Cerpen.
Pada
Suatu hari aku disuruh bantu masak di rumah kak Ester, seperti biasa kalau ada
acara-acara pasti langganan aku harus
datang bantu-bantu.
“Rambu,
makanan di meja sudah ditata semuanya
udah selesai belum?” tanya kak Ester.
“Iya,
kak ini udah selesai,” jawabku tersenyum
sambil merapikan baskom bekas makanan dan sayur.
“Ya
udah, kalau gitu. Kamu makan dulu sebelum tamu datang,” ucapnya.
Biasa
kalau pulang arisan, teman-teman suka
bungkus makanan untuk dibawa pulang, aku kan perasaan kalau melarang mereka ,
karena memang sudah tradisi kami, “ lanjut kak Ester.
Kak
Ester orang Jawa, mereka punya paguyuban
Jawa, setiap bulan giliran untuk
ketempatan. Mereka selalu makan-makan, memasak khas jawa. Mereka kumpul, cerita- cerita, ka ka ki ki...tertawa,
tertiwi. Rame sekali dengan ngomong bahasa jawa yang kental. Aku
sendiri tidak mengerti apa yang
mereka omongkan.
“Nggak
usah, kak. Aku masih kenyang, kebetulan tadi sebelum berangkat ke sini makan
dulu di rumah,” dustaku. Padahal perut ini sedari tadi terasa lapar dan keroncongan.
Sengaja
berangkat siang supaya aku tak terlalu lama di sini, hanya minum teh manis tadi
terlebih dulu di rumah, untuk ngganjal
perut agar tak cepat lapar. Ternyata
tetap saja lambungku ini meminta jatah. Mungkin
karena efek terlalu lama mencium bau rendang dan makanan lezat yang
aromanya sangat menggoda saat kuhidangkan di meja.
Sebenarnya malas makan di rumah kakak
iparku yang satu ini. Bukan karena malu atau geli, tapi aku malas jika makan di
sini bersama anakku maka ia akan menyindirku di depan teman-temannya yang orang
Jawa itu, seakan-akan aku tak pernah makan enak. Biasa keluargaku kan kalau makan sederhana, tidak pakai tata cara, tidak pakai aturan. Tidak seperti keluarga kak Ester yang makannya pelan-pelan penuh perasaan, sedikit,
rapi, tidak bunyi dan bla bla, banyak aturannya deh pokoknya. Tambah kak
Ester orangnya super cerewet.
Maka aku malu kalau disuruh makan di
kak Ester,
begitupun anak-anak dan suamiku nanti kena
sindir. Dari pada sakit hati dan malu!. Dan aku berjanji kalau di rumah
kak Ester, aku tak akan mau makan. Ya, aku tak akan mau. Aku tak suka dengar bahasa yang suka ‘merendahkan orang, terkhusus padaku dan
keluargaku.
“Maklumlah,
Bu. adik ipar saya ini emang jarang makan enak. Jadi, sekalinya makan sama
anaknya di sini kayak orang yang
2 hari tak makan,” ucapnya kala itu, membuatku yang sedang
mengunyah makanan hampir tersedak.
Gegas
kuraih air minum dihadapanku dan meminumnya perlahan agar makanan yang hendak kutelan tak keluar.
Kusudahi
makan yang baru beberapa suap karena sudah tak berselera. Kini hanya anakku
yang kusuapi dengan nasi dan kuah ayam sisa dari baskom.
“Bu Ester
memang baik, ya. Royal sama saudara ipar,” ucap mama Tika salah satu
teman arisannya kak Ester..
“Iya,
benar!. Mama Tika, bu Ester memang orang baik,” timpal wanita paruh baya di
sebelah Mama Wiwid.
“Ah!!,
Ibu ini biasa aja kok ... namanya kita
saudara jadi harus saling bantu. “Adik saya, Bram ‘kan penghasilannya nggak kayak suami saya, jadi,
mereka makan seadanya terus tiap hari,” ungkapnya enteng tak menghiraukan
perasaanku yang mulai tersakiti.
Aku
tahu hidupku susah. Suamiku Mas Bram bekerja sebagai guru honor komite yang
hanya berpenghasilan sebulan Tujuh
ratus lima puluh
ribu rupiah yang tak bisa
mencukupi kebutuhan hidup selama tiga puluh hari.
Untuk menambah penghasilan, suamiku
juga mengajar les dari siang sampai malam. Mas Bram adalah pria pekerja keras
yang mandiri, tak mau mendapatkan bantuan apa pun dari keluarganya yang kaya
dan sukses. Ia ingin berhasil karena usahanya sendiri. Biar miskin tak apa. Ibarat makan dengan ‘hanya’ menjilat garam pun akan
tetap dijalani.
Aku mencintai mas Bram karena
orangnya jujur, rendah hati dan mandiri.
Dari kecil dia sudah dilatih mandiri
oleh orang tuanya, bahkan dia cerita kalau
dulu sejak SD dia biasa bawa kue, donat atau es buatan mamanya untuk dijual di kelasnya.
Memang Pernah suatu ketika ia ditawari
suaminya kak Ester diserahi salah satu tokonya untuk kelola. Namun,
ditolaknya. Ia ingin sukses karena prestasinya, bukan karena ada orang di
belakang yang membantunya sukses.
Sejak
itu, kak Ester jadi sinis sama keluarga
kami. Kak Ester tersinggung saat mas
Bram menolak tawarannya waktu itu. Mungkin itu salah satu pemicu ia selalu menghinaku.
Tiba-tiba
aku tersentak kaget saat Marcel anakku
menarik ujung blus yang kukenakan.
“Ma,
aku lapar.....!!,” ucapnya. Aku membungkuk
agar sejajar dengannya lalu berbisik pelan agar tak di dengar orang.
Kucubit pipinya pelan-pelan, “ sabar
ya..., jangan makan disini!”, Aku
berusaha memberi pengertian kepada anakku.
“Marcel,
nanti ya, kita makannya di rumah saja bareng bapak, hhh!!, menggangguk terlihat
terpaksa!” ujarku berharap ia mengerti.
“Sekarang,
Marcel minum aja dulu, ya?” Ia mengangguk patuh. Kuajak dia ke tempat tidur
untuk ‘nunut’ tidur di kamar Wili anaknya kak Ester.
Aku
jadi merasa berdosa sudah membiarkan anakku kelaparan, tapi mau bagaimana lagi,
jika aku dan Marcel makan di sini Kak
Ester pasti akan mengejek kami rakus . Ah, aku tak mau itu terjadi lagi.
Walaupun miskin begini juga aku masih punya harga diri. Aku tak mau sakit hati
ini terulang kembali.
Usai Arisan, aku bersiap untuk
pulang, kubangunkan Marcel yang masih tertidur setelah jajan kue donat dan teh gelas di bu Yubi tetangga sebelah.
Untung
saja uang kembalian ongkos angkot tadi siang masih sisa sepuluh ribu, sehingga
anakku bisa mengisi perutnya yang kelaparan.
Aku
masih menunggu mas Bram jemput. Aku bantu-bantu merapikan bekas-bekas
makanan. Menyapu lantai dan memunguti
gelas plastik bekas air mineral.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya
mas Bram muncul. Segera ku tengok
Marcel, kubangunkan dia ku ajak keluar dan sekalian berpamitan sama kak Ester.
“Aduh,
maaf, ya, Rambu. kehabisan, makanan
ludes! semua udah pada abis”! kata kak Ester kepadaku. “ Teman-teman tadi sudah bungkus dan dibawa, kamu pulang nggak
bawa nggak bawa apa-apa ya!” lanjutnya.
“Iya,
kak!. Nggak apa-apa!” ,Aku menjawab dan langsung ngeloyor pergi usai
berpamitan.
Sepanjang jalan menuju rumah aku
hanya terdiam, Marcel kembali tertidur di pangkuanku sambil memeluk bapaknya
yang sedang fokus menjalankan motor bututnya.
Mas Bram tumben tak ada suaranya. Biasanya dia
suka berceloteh jika sedang berkendara denganku. Jangan-jangan ia juga sedang
menahan lapar?
Tiba
di rumah, setelah menidurkan Marcel di kamarnya, aku
menuju dapur membuka tutup saji, mencari sisa nasi tadi pagi. Syukurlah masih
ada, aku bisa menggorengnya untuk kami makan sekarang. Nasi goreng kesukaan mas
Bram, karena kebetulan juga tak ada lauk
dan sayuran di kulkas.
“Dik,
emang nggak dapat sisa makanan dari kak Ester tadi?” tanya mas Bram padaku.
“Nggak,
mas, kehabisan!, kata kak Ester.” Aku menjawab sambil mengiris bawang. Ia mengangguk-angguk penuh pengertian. Mas
Bram sangat tahu sifat kakaknya tercinta.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge-2
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEtiWuryani
#9Mei2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar