Trimakasih Tuhan akhirnya saya bisa mengikuti prosesi wafatnya ibu tercinta hingga hari ke-7. Ini semua karena kebesaran Tuhan. Dengan perjuangan dan doa akhirnya saya bisa ‘lolos’ hingga akhir. Semua hal jika mengandalkan Tuhan pasti akan indah pada waktunya.
Awalnya kami PCR ternyata #POSITIF . Hasil CT 37,94...hanya butuh 0,06 untuk dinyatakan NEGATIF....#Gagalterbang padalah sudah beli tiket seharga Rp 2,6 jt DAN pcr rP 540 RB. Hati jelas sakit, sedih yang luar biasa.
Berkat doa dan pergumulan, ada saja orang baik memberitahukan padaku. Untuk ke Jawa jika sudah vaksin dosis 2 berarti syaratnya cukup rapit test antigen. Info itu adalah sebuah angin Sorga Buatku.
#Bukti-diaplikasi : Untuk perjalanan kota Jawa-Bali, wajib melampirkan sertifikat vaksin COVID-19. Bagi yang telah menerima vaksin 1 wajib melampirkan hasil tes PCR (2x24 jam) & yang telah menerima vaksin dosis 2 dapat melampirkan hasil tes Rapit Antigen (1x24)
Trimakasih untuk info yang penting ini.
Saya cek rapit antigen oleh bidan hasil #negatif. Kami lanjut ke Klinik Larisa, dr Rin Tipa tamu ina hasilnya NEGATIF. Puji Tuhan doaku terjawab. Akhirnya saya beli tiket ulang di traveloka. Karena mendadak dapat tiket ngecer. Waingapu-Kupang. Kupang-Surabaya. Surabaya-Jogya. Ganti 3 pesawat. Tak apa, yang penting sampai ke Jawa.
Tak kubayangkan jika aku tak bisa pulang untuk bertemu ibu untuk terakhir kali pasti aku akan menyesal seumur hidupku. Perjalanan lancar hanya di Kupang ada sedikit kendala mempermasalahkan karena bukti bukan PCR. Aturan jelas, tapi saya tak mungkin berbala-bala dengan pegawai bandara.
Mereka tidak mau memberikan boarding pass padaku. Dengan gaya yang cuek, sinis dan muka tak bersahabat bersikeras tak mau memberi cap KKP Valid padaku. Tuhan, kuatkan aku. Sabarkan aku. Hati bagai teriris pisau saat itu. Janganlah saya gagal kedua kali. Tak terasa air mataku deras membasahi pipiku. Nona itu mungkin ‘agak’ kasihan padaku. Dia berkata padaku: “Ibu ada surat duka?!!”. Ya Tuhan, dia seolah tak percaya ibuku benar-benar meninggal!!, hatiku sesak mendengar perkataannya. Kutunjukkan fb yang ku post. Kutunjukkan juga WA group keluarga, postingan-postingan adikku tentang kedukaan. Waktupun terus berjalan, jam 11.15 harus sudah terbang lagi beberapa menit. Hati was-was tak karuan.
Berkat Tuhan ada orang baik yang mau bertanggung jawab, hingga nona itu mau men-cap tiketku. Kuucapka berulang-ulang terimakasih padanya. Saya pergi ke Jawa untuk ibu kandung yang sedang menungguku untuk dikubur. Setelah di cap aku lari, cepet-cepet menuju ke gate-4 menuju Surabaya. Sampailah di Surabaya dengan selamat. Setiap perhentian selalu ku-post di WA. Dirumah duka menungguku, saat itu aku merasa jadi pemeran utama dalam sebuah drama. Setiap gerakanku dalam pemantauan. Penguburan ditunda karena menungguku.
Pukul 14.40 WIB aku tiba bandara Adi Sucipto Jogyakarta. Pukul 15.29 WIB sampailah aku di rumah. Rumah duka. Ibu masih menungguku dalam keheningan. Sebenarnya penguburan jam 13.00 tapi karena menunggu aku jadi ditunda sampai pukul 16.00. Tuhan sungguh amat baik. Hari itu tidak hujan, padahal biasanya setiap hari hujan.
Sampai di halaman rumah aku disemprot disinfektan hingga basah kuyup dengan disaksikan para undangan yang mengikuti prosesi penguburan ibuku. Begitupun Yoga anak adikku yang menjemputku. Aku melewati pintu belakang. Aku cepat-capat mandi dan ganti pakaian.
Sudah disiapkan ruang isolasi untukku. Aku dipanggil oleh MC untuk memberi penghormatan ibu untuk terakhir kali. Para tamu seolah sedih melihatku. Aku berusaha kuat dan harus menerima kenyataan.
Ibadat selesai, saya hanya bisa mengikuti dari kejauhan. Ibu dikubur di desa sebelah. Di kuburan keluarga gunung lemah, sekitar 1,5 km dari rumah. Aku mengisolasi diri. Sekitar satu setengah jam penguburan selesai. Para pamu sudah pulang.
Aku akan merasa berdosa kepada ibu kalau hari itu aku tidak melihat kubur ibuku. Saat itu juga. Aku meluncur ke kuburan sendiri dengan motor Supra kepunyaan adikku. Sampai di kuburan sekitar pukul 18.00 WIB. Suasana sepi luar biasa. Tak seorangpun ada di situ. Aku mencoba memberanikan diri. Bulu kudukku terus berdiri. Aku mencoba terus naik. Terus naik. Kuberanikan diri. Ya Tuhan .....bulu kudukku semakin menjadi. Aku tak tenang untuk berdoa. Rasa ketakukan tak bisa kutolak. Aku berusaha menenangkan diri. Tapi nyaliku tak mau diajak kompromi. Halusinasi selalu muncul dipelupuk mataku. Sorepun semakin gelap, hanya bunyi gesekan pohon bambu yang kudengar menambah suasana ngeri menusuk kalbuku......
Secepat kilat aku lari turun dan kucoba telpon adikku. Kutelpon lagi dengan hati yang terus berdebar kencang. Batu-batu nisan seolah saksi bisu menambah suasana mencekam saat itu. Sang pemilik batu nisan seolah bangun menundukkan kepalanya, mengucapkan 'selamat' padaku.
Hhh!!! Adikku tak jawab-jawab juga. Setelah beberapa kali untunglah adikku menjawab. Akhirnya dik Edi , adikku nomor dua balik lagi ke kuburan untuk menemaniku walau dia sudah hampir sampai di rumah.
Legaaa...... Trimakasih Tuhan, aku bisa melanjutkan doa untuk ibuku tercinta. Ibu.... 'maturnuwun nggih' saget pinanggih ibu, saya bisa menemui ibu. Tuhan trimakasih tak terkira akhirnya saya bisa menemui ibu tercinta.
Tamu masih banyak di rumah. Banyak juga teman-temanku dan teman –teman adikku yang datang. Saya ikut menemui tapi dari kejauhan. Sedih sekali rasaku saat itu jadi orang yang terisolasi karena terpapar corona walau sebenarnya sudah sembuh. Aku berusaha tegar.
Daripada aku tidur di ruang isolasi yang sepi, aku merasa tak nyaman. Aku mencoba mencari kamar kosong yang lain. Kulihat kamar ibuku begitu gelap. Kunyalakan lampu, ternyata lampunya mati. Aku tak berani minta tolong siapapun. Mereka sibuk semua. Yang lain sudah tidur. Ya ampun... aku harus berani. Dalam doa pasti aku berani. Sebagai orang pramuka pantang menyerah dan harus berani. Kamar ibuku rapi, malam itu aku tidur sendiri di kamar ibu. Pagi hariya adik-adikku memuji keberaniaku, tapi aku menikmati. Hingga hari ini saya terus tidur di kamar ibu.
Rumahku adalah peninggalan nenek, luas sekali ukurannya bisa sekitar 20x20m2. Suasana sepi.... Sebuah tragedi kalau misal tengah malam mau ke toilet. Pasti harus membangunkan orang lain untuk menemani. Saya tinggal di Waingapu sudah 21 tahun, 2 adikku di Jakarta. Adik bungsu yang menjaga ibu di rumah bersama istri dan Evan anaknya tunggalnya. Jadi kami sudah merasa asing di rumah orang tua sendiri. Apalagi aku sejak SMP sudah kos, SMA asrama, kuliah di Jogya, jadi rumah keluarga sendiri seolah lingkungan yang asing.
Aneh bagiku, sejak saya datang sampai sekarang saya tak punya rasa takut. Justru ibu merasa selalu menemaniku setiap saat. Bangun jam 03.00 saya masak untuk sarapan pagi. Tengah malam menulis dan kerja tugas atau PR.
Tamu masih berdatangan hingga hari ketiga. Saya sungguh terharu dengan kepedulian warga di kampung kami. Rumah saya persis di depan mesjid Al-Huda. Saat kami ibadat loudspeaker mesjid dikecilkan, padahal saat itu hari raya Maulid Nabi. Begitu juga di hari yang lain. Kerukunan beragama sangat tinggi. Terbukti ibu-ibu sigap membantu kami memasak saat kami berduka. Mereka menyumbang ada yang membawa amplop dan banyak juga yang membawa belanjaan berupa sembako. Kurasakan indahnya persaudaraan antar umat beragama di kampung Gejayan.
Setiap ada duka/kematian untuk warga minoritas seperti kami, ibadat dilakukan 2 kali. Pukul 17.00 ibadat katholik. Setelah selesai dilanjutkan ibadat yang muslimin, kenduri namanya. Acara itu adalah melestarikan trasdisi leluhur. Untuk kematian acaranya adalah: Peringatan hari pertama, hari ke-3, hari ke-7 , hari ke-40, hari ke-100 hari ke-1000. Hari ke1000 adalah pemasangan batu Nisan.
Satu persatu saudara-saudara dan adik-adikku pulang. Hari demi hari mulai sepi. Semoga adikku bungsu yang jadi tuan rumah bisa beradaptasi dengan kehidupan baru ‘tanpa’ ibu.Trimakasih Tuhan untuk kasihmu. Trimakasih untuk peristiwa iman yang kuterima. Semua acara kedukaan kami berjalan dengan lancar. Dari ibu sakit di Jakata ( RS St. Carolus) hingga wafat sampai pulang ke Muntilan berjalan Lancar. Acara pengebumian dan segala acara dimudahkan. Semua hal tak ada kendala.
Semua ini berkat Tuhan selalu mendampingi, menemani, menuntun kami.
Trimakasih Juga untuk semua yang terlibat. Dari hati yang paling dalam kami keluarga besar ‘Heribertus Sudayat (Alm)’ bapak mengucapkan trimakasih tak hingga kepada Saudara/i, teman-teman, handaitaulan untuk bantuan, penguatan, penghiburan dan doanya untuk kami. Ibu sudah tidak sakit lagi, ibu sudah dalam peristirahatan bersama para Kudus di Sorga.
Kiranya Tuhan akan selalu memberkati Bapak /ibu, Saudara/i sekalian. AMIN.
Good Bless You.
#30harimenulis
#30haripunyanaskah
#siapataujadibuku
#alineakuchallenge - 29
#alineakuwriter
#alineakuLedwinaEti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar