Sabtu, 11 Juni 2022

A34. KETIKA HIDUPKU HARUS BERJUANG Day 34

 


Mungkin saja kisah dan pengalaman  hidupku ini biasa saja. Bukan hal yang menarik. Namun aku selalu yakin bahwa setiap kisah perjalanan kehidupan manusia, ada hikmah yang bisa diambil dan dipelajari. Semua tergantung dari cara memberi makna atas peristiwa tersebut.

 

Pada  suatu hari aku bertanya pada diri sendiri. Ingin  Punya masa depan yang lebih baik? Ya sekolah!.  Lulus SMA  saya harus kuliah. Bersama teman-teman rame-rame daftar Sipenmaru (Seleksi penerimaan mahasiswa baru : Red) . Alhasil  tidak lulus!. Hati kecewa!.  Pasti!! Tak boleh patah semangat!, banyak teman yang bernasib sama denganku. Akhirnya saya mendaftar di IKIP Sanata Dharma. Puji Tuhan diterima!. Saya mengambil jurusan matematika.  Pertimbangannya, jurusan itu pasti laku. Yah!, kalau tidak jadi PNS  berari bisa memberi les privat. Bisa  kerja di tempat bimbingan belajar siswa.   Modal  bisa berhitung berarti bisa juga buka usaha kecil, bisnis, misal buka warung. Fakultas matematika  identik dengan  angka dan perhitungan.

            Berani Kuliah berarti  berani  berjuang untuk memenuhi segala kebutuhannya.  Apapun!, dari  biaya kuliah, kos, kebutuhan hidup, buku sampai pada  perlengkapan  lainnya.  Orang tuaku hidup sederhana, ayahku guru dan ibuku hanya di rumah saja. Gaji guru dulu tidak seperti sekarang.  Kalau  hanya mengandalkan gaji, rasanya kurang. Apalagi untuk biaya sekolah 4 orang anak. Yah!! tak  cukup, apalagi sampai perguruan tinggi.

            Saya anak pertama dari 4 bersaudara.  Orang tua mengharapkan  kami ‘harus’ sekolah di Jogya. Apapun! Ayah dan ibuku  berjanji akan  ‘usaha’ dengan  mengikat kencang  pinggangnya. Biarlah yang di kampung  hidup  sederhana, tapi anak-anak harus  bisa sekolah dengan baik di kota. Itu harapan besar orang tuaku.  Janganlah hidupmu nanti seperti  orang tua sekarang. Menurut  cerita mereka sejak  bapa dan ibu pacaran, mereka  sudah bermimpi untuk anaknya bisa sekolah di Jogya. Kota propinsi yang berjarak 40 km  dari kampungku. Semua!, Ya Semua anaknya harus di kota!”: kata  bapak penuh harap.

            Demi mewujudkan  mimpi itu,  ibu  akan rajin  kerja sawah. Menanam padi dan sayur untuk dijual di pasar tradisonal dekat rumahku.  Kami  hidup prihatin dan penuh kesederhanaan.  Kami menyadari  tugas berat orang tuaku untuk bisa menyekolahkan aku dan adik-adiku.

            Kalau kami kos pasti mahal. Tidak produktif!.   Akhirnya kami disewakan rumah. Kami  sulap rumah sederhana itu menjadi warung.  Untuk melatih mandiri, ibu mengajariku memasak. Maksudnya, supaya kami bisa  kuliah dan biayanya diambil dari hasil jualan. Akhirnya kami sepakat mengikuti ide orang tuaku.

            Waktu SMA  sampai kuliah semester 2 saya tinggal di asrama. Tiga orang adikku kos.  Seijin  orang tua, saya  keluar dari asrama. Sebagai anak sulung aku harus siap mendampingi mereka.Betapa besar  biaya hidup dan kebutuhan kami.  Orang tuaku melatih kami untuk mandiri.   Demi  mimpikami  apapun usaha dan kerja keras  haruslah dilalui. Tak ada kesuksesan yang diraih tanpa cucuran keringat dan air mata...Namun jika kita melakukannya dengan penuh keikhlasan maka ...air mata kebahagiaan akan menggantikan semuanya...

