Oleh :
Ledwina Eti Wuryani
Jadilah
terang tanpa memadam cahaya orang lain. Naiklah tinggi tanpa
menjatuhkan orang lain. Capailah Bahagia tanpa melukakan hati orang lain.
Dan paling penting Jadilah baik tanpa memburukkan orang lain.
Saat awal pandemi melanda semua orang bersedih.
Hari demi hari diisi dengan ketakutan
dan kegelisahan. Hidup tak tenang dan harus terus waspada. Badanpun terasa lelah, lesu dan lunglai. Orang
sakit dimana-mana. Kematian juga
terdengar setiap saat di sekitar
kita.
Pandemi
menyerang siapa saja. Miskin-kaya, pejabat-orang biasa, dia tidak pandang
bulu. Siapa saja siap diterjangnya. Bahkan
gaungnya pun hingga di seluruh dunia. Situasi benar-benar terpuruk. Corona mengguncang dunia. Dunia berduka. Dampak itu juga sampai di Indonesia. Di tempat tinggalkupun terkena serangan dari corona. Dia begitu mengganas. Kami
begitu sedih!. Hati terasa perih, sedu
sedan dan deraian air mata
selalu menemani.
Ya Tuhan ampuni kami.
Kadang sampai saya berfikir…..jangan-jangan Tuhan sedang
marah. Banyak manusia yang melupakanNya. Mungkinkah manusia banyak tak lagi berdoa?. Alahu alam!.
Barangkali ada juga menganggap perbuatan dosa
sudah dianggap biasa?. Atau?! Banyak yang
sudah menghalalkan segala cara demi kebahagiaataan semata. Ini tentunya sebuah refleksi bagi setiap kita.
Saat
itu…. Kami juga berduka. Banyak keluarga dekat yang meninggal
dunia. Adik sepupu, mama mertua
dari adik kandungku, tetangga dekatku,
teman guru .….semuanya berpulang. Termasuk juga
ibu kandungku. Memang ibu bukan karena corona, tapi mungkin karena
badan terlalu lelah memikirkan keadaan. Ibu sempat positif covid-19 tapi
sembuh. Yah…. Semuanya harus diterima
dengan lapang dada, agar mereka yang berpulang
aman mengikuti jalannya lurus
menuju Sorga.
Tangis
dan air mata belum kering, disusul seluruh isi rumah terkena pandemi. Baik keluarga yang di Jakarta, di Magelang dan
saya sendiri di Sumba NTT. Suami paling parah karena beliau ada komorbit sakit jatung. Doa terus kudaraskan saat itu. Kekuatan dan penghiburan
hanya dengan doa dan berusaha sesuai kemampuan yang ada. Keluarga turut mendoakan. Saudara/i dan handaitaulan juga tak
ketinggalan selalu memberikan penguatan.
Suamiku…. nyawa hampir melayang, tetes-tetes
air mata menitikkan setia saat. Kami sudah pasrah dan tak bisa berbuat banyak. Hanya doa dan terus berdoa yang
kudaraskan.
Tapi ternyata Tuhan masih sayang pada kami. Suami disembuhkan.
Kini dia sehat Kembali. Senyumnya kini merekah
dan berseri lagi. Tak henti-hentinya kami mensyukuri atas anugerah yang Tuhan beri. Tuhan yang sungguh
baik hati. Dua tahun sudah kami bersama pandemi ini. Banyak sekali
cerita yang mendukakan hati. Kenangan
berharga untuk kami selalu refleksi
diri.
Hidup itu tidak lama. Sebelum Tuhan memanggil
pulang. Pasti ada rasa bangga jika hidup
ini berguna. Hati akan bahagia jika
hidup kita ini berwarna. Ada rasa senang juga jika hidup bisa menginspirasi
sesama. Saat pandemi hidup terkungkum di rumah
saja. Pemerintah melarang kita beraktifitas diluar rumah. Harus
selalu jaga protokol kesehatan.
Jaga jarak dan kurangi mobilitas. Kadang
ada rasa bosan dan jenuh. Jika tak ada
aktifitas tentunya pikiran bisa beku!. Apa yang harus kita kerjakan???
Pada suatu
hari saya merenung. Saya membaca profil penulis di FB. Di situ ada penulis buku.
Saya membayangkan!. Ini seandainya
saya bisa menulis dan tulisan saya
dibukukan ….. wow! betapa bangganya saya. Namaku tertulis indah, fotoku
terpampang didalam covernya. Mimpi kali ya. Mimpi boleh,
bermimpilah terus sepanjang
mimpi belum dilarang oleh
pemerintah. Tapi ketidakpercayaan diri dan ketakutan itu selalu melanda di
hati.
Saya ingat tulisan dari Pak Cah, penulis hebat dan bert
seller. Madeleine Lengle
mengatakan bahwa memublikasikan tulisan itu artinya menyiapkan
diri untuk mendapat serangan terbuka.
Artinya, jika kita berani menulis
harus siap menerima serangan itu. Hatiku
sendiri jadi ciut. Tapi kalau pasrah
kapan mimpi itu bisa diwujudkan?. Syarat menggapai mimpi harus berani
menanggung resiko yang akan terjadi. Harus focus!
Tak usah mimpi
terlalu tinggi. Kalau jatuh sakitnya setengah mati. Dengan menulis saya hanya ingin ‘dikenal’ segelintir orang saja. Itu
sudah cukup. Tak usah menjadi ‘unicorn’.
Jalani seperti air yang mengalir. Nikmati
dan berusaha belajar sesuai dengan kemampunan yang kumiliki. Tak perlu jadi orang lain. Jadilah diri
sendiri supaya tak pusing.
Benar adanya. Kucoba
menulis di FB. Maksudku untuk memperkenalkan saja dimedsos. Terserah apa
tanggapan para pembaca tentang tulisanku. Kucoba lagi menulis di majalah,
ternyata dimuat. Betapa senangnya hati saat itu. Para pembaca menyemangatiku. Mereka
mengapresiasi dan memotivasi. Ada yang langsung
koment di fb ada juga yang japri.
Dari sinilan muncul percaya diri alias PD. Artinya tulisanku bisa dipahami. Tulisanku yang seorang penulis pemula dimengerti dan bisa diterima oleh para
pembaca.
Akhirnya aku
bergabung di group menulis. Pertama di KMO (Komunitas Menulis Online) Alineaku.
Kedua dengan WAG MBI ( Menulis Buku Inspirasi). Ketiga dengan Group PGRI. Dari
sinilah akhirnya saya banyak kenal para
pegiat literasi Indonesia. Di KMO kenal dengan
penulis hebat pak Cahyadi Takariawan, Bu Nurlaila, Mbak Lina, pak Irfan
dan teman-teman yang lain. Di Agupena NTT kenal dengan Bapak Thomas Sogen,
Bunda Lilis, Ibu Lily, Pak Sahat dan
masih banyak lagi. Di PGRI kenal dengan
Om Jay ( Wijaya Kusumah, M.Pd), Ibu Kanjeng ( Dra Sri Sugiastuti , M.Pd ), Bu
Mae dan tak bisa kusebutkan satu persatu saking banyaknya.
Pertemanan dengan para penulis senior begitu mesra dan indah. Walaupun aslinya belum
pernah bertatap muka sama sekali. Kami hanya kenal lewat online saja. Lewat Group whatsapp. Mereka begitu baik dan rela memberi
iklas berbagi. Semuanya saling menyemangati. Saya pemula yang tadinya ‘buta’ berubah jadi ‘terbuka mata’. Walaupun pengetahuanku
dalam menulis baru seujung kuku. Tapi cukup bangga. Saya jadi salah satu orang yang berani
menulis. Yang jelas jadi orang harus mau
belajar dan terus belajar. Jangan malu bertanya dan berani mencoba. Long Life
learning. Menulis adalah sebuah keberanian yang tidak dimiliki semua orang (
Pramoedya Ananta Toer).
Beberapa teman FBku menelponku. Mereka semua memberi
semangat. Ini ada teman yang dari Jakarta, Kalimantan, Mataram dan dari tempat
lain. Mereka salut padaku. Hmhm.. aku jadi malu dibuatnya. Mereka ingin belajar bahkan ada yang memesan
bukuku jika aku buat buku. Wowww!! Antara senang, gugup, bingung campur
campur. Saat itu juga tiba-tiba ada
WA masuk di HP-ku. Cerpenku yang kukirim di Kreatory masuk rangking
ke-22, artinya masuk 30 besar tingkat
nasional. Sebagai pemula aku jadi bangga luar biasa. Dapat Medali, hadiah buku,
sertifikat. Hadiah itu kuposting di medsosku
Dengan begitu banyak pujian dan motivasi
dari teman-teman, keluarga dan sahabat medsos. Itu awalnya aku jadi semangat menulis.
Aku mencoba
membuat tulisan untuk dibukukan. Tulisn itu
berupa kumpulan cerpen.
Kupikir-pikir lagi, apakah mungkin bukuku nanti ada yang mau membaca? Apakah ada yang membeli?? Ahh!!
jawaban itu kutepis. Tak boleh menyerah!. Jangan merasa kalah sebelum
maju perang. Hehe…. menghibur diri.
Terbukti nyata. Buku Solo saya terbit.
Buku itu berjudul ‘Mengungkap Rahasia’
Sebagai editor dan mengapresiasi buku saya adalah Bunda Lilis ( Dra Lilis
Herpianti Sutikno, SH) beliau adalah seorang
penulis best seller. Apresiasi editor sampai penerbitan buku adalah Ibu kanjeng
(Dra Sri Sugiastuti), seorang pegiat Literasi, Bloger, Nara Sumber Penulis
Nasional, Kepala SMK dan masih banyak
jabatan lain. Beliau berdua yang jadi motivator
saya.
Terbit juga buku Solo Kedua, yaitu kumpulan resume dari
pelatihan bersama group PGRI bersama Om Jay ( Wijaya Kusumah , M.Pd) Sang blogger nasional, Nara sumber, penulis hebat,
guru Labs Scholl, Motivator, dll. Judul bukuku adalah ‘Trik Jitu Menjadi Penulis Masa Kini’.
Disusul Buku solo ketiga, Kumpulan
Resume Bersama pak Naf ( Nafrizal Eka Putra, M.Pd) berjudul ‘Bangga Menjadi
Seorang Penulis’. Solo Yang ke-4 berjudul ‘Dari Goresan pena Mengukir Prestasi’.
Buku ini berisi tentang naskah dan
artikel yang pernah terbt di majalah, di buku antologi dan yang pernah
masuk Cerpen 30 besar even Nasional dari
Kreatory.
“Semua berawal dari Mimpi, gantungkan yang tinggi agar semua terjadi”. Kini buku solo dan buku antologi yang ber-ISBN dijumlahkan sudah lebih dari 50 buah. Saya dipercaya ibu kanjeng menjadi kurator buku “ Pandemi Bukan Mimpi”
dan buku antologi pentigraf berjudul ‘Tiga Tapak Rona Kehidupan’. Menjadi editor
buku ‘Lelaki Pematik Mimpi’ Mengendors
beberapa buku teman-teman penulis.
Banyak juga teman yang pesan buku saya. Semua itu sungguh membanggakan saya.
Biarlah semua seperti air yang mengalir.
Tuhan sudah atur semuanya. Kita harus
setia menjalani hidup sesuai dengan kehendakNya.
Trimakasih
Tuhan, trimakasih teman, sahabat dan handai taulan yang sudah jadi motivatorku.
Trimakasih pembelajaran Online ( IG, WA, fb). Semoga ini akan menjadi kenangan
yang indah. Semoga buku-buku yang sudah terbit
terus beredar dan bisa menginsipirasi. Buku kami juga bermanfaat bagi para pembaca
yang setia dengan literasi Indonesia. Majulah negriku dengan literasi yang
berseri.
Benar saja, ternyata
adanya pandemi, membawa dampak
yang baik. Saya jadi punya profesi baru. Jadi salah salah pegiat literasi negeri. Mungkin kalau
tak ada pandemi saya tidak punya
karya. Pastinya saya hanya
berkutat di sekolah jadi guru saja. Tugasnya mengajar siswa hanya tekun membuat perangkat dan sebagai sorang
ibu yang mengurus rumah tangga.
Akhirnya, ini yang bisa aku ceritakan. Berliterasi saat
pandemi melanda negeri. Sebagai catatan, semua kejadian dan peristiwa itu pasti
ada hikmahnya bagi kita. Ada sisi negatif, tapi perlu kita menyikapi sisi
positifnya. Hidup lebih bermakna jika kita isi dengan warna indahnya pelangi.
Mejikuhibiniu, Merah, jingga, kuning, biru, nila dan ungu. Warna yang
mempesonaku. Bisa selalu senyum setiap hari. Senyum akan membuat hati suka
cita. Hati bahagia membuat kita panjang usia. Dengan umur panjang kita bisa terus berkarya. Bisa terus mengabdi dan rela melayani keluarga, agama dan tentunya abdi negara dengan setia. Kiranya
bisa terus berkarya, menebar inspirasi yang mempesona untuk keabadian. Mengukir
asa untuk generasi muda kita. Semoga!.
Penulis: Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa
Tengah, jadi guru di Timor Timur
-+ 10 Tahun dan di NTT sejak 22 tahun yang lalu. Seorang
ibu 2 putra, Marcel dan Anto. Penulis adalah ibu rumah tangga sekaligus
guru Matematika di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur. Penulis
alumni SDK Kamal Pagersari, SMPK Muntilan, SMAK Stella Duce 1 Yogyakarta dan IKIP Sanata Dharma
Jogyakarta. Beberapa tulisannya dimuat di Media masa, majalah dan buku. Sudah lebih 50 buku solo dan antologi
ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis juga dipercaya jadi editor dan penyunting buku di MBI (Menulis Buku
Inspirasi) NTT yang diprakarsai oleh penulis best seller Bunda Dra Lilis
Herpianti Sutikno, SH, Mengisi Endors di beberapa buku dan menjadi kurator
buku dibawah naungan bunda Dra. Sri
Sugiastuti, M.Pd, (pegiat literasi Nasional, Narsum nasional, Motivator,
penulis dan kepala SMK). Penulis bisa
dihubungi di surel ledwinaetiwuryai@gmail.com
, ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube : Ledwina Eti
dan blog etiastiwi66.blogspot.com HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl.
Trikora no: 11 RT/RW 010/003, kel.
Hambala, Kec. Kota Waingapu, kab. Sumba Timur NTT. PO Box. 87112. Quotes : Sebuah kebanggaan Jika hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar