.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“When you catch yourself standing at the kitchen counter, typing in half sentences and sometimes even partial words because at least the kids can’t reach it. And stealing minutes for words while sitting in the parking lot of the grocery store” –Jessika Hoffman.
.
Apa alasan Anda untuk tidak menulis? “Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sibuk dengan urusan kerumahtanggaan”, mungkin sebagian dari Anda akan menyatakan demikian.
Jewel Eliese (2018), seorang bloger produktif menyatakan, Anda mungkin menjadi ibu rumah tangga yang sekaligus penulis, namun menghadapi beragam jenis kendala. Seperti apa profil ibu rumah tangga yang sekaligus penulis? Eliese menggambarkan beragam kondisi ibu rumah tangga yang ingin produktif menulis.
Anda adalah ibu rumah tangga yang sekaligus penulis “ketika Anda berdiri di kolong dapur, mengetik setengah kalimat dan terkadang hanya sebagian kata– agar anak-anak tidak dapat mengganggu Anda. Kadang mencuri waktu untuk menulis kata-kata sambil duduk di tempat parkir toko kelontong”.
“When you’re afraid the sound of typing keys will wake the baby” –Jewel Eliese.
Anda adalah ibu sekaligus penulis “ketika buku catatan Anda dipenuhi dengan coretan warna-warni”. Pada ibu yang lain, “ketika Anda takut suara tombol mengetik akan membangunkan bayi”. Sebagian lain lagi, “ketika Anda harus memilih antara menulis atau istirahat karena terlalu lelah”.
Luar biasa daftar kesibukan ibu rumah tangga. Namun apakah itu berarti tak ada lagi waktu untuk menulis? Mari kita belajar dari para ibu rumah tangga yang menjadi penulis produktif.
Belajar Mengelola Waktu di Tengah Kesibukan
Alice Munro adalah spesialis penulis cerpen asal Kanada. Ia meraih penghargaan Nobel di bidang sastra, dari tulisan cerpen karyanya. Munro adalah ibu rumah tangga yang sangat care dengan keluarga. Ia menjaga anak-anak dengan baik, dan tetap mampu menghasilkan banyak buku kumpulan cerpen.
“Ketika anak-anak saya masih kecil,” ujar Munro, “saya selalu menyempatkan menulis setelah mereka berangkat sekolah”. Munro memprioritaskan untuk mengurus anak sebelum berangkat sekolah, dan baru mulai menulis setelah anak berangkat sekolah.
“Bisa dibilang saya bekerja sangat giat di masa tersebut. Bersama suami, saya memiliki sebuah toko buku,” ungkap Munro. “Ketika giliran saya tiba untuk jaga toko, saya tidak akan berangkat dari rumah sampai pukul dua belas siang. Seharusnya saya membereskan rumah, tapi saya justru banyak menghabiskan waktu menulis”.
“Beberapa tahun kemudian, saat saya tidak lagi bekerja di toko buku”, lanjut Munro. “Saya menulis sampai suami dan anak-anak pulang untuk makan siang, dan bersambung lagi saat mereka keluar rumah sehabis makan siang”, tambahnya. Ia benar-benar pandai menyiasati waktu.
Selepas makan siang bersama keluarga, ia masih meneruskan menulis. “Saya menulis lagi sampai sekitar pukul 14.30. Setelah itu saya minum secangkir kopi dan membereskan rumah sebelum anak-anak dan suami saya pulang di sore hari”. Demikianlah cara ia menikmati peran-peran.
“Sekarang saya menulis setiap pagi, tujuh hari seminggu. Saya mulai menulis pukul 8 dan selesai pada pukul 11. Setelah itu saya akan melakukan hal lain selama seharian penuh”, ujarnya. Ia menulis rutin setip hari tanpa jeda. Tiga jam setiap hari, adalah waktu eksklusif baginya untuk menulis dan menghasilkan karya.
Namun saat ia harus menyelesaikan naskah cerpen, ia akan mengambil lebih banyak waktu. “Kecuali saya sedang menyelesaikan draft terakhir sebuah cerita atau saya sangat terdorong untuk menulis sesuatu—pada saat itu saya akan bekerja seharian, dengan sedikit sekali waktu istirahat”, tambah Munro.
Ternyata yang diperlukan adalah kedisplinan dalam mengelola berbagai kesibukan. Munro mengurus suami dan anak. Ia juga memiliki jadwal mengurus toko bersama suami. Namun ia memiliki prioritas untuk dilakukan. Hal apa saja yang harus dilakukan di setiap satuan waktu, ini yang tampak sedemikian diperhatikan oleh Munro.
Kita juga bisa belajar dari Nora Roberts, penulis lebih dari 200 novel —diantaranya Irish Thoroughbred (1981), Irish Rose (1988), irish Rebel (2000). Ia memiliki sangat banyak aktivitas lain yang harus dikerjakan, ketika dia menulis novel. Nora Roberts tentu bukan pengangguran yang menghabiskan waktu hanya untuk menulis.
Lalu bagaimana seorang Nora Roberts, Joanna Penn, Barbara Kingsolver, Alice Munro, dan para penulis produktif lainnya, menjalankan peran kerumahtanggaan sehari-hari sebagai ibu dan menulis pada saat yang sama? Jawabannya adalah, karena mereka menganggap menulis sebagai hal penting yang harus mereka lakukan setiap hari. Karena itu mereka bisa disiplin.
Para penulis handal itu memberikan perhatian kepada aktivitas menulis, karena meyakini bahwa menulis merupakan hal penting dalam kehidupan. Tanpa manajemen perhatian seperti ini, Anda akan selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menulis. Di saat yang sama, Anda mungkin beranggapan, bahwa para penulis adalah para pengangguran yang tak punya pekerjaan apapun dalam kehidupannya kecuali melamun dan berkhayal.
Jadi, apa alasan Anda untuk tidak menulis? Apakah masih ada daftar alasan yang membuat Anda merasa nyaman saja untuk tidak menulis?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar