Minggu, 08 Mei 2022

Menulis Sebagai Pengalaman Spiritual – 5

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“You want life in your writing, you want to feel the words come out of you. You want there to be no doubt that this is what you need to be writing, in this place, at this moment of time” –Jordan Brown.

.

Menciptakan pengalaman spiritual, bisa dilakukan dengan banyak kegiatan. Salah satunya adalah melalui aktivitas menulis. Jordan Brown (2018) merekomendasikan beberapa langkah untuk menghadirkan pengalaman spiritual melalui aktivitas menulis. Langkah pertama sampai ketiga, silakan simak pada postingan sebelumnya.

Langkah Empat: Pahami Kebutuhan Segmen Pembaca Anda

You need to get through the stuff you think everyone wants to read so you can get to the stuff that you know everyone wants to read” –Jordan Brown.

Sebenarnya, menulis membuat Anda terhubung dengan pembaca. Tahukah Anda siapa pembaca Anda? Tahukah Anda, apa yang menjadi kebutuhan pembaca? Jika Anda tidak mengetahui siapa pembaca Anda, dan apa kebutuhan mereka, lalu bagaimana Anda bisa terhubung?

Untuk itulah, setiap kali menulis, Anda harus menentukan terlebih dahulu “who” dan “do”. Anda harus menentukan “who”, siapa segmen yang diharapkan membaca tulisan Anda. Apakah remaja, atau mahasiswa, atau ibu-ibu muda, atau kelompok profesional muda, atau kalangan santri, atau yang lain lagi? Setiap segmen pembaca, memiliki kebutuhan yang berbeda.

Setelah menentukan “who”, berikutnya Anda juga harus menentukan “do”, yaitu apa yang Anda harapkan terjadi pada pembaca setelah mereka selesai membaca tulisan Anda. Ini menyangkut tujuan, untuk apa Anda menulis? Perubahan apa yang Anda harapkan terjadi melalui tulisan?

Saya ambil contoh, biar mudah membayangkan. Saat menulis buku “Wonderful Mertua dan Menantu” tahun 2021 lalu, segmen yang saya tuju adalah keluarga muda (sebagai menantu) dan orang-orang tua (sebagai mertua). Dalam satu buku itu, saya sedang berbicara kepada dua pihak yang berbeda. Itu yang disebut sebagai ”who”, yaitu segmen pembaca yang saya harapkan.

Setelah mereka membaca buku tersebut, saya berharap menantu bisa menghormati dan berbakti kepada mertua. Sedangkan mertua bisa menerima dan menyayangi menantu sepenuh hati. Saya berharap, para menantu menjadi menentu yang dibanggakan mertua; dan para mertua menjadi mertua yang dirindukan menantu. Ini yang disebut sebagai “do”, yaitu harapan perubahan setelah membaca buku.

Bagaimana Cara Menyapa Pembaca?

“The best way for your audience to understand you better is to speak to them as if you are talking to them one on one. This makes it easy for them to understand what you are saying” –Hephzy Asaolu, 2016.

Masalahnya kemudian, bagaimana cara berbicara dan menyapa pembaca? Bagaimana agar tulisan kita bisa terhubung dengan pembaca? Masing-masing penulis akan memiliki pengalaman yang berbeda.

Hepzhy Asaolu, seorang bloger produktif menyampaikan tips sederhana untuk menyapa pembaca. “Cara terbaik bagi pembaca untuk memahami Anda lebih baik adalah, ketika menulis bayangkan seolah-olah Anda sedang berbicara dengan mereka satu demi satu. Ini memudahkan pembaca untuk memahami apa yang Anda tuliskan”, ujar Asaolu.

Cara inilah yang selalu saya terapkan selama ini. Ketika menulis bagian untuk menyapa para menantu (dan calon menantu), saya membayangkan sedang duduk bercengkerama dengan pasangan keluarga muda. Seakan saya sedang mengobrol dengan mereka, bertanya dan mencoba memahami kondisi mereka. Selanjutnya saya menulis setelah mengerti kondisi yang mereka hadapi.

Demikian pula ketika menulis bagian untuk menyapa para mertua (dan calon mertua), saya membayangkan sedang duduk bercengkerama dengan pasangan keluarga yang sudah berusia limapuluhan tahun ke atas. Seakan saya sedang mengobrol dengan mereka, bertanya dan mencoba memahami kondisi mereka. Selanjutnya saya menulis setelah mengerti kondisi yang mereka hadapi.

Namun saya juga melakukan riset sederhana. Saya benar-benar bertanya kepada para menantu, apa harapan mereka terhadap mertua, berdasarkan pengalaman interaksi selama ini. Saya bertanya melalui akun instagram dan facebook, sebelum memulai menulis buku. Alhamdulillah, ada empatbelas menantu yang memberikan respon melalui akun medsos saya.

Demikian pula saya bertanya kepada para mertua, apa harapan mereka kepada menantu, berdasaran pengalaman selama ini. Dari jawaban para mertua ini saya mendapatkan gambaran tentang kondisi hubungan, perspesi, serta harapan mertua terhadap menantunya.

“Anda ingin hadir dalam tulisan Anda. Anda ingin merasakan kata-kata keluar dari jiwa Anda. Anda ingin tidak ada keraguan bahwa mmang hal inilah yang Anda butuhkan untuk menulis, di tempat ini, pada saat ini. Begitulah cara Anda mengetahui bahwa Anda terhubung dengan pembaca”, ujar Jordan Brown.

Tentu saja tidak semua orang akan tertarik dengan tulisan Anda. Kita tidak mungkin membuat semua orang menyenangi apa yang kita tuliskan. Ini adalah harapan yang mustahil. Maka wajar saja jika ada orang yang mencibir dan tidak suka dengan tulisan yang kita hadirkan. Tidak masalah.

Namun ketika Anda menulis dan merasakan terhubung dengan pembaca, ini adalah pengalaman spiritual yang mengesankan. Anda tidak berada di ruang hampa. Anda tidak sedang membual berbusa-busa tanpa makna. Namun Anda tengah memberikan kebermaknaan bagi para pembaca Anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...