Kamis, 07 Oktober 2021

NASIB #10

 


Cerpen.

 

Pada Suatu hari aku disuruh bantu masak di rumah kak Ester, seperti biasa kalau ada acara-acara pasti langganan aku  harus datang bantu-bantu.

“Rambu, makanan di meja  sudah ditata semuanya udah selesai belum?” tanya  kak Ester.

“Iya, kak  ini udah selesai,” jawabku tersenyum sambil merapikan baskom bekas makanan dan sayur.

“Ya udah, kalau gitu. Kamu makan dulu sebelum tamu datang,” ucapnya.

Biasa kalau  pulang arisan, teman-teman suka bungkus makanan untuk dibawa pulang, aku kan perasaan kalau melarang mereka , karena memang sudah tradisi kami, “ lanjutnya.

Kak Ester  orang Jawa, mereka punya paguyuban Jawa, setiap bulan  giliran untuk ketempatan. Mereka selalu makan-makan, memasak khas jawa. Mereka  kumpul, cerita- cerita, ka ka ki ki...tertawa, tertiwi. Rame sekali  dengan ngomong jawa yang kental. Aku sendiri  tidak mengerti apa yang mereka  omongkan.

“Nggak usah, kak. Aku masih kenyang, kebetulan tadi sebelum berangkat ke sini makan dulu di rumah,” dustaku. Padahal perut ini sedari tadi terasa  lapar dan  keroncongan.

Sengaja berangkat siang supaya aku tak terlalu lama di sini, hanya minum teh manis tadi  terlebih dulu di rumah, untuk ngganjal perut agar tak cepat lapar.  Ternyata tetap saja lambungku ini meminta jatah. Mungkin  karena efek terlalu lama mencium bau rendang dan makanan lezat yang aromanya sangat menggoda saat kuhidangkan di meja.

Sebenarnya malas makan di rumah kakak iparku yang satu ini. Bukan karena malu atau geli, tapi aku malas jika makan di sini bersama anakku maka ia akan menyindirku di depan teman-temannya yang orang Jawa itu, seakan-akan aku tak pernah makan enak. Biasa keluargaku  kan kalau makan sederhana, tidak  pakai tata cara, tidak pakai aturan.  Tidak seperti keluarga kak Ester yang  makannya pelan-pelan penuh perasaan, sedikit, rapi, tidak  bunyi dan bla bla,  banyak aturannya deh pokoknya. Tambah kak Ester orangnya super cerewet.

Maka aku malu kalau disuruh makan di kak Estes, begitupun anak-anak dan suamiku nanti kena  sindir. Dari pada sakit hati dan malu!. Dan aku berjanji kalau di rumah kak Ester, aku  tak  akan mau makan. Ya, aku tak akan mau.  Aku tak suka dengar bahasa yang  suka ‘merendahkan orang, terkhusus padaku dan keluargaku.

“Maklumlah, Bu. adik ipar saya ini emang jarang makan enak. Jadi, sekalinya makan sama anaknya di sini kayak orang rakus,” ucapnya kala itu, membuatku yang sedang mengunyah makanan hampir tersedak.

Gegas kuraih air minum di hadapanku dan meminumnya perlahan agar makanan yang hendak ditelan tak keluar.

 

Kusudahi makan yang baru beberapa suap karena sudah tak berselera. Kini hanya anakku yang kusuapi dengan nasi  dan  kuah  ayam  sisa dari baskom.

“Bu Ester  memang baik, ya. Royal sama saudara ipar,” ucap mama Tika salah satu teman arisannya kak Ester..

“Iya, benar!. Mama Tika, bu Ester memang orang baik,” timpal wanita paruh baya di sebelah  Mama Wiwid.

“Ah!!, Ibu ini biasa aja  kok ... namanya kita saudara jadi harus saling bantu. “Adik saya, Bram  ‘kan penghasilannya nggak kayak suami saya, jadi, mereka makan seadanya terus tiap hari,” ungkapnya enteng tak menghiraukan perasaanku yang mulai tersakiti.

 

Aku tahu hidupku susah. Suamiku Mas Bram bekerja sebagai guru honor komite yang hanya berpenghasilan sebulan lima  ratus ribu yang tak bisa mencukupi kebutuhan hidup selama tiga puluh hari.

 

Untuk menambah penghasilan, suamiku juga mengajar les dari siang sampai malam. Mas Bram adalah pria pekerja keras yang mandiri, tak mau mendapatkan bantuan apa pun dari keluarganya yang kaya dan sukses. Ia ingin berhasil karena usahanya sendiri. Biar  miskin tak apa. Ibarat makan  dengan ‘hanya’ menjilat garam pun akan tetap  dijalani.

Aku mencintai mas Bram karena orangnya  jujur, rendah hati dan mandiri. Dari kecil dia sudah  dilatih mandiri oleh orang tuanya, bahkan dia cerita kalau  dulu sejak SD dia biasa bawa kue, donat atau es  buatan mamanya untuk di jual di kelasnya.

Memang Pernah suatu ketika ia di tawari suaminya kak Ester  diserahi  salah satu tokonya untuk kelola. Namun, ditolaknya. Ia ingin sukses karena prestasinya, bukan karena ada orang di belakang yang membantunya sukses.

Sejak itu, kak Ester  jadi sinis sama keluarga kami. Kak Ester  tersinggung saat mas Bram menolak tawarannya waktu itu. Mungkin itu salah satu pemicu ia selalu menghinaku.

Tiba-tiba aku tersentak kaget saat Marcel  anakku menarik  ujung blus yang kukenakan.

“Ma, aku  lapar.....!!,” ucapnya. Aku membungkuk agar sejajar dengannya lalu berbisik pelan agar tak di dengar orang. Kucubit  pipinya pelan-pelan, “ sabar ya..., jangan  makan disini!”, Aku berusaha memberi pengertian kepada anakku.

“Marcel, nanti ya, kita makannya di rumah saja bareng bapak , hhh!!, menggangguk terlihat terpaksa!” ujarku berharap ia mengerti.

“Sekarang, Marcel minum aja dulu, ya?” Ia mengangguk patuh. Kuajak dia ke tempat tidur untuk dia ‘nunut’  tidur di kamar Wili  anaknya kak Ester.

            Aku jadi merasa berdosa sudah membiarkan anakku kelaparan, tapi mau bagaimana lagi, jika aku dan Marcel  makan di sini Kak Ester pasti akan mengejek kami rakus . Ah, aku tak mau itu terjadi lagi. Walaupun miskin begini juga aku masih punya harga diri. Aku tak mau sakit hati ini terulang kembali.

 

Usai Arisan, aku bersiap untuk pulang, ku bangunkan Marcel yang masih tertidur setelah jajan kue donat dan  teh gelas di bu Yubi tetangga sebelah.

Untung saja uang kembalian ongkos angkot tadi siang masih sisa sepuluh ribu, sehingga anakku bisa mengisi perutnya yang kelaparan.

Aku masih  menunggu mas Bram jemput.  Aku bantu-bantu merapikan bekas-bekas makanan.  Menyapu lantai dan memunguti gelas plastik bekas air mineral.

Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mas Bram  muncul. Segera ku tengok Marcel, kubangunkan dia ku ajak keluar dan sekalian berpamitan sama kak Ester.

“Aduh, maaf, ya, Rambu. kehabisan, makanan  ludes!  semua  udah pada abis”! kata kak Ester kepadaku.  “ Teman-teman tadi  sudah bungkus dan dibawa, kamu pulang nggak bawa  nggak  bawa apa-apa ya!”  lanjutnya.

“Iya, kak!. Nggak apa-apa!” ,Aku menjawab dan langsung ngeloyor pergi usai berpamitan.

Sepanjang jalan menuju rumah aku hanya terdiam, Marcel kembali tertidur di pangkuanku sambil memeluk bapaknya yang sedang fokus menjalankan motornya yang butut.

 Mas Bram tumben tak ada suaranya. Biasanya dia suka berceloteh jika sedang berkendara denganku. Jangan-jangan ia juga sedang menahan lapar?

Tiba di rumah, setelah menidurkan  marcel di kamarnya, aku menuju dapur membuka tutup saji, mencari sisa nasi tadi pagi. Syukurlah masih ada, aku bisa menggorengnya untuk kami makan sekarang. Nasi goreng kesukaan mas Bram, karena kebetulan juga tak ada  lauk dan sayuran di kulkas.

“Dik, emang nggak dapat sisa makanan dari kak Ester tadi?” tanya mas Bram  padaku.

“Nggak, mas, kehabisan!, kata kak Ester.” Aku menjawab sambil mengiris bawang.  Ia mengangguk-angguk penuh pengertian. Mas Bram sangat tahu sifat kakaknya tercinta.

 

#30harimenulis

#30haripunyanaskah

#siapataujadibuku

#alineakuchallenge - 10

#alineakuwriter

 

#alineakuLedwinaEti  

 

 

Waingapu, 1 Oktober 2021

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...