(Perjuangan Seorang Bidan Desa
Tanarara)
Panggil saya
Lidia. Hari Kartini tak lama lagi. Betapa beruntungnya saya
sekarang bisa sekolah tinggi, walaupun
saya seorang perempuan. Jaman dulu kebanyakan
perempuan tugasnya hanya di dapur, di sumur. Atau ‘hanya’ dianggap
sebagai orang ‘belakang’. Wanita bangsawan saja yang boleh sekolah, rakyat biasa
tak boleh sekolah.
Trima
kasih ibu Kartini, penjuang wanita tangguh!. Berkat jasamu kini kartini-kartini
semakin maju, sesuai kemajuan era global
dan milenial. Keren!!. Jiwa Kartini semakin ’di muka’. Peran Wanita sudah tak
diragukan lagi. Semangat Rajen Ajeng Kartini sudah merasuki setiap pribadi
wanita seluiruh Indonesia.
Kartini milenial adalah
kartini masa kini. Wanita
karier, smart penuh semangat. Wanita yang kreatif, inovatif dan
inspiratif. Kartini milenial
memiliki kesempatan yang besar untuk terus maju dan berkarya.Tapi perlu diingat!. Bagaimanapun wanita tidak boleh meninggalkan kodratnya
sebagai seorang ibu. Halus, penuh cinta, perasaan dan penyayang. Ciee...
Kecil
dulu saya bercita-cita jadi dokter. Betapa bangga rasa hati kalau saya bisa
membantu orang yang sakit. Orang yang sakit berat yang hidupnya susah dan tak ada biaya. Sering
saya lihat di daerah tempat tinggalku. Apalagi mereka yang di kampung jauh dari kota, jika sakit berat tinggal
tunggu kapan Tuhan jemput pulang. Saya berusaha bertekun belajar.
Bersyukur saya selalu mendapatkan
peringkat umum sejak SD hingga SMA. Saya
bertekat bisa membanggakan orang tua yang
sudah banyak berjasa untuk aku dan adikku, Saka Supriyadi.
Tapi
cita-citapun ternyata kandas. Orang tuaku keberatan. Fakultas kedokteran pastilah sangat mahal. Orang tua ‘angkat tangan’
membiayaku. Orang tua bukan pegawai tinggi tapi
‘Hamba Tuhan’ yang melayani di kampung. Saya sangat mengerti kondisi
keluarga. Akhirnya saya mendaftarkan jurusan lain yaitu Farmasi, Pendidikan, Kimia dan Kebidanan. Saya diterima
semua waktu itu. Setelah berunding dengan pemikiran yang panjang dan doa dalam keluarga akhirnya kami memilih
kebidanan. Profesi yang tak jauh dari cita-citaku semula. Membantu orang sakit.
Walaupun sebenarnya bukan cita-cita yang utama tidak menyurutkanku untuk tetap
semangat. Saya akan tekun belajar dan fokus kuliah. Papa dan mama sudah
bersusah payah, berlelah-lelah demi mencukupkan biaya kuliahku. Puji Tuhan
akhirnya aku bisa membuktikan dengan prestasi selama masa kuliah yaitu: 10 besar Mahasiswa berprestasi
Program Studi D-III Kebidanan tahun 2014. Wisudawan dengan predikat Cumlaude Pada wisuda prodi D-III Kebidanan Tahun 2016.
Mahasiswa berprestasi Program Studi D-IV bidan Pendidik tahun 2017.
Wisudawan dengan predikat Cumlaude
pada wisuda Prodi D-IV. Bidan pendidik predikat wisudawan Terbaik Program Studi D-IV Bidan
Pendidik pada Wisuda Tahun 2017. Trimakasih Tuhan Engkau selalu memberi semangat dalam
setiap tugas dan kerjaku.
Ingin sebenarnya saya
melanjutkan kejenjang S2. Mengingat adikku juga harus kuliah, saya harus
mengalah. Kini adikku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana
di Kupang. Sebagai kakak inilah saatnya harus mengerti. Saya harus bekerja.
Kerinduanku adalah bisa membantu orang
tua membiayai adikku satu-satunya. Kesayangan keluarga.
Pada saat saya menunggu wisuda,
ada waktu luang. Dari hasil ‘hadiah’ dan sisa tabungan, uang saya pakai
untuk mengikuti kursus menjahit dan rias
pengantin. Saya tinggal di Waingapu, Sumba Timur NTT. Daerah yang belum maju
layaknya kota-kota di Jawa. Semua masih serba
ketinggalan. Salon dan penjahit masih langka. Aku berpikir ketrampilan itu pasti
bisa untuk tambahan penghasilan.
Nach benar adanya. Setelah selesai
wisuda saya pulang kampung. Awalnya saya
make up teman SMA yang menikah.
Alias gratis. Saya posting di FB. Teman-teman Fb-ku tahu dan koment. Rejeki memang
tak salah alamat. Kini saya sudah ‘dikenal’ dan banyak mendapat kepercayaan
untuk merias mereka diacara-acara penting bahkan pernikahan.
Pada tahun
2018 lagi gencar-gencarnya membahas pembangunan Indonesia
tentang kesehatan, pariwisata dan pendidikan. Puji Tuhan! Saya terpilih menjadi
delegasi yang membahas ‘kesehatan’ yang menjadi latar belakang kuliah saya.
Saya terpilih untuk mewakili NTT mengikuti ajang bergengsi itu. ‘Rembug Pemuda
Nasional di Indonesia’, Yuoth Collaboration Forum di Denpasar Bali. Kegiatan
itu membuatku bangga dan merupakan ‘sejarah’ yang tak akan terlupakan dalam hidupku.
Hari-hariku
di rumah terasa sepi. Sambil menunggu
tes PNS aku membantu mama membuat kue,
nasi kuning untuk dijual. Tak lama berselang saat yang ditunggu kini tiba. Saya mendaftar CPNS Tahun 2018, pada saat itu pertama
kalinya diberlakukan tes CPNS berbasis CAT. Mulai dari pendaftaran sampai dengan tes online.
Seleksinya berlangsung 2 kali, yaitu Seleksi SKD dan SKB dengan standar passing
gradenya masing-masing. Pada saat itu saya bersaing dengan 23 orang (peserta
yang sama-sama
mendaftar untuk formasi bidan di Puskesmas Tanarara). Puji Tuhan! Saat itu ‘hanya’ saya sendiri yang lolos seleksi SKD dan skor yang
kudapat melewati Passing Grade.Tak satupun teman peserta yang lain
yang melewati Skor passing grade.tersebut. Alhasil pada saat tes
kedua yaitu SKB tidak ada saingan tes
lagi.
Pada Maret 2019 SK 80% sudah ditangan.
Setelah mengikuti prajabatan, pada bulan Oktober 2020 akhirnya SK 100% terbit. Syah! Kini saya resmi ditempatkan di Puskesmas Tanarara, Desa Praibakul,
Kecamatan Matawai La Pawu, sebagai Bidan Pelaksana.
Jarak dari rumah menuju
Puskesmas 70-an
km. Dengan kondisi jalan menuju puskesmas sangat
rusak, berlubang, berlumpur. Jalan dibatasi oleh jurang dikanan kirinya. Untuk pergi ke lokasi harus
melewati padang sabana. Perbukitan luas
bahkan hutan belantara. Situasi
sangat sepi, ngeri dan terasa angker.
Di mess setiap malam ditemani
dengan nyamuk. Sesekali desiran ular yang kami harus terus waspada. Cuaca yang
tidak
pernah menentu. Matahari tak pernah
muncul apalagi tersenyum. Suasana teramat dingin menyusup tubuh. Awan dan kabut selalu menemani .Suhu udara selalu
dibawah 26o C. Ohh!!.... dinginnya setengah mati.
Saat pertama datang, kamar mess sudah siap. Ukurannya 1,5m x 2m. hanya cukup untuk 1 kasur ukuran
90x2m dan lemari plastik kecil. Dan kaca jendela berlubang. Siap setiap malam menerima angin dan hujan masuk di kamar. Berulang kali saya sakit karena belum bisa menyesuaikan
diri. Sedih!!. Saya menangis, merenung sendiri kenapa saya memilih menjadi PNS disini?. Di tempat yang terasa asing?. Tak
seorangpun ada yang kukenal. Air
sangat susah, Untuk mendapatkan air harus menimba di sumur tetangga yang airnya sangat terbatas. Jarak
antar rumah bisa 1 km. Jika ambil
air harus pagi-pagi sekali. Sebenarnya ada juga sumur
di puskesmas, tapi kadang-kala kering.
Pengabdian dimulai. Dengan seragam
kebanggan kami siap melaksanakan tugas negara. Jarak rumah pasien dengan tempat pelayanan kesehatan
sangat jauh dan sulit di jangkau. Jaringan telpon dan internet belum tersedia
di semua desa. Apalagi saat ini sudah diterapkan revolusi KIA yaitu semua ibu
hamil ‘wajib’ melahirkan difasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Harus ditolong oleh petugas kesehatan yaitu di
puskesmas. Ada banyak ibu hamil yang masih kesulitan ke puskesmas mengingat jarak
tempuh
yang jauh.
Karena beratnya medan dan
tidak ada transportasi.
Ada saja dari mereka harus jalan kaki atau naik kuda untuk menuju puskesmas.
Sebagai solusi pemerintah kecamatan bekerjasama dengan desa membangun ‘rumah
tunggu’ bagi ibu-ibu hamil. Mereka dapat datang dan tinggal beberapa hari di puskesmas
sebelum melahirkan. Sehingga saat ini, semua ibu-ibu hamil dari tempat
yang jauh, akan dijemput oleh petugas puskesmas di H-7. Dengan adanya rumah
tunggu, diharapkan semakin tinggi angka persalinan di fasilitas kesehatan.
Sehingga menurunkan angka kematian ibu dan bayinya. Sebelumnya penduduk melahirkan
hanya di rumah saja dengan dibantu oleh ibu dukun beranak. Resiko ibu dan bayi
meninggal besar. Sebagai kami
meningkatkan kemitraan antara bidan dengan dukun/kader.
Tentunya dengan harapan dapat membantu meningkatkan kesadaran
masyarakat untuk
memeriksakan kehamilan dan melahirkan di puskesmas.
|
|
|
Saat itu saya masih ingat ingin lanjut S2. Yang nota bene jadi dosen. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain yang sangat
mulia .Sejauh dan sekuat apapun saya. Saya tidak bisa lari
dan menghindar dari rencana Tuhan.
Pertama kali saya menolong persalinan sendirian. Diakhir persalinan ibu dan keluarga mengucapkan
“terimakasih”. Mereka begitu bahagia atas bantuan yang saya
lakukan. Senang, bangga, terharu rasa hati saya.Trimakasih Tuhan, saya bisa
bermanfaat untuk sesama.
Saat mencuci alat dan membereskan alat persalinan tak terasa air matapun jatuh membasahi pipi.
Ternyata dengan kata ‘terimakasih’ bisa menghipnotis
saya. Saya
sungguh sangat terharu. Saya merasa bahwa menjadi seorang bidan itu pekerjaan yang mulia. Bidan itu bukan sekedar profesi tetapi sebuah ‘anugrah’ dari Tuhan. Punya naluri untuk melayani.. Dalam tugas
bidan harus siap siaga 24 jam. Siap menyelamatkan dua nyawa ( ibu dan anak) . Seorang bidan dituntut harus serba
bisa, serba siap, dan serba tahu.
Dari situ saya mulai mencintai profesi saya, sampai
dengan saat ini setiap kali orang mengucapkan terimakasih kepada saya,
saya merasa itu adalah bentuk penghargaan tertinggi. Bukan soal uang, imbalan
atau capaian kerja. Tapi sebuah pengabdian dan pelayanan luhur. Saya sudah bisa menjadi
penyalur berkat buat orang lain.
Pengalaman menjadi bidan semua berkesan. Senang,
semangat, bangga bahkan sampai terharu. Saya harus mengunjungi ibu hamil ke rumah-rumah
mereka. Ada pasien yang jarak
rumah-puskesmas ditempuh
4
jam
perjalanan. Lokasi
perbukitan. Naik turun gunung.
Menyebrang kali yang deras.
Menyusuri hutan lebat.Banyak juga pohon beringin yang umurnya ratusan tahun. Bahkan
sering ada kejadian-kejadian yang diluar dugaan kita. Jatuh dijurang.
Digigit ular. Itu cerita yang sudah bisa. Mengingat situasi yang begitu, tak mungkinlah ibu hamil
besar harus pergi ke Puskesman. Wah!!. bisa jadi mereka melahirkan dijalan.
Trimakasih, sebagai seorang bidan desa
saya sudah bisa berbagi cerita. Jadi bidan
tangguh dan perkasa. Apapun halangan, rintangan dan hambatan selalu saya
hadapi dengan suka cita. Bidan adalah ‘wonder woman. Siap bisa melayani!
Kapanpun! Dimanapun!
Yuk!!
Kita bersama kita sepakat untuk sadar. Periksakan diri ke faske
kesehatan terlebih bagi para ibu hamil. Kami siap melayani dengan senang hati.
Percayakan dengan ahlinya. Ibu sehat,
bayi sehat keluarga bahagia.
Trimakasih ibu Kartini. Terpujilah wahai
ibu. Karenamu aku bisa berbakti untuk
tanah tumpah darahku. Bisa membuktikan mentalku sekuat baja. Membakar
semangatku membahana. Membuat hatiku
teguh bak batu karang. Dan mengajariku untuk peduli dan memberi ‘kasih’ untuk sesamaku.
Tolonglah lebih dulu orang yang tidak akan pernah bisa membalas
kebaikanmu. Karena merekalah yang akan tulus mendoakanmu.
Ledwina
Eti
adalah nama facebook dan IG, nama
lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang. Selain
ibu rumah tangga penulis masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri
2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit dari penulis adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai
Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Mengungkap
rahasia, Belajar di Tengah Corona dan lain-lain. Sekarang ini penulis tinggal di Jl
Trikora RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.
No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat
dalam menggapai cita-cita , tersenyum dalam setiap
perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan keberhasilan dalam kehidupan.
MEMBANGKITKAN PESONA DIRI BERKAT KARTINI
(Perjuangan Seorang Bidan Desa
Tanarara)
Panggil saya
Lidia. Hari Kartini tak lama lagi. Betapa beruntungnya saya
sekarang bisa sekolah tinggi, walaupun
saya seorang perempuan. Jaman dulu kebanyakan
perempuan tugasnya hanya di dapur, di sumur. Atau ‘hanya’ dianggap
sebagai orang ‘belakang’. Wanita bangsawan saja yang boleh sekolah, rakyat biasa
tak boleh sekolah.
Trima
kasih ibu Kartini, penjuang wanita tangguh!. Berkat jasamu kini kartini-kartini
semakin maju, sesuai kemajuan era global
dan milenial. Keren!!. Jiwa Kartini semakin ’di muka’. Peran Wanita sudah tak
diragukan lagi. Semangat Rajen Ajeng Kartini sudah merasuki setiap pribadi
wanita seluiruh Indonesia.
Kartini milenial adalah
kartini masa kini. Wanita
karier, smart penuh semangat. Wanita yang kreatif, inovatif dan
inspiratif. Kartini milenial
memiliki kesempatan yang besar untuk terus maju dan berkarya.Tapi perlu diingat!. Bagaimanapun wanita tidak boleh meninggalkan kodratnya
sebagai seorang ibu. Halus, penuh cinta, perasaan dan penyayang. Ciee...
Kecil
dulu saya bercita-cita jadi dokter. Betapa bangga rasa hati kalau saya bisa
membantu orang yang sakit. Orang yang sakit berat yang hidupnya susah dan tak ada biaya. Sering
saya lihat di daerah tempat tinggalku. Apalagi mereka yang di kampung jauh dari kota, jika sakit berat tinggal
tunggu kapan Tuhan jemput pulang. Saya berusaha bertekun belajar.
Bersyukur saya selalu mendapatkan
peringkat umum sejak SD hingga SMA. Saya
bertekat bisa membanggakan orang tua yang
sudah banyak berjasa untuk aku dan adikku, Saka Supriyadi.
Tapi
cita-citapun ternyata kandas. Orang tuaku keberatan. Fakultas kedokteran pastilah sangat mahal. Orang tua ‘angkat tangan’
membiayaku. Orang tua bukan pegawai tinggi tapi
‘Hamba Tuhan’ yang melayani di kampung. Saya sangat mengerti kondisi
keluarga. Akhirnya saya mendaftarkan jurusan lain yaitu Farmasi, Pendidikan, Kimia dan Kebidanan. Saya diterima
semua waktu itu. Setelah berunding dengan pemikiran yang panjang dan doa dalam keluarga akhirnya kami memilih
kebidanan. Profesi yang tak jauh dari cita-citaku semula. Membantu orang sakit.
Walaupun sebenarnya bukan cita-cita yang utama tidak menyurutkanku untuk tetap
semangat. Saya akan tekun belajar dan fokus kuliah. Papa dan mama sudah
bersusah payah, berlelah-lelah demi mencukupkan biaya kuliahku. Puji Tuhan
akhirnya aku bisa membuktikan dengan prestasi selama masa kuliah yaitu: 10 besar Mahasiswa berprestasi
Program Studi D-III Kebidanan tahun 2014. Wisudawan dengan predikat Cumlaude Pada wisuda prodi D-III Kebidanan Tahun 2016.
Mahasiswa berprestasi Program Studi D-IV bidan Pendidik tahun 2017.
Wisudawan dengan predikat Cumlaude
pada wisuda Prodi D-IV. Bidan pendidik predikat wisudawan Terbaik Program Studi D-IV Bidan
Pendidik pada Wisuda Tahun 2017. Trimakasih Tuhan Engkau selalu memberi semangat dalam
setiap tugas dan kerjaku.

Ingin sebenarnya saya
melanjutkan kejenjang S2. Mengingat adikku juga harus kuliah, saya harus
mengalah. Kini adikku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana
di Kupang. Sebagai kakak inilah saatnya harus mengerti. Saya harus bekerja.
Kerinduanku adalah bisa membantu orang
tua membiayai adikku satu-satunya. Kesayangan keluarga.
Pada saat saya menunggu wisuda,
ada waktu luang. Dari hasil ‘hadiah’ dan sisa tabungan, uang saya pakai
untuk mengikuti kursus menjahit dan rias
pengantin. Saya tinggal di Waingapu, Sumba Timur NTT. Daerah yang belum maju
layaknya kota-kota di Jawa. Semua masih serba
ketinggalan. Salon dan penjahit masih langka. Aku berpikir ketrampilan itu pasti
bisa untuk tambahan penghasilan.
Nach benar adanya. Setelah selesai
wisuda saya pulang kampung. Awalnya saya
make up teman SMA yang menikah.
Alias gratis. Saya posting di FB. Teman-teman Fb-ku tahu dan koment. Rejeki memang
tak salah alamat. Kini saya sudah ‘dikenal’ dan banyak mendapat kepercayaan
untuk merias mereka diacara-acara penting bahkan pernikahan.
Pada tahun
2018 lagi gencar-gencarnya membahas pembangunan Indonesia
tentang kesehatan, pariwisata dan pendidikan. Puji Tuhan! Saya terpilih menjadi
delegasi yang membahas ‘kesehatan’ yang menjadi latar belakang kuliah saya.
Saya terpilih untuk mewakili NTT mengikuti ajang bergengsi itu. ‘Rembug Pemuda
Nasional di Indonesia’, Yuoth Collaboration Forum di Denpasar Bali. Kegiatan
itu membuatku bangga dan merupakan ‘sejarah’ yang tak akan terlupakan dalam hidupku.
Hari-hariku
di rumah terasa sepi. Sambil menunggu
tes PNS aku membantu mama membuat kue,
nasi kuning untuk dijual. Tak lama berselang saat yang ditunggu kini tiba. Saya mendaftar CPNS Tahun 2018, pada saat itu pertama
kalinya diberlakukan tes CPNS berbasis CAT. Mulai dari pendaftaran sampai dengan tes online.
Seleksinya berlangsung 2 kali, yaitu Seleksi SKD dan SKB dengan standar passing
gradenya masing-masing. Pada saat itu saya bersaing dengan 23 orang (peserta
yang sama-sama
mendaftar untuk formasi bidan di Puskesmas Tanarara). Puji Tuhan! Saat itu ‘hanya’ saya sendiri yang lolos seleksi SKD dan skor yang
kudapat melewati Passing Grade.Tak satupun teman peserta yang lain
yang melewati Skor passing grade.tersebut. Alhasil pada saat tes
kedua yaitu SKB tidak ada saingan tes
lagi.
Pada Maret 2019 SK 80% sudah ditangan.
Setelah mengikuti prajabatan, pada bulan Oktober 2020 akhirnya SK 100% terbit. Syah! Kini saya resmi ditempatkan di Puskesmas Tanarara, Desa Praibakul,
Kecamatan Matawai La Pawu, sebagai Bidan Pelaksana.
Jarak dari rumah menuju
Puskesmas 70-an
km. Dengan kondisi jalan menuju puskesmas sangat
rusak, berlubang, berlumpur. Jalan dibatasi oleh jurang dikanan kirinya. Untuk pergi ke lokasi harus
melewati padang sabana. Perbukitan luas
bahkan hutan belantara. Situasi
sangat sepi, ngeri dan terasa angker.
Di mess setiap malam ditemani
dengan nyamuk. Sesekali desiran ular yang kami harus terus waspada. Cuaca yang
tidak
pernah menentu. Matahari tak pernah
muncul apalagi tersenyum. Suasana teramat dingin menyusup tubuh. Awan dan kabut selalu menemani .Suhu udara selalu
dibawah 26o C. Ohh!!.... dinginnya setengah mati.
Saat pertama datang, kamar mess sudah siap. Ukurannya 1,5m x 2m. hanya cukup untuk 1 kasur ukuran
90x2m dan lemari plastik kecil. Dan kaca jendela berlubang. Siap setiap malam menerima angin dan hujan masuk di kamar. Berulang kali saya sakit karena belum bisa menyesuaikan
diri. Sedih!!. Saya menangis, merenung sendiri kenapa saya memilih menjadi PNS disini?. Di tempat yang terasa asing?. Tak
seorangpun ada yang kukenal. Air
sangat susah, Untuk mendapatkan air harus menimba di sumur tetangga yang airnya sangat terbatas. Jarak
antar rumah bisa 1 km. Jika ambil
air harus pagi-pagi sekali. Sebenarnya ada juga sumur
di puskesmas, tapi kadang-kala kering.
Pengabdian dimulai. Dengan seragam
kebanggan kami siap melaksanakan tugas negara. Jarak rumah pasien dengan tempat pelayanan kesehatan
sangat jauh dan sulit di jangkau. Jaringan telpon dan internet belum tersedia
di semua desa. Apalagi saat ini sudah diterapkan revolusi KIA yaitu semua ibu
hamil ‘wajib’ melahirkan difasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Harus ditolong oleh petugas kesehatan yaitu di
puskesmas. Ada banyak ibu hamil yang masih kesulitan ke puskesmas mengingat jarak
tempuh
yang jauh.
Karena beratnya medan dan
tidak ada transportasi.
Ada saja dari mereka harus jalan kaki atau naik kuda untuk menuju puskesmas.
Sebagai solusi pemerintah kecamatan bekerjasama dengan desa membangun ‘rumah
tunggu’ bagi ibu-ibu hamil. Mereka dapat datang dan tinggal beberapa hari di puskesmas
sebelum melahirkan. Sehingga saat ini, semua ibu-ibu hamil dari tempat
yang jauh, akan dijemput oleh petugas puskesmas di H-7. Dengan adanya rumah
tunggu, diharapkan semakin tinggi angka persalinan di fasilitas kesehatan.
Sehingga menurunkan angka kematian ibu dan bayinya. Sebelumnya penduduk melahirkan
hanya di rumah saja dengan dibantu oleh ibu dukun beranak. Resiko ibu dan bayi
meninggal besar. Sebagai kami
meningkatkan kemitraan antara bidan dengan dukun/kader.
Tentunya dengan harapan dapat membantu meningkatkan kesadaran
masyarakat untuk
memeriksakan kehamilan dan melahirkan di puskesmas.
|
|
|
Saat itu saya masih ingat ingin lanjut S2. Yang nota bene jadi dosen. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain yang sangat
mulia .Sejauh dan sekuat apapun saya. Saya tidak bisa lari
dan menghindar dari rencana Tuhan.
Pertama kali saya menolong persalinan sendirian. Diakhir persalinan ibu dan keluarga mengucapkan
“terimakasih”. Mereka begitu bahagia atas bantuan yang saya
lakukan. Senang, bangga, terharu rasa hati saya.Trimakasih Tuhan, saya bisa
bermanfaat untuk sesama.
Saat mencuci alat dan membereskan alat persalinan tak terasa air matapun jatuh membasahi pipi.
Ternyata dengan kata ‘terimakasih’ bisa menghipnotis
saya. Saya
sungguh sangat terharu. Saya merasa bahwa menjadi seorang bidan itu pekerjaan yang mulia. Bidan itu bukan sekedar profesi tetapi sebuah ‘anugrah’ dari Tuhan. Punya naluri untuk melayani.. Dalam tugas
bidan harus siap siaga 24 jam. Siap menyelamatkan dua nyawa ( ibu dan anak) . Seorang bidan dituntut harus serba
bisa, serba siap, dan serba tahu.
Dari situ saya mulai mencintai profesi saya, sampai
dengan saat ini setiap kali orang mengucapkan terimakasih kepada saya,
saya merasa itu adalah bentuk penghargaan tertinggi. Bukan soal uang, imbalan
atau capaian kerja. Tapi sebuah pengabdian dan pelayanan luhur. Saya sudah bisa menjadi
penyalur berkat buat orang lain.
Pengalaman menjadi bidan semua berkesan. Senang,
semangat, bangga bahkan sampai terharu. Saya harus mengunjungi ibu hamil ke rumah-rumah
mereka. Ada pasien yang jarak
rumah-puskesmas ditempuh
4
jam
perjalanan. Lokasi
perbukitan. Naik turun gunung.
Menyebrang kali yang deras.
Menyusuri hutan lebat.Banyak juga pohon beringin yang umurnya ratusan tahun. Bahkan
sering ada kejadian-kejadian yang diluar dugaan kita. Jatuh dijurang.
