Oleh : Ledwina Eti Wuryani,
S.Pd
Jika kita melihat
kemajuan pembelajaran di
sekolah pada khususnya dan pendidikan pada umumnya, sebagai
guru kita tersentuh untuk mengangkat masalah ini
atau bahkan kita ingin ikut andil bagaimana kita
bisa berpartisipasi dalam memajukan pendidikan, karena guru yang
berperan dan terjun langsung di
lapangan. Berhasil atau tidaknya peserta
didik sangat dipegaruhi
oleh SDM dan pengalaman guru
dalam proses belajar
mengajar di sekolah.
PISA ( Programme
for International Student Assesment ) pada Tahun 2006 , menunjukkan bahwa
Indonesia menempati urutan
ke -50 dalam melek Ilmiah, ke
28 dalam melek huruf
dan ke -50 dalam
melek matematika dari 57
negara. ( Kompas, 5 Juli 2010).
Data yang diambil
dari brosur diatas
secara tak langsung mengarah
kepada peran guru sebagai
ujung tombak pendidikan. Di Indonesia sendiri
memang ada berbagai tipe guru. Ada
guru yang benar- benar menjadikan
mengajar sebagai hobi,
ada juga yang sekedar
menjalankan profesi bahkan
ada juga yang karena pelarian atau terpaksa. Jadi
gurupun berbeda-beda gaya
dan cara mengajar. Ada
guru yang professional. Ada guru
kurang profesional. Seorang guru ada
juga yang menyampaikan materi lurus-lurus, searah tanpa improvisasi. Hal ini murid jsdinya hanya duduk manis
tak berkedit mendengarkan guru berbicara. Alhasil murid bosan bahkan mungkin
murid jadi menguap karena mengantuk. Memang banyak juga guru
yang benar-benar mempunyai hobi
mengajar. Guru yang punya kesadaran datang ke sekolah dengan
tujuan bagaimana agar murid paham dan menikmati
pelajaran yang ia
bawakan. Bukan sekedar bagaimana
tugas mengajar dapat
terselesaikan dengan cepat.
Dalam
menentukan keberhasil seorang siswa dalam belajar banyak factor yang
menentukan. Namun dalam perdebatan sehari-hari yang sering kita dengar atau
kita saksikan bahwa keberhasilan atau kemerosotan mutu pendidikan di negeri
tercinta ini sangat dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain:
Pertama, guru
yang mengajarkan mata pelajaran tertentu sering kali memiliki latar belakang
pendidikan yang tidak sesuai dengan ilmu yang diajarkan. Dengan kata lain
guru tidak menguasai materi yang diajarkan
dengan begitu guru mengajar hanya
asal-asalan saja. Akibat lebih jauh tentu saja siswa tidak akan memiliki kompetensi sesuai dengan
tuntutan kurikulum.
Kedua, pengangkatan guru yang dilakukan oleh Pemda atau
Yayasan tidak sesuai dengan kebutuhan
sekolah. Sehingga ada guru yang mubasir alias tidak terpakai karena terlalu
banyak guru atau ada guru yang tidak sesuai dengan bidang keahlianya.
Ketiga, sarana dan prasarana pendidikan yang kurang
memadai. Salah satu standar dari delapan standar pendidikan di
Pentingnya Mutu Pendidikan
Pengertian mutu dapat pendidikan dapat dibagi menjadi dua yaitu, mutu tamatan berupa prestasi akademik misalnya nilai Ujian
Nasional, Lomba Karya Ilmiah Remaja,
Lomba Sains dan Olimpiade. Di samping itu mutu tamatan non akademik seperti
keingintahuan siswa yang tinggi, harga diri, kejujuran, kerjasama yang baik,
rasa sayang yang tinggi terhadap sesama, solidaritas, toleransi kerajinan,
prestasi olah raga dan keterampilan.
Ada dua alasan utama
mengapa mutu pendidikan sangat penting.
Pertama,
sekolah sebagai sebuah lembaga mempunyai tugas dan peran menyiapkan tamatan untuk lebih mampu berpikir
secara lebih dewasa dan menyiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi,
Kedua, ada sistem nilai yang diterapkan oleh dunia kerja
yang menyangkut perilaku, tepat waktu, kecepatan pelayanan, etos kerja yang
tinggi, disiplin kerja, perilaku bisnis yang “profit oriented” menjadi sistem
nilai yang ditanamkan dan dikembangkan di suatu lembaga pendidikan dalam rangka
menghadapi era globalisasi yang semakin rumit dan kompetitif.
Peranan Guru
Salah satu tugas pokok
guru adalah merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, dan pembimbingan
bagi peserta didiknya. Guru yang baik dan professional harus mampu
mengorganisasi dan mengkoordinasi berbagai sumber pendidikan yang tersedia di
sekolahnya. Guru harus mampu
memberikan motivasi bagi peserta didiknya
untuk berprestasi dalam belajar. Tugas utama seorang guru bukan hanya
semata-mata mengajar siswa di kelas, tetapi lebih jauh dari itu “memanusiakan
manusia muda” seperti yang pernah
dikemukakan oleh Driyarkara (1972). Oleh
karena itu guru harus mampu melakukan inovasi dan kreatif dalam merencanakan dan mengkonsepkan program pendidikan dan pengajaran
sehingga mencapai hasil yang diharapkan.
Oleh karena itu guru dituntut memiliki kemampuan dan
peranan yang strategis dalam mengembangkan dan memajukan mutu siswa yang
diajarnya.
Guru memiliki paling
sedikit tiga peranan, yaitu:
1. Memiliki wawasan yang jauh
ke depan (visi) dan tahu tindakan apa
yang seharusnya dilakukan (misi) untuk mencapai tujuan dan memahami secara baik dan benar mengenai cara yang akan
dilakukan untuk mencapai tujuan itu.
2. Seorang guru yang
professional menurut Lipoto (1988) peranan guru adalah sebagai symbol dan
teladan, motivator, fasilitator, wirausaha, penyebar informasi menangani
gangguan bagi anak didiknya.
3. Menurut Sayfiddin (2007)
guru professional harus mampu mengembangkan kompetensi yang meliputi antara lain, senantiasa
melakukan pengembangan diri seperti banyak membaca, mengikuti pendidikan dan
pelatihan yang dapat meningkat kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman.
Apabila peran
tersebut benar-benar dilakukan oleh guru dapat diharapkan kelemahan-kelemahan dalam
penyelenggaraan pendidikan dapat dieliminir, sehingga mutu pengajaran dan
pendidikan yang diharapkan sungguh-sungguh dapai dicapai. Itu Harapan. Semoga ! .
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 36
#Rumah literasi PMA
#LedwinaEtiWuryani
#Minggu,12 Juni2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar