Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd
"Jangan setengah hati menjadi
guru, karena anak didik kita telah membuka hati sepenuhnya"
( Ki Hajar Dewantara )
Jadilah
pribadi yang apa adanya didepan orang disekitarmu. Tak perlu kita bersandiwara.
Hidup sebenarnya tidak sulit. Kadang kita sendiri yang membuatnya jadi Sulit. Selalu
bahagia dan bersyukur serta punya rasa ’kasih sayang’ yang akan membuat kita
selalu sehat dan panjang umur.
Setelah
Timor Timur menentukan nasibnya sendiri
alias merdeka berarti penduduk
yang asal Indonesia wajib hukumnya untuk pulang ke asalnya. Yaitu Indonesia. Penduduk
dari Timtim punya Status baru. Saya yang nota bene seorang guru jadi punya
status baru guru korban bencana konflik . Kita sudah tinggalkan semua harta
benda. Kita tinggalkan semua kenangan pahit-getir dan duka-lara. Kita
tinggalkan juga siswa-siswi tercinta yang kadang menyakiti dan mengharu birukan hati.
Dengan
modal ‘nol’ lagi kami akan menatap masa
depan. Aku berusaha membangun semangat baru. Semoga di tempat yang baru akan mendapatkan
suka cita. Ini bukan mengeluhkan nasib masa lalu. Bukan juga menjual kesedihan.
Atau minta belas kasihan. Tidak sama sekali!. Hanya mau curhat semata. Biar kisah ini tak hilang
atau sirna ditelan masa. Tapi akan terpatri dalam aksara.
Ini adalah kisah nyata salah satu perjalanan hidup seorang
abdi negara. Cerita dari hati yang
paling dalam. Sebagai seorang guru
sekaligus seorang istri yang setia tentunya. Tugas guru PNS harus rela
ditempatkan diseluruh pelosok Indonesia. Sebagai seorang Istri setia punya
kuajiban untuk melayani dan mengikuti suami
dimana saja suami bekerja. Guru tugasnya mengajar, mendidik , melayani dan mendampingi
anaknya, yaitu siswa/i. Begitupun seorang ibu
untuk anak kandungnya. Tujuannya sama, yaitu mengantar anak-anak menuju cita-citanya
agar kelak mempunyai kehidupan yang lebih baik.
Saat
dimuatasi ditempat baru, kami belum tahu situasi dan kondisinya. Kedua
anakku masih balita saat itu. Anak pertama berumur 4 tahun kutitipkan di ibu
kandungku di Magelang, tempat kelahiranku. Anak kedua berumur 2 tahun kubawa di
Waingapu, Sumba Timur. Pada tahun 2000, Waingapu bukan kota yang maju, masih
jauh dari keramaian dan hingar bingar layaknya kota di Jawa. Di Dili
Timor Timur jauh lebih maju karena kota provinsi. Cuman beda, di Dili sering terjadi
gesekan-gesekan antar pendatang, polisi, TNI dengan putra daerah yang tak
setuju dengan Integrasi. Tapi kualitas infrastrukturnya jauh hidup lebih baik
dan lebih lengkap.
Kota
Waingapu punya semboyan “ Matawai Amahu Pada
Njara Hamu” . Kira-kira artinya sumber
air yang jernih tanah/padang yang
luas membentang sebagai tempat makan hewan. Hewan banyak berkeliaran khususnya kuda (Kuda
Sandelwod). Waingapu adalah sebuah kota kecil yang sungguh ‘asing’ bagiku. Kekeluargaan teramat sangat kental. Nama, status sosial dan
derajat masih dijunjung tinggi. Makan
tak makan yang penting berkumpul. Jadi
bagi penduduk asli seperti suami harus mengikuti adat yang ada. Adat
yang sudah diwariskan leluhurnya. Dia punya kuajiban dan tanggungjawab untuk
menghidupi anak-anak ‘dalamrumah’nya. Budaya itu sampai sekarang masih sangat dihormati dan dipatuhi. Jadi tak
heran saat pertama saya datang, kami
harus hidup dan tinggal bersama dengan 20-an orang lebih. Itu menjadi tanggungjawab
kami. Bisa dibayangkan! Berapa kg beras kami harus masak untuk setiap hari.
Sebagai
orang baru dan masih berstatus pendatang plus bekas korban bencana konflik , saya dan suami harus
menanggung hidup dengan sekian orang. Ya Tuhan, aku ingin menangis tapi kutahan. Aku ingin lari
tapi tak mungkin. Mau mengeluh?? Mengeluh dengan siapa? Hanya untuk makan
gajiku PNS saat itu, sangat tidak cukup.
Gaji saya Tahun 2000, dengan SK gol/pangkat IIIb, Penata Muda Tk 1 Rp 291.200,- . Untuk mencukupkan hidup, kami
sampai gali lubang tutup lubang. Motor
astrea grand puruk (sudah jelek) yang kami punya, kami sewakan harian untuk tambah beli beras. Sedih
ya... Hidup penuh derita dan keprihatinan. Sebagai pakaian ganti kami beli baju RB (rombengan) yang layak
pakai. Dari Timor Timur kami tak bawa baju yang cukup. Saat mengungsi hanya
bawa seadanya. Pasti orang lain tak pernah bayangkan pergumulan kami saat itu.
Setiap
hari makan tak pernah ada gizi. Yang
penting ada nasi. Yah, lombok sayur sudah cukup. Hanya itu yang terjangkau untuk
dibeli. Sedikit beruntung kalau ada ikan kering sesekali. Untuk
memenuhkan, agar semua anggota keluarga kebagian lauk, maka ikan kering kita taruh
air banyak2 lombok dan garam tinggi. Kami juga tak mampu makan pagi. Jadi tidak pernah bisa sarapan pagi. Makan
cukup 2 kali sehari. Pulang sekolah jam 14.00 WITA dan Sore jam 20.00 WITA. Karena
motor disewakan berarti pergi ke sekolah jalan kaki dengan medan yang lumayan
naik turun. SMA tempat mengajar letaknya diketinggian jadi ada
harus naik tebing untuk lewat jalan pintas. Jarak tempuh rumah - sekolah kurang
lebih 2 km.
Badanku
kurus kering. Muka kelihatan lebih tua dari umurku yang waktu itu 34 tahun. Kulit
keriput. Muka kusam tak ada semangat hidup. Tersenyum susah maka wajah jadi tak menarik. Anto anak
bungsuku juga saat periksa di puskesmas, dokter bilang berstatus ‘gizi
buruk’. Sungguh sangat berbeda dengan Marcel anak sulungku yang berada di Jawa bersama Bapak
dan Ibu kandungku. Dia begitu dimanja. Disayang dengan segala yang ada.
Cobaan
hidup saat itu terasa berat. Hanya Doa yang bisa kudasarkan setiap hari. Itu
yang menjadi kekuatanku. Sangat tidak mungkin aku mengeluh pada orang tuaku.
Ini fakta bukannya sombong, boleh dibilang saat di Timor Timur kami ‘sudah ada’
semua. Rumah tinggal, mobil dan motor, tapi semua kami tinggal karena harus
lari mengungsi untuk menyelamatkan diri.
Kini di tempat baru nasib sungguh menyedihkan.
Hanya ratapan, rintihan bahkan tangisan pribadi dalam hati yang menemaniku.
Masih jelas
dalam ingatanku saat ada tamu dan tak punya beras, tengah malam kami pinjam
beras di pak Beni Ngongo teman dekat. Kami sudah merasa bersaudara, Kami
sama-sama dari Timor Timur. Tapi Pak
Beni tidak ada tanggungan hidup seperti saya. Kesedihan pribadiku tak berani kutunjukkan kepada
suami apalagi keluarganya. Aku berusaha tersenyum walau terpaksa. Harus selalu siap menerima kenyataan.
Sebenarnya tak mampu tapi berusaha kuat. Hati terasa sakit meratapi keadaan, tapi tak berdaya untuk
mengungkapkan. Karena saya terasa sebatang kara karena orang pendatang baru.
Cerita
di sekolah. Saat pertama kali saya menginjakkan kaki di SMA Negeri 2 Waingapu.
Hati memang terasa damai. Saat masuk kelas tak kuasa aku menahan haru.
Anak-anaknya manis dan taat. Mereka tertib, ramah dan disiplin. Mereka begitu hormat pada guru. Sungguh sangat
berbeda dengan kelakuan anak Timtim. Ada
yang suka mabuk, suka berkelai dan tak
menghormati guru.
Profesi guru
di Waingapu itu kujalani dengan penuh setia. Karena kekurangan guru matematika yang saat itu saya
sendiri. Pak Tjang guru matematika satu-satunya meninggal karena sakit. Pak Tjangkui adalah seorang anggota dewan. Beliau juga
wakil kepala sekolah bagian humas. Beliau orang sibuk, bendahara sekolah juga beliau tangani. Selain itu
masih buka les privat dari berbagai
sekolah. Akhirnya saya yang menggantinya
mengajar sampai 45 jam seminggu. Cara
mengajar masuk di kelas yang satu menerangkan tinggalkan tugas kemudian masuk
di kelas berikutnya. Begitu seterusnya.
Hari
terus berjalan. Lebih dari 4 tahun kami berjuang dengan kemiskinan dan penuh
pergumulan. Setiap orang pasti punya pergumulan. Mereka akan punya cerita
masing-masing. Suka duka selalu mewarnai
hidup setiap kita. Roda terus berputar
tak mungkin akan terus dibawah. Akan bahagia jika selalu
bersyukur dalam keadaan apapun. Doa adalah senjata ampuh untuk jadi kekuatan hidupku. Iklas berbagi , rela
memberi adalah manusiawi. Tuhan
memberikan cuma-cuma berikanlah juga
dengan cuma-cuma. Bahasa itu yang sejuk dan menghiburku. Aku selalu mencoba
untuk tidak mengeluh. Berkat pasti akan
datang dariNya kalau kita tulus meyakini.
Saya Sadar
penuh bahwa saya ini adalah ‘pendatang’. Hidup ditanah orang. Bersyukur karena
digaji negara. Saya bekerja sesuai
dengan kemampuan yang ada. Jaga nama baik. Tetap berusaha sabar dan terus rendah
hati. Terus belajar, semoga bisa bermanfaat bagi orang lain. Janganlah banyak berharap. Janganlah mimpi terlalu tinggi, kalau
jatuh sakit sekali. Pernah aku lulus tes untuk melanjutkan S2 tahun 2007/2008 di UGM Prodi UMKM, biaya
kementerian . Wah saat itu rasanya senang bukan kepalang. Terasa terbang dan
tak injak tanah. Dengan ‘alasan’ dari pemda yang tidak jelas jadi tidak
diijinkan. Tahun berikut masih ada
panggilan karena nama belum dicoret. Tetap tidak diijinkan. Tahun ketiga masih
ada panggilan tapi dari Pemda jawabannya
masih sama. Yah,sudahlah. Tak apa-apa. Biar
anggap itu mimpi. Hanya curhat untuk kenangan saja. Kubur dalam-dalam kenangan yang pernah terjadi. Hidup ‘Enjoy’
ternyata lebih asyik.
Tak terasa
kini saya sudah 22 tahun tinggal di Waingapu. Hari terus berganti. Tahun demi
tahun pun telah kulalui. Kebahagiaan mengikuti
seiring berjalannya waktu. Secercah harapan selalu ada. Tuhan selalu menunjukkan jalan. Nikmat Tuhan selalu
nyata. Kutuliskan suara hatiku ini sebagai seorang guru ‘perantau’. Perjalanan hidup
yang penuh dengan liku-liku. Dari daerah konflik hingga dimutasi di Waingapu. Indonesia
Timur. Orang bilang NTT adalah Nasib Tak Tentu. Diberita koran pernah tertulis
NTT adalah daerah penyumbang orang
miskin nomor one di Indonesia. Kasihan ya.
Semua cerita
kehidupan pasti ada hikmahnya. Aku tetap
guru. Sekolah adalah ladang amalku. Tempatku
mengabdi hingga purna bakti. Akan setia sampai waktu pensiun menanti lima tahun
lagi. Sudah banyak merasakan asam dan
garam dibidang pendidikan. Bersyukur baru-baru, bulan Desember 2021 tepatnya
tanggal 15 saya dapat ‘anugerah’ Lencana
Karya Satya dan piagam penghargaan tanda-tangan Presiden RI, Bapak Ir. Joko
Widodo. Bangga dan bahagia!!. Trimakasih pak Presiden, kenangan ini akan saya
ingat hingga putus nafasku.
PROFIL PENULIS
Salam ...Saya,
Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah. Tinggal di Timor Timur 10 tahun ( Kabupaten Bobonaro
3 tahun, Dili 7 tahun) dan di NTT sudah 22 tahun. Seorang ibu 2 putra dan menjadi guru di SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur, NTT. Diwaktu
senggang penulis suka menulis di mediamasa, medsos, majalah dan buku. Sudah 50 lebih buku solo dan antologi ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com
, ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id
, fb, IG dan You tube : Ledwina Eti dan blog
etiastiwi66.blogspot.com HP WA
085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW 010/003 Waingapu, Sumba Timur NTT. Quotes :
Sebuah kebanggaan Jika hidup bisa
bermanfaat bagi sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar