Selasa, 02 Maret 2021

Joko Widodo Ayo pilih sekali lagi

 

Joko  Widodo

Ayo pilih  sekali lagi

 

 

Bukam malaikat  juga bukan dewa

Joko Widodo presiden Indonesia

Jujur cerdas merakyat dan sederhana

Dipuja puji sampai manca negara

 

Antek Asing, anti islam dan PKI

Fitnah keji  mulut nyinyir sana sisi

Bagi kami semuaanya itu basi

Bagi Jokowi kerja tanpa kompromi

 

Orang bilang Indonesia makin Jaya

Dipimpin Joko Widodo Presidennya

Orang bilagn Indonesia mendunia

Wajar bila rakyat  terus mendukungnya

 

Orang bilang NKRI harga Mati

Jangan sampai khilafah ada di sini

Wahai kawan- kawan di seluruh Negeri

Ayo  pilih Jokowi sekali lagi

 

Bukan diktator dan bukan boneka

Kerja nyata dan tidak banyak bicara

Dari kota sampai ke pelosok desa

Sabang merauke  pasti kandijamahnya

 

Senin, 01 Maret 2021

MEREDUKSI KESEDIHAN DI MASA BERKABUNG MELALUI TULISAN

 



.

Writing for Wellness – 56

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Bagi Reinekke Lengelle, menulis adalah pendamping yang produktif dan handal. Ini membantunya untuk memahami sangat banyak hal, terkait perasaan tidak nyaman yang menyertai proses berduka”.

.

Studi tentang “Grief, Depressive Symptoms and Inflammation in the Spousally Bereaved”  telah dipublikasikan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology tahun 2018 lalu. Sungguh pelajaran yang sangat menarik. Bahwa kesedihan karena kehilangan pasangan, bisa memunculkan peradangan (inflamasi).

Penelitian yang dilaksanakan oleh Ryan Brown, Michelle Chen dan tim ini memeriksa dampak kesedihan terhadap kesehatan manusia. Mereka melanjutkan penelitian sebelumnya dari laboratorium Christopher Fagundes yang mempelajari faktor risiko peradangan.

Para peneliti melakukan wawancara dan memeriksa darah 99 orang yang pasangannya baru saja meninggal dunia. Mereka membandingkan orang-orang yang menunjukkan gejala kesedihan yang meningkat – seperti merindukan orang yang meninggal, kesulitan untuk melanjutkan hidup, perasaan bahwa hidup tidak berarti dan ketidakmampuan untuk menerima kenyataan kehilangan – dengan mereka yang tidak menunjukkan perilaku tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa para janda dan duda dengan gejala kesedihan yang meningkat, menderita peradangan tubuh hingga 17 persen lebih tinggi. Bahkan sepertiga teratas dari kelompok itu memiliki tingkat peradangan 53,4 persen lebih tinggi daripada sepertiga terbawah.

“Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa peradangan berkontribusi pada hampir setiap penyakit di usia dewasa yang lebih tua,” kata Chris Fagundes. “Kami juga tahu bahwa depresi terkait dengan tingkat peradangan yang lebih tinggi, dan mereka yang kehilangan pasangan berisiko lebih tinggi mengalami depresi berat, serangan jantung, stroke, dan kematian dini”.

“Ini adalah studi pertama yang mengkonfirmasi kesedihan dapat meningkatkan peradangan, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kopndisi kesehatan yang buruk”, ujar Fagundes.

Penelitian ini mendapatkan hasil penting tentang perilaku dan aktivitas manusia bisa berdampak pada tingkat peradangan dalam tubuh. Juga peristiwa berkabung dapat mempengaruhi kesehatan. Studi awal mengamati bahwa mereka yang telah menjanda berisiko lebih tinggi mengalami masalah kardiovaskular, gejala tubuh, dan kematian dini dengan membandingkan peradangan pada individu yang kehilangan pasangan.

Mereduksi Kesedihan Melalui Tulisan

Kehilangan orang yang dicintai adalah takdir dan realitas yang bisa menimpa siapa saja. Namun kematian pasangan –bagaimanapun—adalah peristiwa yang sangat menyedihkan. Maka muncullh upaya untuk mengatasi atau melawan perasaan sedih tersebut.

Reinekke Lengelle (2020) menyatakan, “perlawanan” terhadap rasa sedih itu mungkin sebagian didorong oleh kekhawatiran tentang bagaimana seseorang akan mengatasinya dan asumsi yang dibuat tentang kehilangan. Misalnya, seseorang yang telah kehilangan pasangan merasa dirinya tidak akan tahan, atau kesedihan harus terjadi dalam jangka waktu yang lama, atau nasihat bahwa mereka harus “tetap kuat” untuk menghadapinya realitas kehilangan.

“The grieving self is supported, comforted, and transformed by the act of using words to move towards the pain of grief as well as through the creative space that forms around the (often unanswerable) questions that death brings” – Reinekke Lengelle, 2020

Berdasarkan pengalaman pribadi, Reinekke mulai menulis tentang kematian suami, Frans Meijers, akibat terkena kanker langka. Frans meninggal tujuh bulan setelah didiagnosis kanker.

Suatu pagi di bulan Desember, dua minggu setelah kepergian Frans, Reinekke memutuskan pulang sendirian dari rumahnya di Belanda, menuju rumah di Kanada. Mulai saat itu ia menuliskan secara rinci perasaannya, kehidupan sehari-hari saat Frans tidak ada, dan sejarah hubungan mereka.

Buku yang ditulisnya merupakan ajakan untuk menjadi terbuka serta belajar untuk bisa menghuni ruang-ruang kesedihan. Melalui tulisan, seseorang yang kehilangan pasangan bisa terlibat secara aktif melakukan refleksi terhadap pikiran dan perasaan yang muncul.

“Writing is a productive and steady companion: it helps her make sense of the myriad and sometimes uncomfortable feelings that accompany the grieving process, allows her to experience continuing bonds with Frans via memories and imagined dialogues, and results in nourishing insights into bereavement in her first year and a half of grief” – Reinekke Lengelle (2020).

Reinekke menceritakan kisah hidup bersama pasangannya secara terbuka. Sejak menerima berita buruk terntang vonis penyakit Frans, bagaimana membuat pilihan bertahan hidup, puisi yang ditulis saat Frans sakit dan setelah kematiannya. Ini semua menjadi cara Reinekke untuk mengekspresikan perasaan, merasa tetap dekat dengan Frans, dan menjalani hidup dengan baik tanpanya.

Menulis Adalah Pendamping yang Produktif dan Handal

Sebagai seorang pengajar “self writing” –yaitu menulis untuk pengembangan pribadi, dia mempraktikkan apa yang diajarkan kepada para murid. Bagaimana menggunakan puisi, naratif serta tulisan reflektif untuk mengeksplorasi, dan mengartikulasikan pengalaman menyakitkan yang dihadapi.

Bagi Reinekke, menulis adalah pendamping yang produktif dan handal. Ini membantunya untuk memahami sangat banyak hal, terkait perasaan tidak nyaman yang menyertai proses berduka. Melalui menulis memungkinkan dirinya untuk mendapatkan ikatan berkelanjutan dengan Frans melalui ingatan dan dialog imajiner. Sekaligus menghasilkan pemahaman yang tepat tentang duka cita setelah satu setengah tahun kesedihannya.

“She also found that sexual desire and memories of her attraction to Frans remained alive for many months after his death; arousal was simultaneously and paradoxically a source of comfort and painful yearning” – Reinekke Lengelle (2020).

Sejumlah tema spesifik dan unik muncul di sepanjang cerita Reinekke. Misalnya, dia menemukan di bulan-bulan awal duka cita, bahwa bersama dengan kesedihan dan pemikiran magis –berupa penyangkalan atau mati rasa, dia juga mengalami kemarahan terhadap Frans tentang masalah yang dia harap bisa didamaikan. Konflik dengan Frans yang belum selesai dan ambivalensi dalam kesedihan adalah area yang dieksplorasi untuk mendapatkan kedamaian diri.

Reinekke juga menemukan bahwa hasrat seksual dan ingatan akan ketertarikannya pada Frans tetap hidup selama berbulan-bulan setelah kematiannya. Sebuah gairah secara bersamaan dan secara paradoks menjadi sumber kenyamanan dan kerinduan yang menyakitkan.

“She develops the idea that sadness, anger, and even joy all help the griever to become and remain resilient” – Reinekke Lengelle (2020).

Menemukan Refleksi Dengan Menulis

Sembari menulis, Reinekke mengembangkan wawasan dari literatur kesedihan yang sesuai dengan temuan pengalamannya sendiri. Ia meyakini bahwa emosi bukan hanya gejala kesedihan, tetapi memiliki fungsi adaptif. Ia mengembangkan gagasan bahwa kesedihan, amarah, dan bahkan kegembiraan, semuanya membantu untuk menjadi eksis dan tetap tangguh.

