Minggu, 11 April 2021

Perjuangan Seorang Bidan Desa Tanarara

 

MEMBANGKITKAN PESONA DIRI BERKAT KARTINI

(Perjuangan Seorang Bidan Desa Tanarara)

 

 

Panggil saya  Lidia. Hari Kartini tak lama lagi. Betapa beruntungnya saya sekarang  bisa sekolah tinggi, walaupun saya seorang perempuan. Jaman dulu kebanyakan  perempuan tugasnya hanya di dapur, di sumur. Atau ‘hanya’ dianggap sebagai orang ‘belakang’. Wanita bangsawan saja yang boleh sekolah, rakyat biasa tak boleh sekolah.

        Trima kasih ibu Kartini, penjuang wanita tangguh!. Berkat jasamu kini kartini-kartini semakin maju, sesuai kemajuan  era global dan milenial. Keren!!. Jiwa Kartini semakin ’di muka’. Peran Wanita  sudah  tak diragukan lagi. Semangat Rajen Ajeng Kartini sudah merasuki setiap pribadi wanita seluiruh Indonesia.

        Kartini milenial adalah kartini masa kini. Wanita karier, smart penuh semangat. Wanita  yang kreatif, inovatif dan inspiratif. Kartini milenial memiliki kesempatan yang besar untuk terus maju dan berkarya.Tapi perlu diingat!. Bagaimanapun wanita tidak boleh meninggalkan kodratnya sebagai seorang ibu. Halus, penuh cinta, perasaan dan penyayang. Ciee...

         Kecil dulu saya bercita-cita jadi dokter. Betapa bangga rasa hati kalau saya bisa membantu orang lain. Orang yang sakit berat  yang hidupnya susah dan tak ada biaya. Sering saya lihat di daerah tempat tinggalku. Apalagi  mereka yang di kampung  jauh dari kota, jika sakit berat tinggal tunggu kapan Tuhan jemput pulang. Saya berusaha bertekun belajar. Bersyukur  saya selalu mendapatkan peringkat di kelas dan beberapa kali juara umum  sejak SD hingga SMA. Sewaktu SMP saya tercatat sebagai siswa akselerasi, jadi saya hanya 2 tahun saja. Saya bertekat bisa membanggakan orang tua yang  sudah  banyak berjasa untuk  aku dan adikku, Saka Supriyadi namanya.

         Tapi cita-citapun ternyata kandas. Orang tuaku keberatan. Fakultas kedokteran pastilah  sangat mahal. Orang tua ‘angkat tangan’ membiayaku. Orang tua bukan pegawai tinggi tapi  ‘Hamba Tuhan’ yang melayani di kampung. Saya sangat mengerti kondisi keluarga. Akhirnya saya mendaftarkan jurusan lain yaitu Farmasi, Pendidikan kimia dan Kebidanan. Saya diterima semua waktu itu. Setelah berunding dengan pemikiran yang panjang  dan doa dalam keluarga akhirnya kami memilih kebidanan. Profesi yang tak jauh dari cita-citaku semula. Membantu orang sakit.

          Walaupun sebenarnya bukan cita-cita  yang utama tidak menyurutkanku untuk tetap semangat. Saya akan tekun belajar dan fokus kuliah. Papa dan mama sudah bersusah payah, berlelah-lelah demi mencukupkan biaya kuliahku. Puji Tuhan akhirnya aku bisa membuktikan dengan prestasi selama kuliah yaitu: 10 besar Mahasiswa berprestasi Program Studi D-III Kebidanan tahun 2014. Wisudawan dengan predikat Cumlaude Pada wisuda prodi D-III Kebidanan Tahun 2016. Mahasiswa berprestasi  Program Studi D-IV  bidan Pendidik tahun 2017. Wisudawan dengan predikat Cumlaude pada wisuda Prodi D-IV bidan pendidik. Predikat wisudawan Terbaik Program Studi D-IV bidan pendidik pada Wisuda Tahun 2017. Trimakasih  Tuhan, Engkau selalu memberi semangat dalam setiap tugas dan kerjaku.





               Ingin sebenarnya saya melanjutkan kejenjang S2. Mengingat adikku juga harus kuliah, saya harus mengalah. Kini adikku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana di Kupang. Sebagai  kakak inilah saatnya  harus mengerti. Saya harus bekerja. Kerinduanku adalah  bisa membantu orang tua membiayai adikku satu-satunya. Kesayangan keluarga.

               Pada saat saya menunggu wisuda, ada waktu luang.  Dari  hasil ‘hadiah’ dan sisa tabungan, uang saya pakai untuk mengikuti  kursus menjahit dan rias pengantin. Saya tinggal di Waingapu, Sumba Timur, NTT. Daerah yang belum maju layaknya kota-kota di Jawa. Semua masih serba  ketinggalan. Salon dan penjahit masih langka. Aku berpikir ketrampilan  itu pasti  bisa untuk tambahan penghasilan.

            Nach benar adanya. Setelah selesai wisuda saya pulang kampung. Awalnya saya  ‘make up’ teman  SMA yang menikah. Alias gratis!. Saya posting di FB. Teman-teman Fb-ku tahu dan koment. Rejeki memang tak salah alamat. Kini saya sudah ‘dikenal’ dan banyak mendapat kepercayaan untuk merias mereka diacara-acara penting bahkan pernikahan.

                          Pada tahun 2018 lagi gencar-gencarnya membahas pembangunan Indonesia tentang kesehatan, pariwisata dan pendidikan. Puji Tuhan! Saya terpilih menjadi delegasi yang membahas ‘kesehatan’ yang menjadi latar belakang kuliah saya. Saya terpilih untuk mewakili NTT mengikuti ajang bergengsi itu. ‘Rembug Pemuda Nasional di Indonesia’, Yuoth Collaboration Forum di Denpasar Bali. Kegiatan itu membuatku bangga dan merupakan ‘sejarah’ yang tak akan terlupakan dalam hidupku.

Hari-hariku di rumah terasa sepi.  Sambil menunggu tes PNS aku  membantu mama membuat kue, nasi kuning untuk dijual. Tak lama berselang saat yang ditunggu kini  tiba. Saya mendaftar CPNS Tahun 2018, pada saat itu pertama kalinya diberlakukan tes CPNS berbasis CAT. Mulai dari pendaftaran sampai dengan tes, online. Seleksinya berlangsung 2 kali, yaitu Seleksi SKD dan SKB dengan standar passing gradenya masing-masing. Pada saat itu saya bersaing dengan 23 orang (peserta yang sama-sama mendaftar untuk formasi bidan di Puskesmas Tanarara). Puji Tuhan! Saat itu hanya saya sendiri yang lolos seleksi SKD dan skor yang kudapat melewati Passing Grade.Tak satupun teman peserta yang lain yang melewati Skor passing grade tersebut. Alhasil  pada saat tes kedua yaitu SKB  tidak ada saingan tes lagi.

         Pada Maret 2019 SK 80% sudah ditangan. Setelah mengikuti prajabatan, pada bulan Oktober 2020 akhirnya SK 100% terbit.  Sah! Kini saya resmi ditempatkan di Puskesmas Tanarara, Desa Praibakul, Kecamatan Matawai La Pawu, sebagai Bidan Pelaksana.

Jarak dari rumah menuju Puskesmas  60-an km.  Dengan kondisi jalan menuju puskesmas sangat rusak berat, berlubang dan berlumpur. Jalan dibatasi oleh jurang di kanan kirinya. Untuk pergi ke lokasi harus melewati  padang sabana. Perbukitan luas bahkan hutan belantara. Situasi sangat sepi, ngeri  dan  kadang terasa  angker.

        Di mess setiap malam ditemani  dengan nyamuk. Sesekali desiran ular yang  kami harus terus waspada.  Cuaca yang tidak pernah  menentu. Matahari jarang  muncul apalagi tersenyum. Suasana teramat dingin menyusup tubuh. Awan dan kabut selalu menemani .Suhu udara  selalu dibawah 26o C. Ohh!!.... dinginnya setengah mati.

         Saat pertama datang, kamar mess  sudah siap. Ukurannya (1,5x 2) m2. Hanya cukup untuk 1 kasur ukuran (90x2) m2 dan lemari plastik kecil. Kaca jendela berlubang. Siap setiap malam menerima angin dan hujan masuk di kamar. Berulang kali saya sakit karena belum bisa menyesuaikan diri.  Sedih!!. Saya menangis, merenung sendiri kenapa saya memilih  menjadi PNS disini?. Di tempat yang terasa asing?. Tak seorangpun ada yang kukenal. Air sangat susah.  Untuk mendapatkan air harus menimba di sumur  tetangga yang airnya sangat terbatas. Jarak antar  rumah  bisa ½  km. Jika ambil air  harus pagi-pagi sekali supaya tidak terlalu antri.  Sebenarnya ada juga sumur di puskesmas, tapi kadang-kala kering.

           Pengabdian dimulai. Dengan seragam kebanggan kami siap melaksanakan tugas negara. Jarak rumah pasien dengan tempat pelayanan kesehatan sangat jauh dan sulit di jangkau. Jaringan telpon dan internet belum tersedia di semua desa. Apalagi saat ini sudah diterapkan revolusi KIA yaitu semua ibu hamil wajib melahirkan difasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Harus ditolong oleh petugas kesehatan yaitu di puskesmas. Ada banyak ibu hamil yang masih kesulitan ke puskesmas mengingat jarak tempuh yang jauh.   Karena beratnya medan dan tidak ada transportasi. Ada saja dari mereka harus jalan kaki atau naik kuda untuk menuju puskesmas.

          Sebagai solusi  pemerintah kecamatan  bekerjasama dengan desa membangun ‘rumah tunggu bagi ibu-ibu hamil. Mereka dapat datang dan tinggal beberapa hari di puskesmas sebelum melahirkan. Sehingga saat ini, semua ibu-ibu hamil dari tempat yang jauh, akan dijemput oleh petugas puskesmas di H-7. Dengan adanya rumah tunggu, diharapkan semakin tinggi angka persalinan di fasilitas kesehatan. Sehingga menurunkan angka kematian ibu dan bayinya. Sebelumnya penduduk melahirkan hanya di rumah saja dengan dibantu oleh dukun beranak. Resiko ibu dan bayi meninggal besar. Sebagai solusi  kami meningkatkan kemitraan antara bidan dengan dukun/kader. Tentunya dengan harapan  dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kehamilan dan melahirkan di puskesmas.

 

            Saat itu saya masih ingat   ingin lanjut S2. Yang nota bene jadi dosen. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain yang sangat mulia .Sejauh dan sekuat apapun saya. Saya tidak bisa lari dan menghindar  dari rencana Tuhan. Pertama kali saya menolong persalinan sendirian.  Diakhir persalinan ibu dan keluarga mengucapkan ‘terimakasih’. Mereka begitu bahagia atas bantuan yang saya lakukan. Senang, bangga, terharu rasa hati saya.Trimakasih Tuhan, saya bisa bermanfaat untuk sesama. Saat mencuci alat dan membereskan alat persalinan tak terasa air matapun jatuh membasahi pipi.

         Ternyata dengan kata terimakasih  bisa menghipnotis saya. Saya sungguh sangat  terharu. Saya merasa bahwa menjadi seorang bidan itu pekerjaan yang  mulia. Bidan itu bukan sekedar profesi tetapi sebuah anugrah dari Tuhan. Punya naluri untuk melayani.. Dalam tugas bidan harus siap siaga 24 jam.  Siap menyelamatkan dua nyawa ( ibu dan anak) . Seorang bidan dituntut harus serba bisa, serba siap, dan serba tahu.

         Dari situ saya mulai mencintai profesi saya, sampai dengan saat ini setiap kali orang mengucapkan terimakasih kepada saya, saya merasa itu adalah bentuk penghargaan tertinggi. Bukan soal uang, imbalan atau capaian kerja. Tapi sebuah pengabdian dan pelayanan  luhur. Saya sudah bisa menjadi penyalur berkat buat orang lain.

        Pengalaman menjadi bidan semua berkesan. Senang, semangat, bangga bahkan sampai terharu. Saya harus mengunjungi ibu hamil dari  rumah ke rumah  mereka. Ada pasien yang jarak rumah-puskesmas ditempuh 4 jam perjalanan. Lokasi perbukitan. Naik turun gunung.  Menyeberang kali yang deras. Menyusuri hutan lebat. Banyak juga pohon beringin yang umurnya ratusan tahun.  Bahkan  sering ada kejadian-kejadian yang diluar dugaan kita. Jatuh dijurang. Digigit ular. Itu cerita yang sudah bisa. Mengingat  situasi yang begitu, tak mungkinlah ibu hamil besar harus pergi ke Puskesman. Wah!!. bisa jadi mereka melahirkan dijalan.

       Trimakasih, sebagai seorang bidan desa saya sudah bisa berbagi cerita. Jadi bidan  tangguh dan perkasa. Apapun halangan, rintangan dan hambatan selalu saya hadapi dengan suka cita. Bidan adalah ‘wonder woman’. Siap bisa melayani! Kapanpun! Dimanapun!

        Yuk!!  Kita bersama kita sepakat untuk sadar. Periksakan diri ke faske kesehatan terlebih bagi para ibu hamil. Kami siap melayani dengan senang hati. Percayakan dengan  kami  ahlinya. Ibu sehat, bayi sehat keluarga bahagia.

         Trimakasih ibu Kartini. Terpujilah wahai ibu. Karenamu aku bisa berbakti untuk  tanah tumpah darahku. Bisa membuktikan mentalku sekuat baja. Membakar semangatku  membahana. Membuat hatiku teguh bak batu karang. Dan mengajariku untuk peduli  dan memberi ‘kasih’ untuk sesamaku.

Tolonglah lebih dulu orang yang tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu. Karena merekalah yang akan tulus mendoakanmu.

 

 

Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang. Selain  ibu rumah tangga penulis  masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit dari penulis  adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara, Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Mengungkap rahasia, Belajar di Tengah Corona dan lain-lain. Sekarang ini penulis tinggal  di  Jl Trikora RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan  keberhasilan dalam kehidupan.

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...