Rabu, 08 Juni 2022

A33. BINAR-BINAR MATA MESYA YANG HILANG TLAH KEMBALI Day 33

 

 


 

 


 

Mentari terasa panas menyengat  saat aku menjemput anak  semata wayangku. Dia kusekolahkan  di sekolahku dulu. Itu cita-citaku waktu  masih muda. Syukurlah ia diterma. Kata banyak orang adalah sekolah  favorit di kota itu. Sekolah itu  tergabung satu kompleks dari TK hingga SMA.

Saat menjemput, aku berusaha mengikuti lorong kecil. Aku tak mau  ada orang  tahu kedatanganku. Pasti mereka akan menanggapku. Kini aku  menjada, sejak mas Tomi  meninggal  sebulan yang lalu  karena kecelakaan bersama  teman wanitanya.  Kini aku hanya bersama Mesya, hidup berdua saja. Jika  mereka mengenal baik tentang aku atau anakku pasti mereka akan bertanya, mereka akan kepo . Bagaimana aku. Bagaimana keadaanku.  Dan lain-lain. Aku lagi malas menanggapi orang, lebih baik  aku menghindar!. Bila mereka melihatku  mereka bisa saja  menggunjingkan nasibku yang sudah menjada sampai hari ini. Dilema jadi seorang janda!.

Kunanti Mesya dengan penuh sabar di  lorong kantin sekolahnya.  Sementara aku menunggu aku jadi ingat peristiwa mas Tomi waktu itu.

Waktu itu mas Tomi  sementara diperjalanan, saat menuju ke bandara hendak ke Medan untuk  tugas dinasnya. Ternyata nasib sial  ada dipihaknya,  mobil yang ditumpanginnya hancur, luluh lantak. Mungkin supirnya  ngantuk.   Mobil menabrak  tiang beton di atas trotoar. Mobil terbalik,  Sopir dan mas Tomi dan sekretarisnya tak terselamatkan!. Sedih!!. Sessaak jantung terasa di dada kalau teringat.

Aku memang teramat sangat mencintai mas Tomi.Aku juga  sangat percaya dengan kesetiaan mas Tomi kepadaku. Setiap hari libur  dia selalu bersama keluarga.  Hari-hari Minggu selalu  menghabiskan waktu di rumah. Betapa bahagianya kami saat ia masih ada. Aku selalu berdoa semoga  kebahagiaan ini  terus berlanjut sampai maut memisahkan.

Sekarang  aku hanya dengan Mesya, aku hanya berdua saja. Sepi. Bi Minah  sudah saya suruh pulang saja. Kami lakukan  aktifitas di rumah sendiri. Jika pas malas  masak  paling kita beli  sayur di jalan, saat jemput  Mesya di sekolahnya.

Kesetiaanku pada  mas Tomi jadi amblas! Blass!! . Kepercayaan  jadi hilang!.  Rasa jengkel jadi muncul!.Walau  dia sudah meninggal tapi sakitnya hati ini belum hilang. Ya!! Sakiiittt sekali sampai di ulu hati!.

Saat itu  ada telpon tak dikenal  berdering  di HPku “Selamat siang!, Apakah ini istri Bapak Tomi Saputra?!”: Suara lelaki tegas dari seberang. “ Benar, saya istrinya, Bagaimana?”: tanyaku penasaran. “Saya Heri Watimena dari Kepolisian, bu”.  Oh!, ya! , ada apa dengan suami saya pak??. Saya ingin memberitahukan kepada keluarga ibu, bahwa  pak Tomi  kecelakaan di Tol Jombor, km 2 dari terminal jombor, Jogyakarta  dan beliau meningal  di tempat bersama seorang wanita beridentitas  Merry Susanti  dan seorang supir bernama Trimo”  . “Sekian laporan kami, trimakasih!” lanjut pak polisi.

Jantungku berdegup kencang!. Hatiku terasa panas!. Kepala bagai kejatuhan besi seberat 10 kg. “ Tidak!! Tidak mungkin, Pak !!, Tak mungkin!!. Tangisku pun pecah.  Mesya  mendekatiku langsung kepeluknya dengan sangat  erat. Suami saya memang pergi  dengan  mbak Santi untuk urusan meeting katanya. Selama 3 hari. Ke Medan  bukan ke Jogya.

“Maaf bu , saya hanya memberikan informasi. Jika Ibu tidak percaya silahkan saja ke Jogya untuk membuktikan. Sekarang Jenasah ketiganya ada di RS Sarjito”: jelas  pak polisi. Aku Telpon balik kepada polisi: “Trimakasih pak, kami akan segera kesana”.

Hati saya masih dipenuhi  tanda tanya. Apalagi  dengan adanya modus penipuan yang saya dengar lewat medsos. Aku  coba telpon mas Tomi,  kutelpon-telpon ulang ternyata tidak  ada jawaban. Aku segera telpon Pak Deni, teman dekat mas Tomi.  Berulang-ulang  kutelpon, mungkin masih  berbicara  dengan orang lain. Dengan dada sesak  tetap aku  berusaha untuk terus menghubunginya.  Puji Tuhan, akhirnya tersambung.  “ Pak Deni , apa benar mas Tomi kecelakaan?!!”: Seruku  setelah dengar suara ‘haloo’ dari seberang.

Mbak Elly!!,  suara terdengar  gementar.... “ Saya turut berduka cita mbak ya. Kami di kantor  juga baru  dapat kabar dari Jogya. “Memang!, mas Tomi  dinas di jogya???” potongku. “ Dia pamit  padaku  meeting di Medan dengan  Santi sekretarisnya. Pak Deni  terdiam  agak lama dan tak menjawab pertanyaanku. Sebenarnya Pak Tomi ambil cuti 3 hari, mbak. Ku dengar bu Santi juga ambil cuti 3 hari, katanya ada urusan keluarga.  Maaf mbak.....aku tidak mengerti  juga kenapa ternyata mereka  berdua  ke Jogya. Akhirnya mereka kecelakaan,  semua  meninggal  termasuk  supirnya mbak Merry. Seluruh persendianku rontok!. Badan terasa tak bertulang!. Lemah, letih, pedih, perih di hati, campur aduk jadi satu.

Kutatap  wajah lugu anak semata wayangku. Mesya.  Kenapa keluarga kita jadi begini.  Betapa Tuhan memberi Ujian ini padaku. Sedikitpun aku tak pernah membayangkan, kebahagian keluargaku  berakhit  seperti ini. Selama ini aku mendewa-dewakan mas Tomi akan kesetiaanya. Ternyata dia jahat. Dia Jahat sekali. Kok, teganya dia mendustai aku!!. Bisanya dia janjian dengan Santi dan  berselingkuh. Ahh!! Kenapa!! Obat apa yang  sudah merasuki mas Tomi! Setan benar yang  sudah merayu mas Tomi, hingga dia  bertekuk lutut di depan wanita lain?

Kuelus rambut anakku, tak terasa  deras air mata mengalir di pipiku. Jelas kutangkap kemurungan di wajah anakku. Aku bergegas menyiapkan diri untuk  segera ke Jogya. Kuajak serta anakku.  Singkat cerita akhirnya ketiga jenasah di bawa pulang. Semua kantor yang mengurusnya. Aku   hanya  mengikuti komando  dari mereka.

Kini,  aku resmi jadi singel parent. Pendidikan  Mesya sepenuhnya adalah tanggung jawabku.  Keberhasilan  Mesya  itu tergantung aku. Haruss bisa!. Pasti bisa!.  Dipagi hari nan cerah. Saat mentari  terbit di ufuk Timur. Kubuka Jendela kamarku. Kulihat burung pipit bernyanyi. Kudengar suara ayam berkokok. Oh indahnya pagi itu.....

Aku menuju dapur untuk menyiapkan segala sesuatunya  untuk  aku dan anakku.  Sekarang aku  harus  lebih pinter-pintar membagi waktuku. Kebetulan sekolah Mesya sejalan dengan kantorku. Sebagai  staf dan gaji tak seberapa aku harus bisa mencukupkan  kehidupanku. Beruntung aku dan mas Tomi  sudah kredit rumah di pinggiran kota tempat tinggalku, walau sederhana. Hitung-hitung tidak bayar kontrak.

Jam 06.00 WIB tepat  aku dan Mesya  sudah siap  pergi. Kami  rutin berboncengan dengan motor. Bekal  makan siang sudah  siap. Di saat musin pandemi begini kami tidak boleh sembarang  makan di kerumunan. Usahakan untuk  jangan dulu  ke pasar yang banyak orang.

Mesya kelas 2 SD, pulang sekolah jam 10.00 tepat biasa ku jemput dia dan kuajak serta di kantorku. Beruntung  ada ruang  tempat anak-anak berkumpul dengan anak-anak teman sekantorku. Seperti biasa  pulang kita bersama dan sampai dirumah kami punya aktivitas masing-masing.

Seperti biasa sebelum jam  pulang aku sudah menunggu Mesya. Aku tak mau terlambat menjemputnya. Aku ingin dia tidak pernah kecewa walau papanya sudah tiada. Ku ingin dia  jadi anak yang disiplin,tegar dan mandiri.

Eh!! Terlihat Mesya sudah muncul dari  pintu  kelasnya.  Aku melambaikan tanganku.namun, mendadak  aku menjadi cemas melihat reaksinya. Ia tak bersemangat. Padahal aku  tidak lambat menjemputnya. “Kenapa gerangan, anakku ini??”: tanya dalam hatiku. Kulihat langkah lesunya menghampiriku. Jelas kutangkat kemurungan hatinya. Hemmm...  tak senyum sedikitpun untukku. Biasanya begitu  menghampiriku, ia mencium tanganku. Dia langsung nyelonong dan menarik tanganku. Aku mengikuti saja dan mengekor  dibelakangnya. Sungguh dia berbeda  dari biasanya.

Perubahan hari ini begitu membuatku cemas. Apakah ada teman yang  nakal mengganggu dia?. Apakah  dia diolok teman?. Apakah dia  merindukan ayahnya yang sudah tiada? Yach!! Pertanyaan banyak ini  sangat mengganggu pikiranku.

Haii!!, anak  mama yang paling manis. Boleh mama  bertanya padamu, nak?. Kenapa  kelihatan sedih anak mama tersayang? “Apa ada  kesalahan yang mama lakukan?”, tanyaku.  Kepalanya menggeleng, tapi air mata  menetes membasahi pipinya. Aku tahu.... pasti  ada yang tak beres hingga mendukakan hatinya. “Mesya sakit??!: tanyaku semakin  cemas.  Diapun menggelengkan kepalanya dengan malas. “ Oh, mama tahu!!,  barang kali Mesya bertengkar dengan teman ya!”, tebakku.  Mesya  masih menggeleng. “Kenapa dong???, Oh!!,...karena Mesya tak  sekelas lagi dengan Metty, Linda dan Lucy ya!”, tebakku lagi.

Mesya, mesya  kenapa??, mama jadi ikut sedih deh, kalau Mesya tidak  terus terang sama mama. Ayo dong?, Mesya  cerita?. Semoga mama bisa  membantu. “Ayo sayang, ceritakan pada mama!”, kataku padanya. “ Mama, akan dengan  senang hati mendengarkan  curahan hati anak mama yang paling mama sayangi”, kataku memohon sambil kupeluk.  “Anak mama yang paling cantik, paling pintar, mama selalu bangga padamu, nak!”, kucoba membujuk agar dia mau mengatakan unek-uneknya.

Jantung hatiku itu kulihat sesaat hanya  terdiam dan menatap lurus ke depan. Lama.....  hingga akhirnya.....

“Begini ma......”, Putri kesayangnku  akhirnya menoleh ke arahku. “ Mesya sedih karena tidak bisa masuk di kelas unggulan, kelas  2A” , kata dia berikutnya. “Kelas 2A isinya anak-anak pintar, padahal  nilaiku bagus”, kenapa aku terlempar di kelas 2B?!, Priska, Metty, Linda, Lucy, Zahra semua di kelas 2A”, protes anakku.

Aku menghela nafas, bersyukur akhirnya Mesya jujur padaku. Dia mau mengemukankan  gejolak perasaan dan kesedihannya.

‘Oh...itu ya yang jadi masalah!, trimakasih sayang.....  anakku  mau cerita ke mama” , kucium kening anakku dengan mesra. Terlihat  senyum kecut dipipinya.

“Mesya sayang, bukan berarti  masuk di kelas 2B itu anak yang bodoh!. Bukan!, sayang. Mesya jangan berkecil hati dong!, kataku memberi semangat. “Mama   selalu bangga dengan  prestasi Mesya, Nilai Mesya rata-ratanya 8,65, bagus  sekali lho. Mesya hebat!”, pujiku kepadanya.

“Tapi, kenapa Mesya tidak bisa masuk di kelas 2A?, kenapa ma?, tanya Mesya. Mungkin ada nilai meysa yang kurang ‘sedikit’ saja”, jawabku  coba menerangkan. “Nilai Mesya ada di ‘batas’ “, lanjutku kemudian. Maksudnya ternyata batas kelas 2A, nilainya 8, 67, begitu, jadi.....Mesya nanti  nilai terbaik di kelas 2B. ; “Mengerti maksud mama?” kataku. Mesya pun mengangguk-angguk tanda paham.

Hmmm...begini Mesya. Mesya  sebenarnya tergolong anak yang pintar di sekolah. Anak yang kreatif, anak yang manis, tekun dan selalu  10 besar di kelas. Aku menatap lekat Mesya. “Mesya, jangan berkecil hati duduk di kelas 2B!. Nanti tunjukkankan bahwa Mesya aslinya adalah anak pintar. Buktikan!!, Meysa belajar lebih rajin, Mesya  kejar untuk dapat Rangking 1 di kelas B, ya!! Rangking 1. Juara Satu!. Mungkin kalau Mesya  masih bersama-sama dengan teman-teman lama,  tak mungkinlah Mesya bisa rangking1.

“Oh, begitu ya ma”, bening mata Mesya menatapku. “Iyalah”, tegasku lagi. Kamu tahu.....justru sekarang ini saatnya  kamu menunjukkan jati dirimu. “saya bisa!!, saya semangat!!, kuacungkan 2 jempolku kepadanya.

Perlahan  bibir Mesya merekah,  senyumnya kembali muncul. Hal ini yang  membuat hatiku teramat sangat gembira. Syukur Tuhan, akhirnya pergumulanku ini  terjawab sudah.

‘Wah, iya ya!,  mama benar sekali! Aku akan lebih rajin belajar!!, semangaaattt!!, bola  mata anakku pun berbinar-binar.

“Jadi janganlah sedih dan kesal lagi ya sayang?! Kalau Mesya tambah tekun, tambah rajin Mesya bisa Juata pertama, Juara kelas!! Hebatt!!, mama tambah bangga dengan anak mama. Kukecup pipinya berulang-ulang tanda kami sudah menemukan solusi.

“Ya deh,ma!! Siiaappp,  Mesya akan buktikan!!, Mesya rangking satu di kelas baru 2B”, katanya dengan  penuh semangat. “Begitu!!, kutunjukkan 2 jempol tanganku  lagi padanya.

“ Yeesss!! Yess!” kerlip bola  mata Mesya begitu berbinar-binar bagai bintang kejora. ‘mama hebat, mama tahu yang Mesya pikirkan!, terimakasih mama!!,  kata mesya sambil mencium ke dua pipiku. “ trimakasih juga sayang”, jawabku penuh  semangat dan suka cita yang tak terkira.

Aku menghela nafasku. Hatiku benar-benar lega. Hati benar-benar  terasa ‘plong’. Satu masalah  terselesaikan. Aku percaya, setiap masalah pasti bisa  diselesaikan. Jangan ada masalah yang  ditunda-tunda penyelesaiannya. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Aku bahagia hidup bersama putri tunggalku. Selalu optimis.

Sungguh!! Aku mengakui,  jadi ibu sekaligus ayah tidaklah mudah. Tapi aku akan berusaha. Aku akan berjuang untuk masa depan  anakku semata wayang. Sepanjang kita berjalan bersama Tuhan, semua akan baik-baik saja.  Aku selalu mengandalkan Tuhan  dalam kehidupan. Itulah kebahagiaann hidupku.

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 33

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti  

#WaingapuKami9Juni2022

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...