Minggu, 28 Februari 2021

PEJUANG CORONA

 Oleh : Ledwina Eti Wuryani


Badanku Lemas. Kepalaku pusing Sekali.  Aku tidak tahan  lagi, ku putuskan aku tidak pergi ke sekolah. Padahal hari itu  ada rapat persiapan Ujian Sekolah.  Akhirnya aku Ijin  bapak kepsek lewat SMS memberitahukan  kalau aku sakit. Aman.

Aku harus pergi ke rumah sakit  supaya segera sembuh. Benar!  Dengan  motor  tua kesayangan  aku menuju rumah sakit. Ya.. aku  sendirian kupikir aku masih kuat tanpa diantar siapapun.

Aku menuju kebagian resepcionis untuk mendaftarkan diri. Kuberikan  kartu askes padanya. Tak lama kemudian aku dipanggil. Kepalaku  masih pening. Nyut nyut semakin kencang.  Akhirnya aku disuruh naik tempat  tidur besi untuk di periksa. Ada  3 orang  pasien yang bersamaku. Sambil menunggu giliran rasa hatiku deg degan. Ternyata  semua yang masuk rumah sakit harus rapit tes. Aduh!!. Mati  aku!.  Hampir aku  mau lari dari  rumah sakit,. Aku mulai gelisah. Takut! Ngeri! Pokoknya  hati ini jadi tak karuan.

Nah!!, saat pun tiba  kini giliranku. Setelah  aku  dirapit, benar  ada  stripp 2 merah. Katanya aku positif.  Pihak rumah sakit  langsung memberitahukan keberadaanku kepada keluargaku. Aku langsung dilarikan di rumah sakit umum. Aku tergolek lesu di ruangan isolasi. Mataku memandang nanar langit-langit plafon rumah sakit.   Galau, sedih. Sendirian. Sepi. Ngeri.Takut sekali hati ini. Tak  pernah sedikitpun kubayangkan sebelumnya.   

“Tuhan,  bagaimana ini???”, bisik dalam hatiku.  Hanya  bunyi mesin  pendeteksi saja  yang menemani aku di ruangan besar itu. Menjadi pasien  yang positif terinfeksi virus  corona  membuatku  terisolasi dari dunia ini.  Siang dan malam  terasa sepi. Hanya doa yang terus kudaraskan. Siapapun tak boleh menemui aku. Untung ada HP ini yang menjadi teman setiaku.

Aku rindu  sekali dengan suami dan anak-anakku. Dadaku sudah nyeri  terasa sesak  karena rindu yang membuncah. Tak terasa air mataku mengalir deras memenuhi pipi  hingga bantal tidurku. Aku pikir hidupku tak lama lagi. Malam  ini terasa  sepi sekali. Ya Tuhan...

Tiba-tiba infusku habis.  Ku bel-bel kok tidak ada yang datang. Kubel terus... tetap tidak ada yang datang. Ketakutan semakin menjadi. Kuberanikan diri  aku keluar  ruangan dan  kupikul infus itu. Sepi sekali. Ya ampun....aku mau menangis, dag dig dug  jantungku  berdetak.  Dimana perawat???. Halo...halo..., ku ulang ulang , tetap tidak ada suara. Aku sudah melewati 2 ruangan. Bulu kudukku mulai berdiri. Nyaris aku  mau lari  karena ketakutan. Seumur hidupku aku baru merasakan  hal seperti ini.

Syukurlah,... tiba-tiba terlihat seorang perawat sementara menutup pintu ruangan di ujung.  Ritttt.......kudengar bunyi  pintu itu. Suster-suster!! Kupangill dengan  gugup.  Dari kejauhan  terlihat dia mendekatiku.  Suster infusku sudah habis!!, kataku  dengan penuh ketakutan. “Tunggu  sini dulu ya bu, saya ambil  infus yang  baru”, katanya.  Aku  berdiri didepan pintu sambil menunggu suster. Tak lama kemudian  suster keluar dan  membawaku  kembali ke ruangan. Infus sudah diganti, suster  langsung meninnggalkan aku lagi. Sepi lagi. Kusetel  lagu rohani di Hpku untuk menemani tidurku.

 Suasana tengah  malam begitu menyayat hati. Pikran-pikiran ini selalu  dihantui  dengan pasien-pasien yang  sudah meninggal. Tiba-tiba, pintu ruangan diketuk. Tok! Tok! Tok!  Aku kaget setengah mati. Seorang perawat  yang tak kutahu wajahnya menghampiriku. Penampakannya seperti  astronot dengan apron yang membalut tubuhnya berlapis-lapis. Dengan  masker khusus yang pasti membuatnya sesak nafas. Lengkap dengan kacamata google untuk menghindari kontak droplet saliva kemukosa mata. Katanya menurut yang kubaca, hehe...Perawat  itu menegurku...selamat malam  ibu,  aku nyinyir. Antara  takut, mau senyum jadi kaku  karena kaget.

Sontak  saat itu berderai air mataku. Aku menceritakan semua  kekuatiranku. Ketakutanku. Kegelisahanku...semuanya. Aku terus bercerita  supaya  suster tak meninggalkanku.  Mungkin  aku bisa  mati ketakukatan. Apalagi kalau aku sendirian terus. Aku tahu,  ruanganku ini dekat  dengan kamar  mayat, tambah  merinding  bulu kudukku. Suster itu baik sekali hatinya. Terlalu baik.  Dia  memberikan kepadaku  kata penghiburan dan kekuatan.  Dia memberiku semangat  hidup. Aku pasti kuat melaluinya. Aku pasti sembuh. Yakin!.  Hidup mati ada di tangan Tuhan. Mendengar  Suster Anna, begitu dia memperkenalkan diri tadi,.  Harapan hidupku  jadi ada. Asaku melambung tinggi.

Benar adanya. 14 hari kemudian, dokter menyatakan  aku negatif. Aku sembuh. Aku  bahagia sekali. Pokoknya  bahagianya tak bisa  dilukiskan dengan kata-kata. Akhirnya aku  keluar dari ruang isolasi. Jantungku terasa lega. Sesak didada  sudah sirna. Kuingat suster Anna.  Segera aku tanya kepada para perawat yang  ada. Aku harus menemuinya. Aku ingin berterima kasih padanya. Beliau penyemangat  hidupku. Karena  beliau aku  sekarang sudah sembuh. Aku sudah  terbebas dari Corona.

Aku digandeng  oleh seorang suster, diajaknya aku duduk.  Dibangku panjang  depan Laboratorium dekat, ruangan ICU.   Suster cerita padaku bahwa Suster  Anna sudah meninggal 2 hari yang lalu. Suster Anna  tidak bertahan  karena sudah terinfeksi duluan.  Badannya terlalu lemah ditambah mungkin Kecapean merawat pasien. Selain itu Suster punya riwayat sakit  asma. Lengkaplah.

Mataku terbelalak  saat mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir perawat itu.

Ya Tuhan......tenyata suster yang baik hati itu sudah  meninggalkan kami.  Tuhan pasti sudah menyiapkan tempat yang indah diSorga.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...