. Membangun karakter agar kelak tidak hanya  unggul dalam sumber daya  manusia  tetapi   juga kuat dalam karakternya. “Mayoritas  mengatakan, intelektual yang membuat seseorang hebat, mereka salah.  Yang membuat hebat adalah karakter” (Albert Einstein).

Kita saat ini sudah memasuki era globalisasi.  Era ini dapat dipandang  sebagai era pengetahuan dan teknologi. Tugas guru mendidik , mengajar,  membimbing , mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi  setiap peserta didik.  Diharapkan guru untuk selalu meningkatkan kualitas agar memiliki  kompetensi yang sesuai dengan  perkembangan jaman. 





Apalagi Program utama menteri pendidikan  yang akan ditingkatkan  demi menghadap  revolusi  industri 4.0 adalah sumber daya  manusia, salah satunya  guru.  Membangun  karakter sebuah keharusan. Guru  menjadi pintu  lahirnya  generasi muda. Guru Harus  berani beradaptasi  dengan teknologi. Guru  tidak lagi berjibaku berpegang teguh  dengan kapur dan berkotor-kotor  dalam sistem mengajarnya. Namun  guru  harus  menggunakan  teknologi  demi  menciptakan  sistem pembelajaran  yang up to date dan semakin menarik.

Ada beberapa perubahan  kecil yang bisa  guru  lakukan mulai dari sekarang. Yakni  mengajak  siswa untuk berdiskusi  dari pada mendengar. Memberikan  kesempatan kepada murid  untuk mengajar di kelas (pesentasi aktif). Mencetuskan  proyek  bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas. Menciptakan karya atau produk, ketrampilan, portopolio dan praktek. Menemukan bakat  dalam diri  peserta didik. Siswa  harus  mandiri. Siswa juga harus berinovasi.

Menurut Indra Djati Sidi,Ph.d. Dalam bukunya Menuju masyarakat belajar, guru mempunyai 2 permasalahan eksternal, Yaitu : Tantangan Krisis etika dan moral anak bangsa (manusiakan manusia) dan tantangan masyarakat. Guru diharapkan bisa  menjawab tantangan itu. Guru harus  memiliki kepribadian  yang kuat dan matang untuk dapat menanamkan  nilai-nilai moral dan etika. Guru mampu  memberi bekal kepada peserta didik, selain ilmu pengetahuan dan teknologi  juga menanamkan  sikap  disiplin, kreatif, inovatif dan kompetitif. Tentunya supaya masyarakat juga  bisa melihat bahwa peserta didik  mempunyai  bekal yang memadahi.  Mempunyai karakter dan kepribadian yang kuat sebagai Warga negara, sebagai anak bangsa, yaitu bangsa Indonesia

Adanya tuntutan peserta didik  yang harus terus  berinovasi dan berkreasai. Guru  harus lebih  menguasai teknologi. Menguasai Iptek.  Mengendalikan siswa  dengan kemajuan yang pesat seperti saat ini. Ketika  guru mempunyai  ikhtiar dalam budaya  literasi, membaca  berbagai buku, dia akan mampu  merespon  setiap perubahan. Guru mampu menjawab tantangan jaman. Yaitu lahirnya  inovasi-inovasi di dunia pendidikan. Tentunya berawal dari membaca, numerik, menganalisa  dan kemudian menciptakan. Perubahan  dimulai dari atas, semua  berawal dan berakhir dari  guru itu sendiri.

Jauh rasanya  ketika  kita berharap dalam meningkatkan  kualitas guru hanya menunggu adanya program seminar, pelatihan tanpa  dibarenagi  mencari  ilmu sendiri  yaitu membaca. Guru Ideal hari ini harus ‘tangguh’  dalam karakter unggul dalam skill  dan oke dalam teknologi. Ketika guru tidak cakap  dalam teknologi, yang mana setiap perannya digantikan teknologi. Kita harus  siap  menjadi pengguna teknologi,  bahkan kalau mungkin bisa ‘menciptakan’. Siap untuk membuat inovasi  dan kreasi dalam dunia pendidikan.

Menjadi guru  ikut perjuangan.  Berjuang untuk  selalu memenangkan  di setiap proses  pembelajaran. Berjuang  untuk mengentaskan setiap kesulitan pembelajaran. Berjuang untuk  selalu membangun iklim positif  ketika menghadapi kesulitan. Seorang guru akan merasakan puas jika  kita sudah bertanggungjawab akan keberhasilan peserta didik.  Bukan hanya  sekedar mengajar. Inilah  kemenangan dalam dunia pendidikan. Karena mendidik  itu kepuasan batin. Jika kita mendidik dengan penuh tanggung jawab, kita akan  merasakan suatu  kebahagiaan dan  kebanggaan tersendiri.

Pendidkan karakter,  bukan hanya teori tapi perlu dibarengi dengan aksi dan diekspresikan  dengan keteladanan. Karena  itu  peluang  membangun karakter dan sumber daya  manusia dalam  revolusi industri 4.0  harus mulai sejak  duduk di bangku SD. Tentunya dari guru  yang memiliki dedikasi  tinggi  dan jiwa yang tulus. Tentunya  guru yang  setia  menerima tantangan. Guru yang menjemput peluang.  Guru yang  bisa menjadi teladan, yang selalu  di hati dan dinanti oleh setiap peserta didik, wali  murid dan masyarakat. 

Guru tak akan bisa tergantikan oleh kemajuan teknologi. Guru  harus menjadi penggerak untuk terus maju. Keberlangsungan  generasi dan masa depan anak bangsa  ditentukan oleh guru. Ayo, sebagai guru teruslah kita berinovasi. Apalagi  guru seperti saya, yang  sudah  tua, ya harus  tahu diri, tetap terus belajar  supaya tidak tinggal tetap   dilandasan. Ada pepatah mengatakan ‘Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya  belajar,   maka  kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan’ , Imam Syafi’i. Salam untuk para guru. Semangat!.

#LonglifeEducation. 

#Betterlatethannever.

 #GoodLuck!.


Tak perlu menjadi #unicorn. Mari menjadi manusia biasa saja. Yang bersedia dan rela belajar, terus belajar dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya


Quate’s

  1. Kerja keras akan mengalahkan  orang berbakat, ketika orang  berbakat  tidak mau bekerja  keras. 

  2. Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, itu merupakan  kunci  keberhasilan dalam kehidupan.



“Ledwina Eti adalah nama facebooknya, nama lengkap ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, S.Pd. Lahir di Magelang, pada tanggal 14 April 1966. Menamatkan SD di kampung Kamal , kelurahan Pagersari , Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. SMP Kanisuis Muntilan. SMA K Tarakanita Stella Duce Yogyakarta. IKIP Sanata Dharma Jogyakarta  Fakultas Pendidikan Matematika (D3)tahun 1989 dan  lanjut UT UPJJ Kupang (S1). Saat ini  tercatat sebagai guru matematika di SMA Negeri 2 Waingapu , Sumba Timur NTT. Pernah mengajar di SMA Negeri Maliana Bobonaro  Timor Timur pada tahun 1990 – 1992 kemudian  di mutasi di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur 1992-1999.Alamat Rumah :Jl Trikora No: 11 Hambala, Waingapu Sumba Timur.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. No HP WA  085 230 708 285


Minggu, 08 Mei 2022

Menulis Sebagai Pengalaman Spiritual – 5

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“You want life in your writing, you want to feel the words come out of you. You want there to be no doubt that this is what you need to be writing, in this place, at this moment of time” –Jordan Brown.

.

Menciptakan pengalaman spiritual, bisa dilakukan dengan banyak kegiatan. Salah satunya adalah melalui aktivitas menulis. Jordan Brown (2018) merekomendasikan beberapa langkah untuk menghadirkan pengalaman spiritual melalui aktivitas menulis. Langkah pertama sampai ketiga, silakan simak pada postingan sebelumnya.

Langkah Empat: Pahami Kebutuhan Segmen Pembaca Anda

You need to get through the stuff you think everyone wants to read so you can get to the stuff that you know everyone wants to read” –Jordan Brown.

Sebenarnya, menulis membuat Anda terhubung dengan pembaca. Tahukah Anda siapa pembaca Anda? Tahukah Anda, apa yang menjadi kebutuhan pembaca? Jika Anda tidak mengetahui siapa pembaca Anda, dan apa kebutuhan mereka, lalu bagaimana Anda bisa terhubung?

Untuk itulah, setiap kali menulis, Anda harus menentukan terlebih dahulu “who” dan “do”. Anda harus menentukan “who”, siapa segmen yang diharapkan membaca tulisan Anda. Apakah remaja, atau mahasiswa, atau ibu-ibu muda, atau kelompok profesional muda, atau kalangan santri, atau yang lain lagi? Setiap segmen pembaca, memiliki kebutuhan yang berbeda.

Setelah menentukan “who”, berikutnya Anda juga harus menentukan “do”, yaitu apa yang Anda harapkan terjadi pada pembaca setelah mereka selesai membaca tulisan Anda. Ini menyangkut tujuan, untuk apa Anda menulis? Perubahan apa yang Anda harapkan terjadi melalui tulisan?

Saya ambil contoh, biar mudah membayangkan. Saat menulis buku “Wonderful Mertua dan Menantu” tahun 2021 lalu, segmen yang saya tuju adalah keluarga muda (sebagai menantu) dan orang-orang tua (sebagai mertua). Dalam satu buku itu, saya sedang berbicara kepada dua pihak yang berbeda. Itu yang disebut sebagai ”who”, yaitu segmen pembaca yang saya harapkan.

Setelah mereka membaca buku tersebut, saya berharap menantu bisa menghormati dan berbakti kepada mertua. Sedangkan mertua bisa menerima dan menyayangi menantu sepenuh hati. Saya berharap, para menantu menjadi menentu yang dibanggakan mertua; dan para mertua menjadi mertua yang dirindukan menantu. Ini yang disebut sebagai “do”, yaitu harapan perubahan setelah membaca buku.

Bagaimana Cara Menyapa Pembaca?

“The best way for your audience to understand you better is to speak to them as if you are talking to them one on one. This makes it easy for them to understand what you are saying” –Hephzy Asaolu, 2016.

Masalahnya kemudian, bagaimana cara berbicara dan menyapa pembaca? Bagaimana agar tulisan kita bisa terhubung dengan pembaca? Masing-masing penulis akan memiliki pengalaman yang berbeda.

Hepzhy Asaolu, seorang bloger produktif menyampaikan tips sederhana untuk menyapa pembaca. “Cara terbaik bagi pembaca untuk memahami Anda lebih baik adalah, ketika menulis bayangkan seolah-olah Anda sedang berbicara dengan mereka satu demi satu. Ini memudahkan pembaca untuk memahami apa yang Anda tuliskan”, ujar Asaolu.

Cara inilah yang selalu saya terapkan selama ini. Ketika menulis bagian untuk menyapa para menantu (dan calon menantu), saya membayangkan sedang duduk bercengkerama dengan pasangan keluarga muda. Seakan saya sedang mengobrol dengan mereka, bertanya dan mencoba memahami kondisi mereka. Selanjutnya saya menulis setelah mengerti kondisi yang mereka hadapi.

Demikian pula ketika menulis bagian untuk menyapa para mertua (dan calon mertua), saya membayangkan sedang duduk bercengkerama dengan pasangan keluarga yang sudah berusia limapuluhan tahun ke atas. Seakan saya sedang mengobrol dengan mereka, bertanya dan mencoba memahami kondisi mereka. Selanjutnya saya menulis setelah mengerti kondisi yang mereka hadapi.

Namun saya juga melakukan riset sederhana. Saya benar-benar bertanya kepada para menantu, apa harapan mereka terhadap mertua, berdasarkan pengalaman interaksi selama ini. Saya bertanya melalui akun instagram dan facebook, sebelum memulai menulis buku. Alhamdulillah, ada empatbelas menantu yang memberikan respon melalui akun medsos saya.

Demikian pula saya bertanya kepada para mertua, apa harapan mereka kepada menantu, berdasaran pengalaman selama ini. Dari jawaban para mertua ini saya mendapatkan gambaran tentang kondisi hubungan, perspesi, serta harapan mertua terhadap menantunya.

“Anda ingin hadir dalam tulisan Anda. Anda ingin merasakan kata-kata keluar dari jiwa Anda. Anda ingin tidak ada keraguan bahwa mmang hal inilah yang Anda butuhkan untuk menulis, di tempat ini, pada saat ini. Begitulah cara Anda mengetahui bahwa Anda terhubung dengan pembaca”, ujar Jordan Brown.

Tentu saja tidak semua orang akan tertarik dengan tulisan Anda. Kita tidak mungkin membuat semua orang menyenangi apa yang kita tuliskan. Ini adalah harapan yang mustahil. Maka wajar saja jika ada orang yang mencibir dan tidak suka dengan tulisan yang kita hadirkan. Tidak masalah.

Namun ketika Anda menulis dan merasakan terhubung dengan pembaca, ini adalah pengalaman spiritual yang mengesankan. Anda tidak berada di ruang hampa. Anda tidak sedang membual berbusa-busa tanpa makna. Namun Anda tengah memberikan kebermaknaan bagi para pembaca Anda.

Pengalaman Spiritual – 6

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“It’s not until we are lost that we begin to understand ourselves” –Henry David Thoreau.

.

Menciptakan pengalaman spiritual, bisa dilakukan dengan banyak kegiatan. Salah satunya adalah melalui aktivitas menulis. Jordan Brown (2018) merekomendasikan beberapa langkah untuk menghadirkan pengalaman spiritual melalui aktivitas menulis. Langkah pertama sampai keempat, silakan simak pada empat postingan sebelumnya.

Langkah Lima: Menulislah dengan Semua Potensi yang Anda Miliki

I found myself constantly asking myself what I was hearing internally. Sounds are not always external buzzes and bangs—sometimes they come in the form of thoughts and voices. Some of those sounds are truths and some are lies” –Kellie McGann.

Menulis bukan sekedar menuangkan kata-kata ke dalam kertas atau halaman kosong. Menulis melibatkan semua potensi yang Anda miliki. Spiritual, emosional, intelektual, pengalaman, kebijaksanaan, kegagalan, keberhasilan, perjuangan, dan semua hal yang telah menempa kehidupan Anda selama ini.

Demikian pula potensi inderawi yang Anda miliki. Semua adalah pintu bagi Anda untuk mendengar, melihat, merasakan, mengerti, dan memahami. Menulis bukan hanya menggerakkan jari-jari di atas keyboard, bukan hanya memilih tombol huruf demi huruf, dan menuangkannya menjadi kata, kalimat serta paragraf.

Menulis melibatkan semua potensi yang Anda miliki untuk terhubung dengan pembaca. Anda tengah hadir di tengah pembaca dengan beragam potensi. Pembaca tidak hanya menemukan kata-kata. Mereka menemukan jati diri Anda. Mereka melihat, mendengar dan merasakan –melalui aliran kalimat demi kalimat dalam tulisan yang Anda hadirkan.

The beginning of human knowledge is through the senses, and the fiction writer begins where human perception begins” –Flannery O’Connor.

Menggunakan semua potensi indera dalam proses menulis sangatlah penting. Sebab, “Awal pengetahuan manusia adalah melalui indera, dan penulis fiksi memulai dari titik di mana persepsi manusia dimulai”, ujar novelis Flannery O’Connor. Penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, indera perasa, dan semua yang menjadi kehidupan manusia sehari-hari—menjadi titik penting untuk disentuh.

Kellie McGann menyatakan, ”Saya mendapati diri saya terus-menerus bertanya pada diri sendiri, apa yang saya dengar secara internal”. McGann bertanya suara-suara apa yang ada dalam jiwanya. Ia berusaha mendengar dalam keheningan, agar bisa menemukan suara dari dalam dirinya sendiri. Seperti ungkapan Rumi, “Semakin senyap dirimu, semakin mempu mendengar”.

“Bunyi tidak selalu berupa dengungan dan dentuman eksternal”, ujar McGann. “Terkadang bunyi datang dalam bentuk pikiran dan suara jiwa. Beberapa dari suara itu adalah kebenaran dan beberapa lainnya adalah kebohongan”, lanjutnya.

Ini adalah cara melibatkan indera pendengaran untuk menghasilkan. Bukan sekedar bunyi-bunyian, bukan sekedar suara yang terdengar nyaring dan memekakkan telinga. Namun ada suara-suara dari dalam jiwa. Suara-suara yang terdengar dalam diri kita di saat hening. Saat di mana kita masuk ke dalam diri kita sendiri di tengah keheningan, untuk menemukan kesejatian.

Membiarkan Jiwa Bicara

Putting your words to the discovery is a gift that only you can provide” –Jordan Brown.

Saat kita mampu melibatkan semua potensi yang kita miliki untuk menulis, akan tercipta pengalaman spiritual yang menyenangkan. “Saat mengetik kata-kata ini, saya baru menyadari bahwa saya sedikit berkeringat”, ujar Jordan Brown. “Saya tidak menyadari sebelumnya. Agak memalukan memang, tapi tidak juga”, lanjutnya.

“Berkeringat” adalah pertanda kesungguhan. Kerja yang bersungguh-sungguh bisa membuat kita berkeringat. Makan yang bersungguh-sungguh bisa membuat kita berkeringat. Olahraga yang bersungguh-sungguh bisa membuat kita berkeringat. Demikian pula menulis yang bersungguh-sungguh, bisa membuat berkeringat.

Ketika menulis berusaha untuk mengungkap suara jiwa, membuat kita berpikir secara mkendalam. Juga merasakan secara mendalam, untuk mendapatkan suara-suara dari dalam jiwa. “Menggali lebih dalam untuk menemukan kata-kata yang menggambarkan kebenaran batin adalah kerja keras”, ujar Brown.

“As I type these words I just noticed that I’m slightly sweating. I didn’t notice it before. It’s kind of embarrassing, but it’s also not. Digging deep for the words to describe inner truth is hard work” –Jordan Brown.

“Saya merasa kehilangan diri sendiri dalam prosesnya, tetapi kemudian menemukan kembali pada apa yang berhasil saya gali”, ungkap Brown. “Seperti yang pernah diungkapkan Henry David Thoreau, ‘Tidak sampai tersesat, kita mulai memahami diri sendiri’”, lanjut Brown.

Dalam diri manusia selalu ada tarikan ke arah kebaikan, dan ada tarikan ke arah keburukan. Kita bisa memilih, ke arah manakah kita akan mengalir? Pun dalam menulis, ada ajakan membuat konten viral, ada ajakan membuat pernyataan kontroversi demi meraup royalti, ada ajakan untuk membangun ruhani, dan sangat banyak ajakan lainnya. Tinggal kita yang memilih, ikut ajakan yang mana.

Dengarkan suara terdalam pada jiwa Anda. Benarkah semata-mata kekayaan dan popularitas yang Anda inginkan dari menulis? Benarkah hanya efek likes, comments and shares (LCS) yang Anda harapkan? Benarkah hanya meriahnya tepuk tangan dan pujian dari jutaan fans yang Anda tunggu-tunggu? Benarkah hanya bertambahnya jutaan follower yang Anda impikan dari tulisan?

Dengarkan suara terdalam pada jiwa Anda. Lalu kerahkan semua potensi yang Anda miliki, dan menulislah. Sapalah pembaca Anda dengan sepenuh jiwa, melalui tulisan.

Selasa, 29 Maret 2022

Ada 4 langkah dalam menulis (1)

 Oleh : Asep Maulana

Hendaknya berbekal ilmu terlebih dahulu sebelum menulis. Kesulitan yang dialami oleh para pemula adalah karena minimnya ilmu” –Asep Maulana, 2022.

.

Keinginan menulis mulai muncul ketika saya  bersekolah di jenjang Sekolah Menengah Pertama. Tepatnya ketika saya baru mengenal mading (majalah dinding) sekolah. Karena madingnya persis di balik tembok sisi kanan kelas saya, pastinya sering terlewati dan saya mampir untuk membacanya.

Jadilah saya termasuk orang yang sering membaca berbagai tulisan di mading itu. Ada puisi, humor, cerita bergambar dan lain-lain. Melihat tulisan salah satu teman saya dimuat di mading, muncul ide dan keinginan saya untuk menulis. Saya pun ingin nama dan karya saya terpampang di mading tersebut.

Pengalaman Saya dalam Menulis

Saat itu saya berpikir bahwa mengarang atau menulis itu hal yang sulit” –Asep Maulana, 2022.

Di sini sedikitnya ada dua momen ketika keinginan dan usaha saya untuk menulis. Bahwa dulu saya pernah menulis meskipun sangat sederhana sekali. Dan ternyata keinginan menulis itu muncul kembali saat ini.

Pertama, waktu itu saya coba menulis puisi humor tentang ‘angin’ dengan niat saya kirim supaya dimuat di mading sekolah. Namun karena kurang pede sehingga sy tak pernah mengirimkan  naskah tersebut. Hanya ada sebagian kalimatnya yang masih saya ingat sampai sekarang. 

Kedua, saat di SMA pun demikian, saya lumayan sering membaca berbagai tulisan di majalah dinding. Sampai-sampai saya sempat mengikuti episode puisi-puisi cinta kakak kelas saya tentang sang guru. Ternyata gayung bersambut, sampai setelah ia lulus sekolah akhirnya menuju pelaminan dengan pujaaannya. Benar-benar happy ending. It’s  real!

Saya pun termotivasi menulis puisi waktu itu. Dan kali ini saya coba mengirimkan naskah puisi saya itu. Namun karya saya tidak pernah muncul di mading. Saya tidak tahu mengapa? Mungkin tidak memenuhi kualifikasi.

Saya teringat, waktu itu ramai digandrungi kawula muda novel remaja ‘si Lupus’ karya Hilman Hariwijaya, yang kemudian difilmkan. Saya pun sempat terinspirasi untuk membuat cerpen model-model si Lupus itu. Akhirnya, saya sempat menulis cerpen lucu. Ini hasil imajinasi sendiri dengan tokoh saya sendiri dan dua orang teman. Benar-benar pendek ceritanya.

Itupun akhirnya kandas, hanya sebatas di buku saja. Entah di mana naskah itu sekarang, tetapi ide cerita masih saya ingat. Tidak ada kelanjutannya, seolah-olah seperti kehabisan ide dan bingung mau bagaimana. Saat itu saya berpikir bahwa mengarang atau menulis itu hal yang sulit.

Kesulitan menulis itu benar-benar saya rasakan, khususnya saat ada tugas atau ujian mengarang pelajaran Bahasa Indonesia. Sehingga untuk merangkai kata menjadi kalimat dan kalimat menjadi sebuah paragraf, kemudian menghasilkan tulisan yang panjang dan utuh, bagi saya saat itu rasanya berat sekali.

Jadi, dari pengalaman di atas, ada beberapa pelajaran berharga bagi saya. Di antaranya adalah:

  • Besarnya minat baca dan adanya keinginan untuk menulis
  • Terbatasnya media untuk pelatihan atau kursus menulis
  • Minimnya buku-buku bacaan yang  sesuai dan tersedia serta dibutuhkan saat itu
  • Mading di sekolah bisa menjadi media dan saluran dalam bidang tulis menulis
  • Pentingnya mentor untuk mengembang potensi bidang kepenulisan

Empat Langkah untuk Menulis

Semakin banyak ilmu dalam menulis, akan banyak bermanfaat untuk kita, akan banyak kemudahan bagi kita untuk menulis dan terus menulis” –Asep Maulana, 2022.

Paling tidak, ada empat langkah penting untuk menulis,  yang mana keempat hal ini saling terkait satu sama lain, tidak terpisahkan. Empat langkah itu antara lain:

1. Ilmu

Peran ilmu sangat penting dalam dunia kepenulisan. Karena ilmu itu bisa diibaratkan cahaya yang menerangi jalan. Tanpa ilmu maknanya adalah kegelapan. Kegelapan itu sendiri menjadi sebab kebingungan, ragu, tidak bisa berjalan dengan lancar dan penuh ketidakpastian.

Hendaknya berbekal ilmu terlebih dahulu sebelum menulis. Kesulitan yang dialami oleh para pemula adalah karena minimnya ilmu. Sehingga ia bingung harus memulai dari mana. Atau menulis tentang apa. Dan kesulitan lainnya yang mungkin dihadapi tanpa tahu bagaimana solusinya.

Bakat pun akan sulit berkembang tanpa didukung dengan ilmu yang memadai. Sedangkan ilmu diperoleh dengan cara belajar dari seorang guru atau lebih. Ditambah buku dan literatur utama maupun penunjang lainnya.

Contoh yang sering kita alami, khususnya bagi pemula, adalah kesulitan dan kebingungan untuk mulai menulis. Maka cara, strategi, atau metode bagaimana mengatasi kesulitan dan kebingungan itulah yang disebut dengan ilmu.

Ketahuilah, caranya adalah dengan kita menentukan terlebih dahulu tujuan, temanya apa. Lalu detailkan tujuan itu dengan Who (untuk siapa tulisan tersebut) dan Do (apa yang diharapkan untuk pembaca).  Selanjutnya kita membuat kerangka tulisan.  Dari sini, barulah kita menulis berdasarkan kerangka tulisan tersebut, yang menjadi pedoman kita dalam menyelesaikan tulisan.

Untuk lebih mendalam, kita bisa membaca tulisan segar Pak Cahyadi Tariawan yang berjudul “Agar Tidak Bingung saat Menulis”.

Berikut ini, adalah beberapa contoh media pembelajaran dan sumber ilmu dalam menulis. Misalnya kelas-kelas kepenulisan yang diasuh oleh Pak Cahyadi Tariawan bersama timnya, seperti Kelas Basic Menulis, Kelas Buku Antologi, Kelas Buku Single atau lainnya.

Jika dalam hal-hal yang sederhana saja kita butuh ilmu, maka bagaimana lagi dengan menulis?! Ayo belajar terus dan jangan pernah berhenti! Semakin banyak ilmu dalam menulis, akan banyak bermanfaat untuk kita, akan banyak kemudahan bagi kita untuk menulis dan terus menulis.

2. Praktik

Setelah berilmu maka selanjutnya adalah praktik. Adalah suatu keharusan memperbanyak praktik dan latihan menulis setelah belajar berbagai teori. Karena buahnya dari ilmu itu adalah praktik. Akan sayang sekali dan tidak bermanfaat jika ilmu-ilmu yang sudah didapat tidak dipraktikkan.

Mengapa praktik menjadi begitu penting? Karena kita  tidak pernah akan menjadi seorang penulis tanpa praktik menulis. Tidak pernah seorang dikatakan expert atau ahli tanpa melalui berbagai praktik. Hal ini sebagaimana sebuah ungkapan,  “Practice Makes Us Perfect”. Maknanya, jika kita melakukan praktik dan berlatih  secara rutin, maka akan melahirkan kesempurnaan. 

Mari perbanyak praktik dan latihan-latihan! Menjadikan menulis sebagai habit;  kebiasaan dan keseharian kita. Tidak afdol rasanya jika dalam sehari kita tidak menulis apapun.

BERSAMBUNG.

Ada 4 langkah dalam menulis

 Oleh : Asep Maulana (alumni KMO Batch 50)

“Hal sangat penting dalam segala sesuatu adalah meluruskan niat atau motivasi. Luruskan niat Anda saat membuat buku” –Cahyadi Takariawan, 2022.

.

Cahyadi Takariawan dalam ebook “Langkah Mudah Membuat Buku” mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam menulis, “Hal sangat penting dalam segala sesuatu adalah meluruskan niat atau motivasi. Luruskan niat Anda saat membuat buku. Bahwa semua yang Anda lakukan adalah dalam rangka ibadah, dalam rangka ketaatan kepada Allah. Ini yang akan memperlancar proses penulisan buku Anda”.

Pada dasarnya ilmu bersifat universal sehingga siapapun bisa memiliki ilmu dengan mempelajarinya. Tidak terkecuali ilmu dalam menulis. Karena ilmu adalah cara termudah untuk mencapai tujuan. Kita bisa menulis tentang apa saja yang kita inginkan jika memiliki ilmu tentang menulis dan apa yang hendak ditulis.

Ilustrasinya sebagaimana kita akan menuju suatu kota yang masih asing. Kota Medan misalnya. Sedangkan kita tinggal di Jogja. Maka kita memerlukan beberapa pengetahuan tentang kota tujuan, alat transportasi untuk ke sana dan lain-lainnya. Nah, segala pengetahuan tersebut itulah yang dinamakan dengan ilmu.

Empat Nilai, Mengapa Ilmu Menulis Sangat Penting?

Jika satu saja karya kita bisa memberikan manfaat bagi banyak orang maka kekayaan apalagi yang lebih berharga darinya? Itulah kekayaan yang sesungguhnya!” –Asep Maulana, 2022.

Paling tidak ada empat nilai yang bisa menjelaskan, mengapa ilmu menulis sangat penting untuk kita ketahui.

Pertama, menghilangkan kebodohan pada diri kita. Sebelumnya kita belum mempunyai ilmu pengetahuan tentang menulis. Mungkin kita punya banyak ide untuk ditulis. Memori di otak kita telah menyimpan banyak ilmu pengetahuan. Namun kita sering mengalami kesulitan untuk menuangkan dalam tulisan.

Lain halnya jika kita mengikuti kursus dan kelas-kelas menulis, membaca buku atau literatur apapun yang menunjang kebutuhan kita supaya bisa menulis. Akan banyak kemudahan yang didapat untuk memulai praktik menulis.

Hilang kebingungan, kebuntuan dan keraguan yang selama ini dirasakan ketika hendak  menulis. Ilmu itu membuat kita tahu teknik dan kaidah-kaidah menulis, tujuan menulis, jenis tulisan dan sampai bagaimana menerbitkan sebuah buku.

Kedua, untuk membantu orang lain yang ingin belajar menulis. Salah satu cara melestarikan ilmu menulis adalah dengan mengajarkannya.

Maka ilmu akan semakin bermanfaat jika diajarkan dan terus diajarkan. Ilmu bisa diajarkan secara personal atau klasikal atau bentuk lainnya seperti seminar atau workshop. Ilmu juga bisa ditulis menjadi buku yang bisa dibaca oleh siapapun.

Ketiga, untuk tujuan praktik. Pada dasarnya, siapapun orangnya, ketika belajar menulis maka salah satu tujuannya adalah untuk praktik menulis. Kita membayar kursus dan membeli buku-buku penunjang, tentunya untuk tujuan tersebut.

Jika mengikuti kelas menulis hanya sekedar berhenti pada ranah pengetahuan saja, tentu menjadi kurang bermanfaat, bahkan akan sia-sia. Karena terputus kemanfaatannya. Ilmu baru dikatakan bermanfaat jika dipraktikkan. Semakin besar lagi manfaatnya tatkala kita mengajarkannya kepada orang lain.

“Ilmu baru dikatakan bermanfaat jika dipraktikkan. Semakin besar lagi manfaatnya tatkala kita mengajarkannya kepada orang lain” –Asep Maulana, 2022.

Keempat, untuk tujuan melestarikan ilmu. Ilmu apapun yang tidak dipraktikkan dan diajarkan, lambat laun akan hilang. Termasuk ilmu dalam menulis, ia akan menjadi asing dan hilang sedikit demi sedikit. Karena itu, dengan tujuan yang mulia ini tentunya bisa menjadi motivasi bagi kita untuk belajar dan menggali ilmu dalam hal tulis menulis.

Demikianlah empat tujuan mengapa ilmu pengetahuan tentang menulis begitu penting bagi kita. Karena ilmu lebih berharga dari harta yang kita miliki. Seseorang yang merasakan betapa penting dan berharganya ilmu, ia akan rela berkorban apapun untuk ilmu.

Ilmu lebih besar nilainya dari segala pengorbanan yang dikeluarkan. Maka jangan pernah merasa sayang atau rugi mengeluarkan biaya untuk keperluan ilmu. Jangan pernah malas atau enggan untuk menyisih waktu dalam belajar.

Karena ilmu adalah investasi. Bahkan kita bisa mendapatkan lebih banyak dari apa yang kita duga. Mungkin popularitas, kekayaan, penghargaan atau lainnya yang bersifat duniawi.

Di sisi lain, tentunya ada yang tidak bisa dinilai dan dibandingkan, atau diganti dengan hanya sekedar nilai materi, yaitu kebahagiaan dan kepuasan batin. Terlebih lagi jika karya-karya kita bisa mengispirasi orang lain. Memberi solusi, menyembuhkan sakitnya. Atau apapun itu yang kemudian memberikan manfaat yang lebih luas. Padahal mungkin kita tidak memikirkan hal-hal itu sebelumnya.

Jika satu saja karya kita bisa memberikan manfaat bagi banyak orang maka kekayaan apalagi yang lebih berharga darinya? Itulah kekayaan yang sesungguhnya!

.

Sumber inspirasi dan rujukan:

Dr. Shalih bin Abdullah bin Hammad Al Ushaimi, Khulashah Ta’dhimil Ilmi, Riyadh, KSA, Cetakan Pertama, 2011/1432 H

Kedalaman Pikiran dalam menulis

 Oleh : Sukma Rona (Alumni KMO Basic Batch 49)

Deep thinking atau berpikir mendalam merupakan modal yang sangat penting untuk membangun pandangan konstruktif bagi pembaca” –Sukma Rona, 2022.

.

Sepanjang sejarah, aktivitas literasi adalah hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Merangkai kata menjadi kalimat sehingga tersusun menjadi data, yang akhirnya tersajikan menjadi informasi. Semakin baik kemampuan dalam mengungkapkan pemikiran, akan menghasilkan informasi yang semakin baik pula.

Deep thinking atau berpikir mendalam merupakan modal yang sangat penting untuk membangun pandangan konstruktif bagi pembaca. Seorang penulis yang menuangkan pemikiran dengan pendalaman terhadap permasalahan, akan lebih mampu memberikan pembahasan yang bermakna.

Begitu banyak penulis ataupun pemikir yang menuangkan hasil pemikiran dengan mendalam, yang karya mereka bisa kita jumpai hingga hari ini. Sebut saja karya agung Imam Al-Ghazali dengan kitab Ihya Ulumuddin yang fenomenal. Ini adalah salah satu contoh kebersihan dan kedalaman pemikiran orang zaman dahulu.

Memulai dari Diri Penulis

Pemikiran yang jernih akan mengalir menjadi ungkapan dan frasa yang indah” –Sukma Rona, 2022.

Pada dasarnya, kita tidak mungkin mampu menghidupkan pemikiran pembaca tanpa menghidupkan ruh dan pemikiran penulisnya terlebih dahulu. Mengaktifkan rasa yang bersemayam jauh di dalam relung jiwa penulis, adalah hal penting.

Melalui perenungan, pembahasan, filterisasi dari hikmah kehidupan, serta diskusi mendalam dengan orang-orang berilmu, akan bisa menjadi sarana membangun sistematika berpikir sehingga mencapai puncak kualitas karya. Pemikiran yang jernih akan mengalir menjadi ungkapan dan frasa yang indah.

Kepenulisan itu ajaib. Tulisan akan memasuki tempat di dalam benak pembaca yang tidak dapat dimasuki kecuali oleh kata. Mengapa? Sebab melalui tulisan akan melibatkan organ penglihatan dan syaraf yang terhubung dalam sistem.

Informasi yang masuk ke dalam otak manusia akan disaring menjadi pemahaman, yang selanjutnya akan berinteraksi dengan kecenderungan jiwa pembaca. Maka, orang yang rajin membaca literasi positif akan memberikan informasi positif pula terhadap gaya hidupnya.

Melakukan aktivitas tulis menulis dengan konsep tadabbur terhadap diri maupun alam sekitar, akan menghasilkan karya-karya literasi yang menyejarah. Para penulis dengan kesadaran akan tujuan tulisannya, tidak akan berhenti berjuang demi menghasilkan karya-karya berkualitas.

Sukma Rona

Sukma Rona dilahirkan di Desa Keluang, Kecamatan Musi, Banyuasin, Palembang, pada tanggal 23 Agustus 1984. Ayahnya Bernama Abd. Rachman P, dan ibunya bernama Sawinah. Masa kecil dari penulis pernah diberi nama Rilo Wibowo.Namun, kemudian diganti oleh ayahnya menjadi Sukma Rona.

KESEMPATAN SHARING IDE, MOTIVASI, TIPS DAN PENGALAMAN MENULIS

 

Ykh. Sahabat Ruang Menulis



Kami tim redaksi blog ruangmenulis.id membuka kesempatan kepada para sahabat semua untuk berkontribusi mengirim tulisan terkait ide, motivasi dan pengalaman menulis. 


Tulisan yang memenuhi kualifikasi tim redaksi, akan dimuat di blog ruangmenulis.id. Kesertaan dalam sharing tulisan ini bersifat suka rela, dengan motivasi untuk berbagi ide, tips, motivasi dan pengalaman menulis.


Ketentuan pengiriman tulisan:


1. Penulis naskah adalah peserta / alumni Kelas Menulis yang dikelola pak Cahyadi Takariawan (Pak Cah) atau bu Ida Nur Laila 

2. Naskah asli tulisan sendiri, dan tidak mengandung unsur plagiarisme

3. Panjang naskah antara 500 hingga 600 kata

4. Naskah berisi ide, tips, motivasi dan pengalaman menulis

5. Naskah dikirim melalui alamat email ruangmenulis60@gmail.com

6. Setelah mengirim naskah, mohon konfirmasi kepada Admin di nomer +6289528937771

7. Naskah yang dimuat akan mendapatkan e-sertifikat penghargaan kesertaan naskah dalam blog Ruang Menulis


Ditunggu partisipasi sahabat semua untuk saling berbagi, saling memotivasi dan saling menginspirasi. Semoga semakin produktif menulis. Sebelum dan sesudahnya diucapkan banyak terimakasih.


Yogyakarta, 16 Maret 2022


Tim Redaksi Ruang Menulis

Tidak Terlahir Sebagai Jenius ? Don't Worry. Menulis Rutin bisa Menggantikannya.

 Bagian Keempat


Oleh : Cahyadi Takariawan


“If you’ve planned to write every day, you’re not in a hurry anyway. And, as we’ve learned, practice is compounding. Start with the motor action. Keep it simple. The magic happens when you’re busy chopping wood” –Taylor Foreman, 2021.


.


Menurut Taylor Foreman, menulis menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan kemampuan manusia dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang lebih kompleks. Seseorang dengan kemampuan menulis yang baik, akan mampu mengerjakan hal-hal yang lebih kompleks, dibandingkan mereka yang tidak memiliki kemampuan menulis.


“Jika Anda tidak mengerti cara menulis, dunia akan terus bergerak lebih cepat dari apa yang dapat Anda tangani. Jika Anda mengerti cara menulis, Anda akan menulis setiap hari dengan baik, maka Anda memiliki kekuatan super”, lanjut Foreman.


Proses Pembelajaran yang Konkret


“No matter what you want to achieve in life, you can shrink it down until you find the actual motor action that needs to occur. Find this motor action and master it until it becomes second nature. Then move up to the next level” –Taylor Foreman, 2021.


Sangat banyak orang berhenti pada kata “ingin”. Misalnya seseorang mengatakan, saya ingin menjadi orang baik. Namun ia tidak melakukan tindakan yang bisa membuatnya menjadi orang baik. Seseorang mengatakan, saya ingin menjadi pengusaha sukses, namun tidak melakukan proses pembelajaran yang konkret untuk mencapai keinginannya.


Ketika berhenti pada kata “ingin”, bisa dipastikan mereka tidak akan sampai tujuan. Saya ingin ke Turki, tapi tidak menempuh langkah menuju Turki. Pasti saya tidak sampai Turki. Sama dengan seseorang ingin menjadi penulis tapi tidak melakukan proses pembelajaran yang konkret. Tentu mereka tak akan menjadi penulis.


Jika Anda menetapkan keinginan untuk menjadi penulis, maka tersedia sejumlah langkah pembelajaran yang konkret untuk ditempuh. Agar menulis tidak berhenti pada kata ingin. Agar benar-benar menjadi penulis yang menghasilkan karya tulis. Dengan alat atau sarana apa Anda menulis, ini tidak penting. Yang penting adalah, Anda benar-benar menulis.


“Saya tidak suka menulis dengan tangan (hand writing), jadi saya mengetik dengan laptop”, ujar Taylor Foreman. “Di awal pandemi, saya menyadari perlunya belajar cara mengetik dengan benar. Jadi saya belajar cara mengetik”, lanjut Foreman.


Ini adalah contoh, jika ingin mahir mengetik, maka Anda harus belajar cara mengetik. Proses pembelajaran yang konkret untuk membuat Anda mampu mengetik dengan baik dan benar harus ditempuh. Jika tidak, Anda hanya akan berhenti pada dataran ingin. Tidak akan mencapai tujuan yang Anda inginkan.


Pada intinya –Anda harus memulai proses belajar menulis secara konkret. Jangan hanya menyatakan ingin menjadi penulis, tanpa melakukan tindakan nyata. Anda bisa memulai belajar menulis fiksi, atau nonfiksi, atau keduanya sekaligus. Namun dilakukan secara konkret.


Proses yang Bertumbuh


“I went from 40 WPM to 80 WPM. Typing is not creative writing. But it is the first, concrete step along the way” –Taylor Foreman, 2021.


Setelah memulai langkah pembelajaran yang konkret, Anda harus berusaha untuk bertumbuh. Tidak puas hanya dengan pembelajaran yang sudah ada, namun menambah lagi langkahnya sehingga menjadi lebih nyata.


Salah satunya adalah dengan menetapkan target. Masing-masing Anda bisa menetapkan target harian baik berupa waktu (durasi) menulis, maupun hasil akhir tulisan dalam satuan waktu tertentu. Misalnya, di awal proses belajar menetapkan menulis 100 kata per hari, atau 1000 karakter per hari.


Setelah mulai merasakan ringan dengan target itu, Anda harus meningkat ke target berikutnya. Sekarang target menulis 200 kata per hari, atau 2000 karakter per hari. Tantangan ini membuat Anda terus bertumbuh, tidak berhenti pada satu kondisi yang sudah mapan.


“Saya berproses dari 40 WPM ke 80 WPM. Mengetik bukanlah menulis kreatif. Tapi ini adalah langkah pertama yang konkret di sepanjang proses menulis”, ungkap Foreman.


Yang dimaksud dengan 40 WPM (words per minute) adalah menulis 40 kata dalam setiap menitnya. Ini sudah menjadi ukuran produktivitas seorang penulis. Namun Foreman tidak mau berhenti hanya sampai dengan ukuran produktivitas rata-rata orang. Ia berjuang hingga akhirnya bisa mencapai 80 WPM, yang berarti dua kali lipat dari sebelumnya.


“Ketika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, kita harus mulai dengan dasar-dasarnya”, ujar Foreman. “Misalnya, bagaimana menjadi orang yang baik? Orang yang baik akan merawat teman dengan baik. Teman yang baik akan menelepon. Untuk menelepon, Anda harus mengangkat gagang telepon”, lanjutnya.


“Secara teknis, peganglah iPhone di genggaman tangan Anda, temukan nomer telepon teman yang belum pernah Anda kontak sejak lulus sekolah menengah, dan tekan tombol hijau”, sambung Foreman.


“When we don’t know what to do in life, we need to start with the basics. How do you be a good person? A good person is a good friend. A good friend calls. To call, you have to pick up the phone. Literally, grip the iPhone in your damn fingers, locate that friend you haven’t spoken to since high school, and press the green button” –Taylor Foreman, 2021.


“Tidak peduli apa yang ingin Anda capai dalam hidup, Anda dapat mendetailkannya sampai Anda menemukan tindakan motorik nyata yang perlu dilakukan. Temukan tindakan motorik ini dan kuasai hingga menjadi kebiasaan. Kemudian naik ke tingkat berikutnya”, ungkap Foreman.


Jika Anda berencana untuk menulis setiap hari, toh Anda tidak terburu-buru. Dan, seperti yang telah kita pelajari, latihan adalah peracikan. Mulailah dengan gerakan motorik. Tetap sederhana. Keajaiban terjadi ketika Anda sedang sibuk memotong kayu.


.


Bahan Bacaan


Taylor Foreman, 7 Reasons Daily Writing Can Make Up For Not Being Born a Genius, https://writingcooperative.com, 5 Maret 2021

Selasa, 08 Juni 2021

Manfaat Menulis bagi Balita Hingga Lansia

 


Di era digital yang serba paperless ini, kegiatan menulis lebih banyak dilakukan dengan alat teknologi seperti handphone maupun laptop. Meski demikian, banyak sekali manfaat menulis yang bisa dirasakan mulai dari balita bahkan hingga lansia.

Manfaat Menulis untuk Balita

Kegiatan menulis untuk balita maupun anak usia SD sebaiknya diutamakan menulis dengan tangan (menggunakan pinsil, ballpoint, dsb). Karena bagi mereka, menulis dengan tangan dapat mengasah kemampuan motoriknya.

Dengan menulis menggunakan tangan, mereka akan belajar memahami konsep dengan baik. Menghubungkan apa yang dilihat, dirasa, didengar dengan huruf-huruf dalam tulisan.

Dilansir dari parenting.co.id, saat anak makin besar, kemampuan motorik dan komunikasi yang didapat dari kebiasaan menulis tangan akan membantunya lebih mudah menuangkan ide ke kalimat. Kemampuan menulis dengan tangan merupakan kunci untuk meningkatkan kemampuan membaca dan berkomunikasi.

Seorang psikolog anak, Alzena Masykouri menyatakan bahwa "Memang banyak fungsi menulis digantikan oleh tombol di papan ketik. Tetapi, anak tetap harus bisa menulis tangan. Mereka akan lebih cepat menulis dengan tangan ketika mencatat. Dan, mereka akan punya keterampilan hidup yang tidak tergantikan oleh teknologi."

Menulis untuk Terapi Diri

Pernahkah Anda menyimak channel YouTube Hujan Tanda Tanya? Ternyata, sang pemilik akun, Fikri pernah melakukan terapi dengan menulis di blog loh!

Seperti dikisahkan di website pahamify.com, Fikri yang masuk ITB di usia 15 tahun ini pernah berkonsultasi dengan psikolog. Sang psikolog mengatakan bahwa indeks prestasi (IP) Fikri bagus, tapi seharusnya ia masih bisa meraih nilai sempurna, 4,00.

Psikolog tersebut akhirnya menyarankan Fikri untuk menulis di blog demi mengatasi masalah lemahnya Fikri dalam mengelola mood atau emosi.

Berdasarkan saran tersebut, Fikri akhirnya menulis. Mulanya hanya menulis sesuai apa yang dirasakan saja alias curhat (tulisan ekspresif). Tapi lama kelamaan, ia pun mulai menuliskan pemikiran-pemikirannya.

Beberapa manfaat yang Fikri dapatkan dari menulis di blog antara lain :

1. Melatih kecerdasan kognitif. Jika kita terbiasa menulis, maka otak kita akan terbiasa belajar runut dan logis. Jika terus di asah, otak kita akan mampu membuat kerangka tulisan bahkan tanpa harus menuangkannya terlebih dahulu. Dengan demikian, jika kita tiba-tiba diminta menjelaskan sesuatu, otak kita sudah siap menghadapinya. Insya Allah bahkan dengan urutan yang runut dan logis.

2. Meningkatkan kecerdasan linguistik. Selain menulis dalam bahasa Indonesia, Fikri juga sering menulis dalam bahasa Inggris. Setiap mendapat kata baru dalam bahasa Inggris, ia akan menuliskannya dalam bentuk artikel untuk di-posting di blog.

Fikri tidak merasa malu jika masih terdapat kesalahan dalam penulisannya. Karena yang namanya belajar selalu butuh proses, toh?

Ia hanya yakin, bahwa dengan sering menulis berbahasa Inggris, maka lama lama ia akan menjadi pandai berbahasa. Yup. Menulis akan meningkatkan kecerdasan linguistik kita.

Tak hanya bahasa Inggris, saat kita menulis dalam bahasa Indonesia pun, kita selalu bisa menelaah kembali hasil tulisan kita. Mengeceknya dengan KBBI atau PUEBI sehingga hari demi hari, tulisan kita akan semakin baik dari segi tata bahasa. Bahkan akan selalu meningkat terutama dalam penggunaan diksi.

Kamis, 03 Juni 2021

Renungan pagi, Jumat 4 Juni 2021


Dibawakan oleh Romo Antoro. Pekan biasa yang ke-9.  
Apa kabar saudara-saudaraku yang terkasih. Semoga kita selalu dalam keadaan sehat,  baik dan tetap bersemangat.
Hari ini kita bersama-sama akan diajak untuk merenungkan Injil  Yesus Kristus menurut Markus Bab 12 ayat 35-37.
Marilah kita mengawali renungan kita dengan tanda kemenangan Kristus.

Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.

 

Pada suatu hari Yesus mengajar di Bait Allah, katanya, “Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan bahwa Mesias adalah anak Daud.  Daud sendiri berkata dengan Ilham Roh Kudus. Tuhan telah bersabda kepada Tuanku.  Duduklah di sisi kananku sampai musuh-musuhmu kutaruh di bawah kakimu jadi jawab sendiri menyebut dia Tuhannya . Bagaimana mungkin ia sekaligus anaknya. Orang yang besar jumlahnya  mendengarkan Yesus dengan penuh Minang .

Demikianlah Injil Tuhan.  Terpujilah Kristus.

Saudari-saudara yang terkasih. Apa kabar semuanya, semoga kita selalu dalam keadaan baik, tetap sehat dan bersemangat. 

Saudari-saudara yang terkasih, kalau kita memperhatikan hampir setiap kali para lawan Yesus melontarkan berbagai pertanyaan untuk memojokkanNya.  Kesempatan ini Yesuslah yang mengajukan pertanyaan pada mereka. Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan bahwa Mesias adalah anak Daud.

Saudari-saudara yang terkasih, apabila kita memperhatikan Mazmur 110 ayat 1 disana para pemimpin Yahudi berasumsi bahwa Mazmur itu ditulis oleh Daud dan bahwa Daud mengacu pada Mesias gambaran mereka namun mengapa Daud menyebut Mesias sebagai Tuannya. Bagaimana bisa dikatakan bahwa sang Mesias menjadi anak daud dan tuan atas daud.

Saudari-saudara yang terkasih, para lawan Yesus dibiarkan bingung.  Bagi penginjil  Markus Yesus memang keturunan daud. Mesias,  anak daud.  Sebagai pemenuhan nubuat mesiani.  Namun gelar ‘Putra Daud’ tidak secara tepat mengungkapkan otoritas Mesias dan dia bukan anak di bawah otoritas daud.  Mesias yang akan datang itu lebih dari keturunan Daud lebih dari sekadar tokoh politisi yang lebih besar dari yang diperkirakan oleh otoritas agama Yahudi.

Saudari-saudaraku yang terkasih Yesus, memang adalah manusia dan menjadi saudara kita tetapi sekaligus kita perlu mengakui bahwa dia adalah putra Allah yang menjadi pengantara dan penyelamat kita umat manusia. Pegangan antara anak dan Tuan Daud dalam diri Yesus merupakan jembatan penyambung antara manusia dan Allah.

Saudari-saudara yang terkasih, marilah kita semakin mengimani akan Tuhan kita Yesus Kristus sang Mesias. Juru selamat kita.

Hai,  makluk semua Pujilah Tuhan.  Haleluya 3x Pujilah keagunganya. Haleluya 4x. Haleluya bergaung di seluruh dunia, Aleluya 2x.

 Semoga keluarga-keluarga, orang-orang yang kita doakan, mereka yang sakit yang menderita, seluruh tugas belajar, pekerjaan, usaha serta karya pelayanan kita, dibimbing, dilindungi,dan diberkati oleh Allah Yang Maha Kuasa.

 Bapa,  Putra dan Roh Kudus. Amin.


Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...