TUGAS 5
Artikel Revisi 1
*Ledwina Eti Wuryani / Materi Artikel / KMO Basic Batch 33*
Saat Pandemi datang, kita sedih. Apalagi melihat, mendengar berita di TV, di medsos, banyaksaudara-saudara kita yang terserang covid, ada di karantina, dirawat . Bahkan tidak sedikitjuga yang sudahmeninggal. Rasa takut, cemas, was-was ada terus pastinya. Oh Tuhan, semoga kami selalu diberikanKesehatan dan terbebas darinya.
Saya adalah seorang ASN,guru, dimana waktu itu pernah membayangkan, betapa bahagianya jika bisa menghirup
udara pagi di rumah setiap hari. Aktifitas di rumah yang bebaasss!!, setiap hari. Ternyata
Tuhan memberikan jawaban. Berkat Pandemi. Diwajibkan di rumah saja. Hari
pertama, kedua, ketiga sekitar 3 minggu,
terasa jenuh dan bosan.
Seiring berjalannnya waktu, akhirnya
kita bisa menikmati indahnya “di rumah saja”. Suatu hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Sebelum pandemi ada, guru dan siswa harus bekerja, menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mencapai
target kurikulum. Kami melaksanakan tatap muka dalam kegiatan belajar mengajar
di sekolah. Saat Pandemi melanda, kegiatan
belajar mengajar terasa ‘lebih ringan’,
karena belajar dari rumah saja. Setiap orang punya talenta masing-masing. Akhirnya bakat masing-masing mulai muncul. Hobi mulai tersalur. Waktu mendukung. Setiap orang jadi
bisa menggali potensi diri. Akhirnya masing-masing orang bisa menunjukkan kreatif dan kompetensi pribadi.
Setiap orang bisa merealisasikan dan mewujudnyatakan potensinya. Diantaranya:
memasak, menulis, olah raga dan lain-lain. Dari hobi yang tersalur kita jadi merasa bahagia dan
terhibur.
Kreatifitas disebut juga sebagai
berpikir kreatif (creative thinking), yaitu
proses berpikir seseorang atau aktivitas kognitif seseorang dalam menghasilkan
ide-de yang baru dan bermanfaat.’Suharnan’, 2005. Benar adanya , ternyata dengan adanya musibah ini, hari-hari di rumah saja, kita
bisa lebih kreatif!. Di rumah saya ada beberapa
anak sekolah yang ‘tinggal’ atau ‘numpang’. Saat Pandemi mereka belajar
dari rumah (BDR). Akhirnya saya pun menerapkan pembelajaran di rumah.
Tujuannya adalah mengarahkan mereka untuk
memunculkan kreatif. Saya mengajak anak-anak untuk berkebun, bertani, menanam sayur, memasak, hasil
diposting di WA group, teman-teman
pesan kita antar,
menghasilkan uang.
Saya senang melihat dan
membaca di postingan teman-teman guru dan peserta didik. Mereka mempunyai hobi
baru. Ada yang membuat bedeng untuk kebun
sayur. Ada yang menjual hasil masakan. Ada yang menjual ikan hasil
suluh. Mereka seolah ada persaingan
positif, berlomba untuk menunjukkan
semangatnya dalam
memanfaatkan waktu luang di rumah. Asyik!!.
Senang sekaligus bangga melihat mereka. Kita bisa saling memotivasi. Kita saling berpartisiasi untuk
membeli produk rumahan mereka.
Untuk menggali potensi diri siswa, Salah satu tugas adalah
membuat ‘produk’, yaitu membuat poster. Poster berisi ketrampilan baru
di rumah. Dibuat se-kreatif mungkin. Setiap anak punya
bakat masing-masing dan mereka
punya rasa kreatif yang berbeda-beda.
Dan judul tugas tersebut adalah
“Aku Setelah Pandemi”. Poster hasil karyanya difoto bersama pembuatnya, kirim lewat WA grup kelas. Karena merupakan tugas wajib dan merupakan salah satu penilaian mata pelajaran
ketrampilan dalam matematika. Mereka Semangat. Mereka ingin
membuat yang terbaik. Bukti fisik dan
karya nyata tanya orang tua. Mana mungkin peserta didik
berani bohong sama gurunya.
Pembelajaran BDR menggunakan
‘daring’ (dalam jaringan) : GCR ( Google ClassRomm), Aplikasi
zoom , googleform dan berbagai Aplikasi Internet akhirnya mereka jadi
‘tahu’, trampil dan ‘pengalaman’
menggunakan HP Android dengan
lancar jaya dan penuh semangat.
Mereka jadi tahu benar tentang ‘fungsi’ HP android yang sebenarnya.
Kalau dulu tahunya ‘hanya’ untuk ‘main game’ buka ‘ You Tube’
,”FB” kapasitas sebagai pemain game dan penonton saja. Tapi sekarang
bisa untuk menggali informasi berbagai
hal. Bahkan akhirnya bisa kreatif
mendownload berbagai
aplikasi karena ‘tuntutan’ tugas sekolah
yang harus di”video’kan. Seperti
aplikasi ‘KineMaster”, “Canva” ,
CS, ‘Tik Tok’, ‘ZOOM’ “classroom’, ‘Zenius’ ,’Snaptube’, ‘Meet , ‘Telegram’dan
masih banyak lagi, yang mana gurunya sudah ‘kalah’ kreatif dibanding ketrampilan anak-anak. Memang tidak semua, tapi ‘lumayan’ beberapa anak jadi lebih kreatif
dalam memanfaatkan HP.
Waktu Luang di rumah terasa banyak. Kebersamaan dan Keakraban
bersama keluarga mulai terasa. Rasa saling menyayangi, saling membutuhkan,
saling melengkapi, Saling berbagi
semakin nyata. Dengan demikian tugas-tugas dari sekolah bisa dikerjakan
dengan pendampingan kakak atau bahkan orang tua.Setiap tugas, pekerjaan terasa
ringan dan menyenangkan.
Janganlah pendemi itu dianggap sebagai musibah, tetapi anggap dia datang sebagi tamu, kita sebagai tuan rumah harus menerima dengan
penuh suka cita. Kita tetap bersahabat,
berdampingan. Ternyata bagi sebagian
orang, pandemi ini membawa dampak
positif. Membawa Berkah. Kita bisa punya
kegiatan-kegiatan kreatif. Dimana dari
kegiatan kreatif bisa menumbuhkan bakat
kita masing- masing yang terpendam.
Memunculkan ide kreatif diluar dugaan
kita. Bahkan lebih membanggakan lagi
bisa mempunyai penghasilan
tambahan. Siapa tidak bangga kalau punya
penghasilan tambahan? Kita bisa belanja
‘keinginan’ kita sesuai uang
“bonus” yang kita punya. Gaji bulanan, hanya cukup untuk belanja ‘kebutuhan’
kita, biasa sudah masuk ‘pos’ rutin.
Dengan adanya uang bonus, bisa kita pakai untuk
sedikit bersenang-senang bersama keluarga, memanjakan diri, makan yang lebih enak dari biasanya.
Dulu tak sempat dan tak ada waktu. Saat ini bisa merealisasikan.
Terima kasih Tante Corona,
atas kedatanganmu, kita tetap
bersahabat! Darimu kami menjadi lebih
dewasa, lebih menghargai kehidupan,
lebih bisa menjaga kesehatan, tahu diri, dan
bisa menggali bakat pribadi. Semoga setelah Pandemi ini berlalu kita punya kebiasaan baru yang
lebih produktif. Jika kita produktif kita akan merasakan sebuah kebahagiaan baru. Pinjam
kata-kata dari Pak Cah, Inilah
kebahagiaan kecil saya . Sederhana!. Bahagia bertumbuh dengan mencapai target-target kecil yang diciptakan sendiri. Salam Literasi!. Salam Sehat! Semoga Pandemi cepat berlalu.
KOREKSI 1
·
Kalimat dan Paragraf:
Ø Gunakan kalimat yang efektif.
Syarat kalimat efektif:
1.
Sepadan
Sepadan yang
dimaksud adalah seimbang antara pemakaian pikiran (gagasan) dan struktur
bahasa. Gagasan dan kepaduan pikiran yang baik akan memperlihatkan kesepadanan.
Dalam unsur kesepadanan terdapat beberapa syarat, antara lain:
a. Kalimat memiliki fungsi-fungsi yang jelas
Teknik
menulis subjek, predikat, objek, dan keterangan hendaknya dituliskan
dengan benar dan menempati strukturnya masing-masing.
b. Tidak terdapat subjek ganda
Subjek yang
dituliskan dalam kalimat ada hanya satu. Penyebutan subjek untuk kedua kalinya
kurang tepat, lebih baik Anda menggunakan kata ganti (ku-mu-nya) agar kalimat
lebih sepadan.
c. Penggunaan kata hubung tepat
Kata hubung
atau konjungsi sebaiknya digunakan dengan tepat.
d. Predikat sebaiknya tidak didahului dengan
kata “yang”
Predikat
yang dituliskan dalam bentuk kata kerja dan bukan kata kerja sebaiknya tidak
didahului kata “yang”. Predikat bukan kata kerja yang didahului “yang”
tidak akan membentuk kalimat, melainkan frasa atau kelompok kata. Sementara
itu, penggunaan kata yang pada kalimat berpredikat kata kerja bisa berujung
pada pemborosan kata.
2.
Hemat
Hemat adalah
salah satu ciri kalimat efektif. Hemat berarti menggunakan kata, frasa, atau
bentuk lain yang tidak berlebihan. Hemat berarti tidak menuliskan kata-kata
yang tidak diperlukan.
3.
Cermat
Kalimat yang
cermat berarti tidak menimbulkan tafsiran ganda dan menggunakan pemilihan kata
yang tepat. Tidak hanya itu, penyusunan kata dan penggunaan logika dalam
kalimat juga diperlukan. Kecermatan dalam kalimat meliputi beberapa aspek,
seperti:
a. Memiliki struktur yang tepat.
Contoh:
Siswa sekolah yang terbaik itu meraih medali emas dalam olimpiade sains
nasional.
Kata yang di
atas menimbulkan makna ganda dalam teknik menulis. Jadi pembaca dapat
berpikir bahwa yang terbaik lebih ditekankan untuk kata siswa atau sekolah.
Untuk menghindari kasus seperti ini, lebih baik Anda mencermati kembali
struktur kalimat yang ditulis.
b. Padu
Kepaduan
atau koherensi menjadi syarat kalimat efektif. Kalimat yang padu berarti
memberikan informasi yang jelas dan tidak pecah. Kalimat juga tidak dituliskan
bertele-tele agar sistematis. Kepaduan kalimat menunjukkan adanya hubungan
timbal balik antara subjek, predikat, objek, dan lain-lain. Salah satu penyebab
kalimat menjadi tidak padu karena dituliskan terlalu panjang. Hal ini tidak
hanya menjadikan kalimat tidak efektif, tetapi juga menyulitkan pembaca untuk
memahami ide kalimat. Kalimat yang terlalu panjang juga akan membuat pembaca
cepat merasa bosan.
c. Logis
Kalimat yang
logis akan sesuai dengan penalaran sehingga dapat diperoleh kesimpulan di
akhir. Hendaknya kalimat yang dengan logis memiliki kemampuan untuk memunculkan
gagasan kembali di pikiran pembaca sehingga ia dapat memahami alur berpikir
penulis.
Ø Pahami cara menulis paragraf yang benar. Dalam
satu paragraf, hanya ada satu pokok pikiran dan beberapa kalimat penjelas.
·
Sistematika penulisan:
Ø Setiap paragraf, seharusnya pembahasannya
tidak terputus dan loncat-loncat. Tulisan yang tidak mengalir, biasanya
disebabkan karena kurang/tidak tepat dalam memilih kata penghubung. Bisa juga
karena kalimat rumpang (tidak lengkap S-P-O-K nya. Tidak semua kalimata harus
lengkap S-P-O-K nya, setidaknya terdapat S dan P)
Ø Buat kalimat yang runtut. Bangun hubungan
antar kalimat sehingga menjadi sebuah paragraf yang padu. Selanjutnya, bangun
pula hubungan antar paragraf.
Ø Satu artikel hanya berisi satu pembahasan
pokok.
·
Masukan
Ø Bahasa sudah cukup lancar dan mengalir.
Ø Pelajari PUEBI agar dapat memahami kaidah
kepenulisan yang benar.
Ø Banyak-banyaklah membaca, termasuk membaca
artikel pendek agar mempunyai referensi yang banyak ketika ingin menulis
artikel.
Ø Silakan dicermati untuk koreksi pertama, dan
kirimkan ulang revisinya tujuh hari setelah email ini dikirim untuk mendapatkan
koreksi tata penulisan. Terima kasih..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar