Oleh : Cahyadi Takariawan
Pada bulan April 1860, Trollope yang waktu itu berusia 45 tahun, menulis sepucuk surat balasan untuk tetangganya, Catherine Gould. Waktu itu suami Catherine memutuskan untuk menulis demi mendapatkan uang, dan sangat ingin mengetahui rahasia bisnis.
Isi surat Trollope itu, menurut Popova, memberikan pelajaran berharga bagi para penulis serta pengusaha yang mengharapkan kesuksesan instan. Dalam surat balasan tersebut, Trollope menyampaikan pesan-pesan penting bagi para penulis.
Tentang menghasilkan uang dari menulis, dalam surat itu Trollope menyatakan, “Keyakinan saya tentang menulis buku hampir sama dengan keyakinan saya tentang pembuatan sepatu. Orang yang bekerja paling keras dalam hal itu, dengan tujuan yang paling jujur, akan bekerja paling baik”.
Tentu saja Trollope mendapatkan uang dari karya tulis yang dihasilkannya. Namun hal itu dilakukan setelah bekerja keras, penuh kegigihan dan mencurahkan segenap kreativitas.
Trollope mengibaratkan dengan membuat sepatu. Para pembuat sepatu yang bekerja dengan keras dan dengan tujuan paling jujur, akan bisa menghasilkan sepatu paling baik.
Bisnis terkait tulis menulis, menurut Trollope “adalah pekerjaan yang berat dan melahirkan banyak kekecewaan”. Kurang lebih, ia ingin mengingatkan suami Catherine agar berpikir ulang jika menulis untuk tujuan bisnis.
Jangan berharap mendapat kekayaan dari menulis secara instan, namun harus disertai kesungguhan perjuangan dan pengorbanan.
“Saya melakukannya selama bertahun-tahun dan menulis sepuluh jilid sebelum menghasilkan satu sen uang”, ungkap Trollope.
Intinya, perlu kesungguhan, disiplin, kegigihan dan sikap pantang menyerah. Mulailah menulis, displinlah menulis, rajinlah menulis, teruslah menulis, kelak Anda akan menikmati hasilnya.
Selengkapnya - https://ruangmenulis.id/agar-selalu-produktif-menulis-66/
Agar Selalu Produktif Menulis – 65
Oleh : Cahyadi Takariawan
Rupanya, teknik pewaktu yang digunakan Trollope sejenis dengan teknik Podomoro yang dicetuskan oleh Francesco Cirillo. Bedanya hanya pada soal hitungan waktu.
Trollope menetapkan satuan waktu tiap 15 menit. Sedangkan teknik Podomoro menetapkan satuan waktu tiap 25 menit.
Pada zaman itu, Trollope menggunakan jam tangan untuk menghitung mundur. Cara ini membuat Trollope tetap fokus dan bertanggung jawab atas karya tulis yang sedang dilakukannya.
Jika Anda menulis dengan tekun selama 25 menit penuh –menggunakan hitungan Podomoro, dalam masa itu berarti Anda tidak akan memeriksa Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube, email, grup Whatsapp, atau menikmati camilan dan minuman kesukaan.
Menurut Nicole Bianchi (2016), 25 menit adalah waktu yang tepat untuk menulis. “Itu tidak terlalu pendek ataupun terlalu panjang”, ujar Bianchi.
25 menit pertama, berarti Podomoro pertama, lalu Anda istirahat selama 5 menit. Dalam masa istirahat ini, Anda memiliki waktu untuk memeriksa media sosial, atau untuk mengambil makanan dan minuman ringan. Begitu seterusnya, Anda memerlukan beberapa Podomoro untuk menyelesaikan suatu karya tulis.
Sejenak istirahat setiap satu sesi Podomoro, memungkinkan otak Anda memiliki waktu untuk memulihkan energi, dengan tetap menjaga Anda tetap mengalir. Setelah itu memulai sesi Podomoro berikutnya selama 25 menit, dan kembali istirahat.
“Saya menemukan bahwa ‘empat pomodoro’ berturut-turut, sekitar dua jam termasuk istirahat, tampaknya merupakan satuan waktu yang tepat untuk menyelesaikan tugas-tugas yang panjang dan kompleks”, ujar Bianchi.
Apabila teknik hitungan waktu Trollope ataupun teknik Podomoro diterapkan dengan baik, akan bisa membantu Anda menyelesaikan projek penulisan yang panjang.
“Saya menemukan sekarang mampu menyelesaikan proyek menulis lebih cepat daripada sebelumnya”, demikian pengakuan Bianchi setelah menerapkan teknik Podomoro.
Bagaimana dengan Anda? https://ruangmenulis.id/agar-selalu-produktif-menulis-65/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar