Sabtu, 05 Maret 2022

AYAHKU ADALAH TELADAN HIDUPKU

 


Oleh : Ledwina Eti

Bapak berpesan, kerjakan tugasmu dengan senang hati. Jagalah kepercayaan yang diberikan oleh atasanmu. Jalani hidup ini dengan  hati penuh ucapan syukur, hadapi dengan senyuman dan keiklasan  maka kamu akan merasakan anugerah kehidupan yang luar biasa.

 

            Kami sekeluarga tinggal di sebuah kampung kecil. Nama kampungya Gejayan, Gondowangi, Sawangan, Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Kampung udik dan  jauh dari hingar bingarnya kota. Hidup sederhana. Sejak SD hingga SMP kami ( aku dan 3 adikku) sekolah dengan berjalan kaki. Di SD jarak tempuh dari rumah 4 km, sedangkan SMP jarak tempuh dari rumah ke sekolah sekitar 7 km. Kami berjalan dengan menyeberang 2 sungai besar salah satu namanya pabelan, yang satu lagi lupa Namanya. Kami menyusuri  bentangan persawahan yang luas. Jalan dengan kaki kosong tanpa alas. Sepatu di simpan dalam tas, setelah mau dekat sekolah baru dipakai agar tak cepat rusak. Kasihan orang tua jika kami boros dan tidak bisa ikut  prihatin.

Sejak masih kecil saya pribadi  mengagumi figur  bapak yang berprofesi sebagai seorang guru. Sejak tahun 1963 – 1990 bapak mengajar di SPG Van-lith. Sekolah ber-asrama. Sebuah sekolah peninggalan Belanda. Gedungnya indah dan megah hingga sekarang.  Peserta didiknya dari seluruh pelosok Indonesia. Bahkan kepala sekolah pertama adalah Pastor Misionaris orang Belanda. Muridnya  sopan, ramah dan begitu menghormati guru. SPG kependekan dari Sekolah Pendidikan Guru. Tentunya di sekolah itu diajarkan tentang pembelajaran pedagogik, ilmu keguruan.  Saya kecil dulu sering diajak bapak ke sekolah. Saya disayang-sayang oleh muridnya bapak. Diajari menulis, menyanyi, diberi hadiah, dikasih makanan. Yah, layaknya aku dianggap  seorang murid pra-sekolah yang setia, …wkwk.  Begitu kali ya. Ya pokoknya terkesan deh  saat itu.

Bapak pergi mengajar dengan naik motor L2S butut. Tapi kami bangga. Pengalaman naik motor tua saat  itu  tak  pernah saya lupakan.  Setiap tanggal gajian pasti kami, sekeluarga diajak makan sate, gule tongseng daging kambing bu Mirah di depan terminal Muntilan. Makanan favorit keluarga kami.   Motor satu dinaiki full 5 orang, wow!!.  Seru!! Coba sudah ada foto seperti sekarang ini pasti saya dokumentasikan. Saya posting haha… Itu rutin bapak lakukan setiap bulan habis gajian. Betapa senangnya, betapa merindukannya kebersamaan  saat itu.

Bapak sejak muda memimpikan  semua anaknya sekolah  di Jogya.  Walaupun bapak tahu dan sadar bapak hanya guru dan saat itu gaji guru teramat sangat kecil. Bapak berprinsip:  Biarlah  hidup prihatin, sederhana dan pinggang diikat kencang yang penting semua anaknya bisa sarjana. Jika sudah punya ijasah sarjana artinya sudah punya SIM untuk bekerja. Bisa untuk modal  hidup lebih layak nantinya. Harapan bapak supaya hidup anaknya lebih baik dari orang tuanya. Dan yang jelas agar kelak  tak akan ada lagi yang  menuntut dan berebut warisan setelah orang tua  meninggal dunia.

      Benar saja, semua kami anaknya lulusan Jogya, dari SMA sampai  kuliah. SMA Stella Duce, SMA De Britto dan SMA Gama. Kuliah:  2 orang di UGM, 1 Sanata Dharma dan 1 Atma Jaya. Akhirnya semua kita, mantu dan  cucu juga almamater ‘Ngayojokarto Hadiningrat’.  Dua orang kuliah UGM, 3 orang di Atmajaya, anak mantu 1 UPN, 2 Sanata Dharma. Biar kami sudah  terpencar  di NTT  dan Jakarta  semua kuliah di Jogya. Ibu dan bapak yang sudah ‘sepuh’ (tua) jadi senang semua  anak cucunya semua  kumpul di saat tertentu. Semua kami  menimba ilmu di kampung halaman.

Semua warga Sudayat mengambil jurusan teknik sipil, arsitek, dokter, ekonomi dan komunikasi.  Hanya saya yang  jurusan kependidikan, yang berprofesi guru seperti bapak. Saat itu  guru adalah  profesi yang sering dihindari karena ‘kesederhanaannya’. Orang  melihat dengan sebelah mata. Teringat Figur pak ‘Umar Bakri’.  Seorang guru yang naik sepeda ontel, hidup pas pasan, penuh kesederhanaan dan dengan mencari penghasilkan  tambahan kerja serabutan demi mencukupkan kebutuhan rumah tangganya.

Bapak adalah guru di SPG , pada tahun 1990 SPG ( Sekolah Pendidikan Guru)  ditutup diganti dengan SMA ( Sekolah Menengah Atas). Saat itu ketiga adikku masih kuliah. Jelas gaji tak cukup karena  ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga dan petani biasa yang mengelola sawah warisan dari mbah Kakung. Adik-adik saya  bisa saja  terancam DO gara-gara  uang kuliah tak bisa terbayarkan.

Rejeki memang tak salah alamat. Teman Bapak  waktu masih  sekolah di SGA (Sekolah Guru Atas) di Jogya bernama Bapak  Drs. Margono, M.Si. Beliau Pejabat di Dikmenum ( Pendidikan Menengah Umum) di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan RI. Beliau menawarkan bapak untuk  menjadi kepala sekolah di Timor Timur. Provinsi Indonesia yang terakhir. Saat itu Tim Tim masih membutuhkan Kepala sekolah dan guru. Saat yang sama, saya lulus kuliah . Bapak mengajukan  permohonan untuk saya ditempatkan di Tim Tim Juga. Benar saja, akhirnya saya diberi SK  di SMA Negeri Maliana Bobonaro Timor Timor. Bapak sebagai ‘kepala sekolah’ dan saya sebagai ‘guru biasa’. 

Selama tiga tahun kami bertugas di Maliana,  Bapak dimutasi di SMA Negeri 1  dan saya dimutasi di SMA Negeri 3 Dili, Timor Timur. Banyak cerita, sedikit suka dan banyak duka selama  mengajar di Tim Tim. Saat itu Dili adalah daerah konflik. Daerah belum aman, tentara Indonesia masih terus berjaga setiap saat. Pemberontakan-pemberontakan kecil sering terjadi hanya karena masalah kecil atau kesalahpahaman. Sebagai pendatang seperti dibuat kurang tenang dan tak nyaman menjalani kehidupan. Sering anak siswa  buat ulah. Mereka  kadang tidak menghargai guru. Gurupun kadang jadi sasaran kenakalan mereka.  Perkelaian sering terjadi antar  murid. Situasi dan kondisi membuat  hati selalu was was. Situasi sering membuat  tegang dan takut.  Tapi….namanya ‘abdi negara’  harus tetap setia dengan tugas dan tanggung jawabnya. Hidup bersama bapak serasa bahagia walau kadang terpaksa.  Senyum meringis menghadapi suasana yang sering genting. Ibu tidak bersama kami di Dili karena itu  menjaga adik-adik  yang masih sekolah dan kuliah sambil terus menggarap sawah.

Sebuah pengalaman berharga bagi Bapak. Beliau sempat  diberi tugas untuk studi banding ke Australia. Wow!!  Sebuah sejarah yang bisa dikenang oleh anak cucu. Sebuah kebanggaan bagi kami keluarga. Bapak cukup disegani saat jadi kepala Sekolah SMA Negeri 1 Dili Timor Timur. Sekolahnya maju. Pembelajarannya ala Luar negri dengan Jadwal Class moving. Kini Foto-foto kenangan saat di Austraslia, saat didatangani Menteri Pendidikan masih terpampang jelas di ruang tamu rumah di kampung.

Suamiku namanya Adi Ch. Muhu, orang NTT. Kuliah se-almamater, cuma jurusan berbeda. Dia mengambil jurusan PDU ( pendidikan dunia usaha). Setelah nikah dia  tes PNS di Timor Timur dan Lulus. Lengkaplah kami bertiga mengabdi di daerah konflik itu. Selama 9 tahun.  Berjuang sebagai abdi negara. Tulus dan iklas  untuk turut serta mencerdaskan anak bangsa. Hingga titik darah penghabisan karena akhirnya Timor Timur ‘merdeka’ dan  lepas dari Indonesia.

Benar. Tepatnya bulan September tahun 1999 Tim-tim jajak pendapat. Di Luar dugaan Pro Integrasi/ pro Indonesia  kalah. Para guru, pegawai dan warga Indonesia berarti harus ‘pulang’ ke tanah asalnya. Bapakku, Heribertus Sudayat saat itu sedang urus MPP ( Masa Persiapan Pensiun Di Jakarta). Rumah di Perumahan USINDO Comoro, rumah kos 12 kamar,  di rumah tinggal di Becora. Semuanya  kutinggalkan  beserta isinya. Kami lari menyelamatkan diri. Kami pergi mengungsi. Saat itu Dili jadi lautan api. Harta benda nanti bisa dicari, yang penting lari, daripada mati! Saya  mengungsi saya terpisah dengan suami. Kuselamatkan surat-surat penting. Ada juga kami mobil taxi,  karena tak bisa nyupir ya tinggalkan saja biar  orang yang pakai, hitung-hitung amal. Pergi hanya dengan baju secukupnya yang bisa ditenteng saat mengungsi. Beruntung saat itu bapak  sudah di Jawa karena mengurus purna bakti.  Bapak  tidak merasakan piruk pikuknya paska jajak pendapat. Bapak beruntung tidak ikut lari menyelamatkan diri. Tidak merasakan suasana pembakaran, pemberotakan yang mencekam dan  memakan korban ratusan orang. Kami  warga sipil Indonesia lari terbirit-birit cari tumpangan otto, kapal, truk, fuso ( mobil tentara) atau angkutan apapun untuk keluar dari Tim Tim.

Saat itu kami minta dimutasi di Waingapu, Sumba Timur tempat lahirnya suami. Ke- NTT tak ada container. Jadi kami hidup mulai dari ‘nol’ lagi. Beruntung masih ada surat-surat penting sebagai modal kehidupan selanjutnya. Masih bersyukur Tuhan masih memberikan nafas dan kehidupan. Masih diselamatkan. Masih bisa melarikan diri ke zona aman. Terus bersyukur untuk cinta dan berkat Tuhan. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Biarlah itu menjadi kenangan dan sejarah hidup. Maka  kugoreskan disini dengan tinta emasku, untuk kenangan anak, cucu, cicit, cecet…… semoga kelak masih mengingat  bahwa neneknya adalah bekas korban konflik bencana.

Sejak Timtim merdeka, kami semua pulang ke Indonesia. Bapak menikmati pensiun bersama ibu di Muntilan, Jawa tengah. Saya bersama Suami di Waingapu NTT. Semua adikku terhitung sudah mapan. Syukurlah. Mereka  tinggal di Jakarta dengan kehidupannya sendiri-sendiri.  Waktu terus berjalan. Kehidupanpun  jadi berbeda.  Semua berubah  sesuai dengan   falsafah hidup Jawa “kumpul ra kumpul, sing penting iso mangan’ artinya biar kita tidak  berkumpul dalam satu rumah besar, tapi masing-masing bisa makan. Mereka masing-masing punya rejeki dengan cara yang berbeda. Tak perlu saling  mengharapkan orang lain. Selalu bisa  mandiri dan tak perlu saling merepotkan satu sama lain.

Pada Suatu hari  ibu sedang  pergi  kondangan (acara pernikahan) keluarga. Bapak di rumah sendiri. Pada suatu hari dibulan maret 2007. Bapak sementara  menonton televisi.  Tiba-tiba   gebyok rumah terlepas dari kunci kaitnya. Bruakkk!!! Terdengar bunyi sangat keras tentunya. Saking kerasnya hingga tetangga semua berdatangan.  (gebyok : Dinding papan  jati  isi ukuran 3x6 m2).  Tepat mengenai bapak yang sementara asyik menonton TV. Bapak kejatuhan benda super berat itu. Posisi ibu  tidak ada di rumah. Kejadian yang mengerikan membuat panik warga kampung yang menyaksikan. Akhirnya bapak dilarikan ke rumah sakit. Ibu tahu setelah pulang dari kondangan.  Bapak koma, tak sadarkan diri selama 4 hari.  Sejak kejadian itu bapak  pikiran terganggu. Mungkin karena  benturan yang terlalu  keras di kepala, bapak gegar otak. Sedih dan pilu kami mendengarkan kabar itu.  Setiap hari bapak hanya duduk, diam dan berdoa sampai bapak meninggal di bulan september 2009.

 Selamat jalan bapak, ibu dan anak-anak sangat mencintai bapak. Kenangan bersamamu tak kan pernah lupa hingga putus nafasku. Jasamu  terukir  indah dihatiku. Nasehatmu akan kuingat selalu.  Semua akan kami dilaksanakan dengan sepenuh hatiku.  Kami terus berdoa untuk bapak semoga bapak  sudah tenang di Sorga. 13 tahun kemudian, tepatnya tanggal 16 Oktober 2021 ibu menyusul Bapak pulang. Bapak dan Ibu sudah tenang di alam keabadian.

 Kini kami sudah hidup mandiri. Kami siap menghadapi setiap tantangan hidup yang ada. Sebuah permata tidak akan dapat dipoles tanpa gesekan, demikian juga seseorang. Kami sadar  tidak akan  ada orang yang  sukses tanpa tantangan dan perjuangan. Tetaplah semangat menjalani kehidupan, Tuhan selalu menyertai. Teruslah berkarya , semoga bisa bermanfaat bagi sesama.

 

Waingapu, 5 Maret 2022   22.07

 


Penulis:  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah, jadi guru di Timor Timur -+ 10 Tahun dan di NTT sejak 22 tahun yang lalu.  Seorang ibu 2 putra, Marcel dan Anto. Penulis adalah ibu rumah tangga  sekaligus  guru  Matematika  di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur. Penulis alumni SDK Kamal Pagersari, SMPK Muntilan, SMAK Stella Duce 1 Yogyakarta dan IKIP Sanata Dharma Jogyakarta. Beberapa tulisannya dimuat di Media masa, Majalah dan buku. Sudah lebih  46 buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis juga dipercaya jadi editor  dan penyunting buku di MBI ( Menulis Buku Inspirasi) NTT yang diprakarsai oleh penulis best seller Bunda Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH, Mengisi Endors di beberapa buku dan menjadi kurator buku  d ibawah naungan bunda Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd, (pegiat literasi Nasional, Narsum nasional, Motivator, penulis dan  kepala SMK). Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003, kel. Hambala, Kec. Kota Waingapu, kab. Sumba Timur NTT.  PO Box. 87112. Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi  sesama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...