Resume ke : 3
Tanggal : 7 April
2021
Tema :
Pentingnya Ide menulis Bagi Guru
Nara Sumber : Bp. Wijaya Kusumah, M.Pd (Om Jay)
Moderator
: Bp Bambang Purwanto
Pertemuan ke-2 Gelombang 18
IDE MENULIS BAGI GURU
(Wijaya Kusuma, M.Pd)
Di
era globalisasi atau era milenial
seperti sekarang semua aspek harus berhubungan dengan internet. Di Abad 21
persaingan semakin tajam. Individu yang tidak membekali diri dengan kompetensi
yang memadai pasti terpinggirkan (ketinggalan). Apalagi sebagai guru. Jika guru tidak memiliki dan menguasai ICT
dan literasi informasi jadi sulit
mengembangkan pekerjaan dan tugasnya. Kebutuhan yang mutlak harus ada adalah Listrik dan jaringan
Internet. Bagaimana kalau keduanya tidak ada?
Yang
saya mau sampaikan disini adalah curahan hati saya. Sejak tanggal 4 – 7 April
2021, Daerah saya Sumba Timur NTT diterjang banjir bandang dan Badai Seroja
Siklon 2021. Bencana Maha dahsyat dan
begitu mencekam. Pengalaman berharga yang tak akan pernah terlupa sepanjang hidup. Dampak itu listrik
mati, jaringan internet hilang. Untuk pemulihan butuh waktu dan tenaga. Kabel
listrik dan kabel Telpon berhamburan akibat angin, badai, petir dan pohon tumbang. Ngeri!.
Trimakasih
Tuhan, Cerita sudah berlalu sedikit-demi sedikit terbenahi.
Nah....setelah normal rapelan tugas jadi banyak. Pekerjaan menumpuk. Tugas
harus diselesaikan. Mengejar ketingggalan. Seperti halnya saya sekarang. Sebagai manusia biasa jika tidak dewasa
menyikapi bisa stress. Sakit!. Terbukti beberapa teman saya sakit, ada yang di
rumah, opname di rumah sakit dan ada pula yang di karantina bahkan ada yang
meninggal dunia ( Om Ade dan Ibu Sandra Palekahelu). Sedih!. Selain kita
percaya takdir. Itu juga ada kemungkinan
dampak dari pikiran, kecapaian, stress
dan depresi karena kondisi.
Maafkan saya,
kini saya baru mulai membuat remuse belajar menulis karena listrik dan
sinyal tak ada. HP baru mulai bisa dibuka. Ada jenset di tetangga, ‘numpang’
cas tapi ternyata membuat HP tambah eror jadi tak berani lagi pake. Tulisan dan kata-kata bisa terbaca, tapi
gambar dan video tak bisa muncul. Dalam
suasana hati yang masih gundah
pelan-pelan akan kuselesaikan tugas dan tanggung jawabku. Pengalaman yang sungguh berharga. Anggaplah Kenangan yang indah. Seni kehidupan.
Trimakasih Om Jay saya akan
setia mengikuti belajar menulis bersama om Jay. Chie chie.....Kita
belajar serius tapi santai. Kalau terlalu serius, muka tak bersahabat, hati
tertekan, pikiran tak karuan otak jadi
tak jalan. Bisa bahaya!.
Masuk pada pokok persoalan. Pernyataan
Om Jay Ide menulis selalu ada. Jika kita sudah biasa menulis ‘ide’ akan muncul setiap saat. Cobalah menulis dari hal yang paling dekat dengan kita. Contoh Ide Tulisan
: Menceritakan diri sendiri. Cerita
tentang kegiatan hari ini dari bangun
tidur sampai tidur lagi. Cerita dari
status WA yang kita ikuti yang dianggap menarik. Dari orang lain (
teman, saudara).
