Mungkin saja kisah
dan pengalaman hidupku ini biasa saja.
Bukan hal yang menarik. Namun aku selalu yakin bahwa setiap kisah perjalanan
kehidupan manusia, ada hikmah yang bisa diambil dan dipelajari. Semua
tergantung dari cara memberi makna atas peristiwa tersebut.
Pada suatu hari aku bertanya pada diri sendiri. Ingin Punya masa depan yang lebih baik? Ya sekolah!. Lulus SMA
saya harus kuliah. Bersama teman-teman rame-rame daftar Sipenmaru
(Seleksi penerimaan mahasiswa baru : Red) . Alhasil tidak lulus!. Hati kecewa!. Pasti!! Tak boleh patah semangat!, banyak
teman yang bernasib sama denganku. Akhirnya saya mendaftar di IKIP Sanata
Dharma. Puji Tuhan diterima!. Saya mengambil jurusan matematika. Pertimbangannya, jurusan itu pasti laku. Yah!,
kalau tidak jadi PNS berari bisa memberi
les privat. Bisa kerja di tempat bimbingan
belajar siswa. Modal bisa berhitung berarti bisa juga buka usaha
kecil, bisnis, misal buka warung. Fakultas matematika identik dengan
angka dan perhitungan.
Berani
Kuliah berarti berani berjuang untuk memenuhi segala kebutuhannya. Apapun!, dari
biaya kuliah, kos, kebutuhan hidup, buku sampai pada perlengkapan
lainnya. Orang tuaku hidup
sederhana, ayahku guru dan ibuku hanya di rumah saja. Gaji guru dulu tidak
seperti sekarang. Kalau hanya mengandalkan gaji, rasanya kurang. Apalagi untuk biaya sekolah
4 orang anak. Yah!! tak cukup, apalagi
sampai perguruan tinggi.
Saya
anak pertama dari 4 bersaudara. Orang
tua mengharapkan kami ‘harus’ sekolah di
Jogya. Apapun! Ayah dan ibuku berjanji akan ‘usaha’ dengan mengikat kencang pinggangnya. Biarlah yang di kampung hidup
sederhana, tapi anak-anak harus bisa sekolah dengan baik di kota. Itu harapan
besar orang tuaku. Janganlah hidupmu
nanti seperti orang tua sekarang.
Menurut cerita mereka sejak bapa dan ibu pacaran, mereka sudah bermimpi untuk anaknya bisa sekolah di
Jogya. Kota propinsi yang berjarak 40 km
dari kampungku. Semua!, Ya Semua anaknya harus di kota!”: kata bapak penuh harap.
Demi
mewujudkan mimpi itu, ibu akan
rajin kerja sawah. Menanam padi dan
sayur untuk dijual di pasar tradisonal dekat rumahku. Kami
hidup prihatin dan penuh kesederhanaan.
Kami menyadari tugas berat orang
tuaku untuk bisa menyekolahkan aku dan adik-adiku.
Kalau
kami kos pasti mahal. Tidak produktif!.
Akhirnya kami disewakan rumah. Kami
sulap rumah sederhana itu menjadi warung. Untuk melatih mandiri, ibu mengajariku
memasak. Maksudnya, supaya kami bisa kuliah dan biayanya diambil dari hasil jualan.
Akhirnya kami sepakat mengikuti ide orang tuaku.
Waktu SMA sampai kuliah semester 2 saya tinggal di
asrama. Tiga orang adikku kos.
Seijin orang tua, saya keluar dari asrama. Sebagai anak sulung aku
harus siap mendampingi mereka.Betapa besar
biaya hidup dan kebutuhan kami. Orang
tuaku melatih kami untuk mandiri.
Demi mimpikami apapun usaha dan kerja keras haruslah dilalui. Tak ada kesuksesan yang
diraih tanpa cucuran keringat dan air mata...Namun jika kita melakukannya
dengan penuh keikhlasan maka ...air mata kebahagiaan akan menggantikan semuanya...
Waktupun
berjalan seperti air yang mengalir. Orang tua di rumah. Kami 4 orang di Jogya bersama dengan warungku. Menu yang
kami jual nasi campur, bakso, dan soto. Warung
terletak di depan SMA De britto, karena kebetulan adikku nomor tiga
sekolah di situ. Sekolah Favorit, terkenal dan merupakan sekolah impian. Biaya
sekolahnya ‘lumayan’ mahal untuk ukuran
kami.
Pagi
bangun jam 01.00 untuk belanja di pasar dilanjutkan memasak . Pekerjaan kita nikmati
dengan suka cita. Kami berjuang
bersama-sama. Mbak Sri dan Yu Tinuk yang
selalu setia membantu kami. Mereka
menganggap kami seperti keluarga. Kami menghargai dan menghormati mereka. Tanpa
mereka warung kami pasti tidak bisa
berjalan dengan baik.
Orang
tuaku sudah bertanggung jawab, menyewa
mahal rumah itu. Mereka pinjam bank . Mereka pula yang menyicilnya. Saya bertanggungjawab untuk mencukupkan kebutuhan hidup dan sekolah kuliah
aku dan adik-adikku. Berat!!. Kita selalu
hidup dengan motivasi. Tak ada keberhasilan yang tanpa perjuangan. Hidup masa depan kita harus lebih baik dari
orang tua. Tentunya supaya kelak bisa
gantian membantu orang tua kalau
mereka sudah tidak berdaya.
Kami
harus pintar membagi waktu antara kuliah dan menjaga warung. Kampusku dekat, di jalan
gejayan. Kami jalan kaki ke kampus. Hanya
sebuah motor! Jadi pakai bergantian dengan penuh
pengertian. Jadwal kuliah kami tempel di tembok, begitupun adik-adikku. Tentunya supaya kita bisa
ada yang ‘jaga’ untuk melayani pembeli. Kami ber- moto, “pembeli
adalah raja”. Jangan mereka kecewa dengan pelayanan kita. Sekali kecewa
pelanggan
akan kapok. Mereka tak akan pernah datang lagi untuk belanja. Pelayanan, kebersihan dan rasa wajib diperhatikan. Senyum
ramah juga kita utamakan.
Jam istirahan
SMA De Brito jam 10.00. Pada Jam 09.00 kami sudah merasik bakso, soto
dan es jeruk, tes teh. Jam bel istirahat
berbunyi mereka terhambur menuju ke warung kami. Banyak langganan kami yang setia. Setiap hari
mereka datang. Nasi campur,Bakso soto
dengan harga pelajar. Yang
penting murah deh. Kami bahagia sekali menikmati kehidupan waktu itu.
Warung tutup
jam 21.00 kami hitung hasil jualan hari
itu. Kami harus bisa menyisihkan sedikit
untuk persiapan kebutuhan kuliah. Uang
sisa kita habiskan untuk belanja warung.
Begitu seterusnya. Itu, yang setiap hari kami kerjakan. Jadi hari-hari terasa
sibuk, begitu berharganya waktu
sehari 24 jam yang diberikan
Tuhan. Kami harus berusaha bisa untuk
menyelesaikan semuanya dengan baik. Kita
tak boleh mengecewakan orang tua. Belajar, bekerja dan berdoa (3b). Prinsip!.
Sebut saja Mas
Eko, mahasiswa
UPN jurusan pertambangan. Dia sudah pegawai tapi tugas belajar. Salah satu langganan
kami. Dia begitu naksir berat adikku. Setiap
ke warung pasti dia membawa teman-teman yang berbeda. Seneng kita. Sebagai penjual ada langganan yang setia.
Singkat cerita,
akhirnya dia menyatakan ‘cintanya’ kepada adikku. Setelah
minta persetujuan saya. Ya,
iyalah! : Jawabku. Kami belum berani kasih tahu orangtuaku. Biarlah semua berjalan
layaknya air yang mengalir. Janganlah pacaran mengganggu kuliah dan
usaha kami itu. Pikir saya, kalau masa
depan sudah jelas. Kenapa mesti di larang?.
Yu Tukini, salah
satu yang membantu masak, kami anggap
sebagai kakak. Dia cantik, pintar masak . Suatu hari kakakku, anak dari
bude ( kakaknya bapakku :Red). Dia
tinggal di Sumatra. Main
di Jogya. Saat main di warungku dia naksir yu Tukini. Setiap hari ia datang.
Dia setia dan akhirnya jadi istrinya. Sebagai
Orang terpelajar diapun pacaran tidak pernah neko-neko. Dia tidak pernah
mengajaknya keluar, karena tugas utama yu Tukini adalah memasak di dapur.
Setelah menikah Yu Yu Tukini diboyong ke Sumatra untuk jadi istrinya. Kami semua senang keputusan ini
Saya kuliah di
IKIP. Calon guru. Waktu itu, guru biasa dipandang ’sebelah mata’. Kita masih ingat nyanyian ‘umar bakri’. Dimana
lirik lagu itu menceritakan
tentang kehidupan guru yang teramat
sangat bersahaja dan hidup sederhana. Naik Sepeda bututnya. Indentik dengan
kesengsaraan dan penderitaan yang
tak ada putusnya. Itulah. Saya pun siap
untuk dalam pengabdian seperti pak Umar. Karena guru adalah menjalankan
tugas mulia. Guru harus bisa menjadi teladan. Guru punya rasa iklas berbagi, rela memberi. Guru
bagai lilin yang rela terbakar
untuk menyinari.
Pada
suatu
hari, saya
di Ruang baca untuk menyelesaikan tugas dosen karena remidial mata kuliah Kalkulus 2,
tiba-tiba ada orang yang menggesar tempat duduk untuk mendekatiku. Aku kaget
dan terhentak!!. Dia menebar senyumnya dan menyorongkan tangannya ke
arahku. Aku jadi kaku dan gugup!. Aku jadi salah tingkah melihat laki-laki itu..
Namaku Adi: “ Boleh berkenalan??!!. Dengan hati masih gugup kaku, aku menyodorkan
tanganku. Eti....: jawabku sekenanya.
Boleh aku duduk di sini!: “ suara lelaki itu memohon. Akhirnya
aku menganggukkan kepala, tanda setuju.
Dia cerita kalau dia sering melihat aku duduk sendiri di tempat yang
sama. Sudah lama ia memperhatikanku. Dia
bilang aku yang selalu serius dan tekun.
Dan memuji banyak hal tentang aku......aku
merasa tersanjung, serasa berdiri di
atas awan dan tak injak tanah,.....aduh!!!
kalau aku jatuh, bisa mati ne ( pikirku dalam hati).....Aku jadi malu.
Ternyata selama ini ada saja orang
yang memperhatikanku. Di sepanjang
hidupku belum ada orang yang memujiku. Aku hanya bisa nyengir antara percaya
dan tidak. Mungkin begitu perkataan
laki-laki kalau ada maunya!.
Ternyata dia
ikut kegiatan pramuka dikampus. Padahal
saya juga ikut kegiatan yang sama. Waktu itu
kami belum berkenalan. Dengan
begitu akhirnya
ada perhatian.
Nach!! Setelah kenalan akhirnya jadi
lebih dekat dan lebih akrab. Dalam
pramuka panggilan yang lebih tua adalah
kakak. Panggilan untuk yang lebih muda adik. Mulai saat itu akhirnya saya panggil dia dengan kak Adi.
Ternyata dia Pengurus, sebagai pemangku
adat waktu
itu.
Waktu terus
berjalan. Dia selalu menyempatkan untuk menghampiriku dimana aku berada.
Sebenarnya aku dilema. Pekerjaanku banyak. Tugas dan
tanggungjawabku masih berat. Semua harus diselesaiakan. Tapi jujur. Jangan
munafik deh, sebenarnya hatiku sudah ‘jatuh’
karena dia. Tapi aku malu mengakuinya. Tugas utamaku lebih penting.
Saat kak Adi begitu memperhatikanku. Saya
seolah merasa ’aku jadi berharga’. Aku
jadi tersanjung. Kebahagian selalu ada. Hari-hari terasa bermakna. Hidup pun terasa indah.
Waktu kujalani dengan suka cita,. Pekerjaan kunikmati...yang penting..., pekerjaan
berjalan sesuai target. Tapi aku harus ingat ‘satu hal’. “Warungku!!” Itu janjiku untuk orang tuaku.
Jangan karena pacaran semua berantakan. Mati!!. Wahh, kalau warung
kurang perhatian bisa pelanggan setia akan
pindah ke warung lain. Berabe!! Bagaimana nanti nasibku dan
adik-adikku.
Beruntung
sekali saya pernah tinggal di asrama 4 tahun lamanya. Dari situ kami banyak
belajar menghagai waktu yang ada. Waktu begitu berharga. Harus kita gunakan dengan baik jangan
digunakan hal yang sia-sia. Kak Adi adalah mahasia satu kampus cuma jurusan yang berbeda. Dia di Fakultas Ekonomi
jurusan Pendidikan dan Dunia Usaha ( PDU). Orang NTT. Dia yang selalu memotivasi
saya. Dari semester 1 sampai semester
akhir dia dapat beasiswa. Hebat ya.
Dia rajin menulis untuk lomba dan
dikirim ke koran atau majalah. Begitu gigihnya dia cari informasi-informasi hingga
menguntungkan dia.
Seperti biasa
dia menghampiri diperpustakaan. Akhirnya
dia membuka kartunya untuk saya. Ibu kos mau menjodohkan putri kesayangannya ke dia. Hari mulai
berganti. Selama 5 hari aku
tak ketemu kak Adi. Ahh!! Jangan
berpikir tentang dia!!, : suara hati untuk menghibur diri. Jujur....aku kok
jadi rindu padanya. Perasaanku terasa aneh!. Tidak seperti biasanya. Aku
berusaha untuk melupakan, kucoba dan
terus kucoba!. Duhhh!!!, tak bisa!!. Ini kah yang namanya cinta???. Aku
berusaha untuk menyibukkan
diriku untuk pekerjaan dan tanggung
jawabku. Kubuat diriku untuk bersikap
seperti biasa. Jangan karena ‘hal’ kecil
ini mengganggu dan merusak usaha dan kuliah saya!.
Saat aku kuliah jam pertama temanku Siwi berbisik padaku. “Tadi saya
lihat ada surat untukmu”: katanya padaku. “Oh, ya!,Coba nanti tanya pak Tarmo,
Sekretariat FMIPA”: jawabku
bersemangat. Karena kabar dari Siwi tadi,
sepanjang kuliah jam itu aku jadi tidak bisa konsentrasi. Pikiran penuh
penasaran. Hati tak karuan. Siapa gerangan???!!. Anehh! Jam kuliah pun habis.
Akupun bergegas meninggalkan ruangan. Aku ngacirrr menuju sekretariat. Betul!! ternyata untukku!!. Disebaliknya tertulis Sip:
Adi Chritian Muhu. Dag dig dug hatiku
gementar sambil mengambil surat itu. Dadaku
berdetak kencang!!. Jantung ikut berdebar!.
Apa gerangan isi kabar di dalam??!! Tak mungkin
aku membacanya di situ. Setelah mengucapkan trimakasih pada pak Tarmo, penjaga Sekretariat. Aku segera
meninggalkan tempat itu. “Waduhh!! ku
baca dimana surat ini ya” : kataku dalam hati yang bingung. Kalau dibaca di warung tak mungkinlah,
nanti seluruh penghuni warung tahu bisa
berabe. Mau di perpus siapa tahu kak Adi ada di sana., Ahh!!!....serba
bingung!. Akhirnya aku pergi menuju
kapela dekat kampus. Aku duduk di teras dengan
dada berdetak kencang ku buka surat itu.
Ada tulisan
sangat indah. Begitu tertata rapi. Satu per satu kubaca kata yang tertulis di
kertas wangi warna pink dan bergambar bunga klasik itu. Bolehkah aku
mengatakan ‘ perasaanku padamu? Ada kata ‘maha penting’ yang harus kusampaikan padamu. Aku mencintaimu, aku ingin jadi pengawalmu. Hanya itu tulisan di dalamnya. Dari surat itu hatiku jadi tak karuan. Antara
bingung, senang, jengkel, terharu....senang karena biar aku ‘super cuek’ tapi ada saja orang yang naksir aku.
Sedih!! Kalau aku pacaran pasti akan mengganggu seluruh rencana
kerja dan cita-citaku. Oh Cinta!!! Bikin
Pusing ternyata!
Kadang
saya idealis, pacar adikku kalau datang
dengan motor pribadinya. Hidup berkecukupan. Saya membayangkan, pasti hidup
mereka nanti akan bahagia. Kebahagian seolah terukur dari materi yang dia
sandang sekarang. Dia tidak perhitungan
untuk mengeluarkan uangnya. Kalau bayar makan uang kembalian tak pernah diminta. Ya saya memaklumi karena memang dia tugas belajar. Dia sudah pegawai. Di
pertambangan pula. Gaji gede. Mantapp!
Lahh11 Aku! Aku
jadi membandingkan dengan kak Adi!. Dia orang jauh yang penuh kesederhanaan. Dia kuliah biayanya berusaha
untuk cari beasiswa. Jujur sebenarnya
aku bangga dengan kegigihannya. Dia rajin
menulis di koran-koran untuk mendapatkan uang. Kalau janjian makan, mbayar ya
gantian. Kecuali pas dia dapat berkat, saya ditraktirnya.
Yang membuat saya terharu, dia cerita ke saya. Untuk biaya kuliah dan hidup
di Jogya. Dia mengandalkan bantuan. Dia kirim surat
ke Ben Boi, waktu itu penasehat presiden dari NTT. Lukas Kaborang,
Protokol di Propinsi NTT. Supersemar dll.
Dia selalu kirim Nilai (KRS) lengkap dengan IP –nya yang intinya
memberitahukan bahwa saya orang
miskin dari NTT, nyaris di Drop Out
karena tak ada biaya tak ada. Sedih!!. Nach!, dari situ akhirnya ada saja yang mengirimkan uang
padanya. Dengan adanya dana yang terbatas setiap hari dia naik sepeda kesayangannya. Sepeda itu
dibelinya dari hasil uang tabungan yang
bisa ia sisihkan dari sisa uang makan dan uang kuliahnya.
Bukan berarti ‘saya’ songong. Saya juga bukan orang mampu. Bapak
bilang, wong
jawa kalau cari jodoh perlu memikirkan “bobot”, ‘Bibit”
dan”bebet”. Hanya saya ‘belum siap’
memperkenalkan dia ke penghuni warung,
apalagi ke ortu. “ Tunggu waktu yang tepat. Sampai lama saya memikirkan hal itu. Dua tahun berjalan tanpa siapapun yang tahu. Saya berusaha sembunyi kalau saya ada tambatan hati. Mbak Sri Saja pacaran dengan kakak sepupuku anak dari
budeku yang finansial tercukupi dan ‘keren’. Satu lagi , mbak Yur yang tinggal bersamaku ada pacar mas
Narto yang kuliah di Jakarta!. Nach aku!!. Aku terus beralasan
jika kak Adi meminta untuk ke warungku. Apalagi untuk datang ke rumah orang tuanku. Pernah satu kali ke
warung. Tapi seolah dia adalah teman mahasiswa
biasa yang pergi makan di warungku. Saya
berusaha buat senetral mungkin supaya penghuni warung tidak tahu kalau dia pacarku.
Saya anak
pertama, dia anak bungsu. Kata nenek
‘abu’nya kita memang berbeda. Sikap pun pasti beda. Saya anak pertama membutuhkan sosok seorang kakak. Dia adalah anak bungsu yang membutuhkan seorang adik. Begitu katanya.!!
Saya pun merasa lebih ‘dewasa’ dari dia. Kita saling membutuhkan. Kita saling
melengkapi. Cinta terus tumbuh setiap
hari. Kita saling menghormati privasi
masing masing. Kita biasa
curhat, sharing tentang suatu hal. Tentang kehidupan. Tentang masalah. Tentang
masa depan. Kebetulan dia suka menulis,
jadi wawasan luas dan selalu bisa memberi solusi. Itu yang
membuat saya semakin ‘membutuhkan’.
Akhirnya, waktupun tiba. Aku
berani memperkenalkan ‘dia’ ke
penghuni warungku. Ke adik-adikku, mbak Yur, yu Tukini dan yu
Tinuk. Suasana jadi tambah
rame. Aku harus percaya diri.
Akhirnya mas Wahid pacar adikku kenal
kak Adi. Mereka jadi saling menghargai, saling menghormati. Semua
jadi penyemangat. Kita jadi merasa
bersaudara dan saling mendukung. Puji Tuhan, semua jadi berjalan lancar.
Tak ada hambatan yang berarti antara kuliah,
usaha dan teman dekat. Kita semua saling memotivasi.
Aku dan kak Adi
kuliah di tempat yang sama Sanata
Dharma. Adikku dik Rita UGM dan mas
wahid di UPN. Adikku Edi nomor tiga kuliah di UGM dan Istri juga Sanata
Dharma. Terakhir!! Dik Rudi Atmajaya istrinya dari YKPN. Semua alumni Jogyakarta. Suatu saat kita bisa napak tilas ke sana.
Mengenang waktu sama-sama kuliah. Jadi
mahasiswa yang penuh cerita. Ada suka
cita. Ada duka lara, sengsara dan nestapa.
Aku, berempat: Eti Wuryani, Eli Wuryandari ,Edi Wuryanto dan Rudi Wurdiyanto adik bungsuku akhirnya kami sudah hidup layak.
Trimakasih tak terhingga
kuucapkan,
sekolah dan Kampusku yang membawa
berkat. Warungku yang jadi dewa
penyelamat hingga menuju cita-cita. Kedua Orang tuaku yang sudah
berkorban, bersusah payah menjadi donaturnya. Yang tak kalah penting adalah ‘Tuhan’ku yang senantiasa
menuntunku, hingga semuanya
berjalan lancar dari awal hingga akhirnya.
Inilah Sepenggal cerita kisahku. Tentunya pasti berkah juga
untuk teman semua yang pernah kuliah. Pasti punya cerita yang menarik!. Cerita
yang unik!. Penuh kenangan. Trimakasih kampusku, karenamu membuatku jadi
‘berguna’. Berguna untuk pribadi, keluargaku, masyarakat, agama dan
negaraku. Kini saya adalah ASN alias abdi negara yang ditempatkan di salah satu pelosok Nusantara!. Yaitu Kota Waingapu, Sumba Timur, sebuah
kota kecil di
pulau paling timur Indonesia.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge
- 35
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Sabtu,11Juni2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar