Pada saat jam istirahat
Guru Mbehar duduk di bawah pohon
ketapang sambil merenung. Semilir angin
menyapu rambutnya yang hitam lurus. Wajahnya hitam manis. Bola matanya yang tajam tiap hari menyempatkan membaca buku-buku
sastra yang sebagian besar menceritakan suka duka kehidupan dan keharmonisan kehidupan manusia dengan
alam sekitar kita.
Guru Mbehar adalah seorang kepala sekolah di SD
Paberiwai. Sebuah SD di dusun terpencil tanah Marapu. Tanah Sumba yang
daerahnya berupa perbukitan, dan hamparan padang sabana luas. Daerah ini sangat
jauh dari hingar bingarkanya kota. Saking tertinggalnya belum tak ada, sinyalpun vala (tiada) maka
ana-anak belum kenal yang namanya Hand Phone.
Sebagai kepala sekolah tentunya ia punya kuajiaban
memajukan sekolah agar tidak terlalu ketinggalan dengan sekolah lain. Apalagi mengingat era global saat ini. Dia
berfikir keras bagaimana bisa bersaing dengan sekolah lain. Tak terasa kini usianya sudah 46 tahun. Dia
masih membujang. Waktunya sampai mau
habis demi mengabdikan diri di SD
kampung itu. Dia tak sempat tebar pesona untuk wanita-wanita cantik kembang
dusun di situ. Dia selalu
setia akan tugas dan
tanggung jawabnya sebagai abdi negara. Sebagai kepala Sekolah ‘nama baik’ sekolah ada dipundaknya. Harus dipertaruhkan!. Betapa
bahagianya kalau sekolahnya bisa
dikenal ‘baik’ oleh
masyarakat sekitar.
Sedang asyik- asyiknya berpikir dalam kesendirian itu di bawah pohon itu,
tiba-tiba pundaknya di ditepu seseorang. Pak Mbehar kaget. Nona Hada Indah adalah gadis dari kampung sebelah putrinya bapak Kadus
(Kepala Dusun). Dia baru pulang dari
Malaysia menjadi TKW di sana.
“ Maaf Pak Guru ganggu, boleh saya menemani duduk di sini “ : Sapa nona.
“ Ya… iya, yaya silahkan duduk “
Jawab Guru Mbehar agak gugup. Berani juga ni anak, batin pak Mbehar. Gadis itu
langsung duduk disebelah pak guru.
“ Ada apa si Pak Guru kelihatannya serius banget ?” Tanya Nona.
“Ah, tidak kok, Cuma berpikir sedikit tentang masa depan anak-anak, mereka banyak yang alpa, lanjutnya. Anak-anak banyak
tidak datang sekolah.”, jelas pak Umbu. Atau!!, mungkin sedang musim paceklik
ya Rambu ( panggilan perempuan orang Sumba Timur : red) . “Saya dengar semua warga sini hasil ladang
gagal total , benarkah?”, tanya Guru Behar kepada Nona serius.
“Ia ya benar pak Guru, sekarang anak- anak membantu orang tua mencari ubi
hutan ( iwi) untuk makan,”.Jawab Nona
sambil tersenyum manja. Setelah beberapa saat mereka ngobrol Guru Mbehar ijin meninggalkan Nona karena jam terakhir pelajaran sudah mau habis. Nona sambil
tersenyum meninggalkan Guru Mbehar. Terlihat sejak pertemuan itu pak Umbu dan
Nona sering mengadakan pertemuan. Mereka
berdua terlihat semakin akrab. Ini tanda-tanda baik untuk bisa berjodoh. Nona orangnya agresif. Nona membuat pak umbu tak
berdaya dengan sifat kolokan dan manjanya. Sebagai lelaki normal dia pasti membutuhkan pendamping hidup.
Akhirnya iapun jatuh cinta. Getaran cintapun semakin terasa antara mereka. Guru-guru
mulai tahu kedekatan pak Mbehar dengan Nona Hada Indah, mTetangga sekitar juga
tahu, mereka ikut mendukung sang kepala
sekolah.
` Tepat jam sepuluh bel
sekolah terdengar nyaring menembus perbukitan. Bel sekolah dipasang menggantung
di pojok ruang Guru. Bel terbuat dari
bekas lempengan besi berbentuk bundar seperti piringan seng besar kalau di
pukul nyaring menembus radius tiga kilo meter. Dulu jaman belanda katanta untuk
patokan buruh tani tanda untuk
istirahat. Tiga puluh menit istirahat anak-anak masuk kelas kembali. Mereka
taat dan serius mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Tepat jam satu lebih lima
belas menit SD sudah sepi semua siswa
pulang kerumah masing-masing. Yang tersisa hanya suara seng atap sekolah saling
bergesekkan digerakkan angin. Sebelum para guru pulang, Guru Mbehar minta
supaya meeting sebentar untuk
mempersiapkan ujian AKM. Persiapan harus
lebih dini supaya hasilnya lebih baik, maksudnya.
Rapat selesai hingga jam 15.00 WITA. Para gurupun kemudian pulang dengan perut lapar tapi tak berani protes.
Bersyukur tapi bu May nggiri ke sekolah
bawa jagung rebus yang dibawa ke sekolah jadi jam istirahat bisa makan rame-rame
sebagai ganjal perut. Begitu dia. Dia rajin berkebun maka jagung hasil
berlimpah.
Guru Mbehar agak pulang lambat,
dia masih membereskan meja yang berserakan. Tiba-tiba pintunya diketuk
seseorang.
“Selamat sore Pak Guru….., dia menoleh ke belakang ternyata yang datang Nona. Pak Mbehar
mempersilahkan Nona duduk.
Sambil duduk ia menyampaikan
amanat bapaknya.
“ Kalau tidak keberatan, Bapak saya ada suruh mampir ke rumah “, Pinta Nona
sambil tersenyum manis mendekati Guru Mbehar.
“ Memangnya ada apa ya?, tanya pak Mbehar penasaran.
‘Tidak ada apa-apa pak guru, Bapak hanya ingin supaya sesekali bapak
datang ke rumah”, kata Nona datar. ‘Itu jika pak guru berkenan, kalau tidak
juga tidak apa-apa, lanjutnya. Memang
pak Mbehar dan pak Kadus sudah
saling kenal. Mereka biasa bertemu Cuma pak
Mbehar belum tahu rumah pak Kadus,
bahkan tak tahu pula kalau pak kadus punya
anak gadis. Dalam hati ia jadi
berfikir, ini namanya pucuk dicinta ulam tiba. Hehe… dia jadi senang karena
pastinya akan semakin membuka jalan
hubungan dia dengan anak gadis pak kadus.
“Iya ya Rambu , baiklah“ jawab Guru Nggaba menyatakan kesediaanya.
Kemudian Guru Nggaba dan Nona berjalan menuju rumahnya yang berjaran
sekitar 1 km. Sampai di rumah nona ternyata Ayah Nona sudah menunggu di ruang
tamu. Ayah sedang duduk-duduk sendir. Ada tersedia kopi panas di atas meja juga sepiring
petatas rebus panas. “Permisi! ”, sapa
Guru Mbehar di depan rumah pak Kadus.
“ Mari mari !! masuk Umbu guru (
Panggilan terhormat seorang laki-laki : red) “ jawab pak Kadus antusias
mempersilahkan tamu. Pak Umbu Mbehar
segera mengambil tempat duduk. Mereka berbicara masalah komite sekolah dan beberapa masalah lain.
Sementara masih dalam pembicaraan,
tiba- tiba Guru Mbehar tertegun melihat
di rumah kecil sebelah terlihat ada
beberapa kendang dan gong.
Peralatan musik tradisionil untuk
mengiringi tari “kandingan” dan “kabokang”. Dengan serius Guru Mbehar
memperhatikannya. “Wahh.....ini bagus untuk ekstrakurikuler sekolah”, pikirnya.
Ia bertanya tentang alat musik itu pada pak Kadus.
“ Ooo itu Umbu Guru!, itu sisa- sisa alat kesenian dusun dulu“ :
kata pak Kadus.
“ Kenapa kok tidak difungsikan kembali, padahal masih bagus “ Tanya Guru Mbehar sambil melirik ke wajah Nona.
Nona diam kemudian memandang Guru Mbehar secara reflek tersenyum membuat ada getaran
hati pak Mbehar menggejolak luar biasa.
“ Mari diminum Kopinya, mumpung
masih panas! “ Pinta pak Kadus. “ Ya
Pak “, Jawab Guru Mbehar. “Mohon
izin pak Kadus seumpanmya saya pinjam kendangnya apa boleh ?” kata Guru Mbehar memohon.“ Boleh-boleh!! Boleh
sekali!! Jawab pak Kadus semangat. Silahkan!!
jangankan hanya kendang, semuanya boleh
dipinjam! Saya siap membantu melatih di sekolah!”
: jawab pak Kadus antusias. Nanti saya membantu melatih menabuh tamburnya. Nona
anak saya yang melatih menari! Saya senang sekali
ada yang melestarikan kesenian kita” Jawab pak Kadus terlihat senang.
‘Dulu kami rajin berlatih karena para
penabuh sudah keluar kota dan ada yang sudah meninggal akhirnya tidak ada yang
urus’, lanjutnya.
Pak Kadus senang
karena ternyata pancingannya masuk.
Sebenarnya pak kadus ingin menjodohkan anaknya dengan pak Mbehar. Nah,
dengan adanya kegiatan ini otomatis hubungan putrinya dan pak guru akan semakin
dekat.
Benar saja sejak ada
ekskul menari, anak-anak semangat datang sekolah. Tiga bulan kemudian SD Paberiwai geger.
SD itu jadi sumber cerita semua warga. Siswa-
siswinya sudah pandai menari dan menabuh kendang, tambur dan gong. Titisan dari
leluhur turun pada para siswa, sehingga mereka sangat lincah menari ‘kabokang’ dan ‘Kandingang’. Berita ini bahkan
menembus ke dusun- dusun lainnya. Akhirnya murid -murid yang dulu keluar
langsung daftar lagi . Kini murid di SD itu full, bahkan melebihi kapasitas. Spektakuler!,
betapa bangganya sang kepala sekolah dan guru-gurunya.
Pembelajaran berjalan lancar. Guru tetap semangat
mengajar. Siswa juga antusias, Setiap hari senin dan jumat Sore ada ekskul
menari. Hari itu yang menjadi ivent indah bagi para warga berkumpul dan bersuka cita melihat para siswa berlatih
kesenian tradisionil peninggalan leluhur.
Karena anak-anak sudah
pada mahir menari dan menabuh gong dan
kendang, akhirnya warga sekolah bersama
komite sepakat untuk mengadakan ‘pentas seni’. Acara berjalan lancar dan sangat meriah. Para warga dari
seluruh dusun datang. Mereka antusias dan bergembira ria.
Dua bulan lagi akan ada pemilihan kepala desa. Ada 2 kandidat.
Salah satu Kandidat Calon adalah Umbu Mahakonda, orang terkaya di dusun sebelah.
Beliau memesan tarian SD Paberiwai untuk
memeriahkan acaranya. Dia yang akan mendanai seluruh acara. Anak-anak senang mendengar kabar itu. Mereka mempersiapkan dengan sangat baik Acara sukses dan berjalan lancar. Kini SD
semakin banyak dikenal karena kesenian yang hebat disitu,
Ternyata keberhasilan
Guru Mbehar tak berbuah manis. Ada seorang pemuda bernama Umbu Nuku, Orang kaya di kampung lamerip ‘murka’. Dia sudah
lama naksir Nona Hada Indah. Dia yang merasa lebih berhak memperistri Rambu anak pak dusun itu. Menurut adat Rambu Hada inda adalah ‘anak om’. Dia punya kuajiban memperistri supaya keluarga tidak terlepas. Umbu Nuku merasa
pak guru Mbehar sudah ’merebut’ calon istrinya. Dia
sakit hati. Nona Hada Indah orang
yang dicintai, dianggap selingkuh.
Umbu Nuku geram. Dia berpikir keras bagaimana cara menjatuhkan pak Guru Mbehar. Akhirnya
dia menemukan ide jahatnya. Ia lapor ke polsek dengan tuduhan pak Kepala
Sekolah SD Paberiwai mengadakan acara
keramaian. Menghimpun masa disaat korona. Tidak memperhatikan protokol
kesehatan.
Beberapa kali pak Umbu Behar dipanggil ke kepolisian.
Ia dianggap menyalahi aturan pemerintah setempat. Dia dianggap menggunakan
kekuasaannya untuk hal yang tidak baik. Berbagai hujatan ia terima dari
kubu Umbu Nuku. Akhirnya pak Umbu Behar
tidak berdaya. Entah bagaimana-bagaimana
sebulan kemudian mobil polisi datang ke sekolah. Nampak Umbu Nuku juga
ada bersama mereka. Tanpa berkata mereka langsung menangkap guru Mbehar. Mobil
beriringan membawa pak Guru Mbehar ke kota untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Semua warga, guru dan para
siswa bersedih. Mereka berduka bahkan tak sedikit yang menangis melihat
‘sang kepala sekolah’ di borgol. Ibu guru menari, Nona berlari-lari sambil
menangis mengejar mobil polisi yang membawa guru Mbehar.
Sebulan di dalam penjara ,
mendengar kabar guru Mbehar ditemukan meninggal
dibangsal sel penjara. Sediiihhh…….sekali!, kasihan pak Umbu Mbehar. Menurut cerita Pak Umbu Mbehar mogok makan selama di Penjara. Dia Stress
berat. Dia Depresi. Dia sakit tak bisa diobati lagi. Akhirnya dia menghembuskan
nafasnya yang terakhir. Betapa malangnya beliau. Kabar itu sudah didengar oleh Nona yang
selama ini sudah menjalin cinta. Cintanya
terkubur. Ratapan dan tangisan dari keluarga pak Mbehar, keluarga Nona dan keluarga besar SD Paberiwai. Selamat
jalan Pak Guru Hebat. Jasamu tiada tara. Semoga Tuhan menyiapkan tempat indah
bagimu.
PROFIL
PENULIS
Penulis Ledwina Eti
Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah. Tinggal di Timtim 10 tahun ( Kabupaten Bobonaro
3 tahun, Dili 7 tahun) dan di NTT sudah 22 tahun. Seorang ibu 2 putra, sekaligus
guru di SMA Negeri 2 Waingapu
Sumba Timur, NTT. Penulis adalah salah guru yang suka menulis di Media masa, majalah dan buku. Sudah 50 lebih buku solo dan antologi ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis
bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com
, ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id
, fb, IG dan You tube : Ledwina Eti dan blog
etiastiwi66.blogspot.com HP WA
085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW 010/003 Waingapu, Sumba Timur NTT. Quotes :
Sebuah kebanggaan Jika hidup bisa
bermanfaat bagi sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar