Sabtu, 11 Juni 2022

A37. MENGUKIR SEJARAH Day 37

 

 


 

Hiduplah seolah engkau mati besok. Belajarlah seolah Engkau hidup selamanya  (Mahadma Gandhi)

 

            Kata-kata diatas begitu indah dan menarik hatiku. Benarlah belajarlah seolah engkau hidup selamanya. Di rumah kita belajar, disekolah kita belajar di mana saja  itu adalah ‘sekolah’. Belajar tentang kehidupan.  Sebagai penulis pemula  yang  ilmunya  masih seujung kuku. Ingin  terus  konsisten belajar menulis supaya hidup bermakna bagi sesama.  Betapa bangga kelak diakhirat jika karya kita  berguna atau bermanfaat untuk  anak-cucu kita dan dikenang sepanjang masa.

 

Saya belum jadi penulis. Saya juga bukan siapa-siapa di Agupena. Sebuah  kebanggaan saya bisa bergabung menulis bersama  para pakar menulis  di AGUPENA pusat. (Agupena= Asosiasi guru penulis Indonesia: red ).  Hal ini akan menjadi kenangan  yang tak akan  terlupa sepanjang nafas masih ada.

 

Hehe.... Ibu Ledwina Eti (saya)  bercerita jadi humas Agupena online suka dan dukanya (tunjuk bunda Lilis kepada saya). Ibu Yosefine Klau bercerita tentang mendadak tenar menjadi moderator pada diklat Agupena.  Pak Yolis bercerita tentang Tilong di bawa ke kancah Nasional. Bunda Lilis  sang motivator dan kepaka bidang perbukuan dan pelatihan Agupena  pusat  menulis tentang ‘ Menulis Semudah ceplok Telur”.“Teman-teman  tim tak usah repot-repot ambil yang ada di bank tabungan naskah seperti yang sudah saya sarankan”,  kata bunda Lilis.  Baik yang punya bank naskah lah kalau tidak ada seperti saya?

 

              Padahal saat ini saya sementara menulis tentang “ Menjawab tantangan  menulis setiap hari”. Callenge ini diadakan oleh Rumah Literasi PMA. Menulis setiap hari menjadi tantangan tersendiri. Begitu banyak hal yang sebenarnya bisa kita tuliskan namun kadang ada rasa ragu, takut, tidak percaya diri untuk menuangkan tulisan saya sendiri. Semoga dengan mengikuti Challenge ini bisa menambah wawasan dan bisa terus belajar menjemput peluang.

 

Untuk menulis harus  latihan komitmen. Mempunyai target. Tidak boleh ada alasan. Hilangkan alasan sibuk,  tak punya waktu, tak percaya diri, tak tahu cara memulai atau yang lainnya. Teruslah menulis, dan menulis. Sungguh tidak ada tulisan yang jelek. Selagi tulisan kita  berisi hal-hal yang positif, apapun kemasannya, tulisan itu tetaplah  tulisan bernilai. Semua perlu proses, tak ada yang instan. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya biarlah tulisanmu menemukan takdirnya.

            Benar, ternyata setelah  rajin mengikuti  komunitas, kita  mendapatkan banyak  ilmu menulis. Dengan ikut komunitas  jadi banyak teman menulis, untuk saling berbagi dan iklas memberi. Saling melengkapi dan saling membutuhkan.

            Sungguh saya tak pernah membayangkan sama sekali tiba-tiba saya didaulat menjadi moderator. Jadi moderator diklat Agupena Pusat, padahal saya tidak pernah punya ilmu khusus. Tak punya latar belakang pendidikan. Hanya ‘modal nekad’ dan motivasi dari seorang teman. Itu adalah sebuah kebanggaan yang luar bisa bagi pribadi saya. Mungkin hal itu sudah sangat biasa bagi orang lain.  Tapi luar biasa buatku.

Kadang saya  merasa dipandang dengan sebelah mata, dipandang rendah dan tak berharga. Begitulah ada saja orang melihat saya. Dengan begitu saya sering menangis dalam doa. Tentunya agar saya selalu sabar dan tabah menghadapi hidup. Tuhan yang selalu menuntun saya, memegang tangan saya dengan erat. Ternyata dengan dipandang rendah justru membuat saya jadi lebih dewasa dan sabar.

            Daripada  aku sia-siakan waktu untuk meratapi hidup dan mengeluh akhirnya  aku mencoba menulis. Menulis apa saja yang ada diotakku. Kalau sedang sedih aku menulis cerita  sedih atau cerpen sedih. Saat aku disakiti kutuliskan berupa cerpen agar bisa dimodifikasi sebagai cerita fiksi. Saat bermasalah tentang  pembelajaran di sekolah kutuangkan isi kepala untuk menulis tentang kegiatan pembelajaran itu. Dan  ternyata ide-ide selalu muncul dari kita sendiri. Dari kegiatan harian kita sendiri terlalu banyak yang bisa  kita ceritakan.  Kita bercerita kegiatan kita  dari bangun tidur sampai tidur lagi.

            Alhasil kini sudah lebih  50 buku Ber-ISBN hasil karyaku. Dari buku solo hingga buku menulis bersama-sama (antologi). Terasa  bahagia sekali. Hidup merasa bermakna, hidup terasa berwarna. Semoga  buku-buku saya bisa menginspirasi banyak orang.  Buku Antologi itu disusun bersama  dengan para penulis pegiat litarsi nusantara. Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas hingga pulau Rote. Jadi otomatis tulisan saya sudah beredar keseluruh pelosok Indonesia. Trimaksih Tuhan, Ini adalah sejarah. Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan  belang, manusia mati  meninggalkan.......karya.

            Dengan mengikuti tantangan  menulis setiap hari ini juga merupakan penyaluran isi otak. Menorehkan  kisah harian sendiri kedalam tulisan.  Hidup untuk berkarya. Hidup jangan hanya berpangku tangan dan mengeluh. Buatlah hidup untuk menyenangkan Tuhan dan sesama. Semoga bisa untuk  bekal di akherat kelak. Jangan malu bertanya, teruslah belajar dan jangan lupa harus tetap rendah hati. Semoga bisa berkarya sampai nafas tak ada lagi. Hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi. Walau sudah tak muda lagi saya berusaha  untuk belajar dan tak malu bertanya. Jika kamu tidak tahan dengan  lelahnya belajar maka  kamu harus  tahan dengan  perihnya kebodohan.   (Imam Safii).

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 37

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti

#Senin, 13Juni2022

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...