Sabtu, 09 Oktober 2021

Karya Tulis Ilmiah (KTI) Menjadi Buku

 



 


Pertanyaan 1 : Apa itu KTI ?

Karya tulis ilmiah yang selanjutnya disingkat KTI adalah tulisan hasil litbang dan/atau tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah (Perka LIPI Nomor 2 Tahun 2014)

ebelum membahas bagaimana cara mengubah KTI menjadi buku, saya sampaikan konsep mengenai KTI terlebih dahulu

Karya tulis ilmiah adalah tulisan yang menyajikan gagasan, deskripsi atau pemecahan masalah secara sistematis secara objektif dan jujur didukung oleh fakta, teori dan bukti-bukti empirik menggunakan bahasa baku (Dalman, 2016: 5).

Karya tulis ilmiah yang selanjutnya disingkat KTI adalah tulisan hasil litbang dan/atau tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah (Perka LIPI Nomor 2 Tahun 2014)

 

Pertanyaan 2 : Apa sajakah yang termasuk dalam KTI ?

KTI terdiri dari 2
KTI non buku
1.                  Kesarjaan : Skripsi, tesis, disertasi
2.                  Hasil penelitian ( Esay ilmiah): Laporan , makalah artikel, komunikasi pendek
3.                  Ulasan resensi
KTI  Buku
1.      Didaktik ( bahan Ajar) : hand out, diktat, modul, buku ajar, buku referensi
2.      Pengayaan : Monografi, buku teks, buku pegangan (hand book), buku panduan
3.      Kompilasi : Bunga rampai, prosiding

 

 

Secara umum KTI ada dua yaitu KTI Nonbuku dan KTI Buku

Karya Tulis Ilmiah yang terdapat dalam buku 4 PKG adalah

A.                  Publikasi Ilmiah Berupa Hasil Penelitian atau Gagasan Ilmiah Bidang Pendidikan Formal

Laporan Hasil penelitian

Laporan penelitian dapat berupa penelitian tindakan kelas, penelitian eksperimen, penelitian deskriptif, penelitian perbandingan, penelitian korelasi,

Makalah Berupa Tinjauan Ilmiah Gagasan atau Pengalaman Terbaik (Best Practice

 

B.                  Publikasi Buku Teks Pelajaran, Buku Pengayaan, dan Buku Pedoman Guru

Publikasi ilmiah pada kelompok ini terdiri dari: (1) Buku Teks Pelajaran, (2) Buku Pengayaan yang terdiri dari Modul/Diktat pembelajaran, Buku dalam Bidang Pendidikan, Karya Terjemahan, dan (3) Buku Pedoman Guru.

 

C.                  Karya Inovatif

Mengacu pada paparan di atas, ternyata tidak semua KTI itu berupa buku. Memang secara wujud, PTK, PTS, Tugas Akhir, skripsi, tesis, desertasi itu berupa buku, namun bukan buku. Lebih tepatnya adalah laporan hasil penelitian dan sifat publikasinya pun terbatas.

Teknologi Tepat Guna

Karya Seni (Karya sastra novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan naskah drama)

Membuat/Memodifikasi Alat Pelajaran/Peraga dan Alat Praktikum

 

 

Pertanyaan 3 : Bagaimana struktur penulisan KTI ?

Umumnya KTI tersusun atas bab-bab dengan penomoran yang struktural sesuai dengan jenis KTI serta institusinya:



Struktur di atas umumnya dijadikan sebagai standar dalam Menyusun bab-bab dalam KTI meskipun untuk KTI sejenis skripsi, tesis, desertasi, tugas akhir memiliki gaya yang berbeda di setiap kampus

Pertanyaan 4 : Apa sih perbedaan laporan KTI dan KTI yang dikonversi menjadi buku ?

Laporan Penelitian :
1.      Sasaran Pembacanya terbatas kalangan tertentu ( terlebih  jika sifatnya publikasi terbatas)
2.      Sistematika penulisan dalam penomoran sub bab yang kaku dan baku
3.      Sajian datanya mulai dari data mentah hingga data yang diolah
4.      Bahasa baku yang butuh pemahaman


Buku
1.      Sasaran pembacanya bisa  semua  kalangan yang memiliki interest terhadap isi buku
2.      Sistematika penulisan fleksibel disesuaikan dengan isi buku
3.      Minim sajian data berupa data mentah. Umumnya hanya data yang berarti bagi pembaca saja yang dicantumkan.
4.      Bahasa mudah dipahami
5.      Ber-ISBN

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan buku?

Konferensi UNESCO tahun 1964 merumuskan definisi buku sebagai terbitan tercetak tidak berkala berjumlah sedikit-dikitnya 49 halaman, tidak termasuk halaman kulit.

Buku terdiri dari tiga bagian yaitu :
Mengacu pada definisi tersebut, maka ciri-ciri buku adalah :
1.      Terbitan tercetak tidak berkala (tercetak dapat secara fisik maupun elektronik (e-book)
2.      Sekurang-kurangnya 49 halaman (beberapa pakar menyebutkan tebal ini khusus bagian isi  utama)
3.      Memiliki kulit (cover)
4.      Adapun untuk ukuran minimal 15,5 cm x 23 cm (Standar UNESCO)

Secara subtansi isi, tidak ada perbedaan isi laporan KTI dengan isi buku hasil konversinya. Karena sejatinya isi buku mencerminkan keseluruhan isi laporan KTI.

Secara sistematika, tentunya gaya penulisan KTI dengan penulisan buku tentu berbeda. Ada penyesuaian-penyesuaian sistematika KTI yang dikonversi menjadi buku dengan tujuan agar kesannya tidak kaku. Misalnya penomoran tiap sub bab-sub bab

Secara Bahasa, meski sama-sama ilmiah, hasil konversinya tentu harus dimodifikasi sehingga Bahasa dalam bukunya lebih luwes, bersifat lugas dan tidak lagi mencantumkan kata-kata seperti penelitian ini, peneliti, teman sejawat, penulis

 

Pertanyaan 5 : Bagaimana cara mengkonversi KTI menjadi buku?

Memodifikasi Judul

Judul KTI umumnya mengandung unsur : variabel penelitian, objek penelitian, dan seting penelitian (baik tempat maupun waktu).

Biasanya judul baku KTI mengikuti kaidah tersebut

Judul buku hasil konversi ini seperti judul buku-buku lain harus menarik, unik, mudah diingat, dan mencerminkan isi buku. Kemenarikan judul buku sifatnya subjektif.

Sebagai buku ilmiah, judul buku hasil konversi harus mencerminkan isi. Bahasanya lugas. Tidak menggunakan Bahasa kias. Maka judulnya harus dimodifikasi agar menarik

Contoh

Judul Laporan KTI

Peningkatan aktivitas belajar dan hasil belajar Materi Fungsi dengan Peneratapan Strategi Tim Kuis pada siswa kelas 10 SMA Negeri 2 Waingapu Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2021/2022

Judul Buku : Strategi Tim Quiz dalam Pembelajaran Matematika

Penulis Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

 

Memodifikasi Sistematika dan Gaya Penulisan

KTI Nonbuku yang berupa laporan hasil penelitian umumnya ditulis dengan sistematika dan penomoran yang baku seperti yang telah saya uraikan di atas.

Nah, pada saat laporan tersebut dikonversi menjadi buku, maka harus dimodifikasi gayanya sesuai dengan gaya penulisan buku. Tidak tampak lagi adanya sub bab-sub bab yang membuat isi buku seolah-olah terpisah-pisah. Seperti telah disingung di atas, tidak semua data boleh disajikan dalam buku. Hal-hal yang bersifat privacy tidak boleh dicantumkan dalam buku.

Pertanyaan 6 : Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan saat mengkonversi KTI menjadi buku?

Pertama, keaslian laporan hasil penelitian

Penulis memastikan bahwa laporan yang akan dikonversi menjadi buku memang benar-benar hasil karyanya dan bukan hasil plagiasi.

Tidak dipungkiri bahwa banyaknya publikasi ilmiah melalui media digital justru disalahgunakan oknum tak bertanggung jawab untuk melakukan plagiasi

Kedua , menghindari kompilasi yang terlalu banyak.

Penulis sering terjebak dalam kegiatan plagiasi dalam bentuk Kompilasi. Maksudnya penulis hanya sekedar meng-copas pendapat asli para pakar.  Guna menghindari hal ini, penulis bisa menggunakan berbagai macam gaya selingkung, misalnya gaya Harvard yang banyak dipergunakan.

Ketiga memilah dan memilih data yang dipublikasikan

Seperti telah disingung di atas, tidak semua data boleh disajikan dalam buku. Hal-hal yang bersifat privacy tidak boleh dicantumkan dalam buku.

Keempat, modifikasi bahasa buku

1.      Hindari pemakaian penanda transisi menurut hal itu sesuai dengan pendapat lebih lanjut si A menyatakan berdasarkan hal tersebut

2.      Tidak lagi mencantumkan kata-kata seperti penelitian ini, peneliti, teman sejawat, penulis

Kelima, hindari pengambilan sumber kutipan kedua atau pendapat yang kurang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah

Pada laporan KTI, biasanya penulis mengambil sumber kedua dalam kutipannya, yang biasa ditemu dengan transisi * (Si A seperti dikutip Si B)* Si A mengutip pendapat si B menyatakan bahwa Saat mengambil pendapat dari blog, penulis perlu memperhatikan tingkat akurasi pendapat tersebut disandingkan dengan pendapat para pakar

Keenam, wajib menuliskan semua daftar Pustaka yang dipakai sebagai rujukan dalam buku untuk mendukung keabsahan buku sekaligus menghidari plagiasi.

Hal ini perlu diwaspadai karena penulis terkadang lupa telah melakukan pengembangan sumber kutipan untuk memperkaya teori-teori yang disajikan.

Biasanya lupa hanya mencantumkan daftar Pustaka sama persis dengan laporan KTI.

Ketujuh, memperhatikan kaidah penyusunan buku ber-ISBN

Agar memperoleh ISBN, maka penulis sebelum mengirimkan naskahnya perlu memperhatikan kelengkapan naskah (a) judul buku, (b) kata pengantar, (c) daftar isi, (d) isi buku terdiri dari bab-bab, (e) profil penulis/ pengarang, (f) daftar pustaka, khusus untuk buku ilmiah atau ilmiah popular, (g) sinopsis yang ditempatkan di cover belakang buku, dan (h) cover buku

 

pertanyaan ke 7 : Apa tujuan mengkonversi KTI menjadi buku

Tujuan Keilmuan

Sebenarnya, hasil penelitian selain bermanfaat dalam pengembangan keilmuan, juga dapat bermanfaat dalam menemukan permasalahan sesuai ranah yang diteliti. Permasalahan tersebut tentunya tidak hanya teronggok dalam laporan, namun perlu dicarikan solusi.

Dengan mengkonversikannya dalam bentuk buku, maka permasalahan tersebut akan diketahui oleh khalayak sehingga menjadi dasar bagi penelitian lain untuk menemukan solusinya.

Misalnya bagian dalam refleksi PTK dapat dimanfaatkan sebagai sarana pemecahan masalah saat guru menerapkan suatu metode yang diterapkan pada penelitian selanjutnya

Buku dapat dikonsumsi publik secara luas sebagai bahan referensi.

Memberi petunjuk pada pembaca untuk melakukan hal serupa tapi tak sama (modifikasi action berdasarkan referensi buku hasil konversi)

Tujuan Pengembangan Teknologi

Contoh yang banyak ditemui adalah PTK yang mengujicobakan atau mengembangkan media-media pembelajaran dengan karakteristik unik dan mengandung unsur kebaruan. Karya-karya inovatif yang dipublikasikan akan menjadi referensi dalam pengembangan teknologi pembelajaran.

Teknologi tepat guna hasil temuan yang selama ini lebih banyak dipraktikkan di kanal online sebenarnya juga dapat dibukukan sehingga menjadi buku yang inspiratif.

Karya-karya hasil INOBEL merupakan contohnya

Tujuan Pengembangan Karier/Profesi

Pada beberapa jabatan memang menuntut adanya publikasi berupa buku, misalnya widyaiswara, dosen, bahkan guru.

Syarat kenaikan pangkat dari unsur pengembangan profesi bagi guru dan dosen khususnya seperti yang terdapat pada buku 4 PKG juga diatur mengenai penerbitan buku.

Tentu saja penulisnya juga akan mendapat popularitas jika bukunya berhasil menjadi best seller.

Tujuan Ekonomis

Saat masih berupa laporan maka KTI nonbuku seperti PTK, PTS, Tugas Akhir, skripsi, tesis, desertasi kurang memiliki nilai ekonomis. Mengingat bentuknya berupa laporan, sehingga sulit untuk dijadikan sebagai bahan rujukan.

Umumnya hanya sebagai pelengkap pada bagian hasil penelitian yang relevan ataupun penguatan dari penelitian dari peneliti lain.

Pada sisi lain, mengubah KTI menjadi buku seolah seperti mempatenkan hasil laporan karena masuk penerbit, dilindungi hak ciptanya dan memiliki ISBN


Pertanyaan 8 : Bolehkah laporan KTI apa adanya langsung dijadikan buku?

Sah-sah saja penulis langsung menerbitkan KTI-nya menjadi model seperti buku (tapi bukan buku).

Mengapa demikian? Sebab penerbit seperti percetakan mandiri maupun penerbit Indie biasanya tidak melakukan pembatasan yang ketat seperti halnya penerbit mayor.

Motif kepentingan untuk mengejar angka kredit biasanya menjadi dasar penulis yang sekedar membuat laporan KTI nya diterbitkan menjadi buku.

Bukan mengkonversi KTI menjadi buku.

Penerbit seperti halnya penerbit Indie memang tak bertanggung jawab atas semua isi buku maupun pemasarannya, meskipun ada beberapa yang membantu proses pemasaran.

Namun secara persepsi pembaca yang akan menilai kelayakannya. Nilai jual KTI yang langsung dibukukan tanpa dikonversi tentu akan berbeda dengan yang memang dikonversi jadi buku

Jadi perlu dipahami diawal bahwa : Meng-ISBN-kan KTI tidak sama dengan mengkonversi KTI menjadi buku ber-ISBN

Oleh sebab itu, penulis juga harus jeli dalam memilih penerbit. Caranya, bacalah buku konversi KTI hasil terbitan suatu penerbit.

Cermati isinya, maka Anda akan dapat menilai kualitasnya. Apakah hanya sekedar menerbitkan apa adanya atau memang benar-benar memperhatikan kualitas terbitannya.

Kelihatannya untuk hal ini PMA Literasi Istikamah bersama Bunda Sri Sugiastuti ahlinya


Nah, inilah  ilmu yang sangat penting , trimakasih  banyak pak Eko Daryono, S.Kom  untuk ilmunya.  Mungkin  sahabat literasi   sudah  punya  KTI  yang siap dibukukan .  Bisa mengikuti panduan ini. 


Karena materi ini sangat penting, maka ingin saya bagikan hasil dari Bimbingan gratis  Menulis hingga menerbitkan buku , yang diselenggarakan  oleh WIM PMA  digagas oleh  founder ibu Kanjeng ( Dra  Sri Sugiastuti, M.Pd)  Tanggal  9 Oktober 2021  melalui   fliyer  yang saya lampirkan 

Trimakasih-trimakasih  banyak   untuk ilmunya.


#30harimenulis
#30haripunyanaskah
#siapataujadibuku
#alineakuchallenge - 17
#alineakuwriter
 
#alineakuLedwinaEti  

 










 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...