Oleh :
Ledwina Eti Wuryani
Panggil saja Umbu Datuk Langgi. Orangnya baik dan dermawan.
Beliau adalah anggota DPRD selama 3
periode. Tapi saat ini beliau sudah tidak menjabat lagi. Istrinya punya karisma inner beauty.
Walaupun suami seorang pejabat
tapi sang istri tetap rendah hati dan
suka menolong. Umi Datuk biasa dipanggil. Keluarga itu mempunyai 4 anak, hanya 1 saja yang
perempuan. Namanya masing-masing adalah : Umbu Jeffri (Uje), Umbu Brizen (Ube),
Umbu Kenji (Uka) dan Tamu Rambu Reiana (Ambu Rei). Kakaknya sudah nikah semua, sisa
si bungsu yang belum Nikah. Jumat, minggu depan dia rencana menikah. Uka adalah Sarjana Arsitek. Calon istrinya adalah seorang calon dokter, dara manis dari Malang. Putri dari Bapak Noto
Prayugo kepala SMA Negeri di Malang. Kedua keluarga besar sudah saling
bertemu. Mereka sudah saling
sepakat bahwa pernikahan nanti akan
diadakan di Sumba dan di Jawa. Acara resepsi diadakan di Sumba terlebih dulu,
dipihak laki-laki.
Seperti
biasa, adat sumba jika ada yang punya
hajatan (pesta) biasa mengadakan acara ‘kumpul tangan’. Acara tersebut artinya keluarga besar berkumpul untuk membicarakan anggaran perhelatan tersebut. Masing-masing keluarga punya
kuajiban menyumbang untuk acara tersebut. Bapak Umbu Datuk berjanji untuk menyiapkan 4
ekor sapi untuk lauk-pauk acar besar itu. Sebagai orang kota Umbu Datuk Langgi
sejak tahun 2012 sudah menitipkan sapi sebanyak 9 ekor di kampung.
Hitung-hitung sebagai tabungan saat beliau
masih menjabat anggota dewan. Sebagai pertimbangan nanti kalau ada ‘acara’ tinggal ambil saja. Selain membantu kehidupan orang kampung pasti hewan
itu akan beranak pinak, pikirnya. Dikota susah cari rumput dan tenaga kurang.
Karena Pernikahan akan digelar minggu depan,
maka Datuk Langgi pergi ke kampung. Selain
bersilaturahmi dengan orang kampung yang pelihara hewan sekalian rencana ambil
sapi yang sudah beliau janjikan
di rapat keluarga. Jarak tempuh kota ke Tabundung kira-kira 60 km dengan medan
yang lumayan sulit. Sampai di rumah bapa Tua yang memelihara sapi… rumah itu
sepi sekali. Ada anaknya laki-laki
bujang yang seorang diri. Bapaknya lagi
ke hutan katanya. Umbu Datuk menunggu sudah lebih 4 jam. Tak ada tanda-tanda
baik. Tak lama kemudian ada seseorang yang menghampiri Umbu Datuk. Disitu Umbu
cerita maksud kedatangannya. Ternyata diluar dugaan , orang yang baru datang
cerita bahwa semua hewan sudah habis dijual dan tak bersisa.
Mereka pake untuk main judi dan untuk
biaya hidup. Umbu Datuk Langgi tak bisa
menahan emosi. Dada terasa sesak.
Jantungpun berdebar sangat kencang hampir berhenti berdetak. Dengan hati serasa
teriris sembilu tekanan darah naik tak terbendung. Kebetulan Umbu Datuk punya
riwayat tekanan darah tinggi. Saking tak kuasa menahan emosinya akhirnya beliau
terjatuh dari bale-bale rumah. Kejadian
itu hanya berdua. Kampung sangat sunyi. Penduduk kampung sangat jarang dan
berjauhan. Persatu km baru ada rumah. Karena lambatnya
pertolongan bapak tua menghembuskan nafasnya yang terakhir. Pilu sedih kejadian
itu. Umbu Datuk akhirnya dibawa pulang ke Kota dalam keadaan tak bernafas lagi.
Sampai dikota betapa sedihnya semua warga yang mendengar kronologi ceritanya.
Minggu depan mau ada perhelatan besar
untuk putera bungsunya dengan persiapan yang special. Ternyata Tuhan menentukan cerita yang berbeda.
Oh Tuhan…!, ternyata acara pernikahan yang akan membawa tawa kebahagiaan itu berubah
menjadi deraian air mata kesedihan. Ribuan
tamu yang melayat turut menangis
sedih. Isak tangis terdengar setiap kita yang hadir. Bapa/mama besan datang
dari Malang bersama calon istrinya Uka.
Mereka pingsan di depan jenazah Bapak
Datuk diikuti semua anak-anak kandungnya juga ikut berjatuhan. Semua tamu yang
hadir sungguh merasa terharu dan sedih. Oh Tuhan….. ampunkanlah orang kampung yang tega
menyalahgunakan kepercayan orang baik ini. Semoga mereka dipanjangkan umurnya
dan mau bertobat.
Waingapu, 7 Maret 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar