Minggu, 13 Maret 2022

SUARA HATI SANG PENDAKI MIMPI


Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

 

"Jangan setengah hati menjadi guru, karena anak didik kita telah membuka hati sepenuhnya"

( Ki Hajar Dewantara )

 

 

Jadilah pribadi yang apa adanya didepan orang disekitarmu. Tak perlu kita bersandiwara. Hidup sebenarnya tidak sulit. Kadang kita sendiri yang membuatnya jadi Sulit. Selalu bahagia dan bersyukur serta punya rasa ’kasih sayang’ yang akan membuat kita selalu sehat dan panjang umur.

            Setelah Timor Timur menentukan nasibnya sendiri  alias merdeka berarti  penduduk yang asal Indonesia wajib hukumnya untuk pulang ke asalnya. Yaitu Indonesia. Penduduk dari Timtim punya Status baru. Saya yang nota bene seorang guru jadi punya status baru guru korban bencana konflik . Kita sudah tinggalkan semua harta benda. Kita tinggalkan semua kenangan pahit-getir dan duka-lara. Kita tinggalkan juga siswa-siswi tercinta yang kadang menyakiti  dan mengharu birukan hati.

            Dengan modal ‘nol’  lagi kami akan menatap masa depan.  Aku berusaha membangun  semangat baru.  Semoga di tempat yang baru akan mendapatkan suka cita. Ini bukan mengeluhkan nasib masa lalu. Bukan juga menjual kesedihan. Atau minta belas kasihan. Tidak sama sekali!. Hanya  mau curhat semata. Biar kisah ini tak hilang atau sirna ditelan masa. Tapi akan terpatri dalam aksara.

Ini adalah kisah  nyata salah satu perjalanan hidup seorang abdi negara.  Cerita dari hati yang paling dalam. Sebagai seorang guru  sekaligus seorang istri yang setia tentunya. Tugas guru PNS harus rela ditempatkan diseluruh pelosok Indonesia. Sebagai seorang Istri setia punya kuajiban untuk melayani dan  mengikuti suami dimana saja suami bekerja. Guru tugasnya mengajar, mendidik , melayani  dan  mendampingi anaknya, yaitu siswa/i. Begitupun seorang ibu  untuk anak kandungnya. Tujuannya sama,  yaitu mengantar anak-anak menuju cita-citanya agar kelak mempunyai kehidupan yang lebih baik.

            Saat dimuatasi  ditempat baru, kami  belum tahu situasi dan kondisinya. Kedua anakku masih balita saat itu. Anak pertama berumur 4 tahun kutitipkan di ibu kandungku di Magelang, tempat kelahiranku. Anak kedua berumur 2 tahun kubawa di Waingapu, Sumba Timur. Pada tahun 2000, Waingapu bukan kota yang maju, masih jauh dari  keramaian  dan hingar bingar layaknya kota di Jawa.   Di Dili Timor Timur jauh lebih maju karena kota provinsi.  Cuman beda, di Dili sering terjadi gesekan-gesekan antar pendatang, polisi, TNI dengan putra daerah yang tak setuju dengan Integrasi. Tapi kualitas infrastrukturnya jauh hidup lebih baik dan lebih lengkap.

            Kota Waingapu  punya semboyan “ Matawai Amahu Pada Njara Hamu” .  Kira-kira artinya sumber air yang jernih  tanah/padang yang luas  membentang  sebagai tempat makan hewan.  Hewan banyak berkeliaran khususnya kuda (Kuda Sandelwod).  Waingapu adalah sebuah  kota kecil yang  sungguh ‘asing’ bagiku. Kekeluargaan  teramat sangat kental. Nama, status sosial dan derajat masih dijunjung tinggi.  Makan tak makan yang penting berkumpul. Jadi  bagi penduduk asli seperti suami harus mengikuti adat yang ada. Adat yang sudah diwariskan leluhurnya. Dia punya kuajiban dan tanggungjawab untuk menghidupi anak-anak ‘dalamrumah’nya. Budaya itu sampai sekarang  masih sangat dihormati dan dipatuhi. Jadi tak heran  saat pertama saya datang, kami harus hidup dan tinggal bersama dengan 20-an orang lebih. Itu menjadi tanggungjawab kami. Bisa dibayangkan! Berapa kg beras kami harus masak untuk setiap hari.

            Sebagai orang baru dan masih berstatus pendatang plus  bekas korban bencana konflik , saya dan suami harus menanggung hidup dengan sekian orang. Ya Tuhan, aku  ingin menangis tapi kutahan. Aku ingin lari tapi tak mungkin. Mau mengeluh?? Mengeluh dengan siapa? Hanya untuk  makan  gajiku PNS saat itu, sangat tidak cukup.  Gaji saya Tahun 2000, dengan SK gol/pangkat  IIIb, Penata Muda Tk 1  Rp 291.200,- . Untuk mencukupkan hidup, kami sampai gali lubang  tutup lubang. Motor astrea grand puruk (sudah jelek) yang kami punya,  kami sewakan harian untuk tambah beli beras. Sedih ya... Hidup penuh derita dan keprihatinan. Sebagai pakaian ganti  kami beli baju RB (rombengan) yang layak pakai. Dari Timor Timur kami tak bawa baju yang cukup. Saat mengungsi hanya bawa seadanya. Pasti orang lain tak pernah bayangkan pergumulan kami saat itu.

            Setiap hari  makan tak pernah ada gizi. Yang penting ada nasi. Yah, lombok sayur  sudah cukup. Hanya itu yang terjangkau untuk dibeli.  Sedikit beruntung  kalau ada ikan kering sesekali. Untuk memenuhkan, agar semua anggota keluarga kebagian lauk, maka ikan kering kita taruh air banyak2 lombok dan garam tinggi. Kami juga tak mampu makan pagi.  Jadi tidak pernah bisa sarapan pagi. Makan cukup 2 kali sehari. Pulang sekolah jam 14.00 WITA dan Sore jam 20.00 WITA. Karena motor disewakan berarti pergi ke sekolah jalan kaki dengan medan yang lumayan naik turun.  SMA  tempat mengajar letaknya diketinggian jadi ada harus naik tebing untuk lewat jalan pintas. Jarak tempuh rumah - sekolah kurang lebih 2  km.

            Badanku kurus kering. Muka kelihatan lebih tua dari umurku yang waktu itu 34 tahun. Kulit keriput. Muka kusam tak ada semangat hidup. Tersenyum  susah maka wajah jadi tak menarik. Anto anak bungsuku juga saat periksa di puskesmas, dokter bilang berstatus ‘gizi buruk’.  Sungguh  sangat berbeda dengan Marcel  anak sulungku yang berada di Jawa bersama Bapak dan Ibu kandungku. Dia begitu dimanja. Disayang dengan segala yang ada.

            Cobaan hidup saat itu terasa berat. Hanya Doa yang bisa kudasarkan setiap hari. Itu yang menjadi kekuatanku. Sangat tidak mungkin aku mengeluh pada orang tuaku. Ini fakta bukannya sombong, boleh dibilang saat di Timor Timur kami ‘sudah ada’ semua. Rumah tinggal, mobil dan motor, tapi semua kami tinggal karena harus lari  mengungsi untuk menyelamatkan diri.  Kini di tempat baru nasib sungguh menyedihkan. Hanya ratapan, rintihan bahkan tangisan pribadi dalam hati yang menemaniku.

Masih jelas dalam ingatanku saat ada tamu dan tak punya beras, tengah malam kami pinjam beras di pak Beni Ngongo teman dekat. Kami sudah merasa bersaudara, Kami sama-sama dari Timor Timur.  Tapi Pak Beni tidak ada tanggungan hidup seperti saya.   Kesedihan pribadiku tak berani kutunjukkan kepada suami apalagi keluarganya. Aku berusaha tersenyum  walau terpaksa.  Harus selalu siap menerima kenyataan. Sebenarnya tak mampu tapi berusaha kuat. Hati terasa sakit  meratapi keadaan, tapi tak berdaya untuk mengungkapkan. Karena saya terasa sebatang kara karena orang pendatang baru.

            Cerita di sekolah. Saat pertama kali saya menginjakkan kaki di SMA Negeri 2 Waingapu. Hati memang terasa damai. Saat masuk kelas tak kuasa aku menahan haru. Anak-anaknya manis dan taat. Mereka tertib, ramah dan disiplin.  Mereka begitu hormat pada guru. Sungguh sangat berbeda dengan kelakuan anak Timtim.  Ada yang suka mabuk, suka berkelai  dan tak menghormati guru.  

Profesi guru di Waingapu itu kujalani dengan penuh setia. Karena  kekurangan guru matematika yang saat itu saya sendiri. Pak Tjang guru matematika satu-satunya meninggal karena sakit.  Pak Tjangkui  adalah seorang anggota dewan. Beliau juga wakil kepala sekolah bagian humas. Beliau orang sibuk,  bendahara sekolah juga beliau tangani. Selain itu masih buka les privat  dari berbagai sekolah.  Akhirnya saya yang menggantinya mengajar sampai  45 jam seminggu. Cara mengajar masuk di kelas yang satu menerangkan tinggalkan tugas kemudian masuk di kelas berikutnya. Begitu seterusnya.

            Hari terus berjalan. Lebih dari 4 tahun kami berjuang dengan kemiskinan dan penuh pergumulan. Setiap orang pasti punya pergumulan. Mereka akan punya cerita masing-masing.  Suka duka selalu mewarnai hidup  setiap kita. Roda terus berputar tak mungkin  akan  terus dibawah. Akan bahagia jika selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Doa adalah senjata ampuh untuk  jadi kekuatan hidupku. Iklas berbagi , rela memberi adalah  manusiawi. Tuhan memberikan cuma-cuma  berikanlah juga dengan cuma-cuma. Bahasa itu yang sejuk dan menghiburku. Aku selalu mencoba untuk tidak  mengeluh. Berkat pasti akan datang dariNya kalau kita tulus meyakini.

Saya Sadar penuh bahwa saya ini adalah ‘pendatang’. Hidup ditanah orang. Bersyukur karena digaji negara. Saya bekerja  sesuai dengan kemampuan yang ada. Jaga nama baik. Tetap berusaha sabar dan terus rendah hati. Terus belajar, semoga bisa bermanfaat bagi orang lain.  Janganlah banyak berharap. Janganlah  mimpi terlalu tinggi,   kalau jatuh sakit sekali. Pernah aku lulus tes  untuk melanjutkan S2  tahun 2007/2008 di UGM Prodi UMKM, biaya kementerian . Wah saat itu rasanya senang bukan kepalang. Terasa terbang dan tak injak tanah.  Dengan  ‘alasan’ dari pemda yang tidak jelas jadi tidak diijinkan. Tahun berikut  masih ada panggilan karena nama belum dicoret. Tetap tidak diijinkan. Tahun ketiga masih ada panggilan tapi  dari Pemda jawabannya masih sama. Yah,sudahlah.  Tak apa-apa. Biar anggap itu mimpi. Hanya curhat untuk kenangan saja. Kubur dalam-dalam kenangan  yang pernah terjadi. Hidup  ‘Enjoy’   ternyata lebih asyik.

Tak terasa kini saya sudah 22 tahun tinggal di Waingapu. Hari terus berganti. Tahun demi tahun pun telah kulalui.  Kebahagiaan mengikuti seiring berjalannya waktu. Secercah harapan selalu ada. Tuhan  selalu menunjukkan jalan. Nikmat Tuhan selalu nyata. Kutuliskan suara hatiku ini sebagai seorang guru ‘perantau’. Perjalanan hidup yang penuh dengan liku-liku. Dari daerah konflik hingga dimutasi di Waingapu. Indonesia Timur. Orang bilang NTT adalah Nasib Tak Tentu. Diberita koran pernah tertulis NTT adalah  daerah penyumbang orang miskin nomor one di Indonesia. Kasihan ya.

Semua cerita  kehidupan pasti ada hikmahnya. Aku tetap guru. Sekolah  adalah ladang amalku. Tempatku mengabdi hingga purna bakti. Akan setia sampai waktu pensiun menanti lima tahun lagi.  Sudah banyak merasakan asam dan garam dibidang pendidikan. Bersyukur baru-baru, bulan Desember 2021 tepatnya tanggal 15 saya dapat ‘anugerah’  Lencana Karya Satya dan piagam penghargaan tanda-tangan Presiden RI, Bapak Ir. Joko Widodo. Bangga dan bahagia!!. Trimakasih pak Presiden, kenangan ini akan saya ingat hingga putus nafasku.

 

 

PROFIL PENULIS

 

Salam ...Saya,  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah.   Tinggal di Timor Timur 10 tahun ( Kabupaten Bobonaro 3 tahun, Dili 7 tahun) dan di NTT sudah 22 tahun.  Seorang ibu 2 putra dan menjadi guru  di SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur, NTT. Diwaktu senggang penulis suka menulis di mediamasa, medsos, majalah dan buku. Sudah 50 lebih  buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003 Waingapu, Sumba Timur NTT.  Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat bagi sesama.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...