Minggu, 31 Oktober 2021

GURU KORBAN KONFLIK BENCANA - FAKSI - PUCUK DIKSI -

 


Ketika sebuah karya selesai ditulis maka pengarang  telah mati, Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi.

 

                Dari beranda rumah,  aku duduk termenung. Teringat kisah sedihku kala itu. Hati terkoyak. Perasaan bagai tersayat sembilu, sedih...perih..... air mata deras membasahi pipiku.  Oh Tuhan...  terimakasih untuk  pengalaman itu,  kini aku sudah bangkit kembali.

Kisahku ini biasa saja, sangat sederhana. Sebuah jeritan hati.  Mungkin saja tidak menarik bagi pembaca. Bukan hal yang Wow apalagi menghebohkan. Namun  pribadiku  meyakini bahwa setiap kisah kehidupan manusia  ada hikmah yang  bisa dipelajari. Walau hanya sekedar bacaan hiburan dikala ada sisa waktu senggang. Semoga bermanfaat atau menginspirasi. Semua ini tergantung dari cara memberi makna atas cerita  tentang suatu peristiwa  yang dibaca.

Lulus kuliah saya ditempatkan di SMA  Negeri Maliana Bobonaro Timor Timur. Kota Kecil yang saat itu masih  jauh tertinggal. Suasananya masih sepi.  Jauh beda dibanding hingar bingarnya  kota Jogya tempat aku menimba ilmu dari SMA  hingga lulus kuliah. Penduduknya pun masih ‘agak’ terbelakang. Mereka  masih makan sirih layaknya jaman nenek kita di Jawa dahulu kala. Yah, kira-kira menoleh ke belakang 50 tahun  yang lalu di pulau Jawa. Tapi saya harus bisa menikmati, namanya tugas negara. Seorang abdi NKRI harus bersedia ditempatkan di seluruh pelosok Nusantara, sekalipun di daerah konflik.

Sebagai penduduk baru saya masih harus beradaptasi. Semua guru adalah pendatang dari  provinsi Indonesia lama. Hehee...maksud saya karena Timor Timur adalah provinsi termuda, yang baru bergabung dengan Indonesia saat itu.  Semua guru-gurunya masih muda dan baru lulus kuliah. Teman guru saya ada yang dari Jawa,  Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan  NTT .  Kami semua senasib dan sepenanggungan. Asyik!, rasa persaudaran antara kami begitu terasa Indah. Kami mengajar dengan penuh semangat. Kami mengabdi  dengan tulus demi anak bangsa.

Seiring berjalannya waktu  tiga tahun berikut saya dimutasikan di SMA Negeri 3 Dili. Sebuah kota provinsi Timor Timor. Bapak Kandung saya HR Sudayat juga Jadi Kepala sekolah, tepatnya di SMA Negeri 1 dan  Suamiku di SMKK Negeri Dili Timor Timur. Selain jadi guru saya mendapat tugas menatar di BPG (Balai Penataran Guru).  Senang dapat kesempatan itu, bisa untuk menambah  wawasan. Berteman dengan orang senior yang baik hati dan mengajak untuk maju. Saya  juga diberi kesempatan untuk ikut Pelatihan Widya Iswara dan guru Inti di Jawa.  Pada  waktu yang sama juga dipercaya menjadi Tutor PGSD. Di Timor Timur Saat itu  ada tunjangan kemahalan, jadi gaji kita  lebih besar dibanding PNS dari provinsi lain. Dengan begitu kami bisa membangun rumah dan hidup   dicukupkan.

Menjadi  guru di kota provinsi berbeda dengan di Kota Kabupaten. Di Dili siswanya ‘lebih’ berani dan  banyak yang arogan. Mereka  punya komunitas, Saya Anak Fretilin Anti Repulik Indonesia ( Safari). Sebagian  dari mereka memandang ‘sebelah mata’   terhadap para guru. Sekitar 30-an guru di SMA Negeri 3 Dili hanya 1 guru  putra daerah Bapak Drs Ponciano Barros namanya. Para siswa sudah tidak ada simpatiknya dengan guru Bahasa Indonesia, Sejarah Indonesia dan PPKN. “Ibu guru pulang saja ke Jawa, saya bukan orang Indonesia!”, katanya.  “kami ‘tak perlu’ bahasa Indonesia, begitupun untuk  guru PPKN dan Sejarah!”, lanjutnya.

        Para Siswa sudah biasa dengan kehidupan pesta dan dansa, jangan heran kalau  kaca jendela sekolah sudah gundul semua. Kenapa? gegara  anak-anak minta untuk pesta perpisahan kelas 3 SMA dilaksanakan malam hari,  tapi bapak kepala sekolah  berharap pesta siang hari demi keamanan. Saat itu anak-anak tidak mau menerima keputusan Kepala sekolah.  Mereka murka, marah  dan mengamuk. Kaca jendela yang  jadi sasaran kemarahan mereka.

Kaca sekolahpun semakin gundul dilempari oleh anak-anak lulusan SMP yang ‘tidak’ bisa diterima di SMA Negeri 3  Dili.  Saat itu  PMB (Penerimaan Murid Baru) berdasarkan NEM (Nilai Ebtanas Murni), NEM mereka tidak memenuhi syarat. Jendela kaca sekolah juga yang jadi sasaran kemarahannya.  Akhirnya   jendela  kaca yang pecah  diganti  terali besi  semua.

Di dalam kelas kadang siswa  minum mabuk,  ramai-ramai omong sendiri atau membuat kacau. Jendela sudah dipasang teralipun, bisa saja mereka rusak untuk mbolos. Guru  tak berdaya untuk menegur mereka. Pernah ada kejadian guru menegur  siswa karena ‘terlalu’ nakal,  mereka emosi dan  membalikkan  motor teman guru yang di halaman sekolah kemudian  membakarnya. Pernah juga ada kejadian  seorang murid, nona cantik  jelita, yang jelas anak pejabat  diganggu teman kelasnya. Menangislah  nona itu lalu  lapor ‘harim’ (pacar) yang di  SMA Negeri 2 Dili. Sang pacar ‘murka’ lalu dia mengajak ‘geng’-nya yang di SMA Kristal.  Mereka  datang  ramai-ramai menyerang ke Sekolah kami.  Ratusan orang tawuran,  4 kompi polisi datang tak sanggup melerai. Sadis!, peristiwa yang sangat mengerikan saat itu. Banyak  siswa yang jadi korban dan berdarah-darah. Sudah hal biasa anak bawa pisau di sekolah. Sekolah kami 2 lantai, karena panik dan demi menyelamatkan diri  anak-anak murid melompat dari lantai 2. Apalagi anak pendatang, mereka selalu jadi sasaran. Mereka dipukuli hingga babak belur. Miris.

Para guru tak berdaya, kami ketakutan luar bisa, daripada mati konyol  guru bersembunyi di gudang atau lab pengap yang tak berjendela. Hari-hari selalu diliputi rasa  takut.  Jantung  selalu berdebar, hati selalu was was dan tak  pernah tenang.  Apalagi  kalau dengar ada Insiden. Pemberotakan-pemberontakan sering  terjadi di kota itu. Kadang hanya dari hal-hal yang sepele. Itu semua pasti ada muatan ‘politik’nya. Demi sebuah tugas negara, walaupun  perasaan hati diliputi ketakutan kami tetap melaksanakan tugas  secara pofesional. Tak sedikit juga  teman guru yang jadi korban pemukulan atau sayatan pisau dari siswa.

