Nama Guru : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd
Tema : Lomba Guru Inovatif dan Inspiratif
Diselenggarakan oleh : Kemdikbud
Memperingati : Hari Guru Nasional
Selamat Hari Guru Nasional!. Tetap semangat!!. “G u r u ”. Jika kita berbicara tentang guru. Ini adalah topik yang tidak pernah habis untuk dibahas. Dari jaman nenek moyang kita dulu hingga sekarang, tak akan hilang ditelan waktu,sampai kapan pun. Kita berbicara Sekurang-kurangnya sepuluh tahun terakhir saja. Selalu menarik. Selalu kompleks dan selalu seru. Walau guru-guru sudah banyak yang berlalu (pensiun). Muncullah guru-guru baru, dengan semangat baru, sebagai guru penggerak untuk Indonesia terus maju.
Ada ketidakpuasan masyarakat terhadap guru. Tidak sedikit orang tua yang merasa kecewa pada guru. Mungkin karena ada yang anaknya tidak lulus ujian. Bisa juga karena nilai ujiannya jelek. Ada juga yang kecewa karena anak kesayangannya tidak diterima di perguruan tinggi yang diharapkan. Pemandangan semacam ini akan terlihat setiap akhir tahun. Setelah penerimaan bukti kelulusan dan kenaikan kelas. Mereka kecewa, karena seolah-olah guru tidak bisa mengajar. Guru kurang bisa melatih dan mendidik siswa.
Keberhasilan seorang peserta didik sebenarnya tidak sepenuhnya karena guru. Tidak serta merta keberhasilan murid itu karena ketidakmampuan guru dalam mengajar. Benar. Guru tetap harus berinovasi, tapi tanpa peserta didik yang pro aktif, ya sama saja bohong. Tak ada seorangpun sukses tanpa sentuhan guru. Jadi Apapun kita saat ini, guru-guru kita pasti ikut mewarnai dan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan peserta didik.
Gelaja yang ‘kurang’ bagi guru untuk saat ini. Ketika ada guru yang tak mau belajar. Guru tidak mau menggerakkan siswanya untuk terus belajar dan membuka pikiran. Guru Tidak berani mengajak siswa untuk kreatif dan tidak pandai berkolaborasi dengan tuntutan kemajuan zaman seperti saat ini.
Apalagi pada jaman milenial seperti saat ini. Guru harus belajar untuk mengikuti kemajuan teknologi yang semakin pesat. Selain mempelajari iptek, kita juga harus membangun pendidikan karakter. Membangun karakter agar kelak tidak hanya unggul dalam sumber daya manusia tetapi juga kuat dalam karakternya. “Mayoritas mengatakan, intelektual yang membuat seseorang hebat, mereka salah. Yang membuat hebat adalah karakter” (Albert Einstein).
Kita saat ini sudah memasuki era globalisasi. Era ini dapat dipandang sebagai era pengetahuan dan teknologi. Tugas guru mendidik , mengajar, membimbing , mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi setiap peserta didik. Diharapkan guru untuk selalu meningkatkan kualitas agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan jaman.
Apalagi Program utama menteri pendidikan yang akan ditingkatkan demi menghadap revolusi industri 4.0 adalah sumber daya manusia, salah satunya guru. Membangun karakter sebuah keharusan. Guru menjadi pintu lahirnya generasi muda. Guru Harus berani beradaptasi dengan teknologi. Guru tidak lagi berjibaku berpegang teguh dengan kapur dan berkotor-kotor dalam sistem mengajarnya. Namun guru harus menggunakan teknologi demi menciptakan sistem pembelajaran yang up to date dan semakin menarik.
Ada beberapa perubahan kecil yang bisa guru lakukan mulai dari sekarang. Yakni mengajak siswa untuk berdiskusi dari pada mendengar. Memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas (pesentasi aktif). Mencetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas. Menciptakan karya atau produk, ketrampilan, portopolio dan praktek. Menemukan bakat dalam diri peserta didik. Siswa harus mandiri. Siswa juga harus berinovasi.
Menurut Indra Djati Sidi,Ph.d. Dalam bukunya Menuju masyarakat belajar, guru mempunyai 2 permasalahan eksternal, Yaitu : Tantangan Krisis etika dan moral anak bangsa (manusiakan manusia) dan tantangan masyarakat. Guru diharapkan bisa menjawab tantangan itu. Guru harus memiliki kepribadian yang kuat dan matang untuk dapat menanamkan nilai-nilai moral dan etika. Guru mampu memberi bekal kepada peserta didik, selain ilmu pengetahuan dan teknologi juga menanamkan sikap disiplin, kreatif, inovatif dan kompetitif. Tentunya supaya masyarakat juga bisa melihat bahwa peserta didik mempunyai bekal yang memadahi. Mempunyai karakter dan kepribadian yang kuat sebagai Warga negara, sebagai anak bangsa, yaitu bangsa Indonesia
Adanya tuntutan peserta didik yang harus terus berinovasi dan berkreasai. Guru harus lebih menguasai teknologi. Menguasai Iptek. Mengendalikan siswa dengan kemajuan yang pesat seperti saat ini. Ketika guru mempunyai ikhtiar dalam budaya literasi, membaca berbagai buku, dia akan mampu merespon setiap perubahan. Guru mampu menjawab tantangan jaman. Yaitu lahirnya inovasi-inovasi di dunia pendidikan. Tentunya berawal dari membaca, numerik, menganalisa dan kemudian menciptakan. Perubahan dimulai dari atas, semua berawal dan berakhir dari guru itu sendiri.
Jauh rasanya ketika kita berharap dalam meningkatkan kualitas guru hanya menunggu adanya program seminar, pelatihan tanpa dibarenagi mencari ilmu sendiri yaitu membaca. Guru Ideal hari ini harus ‘tangguh’ dalam karakter unggul dalam skill dan oke dalam teknologi. Ketika guru tidak cakap dalam teknologi, yang mana setiap perannya digantikan teknologi. Kita harus siap menjadi pengguna teknologi, bahkan kalau mungkin bisa ‘menciptakan’. Siap untuk membuat inovasi dan kreasi dalam dunia pendidikan.
Menjadi guru ikut perjuangan. Berjuang untuk selalu memenangkan di setiap proses pembelajaran. Berjuang untuk mengentaskan setiap kesulitan pembelajaran. Berjuang untuk selalu membangun iklim positif ketika menghadapi kesulitan. Seorang guru akan merasakan puas jika kita sudah bertanggungjawab akan keberhasilan peserta didik. Bukan hanya sekedar mengajar. Inilah kemenangan dalam dunia pendidikan. Karena mendidik itu kepuasan batin. Jika kita mendidik dengan penuh tanggung jawab, kita akan merasakan suatu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri.
Pendidkan karakter, bukan hanya teori tapi perlu dibarengi dengan aksi dan diekspresikan dengan keteladanan. Karena itu peluang membangun karakter dan sumber daya manusia dalam revolusi industri 4.0 harus mulai sejak duduk di bangku SD. Tentunya dari guru yang memiliki dedikasi tinggi dan jiwa yang tulus. Tentunya guru yang setia menerima tantangan. Guru yang menjemput peluang. Guru yang bisa menjadi teladan, yang selalu di hati dan dinanti oleh setiap peserta didik, wali murid dan masyarakat.
Guru tak akan bisa tergantikan oleh kemajuan teknologi. Guru harus menjadi penggerak untuk terus maju. Keberlangsungan generasi dan masa depan anak bangsa ditentukan oleh guru. Ayo, sebagai guru teruslah kita berinovasi. Apalagi guru seperti saya, yang sudah tua, ya harus tahu diri, tetap terus belajar supaya tidak tinggal tetap dilandasan. Ada pepatah mengatakan ‘Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan’ , Imam Syafi’i. Salam untuk para guru. Semangat!.
#LonglifeEducation.
#Betterlatethannever.
#GoodLuck!.
Tak perlu menjadi #unicorn. Mari menjadi manusia biasa saja. Yang bersedia dan rela belajar, terus belajar dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya
Quate’s
Kerja keras akan mengalahkan orang berbakat, ketika orang berbakat tidak mau bekerja keras.
Semangat dalam menggapai cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, itu merupakan kunci keberhasilan dalam kehidupan.
“Ledwina Eti adalah nama facebooknya, nama lengkap ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, S.Pd. Lahir di Magelang, pada tanggal 14 April 1966. Menamatkan SD di kampung Kamal , kelurahan Pagersari , Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. SMP Kanisuis Muntilan. SMA K Tarakanita Stella Duce Yogyakarta. IKIP Sanata Dharma Jogyakarta Fakultas Pendidikan Matematika (D3)tahun 1989 dan lanjut UT UPJJ Kupang (S1). Saat ini tercatat sebagai guru matematika di SMA Negeri 2 Waingapu , Sumba Timur NTT. Pernah mengajar di SMA Negeri Maliana Bobonaro Timor Timur pada tahun 1990 – 1992 kemudian di mutasi di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur 1992-1999.Alamat Rumah :Jl Trikora No: 11 Hambala, Waingapu Sumba Timur.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. No HP WA 085 230 708 285
Tidak ada komentar:
Posting Komentar