Hiduplah seolah engkau mati besok. Belajarlah seolah
Engkau hidup selamanya (Mahadma Gandhi)
Kata-kata
diatas begitu indah dan menarik hatiku. Benarlah belajarlah seolah engkau hidup
selamanya. Di rumah kita belajar, disekolah kita belajar di mana saja itu adalah ‘sekolah’. Belajar tentang
kehidupan. Sebagai penulis pemula yang ilmunya
masih seujung kuku. Ingin terus
konsisten belajar menulis supaya hidup bermakna bagi sesama. Betapa bangga kelak diakhirat jika karya
kita berguna atau bermanfaat untuk anak-cucu kita dan dikenang sepanjang masa.
Saya belum jadi penulis. Saya juga
bukan siapa-siapa di Agupena. Sebuah
kebanggaan saya bisa bergabung menulis bersama para pakar menulis di AGUPENA pusat. (Agupena= Asosiasi guru
penulis Indonesia: red ). Hal ini akan
menjadi kenangan yang tak akan terlupa sepanjang nafas masih ada.
Hehe.... Ibu Ledwina
Eti (saya) bercerita jadi humas Agupena
online suka dan dukanya (tunjuk bunda Lilis kepada saya). Ibu Yosefine Klau
bercerita tentang mendadak tenar menjadi moderator pada diklat Agupena. Pak Yolis bercerita tentang Tilong di bawa ke
kancah Nasional. Bunda Lilis sang
motivator dan kepaka bidang perbukuan dan pelatihan Agupena pusat
menulis tentang ‘ Menulis Semudah ceplok Telur”.“Teman-teman tim tak usah repot-repot ambil yang ada di
bank tabungan naskah seperti yang sudah saya sarankan”, kata bunda Lilis. Baik yang punya bank naskah lah kalau tidak
ada seperti saya?
Padahal
saat ini saya sementara menulis tentang “ Menjawab tantangan menulis setiap hari”. Callenge ini diadakan
oleh Rumah Literasi
PMA. Menulis setiap
hari menjadi tantangan tersendiri. Begitu banyak hal yang sebenarnya bisa kita
tuliskan namun kadang ada rasa ragu, takut, tidak percaya diri untuk menuangkan
tulisan saya sendiri. Semoga dengan mengikuti Challenge ini bisa menambah
wawasan dan bisa terus belajar menjemput peluang.
Untuk
menulis harus latihan komitmen.
Mempunyai target. Tidak boleh ada alasan. Hilangkan alasan sibuk, tak punya waktu, tak percaya diri, tak tahu
cara memulai atau yang lainnya. Teruslah menulis, dan menulis. Sungguh tidak
ada tulisan yang jelek. Selagi tulisan kita
berisi hal-hal yang positif, apapun kemasannya, tulisan itu
tetaplah tulisan bernilai. Semua perlu
proses, tak ada yang instan. Ikatlah ilmu
dengan menuliskannya biarlah tulisanmu menemukan takdirnya.
Benar, ternyata setelah rajin mengikuti komunitas, kita mendapatkan banyak ilmu menulis. Dengan ikut komunitas jadi banyak teman menulis, untuk saling
berbagi dan iklas memberi. Saling melengkapi dan saling membutuhkan.
Sungguh saya tak pernah membayangkan
sama sekali tiba-tiba saya didaulat menjadi moderator. Jadi moderator diklat
Agupena Pusat, padahal saya tidak pernah punya ilmu khusus. Tak punya latar
belakang pendidikan. Hanya ‘modal nekad’ dan motivasi dari seorang teman. Itu
adalah sebuah kebanggaan yang luar bisa bagi pribadi saya. Mungkin hal itu
sudah sangat biasa
bagi orang lain. Tapi luar biasa buatku.
Kadang
saya merasa dipandang dengan sebelah
mata, dipandang rendah dan tak berharga. Begitulah ada saja orang melihat saya.
Dengan begitu saya
sering menangis dalam doa.
Tentunya agar saya selalu sabar dan tabah menghadapi hidup. Tuhan yang selalu
menuntun saya, memegang
tangan saya dengan erat. Ternyata
dengan dipandang rendah justru membuat saya jadi lebih dewasa dan sabar.
Daripada aku sia-siakan waktu untuk meratapi hidup dan
mengeluh akhirnya aku mencoba menulis.
Menulis apa saja yang ada diotakku. Kalau sedang sedih aku menulis cerita sedih atau cerpen sedih. Saat aku disakiti
kutuliskan berupa cerpen agar bisa dimodifikasi sebagai cerita fiksi. Saat
bermasalah tentang pembelajaran di
sekolah kutuangkan isi kepala untuk menulis tentang kegiatan pembelajaran itu.
Dan ternyata ide-ide selalu muncul dari kita
sendiri. Dari kegiatan harian kita sendiri terlalu banyak yang bisa kita ceritakan. Kita
bercerita kegiatan kita dari bangun tidur sampai tidur lagi.
Alhasil kini sudah lebih 50 buku Ber-ISBN hasil karyaku. Dari buku
solo hingga buku menulis bersama-sama (antologi). Terasa bahagia sekali. Hidup merasa bermakna, hidup
terasa berwarna. Semoga buku-buku saya
bisa menginspirasi banyak orang. Buku
Antologi itu disusun bersama dengan para penulis
pegiat litarsi nusantara.
Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas hingga pulau Rote. Jadi otomatis
tulisan saya sudah beredar keseluruh pelosok Indonesia. Trimaksih Tuhan, Ini
adalah sejarah. Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan.......karya.
Dengan mengikuti tantangan menulis setiap hari ini juga merupakan
penyaluran isi otak. Menorehkan kisah
harian sendiri kedalam tulisan. Hidup
untuk berkarya. Hidup jangan hanya berpangku tangan dan mengeluh. Buatlah hidup untuk menyenangkan
Tuhan
dan sesama. Semoga bisa untuk bekal di
akherat kelak. Jangan malu bertanya, teruslah belajar dan jangan lupa harus tetap
rendah hati. Semoga bisa berkarya sampai nafas tak ada lagi. Hidup bisa
bermanfaat dan menginspirasi. Walau sudah tak muda lagi saya berusaha untuk belajar dan tak malu bertanya. Jika kamu tidak tahan dengan lelahnya belajar maka kamu harus
tahan dengan perihnya kebodohan. (Imam
Safii).
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge
- 37
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Senin, 13Juni2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar