Minggu, 11 April 2021

Antologi G18 bersama bu Kanjeng

 

Antologi Bersama Bu Kanjeng

07 April 2021

Ledwina  Eti Wuryani , Waingapu NTT

 

1.      Awal Mula Suka Menulis

Waktu itu saya begitu terkagum-kagum dengan nama orang yang tertulis di berbagai media. Pasti orang hebat. Pasti orang pintar. Terkesan intelek.  Saya berpikir pasti saya  bangga kalau namanya  bisa terpampang di koran hehe....kebetulan suami saya suka nulis. Bahkan suami  pernah juara menulis sewaktu masih mahasiswa  sampai dapat  hadiah  sejumlah uang. Waktu itu masih pacaran,  setiap  dapat uang  pasti saya  ditraktir. Asyik juga  pikirku.

Tanpa Sepengetahuan siapapun iseng saya nulis. Kalau omong suami  seandainya tulisan tidak terbit kan malu, jangan sampai saya kena olok.  Tulisan pertama saat ada lomba olimpiade sains  SMA  tingkat kabupaten tahun 2009. Saat itu terjadi  ketidakpuasan  tentang kejuaraan. Nah saat itu saya  buat opini dengan judul “Siapapun bisa dari juara”. Naskah saya ketik rapi, 600 karakter, saya kirim  ke koran Media rakyat saat itu. Koran lokal kabupaten. Eh!! Ternyata langsung terbit tanpa edit. Bahagia, bangga  campur aduk. Senang sekali pokoknya, nama dan foto  saya terpampang  jelas di koran itu. Saya kirim lagi di Sumba Pos, terbit lagi. Di Sumba Pembaharuan  muncul juga. Saya jadi kenal baik dengan  pimpinan redaksinya, sebuah kebanggan juga bagi saya.

Dari situ akhirnya saya sedikit dikenal, peserta didik yang suka baca, teman-teman luar sekolah dan ada  beberapa orang yang saya  tidak kenal, mereka kenal saya. Ketemu di warung bakso  atau di toko, misalnya orang tegur saya, Ibu Eti ya!, katanya. Haa..kenapa kenal saya,  saya lihat  fotonya ibu di koran. Kepala sekolah saya waktu itu, Bapak Drs Yeheskiel Rebo (alm) sering memuji saya dan sering dijadikan contoh supaya teman-teman  meniru saya untuk rajin menulis.  Antara bangga dan GR sedikit. Ahh! tak penting  yang terpenting  saya sudah bisa membuktikan bahwa ternyata menulis itu  tidak sesulit yang saya bayangkan dulu. “Menulis adalah sebuah keberanian yang tidak dimiliki semua orang.” ( Pramoedya Ananta Toer). Jadi saya pribadi  merasa  bangga karena saya adalah ‘salah satu’ yang ‘berani’ menulis.

Akhirnya saya berpikir, ternyata  menulis itu mudah. Tulisanku yang masih  pemula saja begitu dihargai. Diakui dan diterbitkan. Saat itu saya rajin kirim  naskah, tapi  karena beban tugas mengajar  dan adanya tugas tambahan  semakin banyak dan  padat  akhirnya  fakum juga. Macet!.

Bulan Maret 2020 corona datang. Sekolah  tutup. Pembelajaran BDR (Belajar dari Rumah). Pembelajaran dari jarak jauh ( PJJ). Saat itu  guru  ada watu lebih banyak karena di rumah saja. Saya  jadi rajin  buka HP, selain  ber-WA  juga  main FB. Dulu saya  sebelum PJJ jarang  main hp, tidak aktif juga di medsos, nama  Fb punya tapi tidak aktif. IG juga ada tapi tidak pernah buka.

Saat buka face book ada  tawaran pelatihan KMO ( Kelas Menulis OnLine) saya ikut.  Ada tawaran masuk grup menulis bunda Lilis,  Menulis Buku Inspirasi ( MBI) saya ikut. Ayo dipinang,  mari bergabung membuat buku ber-ISBN pasti  terbit dari Ibu kanjeng,  ikut juga. Asyik!. Termotivasi karena selain dapat sertifikat juga dapat pengalaman baru. Banyak teman pula, para penulis hebat seluruh Indonesia. Para anggota grup begitu baik. Begitu familiar, bahkan serasa bagai mendapatkan saudara. Walau belum pernah lihat sosoknya sama sekali, tapi seperti sudah kenal 100 tahun yang lalu. Nah, dari situ akhirnya bisa tambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga..

Akhirnya cinta lama bersemi kembali. Yang dulu menulis sudah terkubur dalam kini  jadi tumbuh lagi. Walau sudah tidak muda lagi, akhirnya saya berfikir untuk kenangan anak cucu kelak jika saya sudah tiada. Jika suatu saat mereka  baca buku saya, Oh!!, ternyata oma  itu dulu penulis! Hehe.....Biar Jasat terkubur tetapi tulisan bisa selalu dikenang disepanjang masa.

