Oleh : Ledwina Eti
Bapak
berpesan, kerjakan tugasmu dengan senang hati. Jagalah kepercayaan yang
diberikan oleh atasanmu. Jalani hidup ini dengan hati penuh ucapan syukur, hadapi dengan
senyuman dan keiklasan maka kamu akan merasakan anugerah kehidupan
yang luar biasa.
Kami sekeluarga tinggal di sebuah kampung kecil. Nama
kampungya Gejayan, Gondowangi, Sawangan, Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Kampung
udik dan jauh dari hingar bingarnya
kota. Hidup sederhana. Sejak SD hingga SMP kami ( aku dan 3 adikku) sekolah
dengan berjalan kaki. Di SD jarak tempuh dari rumah 4 km, sedangkan SMP jarak
tempuh dari rumah ke sekolah sekitar 7 km. Kami berjalan dengan menyeberang 2 sungai
besar salah satu namanya pabelan, yang satu lagi lupa Namanya. Kami menyusuri bentangan persawahan yang luas. Jalan dengan
kaki kosong tanpa alas. Sepatu di simpan dalam tas, setelah mau dekat sekolah
baru dipakai agar tak cepat rusak. Kasihan orang tua jika kami boros dan tidak bisa
ikut prihatin.
Sejak
masih kecil saya pribadi mengagumi
figur bapak yang berprofesi sebagai seorang guru.
Sejak tahun 1963 – 1990 bapak mengajar di SPG Van-lith. Sekolah ber-asrama. Sebuah sekolah peninggalan Belanda. Gedungnya indah
dan megah hingga sekarang. Peserta
didiknya
dari seluruh pelosok Indonesia. Bahkan kepala sekolah pertama adalah Pastor Misionaris orang Belanda.
Muridnya sopan, ramah dan begitu
menghormati guru. SPG kependekan dari Sekolah Pendidikan Guru. Tentunya di sekolah itu
diajarkan tentang pembelajaran pedagogik, ilmu keguruan. Saya kecil dulu sering diajak bapak ke sekolah. Saya
disayang-sayang oleh muridnya bapak. Diajari menulis, menyanyi, diberi hadiah,
dikasih makanan. Yah, layaknya aku dianggap
seorang murid pra-sekolah
yang setia, …wkwk. Begitu kali ya. Ya
pokoknya terkesan deh saat itu.
Bapak
pergi mengajar dengan naik motor L2S butut. Tapi kami bangga. Pengalaman naik motor tua saat itu
tak pernah saya lupakan. Setiap tanggal gajian pasti kami, sekeluarga
diajak makan sate, gule tongseng daging kambing bu Mirah di depan terminal
Muntilan. Makanan favorit keluarga kami.
Motor satu dinaiki
full
5 orang,
wow!!. Seru!! Coba sudah ada foto
seperti sekarang ini pasti saya dokumentasikan. Saya posting haha… Itu rutin bapak lakukan
setiap bulan habis gajian. Betapa senangnya, betapa merindukannya
kebersamaan saat itu.
Bapak
sejak muda memimpikan semua anaknya
sekolah di Jogya. Walaupun bapak tahu dan sadar bapak hanya
guru dan saat itu gaji guru teramat
sangat
kecil. Bapak berprinsip: Biarlah hidup prihatin, sederhana dan pinggang diikat
kencang yang penting semua anaknya bisa sarjana. Jika sudah punya ijasah
sarjana artinya sudah punya SIM untuk bekerja. Bisa untuk modal hidup lebih layak nantinya. Harapan bapak supaya hidup anaknya lebih baik dari orang
tuanya. Dan yang jelas agar
kelak tak akan ada lagi yang menuntut dan berebut warisan setelah orang
tua meninggal dunia.
