Pentigraf ( Cerpen Tiga paragraf)
Pak
guru Nggiku adalah seorang ASN.
Dia mengajar di SD Inpres Waingapu
2. Umurnya kini sudah jalan 50 tahun. Badannya kekar, perawakannya tinggi.
Kulitnya agak sedikit gelap tapi orangnya manis. Usaha istrinya buka salon.
Laris manis, apalagi kalau acara wisuda atau karnaval. Dari pagi hingga malam kerja merias nonstop.
Di benaknya punya semboyan adalah time is money. Waktu adalah uang, jadi hanya
duwit, duwit, duwit saja tanpa memikirkan yang lain. Dia sudah jadi hamba uang.
Keluarga
Nggiku itu berkatnya banyak tapi tak
pernah saya lihat pergi ke gereja atau
ikut kegiatan gereja. Hari-hari
hanya cari duwit saja. Saya sebagai pengurus lingkungan sering mengajak untuk bergabung berdoa,
mereka selalu beralasan. Bahkan untuk
doa di rumahnya saja dia keberatan
dengan berbagai alasan. Apalagi jika
dimintai untuk membayar iuran gereja,
susahnya minta ampun. Suatu saat kami
pengurus inti , 4 orang datang ke rumah untuk mengajak rapat. Dia berjanji untuk datang. Ehh!! ternyata tidak datang juga.
Tiba-tiba guru Nggiku mendadak stroke, tangannya kiri tak bisa digerakkan. Mulutnya miring. Terpaksa guru Nggiku dituntun istrinya kalau jalan.
Kadang dia jalan harus pakai tongkat. Kulihat ternyata sekarang dia sudah sadar. Dia pergi ke gereja. Setiap Minggu dia ke gereja
walaupun pakai tongkat. Benar saja, pasti
dia sudah ada ‘panggilan’ dari
Tuhan. Dengan sakit stroke seolah Tuhan
mengingatkan dia untuk rajin beribadah. Syukurlah dia bisa sadar untuk
kuajibannya sebagai umat beriman. Kini Umbu Nggiku berangsur sembuh, Salam Damai. Selamat Hari minggu.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge
- 1
#Rumah literasi PMA
#LedwinaEtiWuryani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar