Bagian Keempat
Oleh : Cahyadi Takariawan
“If you’ve planned to write every day, you’re not in a hurry anyway. And, as we’ve learned, practice is compounding. Start with the motor action. Keep it simple. The magic happens when you’re busy chopping wood” –Taylor Foreman, 2021.
.
Menurut Taylor Foreman, menulis menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan kemampuan manusia dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang lebih kompleks. Seseorang dengan kemampuan menulis yang baik, akan mampu mengerjakan hal-hal yang lebih kompleks, dibandingkan mereka yang tidak memiliki kemampuan menulis.
“Jika Anda tidak mengerti cara menulis, dunia akan terus bergerak lebih cepat dari apa yang dapat Anda tangani. Jika Anda mengerti cara menulis, Anda akan menulis setiap hari dengan baik, maka Anda memiliki kekuatan super”, lanjut Foreman.
Proses Pembelajaran yang Konkret
“No matter what you want to achieve in life, you can shrink it down until you find the actual motor action that needs to occur. Find this motor action and master it until it becomes second nature. Then move up to the next level” –Taylor Foreman, 2021.
Sangat banyak orang berhenti pada kata “ingin”. Misalnya seseorang mengatakan, saya ingin menjadi orang baik. Namun ia tidak melakukan tindakan yang bisa membuatnya menjadi orang baik. Seseorang mengatakan, saya ingin menjadi pengusaha sukses, namun tidak melakukan proses pembelajaran yang konkret untuk mencapai keinginannya.
Ketika berhenti pada kata “ingin”, bisa dipastikan mereka tidak akan sampai tujuan. Saya ingin ke Turki, tapi tidak menempuh langkah menuju Turki. Pasti saya tidak sampai Turki. Sama dengan seseorang ingin menjadi penulis tapi tidak melakukan proses pembelajaran yang konkret. Tentu mereka tak akan menjadi penulis.
Jika Anda menetapkan keinginan untuk menjadi penulis, maka tersedia sejumlah langkah pembelajaran yang konkret untuk ditempuh. Agar menulis tidak berhenti pada kata ingin. Agar benar-benar menjadi penulis yang menghasilkan karya tulis. Dengan alat atau sarana apa Anda menulis, ini tidak penting. Yang penting adalah, Anda benar-benar menulis.
“Saya tidak suka menulis dengan tangan (hand writing), jadi saya mengetik dengan laptop”, ujar Taylor Foreman. “Di awal pandemi, saya menyadari perlunya belajar cara mengetik dengan benar. Jadi saya belajar cara mengetik”, lanjut Foreman.
Ini adalah contoh, jika ingin mahir mengetik, maka Anda harus belajar cara mengetik. Proses pembelajaran yang konkret untuk membuat Anda mampu mengetik dengan baik dan benar harus ditempuh. Jika tidak, Anda hanya akan berhenti pada dataran ingin. Tidak akan mencapai tujuan yang Anda inginkan.
Pada intinya –Anda harus memulai proses belajar menulis secara konkret. Jangan hanya menyatakan ingin menjadi penulis, tanpa melakukan tindakan nyata. Anda bisa memulai belajar menulis fiksi, atau nonfiksi, atau keduanya sekaligus. Namun dilakukan secara konkret.
Proses yang Bertumbuh
“I went from 40 WPM to 80 WPM. Typing is not creative writing. But it is the first, concrete step along the way” –Taylor Foreman, 2021.
Setelah memulai langkah pembelajaran yang konkret, Anda harus berusaha untuk bertumbuh. Tidak puas hanya dengan pembelajaran yang sudah ada, namun menambah lagi langkahnya sehingga menjadi lebih nyata.
Salah satunya adalah dengan menetapkan target. Masing-masing Anda bisa menetapkan target harian baik berupa waktu (durasi) menulis, maupun hasil akhir tulisan dalam satuan waktu tertentu. Misalnya, di awal proses belajar menetapkan menulis 100 kata per hari, atau 1000 karakter per hari.
Setelah mulai merasakan ringan dengan target itu, Anda harus meningkat ke target berikutnya. Sekarang target menulis 200 kata per hari, atau 2000 karakter per hari. Tantangan ini membuat Anda terus bertumbuh, tidak berhenti pada satu kondisi yang sudah mapan.
“Saya berproses dari 40 WPM ke 80 WPM. Mengetik bukanlah menulis kreatif. Tapi ini adalah langkah pertama yang konkret di sepanjang proses menulis”, ungkap Foreman.
Yang dimaksud dengan 40 WPM (words per minute) adalah menulis 40 kata dalam setiap menitnya. Ini sudah menjadi ukuran produktivitas seorang penulis. Namun Foreman tidak mau berhenti hanya sampai dengan ukuran produktivitas rata-rata orang. Ia berjuang hingga akhirnya bisa mencapai 80 WPM, yang berarti dua kali lipat dari sebelumnya.
“Ketika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, kita harus mulai dengan dasar-dasarnya”, ujar Foreman. “Misalnya, bagaimana menjadi orang yang baik? Orang yang baik akan merawat teman dengan baik. Teman yang baik akan menelepon. Untuk menelepon, Anda harus mengangkat gagang telepon”, lanjutnya.
“Secara teknis, peganglah iPhone di genggaman tangan Anda, temukan nomer telepon teman yang belum pernah Anda kontak sejak lulus sekolah menengah, dan tekan tombol hijau”, sambung Foreman.
“When we don’t know what to do in life, we need to start with the basics. How do you be a good person? A good person is a good friend. A good friend calls. To call, you have to pick up the phone. Literally, grip the iPhone in your damn fingers, locate that friend you haven’t spoken to since high school, and press the green button” –Taylor Foreman, 2021.
“Tidak peduli apa yang ingin Anda capai dalam hidup, Anda dapat mendetailkannya sampai Anda menemukan tindakan motorik nyata yang perlu dilakukan. Temukan tindakan motorik ini dan kuasai hingga menjadi kebiasaan. Kemudian naik ke tingkat berikutnya”, ungkap Foreman.
Jika Anda berencana untuk menulis setiap hari, toh Anda tidak terburu-buru. Dan, seperti yang telah kita pelajari, latihan adalah peracikan. Mulailah dengan gerakan motorik. Tetap sederhana. Keajaiban terjadi ketika Anda sedang sibuk memotong kayu.
.
Bahan Bacaan
Taylor Foreman, 7 Reasons Daily Writing Can Make Up For Not Being Born a Genius, https://writingcooperative.com, 5 Maret 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar