Sabtu, 11 Juni 2022

GURU UJUNG TOMBAK KEBERHASILAN MUTU PENDIDIKAN

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

 

          Jika  kita  melihat  kemajuan  pembelajaran di sekolah  pada khususnya  dan pendidikan pada umumnya,  sebagai  guru kita  tersentuh  untuk mengangkat  masalah ini  atau  bahkan kita  ingin ikut andil bagaimana  kita  bisa  berpartisipasi  dalam memajukan pendidikan, karena guru  yang  berperan dan terjun langsung  di lapangan. Berhasil atau  tidaknya peserta didik  sangat  dipegaruhi  oleh  SDM  dan pengalaman  guru  dalam  proses belajar mengajar  di sekolah.

          PISA ( Programme  for  International   Student Assesment ) pada Tahun  2006 , menunjukkan  bahwa  Indonesia  menempati  urutan  ke -50  dalam melek Ilmiah, ke 28  dalam melek  huruf   dan  ke -50  dalam  melek  matematika  dari 57  negara. ( Kompas, 5 Juli  2010).

          Data  yang  diambil   dari  brosur  diatas   secara  tak langsung  mengarah  kepada peran guru  sebagai ujung  tombak  pendidikan. Di Indonesia  sendiri  memang ada  berbagai tipe guru. Ada guru yang benar- benar menjadikan  mengajar  sebagai  hobi,  ada juga  yang  sekedar  menjalankan  profesi  bahkan  ada juga  yang  karena pelarian atau terpaksa. Jadi  gurupun  berbeda-beda  gaya  dan  cara   mengajar.  Ada  guru  yang professional. Ada guru kurang profesional.  Seorang guru ada juga yang  menyampaikan materi  lurus-lurus, searah  tanpa improvisasi. Hal ini  murid jsdinya hanya  duduk manis  tak berkedit   mendengarkan  guru berbicara.  Alhasil murid bosan bahkan  mungkin  murid jadi  menguap karena  mengantuk. Memang banyak juga  guru  yang benar-benar  mempunyai  hobi  mengajar.  Guru  yang punya kesadaran  datang ke sekolah  dengan  tujuan  bagaimana  agar murid paham  dan menikmati  pelajaran  yang  ia  bawakan. Bukan  sekedar  bagaimana  tugas  mengajar  dapat  terselesaikan  dengan cepat.

           

Dalam menentukan keberhasil seorang siswa dalam belajar banyak factor yang menentukan. Namun dalam perdebatan sehari-hari yang sering kita dengar atau kita saksikan bahwa keberhasilan atau kemerosotan mutu pendidikan di negeri tercinta ini sangat dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain:

Pertama, guru yang mengajarkan mata pelajaran tertentu sering kali memiliki latar belakang pendidikan yang tidak sesuai dengan ilmu yang diajarkan. Dengan kata lain guru  tidak menguasai materi yang diajarkan dengan begitu  guru mengajar hanya asal-asalan saja. Akibat lebih jauh tentu saja siswa  tidak akan memiliki kompetensi sesuai dengan tuntutan kurikulum.

          Kedua, pengangkatan guru yang dilakukan oleh Pemda atau Yayasan  tidak sesuai dengan kebutuhan sekolah. Sehingga ada guru yang mubasir alias tidak terpakai karena terlalu banyak guru atau ada guru yang tidak sesuai dengan bidang keahlianya. Ada kalanya juga sekolah tertentu mengalami kelebihan guru sementara di sekolah lain kekurangan guru, sehingga menyebabkan terjadinya ketimpangan penyebaran guru yang tidak merata di suatu daerah tertentu.

          Ketiga, sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai. Salah satu standar dari delapan standar pendidikan di Indonesia adalah Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan. Walaupun standar minimal  sudah ditentukan mengenai layak atau tidaknya sebuah sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan yang layak dan bermutu, namun penerapannya mengalami kendala klasik ‘kurang’  dana. Bagaimana mungkin sebuah sekolah menghasilkan siswa yang bermutu kalau buku saja tidak dimiliki oleh siswa? Ataukah seorang siswa hanya mengharapkan ilmu yang ditranfer guru yang juga kekurangan fasilitas dan kreativitas dalam mengajar ? Jawabnya tentu saja tidak !

 

 

Pentingnya Mutu Pendidikan

          Pengertian mutu dapat pendidikan dapat dibagi menjadi  dua yaitu, mutu tamatan  berupa prestasi akademik misalnya nilai Ujian Nasional,  Lomba Karya Ilmiah Remaja, Lomba Sains dan Olimpiade. Di samping itu mutu tamatan non akademik seperti keingintahuan siswa yang tinggi, harga diri, kejujuran, kerjasama yang baik, rasa sayang yang tinggi terhadap sesama, solidaritas, toleransi kerajinan, prestasi olah raga dan keterampilan.

         

Ada dua alasan utama mengapa mutu pendidikan sangat penting.

 

Pertama, sekolah sebagai sebuah lembaga mempunyai tugas dan peran  menyiapkan tamatan untuk lebih mampu berpikir secara lebih dewasa dan menyiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,

          Kedua, ada sistem nilai yang diterapkan oleh dunia kerja yang menyangkut perilaku, tepat waktu, kecepatan pelayanan, etos kerja yang tinggi, disiplin kerja, perilaku bisnis yang “profit oriented” menjadi sistem nilai yang ditanamkan dan dikembangkan di suatu lembaga pendidikan dalam rangka menghadapi era globalisasi yang semakin rumit dan kompetitif.

 

Peranan Guru     

          Salah satu tugas pokok guru adalah merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, dan pembimbingan bagi peserta didiknya. Guru yang baik dan professional harus mampu mengorganisasi dan mengkoordinasi berbagai sumber pendidikan yang tersedia di sekolahnya.  Guru harus mampu memberikan  motivasi bagi peserta didiknya untuk berprestasi dalam belajar. Tugas utama seorang guru bukan hanya semata-mata mengajar siswa di kelas, tetapi lebih jauh dari itu “memanusiakan manusia muda” seperti yang  pernah dikemukakan oleh  Driyarkara (1972). Oleh karena itu guru harus mampu melakukan inovasi dan kreatif dalam merencanakan  dan mengkonsepkan program pendidikan dan pengajaran sehingga mencapai hasil yang diharapkan.

          Oleh karena itu guru dituntut memiliki kemampuan dan peranan yang strategis dalam mengembangkan dan memajukan mutu siswa yang diajarnya.

 

Guru memiliki paling sedikit tiga peranan, yaitu:

1.    Memiliki wawasan yang jauh ke depan  (visi) dan tahu tindakan apa yang seharusnya dilakukan (misi) untuk mencapai tujuan dan memahami  secara baik dan benar mengenai cara yang akan dilakukan  untuk mencapai tujuan itu.

2.    Seorang guru yang professional menurut Lipoto (1988) peranan guru adalah sebagai symbol dan teladan, motivator, fasilitator, wirausaha, penyebar informasi menangani gangguan bagi anak didiknya.

3.    Menurut Sayfiddin (2007) guru professional harus mampu mengembangkan kompetensi  yang meliputi antara lain, senantiasa melakukan pengembangan diri seperti banyak membaca, mengikuti pendidikan dan pelatihan yang dapat meningkat kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman.

 

Apabila peran tersebut benar-benar dilakukan oleh guru dapat diharapkan kelemahan-kelemahan dalam penyelenggaraan pendidikan dapat dieliminir, sehingga mutu pengajaran dan pendidikan yang diharapkan sungguh-sungguh dapai dicapai. Itu  Harapan. Semoga ! . 

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 36

#Rumah literasi PMA

#LedwinaEtiWuryani 

#Minggu,12 Juni2022

 

         

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...