Minggu, 08 Mei 2022

Pengalaman Spiritual – 6

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“It’s not until we are lost that we begin to understand ourselves” –Henry David Thoreau.

.

Menciptakan pengalaman spiritual, bisa dilakukan dengan banyak kegiatan. Salah satunya adalah melalui aktivitas menulis. Jordan Brown (2018) merekomendasikan beberapa langkah untuk menghadirkan pengalaman spiritual melalui aktivitas menulis. Langkah pertama sampai keempat, silakan simak pada empat postingan sebelumnya.

Langkah Lima: Menulislah dengan Semua Potensi yang Anda Miliki

I found myself constantly asking myself what I was hearing internally. Sounds are not always external buzzes and bangs—sometimes they come in the form of thoughts and voices. Some of those sounds are truths and some are lies” –Kellie McGann.

Menulis bukan sekedar menuangkan kata-kata ke dalam kertas atau halaman kosong. Menulis melibatkan semua potensi yang Anda miliki. Spiritual, emosional, intelektual, pengalaman, kebijaksanaan, kegagalan, keberhasilan, perjuangan, dan semua hal yang telah menempa kehidupan Anda selama ini.

Demikian pula potensi inderawi yang Anda miliki. Semua adalah pintu bagi Anda untuk mendengar, melihat, merasakan, mengerti, dan memahami. Menulis bukan hanya menggerakkan jari-jari di atas keyboard, bukan hanya memilih tombol huruf demi huruf, dan menuangkannya menjadi kata, kalimat serta paragraf.

Menulis melibatkan semua potensi yang Anda miliki untuk terhubung dengan pembaca. Anda tengah hadir di tengah pembaca dengan beragam potensi. Pembaca tidak hanya menemukan kata-kata. Mereka menemukan jati diri Anda. Mereka melihat, mendengar dan merasakan –melalui aliran kalimat demi kalimat dalam tulisan yang Anda hadirkan.

The beginning of human knowledge is through the senses, and the fiction writer begins where human perception begins” –Flannery O’Connor.

Menggunakan semua potensi indera dalam proses menulis sangatlah penting. Sebab, “Awal pengetahuan manusia adalah melalui indera, dan penulis fiksi memulai dari titik di mana persepsi manusia dimulai”, ujar novelis Flannery O’Connor. Penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, indera perasa, dan semua yang menjadi kehidupan manusia sehari-hari—menjadi titik penting untuk disentuh.

Kellie McGann menyatakan, ”Saya mendapati diri saya terus-menerus bertanya pada diri sendiri, apa yang saya dengar secara internal”. McGann bertanya suara-suara apa yang ada dalam jiwanya. Ia berusaha mendengar dalam keheningan, agar bisa menemukan suara dari dalam dirinya sendiri. Seperti ungkapan Rumi, “Semakin senyap dirimu, semakin mempu mendengar”.

“Bunyi tidak selalu berupa dengungan dan dentuman eksternal”, ujar McGann. “Terkadang bunyi datang dalam bentuk pikiran dan suara jiwa. Beberapa dari suara itu adalah kebenaran dan beberapa lainnya adalah kebohongan”, lanjutnya.

Ini adalah cara melibatkan indera pendengaran untuk menghasilkan. Bukan sekedar bunyi-bunyian, bukan sekedar suara yang terdengar nyaring dan memekakkan telinga. Namun ada suara-suara dari dalam jiwa. Suara-suara yang terdengar dalam diri kita di saat hening. Saat di mana kita masuk ke dalam diri kita sendiri di tengah keheningan, untuk menemukan kesejatian.

Membiarkan Jiwa Bicara

Putting your words to the discovery is a gift that only you can provide” –Jordan Brown.

Saat kita mampu melibatkan semua potensi yang kita miliki untuk menulis, akan tercipta pengalaman spiritual yang menyenangkan. “Saat mengetik kata-kata ini, saya baru menyadari bahwa saya sedikit berkeringat”, ujar Jordan Brown. “Saya tidak menyadari sebelumnya. Agak memalukan memang, tapi tidak juga”, lanjutnya.

“Berkeringat” adalah pertanda kesungguhan. Kerja yang bersungguh-sungguh bisa membuat kita berkeringat. Makan yang bersungguh-sungguh bisa membuat kita berkeringat. Olahraga yang bersungguh-sungguh bisa membuat kita berkeringat. Demikian pula menulis yang bersungguh-sungguh, bisa membuat berkeringat.

Ketika menulis berusaha untuk mengungkap suara jiwa, membuat kita berpikir secara mkendalam. Juga merasakan secara mendalam, untuk mendapatkan suara-suara dari dalam jiwa. “Menggali lebih dalam untuk menemukan kata-kata yang menggambarkan kebenaran batin adalah kerja keras”, ujar Brown.

“As I type these words I just noticed that I’m slightly sweating. I didn’t notice it before. It’s kind of embarrassing, but it’s also not. Digging deep for the words to describe inner truth is hard work” –Jordan Brown.

“Saya merasa kehilangan diri sendiri dalam prosesnya, tetapi kemudian menemukan kembali pada apa yang berhasil saya gali”, ungkap Brown. “Seperti yang pernah diungkapkan Henry David Thoreau, ‘Tidak sampai tersesat, kita mulai memahami diri sendiri’”, lanjut Brown.

Dalam diri manusia selalu ada tarikan ke arah kebaikan, dan ada tarikan ke arah keburukan. Kita bisa memilih, ke arah manakah kita akan mengalir? Pun dalam menulis, ada ajakan membuat konten viral, ada ajakan membuat pernyataan kontroversi demi meraup royalti, ada ajakan untuk membangun ruhani, dan sangat banyak ajakan lainnya. Tinggal kita yang memilih, ikut ajakan yang mana.

Dengarkan suara terdalam pada jiwa Anda. Benarkah semata-mata kekayaan dan popularitas yang Anda inginkan dari menulis? Benarkah hanya efek likes, comments and shares (LCS) yang Anda harapkan? Benarkah hanya meriahnya tepuk tangan dan pujian dari jutaan fans yang Anda tunggu-tunggu? Benarkah hanya bertambahnya jutaan follower yang Anda impikan dari tulisan?

Dengarkan suara terdalam pada jiwa Anda. Lalu kerahkan semua potensi yang Anda miliki, dan menulislah. Sapalah pembaca Anda dengan sepenuh jiwa, melalui tulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...