Kita sebagai guru kita bisa
cerita anak didik kita sendiri. Ada yang paling nakal. Yang paling bodoh atau
bisa juga yang paling bandel sampai menjengkelkan guru. Ide juga dari tetangga
terdekat kita. Dari keluarga pokonya terlalu banyak ide. Bagi yang belum biasa
menulis sebenarnya ada saja ide, hanya
mungkin akan ‘mulai’ dari mana. Tapi yang perlu diingat, cerita itu yang baik-baik saja, jangan cerita hal yang kurang baik apalagi yang tidak baik. Menulis
hendaknya memberi manfaat. Menginspirasi pembaca dan membuat kebaikan.
Menulis adalah
mengukir keabadian dan akan dikenang orang disepanjang masa. Jasat penulis sudah membumi
tapi karyanya masih dikenang di hati. Seperti Pramudya Anantatoer, beliau
namanya begitu melegenda dikalangan para pegiat literasi. Bukan saja di Indonesia
tetapi namanya mendunia. Tentunya itu
akan membanggakan anak-cucu yang masih ada.
Tulisan yang idenya dari teman dekat, disini Om Jay cerita tentang temannya pak Ukim Komarudin. Beliau
guru Bahasa Indonesia mengajak om Jay untuk
belajar Menulis. Guru bahasa kalau jadi penulis itu hal biasa. Om Jay adalah guru TIK (informatika). Pak Ukim mengajak om Jay
belajar menulis. Beliau bilang jadi guru
TIK ‘jangan’ hanya tahu servis komputer saja, tapi bisa menerbitkan buku sendiri sebelum
mati. Akhirnya Om jay memenuhi
ajakan pak Ukim dan mulai belajar menulis. Nah!, berkat jasa pak Ukim inilah
Om Jay jadi penulis hebat
sekarang. Siapa tak kenal Bapak Wijaya
Kusumah ( Om Jay) ?
Cerita tentang peserta didik. Om Jay cerita tentang Boby, anak murid yang amat bandel. Nakal. Susah diatur. Suatu saat kedua orang tua dari Boby meninggal akibat kecelakaan pesawat.
Akhirnya Bobi diajak pamannya ke Semarang. Boby
pindah sekolah di Semarang. Pada suatu
kesempatan Om Jay ketemu di
Semarang. Ternyata si Boby sudah jadi perwira polisi.
Masih terlau banyak cerita-cerita
yang bisa ditulis. Kita tinggal kembangkan sesuai dengan bahasa kita sendiri.
Seperti kita cerita kepada teman ‘tapi’ cerita itu dituliskan. Sebagai penulis harus rajin menulis. Belajar percaya diri. Bisa menulis di kertas,
WA, Face Book atau media lainnya. Menulis kisah nyata pasti selalu ada dan kita rasa. Seperti om Jay yang selalu cerita apa saja dari diri sendiri,
orang lain, keluarga atau
lembaga. Beliau cerita selau
asyik, santai, runtut dan enak di baca.
Beliau menulis bak air mengalir deras. Kapan saya bisa seperti beliau?.
Harus disadari. Ketika tulisan kita nanti sepi pembaca janganlah bersedih. Segeralah berpikir kreatif dan temukan gaya menulismu. Insa Allah dari perjuanganmu melawan diri sendiri akan
bertemu pembaca setiamu. Setiap penulis akan punya gaya yang berbeda. Ciri yang
khas. Atau bisa punya gaya seperti yang
diidolakan. Maka menulislah dari hatimu maka kamu akan menemukan gaya
tulisanmu dan pembaca setiamu.
Semoga Tuhan
memberikan kita selalu kesabaran dan kesantuan untuk menjadi hambanya yang setia. Rajin menulis. Rajin berkarya. Menebar
Inspirasi dan kebaikan. Teruslah semangat belajar menulis dan semangat untuk
mendapatkan “Mahkota”. Yaitu buku solo dari hasil
resume di kegiatan belajar menulis. Semoga buku akan menemukan
takdirnya. Teruslah menulis dan buktikan apa
yang akan terjadi. Salam
Literasi ! tetap semangaatt!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar