Kamis, 10 Maret 2022

BERLITERASI SAAT PANDEMI MELANDA NEGERI

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Jadilah terang tanpa memadam cahaya orang lain. Naiklah tinggi tanpa menjatuhkan orang lain. Capailah Bahagia tanpa melukakan hati orang lain. Dan paling penting Jadilah baik  tanpa memburukkan orang lain.

 

Saat  awal pandemi melanda semua orang bersedih. Hari demi hari diisi dengan  ketakutan dan kegelisahan. Hidup tak tenang dan harus terus waspada.  Badanpun terasa lelah, lesu dan lunglai. Orang sakit dimana-mana. Kematian juga  terdengar  setiap saat di sekitar kita.

Pandemi menyerang siapa saja. Miskin-kaya, pejabat-orang biasa, dia tidak   pandang bulu. Siapa saja siap diterjangnya.  Bahkan gaungnya pun  hingga  di seluruh dunia.  Situasi benar-benar terpuruk.  Corona mengguncang dunia. Dunia berduka.  Dampak itu juga sampai di Indonesia.  Di tempat tinggalkupun  terkena serangan  dari corona. Dia begitu mengganas. Kami begitu sedih!. Hati terasa perih,  sedu sedan dan  deraian  air mata   selalu  menemani.

Ya Tuhan  ampuni kami.  Kadang sampai saya berfikir…..jangan-jangan  Tuhan sedang  marah. Banyak  manusia  yang melupakanNya. Mungkinkah manusia  banyak tak lagi berdoa?. Alahu alam!. Barangkali ada juga menganggap perbuatan dosa  sudah dianggap biasa?.  Atau?! Banyak  yang  sudah menghalalkan segala cara demi kebahagiaataan semata.  Ini tentunya sebuah refleksi bagi setiap kita.

Saat itu….  Kami juga  berduka. Banyak keluarga dekat yang meninggal dunia.  Adik sepupu, mama mertua dari  adik kandungku, tetangga dekatku, teman guru .….semuanya berpulang.  Termasuk juga  ibu kandungku. Memang ibu bukan karena corona, tapi mungkin  karena  badan terlalu lelah memikirkan keadaan. Ibu sempat positif covid-19 tapi sembuh. Yah….  Semuanya harus diterima dengan lapang dada, agar mereka yang berpulang  aman  mengikuti jalannya lurus menuju Sorga.

Tangis dan  air mata belum kering, disusul  seluruh isi rumah terkena pandemi. Baik  keluarga yang di Jakarta, di Magelang dan saya sendiri di Sumba NTT. Suami paling parah karena beliau  ada komorbit sakit jatung.  Doa terus kudaraskan saat itu. Kekuatan dan penghiburan hanya dengan doa dan berusaha sesuai kemampuan yang ada. Keluarga  turut mendoakan.  Saudara/i dan handaitaulan juga tak ketinggalan selalu memberikan penguatan.  Suamiku….  nyawa hampir melayang, tetes-tetes air mata  menitikkan setia saat.  Kami sudah pasrah   dan tak bisa berbuat banyak.  Hanya doa dan terus berdoa  yang  kudaraskan.

Tapi  ternyata Tuhan masih  sayang pada kami. Suami disembuhkan. Kini  dia sehat Kembali. Senyumnya kini merekah dan berseri lagi. Tak henti-hentinya kami mensyukuri atas  anugerah yang Tuhan beri. Tuhan yang sungguh baik hati. Dua tahun sudah  kami  bersama pandemi ini.  Banyak sekali  cerita  yang mendukakan hati. Kenangan berharga untuk  kami selalu refleksi diri.

  Hidup itu tidak lama. Sebelum Tuhan memanggil pulang. Pasti  ada rasa bangga jika hidup ini berguna. Hati  akan bahagia jika hidup  kita ini berwarna. Ada rasa  senang juga jika hidup bisa menginspirasi sesama. Saat pandemi hidup terkungkum di rumah  saja. Pemerintah melarang kita beraktifitas diluar rumah.  Harus  selalu jaga  protokol kesehatan. Jaga jarak dan kurangi mobilitas.  Kadang ada rasa bosan dan jenuh. Jika  tak ada aktifitas tentunya pikiran bisa beku!. Apa yang harus kita kerjakan???

 

Pada suatu hari saya merenung. Saya membaca profil penulis di FB. Di situ ada penulis buku.  Saya membayangkan!. Ini seandainya saya  bisa menulis dan tulisan saya dibukukan ….. wow! betapa bangganya saya. Namaku tertulis indah, fotoku terpampang didalam covernya. Mimpi kali ya. Mimpi  boleh,  bermimpilah terus sepanjang  mimpi  belum dilarang oleh pemerintah. Tapi ketidakpercayaan diri dan ketakutan itu selalu melanda di hati. 

Saya ingat  tulisan dari Pak Cah, penulis hebat dan bert seller. Madeleine Lengle  mengatakan  bahwa  memublikasikan tulisan itu artinya menyiapkan diri  untuk mendapat serangan terbuka. Artinya,  jika kita berani menulis harus  siap menerima serangan itu. Hatiku sendiri jadi  ciut. Tapi kalau pasrah kapan mimpi itu bisa diwujudkan?. Syarat menggapai mimpi  harus berani  menanggung resiko yang akan terjadi. Harus  focus!

 Tak usah mimpi  terlalu tinggi. Kalau  jatuh  sakitnya setengah mati. Dengan  menulis saya hanya  ingin ‘dikenal’ segelintir orang saja. Itu sudah cukup. Tak usah  menjadi ‘unicorn’. Jalani  seperti air yang mengalir. Nikmati dan berusaha belajar sesuai dengan kemampunan yang kumiliki.  Tak perlu jadi orang lain. Jadilah diri sendiri supaya tak pusing.

            Benar  adanya. Kucoba menulis di FB. Maksudku untuk memperkenalkan saja dimedsos. Terserah apa tanggapan para pembaca tentang tulisanku. Kucoba lagi menulis di majalah, ternyata dimuat. Betapa senangnya hati saat itu.  Para pembaca menyemangatiku. Mereka mengapresiasi dan memotivasi. Ada yang langsung  koment di fb ada juga  yang japri. Dari sinilan muncul percaya diri alias PD. Artinya tulisanku bisa  dipahami. Tulisanku yang seorang penulis  pemula dimengerti dan bisa diterima oleh para pembaca.

Akhirnya aku bergabung di group menulis. Pertama di KMO (Komunitas Menulis Online) Alineaku. Kedua dengan WAG MBI ( Menulis Buku Inspirasi). Ketiga dengan Group PGRI. Dari sinilah akhirnya saya banyak kenal  para pegiat literasi Indonesia. Di KMO kenal dengan  penulis hebat pak Cahyadi Takariawan, Bu Nurlaila, Mbak Lina, pak Irfan dan teman-teman yang lain. Di Agupena NTT kenal dengan Bapak Thomas Sogen, Bunda Lilis, Ibu Lily, Pak Sahat  dan masih banyak lagi.  Di PGRI kenal dengan Om Jay ( Wijaya Kusumah, M.Pd), Ibu Kanjeng ( Dra Sri Sugiastuti , M.Pd ), Bu Mae dan tak bisa kusebutkan satu persatu saking banyaknya.

 Pertemanan dengan para penulis senior begitu  mesra dan indah. Walaupun aslinya belum pernah bertatap muka sama sekali. Kami hanya kenal lewat online saja. Lewat Group  whatsapp. Mereka begitu baik dan rela memberi iklas berbagi. Semuanya saling menyemangati. Saya pemula yang tadinya  ‘buta’  berubah  jadi ‘terbuka mata’. Walaupun pengetahuanku dalam menulis baru seujung kuku. Tapi cukup bangga.  Saya jadi salah satu orang yang berani menulis. Yang jelas  jadi orang harus mau belajar dan terus belajar. Jangan malu bertanya dan berani mencoba. Long Life learning. Menulis adalah sebuah keberanian yang tidak dimiliki semua orang ( Pramoedya Ananta Toer).

            Beberapa teman FBku menelponku. Mereka semua memberi semangat. Ini ada teman yang dari Jakarta, Kalimantan, Mataram dan dari tempat lain. Mereka salut padaku. Hmhm.. aku jadi malu dibuatnya.  Mereka ingin belajar bahkan ada yang memesan bukuku jika aku buat buku. Wowww!! Antara senang, gugup, bingung campur campur.  Saat itu juga tiba-tiba ada WA  masuk di HP-ku. Cerpenku  yang kukirim di Kreatory  masuk  rangking ke-22, artinya  masuk 30 besar tingkat nasional. Sebagai pemula aku jadi bangga luar biasa. Dapat Medali, hadiah buku, sertifikat. Hadiah itu kuposting di medsosku  Dengan begitu  banyak pujian dan motivasi dari teman-teman, keluarga dan sahabat medsos. Itu  awalnya aku jadi semangat menulis.

Aku mencoba membuat tulisan untuk dibukukan. Tulisn itu  berupa kumpulan  cerpen. Kupikir-pikir lagi, apakah mungkin bukuku nanti ada yang mau membaca? Apakah  ada yang membeli??  Ahh!!  jawaban itu kutepis. Tak boleh menyerah!. Jangan merasa kalah sebelum maju perang. Hehe….  menghibur diri. Terbukti nyata.  Buku Solo saya terbit. Buku itu berjudul ‘Mengungkap Rahasia’  Sebagai editor dan mengapresiasi  buku saya adalah Bunda Lilis ( Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH) beliau adalah  seorang penulis best seller. Apresiasi editor sampai penerbitan buku adalah Ibu kanjeng (Dra Sri Sugiastuti), seorang pegiat Literasi, Bloger, Nara Sumber Penulis Nasional, Kepala SMK  dan masih banyak jabatan lain. Beliau berdua  yang jadi motivator saya.

            Terbit juga buku Solo Kedua, yaitu kumpulan resume dari pelatihan bersama group PGRI bersama Om Jay ( Wijaya Kusumah , M.Pd) Sang  blogger nasional, Nara sumber, penulis hebat, guru Labs Scholl, Motivator, dll. Judul  bukuku adalah ‘Trik Jitu Menjadi Penulis Masa Kini’. Disusul Buku solo ketiga,  Kumpulan Resume Bersama pak Naf ( Nafrizal Eka Putra, M.Pd) berjudul ‘Bangga Menjadi Seorang Penulis’. Solo Yang ke-4 berjudul ‘Dari Goresan pena Mengukir Prestasi’. Buku ini berisi tentang  naskah dan artikel yang pernah terbt di majalah, di buku antologi dan yang pernah masuk  Cerpen 30 besar even Nasional dari Kreatory.

            “Semua berawal dari Mimpi, gantungkan yang tinggi  agar semua terjadi”. Kini buku solo dan  buku antologi yang ber-ISBN dijumlahkan  sudah lebih dari 50 buah.  Saya dipercaya ibu kanjeng  menjadi kurator buku “ Pandemi Bukan Mimpi” dan buku antologi pentigraf berjudul ‘Tiga Tapak Rona Kehidupan’. Menjadi editor buku ‘Lelaki Pematik  Mimpi’ Mengendors beberapa buku  teman-teman penulis. Banyak juga teman yang pesan buku saya. Semua itu sungguh membanggakan saya. Biarlah semua  seperti air yang mengalir. Tuhan sudah atur semuanya. Kita  harus setia menjalani hidup sesuai dengan kehendakNya.

Trimakasih Tuhan, trimakasih teman, sahabat dan handai taulan yang sudah jadi motivatorku. Trimakasih pembelajaran Online ( IG, WA, fb). Semoga ini akan menjadi kenangan yang indah. Semoga buku-buku yang sudah  terbit  terus beredar  dan  bisa menginsipirasi.  Buku kami juga bermanfaat bagi para pembaca yang setia dengan literasi Indonesia. Majulah negriku dengan literasi yang berseri.

            Benar saja, ternyata  adanya pandemi,  membawa dampak yang baik. Saya jadi punya profesi baru. Jadi salah salah  pegiat literasi negeri.  Mungkin kalau  tak ada pandemi saya tidak punya  karya. Pastinya saya  hanya berkutat di sekolah jadi guru saja. Tugasnya mengajar siswa hanya  tekun membuat perangkat dan  sebagai sorang  ibu yang mengurus rumah tangga.

            Akhirnya, ini yang bisa aku ceritakan. Berliterasi saat pandemi melanda negeri. Sebagai catatan, semua kejadian dan peristiwa itu pasti ada hikmahnya bagi kita. Ada sisi negatif, tapi perlu kita menyikapi sisi positifnya. Hidup lebih bermakna jika kita isi dengan warna indahnya pelangi. Mejikuhibiniu, Merah, jingga, kuning, biru, nila dan ungu. Warna yang mempesonaku. Bisa selalu senyum setiap hari. Senyum akan membuat hati suka cita. Hati bahagia membuat kita panjang usia. Dengan umur panjang kita  bisa terus berkarya. Bisa terus mengabdi  dan rela melayani  keluarga, agama dan  tentunya abdi negara dengan setia. Kiranya bisa terus berkarya, menebar inspirasi yang mempesona untuk keabadian. Mengukir asa untuk generasi muda kita. Semoga!.

 

 

Penulis:  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah, jadi guru di Timor Timur -+ 10 Tahun dan di NTT sejak 22 tahun yang lalu.  Seorang ibu 2 putra, Marcel dan Anto. Penulis adalah ibu rumah tangga  sekaligus  guru  Matematika  di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur. Penulis alumni SDK Kamal Pagersari, SMPK Muntilan, SMAK Stella Duce 1 Yogyakarta dan IKIP Sanata Dharma Jogyakarta. Beberapa tulisannya dimuat di Media masa, majalah dan buku. Sudah lebih  50 buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis juga dipercaya jadi editor  dan penyunting buku di MBI (Menulis Buku Inspirasi) NTT yang diprakarsai oleh penulis best seller Bunda Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH, Mengisi Endors di beberapa buku dan menjadi kurator buku  dibawah naungan bunda Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd, (pegiat literasi Nasional, Narsum nasional, Motivator, penulis dan  kepala SMK). Penulis bisa dihubungi di surel ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003, kel. Hambala, Kec. Kota Waingapu, kab. Sumba Timur NTT.  PO Box. 87112. Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi  sesama.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...