Selasa, 15 September 2020

NEW NORMAL BAGI GURU DAN PESERTA DIDIK SAAT PANDEMI MELANDA DI KOTA KECILKU

 

TUGAS  5

Artikel Revisi 1

*Ledwina Eti Wuryani  / Materi Artikel / KMO  Basic Batch 33* 

        Saat Pandemi datang, kita sedih. Apalagi melihat, mendengar berita di TV, di medsos, banyaksaudara-saudara kita  yang  terserang covid, ada di karantina,  dirawat . Bahkan tidak sedikitjuga yang sudahmeninggal. Rasa takut, cemas, was-was ada terus pastinya. Oh Tuhan, semoga kami selalu diberikanKesehatan  dan terbebas darinya.

Saya adalah seorang ASN,guru, dimana waktu itu   pernah membayangkan, betapa bahagianya  jika  bisa menghirup  udara pagi di rumah setiap hari. Aktifitas di rumah yang bebaasss!!, setiap hari.  Ternyata  Tuhan memberikan jawaban. Berkat Pandemi. Diwajibkan di rumah saja. Hari pertama, kedua, ketiga  sekitar 3 minggu, terasa  jenuh  dan bosan.  Seiring berjalannnya waktu, akhirnya  kita bisa menikmati indahnya “di rumah saja”.  Suatu hal yang  tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Sebelum pandemi ada, guru dan siswa  harus bekerja,  menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mencapai target kurikulum. Kami melaksanakan tatap muka dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Saat Pandemi melanda,  kegiatan belajar mengajar  terasa ‘lebih ringan’, karena belajar dari rumah saja. Setiap orang punya  talenta masing-masing. Akhirnya  bakat masing-masing  mulai muncul. Hobi mulai tersalur.  Waktu mendukung. Setiap  orang jadi  bisa menggali potensi diri. Akhirnya masing-masing orang  bisa menunjukkan kreatif dan kompetensi pribadi. Setiap orang bisa  merealisasikan dan  mewujudnyatakan potensinya. Diantaranya: memasak, menulis, olah raga dan lain-lain. Dari hobi  yang tersalur kita jadi merasa bahagia dan terhibur.

Kreatifitas disebut juga sebagai berpikir kreatif (creative thinking), yaitu proses berpikir seseorang atau aktivitas kognitif seseorang dalam menghasilkan ide-de yang baru dan bermanfaat.’Suharnan’, 2005. Benar adanya , ternyata dengan adanya  musibah ini, hari-hari di rumah saja, kita bisa  lebih kreatif!.  Di rumah saya ada  beberapa  anak sekolah yang ‘tinggal’ atau ‘numpang’. Saat Pandemi mereka belajar dari rumah (BDR). Akhirnya saya pun menerapkan pembelajaran di rumah. Tujuannya  adalah mengarahkan mereka untuk memunculkan kreatif.  Saya mengajak  anak-anak untuk  berkebun, bertani,  menanam sayur, memasak, hasil  diposting di WA group, teman-teman  pesan kita antar, menghasilkan uang.

 

Saya senang melihat  dan membaca di postingan teman-teman guru dan peserta didik. Mereka mempunyai hobi baru.   Ada yang membuat bedeng untuk kebun sayur. Ada yang  menjual  hasil masakan. Ada yang menjual ikan hasil suluh. Mereka seolah  ada persaingan positif, berlomba untuk menunjukkan  semangatnya  dalam memanfaatkan  waktu luang di rumah. Asyik!!. Senang sekaligus bangga melihat mereka. Kita bisa saling memotivasi. Kita  saling berpartisiasi  untuk  membeli produk rumahan mereka.

Untuk menggali potensi diri siswa, Salah satu tugas  adalah  membuat ‘produk’, yaitu membuat poster. Poster berisi ketrampilan baru di rumah.   Dibuat se-kreatif mungkin. Setiap anak   punya  bakat masing-masing dan  mereka punya rasa kreatif yang berbeda-beda.  Dan judul  tugas tersebut adalah “Aku Setelah Pandemi”. Poster hasil karyanya difoto  bersama pembuatnya, kirim lewat WA grup kelas.  Karena merupakan tugas wajib dan  merupakan salah satu   penilaian  mata pelajaran  ketrampilan  dalam  matematika. Mereka Semangat. Mereka ingin membuat yang terbaik. Bukti fisik  dan karya  nyata  tanya orang tua. Mana mungkin peserta didik berani bohong sama gurunya.

Pembelajaran BDR menggunakan  ‘daring’ (dalam jaringan)  :   GCR ( Google ClassRomm),  Aplikasi  zoom , googleform dan berbagai Aplikasi Internet akhirnya mereka  jadi  ‘tahu’, trampil dan ‘pengalaman’  menggunakan  HP Android dengan lancar jaya dan penuh semangat.  Mereka  jadi tahu benar  tentang ‘fungsi’ HP android yang sebenarnya. Kalau dulu  tahunya  ‘hanya’ untuk ‘main game’ buka ‘ You Tube’ ,”FB” kapasitas sebagai pemain game dan penonton saja.  Tapi sekarang  bisa untuk menggali informasi berbagai  hal. Bahkan  akhirnya  bisa kreatif  mendownload  berbagai aplikasi  karena ‘tuntutan’ tugas sekolah yang harus di”video’kan. Seperti  aplikasi  ‘KineMaster”, “Canva” , CS, ‘Tik Tok’, ‘ZOOM’ “classroom’, ‘Zenius’ ,’Snaptube’, ‘Meet , ‘Telegram’dan masih banyak lagi, yang mana gurunya sudah ‘kalah’  kreatif dibanding   ketrampilan anak-anak.  Memang tidak semua,  tapi ‘lumayan’ beberapa anak jadi lebih kreatif  dalam memanfaatkan HP.

Waktu Luang di rumah terasa banyak. Kebersamaan dan Keakraban bersama keluarga mulai terasa. Rasa saling menyayangi, saling membutuhkan, saling melengkapi, Saling berbagi   semakin nyata. Dengan demikian tugas-tugas dari sekolah bisa dikerjakan dengan pendampingan kakak atau bahkan orang tua.Setiap tugas, pekerjaan terasa ringan dan menyenangkan.

Janganlah  pendemi itu dianggap sebagai  musibah, tetapi anggap  dia datang sebagi tamu, kita  sebagai tuan rumah harus menerima dengan penuh suka cita.  Kita tetap bersahabat, berdampingan. Ternyata  bagi sebagian orang, pandemi ini   membawa dampak positif. Membawa Berkah. Kita bisa  punya kegiatan-kegiatan kreatif.  Dimana dari kegiatan kreatif  bisa menumbuhkan bakat kita masing- masing  yang terpendam. Memunculkan  ide kreatif diluar dugaan kita. Bahkan lebih membanggakan lagi  bisa   mempunyai penghasilan tambahan. Siapa tidak bangga kalau  punya penghasilan tambahan?  Kita  bisa belanja   ‘keinginan’ kita sesuai  uang “bonus” yang kita punya. Gaji bulanan, hanya cukup untuk belanja ‘kebutuhan’ kita, biasa sudah masuk ‘pos’  rutin. Dengan adanya uang bonus,  bisa kita  pakai untuk  sedikit bersenang-senang bersama keluarga, memanjakan  diri, makan yang lebih enak dari biasanya. Dulu tak sempat dan tak ada waktu. Saat  ini bisa merealisasikan.

Terima kasih  Tante Corona,  atas kedatanganmu,  kita tetap bersahabat!  Darimu kami menjadi lebih dewasa, lebih  menghargai kehidupan, lebih bisa menjaga kesehatan, tahu diri, dan  bisa menggali bakat pribadi. Semoga setelah Pandemi  ini berlalu kita punya kebiasaan baru yang lebih produktif. Jika kita produktif kita akan merasakan  sebuah kebahagiaan baru. Pinjam kata-kata dari Pak Cah,  Inilah kebahagiaan  kecil  saya . Sederhana!. Bahagia bertumbuh  dengan mencapai  target-target kecil  yang diciptakan sendiri. Salam Literasi!. Salam Sehat! Semoga Pandemi  cepat berlalu.

 

 

 

 

 

 

 

KOREKSI 1

·         Kalimat dan Paragraf:

Ø  Gunakan kalimat yang efektif.

Syarat kalimat efektif:

1.      Sepadan

Sepadan yang dimaksud adalah seimbang antara pemakaian pikiran (gagasan) dan struktur bahasa. Gagasan dan kepaduan pikiran yang baik akan memperlihatkan kesepadanan. Dalam unsur kesepadanan terdapat beberapa syarat, antara lain:

a.      Kalimat memiliki fungsi-fungsi yang jelas

Teknik menulis subjek, predikat, objek, dan keterangan hendaknya dituliskan dengan benar dan menempati strukturnya masing-masing.

b.      Tidak terdapat subjek ganda

Subjek yang dituliskan dalam kalimat ada hanya satu. Penyebutan subjek untuk kedua kalinya kurang tepat, lebih baik Anda menggunakan kata ganti (ku-mu-nya) agar kalimat lebih sepadan.

c.       Penggunaan kata hubung tepat

Kata hubung atau konjungsi sebaiknya digunakan dengan tepat.

d.      Predikat sebaiknya tidak didahului dengan kata “yang”

Predikat yang dituliskan dalam bentuk kata kerja dan bukan kata kerja sebaiknya tidak didahului kata “yang”. Predikat bukan kata kerja yang didahului “yang” tidak akan membentuk kalimat, melainkan frasa atau kelompok kata. Sementara itu, penggunaan kata yang pada kalimat berpredikat kata kerja bisa berujung pada pemborosan kata.

2.      Hemat

Hemat adalah salah satu ciri kalimat efektif. Hemat berarti menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang tidak berlebihan. Hemat berarti tidak menuliskan kata-kata yang tidak diperlukan.

3.      Cermat

Kalimat yang cermat berarti tidak menimbulkan tafsiran ganda dan menggunakan pemilihan kata yang tepat. Tidak hanya itu, penyusunan kata dan penggunaan logika dalam kalimat juga diperlukan. Kecermatan dalam kalimat meliputi beberapa aspek, seperti:

a.      Memiliki struktur yang tepat.

Contoh: Siswa sekolah yang terbaik itu meraih medali emas dalam olimpiade sains nasional.

Kata yang di atas menimbulkan makna ganda dalam teknik menulis. Jadi pembaca dapat berpikir bahwa yang terbaik lebih ditekankan untuk kata siswa atau sekolah. Untuk menghindari kasus seperti ini, lebih baik Anda mencermati kembali struktur kalimat yang ditulis.

b.      Padu

Kepaduan atau koherensi menjadi syarat kalimat efektif. Kalimat yang padu berarti memberikan informasi yang jelas dan tidak pecah. Kalimat juga tidak dituliskan bertele-tele agar sistematis. Kepaduan kalimat menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara subjek, predikat, objek, dan lain-lain. Salah satu penyebab kalimat menjadi tidak padu karena dituliskan terlalu panjang. Hal ini tidak hanya menjadikan kalimat tidak efektif, tetapi juga menyulitkan pembaca untuk memahami ide kalimat. Kalimat yang terlalu panjang juga akan membuat pembaca cepat merasa bosan.

c.       Logis

Kalimat yang logis akan sesuai dengan penalaran sehingga dapat diperoleh kesimpulan di akhir. Hendaknya kalimat yang dengan logis memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan kembali di pikiran pembaca sehingga ia dapat memahami alur berpikir penulis.

Ø  Pahami cara menulis paragraf yang benar. Dalam satu paragraf, hanya ada satu pokok pikiran dan beberapa kalimat penjelas.

 

·         Sistematika penulisan:

Ø  Setiap paragraf, seharusnya pembahasannya tidak terputus dan loncat-loncat. Tulisan yang tidak mengalir, biasanya disebabkan karena kurang/tidak tepat dalam memilih kata penghubung. Bisa juga karena kalimat rumpang (tidak lengkap S-P-O-K nya. Tidak semua kalimata harus lengkap S-P-O-K nya, setidaknya terdapat S dan P)

Ø  Buat kalimat yang runtut. Bangun hubungan antar kalimat sehingga menjadi sebuah paragraf yang padu. Selanjutnya, bangun pula hubungan antar paragraf.

Ø  Satu artikel hanya berisi satu pembahasan pokok.

 

·         Masukan

Ø  Bahasa sudah cukup lancar dan mengalir.

Ø  Pelajari PUEBI agar dapat memahami kaidah kepenulisan yang benar.

Ø  Banyak-banyaklah membaca, termasuk membaca artikel pendek agar mempunyai referensi yang banyak ketika ingin menulis artikel.

Ø  Silakan dicermati untuk koreksi pertama, dan kirimkan ulang revisinya tujuh hari setelah email ini dikirim untuk mendapatkan koreksi tata penulisan. Terima kasih..

 

 

Minggu, 13 September 2020

TANTANG DIRI SENDIRI UNTUK PRODUKTIF MENULIS

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Challenges in your life are the only way you grow. They help refine your edges and give you more depth” – Rebecca Graf, 2018

.

Untuk menjadi penulis produktif, Anda harus menantang diri sendiri. Anda memerlukan tantangan, dan Anda sendiri yang harus membuatnya. Tidak perlu menunggu lomba atau sayembara. Sebab Anda tidak harus menang dari orang lain.

Anda cukup menang dalam menaklukkan tantangan yang Anda buat sendiri. Ini artinya Anda akan selalu tumbuh setiap saat. Tantangan akan membuat Anda terpacu, terus belajar, menemukan cara, menyelesaikan persoalan dan semakin bergairah.

Seperti yang dinyatakan oleh Rebecca Graf (2018), “Challenges in your life are the only way you grow. They help refine your edges and give you more depth”. Menurut Graf, tantangan dalam hidup adalah cara agar Anda selalu bertumbuh. Tantangan membantu memperluas batas Anda, serta memberi Anda lebih banyak kedalaman.

Pertama, Tantang dengan Peningkatan Statistik Tulisan Setiap Hari

Anda bisa menantang diri sendiri untuk bertumbuh kemampuan memproduksi tulisan setiap hari. Jika selama ini Anda telah rutin menulis 100 kata setiap hari, tantanglah diri Anda untuk menulis 200 kata setiap harinya. Jika Anda sudah biasa menulis 1.000 karakter tiap hari, tantanglah untuk menulis 2.000 karakter.

Untuk jumlah peningkatan setiap hari, tentu harus disesuaikan dengan kemampuan Anda masing-masing. Jangan menantang dengan sesuatu yang sangat mudah, namun juga jangan menantang dengan hal-hal yang menyulitkan. Misalnya, jika telah terbiasa menulis 100 kata tiap hari, jangan hanya menantang dengan 110 kata tiap hari. Namun juga jangan menantang dengan 1.000 kata setiap hari.

Kedua, Tantang dengan Jumlah Poin Pembahasan

Saya suka menantang diri sendiri dengan jumlah poin pembahasan yang hendak saya tuliskan. Misalnya, ketika menulis tema Karakter Suami Ideal di Kompasiana, saya mengawali dengan pernyataan, “Saya akan menyampaikan sepuluh karakter suami ideal, yang akan saya posting bagian demi bagian di rubrik ini”.

Kemudian saya menulis karakter pertama, dan saya posting di Kompasiana. Maka akhirnya banyak komentar pembaca yang menyatakan menunggu postingan berikutnya. Ini tentu sangat menantang saya. Harus bisa menyelesaikan 10 poin pembahasan tentang karakter duami ideal.

Saya harus membaca banyak referensi untuk mencari karakter suami ideal seperti apa saja. Saya harus berhasil menuliskannya dalam 10 poin pembahasan, sebagaimana yang telah saya sampaikan di awal tulisan. Alhamdulillah, berhasil menemukan dan menuliskan 10 karakter tersebut.

Itu juga yang saya lakukan saat menulis 10 karakter istri ideal di Kompasiana. Dengan cara yang sama, saya menantang diri sendiri. Maka saya harus banyak belajar, banyak membaca, banyak mencari referensi. Inilah cara bertumbuh.

Ketiga, Tantang dengan Kualitas

Anda juga bisa menantang diri sendiri dengan kualitas tulisan. Misalnya, selama ini Anda sudah rutin menulis kejadian sehari-hari. Anda merasa lancar dan tidak menemukan kesulitan. Di titik ini, jangan cepat puas. Tantang diri Anda sendiri dengan menghasilkan tulisan yang lebih berkualitas.

Misalnya, dari jenis tulisan yang sudah rutin Anda hasilkan, Anda harus bisa memberikan landasan teori yang bisa mendukung isi tulisan Anda. Artinya, Anda harus mencari referensi pendukung dari setiap tulisan Anda. Ini akan memaksa Anda untuk mencari rujukan yang sesuai, sekaligus memaksa Anda banyak belajar serta banyak membaca.

Dengan demikian, Anda bisa menghasilkan tulisan yang semakin berkualitas. Tidak semata-mata berisi curhat, namun ada ilmu yang bisa Anda berikan kepada pembaca. Anda akan banyak belajar, bagaimana curhat bisa dikembangkan menjadi tulisan yang memberi ilmu kepada pembaca, karena ada rujukan teoritik yang dimasukkan ke dalamnya.

Keempat, Tantang dengan Karya dan Produktivitas Nyata

Anda bisa menantang diri sendiri dengan menghasilkan buku mandiri. Jika selama ini Anda belum memiliki buku mandiri, maka tantang diri untuk memiliki minimal satu buku dalam kehidupan Anda. Hal ini akan memaksa Anda terpacu menulis, dan belajar berbagai sisi tentang bagaimana membuat buku.

Jika Anda sudah menulis buku mandiri, tantang diri untuk mewujudkan buku dalam satuan waktu tertentu. Misalnya, ikuti program SHSB (Seratus Hari Satu Buku), ini akan memaksa Anda untuk disiplin menghasilkan karya tulis dalam waktu tertentu. Anda juga bisa menarget misalnya, dalam satu tahun harus menghasilkan minimal tiga buku.

Ini adalah tantangan yang memacu syaraf kreativitas dan produktivitas Anda. Di saat yang sama, membuat Anda bekerja dengan lebih smart, karena ada tantangan yang harus ditaklukkan.

“You have to tear muscle to build it. It is painful. It pushes beyond what you are comfortable with. That pushes you to grow physically. The same can be said about your writing”, ujar Rebecca Graf.

“Anda harus merobek otot untuk membangunnya. Ini menyakitkan, karena melampaui batas yang membuat Anda merasa nyaman. Tantangan mendorong Anda untuk tumbuh secara fisik –hal sama bisa Anda berlakukan terhadap tulisan”, pesan Graf.

Selamat menantang diri sendiri.

Bahan Bacaan

Kamis, 10 September 2020

WHERE ARE THE EDGES OF YOUR DAY?

 



.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Saya senang dengan pertanyaan menggelitik Joanna Penn ini. “Di manakah ujung harimu?” Coba mari kita jawab masing-masing. Di mana ujung harimu? Ketika Anda masih saja mengatakan kesulitan mengatur waktu.

Joanna Penn adalah seorang istri, ibu dan pekerja profesional. Ia menulis buku Stone of Fire dan lebih dari 30 buku lainnya, dalam kondisi penuh kesibukan. Ia bukan ibu yang menghabiskan waktu dengan jalan-jalan di mall, namun ia habiskan waktu dengan produktivitaas.

“Saya menulis empat buku pertama ketika saya bekerja penuh waktu sebagai konsultan di Brisbane, Australia”, ujar Penn.

“Saya bangun jam 5 pagi dan menulis sebelum saya berangkat kerja. Karena begitu saya tiba di kantor, saya tidak punya waktu untuk menciptakan kreativitas lagi”, ujar Penn. Di kantor, tentu ia harus bekerja sesuai dengan job descriotion bagi dirinya.

“Saya bangun jam 5 pagi, menulis selama satu jam, kemudian bersiap-siap untuk berangkat kerja”, lanjut Penn.

Saya tahu banyak di antara Anda yang bangun jam dua atau tiga malam untuk shalat malam dan berdzikir. Jadi, lebih pagi dari kebiasaan Penn. Harusnya juga bisa lebih produktif dibanding Penn.

Jadi, di mana ujung harimu? Ketika Anda masih saja mengatakan tidak punya waktu semenit pun untuk menulis. Adalah aneh jika menyalahkan keterbatasan waktu sebagai penyebab tidak menulis.

Benarkah Anda tidak memiliki waktu? Tidak benar. Semua orang hidup, memiliki waktu.

“When you say you don’t have the time, what you are really saying is: Something else is more important right now than writing,” ujar Victoria Lynn Schmidt, Ph.D. Inilah jawaban sebenarnya.

Ketika Anda mengatakan tidak punya waktu untuk menulis, yang sesungguhnya terjadi adalah, Anda tengah mengatakan “ada banyak hal lain jauh lebih penting saat ini daripada menulis”. Bukan karena tidak punya waktu.

“Are all these other tasks you’re completing, all of them, more important to you than writing? If so, then stop beating yourself up about not writing and put this book down”, lanjut Lynn.

Jika semua aktivitas lain yang Anda lakukan —menurut Anda— lebih penting daripada menulis, maka berhentilah menyalahkan diri sendiri tentang tidak menulis, dan berhentilah membaca tulisan ini. Lebih baik Anda melakukan aktivitas lainnya, yang bermanfaat, dibandingkan Anda selalu menjadikan kesempitan waktu sebagai tertuduh.

Jadi, di mana ujung harimu? Ketika Anda masih saja mengatakan tidak punya waktu semenit pun untuk menulis. Anda masih saja mengatakan kegiatan Anda sangat padat, sampai kekurangan waktu.

Sekarang, mari coba diperinci. Bagaimana Anda menggunakan waktu-waktu selama ini? Lynn masih mempertanyakan alasan “tidak punya waktu” yang sering dijadikan pembenaran untuk tidak menulis apapun.

“You absolutely cannot say you don’t have the time unless you write down all of your activities for one week and prove it!”, ujar Lynn.

Menurut Lynn, Anda baru benar-benar bisa mengatakan tidak punya waktu, jika telah menuliskan semua kegiatan harian Anda selama satu pekan, dan membuktikan bahwa tak satupun menit tersisa.

Nora Roberts adalah penulis lebih dari 200 novel —diantaranya Irish Thoroughbred (1981). Ia memiliki sangat banyak aktivitas lain yang harus dikerjakan, ketika dia menulis novel. Nora juga ibu dari dua orang anak. Jelas ia bukan tipe ‘pengangguran’ yang menghabiskan waktu dengan menulis.

Ida Kusdiati, penulis buku Khatulistiwa Cinta, peserta kelas Emak Punya Karya (EPK) Batch 1 / 2020, adalah pejabat penting di Dinas Pertanian Kalimantan Barat. Ia juga Ketua Pengurus Wilayah Salimah Kalimantan Barat, sekaligus ibu dari tiga anak. Sangat padat kegiatannya, toh ia sangat produktif menulis setiap hari.

Lalu bagaimana seorang Nora Roberts, Joanna Penn, Ida Kusdiati dan para penulis produktif lainnya, menjalankan tugas hidup sehari-hari dan menulis pada saat yang sama? Jawabannya adalah, karena mereka menganggap menulis sebagai hal penting yang harus mereka lakukan setiap hari.

Mereka memberikan nilai dan makna penting atas aktivitas menulis. Oleh karena itu, selalu ada waktu untuk menulis setiap hari, sesibuk apapun kegiatan hariannya. Para penulis handal itu memberikan perhatian kepada aktivitas menulis, karena meyakini bahwa menulis merupakan hal penting dalam kehidupan.

Tanpa manajemen perhatian seperti ini, Anda akan selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menulis.

Jadi, di mana ujung harimu?

BAGAIMANA MENCARI REFERENSI TULISAN?

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“You fail only if you stop writing” –Ray Bradbury

.

Salah seorang alumni Kelas Menulis Online (KMO) Basic bertanya kepada saya, bagaimana cara menemukan referensi yang sesuai dengan tulisan kita? Ia membaca postingan saya setiap pagi di blog Ruang Menulis, dan ia menemukan saya sangat sering menuliskan kutipan dan daftar bacaan.

“Apakah Pak Cah menulis dulu, baru mencari rujukan, atau mencari rujukan dulu baru menulis?” tanya dia.

“Saya kesulitan untuk menemukan rujukan untuk memperkuat argumen yang sudah saya tulis”, lanjutnya.

“Di zaman kita hidup sekarang, berbagai kesulitan telah terpecahkan dengan internet. Kita bisa menulis dulu, bisa juga mencari referensi dulu. Yang paling penting adalah tetaplah menulis”, jawab saya.

“Jangan menghabiskan waktu untuk mencari referensi, yang akhirnya malah tidak menulis apa-apa”, tambah saya.

Berikut saya buka rahasia, bagaimana cara saya menemukan referensi, dan menggunakannya dalam tulisan sederhana saya.

Pertama, Gunakan Sudut Pandang Penulis

Dalam postingan saya sebelumnya, sudah saya sampaikan pentingnya point of view (POV) sebagai penulis. Simak kembali ulasannya di sini. Yang dimaksud POV sebagai penulis adalah, letakkan diri sebagai penulis dalam berbagai aktivitas kehidupan.

Maka ketika saya membaca suatu artikel, saya membaca dengan sudut pandang seorang penulis. Maka saya tidak harus membaca keseluruhan tulisan, melainkan saya pilih sesuai dengan yang saya perlukan.

Sebagai contoh, ketika menulis tentang teknik menyunting tulisan, alhamdulillah di rumah sudah ada bukunya Pak Pamusuk Eneste yang sangat legendaris, “Buku Pintar Penyuntingan Naskah”. Saya tidak harus membaca keseluruhan buku tersebut baru menulis.

Saya baca daftar isi, lalu saya membaca bagian yang sesuai kebutuhan saya. Hanya beberapa halaman saja. Saya kutip beberapa bagian ke dalam tulisan, dan saya sebutkan sumbernya dalam daftar pustaka. Sederhana kan?

Kedua, Tuliskan Bahan

Kita bisa mulai dari proses menulis terlebih dahulu. Setiap kali saya menulis, saya sudah memiliki tujuan penulisan. Untuk apa saya menulis? Untuk siapa saya menulis? Ini yang sering disebut sebagai “who” dan “do” dalam tulisan. Simak kembali ulasan saya tentang ini, di sini.

Oleh karena saya memiliki tujuan, menulis untuk apa dan untuk siapa, maka menjadi mudah bagi saya untuk melakukannya. Misalnya, tulisan-tulisan yang saya posting di blog Ruang Menulis, saya maksudkan untuk suplemen bagi siapapun yang sedang belajar menulis (“who”), agar mereka semakin mahir dan bersemangat menulis (“do”).

Maka saya tuliskan bagian demi bagian dari pelajaran menulis, setiap hari semenjak masa pandemi. Setelah selesai menulis satu artikel –yang selalu saya tulis dalam sekali duduk, baru saya mencari referensi yang mendukung. Tentu saya harus memilih referensi yang sesuai dengan konteks pesan dalam tulisan saya.

Kenapa harus memilih? Karena pada dasarnya, sangat banyak cara pandang tentang menulis. Semua ada referensinya. Satu teknik dengan teknik lainnya, terkadang bertolak belakang. Maka saya harus memilih, mana yang menjadi keyakinan dan pendapat saya. Di saat yang sama, saya tahu ada referensi lain yang berbeda.

Jika tidak memiliki bukunya, saya segera searching di berbagai jurnal atau blog terpercaya, untuk mendapatkan rujukan. Kadang menemukan sangat banyak tulisan yang mendukung, maka saya komparasikan, dan saya ambil kesimpulan. Kadang saya hanya memilih salah satu saja yang paling sesuai dengan isi tulisan saya.

Saya ambil bagian yang saya perlukan untuk menjadi rujukan, kemudian saya tulis sumbernya di daftar pustaka. Saya menggunakan model “simple in-text citation” sebagaimana ditulis oleh Stephanie Chandler (2016). Terkadang saya menggunakan model “endnotes”. Sesuai selera dan sesuai kebutuhan saja.

Ketiga, Bertemu Refensi Duluan

Saya suka belajar dan ingin terus belajar. Suatu ketika saya membaca artikel tentang kepenulisan. Tulisan itu membuka wawasan saya, dan menjadi referensi bagi saya. Setelah menemukan tulisan yang mencerahkan, saya kemudian menuliskan kembali dengan kerangka dan bahasa saya sendiri.

Saya menulis artikel “Kenali 5 Barrier untuk Pembaca”, setelah membaca artikel Hannah Frankman berjudul “Six Rules for Writing a Good Article”, yang diposting di blog pribadinya www.hannahfrankman.com. Saya mengambil satu poin saja, dari enam poin yang ditulis Hannah.

Saya menulis artikel “Angka dan Data Selalu Menarik Perhatian Pembaca” setelah membaca artikel Nathan Safran berjudul “Five Data Insights into the Headlines Readers Click”, yang dimuat dalam jurnal https://moz.com. Saya mengambil dua data di antara sangat banyak data yang ditampilkan Safran.

Nah, ini berkebalikan dengan poin kedua di atas. Kalau pada poin sebelumnya, saya menulis dulu, baru mencari referensi yang mendukung. Pada poin ketiga ini, saya menemukan referensi terlebih dahulu, baru membuat tulisan menggunakan referensi tersebut. Artinya, kedua-duanya bisa kita lakukan, untuk jenis artikel pendek.

Jadi, jangan mempersulit diri. Ambil yang mudah. Menulis dulu, boleh. Mencari referensi dulu, boleh. Yang paling penting –menulislah!

Ini poin terpentingnya. Jangan hanya sibuk mencari referensi tanpa pernah menulis. Apalagi jika tidak pernah menulis, dan tidak pernah mencari referensi.

Hadewww.

Bahan Bacaan

Rabu, 02 September 2020

HADIRLAH DI “KANTOR MENULIS” ANDA SETIAP HARI

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“To crave only quiet places to write, in my opinion, is an excuse not to write” — Oby Akhigbe, 2018

.

Jika Anda guru, Anda akan hadir ke tempat mengajar setiap hari kerja, tanpa membolos. Jika Anda karyawan perusahaan, Anda akan hadir ke kantor perusahaan setiap hari kerja, tanpa mangkir. Jika Anda pegawai pemerintahan, Anda akan hadir di kantor setiap hari kerja, tanpa dipaksa.

Mengapa Anda begitu disiplin hadir di kantor setiap hari kerja? Pertama karena Anda memberikan nilai dan makna yang besar atas pekerjaan dan profesi tersebut. Kedua, karena Anda mengetahui konsekuensi apabila tidak hadir di tempat kerja sesuai ketentuan. Ketiga, karena Anda sudah membangun habit kerja selama bertahun-tahun.

Mengapa hal itu tidak terjadi pada konteks aktivitas menulis? Mengapa banyak orang yang tidak bisa menjadi penulis produktif? Karena tidak memiliki tiga hal tersebut.

Pertama, Memberi Nilai dan Makna Menulis

Jika Anda tidak menganggap penting menulis, maka Anda tidak akan pernah menulis. Selamanya. Bahkan Anda bisa mengejek dan menertawakan mereka yang rutin menulis setiap hari.  “Kurang kerjaan”, begitu canda mereka yang menganggap menulis sebagai hal yang tidak penting.

Jika Anda memberikan nilai dan makna yang besar bagi menulis, maka Anda pasti akan menulis sesibuk apapun diri Anda. Oby Akhigbe, penulis buku Follow My Heart,  menceritakan, “Saya menulis buku sambil mengerjakan banyak projek. Saya tetap menulis saat bepergian. Saya tetap menulis di tempat kerja. Mengharapkan tempat yang sepi untuk menulis, adalah alasan untuk tidak menulis”.

Kedua, Mengetahui Konsekuensi Jika Tidak Hadir

Apa yang terjadi jika sebagai pegawai Anda banyak bolos? Resiko ringannya adalah diperingatkan atasan, atau dikurangi gaji bulanan. Resiko beratnya adalah dipecat. Itu sebabnya Anda selalu hadir di tempat kerja, bagaimanapun kondisi Anda.

Apa yang terjadi jika Anda tidak menullis setiap hari? Resiko beratnya adalah, Anda tidak akan menjadi penulis. Anda tidak memiliki satupun karya tulis. Karena pasti Anda tidak akan lancar menulis, tidak produktif menulis, dan tidak berkembang kemampuan menulis.

Pasti Anda akan tersengal-sengal dan tersendat-sendat dalam menulis, karena tidak terbiasa. Ini adalah konsekuensi jika tidak menulis setiap hari.

Ketiga, Membangun Habit Menulis

Jika Anda membangun habit menulis, maka Anda akan menjadi penulis produktif. Membangun habit harus dilakukan dengan terus menerus menulis. Tiada hari tanpa menulis. Apapun yang Anda tulis, yang penting setiap hari menulis. Bahkan Anda bisa menulis sebuah artikel berjudul “Ketika Aku Tidak Tahu Apa yang Akan Aku Tulis”.

Maka hadirlah di “kantor kerja” menulis Anda, setiap hari. Stephen King hadir di kantor tempat ia menulis setiap pagi, 30 menit. Nicolas Cole hadir setiap hari di kantor tempat menulis, untuk menuangkan 10.000 kata setiap hari. Saya hadir di kantor tempat saya menulis —yaitu laptop, untuk menulis ribuan kata setiap hari.

Oby Akhigbe menyatakan, “Consistency is the key to becoming a successful writer. Granted, it is not always easy, but I am thriving to follow this rule- one day at a time”. Konsistensi adalah kunci untuk menjadi penulis sukses. Memang itu tidak mudah, tetapi saya berusaha keras untuk mengikuti aturan ini, hari demi hari

Ayo pastikan Anda hadir setiap hari di “kantor menulis” Anda masing-masing, sesuai dengan zona waktu menulis Anda masing-masing.

Selamat menulis.

Selasa, 01 September 2020

POINT OF VIEW SEBAGAI PENULIS

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Saya tidak akan menyampaikan teori tentang Point of View (POV) yang biasa dipelajari dalam dunia fiksi –apakah akan menggunakan sudut pandang orang pertama atau orang ketiga. Bukan POV itu yang ingin saya sampaikan.

Saya ingin menyampaikan tentang posisioning sebagai penulis, di berbagai aktivitas kehidupan. Sebagai penulis kita harus bisa memiliki point of view atau sudut pandang yang tepat –bahwa kita adalah penulis. Ini akan menguatkan jati diri dan posisi kita sebagai penulis.

“Saya adalah penulis”, itu yang harus selalu Anda katakan kepada diri sendiri. Setiap hari. Sebagai apapun diri Anda selama ini –guru, dosen, dokter, ASN, pengusaha, mahasiswa, ibu rumah tangga, buruh, atau apa saja—namun ketika Anda menulis, maka Anda adalah penulis. Ya, Anda adalah penulis.

POV “Sebagai Penulis”

Ketika Anda sebagai penulis, maka Anda akan melihat berbagai hal dalam sudut pandang sebagai penulis. Misalnya saat makan. Selain berdoa dan menikmati makanan, maka Anda bisa menulis tentang makanan tersebut. Baik cita rasanya, cara memasaknya, cara menikmatinya, kekhasannya, dan lain sebagainya. Anda telah makan “sebagai penulis”.

Ketika shalat, maka Anda harus melakukan dengan benar dan khusyu’, namun juga bisa menuliskan sesuatu. Anda bisa menulis tentang tata cara shalat, keutamaan shalat, makna bacaan shalat, atau tips agar bisa shalat dengan khusyu’. Anda juga bisa menulis tentang godaan serta gangguan dalam shalat. Dengan demikian Anda telah berbagi manfaat kepada masyarakat luas tentang shalat yang benar dan khusyu’, melalui tulisan.

Ketika membaca buku, hendaknya Anda membaca buku “sebagai penulis”. Maka Anda akan membaca cepat, karena tidak harus menyelesaikan seluruh isi buku. Anda membaca pada bagian yang Anda perlukan untuk rujukan atau kutipan. Anda bisa memilih bagian buku yang Anda perlukan sebagai referensi. Setelah membaca, Anda bisa menulis resensi buku tersebut, mengulas isinya, atau mengambil bagian tertentu sebagai rujukan.

Ketika menonton film, hendaknya Anda menonton “sebagai penulis”. Dengan demikian, Anda akan jeli mencermati adegan film, menyimak dialog, dan bisa membuat resensi. Anda bisa menulis resensi film tersebut, atau mengambil bagian dari adegan yang ada dalam film untuk menjadi bahan tulisan. Anda juga bisa mengabil cuplikan dialog dalam film tersebut sebagai bahan tulisan.

Ketika membaca atau menyimak berita di media, hendaknya Anda mengambil sudut pandang “sebagai penulis”. Berita yang barusan Anda dengar atau Anda baca, bisa menginspirasi untuk menuliskan sangat banyak hal. Dari satu berita, bisa menginspirasi menjadi cerpen, novel, puisi, opini, artikel atau esai. Berita yang sama, bisa diolah kembali menjadi beragam jenis tulisan sesuai keperluan.

Ketika mengobrol dengan kenalan baru di dalam kereta api atau bus malam, lakukan dengan sudut pandang “sebagai penulis”. Bahkan, ketika kita hanya sebagai pendengar pasif gara-gara ada orang mengobrol di dekat kita, yang –mau tidak mau—kita ikut mendengarkannya. Letakkan diri “sebagai penulis”, seperti yang pernah saya alami dalam sebuah penerbangan. Cerita saya ini bisa Anda simak di sini.

Ketika melakukan perjalanan, menikmati pemandangan, atau menikmati transportasi publik, miliki sudut pandang “sebagai penulis”. Saya merasa surprise saat menikmati kereta api ICE di Jerman, maka menjadi sebuah tulisan berkesan. Bisa Anda simak di sini. Saat berkesempatan mengunjungi pabrik pesawat Boeing di Seattle, saya menuliskan pengalaman berkesan itu dengan bahasa Jawa. Anda bisa menyimak di sini.

Melihat sesuatu, mendengar sesuatu, merasakan sesuatu, memikirkan sesuatu, mengalami sesuatu –semua bisa menjadi bahan tulisan. Syaratnya, miliki sudut pandang atau point of view sebagai penulis. Maka Anda tidak akan pernah kehabisan bahan untuk menulis sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan orang lain.

Suatu ketika saya mengunjungi rumah paman di Ponorogo, Jawa Timur. Rumah paman saya ini amat sangat sederhana –disebabkan status tanah yang tidak jelas. Hampir setiap tahun saya mengunjungi rumah paman untuk menjalin silaturahim. Saya tertarik dengan sebuah coretan yang ada di almari paman. Ditulis tangan, menggunakan cat. Tertulis “Sabar, Jujur, Mesem”.

Jika menggunakan point of view sebagai penulis, maka kita bisa menulis apa saja –segala sesuatu. Hanya karena membaca tulisan “sabar, jujur, mesem” –mesem artinya tersenyum—kita bisa membuat tulisan tentangnya. Hanya karena menemukan istilah yang unik, kita bisa mengolah menjadi tulisan.

Saat Anda memposting tulisan di medsos, kemudian ada komentar dari seorang netizen, Anda bisa menulis tentang komentar tersebut. Jika tulisan kedua Anda ini dikomentari lagi, Anda bisa membuat tulisan tentang komentar tersebut. Makin banyak d]komentar, makin sering dikomentari, makin banyak pula bahan tulisan Anda.

Nah, sekarang tolong angkat tangan tinggi-tinggi –biar saya lihat orangnya—siapa yang masih suka mengatakan menulis itu sulit? Siapa yang masih suka mengatakan, tidak mengerti akan menulis apa?

Tulislah tentang kesulitan-kesulitan menulis, jika Anda merasa sulit menulis. Tulislah tentang kebingungan menulis, jika Anda merasa bingung untuk menulis. Tulislah tentang kerumitan-kerumitan menulis, jika Anda merasa rumit menulis.

MENGAPA ARTIKEL HARUS MENCANTUMKAN IDENTITAS PENULIS?

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Kehadiran internet dan media sosial telah mengubah sangat banyak hal dalam kehidupan kita. Termasuk dalam dunia literasi. Sangat banyak manfaat dan kemudahan yang kita dapatkan melalui internet, namun di sisi lain bisa pula mengikis sikap kritis dan kehati-hatian.

Mari kita lihat contoh kejadian yang sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Di berbagai grup Whatsapp, sering kita jumpai sebuah tulisan yang dikirim oleh seorang anggota grup. Saya ambil secara acak ya, untuk contoh saja. Berikut sebuah tulisan yang diposting teman saya di sebuah grup, hari ini, Ahad 30 Agustus 2020.

********

Pandemic ini cepat atau lambat akan menular secara global, dan tidak dpt dihindari. Most important is: tingkatkan daya tahan tubuh, dan dia juga memberikan 5 cara utk meningkatkan ANTI BODY.

Tidak bisa hanya mengandalkan MASKER dan CUCI TANGAN. Teman2 dan Saudara2 sekalian, sebaiknya cepat2 meningkatkan ANTI BODY masing2. Bagaimana caranya membuat ANTI BODY dlm waktu singkat?

1. Setiap hari Harus Cukup Masa Tidur Minimum 7 JAM. Bagi orang2 yg masa tidur kurang dari 7 jam, akan mengalami penurunan ANTI BODY nya.

2. Diwajibkan makan secara ‘BAGUS’. Bukan maksud makan makanan yg mewah, tetapi maksudnya makan makanan yg ber PROTEIN tinggi.

Dan INGAT jangan makan GULA. Begitu makan gula, reaksinya adalah menghentikan pembentukan Cell DARAH PUTIH selama 5 jam. Begitulah pentingnya memperbaiki pola makan kita.

3. Covid19 telah membentuk system pola hidupnya. Begitu memasuki musim dingin akan berkembang lebih cepat. Maka diperlukan banyak berjemur MATAHARI untuk membantu process terbentuknya vitamin D dlm darah.

Para Ahli Medis juga menemukan bahwa bagi orang yg rutin mengkonsumsi Vitamin D secara teratur, resiko kena infeksi tenggorokan menurun sekitar 60%. Jika tidak sempat berjemur matahari, boleh makan Vitamin D tablet sesuai dosis yg dianjurkan.

4. Begitu pulang dari kantor, segera berkumur boleh dgn apa saja: Air panas, Air Garam hangat, Listerin, Teh hijau, semuanya berkhasiat sama.

5. Mandi AIR PANAS sekali dlm sehari, hasilnya meningkatkan suhu badan yg dpt mengurangi resiko tertular Covid19.

Para Ahli Medis ini juga memberitahu, kita cukup melakukan 4x mandi AIR PANAS dlm seminggu, resiko tertular Covid19 akan menurun sekitar 40%. Cukup Mandi Air Panas dgn suhu 40 derajat Celsius dan selama 5 menit sudah CUKUP.

Tidak perlu panik, selalu cuci tangan dan berkumur-kumur, pakai masker, hindari kerumunan.

Semoga Sehat Selalu

******

Demikian isi tulisan di sebuah grup Whatsapp, sekedar sebagai contoh bagaimana sebuah tulisan beredar di berbagai grup. Isi tulisan tersebut tentu sangat bermanfaat untuk menjaga diri dari Covid-19 dengan meningkatkan antibody.

Namun, pertanyaan besarnya adalah, bisakah isi tulisan itu dipercaya? Bagi para ahli kesehatan, akan bisa menilai apakah tulisan tersebut bisa diterima atau tidak. Namun bagi kalangan awam, tentu akan sangat sulit untuk memberi penilaian.

Menyebar Tanpa Identitas

Masalah pertama dan paling utama adalah, tulisan tersebut tidak ada nama penulisnya. Ini menyebabkan, kita tidak tahu latar belakang penulis. Apakah ia seorang ahli kesehatan, apakah ia kredibel, apakah ia bisa dipercaya, dan lain sebagainya. Jika ada identitas penulis dengan jelas, maka akan bisa digunakan untuk melacak, siapakah jati diri si penulis.

Ketika saya tanya kepada teman yang mengirim tulisan ke grup, apakah itu tulisannya sendiri? Ia menjawab, bukan. Saat saya tanya lebih lanjut, itu tulisan siapa? Dengan enak ia menjawab, tidak tahu.

“Saya hanya share ulang, dari grup lain”, jawab teman tersebut.

“Semoga bermanfaat”, lanjutnya.

Saya minta ia bertanya kepada orang yang mengirim di grup sebelumnya, siapa penulis artikel tersebut? Jawabannya semakin meragukan. “Sudah saya tanyakan ke teman yang posting di grup sebelah. Kata teman itu, ia juga hanya mengirim dari grup yang lain”. Weleh weleh….

Apakah mungkin ada tulisan tiba-tiba muncul sendiri tanpa ada penulisnya? Tentu tidak mungkin. Sebuah tulisan, panjang ataupun pendek, selalu ada penulisnya. Tapi sayang, sang penulis tidak mencantumkan identitas dirinya.

Mungkin saja, sang penulis hanya bermaksud mengirim pesan kepada teman-teman satu grup, misalnya. Sehingga ia merasa tidak perlu mencantumkan identitas, toh teman-teman satu grup semua sudah tahu siapa dirinya. Namun, hukum dalam dunia media sosial adalah, apapun yang kita posting di sebuah grup, bisa menyebar tanpa bisa dikendalikan, ke berbagai grup lainnya.

Mungkin pula, si penulis sudah mencantumkan identitas dirinya, baik lengkap maupun dengan singkatan. Namun identitas tersebut hilang atau sengaja dihilangkan oleh pihak yang mengirim dan menyebar ke berbagai grup. Tentu ada beragam alasan, mengapa seseorang menghapus identitas penulis —saya tidak tahu.

Berargumen dengan Manfaat

Jika seseorang mengirim tulisan tersebut ke grup-grup yang ia ikuti, dengan maksud “semoga bermanfaat” bagi teman-teman lain, tentu tidak semudah itu. Persoalan manfaat, jelas tidak mudah dalam contoh di atas. Jika tulisan itu dibuat oleh seorang dokter, atau master dan doktor bidang kesehatan, sepertinya kita akan langsung percaya. Karena ditulis oleh pihak yang kompeten dengan bidangnya.

Atau ditulis oleh seseorang yang bukan ahli kesehatan, namun ia mencantumkan rujukan atau referensi, sumber pengambilan data dan analisa tersebut. Nah, ini tentu akan sangat tergantung kepada daftar pustaka atau referensi yang digunakan. Jika referensinya kredibel, tentu akan bisa diterima dan dipercaya, meskipun si penulis bukan ahli kesehatan.

Sebab, ada kalimat “4 x mandi AIR PANAS dlm seminggu, resiko tertular Covid19 akan menurun sekitar 40%”, ini jelas bukan bahasa puisi atau fiksi. Ini adalah data ilmiah, atau ulasan akademik. Tidak mungkin seseorang mengarang data dan analisa seperti itu, jika bukan ahlinya.

Dalam tulisan tersebut terdapat angka prosentase penurunan, yang tidak mungkin didapat secara mengarang alias imajinasi. Ada frekuensi 4 kali sepekan, ini mirip dengan saran dokter, minum sirup obat sehari tiga kali. Jelas ini saran yang akurat apabila memang berasal dari dokter atau ahli kesehatan.

Manfaat, itu kan kalau informasinya valid atau sahih. Jika memang itu benar secara medis, maka menyebarkannya bukan saja bermanfaat, namun berpahala. Namun jika menyebar informasi salah alias hoax, bukan saja tidak bermanfaat, namun bahkan bisa berdosa karena menyesatkan banyak orang.

Lalu siapa yang mampu menilai validitas isi tulisan tersebut? Tentu saja para ahli di bidang kesehatan. Masyarakat awam, tidak akan mampu melakukan validasi. Celakanya, masyarakat akan cepat percaya kepada sebuah konten yang berulang-ulang mereka dapatkan.

Gara-gara ikut 40 grup Whatsapp dan tulisan tersebut beredar di 40 grup yang dia ikuti, maka seakan-akan semua orang sudah memiliki pandangan atau keyakinan yang sama. Padahal ternyata, perilakunya sekedar share ulang, tanpa validasi, tanpa peduli siapa penulis artikel tersebut.

Pertanggungjawaban

Menuliskan identitas diri penulis dalam artikel, adalah bentuk pertanggungjawaban akademik, juga pertanggungjawaban moral. Apabila ada pihak yang ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut, ada nama yang bisa ditanya. Apabila ada yang mempersoalkan isinya, ada pihak yang bisa dihubungi.

Inilah pentingnya identitas diri penulis. Koran dan majalah, selalu menuntut nama dan identitas penulis. Bahkan dalam platform online terbuka seperti Kompasiana, untuk verifikasi penulis, diperlukan data yang sangat detail. Seorang teman bertanya kepada saya, mengapa Kompasiana meminta data sedetail itu?

“Karena penulis harus bertanggung jawab”, itu jawaban saya.

Maka tulislah identitas diri Anda dalam setiap tulisan yang Anda posting, meskipun hanya di grup. Kecuali jika hanya sekedar komentar pendek atau candaan dan silaturahim di grup. Tentu berlaku hukum silaturahim, penuh kekeluargaaan, penuh kehangatan dan persahabatan.

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...