Digigit ular. Itu cerita yang sudah bisa. Mengingat situasi yang begitu, tak mungkinlah ibu hamil
besar harus pergi ke Puskesman. Wah!!. bisa jadi mereka melahirkan dijalan.
Trimakasih, sebagai seorang bidan desa
saya sudah bisa berbagi cerita. Jadi bidan
tangguh dan perkasa. Apapun halangan, rintangan dan hambatan selalu saya
hadapi dengan suka cita. Bidan adalah ‘wonder woman. Siap bisa melayani!
Kapanpun! Dimanapun!
Yuk!!
Kita bersama kita sepakat untuk sadar. Periksakan diri ke faske
kesehatan terlebih bagi para ibu hamil. Kami siap melayani dengan senang hati.
Percayakan dengan ahlinya. Ibu sehat,
bayi sehat keluarga bahagia.
Trimakasih ibu Kartini. Terpujilah wahai
ibu. Karenamu aku bisa berbakti untuk
tanah tumpah darahku. Bisa membuktikan mentalku sekuat baja. Membakar
semangatku membahana. Membuat hatiku
teguh bak batu karang. Dan mengajariku untuk peduli dan memberi ‘kasih’ untuk sesamaku.
Tolonglah lebih dulu orang yang tidak akan pernah bisa membalas
kebaikanmu. Karena merekalah yang akan tulus mendoakanmu.
Ledwina
Eti
adalah nama facebook dan IG, nama
lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang. Selain
ibu rumah tangga penulis masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri
2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit dari penulis adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai
Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Mengungkap
rahasia, Belajar di Tengah Corona dan lain-lain. Sekarang ini penulis tinggal di Jl
Trikora RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.
No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat
dalam menggapai cita-cita , tersenyum dalam setiap
perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan keberhasilan dalam kehidupan.
MEMBANGKITKAN PESONA DIRI BERKAT KARTINI
(Perjuangan Seorang Bidan Desa
Tanarara)
Panggil saya
Lidia. Hari Kartini tak lama lagi. Betapa beruntungnya saya
sekarang bisa sekolah tinggi, walaupun
saya seorang perempuan. Jaman dulu kebanyakan
perempuan tugasnya hanya di dapur, di sumur. Atau ‘hanya’ dianggap
sebagai orang ‘belakang’. Wanita bangsawan saja yang boleh sekolah, rakyat biasa
tak boleh sekolah.
Trima
kasih ibu Kartini, penjuang wanita tangguh!. Berkat jasamu kini kartini-kartini
semakin maju, sesuai kemajuan era global
dan milenial. Keren!!. Jiwa Kartini semakin ’di muka’. Peran Wanita sudah tak
diragukan lagi. Semangat Rajen Ajeng Kartini sudah merasuki setiap pribadi
wanita seluiruh Indonesia.
Kartini milenial adalah
kartini masa kini. Wanita
karier, smart penuh semangat. Wanita yang kreatif, inovatif dan
inspiratif. Kartini milenial
memiliki kesempatan yang besar untuk terus maju dan berkarya.Tapi perlu diingat!. Bagaimanapun wanita tidak boleh meninggalkan kodratnya
sebagai seorang ibu. Halus, penuh cinta, perasaan dan penyayang. Ciee...
Kecil
dulu saya bercita-cita jadi dokter. Betapa bangga rasa hati kalau saya bisa
membantu orang yang sakit. Orang yang sakit berat yang hidupnya susah dan tak ada biaya. Sering
saya lihat di daerah tempat tinggalku. Apalagi mereka yang di kampung jauh dari kota, jika sakit berat tinggal
tunggu kapan Tuhan jemput pulang. Saya berusaha bertekun belajar.
Bersyukur saya selalu mendapatkan
peringkat umum sejak SD hingga SMA. Saya
bertekat bisa membanggakan orang tua yang
sudah banyak berjasa untuk aku dan adikku, Saka Supriyadi.
Tapi
cita-citapun ternyata kandas. Orang tuaku keberatan. Fakultas kedokteran pastilah sangat mahal. Orang tua ‘angkat tangan’
membiayaku. Orang tua bukan pegawai tinggi tapi
‘Hamba Tuhan’ yang melayani di kampung. Saya sangat mengerti kondisi
keluarga. Akhirnya saya mendaftarkan jurusan lain yaitu Farmasi, Pendidikan, Kimia dan Kebidanan. Saya diterima
semua waktu itu. Setelah berunding dengan pemikiran yang panjang dan doa dalam keluarga akhirnya kami memilih
kebidanan. Profesi yang tak jauh dari cita-citaku semula. Membantu orang sakit.
Walaupun sebenarnya bukan cita-cita yang utama tidak menyurutkanku untuk tetap
semangat. Saya akan tekun belajar dan fokus kuliah. Papa dan mama sudah
bersusah payah, berlelah-lelah demi mencukupkan biaya kuliahku. Puji Tuhan
akhirnya aku bisa membuktikan dengan prestasi selama masa kuliah yaitu: 10 besar Mahasiswa berprestasi
Program Studi D-III Kebidanan tahun 2014. Wisudawan dengan predikat Cumlaude Pada wisuda prodi D-III Kebidanan Tahun 2016.
Mahasiswa berprestasi Program Studi D-IV bidan Pendidik tahun 2017.
Wisudawan dengan predikat Cumlaude
pada wisuda Prodi D-IV. Bidan pendidik predikat wisudawan Terbaik Program Studi D-IV Bidan
Pendidik pada Wisuda Tahun 2017. Trimakasih Tuhan Engkau selalu memberi semangat dalam
setiap tugas dan kerjaku.

Ingin sebenarnya saya
melanjutkan kejenjang S2. Mengingat adikku juga harus kuliah, saya harus
mengalah. Kini adikku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana
di Kupang. Sebagai kakak inilah saatnya harus mengerti. Saya harus bekerja.
Kerinduanku adalah bisa membantu orang
tua membiayai adikku satu-satunya. Kesayangan keluarga.
Pada saat saya menunggu wisuda,
ada waktu luang. Dari hasil ‘hadiah’ dan sisa tabungan, uang saya pakai
untuk mengikuti kursus menjahit dan rias
pengantin. Saya tinggal di Waingapu, Sumba Timur NTT. Daerah yang belum maju
layaknya kota-kota di Jawa. Semua masih serba
ketinggalan. Salon dan penjahit masih langka. Aku berpikir ketrampilan itu pasti
bisa untuk tambahan penghasilan.
Nach benar adanya. Setelah selesai
wisuda saya pulang kampung. Awalnya saya
make up teman SMA yang menikah.
Alias gratis. Saya posting di FB. Teman-teman Fb-ku tahu dan koment. Rejeki memang
tak salah alamat. Kini saya sudah ‘dikenal’ dan banyak mendapat kepercayaan
untuk merias mereka diacara-acara penting bahkan pernikahan.
Pada tahun
2018 lagi gencar-gencarnya membahas pembangunan Indonesia
tentang kesehatan, pariwisata dan pendidikan. Puji Tuhan! Saya terpilih menjadi
delegasi yang membahas ‘kesehatan’ yang menjadi latar belakang kuliah saya.
Saya terpilih untuk mewakili NTT mengikuti ajang bergengsi itu. ‘Rembug Pemuda
Nasional di Indonesia’, Yuoth Collaboration Forum di Denpasar Bali. Kegiatan
itu membuatku bangga dan merupakan ‘sejarah’ yang tak akan terlupakan dalam hidupku.
Hari-hariku
di rumah terasa sepi. Sambil menunggu
tes PNS aku membantu mama membuat kue,
nasi kuning untuk dijual. Tak lama berselang saat yang ditunggu kini tiba. Saya mendaftar CPNS Tahun 2018, pada saat itu pertama
kalinya diberlakukan tes CPNS berbasis CAT. Mulai dari pendaftaran sampai dengan tes online.
Seleksinya berlangsung 2 kali, yaitu Seleksi SKD dan SKB dengan standar passing
gradenya masing-masing. Pada saat itu saya bersaing dengan 23 orang (peserta
yang sama-sama
mendaftar untuk formasi bidan di Puskesmas Tanarara). Puji Tuhan! Saat itu ‘hanya’ saya sendiri yang lolos seleksi SKD dan skor yang
kudapat melewati Passing Grade.Tak satupun teman peserta yang lain
yang melewati Skor passing grade.tersebut. Alhasil pada saat tes
kedua yaitu SKB tidak ada saingan tes
lagi.
Pada Maret 2019 SK 80% sudah ditangan.
Setelah mengikuti prajabatan, pada bulan Oktober 2020 akhirnya SK 100% terbit. Syah! Kini saya resmi ditempatkan di Puskesmas Tanarara, Desa Praibakul,
Kecamatan Matawai La Pawu, sebagai Bidan Pelaksana.
Jarak dari rumah menuju
Puskesmas 70-an
km. Dengan kondisi jalan menuju puskesmas sangat
rusak, berlubang, berlumpur. Jalan dibatasi oleh jurang dikanan kirinya. Untuk pergi ke lokasi harus
melewati padang sabana. Perbukitan luas
bahkan hutan belantara. Situasi
sangat sepi, ngeri dan terasa angker.
Di mess setiap malam ditemani
dengan nyamuk. Sesekali desiran ular yang kami harus terus waspada. Cuaca yang
tidak
pernah menentu. Matahari tak pernah
muncul apalagi tersenyum. Suasana teramat dingin menyusup tubuh. Awan dan kabut selalu menemani .Suhu udara selalu
dibawah 26o C. Ohh!!.... dinginnya setengah mati.
Saat pertama datang, kamar mess sudah siap. Ukurannya 1,5m x 2m. hanya cukup untuk 1 kasur ukuran
90x2m dan lemari plastik kecil. Dan kaca jendela berlubang. Siap setiap malam menerima angin dan hujan masuk di kamar. Berulang kali saya sakit karena belum bisa menyesuaikan
diri. Sedih!!. Saya menangis, merenung sendiri kenapa saya memilih menjadi PNS disini?. Di tempat yang terasa asing?. Tak
seorangpun ada yang kukenal. Air
sangat susah, Untuk mendapatkan air harus menimba di sumur tetangga yang airnya sangat terbatas. Jarak
antar rumah bisa 1 km. Jika ambil
air harus pagi-pagi sekali. Sebenarnya ada juga sumur
di puskesmas, tapi kadang-kala kering.
Pengabdian dimulai. Dengan seragam
kebanggan kami siap melaksanakan tugas negara. Jarak rumah pasien dengan tempat pelayanan kesehatan
sangat jauh dan sulit di jangkau. Jaringan telpon dan internet belum tersedia
di semua desa. Apalagi saat ini sudah diterapkan revolusi KIA yaitu semua ibu
hamil ‘wajib’ melahirkan difasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Harus ditolong oleh petugas kesehatan yaitu di
puskesmas. Ada banyak ibu hamil yang masih kesulitan ke puskesmas mengingat jarak
tempuh
yang jauh.
Karena beratnya medan dan
tidak ada transportasi.
Ada saja dari mereka harus jalan kaki atau naik kuda untuk menuju puskesmas.
Sebagai solusi pemerintah kecamatan bekerjasama dengan desa membangun ‘rumah
tunggu’ bagi ibu-ibu hamil. Mereka dapat datang dan tinggal beberapa hari di puskesmas
sebelum melahirkan. Sehingga saat ini, semua ibu-ibu hamil dari tempat
yang jauh, akan dijemput oleh petugas puskesmas di H-7. Dengan adanya rumah
tunggu, diharapkan semakin tinggi angka persalinan di fasilitas kesehatan.
Sehingga menurunkan angka kematian ibu dan bayinya. Sebelumnya penduduk melahirkan
hanya di rumah saja dengan dibantu oleh ibu dukun beranak. Resiko ibu dan bayi
meninggal besar. Sebagai kami
meningkatkan kemitraan antara bidan dengan dukun/kader.
Tentunya dengan harapan dapat membantu meningkatkan kesadaran
masyarakat untuk
memeriksakan kehamilan dan melahirkan di puskesmas.
|
|
|
Saat itu saya masih ingat ingin lanjut S2. Yang nota bene jadi dosen. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain yang sangat
mulia .Sejauh dan sekuat apapun saya. Saya tidak bisa lari
dan menghindar dari rencana Tuhan.
Pertama kali saya menolong persalinan sendirian. Diakhir persalinan ibu dan keluarga mengucapkan
“terimakasih”. Mereka begitu bahagia atas bantuan yang saya
lakukan. Senang, bangga, terharu rasa hati saya.Trimakasih Tuhan, saya bisa
bermanfaat untuk sesama.
Saat mencuci alat dan membereskan alat persalinan tak terasa air matapun jatuh membasahi pipi.
Ternyata dengan kata ‘terimakasih’ bisa menghipnotis
saya. Saya
sungguh sangat terharu. Saya merasa bahwa menjadi seorang bidan itu pekerjaan yang mulia. Bidan itu bukan sekedar profesi tetapi sebuah ‘anugrah’ dari Tuhan. Punya naluri untuk melayani.. Dalam tugas
bidan harus siap siaga 24 jam. Siap menyelamatkan dua nyawa ( ibu dan anak) . Seorang bidan dituntut harus serba
bisa, serba siap, dan serba tahu.
Dari situ saya mulai mencintai profesi saya, sampai
dengan saat ini setiap kali orang mengucapkan terimakasih kepada saya,
saya merasa itu adalah bentuk penghargaan tertinggi. Bukan soal uang, imbalan
atau capaian kerja. Tapi sebuah pengabdian dan pelayanan luhur. Saya sudah bisa menjadi
penyalur berkat buat orang lain.
Pengalaman menjadi bidan semua berkesan. Senang,
semangat, bangga bahkan sampai terharu. Saya harus mengunjungi ibu hamil ke rumah-rumah
mereka. Ada pasien yang jarak
rumah-puskesmas ditempuh
4
jam
perjalanan. Lokasi
perbukitan. Naik turun gunung.
Menyebrang kali yang deras.
Menyusuri hutan lebat.Banyak juga pohon beringin yang umurnya ratusan tahun. Bahkan
sering ada kejadian-kejadian yang diluar dugaan kita. Jatuh dijurang.
Digigit ular. Itu cerita yang sudah bisa. Mengingat situasi yang begitu, tak mungkinlah ibu hamil
besar harus pergi ke Puskesman. Wah!!. bisa jadi mereka melahirkan dijalan.
Trimakasih, sebagai seorang bidan desa
saya sudah bisa berbagi cerita. Jadi bidan
tangguh dan perkasa. Apapun halangan, rintangan dan hambatan selalu saya
hadapi dengan suka cita. Bidan adalah ‘wonder woman. Siap bisa melayani!
Kapanpun! Dimanapun!
Yuk!!
Kita bersama kita sepakat untuk sadar. Periksakan diri ke faske
kesehatan terlebih bagi para ibu hamil. Kami siap melayani dengan senang hati.
Percayakan dengan ahlinya. Ibu sehat,
bayi sehat keluarga bahagia.
Trimakasih ibu Kartini. Terpujilah wahai
ibu. Karenamu aku bisa berbakti untuk
tanah tumpah darahku. Bisa membuktikan mentalku sekuat baja. Membakar
semangatku membahana. Membuat hatiku
teguh bak batu karang. Dan mengajariku untuk peduli dan memberi ‘kasih’ untuk sesamaku.
Tolonglah lebih dulu orang yang tidak akan pernah bisa membalas
kebaikanmu. Karena merekalah yang akan tulus mendoakanmu.
Ledwina
Eti
adalah nama facebook dan IG, nama
lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang. Selain
ibu rumah tangga penulis masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri
2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit dari penulis adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai
Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Mengungkap
rahasia, Belajar di Tengah Corona dan lain-lain. Sekarang ini penulis tinggal di Jl
Trikora RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.
No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat
dalam menggapai cita-cita , tersenyum dalam setiap
perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan keberhasilan dalam kehidupan.
MEMBANGKITKAN PESONA DIRI BERKAT KARTINI
(Perjuangan Seorang Bidan Desa
Tanarara)
Panggil saya
Lidia. Hari Kartini tak lama lagi. Betapa beruntungnya saya
sekarang bisa sekolah tinggi, walaupun
saya seorang perempuan. Jaman dulu kebanyakan
perempuan tugasnya hanya di dapur, di sumur. Atau ‘hanya’ dianggap
sebagai orang ‘belakang’. Wanita bangsawan saja yang boleh sekolah, rakyat biasa
tak boleh sekolah.
Trima
kasih ibu Kartini, penjuang wanita tangguh!. Berkat jasamu kini kartini-kartini
semakin maju, sesuai kemajuan era global
dan milenial. Keren!!. Jiwa Kartini semakin ’di muka’. Peran Wanita sudah tak
diragukan lagi. Semangat Rajen Ajeng Kartini sudah merasuki setiap pribadi
wanita seluiruh Indonesia.
Kartini milenial adalah
kartini masa kini. Wanita
karier, smart penuh semangat. Wanita yang kreatif, inovatif dan
inspiratif. Kartini milenial
memiliki kesempatan yang besar untuk terus maju dan berkarya.Tapi perlu diingat!. Bagaimanapun wanita tidak boleh meninggalkan kodratnya
sebagai seorang ibu. Halus, penuh cinta, perasaan dan penyayang. Ciee...
Kecil
dulu saya bercita-cita jadi dokter. Betapa bangga rasa hati kalau saya bisa
membantu orang yang sakit. Orang yang sakit berat yang hidupnya susah dan tak ada biaya. Sering
saya lihat di daerah tempat tinggalku. Apalagi mereka yang di kampung jauh dari kota, jika sakit berat tinggal
tunggu kapan Tuhan jemput pulang. Saya berusaha bertekun belajar.
Bersyukur saya selalu mendapatkan
peringkat umum sejak SD hingga SMA. Saya
bertekat bisa membanggakan orang tua yang
sudah banyak berjasa untuk aku dan adikku, Saka Supriyadi.
Tapi
cita-citapun ternyata kandas. Orang tuaku keberatan. Fakultas kedokteran pastilah sangat mahal. Orang tua ‘angkat tangan’
membiayaku. Orang tua bukan pegawai tinggi tapi
‘Hamba Tuhan’ yang melayani di kampung. Saya sangat mengerti kondisi
keluarga. Akhirnya saya mendaftarkan jurusan lain yaitu Farmasi, Pendidikan, Kimia dan Kebidanan. Saya diterima
semua waktu itu. Setelah berunding dengan pemikiran yang panjang dan doa dalam keluarga akhirnya kami memilih
kebidanan. Profesi yang tak jauh dari cita-citaku semula. Membantu orang sakit.
Walaupun sebenarnya bukan cita-cita yang utama tidak menyurutkanku untuk tetap
semangat. Saya akan tekun belajar dan fokus kuliah. Papa dan mama sudah
bersusah payah, berlelah-lelah demi mencukupkan biaya kuliahku. Puji Tuhan
akhirnya aku bisa membuktikan dengan prestasi selama masa kuliah yaitu: 10 besar Mahasiswa berprestasi
Program Studi D-III Kebidanan tahun 2014. Wisudawan dengan predikat Cumlaude Pada wisuda prodi D-III Kebidanan Tahun 2016.
Mahasiswa berprestasi Program Studi D-IV bidan Pendidik tahun 2017.
Wisudawan dengan predikat Cumlaude
pada wisuda Prodi D-IV. Bidan pendidik predikat wisudawan Terbaik Program Studi D-IV Bidan
Pendidik pada Wisuda Tahun 2017. Trimakasih Tuhan Engkau selalu memberi semangat dalam
setiap tugas dan kerjaku.

Ingin sebenarnya saya
melanjutkan kejenjang S2. Mengingat adikku juga harus kuliah, saya harus
mengalah. Kini adikku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana
di Kupang. Sebagai kakak inilah saatnya harus mengerti. Saya harus bekerja.
Kerinduanku adalah bisa membantu orang
tua membiayai adikku satu-satunya. Kesayangan keluarga.
Pada saat saya menunggu wisuda,
ada waktu luang. Dari hasil ‘hadiah’ dan sisa tabungan, uang saya pakai
untuk mengikuti kursus menjahit dan rias
pengantin. Saya tinggal di Waingapu, Sumba Timur NTT. Daerah yang belum maju
layaknya kota-kota di Jawa. Semua masih serba
ketinggalan. Salon dan penjahit masih langka. Aku berpikir ketrampilan itu pasti
bisa untuk tambahan penghasilan.
Nach benar adanya. Setelah selesai
wisuda saya pulang kampung. Awalnya saya
make up teman SMA yang menikah.
Alias gratis. Saya posting di FB. Teman-teman Fb-ku tahu dan koment. Rejeki memang
tak salah alamat. Kini saya sudah ‘dikenal’ dan banyak mendapat kepercayaan
untuk merias mereka diacara-acara penting bahkan pernikahan.
Pada tahun
2018 lagi gencar-gencarnya membahas pembangunan Indonesia
tentang kesehatan, pariwisata dan pendidikan. Puji Tuhan! Saya terpilih menjadi
delegasi yang membahas ‘kesehatan’ yang menjadi latar belakang kuliah saya.
Saya terpilih untuk mewakili NTT mengikuti ajang bergengsi itu. ‘Rembug Pemuda
Nasional di Indonesia’, Yuoth Collaboration Forum di Denpasar Bali. Kegiatan
itu membuatku bangga dan merupakan ‘sejarah’ yang tak akan terlupakan dalam hidupku.
Hari-hariku
di rumah terasa sepi. Sambil menunggu
tes PNS aku membantu mama membuat kue,
nasi kuning untuk dijual. Tak lama berselang saat yang ditunggu kini tiba. Saya mendaftar CPNS Tahun 2018, pada saat itu pertama
kalinya diberlakukan tes CPNS berbasis CAT. Mulai dari pendaftaran sampai dengan tes online.
Seleksinya berlangsung 2 kali, yaitu Seleksi SKD dan SKB dengan standar passing
gradenya masing-masing. Pada saat itu saya bersaing dengan 23 orang (peserta
yang sama-sama
mendaftar untuk formasi bidan di Puskesmas Tanarara). Puji Tuhan! Saat itu ‘hanya’ saya sendiri yang lolos seleksi SKD dan skor yang
kudapat melewati Passing Grade.Tak satupun teman peserta yang lain
yang melewati Skor passing grade.tersebut. Alhasil pada saat tes
kedua yaitu SKB tidak ada saingan tes
lagi.
Pada Maret 2019 SK 80% sudah ditangan.
Setelah mengikuti prajabatan, pada bulan Oktober 2020 akhirnya SK 100% terbit. Syah! Kini saya resmi ditempatkan di Puskesmas Tanarara, Desa Praibakul,
Kecamatan Matawai La Pawu, sebagai Bidan Pelaksana.
Jarak dari rumah menuju
Puskesmas 70-an
km. Dengan kondisi jalan menuju puskesmas sangat
rusak, berlubang, berlumpur. Jalan dibatasi oleh jurang dikanan kirinya. Untuk pergi ke lokasi harus
melewati padang sabana. Perbukitan luas
bahkan hutan belantara. Situasi
sangat sepi, ngeri dan terasa angker.
Di mess setiap malam ditemani
dengan nyamuk. Sesekali desiran ular yang kami harus terus waspada. Cuaca yang
tidak
pernah menentu. Matahari tak pernah
muncul apalagi tersenyum. Suasana teramat dingin menyusup tubuh. Awan dan kabut selalu menemani .Suhu udara selalu
dibawah 26o C. Ohh!!.... dinginnya setengah mati.
Saat pertama datang, kamar mess sudah siap. Ukurannya 1,5m x 2m. hanya cukup untuk 1 kasur ukuran
90x2m dan lemari plastik kecil. Dan kaca jendela berlubang. Siap setiap malam menerima angin dan hujan masuk di kamar. Berulang kali saya sakit karena belum bisa menyesuaikan
diri. Sedih!!. Saya menangis, merenung sendiri kenapa saya memilih menjadi PNS disini?. Di tempat yang terasa asing?. Tak
seorangpun ada yang kukenal. Air
sangat susah, Untuk mendapatkan air harus menimba di sumur tetangga yang airnya sangat terbatas. Jarak
antar rumah bisa 1 km. Jika ambil
air harus pagi-pagi sekali. Sebenarnya ada juga sumur
di puskesmas, tapi kadang-kala kering.
Pengabdian dimulai. Dengan seragam
kebanggan kami siap melaksanakan tugas negara. Jarak rumah pasien dengan tempat pelayanan kesehatan
sangat jauh dan sulit di jangkau. Jaringan telpon dan internet belum tersedia
di semua desa. Apalagi saat ini sudah diterapkan revolusi KIA yaitu semua ibu
hamil ‘wajib’ melahirkan difasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Harus ditolong oleh petugas kesehatan yaitu di
puskesmas. Ada banyak ibu hamil yang masih kesulitan ke puskesmas mengingat jarak
tempuh
yang jauh.
Karena beratnya medan dan
tidak ada transportasi.
Ada saja dari mereka harus jalan kaki atau naik kuda untuk menuju puskesmas.
Sebagai solusi pemerintah kecamatan bekerjasama dengan desa membangun ‘rumah
tunggu’ bagi ibu-ibu hamil. Mereka dapat datang dan tinggal beberapa hari di puskesmas
sebelum melahirkan. Sehingga saat ini, semua ibu-ibu hamil dari tempat
yang jauh, akan dijemput oleh petugas puskesmas di H-7. Dengan adanya rumah
tunggu, diharapkan semakin tinggi angka persalinan di fasilitas kesehatan.
Sehingga menurunkan angka kematian ibu dan bayinya. Sebelumnya penduduk melahirkan
hanya di rumah saja dengan dibantu oleh ibu dukun beranak. Resiko ibu dan bayi
meninggal besar. Sebagai kami
meningkatkan kemitraan antara bidan dengan dukun/kader.
Tentunya dengan harapan dapat membantu meningkatkan kesadaran
masyarakat untuk
memeriksakan kehamilan dan melahirkan di puskesmas.
|
|
|
Saat itu saya masih ingat ingin lanjut S2. Yang nota bene jadi dosen. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain yang sangat
mulia .Sejauh dan sekuat apapun saya. Saya tidak bisa lari
dan menghindar dari rencana Tuhan.
Pertama kali saya menolong persalinan sendirian. Diakhir persalinan ibu dan keluarga mengucapkan
“terimakasih”. Mereka begitu bahagia atas bantuan yang saya
lakukan. Senang, bangga, terharu rasa hati saya.Trimakasih Tuhan, saya bisa
bermanfaat untuk sesama.
Saat mencuci alat dan membereskan alat persalinan tak terasa air matapun jatuh membasahi pipi.
Ternyata dengan kata ‘terimakasih’ bisa menghipnotis
saya. Saya
sungguh sangat terharu. Saya merasa bahwa menjadi seorang bidan itu pekerjaan yang mulia. Bidan itu bukan sekedar profesi tetapi sebuah ‘anugrah’ dari Tuhan. Punya naluri untuk melayani.. Dalam tugas
bidan harus siap siaga 24 jam. Siap menyelamatkan dua nyawa ( ibu dan anak) . Seorang bidan dituntut harus serba
bisa, serba siap, dan serba tahu.
Dari situ saya mulai mencintai profesi saya, sampai
dengan saat ini setiap kali orang mengucapkan terimakasih kepada saya,
saya merasa itu adalah bentuk penghargaan tertinggi. Bukan soal uang, imbalan
atau capaian kerja. Tapi sebuah pengabdian dan pelayanan luhur. Saya sudah bisa menjadi
penyalur berkat buat orang lain.
Pengalaman menjadi bidan semua berkesan. Senang,
semangat, bangga bahkan sampai terharu. Saya harus mengunjungi ibu hamil ke rumah-rumah
mereka. Ada pasien yang jarak
rumah-puskesmas ditempuh
4
jam
perjalanan. Lokasi
perbukitan. Naik turun gunung.
Menyebrang kali yang deras.
Menyusuri hutan lebat.Banyak juga pohon beringin yang umurnya ratusan tahun. Bahkan
sering ada kejadian-kejadian yang diluar dugaan kita. Jatuh dijurang.
Digigit ular. Itu cerita yang sudah bisa. Mengingat situasi yang begitu, tak mungkinlah ibu hamil
besar harus pergi ke Puskesman. Wah!!. bisa jadi mereka melahirkan dijalan.
Trimakasih, sebagai seorang bidan desa
saya sudah bisa berbagi cerita. Jadi bidan
tangguh dan perkasa. Apapun halangan, rintangan dan hambatan selalu saya
hadapi dengan suka cita. Bidan adalah ‘wonder woman. Siap bisa melayani!
Kapanpun! Dimanapun!
Yuk!!
Kita bersama kita sepakat untuk sadar. Periksakan diri ke faske
kesehatan terlebih bagi para ibu hamil. Kami siap melayani dengan senang hati.
Percayakan dengan ahlinya. Ibu sehat,
bayi sehat keluarga bahagia.
Trimakasih ibu Kartini. Terpujilah wahai
ibu. Karenamu aku bisa berbakti untuk
tanah tumpah darahku. Bisa membuktikan mentalku sekuat baja. Membakar
semangatku membahana. Membuat hatiku
teguh bak batu karang. Dan mengajariku untuk peduli dan memberi ‘kasih’ untuk sesamaku.
Tolonglah lebih dulu orang yang tidak akan pernah bisa membalas
kebaikanmu. Karena merekalah yang akan tulus mendoakanmu.
Ledwina
Eti
adalah nama facebook dan IG, nama
lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang. Selain
ibu rumah tangga penulis masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri
2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit dari penulis adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai
Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Mengungkap
rahasia, Belajar di Tengah Corona dan lain-lain. Sekarang ini penulis tinggal di Jl
Trikora RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.
No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat
dalam menggapai cita-cita , tersenyum dalam setiap
perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan keberhasilan dalam kehidupan.
MEMBANGKITKAN PESONA DIRI BERKAT
KARTINI
(Perjuangan Seorang Bidan Desa
Tanarara)
Panggil saya
Lidia. Hari Kartini tak lama lagi. Betapa beruntungnya saya
sekarang bisa sekolah tinggi, walaupun
saya seorang perempuan. Jaman dulu kebanyakan
perempuan tugasnya hanya di dapur, di sumur. Atau ‘hanya’ dianggap
sebagai orang ‘belakang’. Wanita bangsawan saja yang boleh sekolah, rakyat biasa
tak boleh sekolah.
Trima
kasih ibu Kartini, penjuang wanita tangguh!. Berkat jasamu kini kartini-kartini
semakin maju, sesuai kemajuan era global
dan milenial. Keren!!. Jiwa Kartini semakin ’di muka’. Peran Wanita sudah tak
diragukan lagi. Semangat Rajen Ajeng Kartini sudah merasuki setiap pribadi
wanita seluiruh Indonesia.
Kartini milenial adalah
kartini masa kini. Wanita
karier, smart penuh semangat. Wanita yang kreatif, inovatif dan
inspiratif. Kartini milenial
memiliki kesempatan yang besar untuk terus maju dan berkarya.Tapi perlu diingat!. Bagaimanapun wanita tidak boleh meninggalkan kodratnya
sebagai seorang ibu. Halus, penuh cinta, perasaan dan penyayang. Ciee...
Kecil
dulu saya bercita-cita jadi dokter. Betapa bangga rasa hati kalau saya bisa
membantu orang yang sakit. Orang yang sakit berat yang hidupnya susah dan tak ada biaya. Sering
saya lihat di daerah tempat tinggalku. Apalagi mereka yang di kampung jauh dari kota, jika sakit berat tinggal
tunggu kapan Tuhan jemput pulang. Saya berusaha bertekun belajar.
Bersyukur saya selalu mendapatkan
peringkat umum sejak SD hingga SMA. Saya
bertekat bisa membanggakan orang tua yang
sudah banyak berjasa untuk aku dan adikku, Saka Supriyadi.
Tapi
cita-citapun ternyata kandas. Orang tuaku keberatan. Fakultas kedokteran pastilah sangat mahal. Orang tua ‘angkat tangan’
membiayaku. Orang tua bukan pegawai tinggi tapi
‘Hamba Tuhan’ yang melayani di kampung. Saya sangat mengerti kondisi
keluarga. Akhirnya saya mendaftarkan jurusan lain yaitu Farmasi, Pendidikan, Kimia dan Kebidanan. Saya diterima
semua waktu itu. Setelah berunding dengan pemikiran yang panjang dan doa dalam keluarga akhirnya kami memilih
kebidanan. Profesi yang tak jauh dari cita-citaku semula. Membantu orang sakit.
Walaupun sebenarnya bukan cita-cita yang utama tidak menyurutkanku untuk tetap
semangat. Saya akan tekun belajar dan fokus kuliah. Papa dan mama sudah
bersusah payah, berlelah-lelah demi mencukupkan biaya kuliahku. Puji Tuhan
akhirnya aku bisa membuktikan dengan prestasi selama masa kuliah yaitu: 10 besar Mahasiswa berprestasi
Program Studi D-III Kebidanan tahun 2014. Wisudawan dengan predikat Cumlaude Pada wisuda prodi D-III Kebidanan Tahun 2016.
Mahasiswa berprestasi Program Studi D-IV bidan Pendidik tahun 2017.
Wisudawan dengan predikat Cumlaude
pada wisuda Prodi D-IV. Bidan pendidik predikat wisudawan Terbaik Program Studi D-IV Bidan
Pendidik pada Wisuda Tahun 2017. Trimakasih Tuhan Engkau selalu memberi semangat dalam
setiap tugas dan kerjaku.

Ingin sebenarnya saya
melanjutkan kejenjang S2. Mengingat adikku juga harus kuliah, saya harus
mengalah. Kini adikku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana
di Kupang. Sebagai kakak inilah saatnya harus mengerti. Saya harus bekerja.
Kerinduanku adalah bisa membantu orang
tua membiayai adikku satu-satunya. Kesayangan keluarga.
Pada saat saya menunggu wisuda,
ada waktu luang. Dari hasil ‘hadiah’ dan sisa tabungan, uang saya pakai
untuk mengikuti kursus menjahit dan rias
pengantin. Saya tinggal di Waingapu, Sumba Timur NTT. Daerah yang belum maju
layaknya kota-kota di Jawa. Semua masih serba
ketinggalan. Salon dan penjahit masih langka. Aku berpikir ketrampilan itu pasti
bisa untuk tambahan penghasilan.
Nach benar adanya. Setelah selesai
wisuda saya pulang kampung. Awalnya saya
make up teman SMA yang menikah.
Alias gratis. Saya posting di FB. Teman-teman Fb-ku tahu dan koment. Rejeki memang
tak salah alamat. Kini saya sudah ‘dikenal’ dan banyak mendapat kepercayaan
untuk merias mereka diacara-acara penting bahkan pernikahan.
Pada tahun
2018 lagi gencar-gencarnya membahas pembangunan Indonesia
tentang kesehatan, pariwisata dan pendidikan. Puji Tuhan! Saya terpilih menjadi
delegasi yang membahas ‘kesehatan’ yang menjadi latar belakang kuliah saya.
Saya terpilih untuk mewakili NTT mengikuti ajang bergengsi itu. ‘Rembug Pemuda
Nasional di Indonesia’, Yuoth Collaboration Forum di Denpasar Bali. Kegiatan
itu membuatku bangga dan merupakan ‘sejarah’ yang tak akan terlupakan dalam hidupku.
Hari-hariku
di rumah terasa sepi. Sambil menunggu
tes PNS aku membantu mama membuat kue,
nasi kuning untuk dijual. Tak lama berselang saat yang ditunggu kini tiba. Saya mendaftar CPNS Tahun 2018, pada saat itu pertama
kalinya diberlakukan tes CPNS berbasis CAT. Mulai dari pendaftaran sampai dengan tes online.
Seleksinya berlangsung 2 kali, yaitu Seleksi SKD dan SKB dengan standar passing
gradenya masing-masing. Pada saat itu saya bersaing dengan 23 orang (peserta
yang sama-sama
mendaftar untuk formasi bidan di Puskesmas Tanarara). Puji Tuhan! Saat itu ‘hanya’ saya sendiri yang lolos seleksi SKD dan skor yang
kudapat melewati Passing Grade.Tak satupun teman peserta yang lain
yang melewati Skor passing grade.tersebut. Alhasil pada saat tes
kedua yaitu SKB tidak ada saingan tes
lagi.
Pada Maret 2019 SK 80% sudah ditangan.
Setelah mengikuti prajabatan, pada bulan Oktober 2020 akhirnya SK 100% terbit. Syah! Kini saya resmi ditempatkan di Puskesmas Tanarara, Desa Praibakul,
Kecamatan Matawai La Pawu, sebagai Bidan Pelaksana.
Jarak dari rumah menuju
Puskesmas 70-an
km. Dengan kondisi jalan menuju puskesmas sangat
rusak, berlubang, berlumpur. Jalan dibatasi oleh jurang dikanan kirinya. Untuk pergi ke lokasi harus
melewati padang sabana. Perbukitan luas
bahkan hutan belantara. Situasi
sangat sepi, ngeri dan terasa angker.
Di mess setiap malam ditemani
dengan nyamuk. Sesekali desiran ular yang kami harus terus waspada. Cuaca yang
tidak
pernah menentu. Matahari tak pernah
muncul apalagi tersenyum. Suasana teramat dingin menyusup tubuh. Awan dan kabut selalu menemani .Suhu udara selalu
dibawah 26o C. Ohh!!.... dinginnya setengah mati.
Saat pertama datang, kamar mess sudah siap. Ukurannya 1,5m x 2m. hanya cukup untuk 1 kasur ukuran
90x2m dan lemari plastik kecil. Dan kaca jendela berlubang. Siap setiap malam menerima angin dan hujan masuk di kamar. Berulang kali saya sakit karena belum bisa menyesuaikan
diri. Sedih!!. Saya menangis, merenung sendiri kenapa saya memilih menjadi PNS disini?. Di tempat yang terasa asing?. Tak
seorangpun ada yang kukenal. Air
sangat susah, Untuk mendapatkan air harus menimba di sumur tetangga yang airnya sangat terbatas. Jarak
antar rumah bisa 1 km. Jika ambil
air harus pagi-pagi sekali. Sebenarnya ada juga sumur
di puskesmas, tapi kadang-kala kering.
Pengabdian dimulai. Dengan seragam
kebanggan kami siap melaksanakan tugas negara. Jarak rumah pasien dengan tempat pelayanan kesehatan
sangat jauh dan sulit di jangkau. Jaringan telpon dan internet belum tersedia
di semua desa. Apalagi saat ini sudah diterapkan revolusi KIA yaitu semua ibu
hamil ‘wajib’ melahirkan difasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Harus ditolong oleh petugas kesehatan yaitu di
puskesmas. Ada banyak ibu hamil yang masih kesulitan ke puskesmas mengingat jarak
tempuh
yang jauh.
Karena beratnya medan dan
tidak ada transportasi.
Ada saja dari mereka harus jalan kaki atau naik kuda untuk menuju puskesmas.
Sebagai solusi pemerintah kecamatan bekerjasama dengan desa membangun ‘rumah
tunggu’ bagi ibu-ibu hamil. Mereka dapat datang dan tinggal beberapa hari di puskesmas
sebelum melahirkan. Sehingga saat ini, semua ibu-ibu hamil dari tempat
yang jauh, akan dijemput oleh petugas puskesmas di H-7. Dengan adanya rumah
tunggu, diharapkan semakin tinggi angka persalinan di fasilitas kesehatan.
Sehingga menurunkan angka kematian ibu dan bayinya. Sebelumnya penduduk melahirkan
hanya di rumah saja dengan dibantu oleh ibu dukun beranak. Resiko ibu dan bayi
meninggal besar. Sebagai kami
meningkatkan kemitraan antara bidan dengan dukun/kader.
Tentunya dengan harapan dapat membantu meningkatkan kesadaran
masyarakat untuk
memeriksakan kehamilan dan melahirkan di puskesmas.
|
|
|
Saat itu saya masih ingat ingin lanjut S2. Yang nota bene jadi dosen. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain yang sangat
mulia .Sejauh dan sekuat apapun saya. Saya tidak bisa lari
dan menghindar dari rencana Tuhan.
Pertama kali saya menolong persalinan sendirian. Diakhir persalinan ibu dan keluarga mengucapkan
“terimakasih”. Mereka begitu bahagia atas bantuan yang saya
lakukan. Senang, bangga, terharu rasa hati saya.Trimakasih Tuhan, saya bisa
bermanfaat untuk sesama.
Saat mencuci alat dan membereskan alat persalinan tak terasa air matapun jatuh membasahi pipi.
Ternyata dengan kata ‘terimakasih’ bisa menghipnotis
saya. Saya
sungguh sangat terharu. Saya merasa bahwa menjadi seorang bidan itu pekerjaan yang mulia. Bidan itu bukan sekedar profesi tetapi sebuah ‘anugrah’ dari Tuhan. Punya naluri untuk melayani.. Dalam tugas
bidan harus siap siaga 24 jam. Siap menyelamatkan dua nyawa ( ibu dan anak) . Seorang bidan dituntut harus serba
bisa, serba siap, dan serba tahu.
Dari situ saya mulai mencintai profesi saya, sampai
dengan saat ini setiap kali orang mengucapkan terimakasih kepada saya,
saya merasa itu adalah bentuk penghargaan tertinggi. Bukan soal uang, imbalan
atau capaian kerja. Tapi sebuah pengabdian dan pelayanan luhur. Saya sudah bisa menjadi
penyalur berkat buat orang lain.
Pengalaman menjadi bidan semua berkesan. Senang,
semangat, bangga bahkan sampai terharu. Saya harus mengunjungi ibu hamil ke rumah-rumah
mereka. Ada pasien yang jarak
rumah-puskesmas ditempuh
4
jam
perjalanan. Lokasi
perbukitan. Naik turun gunung.
Menyebrang kali yang deras.
Menyusuri hutan lebat.Banyak juga pohon beringin yang umurnya ratusan tahun. Bahkan
sering ada kejadian-kejadian yang diluar dugaan kita. Jatuh dijurang.
Digigit ular. Itu cerita yang sudah bisa. Mengingat situasi yang begitu, tak mungkinlah ibu hamil
besar harus pergi ke Puskesman. Wah!!. bisa jadi mereka melahirkan dijalan.
Trimakasih, sebagai seorang bidan desa
saya sudah bisa berbagi cerita. Jadi bidan
tangguh dan perkasa. Apapun halangan, rintangan dan hambatan selalu saya
hadapi dengan suka cita. Bidan adalah ‘wonder woman. Siap bisa melayani!
Kapanpun! Dimanapun!
Yuk!!
Kita bersama kita sepakat untuk sadar. Periksakan diri ke faske
kesehatan terlebih bagi para ibu hamil. Kami siap melayani dengan senang hati.
Percayakan dengan ahlinya. Ibu sehat,
bayi sehat keluarga bahagia.
Trimakasih ibu Kartini. Terpujilah wahai
ibu. Karenamu aku bisa berbakti untuk
tanah tumpah darahku. Bisa membuktikan mentalku sekuat baja. Membakar
semangatku membahana. Membuat hatiku
teguh bak batu karang. Dan mengajariku untuk peduli dan memberi ‘kasih’ untuk sesamaku.
Tolonglah lebih dulu orang yang tidak akan pernah bisa membalas
kebaikanmu. Karena merekalah yang akan tulus mendoakanmu.
Ledwina
Eti
adalah nama facebook dan IG, nama
lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang. Selain
ibu rumah tangga penulis masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri
2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit dari penulis adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai
Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Mengungkap
rahasia, Belajar di Tengah Corona dan lain-lain. Sekarang ini penulis tinggal di Jl
Trikora RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.
No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat
dalam menggapai cita-cita , tersenyum dalam setiap
perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan keberhasilan dalam kehidupan.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar