Kamis, 24 Februari 2022

MENGGAPAI ASA DALAM KELUARGA

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

 

Tuhan menciptakan untuk kita saling menyempurnakan  satu sama lain. Dalam pernikahan hendaknya kita  bisa saling melengkapi, saling mengisi karena saling membutuhkan. Selalu berharap agar dalam pernikahan kita mendapatkan kebahagiaan. Rela untuk selalu senyum manis romantis kepada pasangan .

 

Sebelum berkeluarga,  dalam hati saya punya kerinduan mempunyai pasangan yang seiman. Yang lebih dewasa dari saya. Pendidikan minimal sama, supaya kalau berbicara bisa nyambung. Profesi tidaklah menjadi  target. Yang penting punya pekerjaaan. Supaya nanti kalau sudah berumah tangga tidak pernah ada masalah tentang perekonomian.

            Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Hanya Tuhan yang Maha Sempurna. Jadi orang tak boleh idealis, egois. Ikuti  air yang mengalir. Kerendahan  hati dalam hidup itu  penting agar Tuhan sayang pada kita umatnya. Beberapa kali saya punya  teman dekat.  Kata bapak kalau cari suami itu harus memenuhi persyaratan : bibit, bobot, bebet. Bibit, kira-kira artinya  asal usulnya atau trah (leluhurnya). Bobot kurang lebih pendidikan atau daya nalar (pikiran) sedangkan  bebet adalah cara berpenampilan, berpakaian dan tatakrama kehidupannya. Begitulah kata bapak Sudayat almarhum, bapak kandungku.

            Denie (bukan nama sebenarnya) adalah  cowok pertama yang sempat singgah dihati. Karena dia  lanjut kuliah di seminari (calon pastor) akhirnya lewat. Yang berikut Mas Wondo, dia adalah  anak tokoh umat dari Prambanan. Seorang anak kepala desa. Cuma karena saya  tidak bisa mengikuti  gaya hidupnya saya memutuskan mundur saja.  Satu lagi orang Bali, namanya I Nyoman Alita Warma Dewa. orangnya super baik. Sebagai anak kos saya sering diberi hadiah, dibawakan makanan, orangnya tidak pelit …  wuih  saya suka. Tapi saya tidak bisa mencintai, dia beda agama. Akhirnya kandas juga.

            Setelah saya lulus PNS, saya ditempatkan di daerah konflik bencana. Tepatnya di Timor-Timur. Saya merasa  sendirian. Masih jomblo pula. Takutnya saya nanti jadi perawan tua, saya memutuskan tunangan dengan teman dekat saya. Sudah 2 tahun pacaran. Akhirnya  saya resmi punya ‘tunangan’. Saya pergi  meninggalkan dia karena saya harus  pergi melaksanakan tugas negara sesuai SK.  Betapa sedihnya saya saat itu. Saya mengajar di SMA Negeri Maliana, sebuah kota kecil di Kabupaten. Bukannya GR,  cowok bujang terlalu banyak.  Mereka punya profesipun keren-keren habis. Ada yang kepala Rumah sakit, kepala Bank, Kepala statistik, dan pegawai kantor semuanya PNS. Sedangkan saya perempuan langka. Hehe.. maksudnya tidaklah banyak wanita yang ditempatkan di  daerah konflik itu.

            Hadiah-hadiah dari para pengagum saya. Hihi… banyak. Mereka ingin berkenalan dengan saya, menawarkan diri  jadi pacarnya. Maklum,…. Saat itu  tahun 1990 Timor-Timur masih rawan.  Daerahnya belum maju. Para pegawai didatangkan dari pelosok Nusantara, dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, sulawesi yang penting dari  luar TimTim. Termasuk dari Nusa tenggara Timur ( NTT).

            Saat itu saya  menyadari dengan sepenuh hati  , saya yang bukan siapa-siapa ini diidolakan oleh banyak orang. Dalam hati saya jadi malu sendiri. Serba perasaan. Dari pada saya jadi fikiran tak tenang akhirnya saya memutuskan memilih  satu orang untuk menjadi pendampingku, penyelamatku. Karena saya tinggal di kota kecil dan  daerah terpencil maka kalau bersuratpun sulit aksesnya. Saya LDR dengan kak Adi tunanganku. Karena surat  tidak pernah berbalas, hampir saja saya melupakannya. Orang tua menyarankan supaya tunanganku ikut ke Tim Tim, kalau tidak putuskan saja. Dilemalah aku saat itu. Waktu terus berjalan, umurku pun semakin bertambah.

            Ada teman yang tulus mencintaiku, panggil saja dia Haris. Seprofesi dengan saya. Jujur sebenarnya saya tidak bertepuk sebelah tangan. Hati tak boleh bohong, aku sudah punya tunangan. Aku tak boleh menyakiti hatinya. Benar. Kusampaikan  saran bapak padanya. Dia menyusulku di Timor-Timor. Dia di kota provinsi, yaitu Dili.  Sementara saya di Kota kabupaten. Tak apalah yang penting masih dalam pulau yang sama.  Akhirnya tepat tanggal 20 Juni 1992 saya menikah dengan tunanganku itu.

            Beruntung, suami  ikut tes PNS langsung lulus dan ditempatkan di SMKK Negeri Dili. Setahun kemudian saya  minta mutasi untuk di Dili. SK saya turun di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur. Lengkaplah kini keluarga kecil kami. Anak pertama kami Marcel,  lahir setelah 2 tahun menilah. Menyusul anak Kedua Dwi Ananto. Dua orang saja jagoanku. Hidup apa adanya. Hidup sebagai seorang perantau yang kadang direndahkan oleh  pribumi. Tak apa. Itu sebuah resiko yang harus ditanggung.

            Hari terus berjalan, Tahunpun berganti. Selama tujuh  tahun  kami menjalani rumah tangga di kota Dili. Banyak cerita suka, duka, sedu sedan bahkan air mata yang mewarnai kehidupan kami. Kekerasan  kita lihat hampir setiap hari. Konflik antara pendatang dan pribumi sering terjadi.  Sebagai pendatang harus selalu mengalah dan tahu diri. Akhirnya, pasa bulan Maret tahun 2000 Timor Timur ‘merdeka’. Kita Warga Indonesia harus meninggalkan tanah Tim Tim . Kini status kami adalah seorang pengungsi.  Semua pro Integrasi harus keluar  atau pulang ke tanah asal.

            Bisa dibayangkan, betapa hiruk pikuknya saat itu. Kota Dili dan sekitarnya sudah menjadi lautan api. Pembunuhan terjadi dimana-mana. Suara tembakan tak henti-henti. Hati  dug dag, jantung terasa mau lepas dan rasanya ngeri.  Para tentara Indonesia dan tentara musuh berkejar-kejaran. Pembakaran rumahpun tak  bisa dihentikan. Saya lari terbirit-birit untuk menyelamatkan diri. Suami!!  dia belum  mau pergi, akhirnya saya  lari menumpang mobilnya  tetangga yang mau mengungsi.

            Beruntung kedua anakku sudah saya titipkan ke Jawa beberapa tahun yang lalu. Sebagai pengungsi kami ditampung di barak-barak.  Beramai-ramai di suatu tempat yang sudah ditentukan. Mandi, makan, tidur  ditempat yang sama. Woww!!   aromanyapun  luar biasa. Bagaimana tidak,  pengungsi se-provinsi  ditampung di lapangan. Basesak, beruntung akhirnya kami ditampung di rumah kosong. Bekas kantor yang sudah lama tak berpenghuni. Tempatnya serem. Sampahpun  setinggi gunung. Belum sarang laba-laba yang menambah ngerinya suasana tempat itu. Tapi tak apalah. Daripada di lapangan dengan suasananya panas dan tak bersahabat?!.

            Selama dipengungsian kami menunggu nasib. Menunggu SK penempatan. Oh iya,  saat itu saya belum tahu suami dimana. Kami terpisah. Untung Tuhan  Maha baik,  akhirnya kami bisa dipertemukan  dalam keadaan selamat. Hanya rumah beserta isinya sudah harus direlakan. Biarlah orang yang menempatinya. Harta bisa dicari, tapi  Nyawa??! Saat itu semua pengungsi boleh memilih dimana ditempatkan, yang penting di Indonesia. Jika orang Jawa boleh memilih di Jakarta, Semarang, Magelang, Surabaya……. Nah, teman-temanku orang Jawa yang suaminya orang luar  jawa ikut ke Jawa.

            Saat itu tiba giliranku dipanggil oleh pak Kakanwil. Aku orang Jawa, asli, suamiku orang Sumba. Saya minta supaya saya ditempatkan di Sumba ikut Suami. Pak kakanwil seolah tak percaya. Beliau melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki.  Dia menatapku dan penuh tanda tanya. Mbak…..  ah!!, mau tinggal di Waingapu Sumba Timur??  Dengan mantap aku menjawab. Alasanku saya sudah ada rumah sederhana di Sumba. Pejabat itu masih meragukan pilihanku. Akhirnya beliau menyarankan untuk berpikir ulang. Besok baru datang lagi. Saya mengikuti saran beliau.  Tekadku sudah bulat saya mau  ditempatkan di Waoingapu, Sumba Timur. Esok hari kami menghadap dengan suara hati yang sama dengan kemarin. Akhirnya SK saya diterbitkan sesuai dengan kemauanku.

            Dengan kapal laut Bernama ‘Dobon Solo’ kami pulang ke Indonesia, ke NTT. Dengan bekal  pakaian seadanya dan surat berharga  saya menuju ke tanah tumpah darah suami tercinta.  Sampai di Waingapu saya dan suami dijemput keluarga besar mereka. Saya terharu dengan kekeluargaan mereka. Ternyata dalam satu rumah ada 31 orang. Hati ini jadi sedih atau gembira. Aku tak tahu.... Ternyata benar, cinta  itu butuh pengorbanan. Hanya dengan doa saya bisa dikuatkan.  Saya harus  komitmen dengan  pilihan saya. Saya harus bisa lebih dewasa. Harus bisa menerima kenyataan. Tak boleh mengeluh.

            Di Timor Timur boleh dibilang semua sudah ada, rumah beserta isinya. Bahkan kendaraan (mobil dan motor) juga sudah punya. Tapi itu kita tinggalkan semuanya. Sekarang  kami mulai merayap dari nol.  Dengan beban hidup yang ekstrim. Hampir saya mau lari dari rumah. Tapi bagimana?? Ya Tuhan  berilah kekuatan dan semoga  kami dicukupkan. Saya tidak berani mengambil anakku yang di Jawa. Biarlah mereka bersama orangtuaku.

            Waktupun terus berjalan. Sebagai hiburan saya dan teman-teman  asli Jawa membuat komunitas atau paguyuban. Saya juga bergabung dengan kelompok-kelompok  dari jawa. Membuat pertemuan rutin sebulan sekali, membuat arisan. Dengan begitu akhirnya saya  tidak merasa sendiri. Saya tidak lagi merasa jadi orang yang paling sengsara di dunia .  ternyata masih ada yang lebih sengsara dari saya. Saya jadi merasa selalu terhibur dan tak sedih lagi.

            Berbekal selalu bersyukur dan dekat dengan Tuhan ternyata sungguh membuat hidup terasa ringan. Dengan banyak sahabat kita  bisa curhat. Kita bisa  menghilangkan rasa penat.  Selalu  semangat menghadapi hidup  jadi  nikmat walaupun tadinya serasa berat.

            Kini  biduk rumah tangga kami sudah 30 tahun.  20  - 2 - 1992 sampai 22 – 02 – 2022. Dua anakku sudah sarjana. Semoga mereka bisa berjodoh dengan orang baik dan bisa membanggakan keluarga. Terus menghormati dan berbakti pada orang tua. Suami juga  sudah pensiun per tanggal 28 Oktober 2021. Saya masih lima tahun lagi. Harapan dan doaku semoga saya  masih bisa naik pangkat satu level lagi.  Bisa terus menulis dan menginspirasi. Suatu kebanggaan jika bisa bermanfaat bagi sesama.

            Tak perlu menjadi  ‘unicorn’. Cukuplah dengan kemampuan kita sendiri. Jadilah diri sendiri dan jangan bosan untuk terus belajar.  Dalam mengisi hidup ini banyak cerita.  Banyak  kenangan indah dan  juga kenangan pilu yang menyakitkan. Sulit untuk dilupakan, Indah untuk dilukiskan. Kiranya Tuhan terus dan senantiasa  mendampingi, melindungi dan memberkati kami dalam untung dan malang. Semoga!

              

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...