Jarak sekolah ke rumah kira-kira  5 km. Saya ke sekolah naik bus kota. Ada motor tapi tak berani naik motor sendiri, lebih baik naik bus supaya kalau ada kejadian banyak temannya. Rumah tinggal saya ada di depan  kompi B 744  Becora dan di samping perumahan adalah  Gedung penjara (Lapas). Sering  terjadi kejar kejaran antara aparat  dengan  Nara pidana yang melarikan diri. Mereka pasti meneriakkan, “Bunuh sajaaa!!”, “tembak sajaaa!!”,  “Bakar  sajaaa!!...”. Marcel dan Anto, anak saya  saat itu berusia  3 tahun dan 1 tahun.   Akhirnya  bahasa-bahasa itu yang dikonsumsi mereka setiap hari. Teriakan itu yang selalu  keluar dimulutnya, sebagai yel yel hariannya.

Demi keselamatan kedua putraku  akhirnya saya titipkan di Jawa  supaya diasuh  ibu kandungku. Di Jawa  anakku jadi terlihat ‘liar’ dibanding  anak Jawa asli pada umumnya. Mereka jadi kasar.  Bahasa yang keluar dari mulutnya adalah bahasa yang  didengar  selama  di  Timor Timur. Kadang saya jadi malu sendiri. Suatu hari  kami pergi ke Gereja, ehh!!  Kedua anakku langsung naik di altar padahal pastor  sementara kotbah. Anakku dengan Percaya diri naik dengan membawa tembak-tembakan  dan teriak  teriakkk!!  Bunuh saja........!!! kejaarrr!!! Doarrr!! Diaorr!!. Mereka berlarian di atas altar, seolah mau menyerang.  Mereka menodongkan  tembakan mainan itu ke arah jemaat. Ya Tuhan, batinku, aku  gugup,  emosi, jengkel, tapi aku tak berani maju. Betapa  malunya. Bagaimanapun jadi mengganggu perayaan ekaristi saat  itu. Aku nekat dan cepat mengambil kedua anakku.

 Akhirnya semua jadi   tahu bahwa itu  anakku yang  datang dari Timor Timur. Betapa kenangan itu  terus teringat hingga sekarang. Anakku dulu super nakal. Beruntung, berkat jasa  ibu dan adik bungsuku  akhirnya anakku bisa berubah menjadi anak yang baik.

Tak terasa  sudah  9 tahun kami (Saya, Bapak dan Suami) adalah PNS di Tim Tim.  Sebuah sejarah  yang tak bisa menolak lupa. Kenangan pahit yang tak  terlukislan dengan kata-kata. Hati teriris, rasa ingin menangis  tapi  harus bisa menepis. Pada 30 Agustus 1999  ada 2 opsi untuk rakyat Tim Tim. Merdeka atau Otonomi khusus?.  Namun diluar dugaan 78,5 persen ternyata memilih merdeka atau menentukan nasibnya sendiri.  Timor Timor jadi ‘merdeka’. Timtim resmi  berpisah dengan negara  kesatuan RI dan menjadi negara Independen.

Lepasnya  Timtim dengan Indonesia membawa luka dan sejarah kelam.  Indonesia melepas Tim Tim disertai banjir darah, pembantaian dimana-mana. Pembunuhan, pembakaran, pengusiran, penghancuran fasilitas umum bahkan  ada berbagai  tindakan yang menjurus pada tindak  kejahatan kemanusiaan. Banyak  warga yang terbunuh hanya dalam beberapa bulan sebelum dan beberapa hari setelah referendum.

Lima ratusan ribu orang terpaksa  meninggalkan timtim dan lari mengungsi termasuk saya. Kami tinggal di kamp-kamp  pengungsi yang tidak layak  dan dalam banyak kasus yang mengerikan.  Kejadian yang mengiris hati itu  terus  berlangsung sampai Tim-tim mendapatkan  kemerdekaannya  pada tanggal 20 mei 2001.

Tak pernah  kami bayangkan sebelumya,  2 buah rumah,  sebuah taksi dan kos-kosan  hasil kerja keras ‘hilang’ semua. Rumah seisinya  kami tinggalkan ‘utuh’ dengan kunci di masing-masing pintu. Harapan kami supaya yang mendapatkan rumah saya tak perlu repot-repot merusak atau membongkar.  Dengan deraian  air mata  kami tinggalkan semua harta benda yang kami punya. Hasil kerja keras bertahun tahun. Bapak kandung sementara  urus MPP (masa persiapan pensiun) di Jakarta jadi harta  bapakpun tak  terselamatkan. Semoga sudah ada ‘penghuni’ baru dengan penuh damai sejahtera. Saya ‘harus rela!!’. Harus  ikhlas!!.

Beruntung teman-teman yang masih bisa menyelamatkan  isi rumah dengan sewa kontainer,  ada sedikit lega. Tapi saya?!. ‘Nol’. Hanya bisa gigit jari. Tak ada barang yang kami bisa bawa. Saat kami mengungsi hanya berbekal pakaian yang melekat di badan dan surat-surat penting yang saya punya.  Suami  belum mau mengungsi berharap  orang yang akan membeli rumah datang membayar. Saat itu rumah kami sudah ditawar 20 juta, termasuk  laku, karena ada tetangga yang  rumah keramik di ‘lego’ dengan 7 juta, ada yang 3 juta. Yang penting  dapat diuangkan untuk bekal pulang ke Indonesia.

Hhh!!, ternyata  semua bank , kantor-kantor sudah tutup juga, bunyi tembakan semakin riuh, pembakaran dimana-mana  menambah suasana kota semakin mencekam.  Perasaan hati tak pernah tenang. Saya hanya bisa menangis dan berdoa  semoga saya selamat dan suami juga  berada di tempat yang aman. Dili seolah jadi lautan api saat itu.

  Waktu itu banyak orang yang  optimis Pro Integrasi akan menang, tapi diluar dugaan ‘Pro Kemerdekaan’ yang menang. Ya Tuhaannn.. kuatkan hati,  berikan  keselamatan. Itu terus doa-doaku di sepanjang jalan saat  mengungsi. Ternyata para pengungsi di belakangku sudah  buanyak  sekali. Saat itu kami mengungsi didampingi  sang panglima perang yang pro integrasi, Eurico Guterres. Sampailah di pemberhentian, di Atambua. Di Situ ditampung di kamp-kamp pengungsi bersama  para pengungsi yang lain. Sekitar seminggu di Atambua  makan layaknya pengungsi  pada umumnya. Di lapangan,  tempat makan minun, MCK, campur baur jadi satu. Aroma lingkungan pun semakin tak sedap pengaruh air sangat terbatas. Tapi tetap dinikmati. Banyak  pengungsi yang kelaparan karena  makanan tidak cukup. Setiap hari hanya makan  mie instan. Lingkungan pengungsi padat dan sanitasi sangat buruk.  Banyak juga pengungsi yang  terkena wabah kolera

Untuk mengurus nasib kami lanjutkan perjalanan ke Kupang, kota provinsi NTT dengan naik  mobil tentara. Para pengungsi full  di kota kupang. Beruntung  saya bertemu  pak Margono pengawas dan ibu. Di Kupang kami  ditampung di rumah rusak/kosong di belakang Kantor Dinas P dan K sekarang. Sampahnya setinggi gunung, Lingkungannya  terlihat angker. Rumah itu mungkin sudah puluhan tahun tak dihuni. Saatnya kami membersihkan, menata hingga layak huni

Hati terus berdebar karena suami  belum juga muncul. Beruntung 2 anak sudah saya ungsikan di Jawa. Kalau belum pasti ceritanya  berbeda. Banyak anak yang hilang karena terpisah dengan orang tua. Termasuk saya yang lari sendirian karena suami bersikeras  tak mau mengungsi bersama.

Saatnya menunggu  SK penempatan. Para guru PNS boleh  minta mutasi dimana saja, termasuk di Jakarta, di Bandung, Di Surabaya yang penting  sudah ada  sekolah  yang menerima. Hehe.. saya ada kelompok  kecil ‘persija. Persatuan istri jawa.  Setahu saya, para suami yang istrinya orang jawa  bersama-sama pindah , ikut istri ke Jawa. Ini pas giliran saya  menghadap pak Kakanwil Timtim yang berada di Kupang, Pak Tri Suhartanta namanya.  Kami kenal baik karena temannya bapak saya yang kepala SMA Negeri 1 Dili Timpr Timur.

Saya yang orang Jawa asli  minta  di tempatkan di Waingapu, Sumba Timur NTT. Bapak melihat  saya dengan penuh tanda tanya,  menatap saya seperti tak percaya. Beliau memandang saya dari ujung rambut  hingga ujung kaki  berulang-ulang. Apa yang dikatakan beliau?? mbak Eti, benar mau  mutasi di Sumba Timur? Apakah sudah pernah ke Sumba Timur?? Dan berbagai pertanyaan seolah saya  tidak serius. Semua teman-teman jawa minta pindah ke Jawa.  Bapak kakanwil minta supaya saya datang lagi esoknya lagi. Saya disuruh  merenungkan lagi tentang mutasi ke Sumba Timur.

Semalam saya memang  menimbang-nimbang, sebagai alasan  kebetulan saya sudah  ada ‘gubuk’ sederhana di Sumba. Saya hanya seorang istri yang harus  setia karena  suami asli Sumba.  Sebagai abdi negara harus  siap mengabdi dimana saja. Dengan tekat bulat  saya esok harinya dengan penuh semangat  untuk ’tetap’  SK PNS  saya di Sumba Timur.

Benarlah akhirnya saya di mutasi di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur. Per 1 Maret 2000. Dengan modal SK PNS kami memulai hidup baru di tempat yang baru.  Suasana  di TimTim dan di Sumba bak bumi dan langit.  Masuk hari pertama mengajar saya tak sanggup.  Saya sungguh terharu dan meneteskan air mata. Murid di NTT  begitu manis-manis. Mereka begitu hormat pada guru.  Saat kami mengajar mereka  begitu penuh perhatian. Ya Tuhaaannn, terimakasih banyak untuk pengalaman ini. Kesan pertama yang penuh makna. Kesan kedua dan seterusnya terasa indah jadi guru di Sumba walau hidup sederhana.

Kini  tak terasa saya sudah 21 tahun saya mengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Waktu begitu cepat. Bertemu, berkarya  dan mengabdi bersama teman  NKRI yang setia.  Orang-orangnya rukun damai dan sejahtera.  Penuh senyum dan bersahabat. Oh bahagianya........... Di TimTim 10 tahun lamanya penuh cerita duka lara dan kurang ‘berharga’. Terimakasih untuk pengalaman yang berharga dalam hidup. Sejarah yang terukir.  Kenangan yang  kutuliskan.  Semoga cerita ini  tersampaikan untuk para pembaca yang cinta literasi. Semoga bermanfaat untuk sekedar hiburan atau  sedikit menambah wawasan. Inilah cerita seorang guru yang mengajar di Timor Leste. Guru korban konflik bencana. Salam, Saya tetap bangga jadi guru......... tak akan pernah luntur ditelan waktu sampai  pensiun menjemputku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Salam ...Saya,  Ledwina Eti Wuryani, Asli Magelang. Jawa Tengah  yang tinggal dirantauan sejak tiga puluh tahun yang lalu.  Saya Lulusan Pendidikan guru IKIP Sanata Dharma kala itu, tahun 1989.  Seorang ibu dengan 2 putra, ibu rumah tangga sekaligus  jadi guru matematika  di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT. Sudah  banyak artikel  dibuat penulis yang tembus di  media masa ,lokal ada juga yang  propinsi NTT. Sudah punya 4  buku solo dan 23 buku Antologi sejak  ada  wabah Pandemi corona.  Sejak bulan maret 2020. Tulisan antologi ada cerpen, puisi,  story telling, Cerita tentang Belajar dari rumah ( PJJ)  dll.  Penulis bisa dihubungi melalui email ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com


 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...