Waktupun berjalan seperti air yang mengalir. Orang tua di rumah. Kami 4 orang  di Jogya bersama dengan warungku. Menu yang kami jual nasi campur, bakso, dan soto. Warung  terletak di depan SMA De britto, karena kebetulan adikku nomor tiga sekolah di situ. Sekolah Favorit, terkenal dan merupakan sekolah impian. Biaya sekolahnya  ‘lumayan’ mahal untuk ukuran kami.

            Pagi bangun jam 01.00 untuk belanja di pasar dilanjutkan memasak . Pekerjaan kita nikmati dengan suka cita.  Kami berjuang bersama-sama. Mbak Sri dan Yu  Tinuk yang selalu setia  membantu kami. Mereka menganggap kami  seperti keluarga. Kami  menghargai dan menghormati mereka. Tanpa mereka warung kami  pasti tidak bisa berjalan dengan baik.

            Orang tuaku sudah  bertanggung jawab, menyewa mahal rumah itu. Mereka pinjam bank . Mereka  pula yang menyicilnya. Saya bertanggungjawab  untuk mencukupkan kebutuhan  hidup dan sekolah  kuliah  aku dan adik-adikku. Berat!!.  Kita selalu  hidup dengan motivasi. Tak ada keberhasilan yang tanpa perjuangan.  Hidup masa depan kita harus lebih baik dari orang tua. Tentunya supaya kelak bisa  gantian membantu  orang tua kalau mereka sudah tidak berdaya.

Kami harus  pintar membagi waktu antara kuliah dan  menjaga warung. Kampusku dekat, di jalan gejayan. Kami  jalan kaki ke kampus. Hanya sebuah motor! Jadi  pakai bergantian  dengan penuh  pengertian.  Jadwal  kuliah kami tempel di tembok,  begitupun adik-adikku. Tentunya supaya  kita bisa  ada yang  ‘jaga’  untuk melayani pembeli. Kami ber- moto, “pembeli adalah raja”.  Jangan mereka  kecewa dengan pelayanan kita.  Sekali kecewa  pelanggan akan kapok. Mereka  tak akan pernah  datang lagi untuk  belanja. Pelayanan, kebersihan dan rasa  wajib diperhatikan. Senyum ramah juga kita utamakan.

Jam istirahan SMA De Brito  jam 10.00.  Pada Jam 09.00 kami sudah merasik bakso, soto dan es jeruk, tes teh.  Jam bel istirahat berbunyi mereka  terhambur menuju  ke warung kami.  Banyak langganan kami yang setia. Setiap hari mereka datang.  Nasi campur,Bakso soto dengan  harga pelajar. Yang penting  murah deh. Kami  bahagia sekali menikmati kehidupan waktu itu.

Warung tutup jam 21.00  kami hitung hasil jualan hari itu. Kami harus  bisa menyisihkan sedikit untuk persiapan kebutuhan  kuliah. Uang sisa  kita habiskan untuk belanja warung. Begitu seterusnya. Itu, yang setiap hari kami kerjakan. Jadi hari-hari  terasa  sibuk, begitu berharganya waktu  sehari 24 jam  yang diberikan Tuhan. Kami harus berusaha  bisa untuk menyelesaikan semuanya dengan baik.  Kita tak boleh mengecewakan orang tua. Belajar, bekerja  dan berdoa (3b). Prinsip!.

Sebut saja Mas Eko,  mahasiswa  UPN jurusan pertambangan. Dia sudah pegawai  tapi tugas belajar. Salah satu langganan kami. Dia begitu naksir berat  adikku. Setiap ke warung pasti   dia membawa  teman-teman yang berbeda.  Seneng kita. Sebagai penjual  ada langganan yang setia.

Singkat cerita, akhirnya dia menyatakan ‘cintanya’ kepada adikku.  Setelah  minta persetujuan  saya. Ya, iyalah! : Jawabku.  Kami belum   berani kasih tahu orangtuaku. Biarlah  semua berjalan  layaknya air yang mengalir. Janganlah pacaran mengganggu kuliah dan usaha kami itu.  Pikir saya,  kalau  masa depan sudah jelas. Kenapa mesti di larang?.

Yu Tukini,  salah  satu yang membantu masak, kami anggap  sebagai kakak. Dia cantik, pintar masak . Suatu hari kakakku, anak dari bude ( kakaknya bapakku :Red).  Dia tinggal di Sumatra. Main di Jogya. Saat main di warungku dia naksir yu Tukini. Setiap hari ia datang. Dia setia  dan akhirnya jadi istrinya. Sebagai Orang terpelajar diapun pacaran tidak pernah neko-neko. Dia tidak pernah mengajaknya keluar, karena tugas utama yu Tukini adalah memasak di dapur. Setelah menikah Yu Yu Tukini  diboyong  ke Sumatra untuk jadi  istrinya. Kami semua senang keputusan ini

Saya kuliah di IKIP.   Calon guru. Waktu itu, guru  biasa dipandang ’sebelah mata’.  Kita masih ingat nyanyian ‘umar bakri’.  Dimana  lirik  lagu itu menceritakan tentang kehidupan guru yang  teramat sangat bersahaja dan hidup sederhana. Naik Sepeda bututnya. Indentik  dengan  kesengsaraan  dan penderitaan yang tak ada putusnya.  Itulah. Saya pun siap untuk dalam pengabdian seperti pak Umar. Karena guru adalah menjalankan tugas mulia. Guru harus bisa menjadi teladan. Guru punya rasa iklas  berbagi, rela memberi.  Guru  bagai  lilin yang rela terbakar untuk menyinari.

Pada suatu hari, saya di Ruang baca untuk  menyelesaikan tugas  dosen karena remidial mata kuliah Kalkulus 2, tiba-tiba ada orang yang menggesar tempat duduk untuk mendekatiku. Aku kaget dan terhentak!!. Dia  menebar  senyumnya dan menyorongkan tangannya ke arahku. Aku jadi  kaku dan gugup!. Aku   jadi salah tingkah melihat laki-laki itu.. Namaku Adi: “ Boleh berkenalan??!!. Dengan hati masih gugup kaku, aku menyodorkan tanganku. Eti....: jawabku  sekenanya. Boleh aku duduk di sini!: “ suara lelaki itu memohon.  Akhirnya  aku menganggukkan kepala, tanda setuju.

Dia  cerita kalau dia sering  melihat aku duduk sendiri di tempat yang sama.  Sudah lama ia memperhatikanku. Dia bilang aku yang selalu serius dan tekun.  Dan memuji banyak hal  tentang aku......aku merasa tersanjung, serasa  berdiri di atas awan dan tak injak tanah,.....aduh!!!  kalau aku jatuh, bisa mati ne ( pikirku dalam hati).....Aku jadi malu. Ternyata selama ini  ada saja orang yang  memperhatikanku. Di sepanjang hidupku belum ada orang yang memujiku. Aku hanya bisa nyengir antara percaya dan tidak. Mungkin  begitu perkataan laki-laki kalau ada maunya!.

Ternyata dia ikut kegiatan  pramuka dikampus. Padahal saya juga ikut kegiatan yang sama. Waktu itu  kami  belum berkenalan. Dengan begitu akhirnya ada perhatian. Nach!! Setelah kenalan  akhirnya jadi lebih  dekat dan lebih akrab. Dalam pramuka panggilan yang  lebih tua adalah kakak. Panggilan untuk  yang lebih muda adik. Mulai saat itu  akhirnya saya panggil dia dengan kak Adi. Ternyata dia  Pengurus, sebagai pemangku adat waktu itu.

Waktu terus berjalan. Dia selalu menyempatkan untuk menghampiriku dimana aku berada. Sebenarnya  aku  dilema. Pekerjaanku banyak. Tugas dan tanggungjawabku masih berat. Semua harus diselesaiakan. Tapi jujur. Jangan munafik deh, sebenarnya hatiku sudah  ‘jatuh’ karena dia. Tapi aku malu mengakuinya. Tugas utamaku lebih penting.

Saat  kak Adi begitu memperhatikanku. Saya seolah  merasa ’aku jadi berharga’. Aku jadi tersanjung.  Kebahagian selalu  ada. Hari-hari  terasa bermakna. Hidup pun terasa indah. Waktu kujalani dengan suka cita,. Pekerjaan kunikmati...yang penting...,  pekerjaan  berjalan sesuai target. Tapi aku harus ingat ‘satu hal’.  “Warungku!!” Itu janjiku untuk orang tuaku. Jangan karena pacaran semua berantakan. Mati!!. Wahh,  kalau warung  kurang  perhatian  bisa pelanggan setia akan pindah ke warung lain.  Berabe!! Bagaimana nanti nasibku dan adik-adikku.

Beruntung sekali saya pernah tinggal di asrama 4 tahun lamanya. Dari situ  kami banyak  belajar menghagai waktu yang ada. Waktu begitu berharga. Harus  kita gunakan dengan  baik jangan  digunakan hal yang sia-sia. Kak Adi adalah mahasia satu kampus cuma  jurusan yang berbeda. Dia di Fakultas Ekonomi jurusan Pendidikan dan Dunia Usaha ( PDU). Orang NTT. Dia yang selalu memotivasi saya. Dari semester 1 sampai  semester akhir dia dapat beasiswa. Hebat ya. Dia rajin menulis untuk lomba dan  dikirim ke koran atau majalah.  Begitu gigihnya  dia cari informasi-informasi hingga menguntungkan dia.

Seperti biasa dia menghampiri diperpustakaan.  Akhirnya dia membuka kartunya untuk saya. Ibu kos mau menjodohkan  putri kesayangannya ke dia. Hari mulai berganti. Selama  5 hari  aku  tak ketemu kak Adi. Ahh!! Jangan  berpikir tentang dia!!, : suara hati untuk menghibur diri. Jujur....aku  kok  jadi rindu padanya. Perasaanku terasa aneh!. Tidak seperti biasanya. Aku berusaha untuk  melupakan, kucoba dan terus kucoba!. Duhhh!!!, tak bisa!!. Ini kah yang namanya  cinta???. Aku  berusaha  untuk menyibukkan diriku  untuk pekerjaan dan tanggung jawabku. Kubuat diriku untuk  bersikap seperti biasa. Jangan karena ‘hal’ kecil  ini  mengganggu dan merusak  usaha dan kuliah saya!.

Saat  aku kuliah jam pertama  temanku Siwi berbisik padaku. “Tadi saya lihat ada surat  untukmu”: katanya padaku.  “Oh, ya!,Coba nanti tanya pak Tarmo, Sekretariat FMIPA”: jawabku bersemangat.  Karena kabar dari Siwi tadi, sepanjang kuliah jam itu aku jadi tidak bisa konsentrasi. Pikiran penuh penasaran. Hati tak karuan. Siapa gerangan???!!. Anehh! Jam kuliah pun habis. Akupun bergegas meninggalkan ruangan. Aku ngacirrr  menuju sekretariat. Betul!!  ternyata untukku!!. Disebaliknya tertulis Sip: Adi Chritian Muhu.  Dag dig dug hatiku gementar sambil mengambil surat itu. Dadaku  berdetak kencang!!. Jantung ikut berdebar!.

Apa  gerangan isi kabar di dalam??!! Tak mungkin aku membacanya di situ. Setelah mengucapkan trimakasih pada  pak Tarmo, penjaga Sekretariat. Aku segera meninggalkan tempat itu.  “Waduhh!! ku baca dimana surat ini ya” : kataku dalam hati yang bingung.  Kalau dibaca di warung tak mungkinlah, nanti  seluruh penghuni warung tahu bisa berabe. Mau di perpus siapa tahu kak Adi ada di sana., Ahh!!!....serba bingung!. Akhirnya  aku pergi menuju kapela dekat kampus. Aku duduk di teras dengan  dada berdetak kencang ku buka surat itu.

Ada tulisan sangat indah. Begitu tertata rapi. Satu per satu kubaca kata yang tertulis di kertas wangi warna pink dan bergambar bunga klasik itu. Bolehkah  aku  mengatakan ‘  perasaanku padamu? Ada  kata ‘maha penting’ yang harus  kusampaikan padamu. Aku mencintaimu,  aku ingin jadi pengawalmu.  Hanya itu tulisan di dalamnya. Dari  surat itu hatiku jadi tak karuan. Antara bingung, senang, jengkel, terharu....senang karena biar aku  ‘super cuek’ tapi ada saja orang yang  naksir aku.  Sedih!!  Kalau aku  pacaran pasti akan mengganggu seluruh rencana kerja dan cita-citaku. Oh Cinta!!!  Bikin Pusing ternyata!

 Kadang  saya idealis,  pacar adikku kalau datang dengan motor pribadinya. Hidup berkecukupan. Saya membayangkan, pasti hidup mereka nanti akan bahagia. Kebahagian seolah terukur dari materi yang dia sandang sekarang. Dia  tidak perhitungan untuk mengeluarkan uangnya. Kalau bayar makan uang kembalian  tak pernah diminta. Ya saya  memaklumi karena memang dia  tugas belajar. Dia sudah pegawai. Di pertambangan pula. Gaji gede. Mantapp!

Lahh11 Aku! Aku jadi membandingkan dengan kak Adi!. Dia orang jauh yang  penuh kesederhanaan. Dia kuliah biayanya berusaha  untuk cari beasiswa. Jujur sebenarnya aku bangga dengan kegigihannya.  Dia rajin menulis di koran-koran untuk mendapatkan uang. Kalau janjian makan, mbayar ya gantian. Kecuali pas dia dapat berkat, saya ditraktirnya.

 Yang membuat saya terharu, dia  cerita ke saya. Untuk biaya kuliah dan hidup di Jogya. Dia mengandalkan  bantuan. Dia  kirim  surat ke Ben Boi, waktu itu  penasehat  presiden dari NTT. Lukas Kaborang, Protokol  di Propinsi NTT. Supersemar dll. Dia selalu kirim Nilai (KRS) lengkap dengan IP –nya yang   intinya  memberitahukan bahwa  saya orang miskin dari NTT,  nyaris di Drop Out karena tak ada biaya tak ada. Sedih!!. Nach!, dari situ  akhirnya ada saja yang mengirimkan uang padanya.  Dengan adanya  dana yang terbatas setiap hari  dia naik sepeda kesayangannya. Sepeda itu dibelinya dari hasil uang tabungan yang  bisa ia sisihkan  dari  sisa uang makan dan uang kuliahnya.

 Bukan berarti ‘saya’  songong. Saya juga  bukan orang mampu. Bapak bilang, wong jawa kalau  cari jodoh perlu memikirkan “bobot”, ‘Bibit” dan”bebet”.  Hanya saya ‘belum siap’ memperkenalkan dia ke  penghuni warung, apalagi ke ortu. “ Tunggu waktu yang tepat. Sampai lama  saya memikirkan hal itu.  Dua tahun berjalan  tanpa siapapun yang tahu.  Saya berusaha sembunyi kalau saya  ada tambatan hati. Mbak Sri Saja  pacaran dengan kakak sepupuku anak dari budeku yang finansial tercukupi dan ‘keren’. Satu lagi , mbak Yur yang  tinggal bersamaku ada pacar  mas  Narto yang  kuliah  di Jakarta!. Nach aku!!. Aku terus beralasan jika kak Adi meminta untuk ke warungku. Apalagi untuk datang ke  rumah orang tuanku. Pernah satu kali ke warung. Tapi seolah  dia adalah teman mahasiswa biasa yang  pergi makan di warungku. Saya berusaha  buat senetral  mungkin supaya  penghuni warung  tidak tahu kalau dia pacarku.

Saya anak pertama, dia anak bungsu. Kata nenek  ‘abu’nya kita memang berbeda. Sikap pun pasti  beda. Saya anak pertama membutuhkan sosok  seorang kakak. Dia adalah anak bungsu  yang membutuhkan seorang adik. Begitu katanya.!! Saya pun merasa lebih ‘dewasa’ dari dia. Kita saling membutuhkan. Kita saling melengkapi. Cinta  terus tumbuh setiap hari.  Kita saling menghormati privasi masing masing.  Kita  biasa  curhat, sharing tentang suatu hal. Tentang kehidupan. Tentang masalah. Tentang  masa depan. Kebetulan dia suka menulis, jadi  wawasan luas  dan selalu bisa memberi solusi. Itu yang membuat saya semakin ‘membutuhkan’.

Akhirnya, waktupun tiba.  Aku  berani memperkenalkan ‘dia’ ke  penghuni warungku. Ke adik-adikku, mbak Yur, yu Tukini dan yu Tinuk.  Suasana jadi  tambah  rame. Aku  harus percaya diri. Akhirnya  mas Wahid pacar adikku kenal kak Adi.  Mereka jadi saling  menghargai, saling menghormati.  Semua  jadi penyemangat. Kita jadi merasa  bersaudara dan saling mendukung. Puji Tuhan, semua jadi berjalan lancar. Tak ada hambatan yang berarti  antara kuliah, usaha dan teman dekat. Kita semua saling memotivasi.

Aku dan kak Adi kuliah di  tempat yang sama Sanata Dharma. Adikku dik Rita UGM dan mas  wahid di UPN. Adikku Edi nomor tiga kuliah di UGM dan Istri juga Sanata Dharma. Terakhir!! Dik Rudi Atmajaya  istrinya  dari YKPN. Semua alumni Jogyakarta.  Suatu saat kita bisa napak tilas ke sana. Mengenang  waktu sama-sama kuliah. Jadi mahasiswa yang  penuh cerita. Ada suka cita. Ada duka lara, sengsara dan nestapa.  Aku, berempat: Eti Wuryani, Eli Wuryandari ,Edi Wuryanto  dan Rudi Wurdiyanto  adik bungsuku akhirnya  kami sudah hidup layak.

Trimakasih tak terhingga  kuucapkan, sekolah dan Kampusku yang membawa berkat.  Warungku yang jadi dewa penyelamat hingga menuju cita-cita. Kedua Orang tuaku yang  sudah  berkorban, bersusah payah menjadi donaturnya.  Yang tak kalah   penting adalah ‘Tuhan’ku yang  senantiasa  menuntunku, hingga  semuanya berjalan lancar dari awal hingga akhirnya.

Inilah Sepenggal cerita kisahku. Tentunya pasti berkah juga untuk teman semua yang pernah kuliah. Pasti punya cerita yang menarik!. Cerita yang unik!. Penuh kenangan. Trimakasih kampusku, karenamu membuatku jadi ‘berguna’.  Berguna untuk  pribadi, keluargaku, masyarakat, agama dan negaraku. Kini  saya adalah ASN  alias abdi negara yang  ditempatkan di salah satu pelosok Nusantara!. Yaitu Kota   Waingapu, Sumba Timur, sebuah kota kecil  di pulau  paling timur Indonesia.

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 35

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti

#Sabtu,11Juni2022

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...