“Writing is a worthwhile companion in grieving if one can combine the raw, visceral, concrete, taboo, and emotional details of loss and express emotions, while engaging a more detached, observing self” – Reinekke Lengelle (2020)

Dia menyimpulkan bahwa menulis adalah pendamping yang berharga dalam berduka jika seseorang dapat menggabungkan detail mentah, mendalam, konkrit, tabu, dan emosional dari kehilangan, dan kemudian mengekspresikan emosi, sambil melibatkan diri yang lebih terpisah, serta mengamati diri.

“Diri yang berduka didukung, dihibur, dan diubah oleh tindakan menggunakan kata-kata untuk bergerak menuju rasa sakit, serta melalui ruang kreatif yang terbentuk di sekitar pertanyaan –yang sering tak terjawab, yang dibawa kematian” – Reinekke Lengelle, 2020

Sangat banyak hal makna dari refleksi kesedihan, bisa didapatkan melalui menulis. Reinekke telah membuktikannya.

Selamat menulis, selamat berbahagia.

Bahan Bacaan

Christopher Fagundes, Ryan L. Brown, Michelle A. Chen, Kyle W. Murdock, Levi Saucedo, Angie LeRoy, E. Lydia Wu, Luz M. Garcini, Anoushka D. Shahane, Faiza Baameur, Cobi Heijnen, Grief, Depressive Symptoms, and Inflammation in the Spousally Bereaved, Psychoneuroendocrinology, 2018; DOI: 10.1016/j.psyneuen.2018.10.006

MENULIS EKSPRESIF UNTUK TERAPI GANGGUAN BERBAHASA

 


.

Writing for Wellness – 57

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Anda pernah bertemu dengan seseorang yang selalu kesulitan menyampaikan pendapat atau keinginannya? Mungkin mereka adalah orang yang mengalami gangguan berbahasa. Gangguan berbahasa bisa menjadi permasalahan serius dalam proses komunikasi seseorang dengan lingkungannya.

Secara medis dinyatakan, gangguan bahasa adalah gangguan penguasaan dan penggunaan bahasa, baik yang diucapkan, tertulis, atau bahasa tubuh, yang disebabkan defisit produksi atau komprehensi. Gangguan bahasa bisa terjadi dalam bentuk kurangnya perbendaharaan dan pengertian tentang kata, gangguan dalam pembentukan struktur kalimat, dan gangguan penggunaan kata dan kalimat sehari-hari.

Gangguan berbahasa ini tidak didasari oleh adanya gangguan pendengaran atau gangguan sensorik lainnya. Jadi, bukan karena disfungsi motorik, atau kondisi medis atau neurologis lainnya.

Secara umum, ada jenis gangguan bahasa ekspresif dan gangguan bahasa reseptif. Yang dimaksud gangguan bahasa ekspresif adalah gangguan kemampuan untuk memformulasikan ide dan pesan menggunakan kata dan kalimat. Sedangkan gangguan bahasa reseptif adalah gangguan kemampuan untuk memahami pesan yang disandikan dalam kata-kata dan kalimat. Dijumpai pula gangguan bahasa ekspresif-reseptif (campuran), yang berupa kombinasi defisit dalam memahami dan menghasilkan pesan.

Depresi dan Gangguan Berbahasa

Tekanan kehidupan, persoalan atau penyakit yang berat, kegagalan dalam meraih keinginan, bisa menghasilkan suasana depresi. Pada orang yang mengalami depresi, bisa berdampak lanjut pada gangguan komunikasi, yang salah satunya adalah gangguan berbahasa.

Bahkan, studi yang dilakukan oleh Mohammed Al-Mosaiwi dan Tom Johnstone (2018) menunjukkan, orang-orang yang mengalami depresi bisa tampak dari cara mereka berbahasa. Kekacauan berpikir membuat penderita depresi cenderung memiliki pilihan kosa kata yang spesifik, yang bisa dikenali sebagai tanda depresi.

Studi yang dilakukan oleh Mohammed Al-Mosaiwi dan Tom Johnstone (2018) menunjukkan, orang-orang yang mengalami depresi bisa tampak dari cara mereka berbahasa.

Sebenarnya, berbahasa atau menggunakan bahasa adalah suatu aktivitas alamiah yang sama halnya dengan bernapas, di mana kita cenderung tidak memikirkannya. Semua manusia dewasa mudah berbahasa, sebagai fungsi normal dalam komunikasi sosial. Namun ketika muncul gangguan berpikir lantaran depresi, akan memengaruhi kegiatan berbahasa (Indah, 2017).

Orang-orang yang tengah mengalami depresi, menggunakan bahasa dalam komunikasi dengan kalimat yang tidak lengkap, atau bahkan kacau. Mereka memiliki kecenderungan untuk mengangkat topik-topik menyedihkan atau ketidakberdayaan dalam sebuah pembicaraan. Juga akan kesulitan fokus terhadap pembicaraan dalam komunitas (Sabilla, 2020). Hal ini membuat mereka semakin terisolir dari pergaulan sosial.

Orang-orang yang tengah mengalami depresi, menggunakan bahasa dalam komunikasi dengan kalimat yang tidak lengkap, atau bahkan kacau.

Salah satu cara mengurangi gangguan berbahasa pada penderita depresi dapat dilakukan melalui kegiatan menulis ekspresif. Menulis ekspresif dapat memfasilitasi seseorang untuk menyalurkan emosi negatifnya, sehingga meningkatkan kesehatan jiwa. Hal ini berdampak pada proses berbahasa sehari-hari yang lancar dan mudah dipahami orang lain.

Telah banyak penelitian yang menunjukkan efektivitas menulis ekspresif untuk meningkatkan emosi positif pada penderita depresi. Dengan demikian dapat menekan pemikiran negatif dan memperlancar proses berbahasa orang tersebut. Annisa Fitriana Sabilla (2020) melakukan penelitian untuk mempelajari relasi antara menulis ekspresif dengan penurunan gejala-gejala pada depresi. Peneliti menggunakan metode analisis data.

Menulis Ekspresif untuk Mengatasi Gangguan Berbahasa

Menulis bisa menjadi bentuk ekspresi diri atau katarsis, sekaligus self-help yang telah dipraktekkan banyak kalangan. Menulis juga merupakan keterampilan berkomunikasi yang penting untuk pengembangan potensi diri. Menulis adalah bentuk self expression yang banyak digunakan oleh terapis dalam membantu individu mengenali dan mengerti pengalaman traumatis mereka (Sabilla, 2020).

Dengan menulis, seseorang akan mengungkapkan ide secara sistematis, jelas, logis. Hal ini sangat berbeda dengan berbicara, yang cenderung bebas tanpa sistematika tertentu. Terapi dengan menulis ekspresif menjadi alternatif metode yang ‘murah dan mudah’, karena bisa dilakukan secara mandiri ataupun dengan bantuan pihak ahli.

Para ahli menyatakan, menulis ekspresif dapat memfasilitasi regulasi emosi melalui tiga cara. Pertama memfokuskan perhatian, kedua memberikan fasilitas habituasi (pembiasaan), dan ketiga membantu pembangunan kembali fungsi kognitif. Menulis ekspresif dapat menyediakan ruang yang sangat luas dan pribadi bagi pribadi untuk menyampaikan ide, gagasan, dan perasaannya secara bebas.

Penelitian yang dilakukan Sabilla (2020) memberikan hasil yang positif bagi upaya mengatasi gangguan berbahasa. Sabilla menemukan pengaruh yang cukup signifikan dalam kegiatan menulis ekspresif sebagai salah satu bentuk terapi atau upaya katarsis dalam meringankan gangguan berbahasa pada penderita depresi.

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui adanya peningkatan emosi positif pada diri partisipan. Hal ini memungkinkan menekan pemikiran-pemikiran negatif yang sering muncul pada penderita depresi, yang menyebabkan proses berbahasa mereka terganggu. Dengan luapan ekspresi diri yang dilakukan dalam bentuk tulisan ini, memungkinkan penderita gangguan depresi akan lebih stabil dan dapat melakukan komunikasi dengan lebih fokus dengan lawan bicaranya (Sabilla, 2020).

Menulis ekspresif yang dilakukan pada penderita depresi, telah menyalurkan berbagai emosi negatif yang mengganggu pemikiran. Setelah emosi negatif tersalurkan melalui tulisan, pikiran bisa menjadi tenang. Beban-beban yang mengganggu pikiran dan mengacaukan proses berbahasa, telah tereduksi dengan efektif. Hasilnya, gangguan berbahasa bisa diatasi.

Selamat menulis, selamat berbahagia.

Daftar Bacaan

CORONA ADA AKU TETAP BUTUH MAKAN

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Ada  resah dalam hati

Ada  rasa Takut yang tak terkendali

Dunia kita  sedang berduka

Hingga kini corona masih saja ada

 

Ini adalah pengalaman dan sebuah sejarah

Untuk Kita  terus waspada  dan  tak boleh lengah

Biar pun hanya sejengah

Kita  harus terima dengan hati yang tabah

 

Kebutuhan  tetaplah ada

Untuk  hidup bersama keluarga

Aku harus  tetap berjuang mencari makan

Walau sesuap nasi demi kehidupan

 

Setiap saat ku  ditunggu  untuk segera pulang

Jaga hati dan kuatkan hati

Selalu tersenyum walau hari berduka

Jangan lupa berdoa dan terus berdoa

Untuk keluarga dan orang-orang yang tercinta

 

Tuhan Jaga dia lindungi kami

Kami  punya tanggungan

Keluarga dan anak-anakku yang Engkau titipkan

Dia menungguku untuk pulang

 

Kita memang sedang berduka

Kita tak boleh menyerah, Kita harus saling menjaga

Kita  saling menguatlkan

Pasti Tuhan selalu dan senantiasa

Akan menjaga dan melindungi kita

Waingapu, 2 Maret 2021

Minggu, 28 Februari 2021

PEJUANG CORONA

 Oleh : Ledwina Eti Wuryani


Badanku Lemas. Kepalaku pusing Sekali.  Aku tidak tahan  lagi, ku putuskan aku tidak pergi ke sekolah. Padahal hari itu  ada rapat persiapan Ujian Sekolah.  Akhirnya aku Ijin  bapak kepsek lewat SMS memberitahukan  kalau aku sakit. Aman.

Aku harus pergi ke rumah sakit  supaya segera sembuh. Benar!  Dengan  motor  tua kesayangan  aku menuju rumah sakit. Ya.. aku  sendirian kupikir aku masih kuat tanpa diantar siapapun.

Aku menuju kebagian resepcionis untuk mendaftarkan diri. Kuberikan  kartu askes padanya. Tak lama kemudian aku dipanggil. Kepalaku  masih pening. Nyut nyut semakin kencang.  Akhirnya aku disuruh naik tempat  tidur besi untuk di periksa. Ada  3 orang  pasien yang bersamaku. Sambil menunggu giliran rasa hatiku deg degan. Ternyata  semua yang masuk rumah sakit harus rapit tes. Aduh!!. Mati  aku!.  Hampir aku  mau lari dari  rumah sakit,. Aku mulai gelisah. Takut! Ngeri! Pokoknya  hati ini jadi tak karuan.

Nah!!, saat pun tiba  kini giliranku. Setelah  aku  dirapit, benar  ada  stripp 2 merah. Katanya aku positif.  Pihak rumah sakit  langsung memberitahukan keberadaanku kepada keluargaku. Aku langsung dilarikan di rumah sakit umum. Aku tergolek lesu di ruangan isolasi. Mataku memandang nanar langit-langit plafon rumah sakit.   Galau, sedih. Sendirian. Sepi. Ngeri.Takut sekali hati ini. Tak  pernah sedikitpun kubayangkan sebelumnya.   

“Tuhan,  bagaimana ini???”, bisik dalam hatiku.  Hanya  bunyi mesin  pendeteksi saja  yang menemani aku di ruangan besar itu. Menjadi pasien  yang positif terinfeksi virus  corona  membuatku  terisolasi dari dunia ini.  Siang dan malam  terasa sepi. Hanya doa yang terus kudaraskan. Siapapun tak boleh menemui aku. Untung ada HP ini yang menjadi teman setiaku.

Aku rindu  sekali dengan suami dan anak-anakku. Dadaku sudah nyeri  terasa sesak  karena rindu yang membuncah. Tak terasa air mataku mengalir deras memenuhi pipi  hingga bantal tidurku. Aku pikir hidupku tak lama lagi. Malam  ini terasa  sepi sekali. Ya Tuhan...

Tiba-tiba infusku habis.  Ku bel-bel kok tidak ada yang datang. Kubel terus... tetap tidak ada yang datang. Ketakutan semakin menjadi. Kuberanikan diri  aku keluar  ruangan dan  kupikul infus itu. Sepi sekali. Ya ampun....aku mau menangis, dag dig dug  jantungku  berdetak.  Dimana perawat???. Halo...halo..., ku ulang ulang , tetap tidak ada suara. Aku sudah melewati 2 ruangan. Bulu kudukku mulai berdiri. Nyaris aku  mau lari  karena ketakutan. Seumur hidupku aku baru merasakan  hal seperti ini.

Syukurlah,... tiba-tiba terlihat seorang perawat sementara menutup pintu ruangan di ujung.  Ritttt.......kudengar bunyi  pintu itu. Suster-suster!! Kupangill dengan  gugup.  Dari kejauhan  terlihat dia mendekatiku.  Suster infusku sudah habis!!, kataku  dengan penuh ketakutan. “Tunggu  sini dulu ya bu, saya ambil  infus yang  baru”, katanya.  Aku  berdiri didepan pintu sambil menunggu suster. Tak lama kemudian  suster keluar dan  membawaku  kembali ke ruangan. Infus sudah diganti, suster  langsung meninnggalkan aku lagi. Sepi lagi. Kusetel  lagu rohani di Hpku untuk menemani tidurku.

 Suasana tengah  malam begitu menyayat hati. Pikran-pikiran ini selalu  dihantui  dengan pasien-pasien yang  sudah meninggal. Tiba-tiba, pintu ruangan diketuk. Tok! Tok! Tok!  Aku kaget setengah mati. Seorang perawat  yang tak kutahu wajahnya menghampiriku. Penampakannya seperti  astronot dengan apron yang membalut tubuhnya berlapis-lapis. Dengan  masker khusus yang pasti membuatnya sesak nafas. Lengkap dengan kacamata google untuk menghindari kontak droplet saliva kemukosa mata. Katanya menurut yang kubaca, hehe...Perawat  itu menegurku...selamat malam  ibu,  aku nyinyir. Antara  takut, mau senyum jadi kaku  karena kaget.

Sontak  saat itu berderai air mataku. Aku menceritakan semua  kekuatiranku. Ketakutanku. Kegelisahanku...semuanya. Aku terus bercerita  supaya  suster tak meninggalkanku.  Mungkin  aku bisa  mati ketakukatan. Apalagi kalau aku sendirian terus. Aku tahu,  ruanganku ini dekat  dengan kamar  mayat, tambah  merinding  bulu kudukku. Suster itu baik sekali hatinya. Terlalu baik.  Dia  memberikan kepadaku  kata penghiburan dan kekuatan.  Dia memberiku semangat  hidup. Aku pasti kuat melaluinya. Aku pasti sembuh. Yakin!.  Hidup mati ada di tangan Tuhan. Mendengar  Suster Anna, begitu dia memperkenalkan diri tadi,.  Harapan hidupku  jadi ada. Asaku melambung tinggi.

Benar adanya. 14 hari kemudian, dokter menyatakan  aku negatif. Aku sembuh. Aku  bahagia sekali. Pokoknya  bahagianya tak bisa  dilukiskan dengan kata-kata. Akhirnya aku  keluar dari ruang isolasi. Jantungku terasa lega. Sesak didada  sudah sirna. Kuingat suster Anna.  Segera aku tanya kepada para perawat yang  ada. Aku harus menemuinya. Aku ingin berterima kasih padanya. Beliau penyemangat  hidupku. Karena  beliau aku  sekarang sudah sembuh. Aku sudah  terbebas dari Corona.

Aku digandeng  oleh seorang suster, diajaknya aku duduk.  Dibangku panjang  depan Laboratorium dekat, ruangan ICU.   Suster cerita padaku bahwa Suster  Anna sudah meninggal 2 hari yang lalu. Suster Anna  tidak bertahan  karena sudah terinfeksi duluan.  Badannya terlalu lemah ditambah mungkin Kecapean merawat pasien. Selain itu Suster punya riwayat sakit  asma. Lengkaplah.

Mataku terbelalak  saat mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir perawat itu.

Ya Tuhan......tenyata suster yang baik hati itu sudah  meninggalkan kami.  Tuhan pasti sudah menyiapkan tempat yang indah diSorga.

 

 

ULAMA

 

Oleh: Ledwina Eti Wuryani

Namaku Eduardus Umbu Tamu Ama, aku biasa  dipanggil Ama oleh teman-temanku. Aku sekolah di salah satu SMA  Favorit di kotaku.  Cieee...Cieee, Jurusanku  IPA. Jurusan yang memang kucita-citakan sejak aku masih SD. Aku  pingin   jadi Arsitek  supaya  kalau aku disuruh gambar rumah  orang,  aku dapat uang. Apalagi kalau  suatu saat dapat  proyek. Woww....pasti asyiklah.

Waktu , hari jumat,  aku  menuju ke laboratorium Biologi dekat asrama. Aku sudah janjian dengan  teman-teman untuk  membuat laporan  praktikum tadi  pagi. Tapi siapa sangka sampai   di situ  aku bertemu  dengan guruku. Guru yang mengajarku matematika  waktu aku masih kelas 10. 

Dia adalah bu  Ani, guru  yang paling aku hormati dan aku kagumi. Karena dari  beliau  akhirnya aku jadi menyukai pelajaran itu sampai mengantarku ke Propinsi. Jadi salah satu  wakil kabupaten untuk lomba olimpiade matematika. Kenangan indah. Yach walaupun  di sana aku tak dapat  juara. Minimal sudah bisa naik pesawat gratis dan tidur di hotel mewah.

Disaat aku  sibuk  membuat  laporan bersama teman-teman ku. Mataku tertuju  ke arah ibu guru. Bu Ani  begitu serius dengan Hpnya. Aku mendekatinya dan penasaran.  “Apa yang dikerjakan ibu Ani itu?”, batinku.

Bu, sudah sore begini, apa yang ibu kerjakan? Aku bertanya dengan wajah penasaran. “Oh ini, Ibu sedang membuat  Video pembelajaran untuk besok pagi di kelas X IS1. “Kenapa ibu harus disini, kok tidak di tempat lain”, tanyaku.   “Yaa... di sini kan sepi, kebetulan yang di asrama tak ada orang. Sore begini  susah cari tempat sepi. Rumah ibu di pinggir jalan.  Dari pagi sampai pagi  selalu bising kendaraan.  Asyik di sini bersama Om Raja, sang penjaga sekolah yang baik hati. Bereteman dengan sepi.

Kekagumanku kepadanya semakin menjadi,  mengingat usianya sudah lanjut. Mungkin 2 tahun lagi pensiun, tapi keinginan belajarnya  masih tinggi. Benar ini yang namanya  #Ulama. UsiaLanjutMasihAktif.

Berbeda denganku,  diumurku yang masih muda  kadang aku masih  saja berjibaku dengan malas yang meradang. Benar kata orang tuaku,  mencari ilmu itu tak perlu ke negeri cita. Mbah google akan setia dan  cerdas menjawab apa yang kita tanya. Ibu guru saja  rajin.  #Aku harus lebih rajin dong.   Semangat!!!   Long life Education.

 

*#$@BuDe@$#*

Rabu, 24 Februari 2021

MENULIS NARATIF UNTUK MENGHADAPI RETAKNYA KELUARGA

 



.

Writing for Wellness – 50

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Gambaran tentang keluarga “sempurna” yang sering ditayangkan majalah, TV, atau media sosial, membuat banyak orangtua dan anak yang mengembangkan harapan terlalu tinggi terhadap diri sendiri maupun keluarga. Kesenjangan ini memicu stres, terlebih ketika menghadapi realitas adanya keretakan dalam keluarga.

Saat menghadapi stres, setiap keluarga memiliki respon yang berbeda. Mengutip laman Scanva, ada beberapa respon yang sering terjadi. Di antaranya adalah adu argumen, pertengkaran, dan bentuk komunikasi buruk lainnya; kelelahan dalam keluarga; kebingungan, terutama pada anak-anak, tentang hubungan dengan anggota keluarga lainnya; pelarian dengan makanan, alkohol, dan zat adiktif lain.

Pada dasarnya semua keluarga memiliki masalah dan stres masing-masing. Namun setiap keluarga mengalami efek stres yang berbeda, dan menangani stres dengan cara berbeda. Maka Scanva menyarankan agar semua mampu bekerja sama sebagai sebuah keluarga untuk menghadapi stres.

Di antaranya adalah dengan membicarakan perasaan secara terbuka. Jaga jalur komunikasi tetap terbuka sehingga setiap anggota keluarga merasa nyaman menyuarakan perasaan mereka jika mulai merasakan stres. Pilih suasana nyaman dan tenang untuk berbicara dari hati ke hati, biarkan semuanya berbicara dengan lancar mengalir tanpa diinterupsi dan dihakimi.

Pada dasarnya semua keluarga memiliki masalah dan stres masing-masing. Namun setiap keluarga mengalami efek stres yang berbeda, dan menangani stres dengan cara berbeda.

Semua persoalan yang menekan dan menimbulkan stres, sebisa mungkin segera mendapat penyelesaian. Jika tidak dikhawatirkan akan menimbulkan keretakan keluarga. Ketegangan yang semakin meningkan menyebabkan peningkatan pula dalam intensitas konflik, yang bisa berdampak buruk bagi anggota keluarga, terlebih anak-anak.

Sebuah penelitian pernah dilakukan oleh Nurtia Massa dan kawan-kawan pada tahun 2020, yang bertujuan untuk mengetahui dampak keluarga broken home terhadap perilaku sosial anak. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara terhadap anak-anak yang dari keluarga broken home.

Dampak keluarga broken home terhadap perilaku sosial anak yang paling menonjol adalah mudah mendapat pengaruh buruk dari lingkungan dan mudah terlibat permasalahan moral.

Ditemukan beberapa perilaku sosial anak yaitu rentan mengalami gangguan psikis, membenci kedua orang tua, mudah mendapat pengaruh buruk dari lingkungan, memandang hidup adalah sia-sia, tidak mudah bergaul dan permasalahan moral. Dampak keluarga broken home terhadap perilaku sosial anak yang paling menonjol adalah mudah mendapat pengaruh buruk dari lingkungan dan mudah terlibat permasalahan moral.

Refleksi Diri dengan Menulis Naratif

Dampak negatif dari keretakan keluarga tentu harus disadari sepenuhnya oleh orangtua, agar mampu menemukan solusi yang paling tepat. Salah satu cara menyelesaikan persoalan keluarga adalah dengan meredakan ketegangan personal. Misalnya suami dan istri yang tengah mengalami keretakan, bisa menempuh mekanisme cooling down agar tercipta suana ‘perdamaian’ di antara mereka.

Setiawati Intan Savitri, seorang psikolog, bersama rekan-rekannya (2019) melakukan penelitian terkait salah satu cara merespon keretakan keluarga, dengan refleksi diri. Saat individu berusaha mengatasi dampak emosional menghadapi keluarga retak, individu mencoba untuk melakukan refleksi atas peristiwa tersebut meski kadang sulit karena individu larut pada emosi negatif (ruminasi). Namun, individu juga mampu melihat pengalamannya secara adaptif dari perspektif pengamat dengan merespon tekanan dengan berjarak, sehingga mampu memaknai atau mendapatkan solusi dari tekanan.

Savitri dan tim melakukan penelitian untuk menggambarkan proses refleksi diri adaptif ketika merespon peristiwa retaknya keluarga dengan cara menulis narasi dengan kata ganti personal satu (perspektif pelaku) dan menulis narasi dengan kata ganti personal nama-diri (perspektif pengamat).

Studi yang dilakukan Kross dkk (2014) menyatakan bahwa kata ganti personal nama-diri merupakan metode untuk refleksi diri yang dianggap lebih adaptif dibandingkan dengan menggunakan kata ganti personal satu (perspektif diri pelaku) yang menyebabkan efek larut pada emosi negatif.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Subjek penelitian berjumlah tujuh orang, terdiri lima wanita dan dua pria. Data diperoleh dari teks tulisan subjek yang mengikuti eksperimen menulis naratif selama empat hari berturut-turut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa instruksi menulis dengan bahasa yang berjarak menggunakan perspektif pengamat, jika dibandingkan dengan instruksi menulis dengan menggunakan perspektif pelaku, pada level tertentu dapat membantu proses refleksi diri adaptif dengan mekanisme yang berbeda.

Menemukan Solusi dengan Hati dan Pikiran Jernih

Menulis naratif tentu saja tidak serta merta bisa menyelesaikan keretakan keluarga. Namun menulis naratif bisa dilakukan oleh suami dan istri yang tengah berada dalam keretakan hubungan. Saat suasana jiwa mereka dilanda emosi tingkat tinggi, sangat sulit untuk bisa menemukan solusi dan titik temu yang disepakati.

Dengan menulis naratif sebagaimana direkomendasikan oleh hasil studi Savitri dan tim, setiap individu bisa mengalami proses refleksi diri. Hingga tercapai suasana yang lebih kondusif. Hati dan pikiran yang tenang, untuk melahirkan energi perbaikan suasana. Masing-masing pihak telah mampu merefleksikan kondisi, sehingga bisa berbicara dan berdiskusi yang membawa solusi.

Selamat menulis, selamat menemukan kedamaian.

Bahan Bacaan

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...