 

2.      Awal Mula Tahu dan Akhirnya Memutuskan ikut Group Om Jay.

Saya tergabung dalam kelas WAG Menulis Buku bersama Bunda Lilis ( Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH). Disitu  ada brosur yang muncul. Kubaca. Hati  seperti terhipnotis, langsung klik link pendaftaran. Sebenarnya saya sudah terdaftar  di gelombang 17, tapi karena belum bisa  membagi waktu jadi tidak aktif. Di awal bulan April 2021 ada lagi brosur yang masuk di WAG MBI, tak pikir panjang  akhirnya saya langsung  mendaftarkan diri. Resmi saya  peserta Belajar Menulis bersama Om Jay di gelombang 18.  Saya catt bu Aam, untuk salam kenal. Nara Sumber pertama bulan April bunda Lilis, Ibu Kanjeng, Om Jay dan pertemuan ke-4 yang saya ikut Nara Sumbernya Bu Rita Wati, S.Kom dari Bali.  Sekarang  sementara membuat resume pertemuan ke-4.

Sumba Timur, tempat tinggal saya  adalah salah satu sasaran amukan bencana banjir dan Badai Seroja Siklon 2021.  Suasana mencekan dari tanggal 4 – 7 April,  hujan tak pernah berhenti selama 4 hari, lebih 5000 rumah warga terendam banjir, jembatan utama patah, bendungan  jebol parah. Rumah saya terselamatkan karena ada di ketinggian. Puji Tuhan!, Beberapa saudara  mengungsi dirumah. Dampak dari itu  listrik  padam selama 4 hari. Sinyal hilang.  Saat saya menulis artikel ini listrik belum menyala. Ditemani temaran lilin dan sinar center baterai. Semua adalah cobaan. Pengalaman berharga. Kami harus selalu berpikir positif. Musibah ini  terjadi supaya  para pribadi refleksi. Termasuk saya. Trimakasih Tuhan, kami masih diselamatkan dan masih diberikan nafas kehidupan. Badai telah berlalu. Kini  saya membuka lembaran baru.

Masih semangat!!!, Semoga setelah tergabung bersama om Jay membuat saya  lebih  rajin menulis. Bisa mendapat ‘Mahkota’ sebagai penulis. Sebuah Buku hasil dari resume selama kegiatan belajar menulis. Buku yang terbit akan menemukan takdirnya. Mengukir mimpi menjadi penulis. Semoga.

 

3.      Kesan pertama tentang blog dan manfaat setelah menggunakan blog.

Secara pribadi sungguh saya pribadi ‘minder’ dengan  teman-teman  sesama peserta  belajar menulis. Mereka semua sudah ‘hebat’. Sementara saya sendiri belum menguasai. Masih  harus belajar lebih banyak. Resume yang  sudah saya buat ada 4, belum bisa terkirim  kendala jaringan  yang tidak ada akibat bencana. Sabar. Saya  jadi menghibur  diri, nanti akan indah  pada waktunya. Jadi orang harus optimis, berfikir logis, percaya diri dan  pasti akan ada  solusi. Padahal jika boleh jujur, asli,  saya orangnya ‘tak pernah percaya diri’ maka  tak pernah maju. Hatinya mau belajar, belajar dan terus belajar. Jadi ulama (Usia lanjut masih aktif), kata ibu kanjeng.  Mengikuti semangat beliau walau tidak muda lagi tapi tak boleh kalah dengan yang  muda. Trima kasih ibu kanjeng  untuk motivasinya.

Kesan pertama tentang blok, ternyata asyik. Menyenangkan.Dengan adanya blog  bisa menjadi ‘bank tulisan’. Selama ini tulisan seolah terhambur di file, My Dokument, di data D atau flash disck. Beresiko. Bisa hilang kalau komputer rusak. Di flash  disk  juga relatif  kurang aman. Tapi di blog, seolah tersimpan di langit luas yang super aman. Belum tulisan-tulisan bisa dipisahkan sesuai dengan label yang berbeda. Jadi jika kita perlu tinggal  ambil yang sesuai dengan label yang kita mau. Contoh  saya ada tulisan berbagai macam: pusisi, perenungan, cerpen, resume dan lain-lain. Masing-masing  dimasukkan di-rumah-nya. Nah nanti kalau kita perlu tinggal ambil  sesuai dengan yang kita butuhkan.

Manfaat setelah menggunakan blog. Dengan Blog tulisan lebih rapi. Lebih teratur karena sudah terperinci. Penampilan lebih keren,indah dan menarik. Up to Date. Berbagai tulisan, baik dalam bentuk pengetahuan, cerita dan pengalaman sehingga orang lain yang mencari suatu topik tertentu dapat menemukan tulisan kita. Memperluas dan membangun jaringan dapat dilakukan  dalam dunia blogger. Media promosi dan sarana menjual produk. Media aktualisasi diri karena seorang  blogger akan belajar untuk mengembangakan dan mengekspor lebih jauh serta berbagi  pengetahuan. Antar penulis bisa saling berbagi pengetahuan, bisa share karya kita kepada dunia.

 

4.      Hal yang paling Diingat dari materi ibu kanjeng

Pernyataan Ibu kanjeng: Kalau mau jadi penulis itu sering-seringlah berteman dengan penulis. Menulislah setiap hari agar segala kemalasan dan kemandegan dalam menulis akan hilang.  Jika kita banyak menulis membuat tulisan kita lebih berkualitas. Menulis itu bagaikan merancang atau mendisain baju. Setiap penulis  itu memiliki  warna tulisan yang berbeda. Tentunya harus rajin berlatih  agar memilki warna tulisan sendiri. Aku dengar. Aku melihat. Aku ingat. Aku melakukan . Aku Pasti Bisa!.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...