Benar saja, semua kami anaknya lulusan
Jogya, dari SMA sampai kuliah. SMA
Stella Duce, SMA De Britto dan SMA Gama. Kuliah: 2
orang di UGM, 1 Sanata Dharma dan 1 Atma Jaya. Akhirnya semua kita, mantu
dan cucu juga almamater ‘Ngayojokarto
Hadiningrat’. Dua orang kuliah UGM, 3
orang di Atmajaya, anak mantu 1 UPN, 2 Sanata Dharma. Biar kami sudah terpencar
di NTT dan Jakarta semua kuliah di Jogya. Ibu dan bapak yang
sudah ‘sepuh’ (tua) jadi senang semua anak cucunya semua kumpul di saat tertentu. Semua kami menimba ilmu di kampung halaman.
Semua warga Sudayat mengambil
jurusan teknik sipil, arsitek, dokter, ekonomi dan komunikasi. Hanya saya yang jurusan kependidikan, yang berprofesi guru
seperti bapak. Saat itu guru adalah profesi yang sering dihindari karena
‘kesederhanaannya’. Orang melihat dengan
sebelah mata. Teringat Figur pak ‘Umar Bakri’.
Seorang guru yang naik sepeda
ontel, hidup pas pasan, penuh kesederhanaan dan dengan mencari
penghasilkan tambahan kerja serabutan demi mencukupkan kebutuhan rumah
tangganya.
Bapak
adalah guru di SPG , pada tahun
1990 SPG ( Sekolah Pendidikan Guru)
ditutup diganti dengan SMA ( Sekolah Menengah Atas). Saat itu ketiga
adikku masih kuliah. Jelas gaji tak cukup karena ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga dan petani biasa yang
mengelola sawah warisan dari mbah Kakung. Adik-adik saya bisa saja
terancam DO gara-gara uang kuliah
tak bisa terbayarkan.
Rejeki
memang tak salah alamat. Teman Bapak
waktu masih sekolah di SGA
(Sekolah Guru Atas) di Jogya bernama Bapak
Drs. Margono, M.Si. Beliau Pejabat di Dikmenum ( Pendidikan Menengah
Umum) di Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan RI. Beliau menawarkan bapak untuk menjadi kepala sekolah di Timor Timur.
Provinsi Indonesia yang terakhir. Saat itu Tim Tim masih membutuhkan Kepala
sekolah dan guru. Saat yang sama, saya lulus kuliah . Bapak mengajukan permohonan untuk saya ditempatkan di Tim Tim
Juga. Benar saja, akhirnya saya diberi SK
di SMA Negeri Maliana Bobonaro Timor Timor. Bapak sebagai ‘kepala
sekolah’ dan saya sebagai ‘guru biasa’.
Selama
tiga tahun kami bertugas di Maliana, Bapak dimutasi di SMA Negeri 1 dan saya dimutasi di SMA Negeri 3 Dili, Timor
Timur. Banyak cerita, sedikit suka dan banyak duka selama mengajar di Tim Tim. Saat itu Dili adalah
daerah konflik. Daerah belum aman, tentara Indonesia masih terus berjaga setiap
saat. Pemberontakan-pemberontakan kecil sering terjadi hanya karena masalah
kecil atau kesalahpahaman. Sebagai pendatang seperti dibuat kurang tenang dan
tak nyaman menjalani kehidupan. Sering anak siswa buat ulah. Mereka kadang tidak menghargai guru. Gurupun kadang
jadi sasaran kenakalan mereka.
Perkelaian sering terjadi antar
murid. Situasi dan kondisi membuat
hati selalu was was. Situasi sering membuat tegang dan takut. Tapi….namanya ‘abdi negara’ harus tetap setia dengan tugas dan tanggung
jawabnya. Hidup bersama bapak serasa bahagia walau kadang terpaksa. Senyum meringis menghadapi suasana yang
sering genting. Ibu tidak bersama kami di Dili karena itu menjaga adik-adik yang masih sekolah dan kuliah sambil terus
menggarap sawah.
Sebuah pengalaman berharga
bagi Bapak. Beliau sempat diberi tugas
untuk studi banding ke Australia. Wow!!
Sebuah sejarah yang bisa dikenang oleh anak cucu. Sebuah kebanggaan bagi
kami keluarga. Bapak cukup disegani saat jadi kepala Sekolah SMA Negeri 1 Dili
Timor Timur. Sekolahnya maju. Pembelajarannya ala Luar negri dengan Jadwal
Class moving. Kini Foto-foto kenangan saat di Austraslia, saat didatangani
Menteri Pendidikan masih terpampang jelas di ruang tamu rumah di kampung.
Suamiku
namanya Adi Ch. Muhu, orang NTT. Kuliah se-almamater, cuma jurusan berbeda. Dia
mengambil jurusan PDU ( pendidikan dunia usaha). Setelah nikah dia tes PNS di Timor Timur dan Lulus. Lengkaplah
kami bertiga mengabdi di daerah konflik itu. Selama 9 tahun. Berjuang sebagai abdi negara. Tulus dan
iklas untuk turut serta mencerdaskan
anak bangsa. Hingga titik darah penghabisan karena akhirnya Timor Timur ‘merdeka’ dan lepas dari Indonesia.
Benar.
Tepatnya bulan September tahun 1999 Tim-tim jajak pendapat. Di Luar dugaan Pro
Integrasi/ pro Indonesia ‘kalah’. Para guru, pegawai dan warga
Indonesia berarti harus ‘pulang’ ke tanah asalnya. Bapakku, Heribertus Sudayat
saat itu sedang urus MPP ( Masa Persiapan Pensiun Di Jakarta). Rumah di
Perumahan USINDO Comoro, rumah kos 12 kamar,
di rumah tinggal di Becora. Semuanya
kutinggalkan beserta isinya. Kami
lari menyelamatkan diri. Kami pergi mengungsi. Saat itu Dili jadi lautan api.
Harta benda nanti bisa dicari, yang penting lari, daripada mati! Saya mengungsi saya terpisah dengan suami.
Kuselamatkan surat-surat penting. Ada juga kami mobil taxi, karena tak bisa nyupir ya tinggalkan saja
biar orang yang pakai, hitung-hitung
amal. Pergi hanya dengan baju secukupnya yang bisa ditenteng saat mengungsi.
Beruntung saat itu bapak sudah di Jawa karena mengurus purna bakti. Bapak tidak merasakan piruk pikuknya paska jajak
pendapat. Bapak beruntung tidak
ikut lari menyelamatkan diri. Tidak merasakan suasana pembakaran, pemberotakan
yang mencekam dan memakan korban ratusan
orang. Kami warga sipil Indonesia lari terbirit-birit cari
tumpangan otto, kapal, truk, fuso ( mobil tentara) atau angkutan apapun untuk keluar dari
Tim Tim.
Saat itu kami
minta dimutasi di Waingapu, Sumba Timur tempat lahirnya suami. Ke- NTT tak ada
container. Jadi kami hidup mulai dari ‘nol’ lagi. Beruntung masih ada
surat-surat penting sebagai modal kehidupan selanjutnya. Masih bersyukur Tuhan
masih memberikan nafas dan kehidupan. Masih diselamatkan. Masih bisa melarikan
diri ke zona aman. Terus bersyukur untuk cinta dan berkat Tuhan. Semuanya pasti akan baik-baik
saja. Biarlah itu menjadi kenangan dan sejarah hidup. Maka kugoreskan disini dengan tinta emasku, untuk
kenangan anak, cucu, cicit, cecet…… semoga kelak masih mengingat bahwa neneknya adalah bekas korban konflik
bencana.
Sejak
Timtim merdeka, kami semua pulang ke Indonesia. Bapak menikmati pensiun bersama
ibu di Muntilan, Jawa tengah. Saya bersama Suami di Waingapu NTT. Semua adikku
terhitung sudah mapan. Syukurlah. Mereka
tinggal di Jakarta dengan kehidupannya sendiri-sendiri. Waktu terus berjalan. Kehidupanpun jadi berbeda.
Semua berubah sesuai dengan falsafah hidup Jawa “kumpul ra kumpul, sing penting iso
mangan’ artinya biar kita tidak
berkumpul dalam satu rumah besar, tapi masing-masing bisa makan. Mereka masing-masing punya rejeki dengan cara
yang berbeda. Tak perlu saling
mengharapkan orang lain. Selalu bisa
mandiri dan tak perlu saling merepotkan satu sama lain.
Pada
Suatu hari ibu sedang pergi
kondangan (acara pernikahan) keluarga. Bapak di rumah sendiri. Pada
suatu hari dibulan maret 2007. Bapak sementara
menonton televisi. Tiba-tiba gebyok rumah terlepas dari kunci kaitnya.
Bruakkk!!! Terdengar bunyi sangat keras tentunya. Saking kerasnya hingga
tetangga semua berdatangan. (gebyok :
Dinding papan jati isi ukuran 3x6 m2).
Tepat mengenai bapak yang sementara asyik menonton TV. Bapak kejatuhan
benda super berat itu. Posisi ibu tidak
ada di rumah. Kejadian yang mengerikan membuat panik warga kampung yang menyaksikan.
Akhirnya bapak dilarikan ke rumah sakit. Ibu tahu setelah pulang dari
kondangan. Bapak koma, tak sadarkan diri
selama 4 hari. Sejak kejadian itu bapak pikiran terganggu. Mungkin karena benturan yang terlalu keras di kepala, bapak gegar otak. Sedih dan
pilu kami mendengarkan kabar itu. Setiap
hari bapak hanya duduk, diam
dan berdoa sampai
bapak meninggal di bulan september 2009.
Selamat jalan bapak, ibu dan anak-anak sangat mencintai
bapak. Kenangan bersamamu tak kan pernah lupa hingga putus nafasku. Jasamu terukir
indah dihatiku. Nasehatmu akan kuingat selalu. Semua akan kami dilaksanakan dengan
sepenuh hatiku. Kami terus berdoa untuk
bapak semoga bapak sudah tenang di Sorga. 13 tahun kemudian, tepatnya tanggal 16 Oktober 2021
ibu menyusul Bapak pulang. Bapak dan Ibu sudah tenang di alam keabadian.
Kini kami sudah hidup mandiri. Kami siap menghadapi setiap tantangan
hidup yang ada. Sebuah permata tidak akan dapat dipoles tanpa gesekan, demikian
juga seseorang. Kami sadar tidak akan ada orang yang sukses tanpa tantangan dan perjuangan.
Tetaplah semangat menjalani kehidupan, Tuhan selalu menyertai. Teruslah
berkarya , semoga bisa bermanfaat bagi sesama.
Waingapu, 5
Maret 2022 22.07
Penulis: Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa
Tengah, jadi guru di Timor Timur
-+ 10 Tahun dan di NTT sejak 22 tahun yang lalu. Seorang
ibu 2 putra, Marcel dan Anto. Penulis adalah ibu rumah tangga sekaligus
guru Matematika di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur. Penulis
alumni SDK Kamal Pagersari, SMPK Muntilan, SMAK Stella Duce 1 Yogyakarta dan IKIP Sanata Dharma
Jogyakarta. Beberapa tulisannya dimuat di Media masa, Majalah dan buku. Sudah
lebih 46 buku solo dan antologi
ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis juga dipercaya jadi editor dan penyunting buku di MBI ( Menulis Buku
Inspirasi) NTT yang diprakarsai oleh penulis best seller Bunda Dra Lilis
Herpianti Sutikno, SH, Mengisi Endors di beberapa buku dan menjadi kurator buku d ibawah
naungan bunda Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd, (pegiat literasi Nasional, Narsum
nasional, Motivator, penulis dan kepala
SMK). Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com ,
ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube : Ledwina Eti
dan blog
etiastiwi66.blogspot.com HP WA
085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW 010/003, kel. Hambala, Kec. Kota Waingapu,
kab. Sumba Timur NTT. PO Box. 87112.
Quotes : Sebuah kebanggaan Jika hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar