Tampilkan postingan dengan label Karya baruku 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya baruku 1. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Mei 2021

PESUGIHAN

 

#Pesugihan

 


Peristiwa  pernah terjadi di keluarga saya. Berdasarkan cerita ibu,  kakek saya adalah pedagang tembakau.  Punya rumah yang lumayan besar. Tetangga bilang kakek adalah orang kaya.  Bapak saya tahun 60an sudah lulus kuliah padahal orang kampung. Saya lahir dari  ayah PNS dan Ibu yang saat itu berprofesi sebagai  perias pengantin. Hidup kami  bahagia dan tercukupi bersama ke-3 adik saya. Kami orang kampung tapi semua sekolah di Jogya.  Kami dikontrakkan rumah oleh orang tua supaya bisa mandiri. Berlatih hidup prihatin  sambil buka  warung makan kecil-kecilan.

Bapak  sebagai anak bungsu juga punya sawah hasil warisan dari Kakek saya. Makan sehari-hari dari hasil sawah, baik beras maupun sayur. Bahkan dibilang  biaya hidup di desa itu tak ada, karena semua sudah dari hasil sawah, kebun dan ternak sendiri. 

Ada kejadian aneh di rumah saya. Pagi buta orang datang  di belakang rumah saya. Karena ada suara mencurigakan saya keluar. Ternyata ada 3 orang sedang mengambil air got di belakang dapur saya. Karena penasaran saya tanya, untuk apa? Ternyata jawabannya diluar dugaan akal sehat saya. Mereka bilang anaknya sakit karena  kena ‘pesugihan’ dari keluarga saya. Jadi dia harus minum air got dari rumah saya. Antara  jengkel, sakit hati dan ingin marah. Tapi  saya harus sabar. Hanya Kuelus dadaku. Ini adalah segelintir orang yang suka ‘iri’ dengan kehidupan orang lain. 

Keluarga kami selalu baik dengan tetangga. Kami hidup rukun dan damai. Bahkan  keluarga saya  yang ‘nota bene’  berkeyakinan berbeda kami selalu bersama-sama ikut puasa, ikut lebaran  dan rutin  ikut  berzakat untuk saudara-saudara yang kurang beruntung.

Ini adalah sebuah refleksi dibulan ramadhan yang indah dan berbagi suka cita antara kita. Kita adalah sama. Tujuan hidup kita sama. Tuhan yang kita sembah juga sama. Hanya cara berdoanya saja yang berbeda. 

Tahun 60an saya lahir. Perekonomian saat  masih  sulit. Sehingga  banyak anak-anak saat itu  kurang gizi dan kelaparan.

Sekarang adalah perubahan yang sangat besar. Banyak orang ‘kaya’ bukan karena sawah dan hewan. Ada yang pulang dari TKI. Ada yang berdagang. Ada yang Yuo-tuber dan berbagai keahlihan yang bisa mendatangkan  uang.

Kita semua mengalami, kita merasakan dan kita paham  zaman ini. Tak usah Iri, tak usah benci dan tak perlu gampang sakit  hati. Hilangkan  curiga, kesombongan, kedengkian, congkak  dan iri hati. Itu tak  ada arti. Doakan saja orang yang menyakiti agar kita tak cepat mati. 

Besar harapan  untuk para anak muda, sekolahlah  sebaik mungkin, teruslah belajar. Kuucapkan ‘Selamat‘ bagi peserta didik yang  sudah lulus. Kejarlah cita-cita  semampu dan sekuat tenagamu.  Walau tak punya sawah, tak ada hewan  tapi tetap akan  makan kenyang, tidur lelap  dan hidup tenang.  Anda  menikmati dari hasil kerja keras dari sebuah perjuangan. Salam!


Minggu, 11 April 2021

Antologi G18 bersama bu Kanjeng

 

Antologi Bersama Bu Kanjeng

07 April 2021

Ledwina  Eti Wuryani , Waingapu NTT

 

1.      Awal Mula Suka Menulis

Waktu itu saya begitu terkagum-kagum dengan nama orang yang tertulis di berbagai media. Pasti orang hebat. Pasti orang pintar. Terkesan intelek.  Saya berpikir pasti saya  bangga kalau namanya  bisa terpampang di koran hehe....kebetulan suami saya suka nulis. Bahkan suami  pernah juara menulis sewaktu masih mahasiswa  sampai dapat  hadiah  sejumlah uang. Waktu itu masih pacaran,  setiap  dapat uang  pasti saya  ditraktir. Asyik juga  pikirku.

Tanpa Sepengetahuan siapapun iseng saya nulis. Kalau omong suami  seandainya tulisan tidak terbit kan malu, jangan sampai saya kena olok.  Tulisan pertama saat ada lomba olimpiade sains  SMA  tingkat kabupaten tahun 2009. Saat itu terjadi  ketidakpuasan  tentang kejuaraan. Nah saat itu saya  buat opini dengan judul “Siapapun bisa dari juara”. Naskah saya ketik rapi, 600 karakter, saya kirim  ke koran Media rakyat saat itu. Koran lokal kabupaten. Eh!! Ternyata langsung terbit tanpa edit. Bahagia, bangga  campur aduk. Senang sekali pokoknya, nama dan foto  saya terpampang  jelas di koran itu. Saya kirim lagi di Sumba Pos, terbit lagi. Di Sumba Pembaharuan  muncul juga. Saya jadi kenal baik dengan  pimpinan redaksinya, sebuah kebanggan juga bagi saya.

Dari situ akhirnya saya sedikit dikenal, peserta didik yang suka baca, teman-teman luar sekolah dan ada  beberapa orang yang saya  tidak kenal, mereka kenal saya. Ketemu di warung bakso  atau di toko, misalnya orang tegur saya, Ibu Eti ya!, katanya. Haa..kenapa kenal saya,  saya lihat  fotonya ibu di koran. Kepala sekolah saya waktu itu, Bapak Drs Yeheskiel Rebo (alm) sering memuji saya dan sering dijadikan contoh supaya teman-teman  meniru saya untuk rajin menulis.  Antara bangga dan GR sedikit. Ahh! tak penting  yang terpenting  saya sudah bisa membuktikan bahwa ternyata menulis itu  tidak sesulit yang saya bayangkan dulu. “Menulis adalah sebuah keberanian yang tidak dimiliki semua orang.” ( Pramoedya Ananta Toer). Jadi saya pribadi  merasa  bangga karena saya adalah ‘salah satu’ yang ‘berani’ menulis.

Akhirnya saya berpikir, ternyata  menulis itu mudah. Tulisanku yang masih  pemula saja begitu dihargai. Diakui dan diterbitkan. Saat itu saya rajin kirim  naskah, tapi  karena beban tugas mengajar  dan adanya tugas tambahan  semakin banyak dan  padat  akhirnya  fakum juga. Macet!.

Bulan Maret 2020 corona datang. Sekolah  tutup. Pembelajaran BDR (Belajar dari Rumah). Pembelajaran dari jarak jauh ( PJJ). Saat itu  guru  ada watu lebih banyak karena di rumah saja. Saya  jadi rajin  buka HP, selain  ber-WA  juga  main FB. Dulu saya  sebelum PJJ jarang  main hp, tidak aktif juga di medsos, nama  Fb punya tapi tidak aktif. IG juga ada tapi tidak pernah buka.

Saat buka face book ada  tawaran pelatihan KMO ( Kelas Menulis OnLine) saya ikut.  Ada tawaran masuk grup menulis bunda Lilis,  Menulis Buku Inspirasi ( MBI) saya ikut. Ayo dipinang,  mari bergabung membuat buku ber-ISBN pasti  terbit dari Ibu kanjeng,  ikut juga. Asyik!. Termotivasi karena selain dapat sertifikat juga dapat pengalaman baru. Banyak teman pula, para penulis hebat seluruh Indonesia. Para anggota grup begitu baik. Begitu familiar, bahkan serasa bagai mendapatkan saudara. Walau belum pernah lihat sosoknya sama sekali, tapi seperti sudah kenal 100 tahun yang lalu. Nah, dari situ akhirnya bisa tambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga..

Akhirnya cinta lama bersemi kembali. Yang dulu menulis sudah terkubur dalam kini  jadi tumbuh lagi. Walau sudah tidak muda lagi, akhirnya saya berfikir untuk kenangan anak cucu kelak jika saya sudah tiada. Jika suatu saat mereka  baca buku saya, Oh!!, ternyata oma  itu dulu penulis! Hehe.....Biar Jasat terkubur tetapi tulisan bisa selalu dikenang disepanjang masa.

 

2.      Awal Mula Tahu dan Akhirnya Memutuskan ikut Group Om Jay.

Saya tergabung dalam kelas WAG Menulis Buku bersama Bunda Lilis ( Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH). Disitu  ada brosur yang muncul. Kubaca. Hati  seperti terhipnotis, langsung klik link pendaftaran. Sebenarnya saya sudah terdaftar  di gelombang 17, tapi karena belum bisa  membagi waktu jadi tidak aktif. Di awal bulan April 2021 ada lagi brosur yang masuk di WAG MBI, tak pikir panjang  akhirnya saya langsung  mendaftarkan diri. Resmi saya  peserta Belajar Menulis bersama Om Jay di gelombang 18.  Saya catt bu Aam, untuk salam kenal. Nara Sumber pertama bulan April bunda Lilis, Ibu Kanjeng, Om Jay dan pertemuan ke-4 yang saya ikut Nara Sumbernya Bu Rita Wati, S.Kom dari Bali.  Sekarang  sementara membuat resume pertemuan ke-4.

Sumba Timur, tempat tinggal saya  adalah salah satu sasaran amukan bencana banjir dan Badai Seroja Siklon 2021.  Suasana mencekan dari tanggal 4 – 7 April,  hujan tak pernah berhenti selama 4 hari, lebih 5000 rumah warga terendam banjir, jembatan utama patah, bendungan  jebol parah. Rumah saya terselamatkan karena ada di ketinggian. Puji Tuhan!, Beberapa saudara  mengungsi dirumah. Dampak dari itu  listrik  padam selama 4 hari. Sinyal hilang.  Saat saya menulis artikel ini listrik belum menyala. Ditemani temaran lilin dan sinar center baterai. Semua adalah cobaan. Pengalaman berharga. Kami harus selalu berpikir positif. Musibah ini  terjadi supaya  para pribadi refleksi. Termasuk saya. Trimakasih Tuhan, kami masih diselamatkan dan masih diberikan nafas kehidupan. Badai telah berlalu. Kini  saya membuka lembaran baru.

Masih semangat!!!, Semoga setelah tergabung bersama om Jay membuat saya  lebih  rajin menulis. Bisa mendapat ‘Mahkota’ sebagai penulis. Sebuah Buku hasil dari resume selama kegiatan belajar menulis. Buku yang terbit akan menemukan takdirnya. Mengukir mimpi menjadi penulis. Semoga.

 

3.      Kesan pertama tentang blog dan manfaat setelah menggunakan blog.

Secara pribadi sungguh saya pribadi ‘minder’ dengan  teman-teman  sesama peserta  belajar menulis. Mereka semua sudah ‘hebat’. Sementara saya sendiri belum menguasai. Masih  harus belajar lebih banyak. Resume yang  sudah saya buat ada 4, belum bisa terkirim  kendala jaringan  yang tidak ada akibat bencana. Sabar. Saya  jadi menghibur  diri, nanti akan indah  pada waktunya. Jadi orang harus optimis, berfikir logis, percaya diri dan  pasti akan ada  solusi. Padahal jika boleh jujur, asli,  saya orangnya ‘tak pernah percaya diri’ maka  tak pernah maju. Hatinya mau belajar, belajar dan terus belajar. Jadi ulama (Usia lanjut masih aktif), kata ibu kanjeng.  Mengikuti semangat beliau walau tidak muda lagi tapi tak boleh kalah dengan yang  muda. Trima kasih ibu kanjeng  untuk motivasinya.

Kesan pertama tentang blok, ternyata asyik. Menyenangkan.Dengan adanya blog  bisa menjadi ‘bank tulisan’. Selama ini tulisan seolah terhambur di file, My Dokument, di data D atau flash disck. Beresiko. Bisa hilang kalau komputer rusak. Di flash  disk  juga relatif  kurang aman. Tapi di blog, seolah tersimpan di langit luas yang super aman. Belum tulisan-tulisan bisa dipisahkan sesuai dengan label yang berbeda. Jadi jika kita perlu tinggal  ambil yang sesuai dengan label yang kita mau. Contoh  saya ada tulisan berbagai macam: pusisi, perenungan, cerpen, resume dan lain-lain. Masing-masing  dimasukkan di-rumah-nya. Nah nanti kalau kita perlu tinggal ambil  sesuai dengan yang kita butuhkan.

Manfaat setelah menggunakan blog. Dengan Blog tulisan lebih rapi. Lebih teratur karena sudah terperinci. Penampilan lebih keren,indah dan menarik. Up to Date. Berbagai tulisan, baik dalam bentuk pengetahuan, cerita dan pengalaman sehingga orang lain yang mencari suatu topik tertentu dapat menemukan tulisan kita. Memperluas dan membangun jaringan dapat dilakukan  dalam dunia blogger. Media promosi dan sarana menjual produk. Media aktualisasi diri karena seorang  blogger akan belajar untuk mengembangakan dan mengekspor lebih jauh serta berbagi  pengetahuan. Antar penulis bisa saling berbagi pengetahuan, bisa share karya kita kepada dunia.

 

4.      Hal yang paling Diingat dari materi ibu kanjeng

Pernyataan Ibu kanjeng: Kalau mau jadi penulis itu sering-seringlah berteman dengan penulis. Menulislah setiap hari agar segala kemalasan dan kemandegan dalam menulis akan hilang.  Jika kita banyak menulis membuat tulisan kita lebih berkualitas. Menulis itu bagaikan merancang atau mendisain baju. Setiap penulis  itu memiliki  warna tulisan yang berbeda. Tentunya harus rajin berlatih  agar memilki warna tulisan sendiri. Aku dengar. Aku melihat. Aku ingat. Aku melakukan . Aku Pasti Bisa!.

 

 

Senin, 22 Maret 2021

MEMBANGKITKAN PESONA DIRI BERKAT KARTINI

 

(Perjuangan Seorang Bidan Desa Tanarara)

 

 

Panggil saya  Lidia. Hari Kartini tak lama lagi. Betapa beruntungnya saya sekarang  bisa sekolah tinggi, walaupun saya seorang perempuan. Jaman dulu kebanyakan  perempuan tugasnya hanya di dapur, di sumur. Atau ‘hanya’ dianggap sebagai orang ‘belakang’. Wanita bangsawan saja yang boleh sekolah, rakyat biasa tak boleh sekolah.

        Trima kasih ibu Kartini, penjuang wanita tangguh!. Berkat jasamu kini kartini-kartini semakin maju, sesuai kemajuan  era global dan milenial. Keren!!. Jiwa Kartini semakin ’di muka’. Peran Wanita  sudah  tak diragukan lagi. Semangat Rajen Ajeng Kartini sudah merasuki setiap pribadi wanita seluiruh Indonesia.

        Kartini milenial adalah kartini masa kini. Wanita karier, smart penuh semangat. Wanita  yang kreatif, inovatif dan inspiratif. Kartini milenial memiliki kesempatan yang besar untuk terus maju dan berkarya.Tapi perlu diingat!. Bagaimanapun wanita tidak boleh meninggalkan kodratnya sebagai seorang ibu. Halus, penuh cinta, perasaan dan penyayang. Ciee...

         Kecil dulu saya bercita-cita jadi dokter. Betapa bangga rasa hati kalau saya bisa membantu orang yang sakit. Orang yang sakit berat  yang hidupnya susah dan tak ada biaya. Sering saya lihat di daerah tempat tinggalku. Apalagi  mereka yang di kampung  jauh dari kota, jika sakit berat tinggal tunggu kapan Tuhan jemput pulang. Saya berusaha bertekun belajar. Bersyukur  saya selalu mendapatkan peringkat umum  sejak SD hingga SMA. Saya bertekat bisa membanggakan orang tua yang  sudah  banyak berjasa untuk  aku dan adikku, Saka Supriyadi.

         Tapi cita-citapun ternyata kandas. Orang tuaku keberatan. Fakultas kedokteran pastilah  sangat mahal. Orang tua ‘angkat tangan’ membiayaku. Orang tua bukan pegawai tinggi tapi  ‘Hamba Tuhan’ yang melayani di kampung. Saya sangat mengerti kondisi keluarga. Akhirnya saya mendaftarkan jurusan lain yaitu Farmasi, Pendidikan, Kimia dan Kebidanan. Saya diterima semua waktu itu. Setelah berunding dengan pemikiran yang panjang  dan doa dalam keluarga akhirnya kami memilih kebidanan. Profesi yang tak jauh dari cita-citaku semula. Membantu orang sakit.

          Walaupun sebenarnya bukan cita-cita  yang utama tidak menyurutkanku untuk tetap semangat. Saya akan tekun belajar dan fokus kuliah. Papa dan mama sudah bersusah payah, berlelah-lelah demi mencukupkan biaya kuliahku. Puji Tuhan akhirnya aku bisa membuktikan dengan prestasi selama masa kuliah yaitu: 10 besar Mahasiswa berprestasi Program Studi D-III Kebidanan tahun 2014. Wisudawan dengan predikat Cumlaude Pada wisuda prodi D-III Kebidanan Tahun 2016. Mahasiswa berprestasi  Program Studi D-IV  bidan Pendidik tahun 2017. Wisudawan dengan predikat Cumlaude pada wisuda Prodi D-IV. Bidan pendidik predikat wisudawan Terbaik Program Studi D-IV Bidan Pendidik pada Wisuda Tahun 2017. Trimakasih  Tuhan Engkau selalu memberi semangat dalam setiap tugas dan kerjaku.



               Ingin sebenarnya saya melanjutkan kejenjang S2. Mengingat adikku juga harus kuliah, saya harus mengalah. Kini adikku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana di Kupang. Sebagai  kakak inilah saatnya  harus mengerti. Saya harus bekerja. Kerinduanku adalah  bisa membantu orang tua membiayai adikku satu-satunya. Kesayangan keluarga.

               Pada saat saya menunggu wisuda, ada waktu luang.  Dari  hasil ‘hadiah’ dan sisa tabungan, uang saya pakai untuk mengikuti  kursus menjahit dan rias pengantin. Saya tinggal di Waingapu, Sumba Timur NTT. Daerah yang belum maju layaknya kota-kota di Jawa. Semua masih serba  ketinggalan. Salon dan penjahit masih langka. Aku berpikir ketrampilan  itu pasti  bisa untuk tambahan penghasilan.

            Nach benar adanya. Setelah selesai wisuda saya pulang kampung. Awalnya saya  make up teman  SMA yang menikah. Alias gratis. Saya posting di FB. Teman-teman Fb-ku tahu dan koment. Rejeki memang tak salah alamat. Kini saya sudah ‘dikenal’ dan banyak mendapat kepercayaan untuk merias mereka diacara-acara penting bahkan pernikahan.

                          Pada tahun 2018 lagi gencar-gencarnya membahas pembangunan Indonesia tentang kesehatan, pariwisata dan pendidikan. Puji Tuhan! Saya terpilih menjadi delegasi yang membahas ‘kesehatan’ yang menjadi latar belakang kuliah saya. Saya terpilih untuk mewakili NTT mengikuti ajang bergengsi itu. ‘Rembug Pemuda Nasional di Indonesia’, Yuoth Collaboration Forum di Denpasar Bali. Kegiatan itu membuatku bangga dan merupakan ‘sejarah’ yang tak akan terlupakan dalam hidupku.

Hari-hariku di rumah terasa sepi.  Sambil menunggu tes PNS aku  membantu mama membuat kue, nasi kuning untuk dijual. Tak lama berselang saat yang ditunggu kini  tiba. Saya mendaftar CPNS Tahun 2018, pada saat itu pertama kalinya diberlakukan tes CPNS berbasis CAT. Mulai dari pendaftaran sampai dengan tes online. Seleksinya berlangsung 2 kali, yaitu Seleksi SKD dan SKB dengan standar passing gradenya masing-masing. Pada saat itu saya bersaing dengan 23 orang (peserta yang sama-sama mendaftar untuk formasi bidan di Puskesmas Tanarara). Puji Tuhan! Saat itu hanya saya sendiri yang lolos seleksi SKD dan skor yang kudapat melewati Passing Grade.Tak satupun teman peserta yang lain yang melewati Skor passing grade.tersebut. Alhasil  pada saat tes kedua yaitu SKB  tidak ada saingan tes lagi.

         Pada Maret 2019 SK 80% sudah ditangan. Setelah mengikuti prajabatan, pada bulan Oktober 2020 akhirnya SK 100% terbit.  Syah! Kini saya resmi ditempatkan di Puskesmas Tanarara, Desa Praibakul, Kecamatan Matawai La Pawu, sebagai Bidan Pelaksana.

Jarak dari rumah menuju Puskesmas  70-an km.  Dengan kondisi jalan menuju puskesmas sangat rusak, berlubang, berlumpur. Jalan dibatasi oleh jurang dikanan kirinya. Untuk pergi ke lokasi harus melewati  padang sabana. Perbukitan luas bahkan hutan belantara. Situasi sangat sepi, ngeri  dan terasa  angker.

        Di mess setiap malam ditemani  dengan nyamuk. Sesekali desiran ular yang  kami harus terus waspada.  Cuaca yang tidak pernah  menentu. Matahari tak pernah muncul apalagi tersenyum. Suasana teramat dingin menyusup tubuh. Awan dan kabut selalu menemani .Suhu udara  selalu dibawah 26o C. Ohh!!.... dinginnya setengah mati.

         Saat pertama datang, kamar mess  sudah siap. Ukurannya 1,5m x 2m. hanya cukup untuk 1 kasur ukuran 90x2m dan lemari plastik kecil. Dan kaca jendela berlubang. Siap setiap malam menerima angin dan hujan masuk di kamar. Berulang kali saya sakit karena belum bisa menyesuaikan diri.  Sedih!!. Saya menangis, merenung sendiri kenapa saya memilih  menjadi PNS disini?. Di tempat yang terasa asing?. Tak seorangpun ada yang kukenal. Air sangat susah, Untuk mendapatkan air harus menimba di sumur  tetangga yang airnya sangat terbatas. Jarak antar  rumah  bisa 1 km. Jika ambil air  harus pagi-pagi sekali. Sebenarnya ada juga sumur di puskesmas, tapi kadang-kala kering.

           Pengabdian dimulai. Dengan seragam kebanggan kami siap melaksanakan tugas negara. Jarak rumah pasien dengan tempat pelayanan kesehatan sangat jauh dan sulit di jangkau. Jaringan telpon dan internet belum tersedia di semua desa. Apalagi saat ini sudah diterapkan revolusi KIA yaitu semua ibu hamil wajib melahirkan difasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Harus ditolong oleh petugas kesehatan yaitu di puskesmas. Ada banyak ibu hamil yang masih kesulitan ke puskesmas mengingat jarak tempuh yang jauh.   Karena beratnya medan dan tidak ada transportasi. Ada saja dari mereka harus jalan kaki atau naik kuda untuk menuju puskesmas.

          Sebagai solusi  pemerintah kecamatan  bekerjasama dengan desa membangun ‘rumah tunggu bagi ibu-ibu hamil. Mereka dapat datang dan tinggal beberapa hari di puskesmas sebelum melahirkan. Sehingga saat ini, semua ibu-ibu hamil dari tempat yang jauh, akan dijemput oleh petugas puskesmas di H-7. Dengan adanya rumah tunggu, diharapkan semakin tinggi angka persalinan di fasilitas kesehatan. Sehingga menurunkan angka kematian ibu dan bayinya. Sebelumnya penduduk melahirkan hanya di rumah saja dengan dibantu oleh ibu dukun beranak. Resiko ibu dan bayi meninggal besar. Sebagai kami meningkatkan kemitraan antara bidan dengan dukun/kader. Tentunya dengan harapan  dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kehamilan dan melahirkan di puskesmas.

 






 

            Saat itu saya masih ingat   ingin lanjut S2. Yang nota bene jadi dosen. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain yang sangat mulia .Sejauh dan sekuat apapun saya. Saya tidak bisa lari dan menghindar  dari rencana Tuhan. Pertama kali saya menolong persalinan sendirian.  Diakhir persalinan ibu dan keluarga mengucapkan “terimakasih”. Mereka begitu bahagia atas bantuan yang saya lakukan. Senang, bangga, terharu rasa hati saya.Trimakasih Tuhan, saya bisa bermanfaat untuk sesama. Saat mencuci alat dan membereskan alat persalinan tak terasa air matapun jatuh membasahi pipi.

         Ternyata dengan kata terimakasih  bisa menghipnotis saya. Saya sungguh sangat  terharu. Saya merasa bahwa menjadi seorang bidan itu pekerjaan yang  mulia. Bidan itu bukan sekedar profesi tetapi sebuah anugrah dari Tuhan. Punya naluri untuk melayani.. Dalam tugas bidan harus siap siaga 24 jam.  Siap menyelamatkan dua nyawa ( ibu dan anak) . Seorang bidan dituntut harus serba bisa, serba siap, dan serba tahu.

         Dari situ saya mulai mencintai profesi saya, sampai dengan saat ini setiap kali orang mengucapkan terimakasih kepada saya, saya merasa itu adalah bentuk penghargaan tertinggi. Bukan soal uang, imbalan atau capaian kerja. Tapi sebuah pengabdian dan pelayanan  luhur. Saya sudah bisa menjadi penyalur berkat buat orang lain.

        Pengalaman menjadi bidan semua berkesan. Senang, semangat, bangga bahkan sampai terharu. Saya harus mengunjungi ibu hamil ke rumah-rumah  mereka. Ada pasien yang jarak rumah-puskesmas ditempuh 4 jam perjalanan. Lokasi perbukitan. Naik turun gunung.  Menyebrang kali yang deras. Menyusuri hutan lebat.Banyak juga pohon beringin yang umurnya ratusan tahun.  Bahkan  sering ada kejadian-kejadian yang diluar dugaan kita. Jatuh dijurang. Digigit ular. Itu cerita yang sudah bisa. Mengingat  situasi yang begitu, tak mungkinlah ibu hamil besar harus pergi ke Puskesman. Wah!!. bisa jadi mereka melahirkan dijalan.

       Trimakasih, sebagai seorang bidan desa saya sudah bisa berbagi cerita. Jadi bidan  tangguh dan perkasa. Apapun halangan, rintangan dan hambatan selalu saya hadapi dengan suka cita. Bidan adalah ‘wonder woman. Siap bisa melayani! Kapanpun! Dimanapun!

        Yuk!!  Kita bersama kita sepakat untuk sadar. Periksakan diri ke faske kesehatan terlebih bagi para ibu hamil. Kami siap melayani dengan senang hati. Percayakan dengan  ahlinya. Ibu sehat, bayi sehat keluarga bahagia.

         Trimakasih ibu Kartini. Terpujilah wahai ibu. Karenamu aku bisa berbakti untuk  tanah tumpah darahku. Bisa membuktikan mentalku sekuat baja. Membakar semangatku  membahana. Membuat hatiku teguh bak batu karang. Dan mengajariku untuk peduli  dan memberi ‘kasih’ untuk sesamaku.

Tolonglah lebih dulu orang yang tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu. Karena merekalah yang akan tulus mendoakanmu.

 

 

Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang. Selain  ibu rumah tangga penulis  masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit dari penulis  adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Mengungkap rahasia, Belajar di Tengah Corona dan lain-lain. Sekarang ini penulis tinggal  di  Jl Trikora RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan  keberhasilan dalam kehidupan.

 

 

 

 

 MEMBANGKITKAN PESONA DIRI BERKAT KARTINI

(Perjuangan Seorang Bidan Desa Tanarara)

 

 

Panggil saya  Lidia. Hari Kartini tak lama lagi. Betapa beruntungnya saya sekarang  bisa sekolah tinggi, walaupun saya seorang perempuan. Jaman dulu kebanyakan  perempuan tugasnya hanya di dapur, di sumur. Atau ‘hanya’ dianggap sebagai orang ‘belakang’. Wanita bangsawan saja yang boleh sekolah, rakyat biasa tak boleh sekolah.

        Trima kasih ibu Kartini, penjuang wanita tangguh!. Berkat jasamu kini kartini-kartini semakin maju, sesuai kemajuan  era global dan milenial. Keren!!. Jiwa Kartini semakin ’di muka’. Peran Wanita  sudah  tak diragukan lagi. Semangat Rajen Ajeng Kartini sudah merasuki setiap pribadi wanita seluiruh Indonesia.

        Kartini milenial adalah kartini masa kini. Wanita karier, smart penuh semangat. Wanita  yang kreatif, inovatif dan inspiratif. Kartini milenial memiliki kesempatan yang besar untuk terus maju dan berkarya.Tapi perlu diingat!. Bagaimanapun wanita tidak boleh meninggalkan kodratnya sebagai seorang ibu. Halus, penuh cinta, perasaan dan penyayang. Ciee...

         Kecil dulu saya bercita-cita jadi dokter. Betapa bangga rasa hati kalau saya bisa membantu orang yang sakit. Orang yang sakit berat  yang hidupnya susah dan tak ada biaya. Sering saya lihat di daerah tempat tinggalku. Apalagi  mereka yang di kampung  jauh dari kota, jika sakit berat tinggal tunggu kapan Tuhan jemput pulang. Saya berusaha bertekun belajar. Bersyukur  saya selalu mendapatkan peringkat umum  sejak SD hingga SMA. Saya bertekat bisa membanggakan orang tua yang  sudah  banyak berjasa untuk  aku dan adikku, Saka Supriyadi.

         Tapi cita-citapun ternyata kandas. Orang tuaku keberatan. Fakultas kedokteran pastilah  sangat mahal. Orang tua ‘angkat tangan’ membiayaku. Orang tua bukan pegawai tinggi tapi  ‘Hamba Tuhan’ yang melayani di kampung. Saya sangat mengerti kondisi keluarga. Akhirnya saya mendaftarkan jurusan lain yaitu Farmasi, Pendidikan, Kimia dan Kebidanan. Saya diterima semua waktu itu. Setelah berunding dengan pemikiran yang panjang  dan doa dalam keluarga akhirnya kami memilih kebidanan. Profesi yang tak jauh dari cita-citaku semula. Membantu orang sakit.

          Walaupun sebenarnya bukan cita-cita  yang utama tidak menyurutkanku untuk tetap semangat. Saya akan tekun belajar dan fokus kuliah. Papa dan mama sudah bersusah payah, berlelah-lelah demi mencukupkan biaya kuliahku. Puji Tuhan akhirnya aku bisa membuktikan dengan prestasi selama masa kuliah yaitu: 10 besar Mahasiswa berprestasi Program Studi D-III Kebidanan tahun 2014. Wisudawan dengan predikat Cumlaude Pada wisuda prodi D-III Kebidanan Tahun 2016. Mahasiswa berprestasi  Program Studi D-IV  bidan Pendidik tahun 2017. Wisudawan dengan predikat Cumlaude pada wisuda Prodi D-IV. Bidan pendidik predikat wisudawan Terbaik Program Studi D-IV Bidan Pendidik pada Wisuda Tahun 2017. Trimakasih  Tuhan Engkau selalu memberi semangat dalam setiap tugas dan kerjaku.

               Ingin sebenarnya saya melanjutkan kejenjang S2. Mengingat adikku juga harus kuliah, saya harus mengalah. Kini adikku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana di Kupang. Sebagai  kakak inilah saatnya  harus mengerti. Saya harus bekerja. Kerinduanku adalah  bisa membantu orang tua membiayai adikku satu-satunya. Kesayangan keluarga.

               Pada saat saya menunggu wisuda, ada waktu luang.  Dari  hasil ‘hadiah’ dan sisa tabungan, uang saya pakai untuk mengikuti  kursus menjahit dan rias pengantin. Saya tinggal di Waingapu, Sumba Timur NTT. Daerah yang belum maju layaknya kota-kota di Jawa. Semua masih serba  ketinggalan. Salon dan penjahit masih langka. Aku berpikir ketrampilan  itu pasti  bisa untuk tambahan penghasilan.

            Nach benar adanya. Setelah selesai wisuda saya pulang kampung. Awalnya saya  make up teman  SMA yang menikah. Alias gratis. Saya posting di FB. Teman-teman Fb-ku tahu dan koment. Rejeki memang tak salah alamat. Kini saya sudah ‘dikenal’ dan banyak mendapat kepercayaan untuk merias mereka diacara-acara penting bahkan pernikahan.

                          Pada tahun 2018 lagi gencar-gencarnya membahas pembangunan Indonesia tentang kesehatan, pariwisata dan pendidikan. Puji Tuhan! Saya terpilih menjadi delegasi yang membahas ‘kesehatan’ yang menjadi latar belakang kuliah saya. Saya terpilih untuk mewakili NTT mengikuti ajang bergengsi itu. ‘Rembug Pemuda Nasional di Indonesia’, Yuoth Collaboration Forum di Denpasar Bali. Kegiatan itu membuatku bangga dan merupakan ‘sejarah’ yang tak akan terlupakan dalam hidupku.

Hari-hariku di rumah terasa sepi.  Sambil menunggu tes PNS aku  membantu mama membuat kue, nasi kuning untuk dijual. Tak lama berselang saat yang ditunggu kini  tiba. Saya mendaftar CPNS Tahun 2018, pada saat itu pertama kalinya diberlakukan tes CPNS berbasis CAT. Mulai dari pendaftaran sampai dengan tes online. Seleksinya berlangsung 2 kali, yaitu Seleksi SKD dan SKB dengan standar passing gradenya masing-masing. Pada saat itu saya bersaing dengan 23 orang (peserta yang sama-sama mendaftar untuk formasi bidan di Puskesmas Tanarara). Puji Tuhan! Saat itu hanya saya sendiri yang lolos seleksi SKD dan skor yang kudapat melewati Passing Grade.Tak satupun teman peserta yang lain yang melewati Skor passing grade.tersebut. Alhasil  pada saat tes kedua yaitu SKB  tidak ada saingan tes lagi.

         Pada Maret 2019 SK 80% sudah ditangan. Setelah mengikuti prajabatan, pada bulan Oktober 2020 akhirnya SK 100% terbit.  Syah! Kini saya resmi ditempatkan di Puskesmas Tanarara, Desa Praibakul, Kecamatan Matawai La Pawu, sebagai Bidan Pelaksana.

Jarak dari rumah menuju Puskesmas  70-an km.  Dengan kondisi jalan menuju puskesmas sangat rusak, berlubang, berlumpur. Jalan dibatasi oleh jurang dikanan kirinya. Untuk pergi ke lokasi harus melewati  padang sabana. Perbukitan luas bahkan hutan belantara. Situasi sangat sepi, ngeri  dan terasa  angker.

        Di mess setiap malam ditemani  dengan nyamuk. Sesekali desiran ular yang  kami harus terus waspada.  Cuaca yang tidak pernah  menentu. Matahari tak pernah muncul apalagi tersenyum. Suasana teramat dingin menyusup tubuh. Awan dan kabut selalu menemani .Suhu udara  selalu dibawah 26o C. Ohh!!.... dinginnya setengah mati.

         Saat pertama datang, kamar mess  sudah siap. Ukurannya 1,5m x 2m. hanya cukup untuk 1 kasur ukuran 90x2m dan lemari plastik kecil. Dan kaca jendela berlubang. Siap setiap malam menerima angin dan hujan masuk di kamar. Berulang kali saya sakit karena belum bisa menyesuaikan diri.  Sedih!!. Saya menangis, merenung sendiri kenapa saya memilih  menjadi PNS disini?. Di tempat yang terasa asing?. Tak seorangpun ada yang kukenal. Air sangat susah, Untuk mendapatkan air harus menimba di sumur  tetangga yang airnya sangat terbatas. Jarak antar  rumah  bisa 1 km. Jika ambil air  harus pagi-pagi sekali. Sebenarnya ada juga sumur di puskesmas, tapi kadang-kala kering.

           Pengabdian dimulai. Dengan seragam kebanggan kami siap melaksanakan tugas negara. Jarak rumah pasien dengan tempat pelayanan kesehatan sangat jauh dan sulit di jangkau. Jaringan telpon dan internet belum tersedia di semua desa. Apalagi saat ini sudah diterapkan revolusi KIA yaitu semua ibu hamil wajib melahirkan difasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Harus ditolong oleh petugas kesehatan yaitu di puskesmas. Ada banyak ibu hamil yang masih kesulitan ke puskesmas mengingat jarak tempuh yang jauh.   Karena beratnya medan dan tidak ada transportasi. Ada saja dari mereka harus jalan kaki atau naik kuda untuk menuju puskesmas.

          Sebagai solusi  pemerintah kecamatan  bekerjasama dengan desa membangun ‘rumah tunggu bagi ibu-ibu hamil. Mereka dapat datang dan tinggal beberapa hari di puskesmas sebelum melahirkan. Sehingga saat ini, semua ibu-ibu hamil dari tempat yang jauh, akan dijemput oleh petugas puskesmas di H-7. Dengan adanya rumah tunggu, diharapkan semakin tinggi angka persalinan di fasilitas kesehatan. Sehingga menurunkan angka kematian ibu dan bayinya. Sebelumnya penduduk melahirkan hanya di rumah saja dengan dibantu oleh ibu dukun beranak. Resiko ibu dan bayi meninggal besar. Sebagai kami meningkatkan kemitraan antara bidan dengan dukun/kader. Tentunya dengan harapan  dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kehamilan dan melahirkan di puskesmas.

 

 

            Saat itu saya masih ingat   ingin lanjut S2. Yang nota bene jadi dosen. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain yang sangat mulia .Sejauh dan sekuat apapun saya. Saya tidak bisa lari dan menghindar  dari rencana Tuhan. Pertama kali saya menolong persalinan sendirian.  Diakhir persalinan ibu dan keluarga mengucapkan “terimakasih”. Mereka begitu bahagia atas bantuan yang saya lakukan. Senang, bangga, terharu rasa hati saya.Trimakasih Tuhan, saya bisa bermanfaat untuk sesama. Saat mencuci alat dan membereskan alat persalinan tak terasa air matapun jatuh membasahi pipi.

         Ternyata dengan kata terimakasih  bisa menghipnotis saya. Saya sungguh sangat  terharu. Saya merasa bahwa menjadi seorang bidan itu pekerjaan yang  mulia. Bidan itu bukan sekedar profesi tetapi sebuah anugrah dari Tuhan. Punya naluri untuk melayani.. Dalam tugas bidan harus siap siaga 24 jam.  Siap menyelamatkan dua nyawa ( ibu dan anak) . Seorang bidan dituntut harus serba bisa, serba siap, dan serba tahu.

         Dari situ saya mulai mencintai profesi saya, sampai dengan saat ini setiap kali orang mengucapkan terimakasih kepada saya, saya merasa itu adalah bentuk penghargaan tertinggi. Bukan soal uang, imbalan atau capaian kerja. Tapi sebuah pengabdian dan pelayanan  luhur. Saya sudah bisa menjadi penyalur berkat buat orang lain.

        Pengalaman menjadi bidan semua berkesan. Senang, semangat, bangga bahkan sampai terharu. Saya harus mengunjungi ibu hamil ke rumah-rumah  mereka. Ada pasien yang jarak rumah-puskesmas ditempuh 4 jam perjalanan. Lokasi perbukitan. Naik turun gunung.  Menyebrang kali yang deras. Menyusuri hutan lebat.Banyak juga pohon beringin yang umurnya ratusan tahun.  Bahkan  sering ada kejadian-kejadian yang diluar dugaan kita. Jatuh dijurang. Digigit ular. Itu cerita yang sudah bisa. Mengingat  situasi yang begitu, tak mungkinlah ibu hamil besar harus pergi ke Puskesman. Wah!!. bisa jadi mereka melahirkan dijalan.

       Trimakasih, sebagai seorang bidan desa saya sudah bisa berbagi cerita. Jadi bidan  tangguh dan perkasa. Apapun halangan, rintangan dan hambatan selalu saya hadapi dengan suka cita. Bidan adalah ‘wonder woman. Siap bisa melayani! Kapanpun! Dimanapun!

        Yuk!!  Kita bersama kita sepakat untuk sadar. Periksakan diri ke faske kesehatan terlebih bagi para ibu hamil. Kami siap melayani dengan senang hati. Percayakan dengan  ahlinya. Ibu sehat, bayi sehat keluarga bahagia.

         Trimakasih ibu Kartini. Terpujilah wahai ibu. Karenamu aku bisa berbakti untuk  tanah tumpah darahku. Bisa membuktikan mentalku sekuat baja. Membakar semangatku  membahana. Membuat hatiku teguh bak batu karang. Dan mengajariku untuk peduli  dan memberi ‘kasih’ untuk sesamaku.

Tolonglah lebih dulu orang yang tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu. Karena merekalah yang akan tulus mendoakanmu.

 

 

Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang. Selain  ibu rumah tangga penulis  masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit dari penulis  adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Mengungkap rahasia, Belajar di Tengah Corona dan lain-lain. Sekarang ini penulis tinggal  di  Jl Trikora RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan  keberhasilan dalam kehidupan.

 

 

 

 

 MEMBANGKITKAN PESONA DIRI BERKAT KARTINI

(Perjuangan Seorang Bidan Desa Tanarara)

 

 

Panggil saya  Lidia. Hari Kartini tak lama lagi. Betapa beruntungnya saya sekarang  bisa sekolah tinggi, walaupun saya seorang perempuan. Jaman dulu kebanyakan  perempuan tugasnya hanya di dapur, di sumur. Atau ‘hanya’ dianggap sebagai orang ‘belakang’. Wanita bangsawan saja yang boleh sekolah, rakyat biasa tak boleh sekolah.

        Trima kasih ibu Kartini, penjuang wanita tangguh!. Berkat jasamu kini kartini-kartini semakin maju, sesuai kemajuan  era global dan milenial. Keren!!. Jiwa Kartini semakin ’di muka’. Peran Wanita  sudah  tak diragukan lagi. Semangat Rajen Ajeng Kartini sudah merasuki setiap pribadi wanita seluiruh Indonesia.

        Kartini milenial adalah kartini masa kini. Wanita karier, smart penuh semangat. Wanita  yang kreatif, inovatif dan inspiratif. Kartini milenial memiliki kesempatan yang besar untuk terus maju dan berkarya.Tapi perlu diingat!. Bagaimanapun wanita tidak boleh meninggalkan kodratnya sebagai seorang ibu. Halus, penuh cinta, perasaan dan penyayang. Ciee...

         Kecil dulu saya bercita-cita jadi dokter. Betapa bangga rasa hati kalau saya bisa membantu orang yang sakit. Orang yang sakit berat  yang hidupnya susah dan tak ada biaya. Sering saya lihat di daerah tempat tinggalku. Apalagi  mereka yang di kampung  jauh dari kota, jika sakit berat tinggal tunggu kapan Tuhan jemput pulang. Saya berusaha bertekun belajar. Bersyukur  saya selalu mendapatkan peringkat umum  sejak SD hingga SMA. Saya bertekat bisa membanggakan orang tua yang  sudah  banyak berjasa untuk  aku dan adikku, Saka Supriyadi.

         Tapi cita-citapun ternyata kandas. Orang tuaku keberatan. Fakultas kedokteran pastilah  sangat mahal. Orang tua ‘angkat tangan’ membiayaku. Orang tua bukan pegawai tinggi tapi  ‘Hamba Tuhan’ yang melayani di kampung. Saya sangat mengerti kondisi keluarga. Akhirnya saya mendaftarkan jurusan lain yaitu Farmasi, Pendidikan, Kimia dan Kebidanan. Saya diterima semua waktu itu. Setelah berunding dengan pemikiran yang panjang  dan doa dalam keluarga akhirnya kami memilih kebidanan. Profesi yang tak jauh dari cita-citaku semula. Membantu orang sakit.

          Walaupun sebenarnya bukan cita-cita  yang utama tidak menyurutkanku untuk tetap semangat. Saya akan tekun belajar dan fokus kuliah. Papa dan mama sudah bersusah payah, berlelah-lelah demi mencukupkan biaya kuliahku. Puji Tuhan akhirnya aku bisa membuktikan dengan prestasi selama masa kuliah yaitu: 10 besar Mahasiswa berprestasi Program Studi D-III Kebidanan tahun 2014. Wisudawan dengan predikat Cumlaude Pada wisuda prodi D-III Kebidanan Tahun 2016. Mahasiswa berprestasi  Program Studi D-IV  bidan Pendidik tahun 2017. Wisudawan dengan predikat Cumlaude pada wisuda Prodi D-IV. Bidan pendidik predikat wisudawan Terbaik Program Studi D-IV Bidan Pendidik pada Wisuda Tahun 2017. Trimakasih  Tuhan Engkau selalu memberi semangat dalam setiap tugas dan kerjaku.

               Ingin sebenarnya saya melanjutkan kejenjang S2. Mengingat adikku juga harus kuliah, saya harus mengalah. Kini adikku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana di Kupang. Sebagai  kakak inilah saatnya  harus mengerti. Saya harus bekerja. Kerinduanku adalah  bisa membantu orang tua membiayai adikku satu-satunya. Kesayangan keluarga.

               Pada saat saya menunggu wisuda, ada waktu luang.  Dari  hasil ‘hadiah’ dan sisa tabungan, uang saya pakai untuk mengikuti  kursus menjahit dan rias pengantin. Saya tinggal di Waingapu, Sumba Timur NTT. Daerah yang belum maju layaknya kota-kota di Jawa. Semua masih serba  ketinggalan. Salon dan penjahit masih langka. Aku berpikir ketrampilan  itu pasti  bisa untuk tambahan penghasilan.

            Nach benar adanya. Setelah selesai wisuda saya pulang kampung. Awalnya saya  make up teman  SMA yang menikah. Alias gratis. Saya posting di FB. Teman-teman Fb-ku tahu dan koment. Rejeki memang tak salah alamat. Kini saya sudah ‘dikenal’ dan banyak mendapat kepercayaan untuk merias mereka diacara-acara penting bahkan pernikahan.

                          Pada tahun 2018 lagi gencar-gencarnya membahas pembangunan Indonesia tentang kesehatan, pariwisata dan pendidikan. Puji Tuhan! Saya terpilih menjadi delegasi yang membahas ‘kesehatan’ yang menjadi latar belakang kuliah saya. Saya terpilih untuk mewakili NTT mengikuti ajang bergengsi itu. ‘Rembug Pemuda Nasional di Indonesia’, Yuoth Collaboration Forum di Denpasar Bali. Kegiatan itu membuatku bangga dan merupakan ‘sejarah’ yang tak akan terlupakan dalam hidupku.

Hari-hariku di rumah terasa sepi.  Sambil menunggu tes PNS aku  membantu mama membuat kue, nasi kuning untuk dijual. Tak lama berselang saat yang ditunggu kini  tiba. Saya mendaftar CPNS Tahun 2018, pada saat itu pertama kalinya diberlakukan tes CPNS berbasis CAT. Mulai dari pendaftaran sampai dengan tes online. Seleksinya berlangsung 2 kali, yaitu Seleksi SKD dan SKB dengan standar passing gradenya masing-masing. Pada saat itu saya bersaing dengan 23 orang (peserta yang sama-sama mendaftar untuk formasi bidan di Puskesmas Tanarara). Puji Tuhan! Saat itu hanya saya sendiri yang lolos seleksi SKD dan skor yang kudapat melewati Passing Grade.Tak satupun teman peserta yang lain yang melewati Skor passing grade.tersebut. Alhasil  pada saat tes kedua yaitu SKB  tidak ada saingan tes lagi.

         Pada Maret 2019 SK 80% sudah ditangan. Setelah mengikuti prajabatan, pada bulan Oktober 2020 akhirnya SK 100% terbit.  Syah! Kini saya resmi ditempatkan di Puskesmas Tanarara, Desa Praibakul, Kecamatan Matawai La Pawu, sebagai Bidan Pelaksana.

Jarak dari rumah menuju Puskesmas  70-an km.  Dengan kondisi jalan menuju puskesmas sangat rusak, berlubang, berlumpur. Jalan dibatasi oleh jurang dikanan kirinya. Untuk pergi ke lokasi harus melewati  padang sabana. Perbukitan luas bahkan hutan belantara. Situasi sangat sepi, ngeri  dan terasa  angker.

        Di mess setiap malam ditemani  dengan nyamuk. Sesekali desiran ular yang  kami harus terus waspada.  Cuaca yang tidak pernah  menentu. Matahari tak pernah muncul apalagi tersenyum. Suasana teramat dingin menyusup tubuh. Awan dan kabut selalu menemani .Suhu udara  selalu dibawah 26o C. Ohh!!.... dinginnya setengah mati.

         Saat pertama datang, kamar mess  sudah siap. Ukurannya 1,5m x 2m. hanya cukup untuk 1 kasur ukuran 90x2m dan lemari plastik kecil. Dan kaca jendela berlubang. Siap setiap malam menerima angin dan hujan masuk di kamar. Berulang kali saya sakit karena belum bisa menyesuaikan diri.  Sedih!!. Saya menangis, merenung sendiri kenapa saya memilih  menjadi PNS disini?. Di tempat yang terasa asing?. Tak seorangpun ada yang kukenal. Air sangat susah, Untuk mendapatkan air harus menimba di sumur  tetangga yang airnya sangat terbatas. Jarak antar  rumah  bisa 1 km. Jika ambil air  harus pagi-pagi sekali. Sebenarnya ada juga sumur di puskesmas, tapi kadang-kala kering.

           Pengabdian dimulai. Dengan seragam kebanggan kami siap melaksanakan tugas negara. Jarak rumah pasien dengan tempat pelayanan kesehatan sangat jauh dan sulit di jangkau. Jaringan telpon dan internet belum tersedia di semua desa. Apalagi saat ini sudah diterapkan revolusi KIA yaitu semua ibu hamil wajib melahirkan difasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Harus ditolong oleh petugas kesehatan yaitu di puskesmas. Ada banyak ibu hamil yang masih kesulitan ke puskesmas mengingat jarak tempuh yang jauh.   Karena beratnya medan dan tidak ada transportasi. Ada saja dari mereka harus jalan kaki atau naik kuda untuk menuju puskesmas.

          Sebagai solusi  pemerintah kecamatan  bekerjasama dengan desa membangun ‘rumah tunggu bagi ibu-ibu hamil. Mereka dapat datang dan tinggal beberapa hari di puskesmas sebelum melahirkan. Sehingga saat ini, semua ibu-ibu hamil dari tempat yang jauh, akan dijemput oleh petugas puskesmas di H-7. Dengan adanya rumah tunggu, diharapkan semakin tinggi angka persalinan di fasilitas kesehatan. Sehingga menurunkan angka kematian ibu dan bayinya. Sebelumnya penduduk melahirkan hanya di rumah saja dengan dibantu oleh ibu dukun beranak. Resiko ibu dan bayi meninggal besar. Sebagai kami meningkatkan kemitraan antara bidan dengan dukun/kader. Tentunya dengan harapan  dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kehamilan dan melahirkan di puskesmas.

 

 

            Saat itu saya masih ingat   ingin lanjut S2. Yang nota bene jadi dosen. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain yang sangat mulia .Sejauh dan sekuat apapun saya. Saya tidak bisa lari dan menghindar  dari rencana Tuhan. Pertama kali saya menolong persalinan sendirian.  Diakhir persalinan ibu dan keluarga mengucapkan “terimakasih”. Mereka begitu bahagia atas bantuan yang saya lakukan. Senang, bangga, terharu rasa hati saya.Trimakasih Tuhan, saya bisa bermanfaat untuk sesama. Saat mencuci alat dan membereskan alat persalinan tak terasa air matapun jatuh membasahi pipi.

         Ternyata dengan kata terimakasih  bisa menghipnotis saya. Saya sungguh sangat  terharu. Saya merasa bahwa menjadi seorang bidan itu pekerjaan yang  mulia. Bidan itu bukan sekedar profesi tetapi sebuah anugrah dari Tuhan. Punya naluri untuk melayani.. Dalam tugas bidan harus siap siaga 24 jam.  Siap menyelamatkan dua nyawa ( ibu dan anak) . Seorang bidan dituntut harus serba bisa, serba siap, dan serba tahu.

         Dari situ saya mulai mencintai profesi saya, sampai dengan saat ini setiap kali orang mengucapkan terimakasih kepada saya, saya merasa itu adalah bentuk penghargaan tertinggi. Bukan soal uang, imbalan atau capaian kerja. Tapi sebuah pengabdian dan pelayanan  luhur. Saya sudah bisa menjadi penyalur berkat buat orang lain.

        Pengalaman menjadi bidan semua berkesan. Senang, semangat, bangga bahkan sampai terharu. Saya harus mengunjungi ibu hamil ke rumah-rumah  mereka. Ada pasien yang jarak rumah-puskesmas ditempuh 4 jam perjalanan. Lokasi perbukitan. Naik turun gunung.  Menyebrang kali yang deras. Menyusuri hutan lebat.Banyak juga pohon beringin yang umurnya ratusan tahun.  Bahkan  sering ada kejadian-kejadian yang diluar dugaan kita. Jatuh dijurang. Digigit ular. Itu cerita yang sudah bisa. Mengingat  situasi yang begitu, tak mungkinlah ibu hamil besar harus pergi ke Puskesman. Wah!!. bisa jadi mereka melahirkan dijalan.

       Trimakasih, sebagai seorang bidan desa saya sudah bisa berbagi cerita. Jadi bidan  tangguh dan perkasa. Apapun halangan, rintangan dan hambatan selalu saya hadapi dengan suka cita. Bidan adalah ‘wonder woman. Siap bisa melayani! Kapanpun! Dimanapun!

        Yuk!!  Kita bersama kita sepakat untuk sadar. Periksakan diri ke faske kesehatan terlebih bagi para ibu hamil. Kami siap melayani dengan senang hati. Percayakan dengan  ahlinya. Ibu sehat, bayi sehat keluarga bahagia.

         Trimakasih ibu Kartini. Terpujilah wahai ibu. Karenamu aku bisa berbakti untuk  tanah tumpah darahku. Bisa membuktikan mentalku sekuat baja. Membakar semangatku  membahana. Membuat hatiku teguh bak batu karang. Dan mengajariku untuk peduli  dan memberi ‘kasih’ untuk sesamaku.

Tolonglah lebih dulu orang yang tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu. Karena merekalah yang akan tulus mendoakanmu.

 

 

Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang. Selain  ibu rumah tangga penulis  masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit dari penulis  adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Mengungkap rahasia, Belajar di Tengah Corona dan lain-lain. Sekarang ini penulis tinggal  di  Jl Trikora RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan  keberhasilan dalam kehidupan.

 

 

 

 

 MEMBANGKITKAN PESONA DIRI BERKAT KARTINI

(Perjuangan Seorang Bidan Desa Tanarara)

 

 

Panggil saya  Lidia. Hari Kartini tak lama lagi. Betapa beruntungnya saya sekarang  bisa sekolah tinggi, walaupun saya seorang perempuan. Jaman dulu kebanyakan  perempuan tugasnya hanya di dapur, di sumur. Atau ‘hanya’ dianggap sebagai orang ‘belakang’. Wanita bangsawan saja yang boleh sekolah, rakyat biasa tak boleh sekolah.

        Trima kasih ibu Kartini, penjuang wanita tangguh!. Berkat jasamu kini kartini-kartini semakin maju, sesuai kemajuan  era global dan milenial. Keren!!. Jiwa Kartini semakin ’di muka’. Peran Wanita  sudah  tak diragukan lagi. Semangat Rajen Ajeng Kartini sudah merasuki setiap pribadi wanita seluiruh Indonesia.

        Kartini milenial adalah kartini masa kini. Wanita karier, smart penuh semangat. Wanita  yang kreatif, inovatif dan inspiratif. Kartini milenial memiliki kesempatan yang besar untuk terus maju dan berkarya.Tapi perlu diingat!. Bagaimanapun wanita tidak boleh meninggalkan kodratnya sebagai seorang ibu. Halus, penuh cinta, perasaan dan penyayang. Ciee...

         Kecil dulu saya bercita-cita jadi dokter. Betapa bangga rasa hati kalau saya bisa membantu orang yang sakit. Orang yang sakit berat  yang hidupnya susah dan tak ada biaya. Sering saya lihat di daerah tempat tinggalku. Apalagi  mereka yang di kampung  jauh dari kota, jika sakit berat tinggal tunggu kapan Tuhan jemput pulang. Saya berusaha bertekun belajar. Bersyukur  saya selalu mendapatkan peringkat umum  sejak SD hingga SMA. Saya bertekat bisa membanggakan orang tua yang  sudah  banyak berjasa untuk  aku dan adikku, Saka Supriyadi.

         Tapi cita-citapun ternyata kandas. Orang tuaku keberatan. Fakultas kedokteran pastilah  sangat mahal. Orang tua ‘angkat tangan’ membiayaku. Orang tua bukan pegawai tinggi tapi  ‘Hamba Tuhan’ yang melayani di kampung. Saya sangat mengerti kondisi keluarga. Akhirnya saya mendaftarkan jurusan lain yaitu Farmasi, Pendidikan, Kimia dan Kebidanan. Saya diterima semua waktu itu. Setelah berunding dengan pemikiran yang panjang  dan doa dalam keluarga akhirnya kami memilih kebidanan. Profesi yang tak jauh dari cita-citaku semula. Membantu orang sakit.

          Walaupun sebenarnya bukan cita-cita  yang utama tidak menyurutkanku untuk tetap semangat. Saya akan tekun belajar dan fokus kuliah. Papa dan mama sudah bersusah payah, berlelah-lelah demi mencukupkan biaya kuliahku. Puji Tuhan akhirnya aku bisa membuktikan dengan prestasi selama masa kuliah yaitu: 10 besar Mahasiswa berprestasi Program Studi D-III Kebidanan tahun 2014. Wisudawan dengan predikat Cumlaude Pada wisuda prodi D-III Kebidanan Tahun 2016. Mahasiswa berprestasi  Program Studi D-IV  bidan Pendidik tahun 2017. Wisudawan dengan predikat Cumlaude pada wisuda Prodi D-IV. Bidan pendidik predikat wisudawan Terbaik Program Studi D-IV Bidan Pendidik pada Wisuda Tahun 2017. Trimakasih  Tuhan Engkau selalu memberi semangat dalam setiap tugas dan kerjaku.

               Ingin sebenarnya saya melanjutkan kejenjang S2. Mengingat adikku juga harus kuliah, saya harus mengalah. Kini adikku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana di Kupang. Sebagai  kakak inilah saatnya  harus mengerti. Saya harus bekerja. Kerinduanku adalah  bisa membantu orang tua membiayai adikku satu-satunya. Kesayangan keluarga.

               Pada saat saya menunggu wisuda, ada waktu luang.  Dari  hasil ‘hadiah’ dan sisa tabungan, uang saya pakai untuk mengikuti  kursus menjahit dan rias pengantin. Saya tinggal di Waingapu, Sumba Timur NTT. Daerah yang belum maju layaknya kota-kota di Jawa. Semua masih serba  ketinggalan. Salon dan penjahit masih langka. Aku berpikir ketrampilan  itu pasti  bisa untuk tambahan penghasilan.

            Nach benar adanya. Setelah selesai wisuda saya pulang kampung. Awalnya saya  make up teman  SMA yang menikah. Alias gratis. Saya posting di FB. Teman-teman Fb-ku tahu dan koment. Rejeki memang tak salah alamat. Kini saya sudah ‘dikenal’ dan banyak mendapat kepercayaan untuk merias mereka diacara-acara penting bahkan pernikahan.

                          Pada tahun 2018 lagi gencar-gencarnya membahas pembangunan Indonesia tentang kesehatan, pariwisata dan pendidikan. Puji Tuhan! Saya terpilih menjadi delegasi yang membahas ‘kesehatan’ yang menjadi latar belakang kuliah saya. Saya terpilih untuk mewakili NTT mengikuti ajang bergengsi itu. ‘Rembug Pemuda Nasional di Indonesia’, Yuoth Collaboration Forum di Denpasar Bali. Kegiatan itu membuatku bangga dan merupakan ‘sejarah’ yang tak akan terlupakan dalam hidupku.

Hari-hariku di rumah terasa sepi.  Sambil menunggu tes PNS aku  membantu mama membuat kue, nasi kuning untuk dijual. Tak lama berselang saat yang ditunggu kini  tiba. Saya mendaftar CPNS Tahun 2018, pada saat itu pertama kalinya diberlakukan tes CPNS berbasis CAT. Mulai dari pendaftaran sampai dengan tes online. Seleksinya berlangsung 2 kali, yaitu Seleksi SKD dan SKB dengan standar passing gradenya masing-masing. Pada saat itu saya bersaing dengan 23 orang (peserta yang sama-sama mendaftar untuk formasi bidan di Puskesmas Tanarara). Puji Tuhan! Saat itu hanya saya sendiri yang lolos seleksi SKD dan skor yang kudapat melewati Passing Grade.Tak satupun teman peserta yang lain yang melewati Skor passing grade.tersebut. Alhasil  pada saat tes kedua yaitu SKB  tidak ada saingan tes lagi.

         Pada Maret 2019 SK 80% sudah ditangan. Setelah mengikuti prajabatan, pada bulan Oktober 2020 akhirnya SK 100% terbit.  Syah! Kini saya resmi ditempatkan di Puskesmas Tanarara, Desa Praibakul, Kecamatan Matawai La Pawu, sebagai Bidan Pelaksana.

Jarak dari rumah menuju Puskesmas  70-an km.  Dengan kondisi jalan menuju puskesmas sangat rusak, berlubang, berlumpur. Jalan dibatasi oleh jurang dikanan kirinya. Untuk pergi ke lokasi harus melewati  padang sabana. Perbukitan luas bahkan hutan belantara. Situasi sangat sepi, ngeri  dan terasa  angker.

        Di mess setiap malam ditemani  dengan nyamuk. Sesekali desiran ular yang  kami harus terus waspada.  Cuaca yang tidak pernah  menentu. Matahari tak pernah muncul apalagi tersenyum. Suasana teramat dingin menyusup tubuh. Awan dan kabut selalu menemani .Suhu udara  selalu dibawah 26o C. Ohh!!.... dinginnya setengah mati.

         Saat pertama datang, kamar mess  sudah siap. Ukurannya 1,5m x 2m. hanya cukup untuk 1 kasur ukuran 90x2m dan lemari plastik kecil. Dan kaca jendela berlubang. Siap setiap malam menerima angin dan hujan masuk di kamar. Berulang kali saya sakit karena belum bisa menyesuaikan diri.  Sedih!!. Saya menangis, merenung sendiri kenapa saya memilih  menjadi PNS disini?. Di tempat yang terasa asing?. Tak seorangpun ada yang kukenal. Air sangat susah, Untuk mendapatkan air harus menimba di sumur  tetangga yang airnya sangat terbatas. Jarak antar  rumah  bisa 1 km. Jika ambil air  harus pagi-pagi sekali. Sebenarnya ada juga sumur di puskesmas, tapi kadang-kala kering.

           Pengabdian dimulai. Dengan seragam kebanggan kami siap melaksanakan tugas negara. Jarak rumah pasien dengan tempat pelayanan kesehatan sangat jauh dan sulit di jangkau. Jaringan telpon dan internet belum tersedia di semua desa. Apalagi saat ini sudah diterapkan revolusi KIA yaitu semua ibu hamil wajib melahirkan difasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Harus ditolong oleh petugas kesehatan yaitu di puskesmas. Ada banyak ibu hamil yang masih kesulitan ke puskesmas mengingat jarak tempuh yang jauh.   Karena beratnya medan dan tidak ada transportasi. Ada saja dari mereka harus jalan kaki atau naik kuda untuk menuju puskesmas.

          Sebagai solusi  pemerintah kecamatan  bekerjasama dengan desa membangun ‘rumah tunggu bagi ibu-ibu hamil. Mereka dapat datang dan tinggal beberapa hari di puskesmas sebelum melahirkan. Sehingga saat ini, semua ibu-ibu hamil dari tempat yang jauh, akan dijemput oleh petugas puskesmas di H-7. Dengan adanya rumah tunggu, diharapkan semakin tinggi angka persalinan di fasilitas kesehatan. Sehingga menurunkan angka kematian ibu dan bayinya. Sebelumnya penduduk melahirkan hanya di rumah saja dengan dibantu oleh ibu dukun beranak. Resiko ibu dan bayi meninggal besar. Sebagai kami meningkatkan kemitraan antara bidan dengan dukun/kader. Tentunya dengan harapan  dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kehamilan dan melahirkan di puskesmas.

 

 

            Saat itu saya masih ingat   ingin lanjut S2. Yang nota bene jadi dosen. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain yang sangat mulia .Sejauh dan sekuat apapun saya. Saya tidak bisa lari dan menghindar  dari rencana Tuhan. Pertama kali saya menolong persalinan sendirian.  Diakhir persalinan ibu dan keluarga mengucapkan “terimakasih”. Mereka begitu bahagia atas bantuan yang saya lakukan. Senang, bangga, terharu rasa hati saya.Trimakasih Tuhan, saya bisa bermanfaat untuk sesama. Saat mencuci alat dan membereskan alat persalinan tak terasa air matapun jatuh membasahi pipi.

         Ternyata dengan kata terimakasih  bisa menghipnotis saya. Saya sungguh sangat  terharu. Saya merasa bahwa menjadi seorang bidan itu pekerjaan yang  mulia. Bidan itu bukan sekedar profesi tetapi sebuah anugrah dari Tuhan. Punya naluri untuk melayani.. Dalam tugas bidan harus siap siaga 24 jam.  Siap menyelamatkan dua nyawa ( ibu dan anak) . Seorang bidan dituntut harus serba bisa, serba siap, dan serba tahu.

         Dari situ saya mulai mencintai profesi saya, sampai dengan saat ini setiap kali orang mengucapkan terimakasih kepada saya, saya merasa itu adalah bentuk penghargaan tertinggi. Bukan soal uang, imbalan atau capaian kerja. Tapi sebuah pengabdian dan pelayanan  luhur. Saya sudah bisa menjadi penyalur berkat buat orang lain.

        Pengalaman menjadi bidan semua berkesan. Senang, semangat, bangga bahkan sampai terharu. Saya harus mengunjungi ibu hamil ke rumah-rumah  mereka. Ada pasien yang jarak rumah-puskesmas ditempuh 4 jam perjalanan. Lokasi perbukitan. Naik turun gunung.  Menyebrang kali yang deras. Menyusuri hutan lebat.Banyak juga pohon beringin yang umurnya ratusan tahun.  Bahkan  sering ada kejadian-kejadian yang diluar dugaan kita. Jatuh dijurang. Digigit ular. Itu cerita yang sudah bisa. Mengingat  situasi yang begitu, tak mungkinlah ibu hamil besar harus pergi ke Puskesman. Wah!!. bisa jadi mereka melahirkan dijalan.

       Trimakasih, sebagai seorang bidan desa saya sudah bisa berbagi cerita. Jadi bidan  tangguh dan perkasa. Apapun halangan, rintangan dan hambatan selalu saya hadapi dengan suka cita. Bidan adalah ‘wonder woman. Siap bisa melayani! Kapanpun! Dimanapun!

        Yuk!!  Kita bersama kita sepakat untuk sadar. Periksakan diri ke faske kesehatan terlebih bagi para ibu hamil. Kami siap melayani dengan senang hati. Percayakan dengan  ahlinya. Ibu sehat, bayi sehat keluarga bahagia.

         Trimakasih ibu Kartini. Terpujilah wahai ibu. Karenamu aku bisa berbakti untuk  tanah tumpah darahku. Bisa membuktikan mentalku sekuat baja. Membakar semangatku  membahana. Membuat hatiku teguh bak batu karang. Dan mengajariku untuk peduli  dan memberi ‘kasih’ untuk sesamaku.

Tolonglah lebih dulu orang yang tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu. Karena merekalah yang akan tulus mendoakanmu.

 

 

Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang. Selain  ibu rumah tangga penulis  masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit dari penulis  adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Mengungkap rahasia, Belajar di Tengah Corona dan lain-lain. Sekarang ini penulis tinggal  di  Jl Trikora RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan  keberhasilan dalam kehidupan.

 

 

 

 

 

MEMBANGKITKAN PESONA DIRI BERKAT KARTINI

(Perjuangan Seorang Bidan Desa Tanarara)

 

 

Panggil saya  Lidia. Hari Kartini tak lama lagi. Betapa beruntungnya saya sekarang  bisa sekolah tinggi, walaupun saya seorang perempuan. Jaman dulu kebanyakan  perempuan tugasnya hanya di dapur, di sumur. Atau ‘hanya’ dianggap sebagai orang ‘belakang’. Wanita bangsawan saja yang boleh sekolah, rakyat biasa tak boleh sekolah.

        Trima kasih ibu Kartini, penjuang wanita tangguh!. Berkat jasamu kini kartini-kartini semakin maju, sesuai kemajuan  era global dan milenial. Keren!!. Jiwa Kartini semakin ’di muka’. Peran Wanita  sudah  tak diragukan lagi. Semangat Rajen Ajeng Kartini sudah merasuki setiap pribadi wanita seluiruh Indonesia.

        Kartini milenial adalah kartini masa kini. Wanita karier, smart penuh semangat. Wanita  yang kreatif, inovatif dan inspiratif. Kartini milenial memiliki kesempatan yang besar untuk terus maju dan berkarya.Tapi perlu diingat!. Bagaimanapun wanita tidak boleh meninggalkan kodratnya sebagai seorang ibu. Halus, penuh cinta, perasaan dan penyayang. Ciee...

         Kecil dulu saya bercita-cita jadi dokter. Betapa bangga rasa hati kalau saya bisa membantu orang yang sakit. Orang yang sakit berat  yang hidupnya susah dan tak ada biaya. Sering saya lihat di daerah tempat tinggalku. Apalagi  mereka yang di kampung  jauh dari kota, jika sakit berat tinggal tunggu kapan Tuhan jemput pulang. Saya berusaha bertekun belajar. Bersyukur  saya selalu mendapatkan peringkat umum  sejak SD hingga SMA. Saya bertekat bisa membanggakan orang tua yang  sudah  banyak berjasa untuk  aku dan adikku, Saka Supriyadi.

         Tapi cita-citapun ternyata kandas. Orang tuaku keberatan. Fakultas kedokteran pastilah  sangat mahal. Orang tua ‘angkat tangan’ membiayaku. Orang tua bukan pegawai tinggi tapi  ‘Hamba Tuhan’ yang melayani di kampung. Saya sangat mengerti kondisi keluarga. Akhirnya saya mendaftarkan jurusan lain yaitu Farmasi, Pendidikan, Kimia dan Kebidanan. Saya diterima semua waktu itu. Setelah berunding dengan pemikiran yang panjang  dan doa dalam keluarga akhirnya kami memilih kebidanan. Profesi yang tak jauh dari cita-citaku semula. Membantu orang sakit.

          Walaupun sebenarnya bukan cita-cita  yang utama tidak menyurutkanku untuk tetap semangat. Saya akan tekun belajar dan fokus kuliah. Papa dan mama sudah bersusah payah, berlelah-lelah demi mencukupkan biaya kuliahku. Puji Tuhan akhirnya aku bisa membuktikan dengan prestasi selama masa kuliah yaitu: 10 besar Mahasiswa berprestasi Program Studi D-III Kebidanan tahun 2014. Wisudawan dengan predikat Cumlaude Pada wisuda prodi D-III Kebidanan Tahun 2016. Mahasiswa berprestasi  Program Studi D-IV  bidan Pendidik tahun 2017. Wisudawan dengan predikat Cumlaude pada wisuda Prodi D-IV. Bidan pendidik predikat wisudawan Terbaik Program Studi D-IV Bidan Pendidik pada Wisuda Tahun 2017. Trimakasih  Tuhan Engkau selalu memberi semangat dalam setiap tugas dan kerjaku.

               Ingin sebenarnya saya melanjutkan kejenjang S2. Mengingat adikku juga harus kuliah, saya harus mengalah. Kini adikku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana di Kupang. Sebagai  kakak inilah saatnya  harus mengerti. Saya harus bekerja. Kerinduanku adalah  bisa membantu orang tua membiayai adikku satu-satunya. Kesayangan keluarga.

               Pada saat saya menunggu wisuda, ada waktu luang.  Dari  hasil ‘hadiah’ dan sisa tabungan, uang saya pakai untuk mengikuti  kursus menjahit dan rias pengantin. Saya tinggal di Waingapu, Sumba Timur NTT. Daerah yang belum maju layaknya kota-kota di Jawa. Semua masih serba  ketinggalan. Salon dan penjahit masih langka. Aku berpikir ketrampilan  itu pasti  bisa untuk tambahan penghasilan.

            Nach benar adanya. Setelah selesai wisuda saya pulang kampung. Awalnya saya  make up teman  SMA yang menikah. Alias gratis. Saya posting di FB. Teman-teman Fb-ku tahu dan koment. Rejeki memang tak salah alamat. Kini saya sudah ‘dikenal’ dan banyak mendapat kepercayaan untuk merias mereka diacara-acara penting bahkan pernikahan.

                          Pada tahun 2018 lagi gencar-gencarnya membahas pembangunan Indonesia tentang kesehatan, pariwisata dan pendidikan. Puji Tuhan! Saya terpilih menjadi delegasi yang membahas ‘kesehatan’ yang menjadi latar belakang kuliah saya. Saya terpilih untuk mewakili NTT mengikuti ajang bergengsi itu. ‘Rembug Pemuda Nasional di Indonesia’, Yuoth Collaboration Forum di Denpasar Bali. Kegiatan itu membuatku bangga dan merupakan ‘sejarah’ yang tak akan terlupakan dalam hidupku.

Hari-hariku di rumah terasa sepi.  Sambil menunggu tes PNS aku  membantu mama membuat kue, nasi kuning untuk dijual. Tak lama berselang saat yang ditunggu kini  tiba. Saya mendaftar CPNS Tahun 2018, pada saat itu pertama kalinya diberlakukan tes CPNS berbasis CAT. Mulai dari pendaftaran sampai dengan tes online. Seleksinya berlangsung 2 kali, yaitu Seleksi SKD dan SKB dengan standar passing gradenya masing-masing. Pada saat itu saya bersaing dengan 23 orang (peserta yang sama-sama mendaftar untuk formasi bidan di Puskesmas Tanarara). Puji Tuhan! Saat itu hanya saya sendiri yang lolos seleksi SKD dan skor yang kudapat melewati Passing Grade.Tak satupun teman peserta yang lain yang melewati Skor passing grade.tersebut. Alhasil  pada saat tes kedua yaitu SKB  tidak ada saingan tes lagi.

         Pada Maret 2019 SK 80% sudah ditangan. Setelah mengikuti prajabatan, pada bulan Oktober 2020 akhirnya SK 100% terbit.  Syah! Kini saya resmi ditempatkan di Puskesmas Tanarara, Desa Praibakul, Kecamatan Matawai La Pawu, sebagai Bidan Pelaksana.

Jarak dari rumah menuju Puskesmas  70-an km.  Dengan kondisi jalan menuju puskesmas sangat rusak, berlubang, berlumpur. Jalan dibatasi oleh jurang dikanan kirinya. Untuk pergi ke lokasi harus melewati  padang sabana. Perbukitan luas bahkan hutan belantara. Situasi sangat sepi, ngeri  dan terasa  angker.

        Di mess setiap malam ditemani  dengan nyamuk. Sesekali desiran ular yang  kami harus terus waspada.  Cuaca yang tidak pernah  menentu. Matahari tak pernah muncul apalagi tersenyum. Suasana teramat dingin menyusup tubuh. Awan dan kabut selalu menemani .Suhu udara  selalu dibawah 26o C. Ohh!!.... dinginnya setengah mati.

         Saat pertama datang, kamar mess  sudah siap. Ukurannya 1,5m x 2m. hanya cukup untuk 1 kasur ukuran 90x2m dan lemari plastik kecil. Dan kaca jendela berlubang. Siap setiap malam menerima angin dan hujan masuk di kamar. Berulang kali saya sakit karena belum bisa menyesuaikan diri.  Sedih!!. Saya menangis, merenung sendiri kenapa saya memilih  menjadi PNS disini?. Di tempat yang terasa asing?. Tak seorangpun ada yang kukenal. Air sangat susah, Untuk mendapatkan air harus menimba di sumur  tetangga yang airnya sangat terbatas. Jarak antar  rumah  bisa 1 km. Jika ambil air  harus pagi-pagi sekali. Sebenarnya ada juga sumur di puskesmas, tapi kadang-kala kering.

           Pengabdian dimulai. Dengan seragam kebanggan kami siap melaksanakan tugas negara. Jarak rumah pasien dengan tempat pelayanan kesehatan sangat jauh dan sulit di jangkau. Jaringan telpon dan internet belum tersedia di semua desa. Apalagi saat ini sudah diterapkan revolusi KIA yaitu semua ibu hamil wajib melahirkan difasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Harus ditolong oleh petugas kesehatan yaitu di puskesmas. Ada banyak ibu hamil yang masih kesulitan ke puskesmas mengingat jarak tempuh yang jauh.   Karena beratnya medan dan tidak ada transportasi. Ada saja dari mereka harus jalan kaki atau naik kuda untuk menuju puskesmas.

          Sebagai solusi  pemerintah kecamatan  bekerjasama dengan desa membangun ‘rumah tunggu bagi ibu-ibu hamil. Mereka dapat datang dan tinggal beberapa hari di puskesmas sebelum melahirkan. Sehingga saat ini, semua ibu-ibu hamil dari tempat yang jauh, akan dijemput oleh petugas puskesmas di H-7. Dengan adanya rumah tunggu, diharapkan semakin tinggi angka persalinan di fasilitas kesehatan. Sehingga menurunkan angka kematian ibu dan bayinya. Sebelumnya penduduk melahirkan hanya di rumah saja dengan dibantu oleh ibu dukun beranak. Resiko ibu dan bayi meninggal besar. Sebagai kami meningkatkan kemitraan antara bidan dengan dukun/kader. Tentunya dengan harapan  dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kehamilan dan melahirkan di puskesmas.

 

 

            Saat itu saya masih ingat   ingin lanjut S2. Yang nota bene jadi dosen. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain yang sangat mulia .Sejauh dan sekuat apapun saya. Saya tidak bisa lari dan menghindar  dari rencana Tuhan. Pertama kali saya menolong persalinan sendirian.  Diakhir persalinan ibu dan keluarga mengucapkan “terimakasih”. Mereka begitu bahagia atas bantuan yang saya lakukan. Senang, bangga, terharu rasa hati saya.Trimakasih Tuhan, saya bisa bermanfaat untuk sesama. Saat mencuci alat dan membereskan alat persalinan tak terasa air matapun jatuh membasahi pipi.

         Ternyata dengan kata terimakasih  bisa menghipnotis saya. Saya sungguh sangat  terharu. Saya merasa bahwa menjadi seorang bidan itu pekerjaan yang  mulia. Bidan itu bukan sekedar profesi tetapi sebuah anugrah dari Tuhan. Punya naluri untuk melayani.. Dalam tugas bidan harus siap siaga 24 jam.  Siap menyelamatkan dua nyawa ( ibu dan anak) . Seorang bidan dituntut harus serba bisa, serba siap, dan serba tahu.

         Dari situ saya mulai mencintai profesi saya, sampai dengan saat ini setiap kali orang mengucapkan terimakasih kepada saya, saya merasa itu adalah bentuk penghargaan tertinggi. Bukan soal uang, imbalan atau capaian kerja. Tapi sebuah pengabdian dan pelayanan  luhur. Saya sudah bisa menjadi penyalur berkat buat orang lain.

        Pengalaman menjadi bidan semua berkesan. Senang, semangat, bangga bahkan sampai terharu. Saya harus mengunjungi ibu hamil ke rumah-rumah  mereka. Ada pasien yang jarak rumah-puskesmas ditempuh 4 jam perjalanan. Lokasi perbukitan. Naik turun gunung.  Menyebrang kali yang deras. Menyusuri hutan lebat.Banyak juga pohon beringin yang umurnya ratusan tahun.  Bahkan  sering ada kejadian-kejadian yang diluar dugaan kita. Jatuh dijurang. Digigit ular. Itu cerita yang sudah bisa. Mengingat  situasi yang begitu, tak mungkinlah ibu hamil besar harus pergi ke Puskesman. Wah!!. bisa jadi mereka melahirkan dijalan.

       Trimakasih, sebagai seorang bidan desa saya sudah bisa berbagi cerita. Jadi bidan  tangguh dan perkasa. Apapun halangan, rintangan dan hambatan selalu saya hadapi dengan suka cita. Bidan adalah ‘wonder woman. Siap bisa melayani! Kapanpun! Dimanapun!

        Yuk!!  Kita bersama kita sepakat untuk sadar. Periksakan diri ke faske kesehatan terlebih bagi para ibu hamil. Kami siap melayani dengan senang hati. Percayakan dengan  ahlinya. Ibu sehat, bayi sehat keluarga bahagia.

         Trimakasih ibu Kartini. Terpujilah wahai ibu. Karenamu aku bisa berbakti untuk  tanah tumpah darahku. Bisa membuktikan mentalku sekuat baja. Membakar semangatku  membahana. Membuat hatiku teguh bak batu karang. Dan mengajariku untuk peduli  dan memberi ‘kasih’ untuk sesamaku.

Tolonglah lebih dulu orang yang tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu. Karena merekalah yang akan tulus mendoakanmu.

 

 

Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang. Selain  ibu rumah tangga penulis  masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit dari penulis  adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Mengungkap rahasia, Belajar di Tengah Corona dan lain-lain. Sekarang ini penulis tinggal  di  Jl Trikora RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan  keberhasilan dalam kehidupan.

 

 

 

 

 

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...