Rabu, 16 September 2020

New Normal Bagi Guru dan Peserta Didik Saat Pandemi Melanda Di Kota Kecilku, Waingapu, Sumba Timur, NTT

 

TUGAS  6

Artikel Revisi 2

*Ledwina Eti Wuryani  / Materi Artikel / KMO  Basic Batch 33*

 


 

Saat pandemi  datang, kita sedih. Apalagi melihat, mendengar berita di TV, di medsos, banyak saudara-saudara kita  yang  terserang covid, ada di karantina,  dirawat . Bahkan tidak sedikit juga  yang  sudah meninggal. Rasa takut, cemas, was-was ada terus pastinya. Oh Tuhan, semoga kami  selalu  diberikan kesehatan  dan terbebas darinya.

Saya adalah seorang ASN, guru, di mana  waktu itu pernah membayangkan, betapa bahagianya  jika  bisa menghirup  udara pagi di rumah setiap hari. Aktivitas di rumah yang bebaasss!! setiap hari.  Ternyata  Tuhan memberikan jawaban. Berkat Pandemi. Diwajibkan di rumah saja. Hari pertama, kedua, ketiga  sekitar 3 minggu, terasa  jenuh  dan bosan. Seiring berjalannya  waktu, akhirnya  kita bisa menikmati indahnya “di rumah saja”.  Suatu hal yang  tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Sebelum pandemi ada, guru dan siswa  harus bekerja,  menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mencapai target kurikulum. Kami melaksanakan tatap muka dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Saat pandemi melanda,  kegiatan belajar mengajar  terasa ‘lebih ringan’, karena belajar dari rumah saja. Setiap orang punya  talenta masing-masing. Akhirnya  bakat masing-masing  mulai muncul. Hobi mulai tersalur.  Waktu mendukung. Setiap  orang jadi  bisa menggali potensi diri. Akhirnya masing-masing orang  bisa menunjukkan kreatif dan kompetensi pribadi. Setiap orang bisa  merealisasikan dan  mewujudnyatakan potensinya. Di antaranya:  memasak, menulis, olah raga dan lain-lain. Dari hobi  yang tersalur kita jadi merasa bahagia dan terhibur.

Kreativitas disebut juga sebagai berpikir kreatif (creative thinking), yaitu proses berpikir seseorang atau aktivitas kognitif seseorang dalam menghasilkan ide-de yang baru dan bermanfaat.’Suharnan, 2005. Benar adanya , ternyata dengan adanya  musibah ini, hari-hari di rumah saja, kita bisa  lebih kreatif!.  Di rumah saya ada  beberapa  anak sekolah yang ‘tinggal’ atau ‘numpang’. Saat Pandemi mereka belajar dari rumah (BDR). Akhirnya saya pun menerapkan pembelajaran di rumah. Tujuannya  adalah mengarahkan mereka untuk memunculkan kreatif.  Saya mengajak  anak-anak untuk  berkebun, bertani,  menanam sayur, memasak, hasil  di-posting  di WA group, teman-teman  pesan kita antar, menghasilkan uang.

 

Saya senang melihat  dan membaca di postingan teman-teman guru dan peserta didik. Mereka mempunyai hobi baru.   Ada yang membuat bedeng untuk kebun sayur. Ada yang  menjual  hasil masakan. Ada yang menjual ikan hasil suluh. Mereka seolah  ada persaingan positif, berlomba untuk menunjukkan  semangatnya  dalam memanfaatkan  waktu luang di rumah. Asyik!!. Senang sekaligus bangga melihat mereka. Kita bisa saling memotivasi. Kita  saling partisiasi untuk  membeli produk rumahan mereka.

Untuk menggali potensi diri siswa, salah satu tugas  adalah  membuat ‘produk’, yaitu membuat poster. Poster berisi keterampilan baru di rumah.   Dibuat se-kreativ mungkin. Setiap anak   punya  bakat masing-masing dan  mereka punya rasa kreatif yang berbeda-beda.  Dan judul  tugas tersebut adalah “Aku Setelah Pandemi”. Poster hasil karyanya difoto  bersama pembuatnya, kirim lewat WA grup kelas.  Karena merupakan tugas wajib dan  merupakan salah satu   penilaian  mata pelajaran  ketrampilan  dalam  matematika. Mereka semangat. Mereka ingin membuat yang terbaik. Bukti fisik  dan karya  nyata  tanya orang tua. Mana mungkin peserta didik berani bohong sama gurunya.

Pembelajaran BDR menggunakan  ‘daring’ (dalam jaringan)  :   GCR ( Google ClassRomm),  Aplikasi  zoom , googleform dan berbagai aplikasi Internet akhirnya mereka  jadi  ‘tahu’, trampil dan ‘pengalaman’  menggunakan  HP Android dengan lancar jaya dan penuh semangat.  Mereka  jadi tahu benar  tentang ‘fungsi’ HP android yang sebenarnya. Kalau dulu  tahunya  ‘hanya’ untuk ‘main game’ buka ‘ You Tube’ ,”FB” kapasitas sebagai pemain game dan penonton saja.  Tapi sekarang  bisa untuk menggali informasi berbagai  hal. Bahkan  akhirnya  bisa kreatif  mendownload  berbagai aplikasi  karena ‘tuntutan’ tugas sekolah yang harus di”video’kan. Seperti  aplikasi  ‘KineMaster”, “Canva” , CS, ‘Tik Tok’, ‘ZOOM’ “classroom’, ‘Zenius’ ,’Snaptube’, ‘Meet , ‘Telegram’dan masih banyak lagi, yang mana gurunya sudah ‘kalah’  kreatif dibanding   ketrampilan anak-anak.  Memang tidak semua,  tapi ‘lumayan’ beberapa anak jadi lebih kreatif  dalam memanfaatkan HP.

Waktu Luang di rumah terasa banyak. Kebersamaan dan Keakraban bersama keluarga mulai terasa. Rasa saling menyayangi, saling membutuhkan, saling melengkapi, Saling berbagi   semakin nyata. Dengan demikian tugas-tugas dari sekolah bisa dikerjakan dengan pendampingan kakak atau bahkan orang tua. Setiap tugas, pekerjaan terasa ringan dan menyenangkan.

Janganlah  pandemi itu dianggap sebagai  musibah, tetapi anggap  dia datang sebagi tamu, kita  sebagai tuan rumah harus menerima dengan penuh suka cita.  Kita tetap bersahabat, berdampingan. Ternyata  bagi sebagian orang, pandemi ini   membawa dampak positif. Membawa Berkah. Kita bisa  punya kegiatan-kegiatan kreatif.  Dimana dari kegiatan kreatif  bisa menumbuhkan bakat kita masing- masing  yang terpendam. Memunculkan  ide kreatif di luar  dugaan kita. Bahkan lebih membanggakan lagi  bisa  mempunyai penghasilan tambahan. Siapa tidak bangga kalau  punya penghasilan tambahan?  Kita  bisa belanja   ‘keinginan’ kita sesuai  uang “bonus” yang kita punya. Gaji bulanan, hanya cukup untuk belanja ‘kebutuhan’ kita, biasa sudah masuk ‘pos’  rutin. Dengan adanya uang bonus,  bisa kita  pakai untuk  sedikit bersenang-senang bersama keluarga, memanjakan  diri, makan yang lebih enak dari biasanya. Dulu tak sempat dan tak ada waktu. Saat  ini bisa merealisasikan.

Terima kasih  Tante Corona,  atas kedatanganmu,  kita tetap bersahabat!  Darimu kami menjadi lebih dewasa, lebih  menghargai kehidupan, lebih bisa menjaga kesehatan, tahu diri, dan  bisa menggali bakat pribadi. Semoga setelah pandemi  ini berlalu kita punya kebiasaan baru yang lebih produktif. Jika kita produktif kita akan merasakan  sebuah kebahagiaan baru. Pinjam kata-kata dari Pak Cah,  Inilah kebahagiaan  kecil  saya . Sederhana!. Bahagia bertumbuh  dengan mencapai  target-target kecil  yang diciptakan sendiri. Salam Literasi!. Salam Sehat! Semoga Pandemi  cepat berlalu.

 

 

 

Ucapan  :

Kepada: P Cah dan  Ibu , Mbak Laila dan mbak-mbak Admin lainnya.

Trima kasih banyak  saya sampaikan kepada orang-orang baik yang berjasa untuk saya. Dulu buta, sekarang  sudah  melihat dunia. Dulu hanya  bisa membaca, tapi sekarang  menulis walau baru sederhana. Dulu  kurang  tertarik membaca, sekarang jadi suka membaca. Dulu  buku-buku di rumah hanya dipajang saja, akhirnya  sekarang  saya lahap sebagai  bahan referensi dan isinya sangat menarik hati. Dulu hanya kagum jika melihat orang yang hebat  menulis, tapi sekarang  saya akan  terus mencoba menulis, menulis dan terus menuils. Siapa tahu juga bisa menerbitkan buku. Bukan hanya mimpi semata. SHSB. “Harus Bisa “. Bukan ingin terkenal, tapi cukuplah dikenal. Semangaatttt!!!

 

 

 

KOREKSI 2

·         Judul:

Ø  Berikut cara penulisan judul yang benar:

1.      Setiap kata pada judul diawali dengan huruf kapital atau huruf besar. Akan tetapi ada pengecualian, silakan lihat poin berikutnya.

2.      Gunakan huruf kecil semua pada kata yang sifatnya partikel, yaitu kata penghubung (konjungsi), kata depan (preposisi), dan kata seruan perasaan (interjeksi)

Contohnya pada kata berikut: dari, ke, di, pun, pada, kepada, jika, maka, agar, supaya, hingga, sebagai, terhadap, karena, yang, dll.

3.      Gunakan huruf kapital di awal setiap kata ulang yang katanya sama. 

Contohnya: Undang-Undang, Orang-Orang, Teman-Teman, dll.

4.      Gunakan huruf kapital hanya di awal kata pertama pada kata ulang yang berubah bunyi dan juga kata ulang berimbuhan. 

Contoh kata ulang berubah bunyi: Sayur-mayur, Lauk-pauk, dll.

Contoh kata ulang berimbuhan: Terbirit-birit, Kejar-mengejar, Tergopoh-gopoh, Kejar-mengejar, Berlari-lari, dll.

 

·         Ejaan dan tanda baca

Ø  Penulisan huruf kapital

1.         Awal kalimat.

2.         Nama orang, tempat, hari, bulan, hari besar, nama agama, kitab, nama Tuhan atau dewa.

3.         Beberapa kata yang biasa ditulis kecil akan menjadi kapital jika dibarengi dengan kata-kata tertentu. Contoh: Kota Bandung, Kota Kembang, Danau Toba, Asia Tenggara.

4.         Jika nama daerah digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu, maka ditulis kecil dengan nama daerah yang besar. Contoh:

a.      Fahmi memelihara harimau Sumatera.

b.      Dia membeli pempek Palembang.

c.          Tambahan: Jangan tertukar dengan istilah yang tidak sesuai dengan geografis. Contoh: kunci inggris, gula jawa, petai cina.

5.         Penulisan singkatan memiliki beberapa aturan berbeda.

a.      Singkatan yang dibentuk dari huruf pertama setiap kata maka ditulis dengan kapital semua. Contoh: MPR, ITB, PDI.

b.      Singkatan yang dibentuk dari suku kata dan merupakan nama badan ditulis kapital hanya di huruf pertama. Contoh: Menkominfo, Bapenas, Pramuka.

c.       Singkatan yang dibentuk dari suku kata ditulis dengan huruf kecil semua. Contoh: tilang, pemilu, sosbud.

6.         Nama gelar atau jabatan yang diikuti nama orang, pengecualian untuk dokter (dr.). Jika tidak diikuti nama jangan ditulis kapital. Contoh:

a.      Saya bertemu Presiden Joko Widodo.

b.      Setelah lulus S3, dia dipanggil Dr.Risky. -> tanpa spasi

c.       Squall berobat ke dr.Kadowaki. ->tanpa spasi

d.      Adikku bercita-cita ingin menjadi presiden.

 

Ø  Penggunaan kata-kata baku (cek kata baku atau tidak di KBBI). Contoh: aktivitas bukan aktifitas, memengaruhi bukan mempengaruhi. Gunakan kata baku. Jika harus menggunakan kata tidak baku (misalnya karena tidak ada kalimat yang menggantikan), maka kata tersebut ditulis miring seperti halnya istilah asing

Ø  Penulisan kata ulang yang benar: kadang-kadang. Bukan kadang – kadang, kadangkadang atau kadang2.

Ø  Penulisan awalan di- dan kata depan di

Awalan di- (serangkai)

Kata depan di (dipisah)

Dimakan

di dalam

Diserang

di rumah

Disimak

di sini

Semua di dipisah kecuali yang merupakan awalan. Ciri awalan, di bisa diubah menjadi me. Contoh: dicuriàmencuri. Di kemudian hari tidak bisa diubah menjadi mengemudian hari, berarti dipisah.

 

Ø  Penulisan pun yang seharusnya dipisah kecuali pada kata: adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun dan walaupun.

 

Ø  Spasi: sebelum koma/titik: tanpa spasi, setelah koma/titik: menggunakan spasi. Contoh: Ayah membeli buku, ibu membeli sayur. Setelah itu mereka pulang bersama.

 

Ø  Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, dan–nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

 

Ø  Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika dipakai secara berurutan seperti dalam perincian. Misalnya:

·         Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.

·         Imam berlari keliling lapangan sebanyak dua belas kali

·         Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku.

·         Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang abstain.

(Pedoman penulisan angka selengkapnya bias dibaca di PUEBI)

·         Kalimat dan paragraf

Ø  Teknik menulis kalimat langsung.

1.      Penulisan kalimat petikan diapit oleh tanda baca petik dua (“ … ”) bukan tanda petik satu. Contoh :

o    Benar    : “Aku ingin sekolah!” Arya berteriak di tengah lapangan.

o    Salah     : ‘Aku ingin sekolah!’ Arya berteriak di tengah lapangan.

2.      Huruf pertama pada kalimat yang dipetik ditulis menggunakan huruf kapital. Contoh:

o   Benar    : Pak Pono berujar, “Jadilah orang yang berbudi pekerti luhur, jangan mau dijadikan budak nafsu.

o   Salah     : Pak Pono berujar, “jadilah orang yang berbudi pekerti luhur, jangan mau dijadikan budak nafsu”

Namun bila dalam satu kalimat terdapat dua atau lebih kalimat petikan, huruf pertama yang ditulis kapital cukup pada kalimat petikan pertama saja. Untuk kalimat petikan kedua, huruf pertamanya ditulis dengan huruf kecil, kecuali jika kata pertamanya merupakan kata Nama atau sapaan. Contoh :

·         “Ayo cepat!” teriak Akhsan, “nanti keretanya keburu lewat.” (benar)

·         “Ayo cepat!” teriak Akhsan, “Nanti keretanya keburu lewat.” (salah)

·         “Ketemu!” teriak Akhsan dari bawah, “Pak Joko sudah ketemu!” (benar)

·         “Ketemu!” teriak Akhsan dari bawah, “pak Joko sudah ketemu!” (salah)

3.      Untuk memisahkan kalimat petikan dan kalimat pengiring menggunakan tanda baca (baca juga: penggunaan tanda baca) koma (,) di antara kalimat pengiring dan kalimat petikan dengan pola susunan sebagai berikut :

·         “Kalimat kutipan”, kalimat pengiring, “kalimat kutipan”

o    “Tadi saya lihat Neng Aisyah lari,” Pak Ujang berkata, “raut mukanya terlihat seperti habis menangis.

·         “Kalimat kutipan,” kalimat pengiring

o    “Serahkan saja tugas mengintai kepadaku! Aku tak akan menyecewakan kalian,” ucap Sersan Dixa sembari meninggalkan ruangan.

·         Kalimat pengiring, “kalimat kutipan”

o    Bung Karno pernah berujar, “Pangan adalah soal hidup dan mati suatu bangsa.”

Perlu diingat bila suatu kalimat kutipan yang ditulis sebelum kalimat pengiring merupakan kalimat pernyataan atau berita, maka sebelum tanda kutip terakhir, kalimat tersebut diakhiri dengan tanda baca koma (,) bukan tanda titik (.). Tanda baca titik (.) digunakan untuk mengakhiri kalimat berita atau pernyataan di suatu kalimat kutipan yang ditulis setelah kalimat pengiring.

4.      Kalimat langsung yang berupa dialog yang berurutan, maka di bagian depan kalimat kutipannya diberikan tanda baca titik dua (:). Tanda ini untuk memisahkan antara pihak yang mengutarakan dengan kalimat kutipannya.

Kania   : “Nampaknya tahun ini akan jadi tahun yang besar untuk bangsa ini.”

Arya : “Aku setuju denganmu, mengingat tahun ini merupakan peringatan kemerdekaan yang ke-100.”

Kania   : “Aku mendapat bocoran jika tahun ini pemerintah sudah menyiapkan dana trilyunan untuk mempersiapkan perayaan.”

Arya     : “Benarkah? Aku kira terlalu berlebihan anggaran sebanyak itu hanya digunakan untuk sekadar perayaan.

Kania   : “Aku sependapat, alangkah lebih baiknya jika dana sebesar itu digunakan untuk investasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.”

Arya     : “Benar, kita semua tahu banyak anak bangsa berbakat yang harus keluar negeri karena merasa kemampuannya tidak terfasilitasi di negeri sendiri.”

 

Untuk ucapan dalam hati, tidak menggunakan kalimat langsung namun ditulis miring.

Ø  Gunakan format justify (rata kanan kiri) agar naskah rapi.

 

·         Masukan

Ø  Setelah selesai menulis keseluruhan artikel, sangat penting untuk membaca ulang dan mengedit penulisan agar meminimalisasi salah ketik (typo) dan sesuai dengan kaidah penulisan yang berlaku (PUEBI).

Ø  Setelah mempelajari PUEBI dan beberapa pedoman di atas, temukan kesalahan penulisan pada artikel Anda dari halaman 2 (dua) sampai selesai, kemudian kirim revisinya maksimal tujuh hari setelah artikel ini dikirim. Ingat, koreksi keseluruhan artikel Anda berdasarkan panduan yang sudah diberikan di atas. Jangan hanya yang ditandai ya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...