Selasa, 29 Maret 2022

Kedalaman Pikiran dalam menulis

 Oleh : Sukma Rona (Alumni KMO Basic Batch 49)

Deep thinking atau berpikir mendalam merupakan modal yang sangat penting untuk membangun pandangan konstruktif bagi pembaca” –Sukma Rona, 2022.

.

Sepanjang sejarah, aktivitas literasi adalah hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Merangkai kata menjadi kalimat sehingga tersusun menjadi data, yang akhirnya tersajikan menjadi informasi. Semakin baik kemampuan dalam mengungkapkan pemikiran, akan menghasilkan informasi yang semakin baik pula.

Deep thinking atau berpikir mendalam merupakan modal yang sangat penting untuk membangun pandangan konstruktif bagi pembaca. Seorang penulis yang menuangkan pemikiran dengan pendalaman terhadap permasalahan, akan lebih mampu memberikan pembahasan yang bermakna.

Begitu banyak penulis ataupun pemikir yang menuangkan hasil pemikiran dengan mendalam, yang karya mereka bisa kita jumpai hingga hari ini. Sebut saja karya agung Imam Al-Ghazali dengan kitab Ihya Ulumuddin yang fenomenal. Ini adalah salah satu contoh kebersihan dan kedalaman pemikiran orang zaman dahulu.

Memulai dari Diri Penulis

Pemikiran yang jernih akan mengalir menjadi ungkapan dan frasa yang indah” –Sukma Rona, 2022.

Pada dasarnya, kita tidak mungkin mampu menghidupkan pemikiran pembaca tanpa menghidupkan ruh dan pemikiran penulisnya terlebih dahulu. Mengaktifkan rasa yang bersemayam jauh di dalam relung jiwa penulis, adalah hal penting.

Melalui perenungan, pembahasan, filterisasi dari hikmah kehidupan, serta diskusi mendalam dengan orang-orang berilmu, akan bisa menjadi sarana membangun sistematika berpikir sehingga mencapai puncak kualitas karya. Pemikiran yang jernih akan mengalir menjadi ungkapan dan frasa yang indah.

Kepenulisan itu ajaib. Tulisan akan memasuki tempat di dalam benak pembaca yang tidak dapat dimasuki kecuali oleh kata. Mengapa? Sebab melalui tulisan akan melibatkan organ penglihatan dan syaraf yang terhubung dalam sistem.

Informasi yang masuk ke dalam otak manusia akan disaring menjadi pemahaman, yang selanjutnya akan berinteraksi dengan kecenderungan jiwa pembaca. Maka, orang yang rajin membaca literasi positif akan memberikan informasi positif pula terhadap gaya hidupnya.

Melakukan aktivitas tulis menulis dengan konsep tadabbur terhadap diri maupun alam sekitar, akan menghasilkan karya-karya literasi yang menyejarah. Para penulis dengan kesadaran akan tujuan tulisannya, tidak akan berhenti berjuang demi menghasilkan karya-karya berkualitas.

Sukma Rona

Sukma Rona dilahirkan di Desa Keluang, Kecamatan Musi, Banyuasin, Palembang, pada tanggal 23 Agustus 1984. Ayahnya Bernama Abd. Rachman P, dan ibunya bernama Sawinah. Masa kecil dari penulis pernah diberi nama Rilo Wibowo.Namun, kemudian diganti oleh ayahnya menjadi Sukma Rona.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...