Oleh : Cahyadi Takariawan
Rupanya, teknik pewaktu yang digunakan Trollope sejenis dengan teknik Podomoro yang dicetuskan oleh Francesco Cirillo. Bedanya hanya pada soal hitungan waktu.
Trollope menetapkan satuan waktu tiap 15 menit. Sedangkan teknik Podomoro menetapkan satuan waktu tiap 25 menit.
Pada zaman itu, Trollope menggunakan jam tangan untuk menghitung mundur. Cara ini membuat Trollope tetap fokus dan bertanggung jawab atas karya tulis yang sedang dilakukannya.
Jika Anda menulis dengan tekun selama 25 menit penuh –menggunakan hitungan Podomoro, dalam masa itu berarti Anda tidak akan memeriksa Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube, email, grup Whatsapp, atau menikmati camilan dan minuman kesukaan.
Menurut Nicole Bianchi (2016), 25 menit adalah waktu yang tepat untuk menulis. “Itu tidak terlalu pendek ataupun terlalu panjang”, ujar Bianchi.
25 menit pertama, berarti Podomoro pertama, lalu Anda istirahat selama 5 menit. Dalam masa istirahat ini, Anda memiliki waktu untuk memeriksa media sosial, atau untuk mengambil makanan dan minuman ringan. Begitu seterusnya, Anda memerlukan beberapa Podomoro untuk menyelesaikan suatu karya tulis.
Sejenak istirahat setiap satu sesi Podomoro, memungkinkan otak Anda memiliki waktu untuk memulihkan energi, dengan tetap menjaga Anda tetap mengalir. Setelah itu memulai sesi Podomoro berikutnya selama 25 menit, dan kembali istirahat.
“Saya menemukan bahwa ‘empat pomodoro’ berturut-turut, sekitar dua jam termasuk istirahat, tampaknya merupakan satuan waktu yang tepat untuk menyelesaikan tugas-tugas yang panjang dan kompleks”, ujar Bianchi.
Apabila teknik hitungan waktu Trollope ataupun teknik Podomoro diterapkan dengan baik, akan bisa membantu Anda menyelesaikan projek penulisan yang panjang.
“Saya menemukan sekarang mampu menyelesaikan proyek menulis lebih cepat daripada sebelumnya”, demikian pengakuan Bianchi setelah menerapkan teknik Podomoro.
Bagaimana dengan Anda? https://ruangmenulis.id/agar-selalu-produktif-menulis-65/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar