Kamis, 18 Juni 2020

BEST PRACTICE

BEST PRACTICE

                   

 

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR  PESERTA DIDIK MATA PELAJARAN MATEMATIKA MATERI TRANSFORMASI  GEOMETRI  (TRANSLASI) MENGGUNAKAN  METODE PEMBELAJARAN  KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) KELAS  XI IA 3 SEMESTER 1

SMA NEGERI 2 WAINGAPU TP. 2019/2020

 

(Diajukan dalam Rangka  Memenuhi  Tugas  On The Job Training 1 Diklat Calon Pengawas)




                             DISUSUN OLEH :

 

                  LEDWINA ETI WURYANI BUDI ASTIWI, S.Pd

                                    NIP  19660414 199003 2 007


LEMBAR  PENGESAHAN

 

 

BEST PRACTICE

 

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI PENDEKATAN SAINTIFIK DENGAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA MATERI TRANSFORMASI GEOMETRI DI KELAS XI IPA3 SEMESTER 1 SMA NEGERI 2 WAINGAPU

TAHUN PELAJARAN 2019/2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                Waingapu,     Juni  2020                  

Telah didokumentasikan pada                                              Yang membuat

Perpustakaan Sekolah                                                         

 

 

 

Ina Azi Ngole , S.Pd                                                             Ledwina Eti Wuryani B. Astiwi

NIP  : -                                                                                 NIP 19660414 199003 2 007

 

                                                Mengetahui :

                                                Kepala SMA Negeri 2 Waingapu

 

 

                                                Nimrot Ndjukambani, S.Pd

                                                   NIP 19691128 199702 1 003

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERNYATAAN  KEASLIAN TULISAN

 

Saya  Yang bertanda Tangan di bawah ini :

 

                                Nama                                    : LEDWINA ETI WURYANI BUDI ASTIWI, S.Pd

                                NIP                                         : 19660414 199003 2 007      

                                Instansi                                                : SMA Negeri 2 Waingapu

 

Menyatakan  dengan sesungguhnya  bahwa  Best Practice  yang saya tulis ini benar-benar  tulisan saya, dan bukan  merupakan plagiat  baik sebagian atau  seluruhnya.

 

Apabila   dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa Laporan Best Practise ini hasil plagiat, baik sebagian atau seluruhnya, maka saya  bersedia menerima sangsi  atas perbuatan tersebut  sesuai  dengan ketentuan yang berlaku

 

                                                                                                                Waingapu,             Maret  2020                 

Mengetahui ,                                                                                    

 Kepala  SMA Negeri 2 Waingapu                                              Yang membuat pernyataan

 

 

Nimrot Ndjukambani  S.Pd                                                          Ledwina Eti Wuryani Budi  Astiwi, S.Pd

NIP 19691128 199702 1 003                                                           NIP 19660414 199003 2 007 


 

M O T T O  :

 

*       Semangat dalam menggapai  cita-cita, tersenyum  dalam  setiap perjuangan, berdoa  dalam  setiap usaha, Yakin Tuhan akan membuktikan secara Nyata bahwa keberhasilan akan ada..

 

*      Selagi ada niat, tekad  dan semangat  untuk berusaha , tak ada yang tak mungkin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 B I O D A T A

 

 

 

 

 

 

 

Nama

:

: Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi , S.Pd

Tempat/Tanggal Lahir

:

: Magelang , 14 April 1966

Pendidikan Terakhir

:

: Strata 1 (S1)

Jenis Kelamin

:

: Perempuan

Sekolah

:

: SMA Negeri 2 Waingapu

Alamat Sekolah

:

: Jl. Jend. Soeharto No:-  Waingapu

Kecamatan

:

: Kota Waingapu

Kota/Kabupaten

:

:Waingapu/Sumba Timur

Propinsi

:

: Nusa Tenggara Timur

E-mail

:

: ledwinaetiwuryani@gmail.com

 

Penulis adalah orang Jawa Korban konflik bencana  Timor Timur , pada   tanggal 1 Maret 1990 SK pertama  di SMA Negeri Maliana Bobonaro Timor Timur , tiga tahun kemudian SK mutasi di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur , setelah Timor Timur Merdeka Tahun 1999  penulis di mutasikan di SMA Negeri  2 Waingapu Sumba Timur sampai sekarang.  Sampai saat ini   telah mengabdi sebagai pendidik selama 29 tahun 8 bulan. Pada Tahun Pembelajaran 2019/2020 penulis membawakan mata pelajaran Matematika wajib kelas XI  IA ,   kelas XII IA  dan Kelas  XII IB  dengan total jam pelajaran sebanyak 28  jam dalam seminggu.

 

 

KATA  PENGANTAR

    Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Pengasih, karena atas perkenanan-Nya sehingga saya dapat menyusun Best Practise ini  dalam waktu yang relatif  singkat.  Best Practice ini  sebagai salah satu tugas  On The Job Training ( OJT 1 ) Calon Pengawas Tahun 2020.

    OJT 1  dimaksudkan  untuk memotivasi dan mendorong para guru agar terus meningkatkan kemampuan penguasaan materi , strategi pembelajaran  yang lebih baik dalam upaya meningkatkan  mutu pendidikan. Di samping itu  dimaksudkan untuk meningkatkan  kompetensi  dan profesionalitas guru itu sendiri.

    Melalui kesempatan ini  saya menyampaikan  ucapan terima kasih kepada pemerintah dalam hal ini  yang telah memfasilitasi  penyelenggaraan kegiatan  ini. Ucapan terima kasih yang sama saya sampaikan kepada  Pengajar Diklat OJT 1, LPPKS , Panitia Diklat , Bp Nimrot Ndjukambani, S,Pd, Ketua MKKS sekaligus Kepala SMA Negeri 2 Waingapu,  teman-teman peserta  yang dengan cara dan gayanya  membantu, mensuport dan  bekerjasama  selama  berlangsungnya kegiatan  ini.

    Saya menyadari bahwa  Best Practise ini  masih jauh  dari sempurna.  Oleh karena itu saya mohon  kritik dan saran dari para pembaca yang budiman demi  perbaikan dan penyempurnaan  Bect Practise ini. Semoga Best Praktise ini dapat memberi manfaat  bagi pembaca dalam rangka  menemukan metode atau pendekatan dalam pembelajaran untuk peserta didik  kita  dalam rangka  meningkatkan  mutu pendidikan di Negeri tercinta ini. Itu harapan, “ Semoga “

 

                                                                Waingapu, Maret 2020

                                                                                                    Penulis                        

 

D A F T A R        I S I   

 

LEMBAR JUDUL

HALAMAN PENGESAHAN  ……………………………………………………..  i

BIODATA PENULIS ……………………………………………………………… ii

KATA PENGANTAR………………………………………………………………  iii

DAFTAR ISI………………………………………………………………….........   iv

DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………..…  v

 

LAMPIRAN

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

 

 

v  Lampiran 1 : Foto dan Gambar Pendukung

v  Lampiran 2 : RPP

v  Lampiran 3 : Bahan Ajar

v  Lampiran 4 : Kisi-Kisi Soal

v  Lampiran 5 : Kartu Soal Uraian dan Pilihan Ganda, Kunci dan Pedoman Penskoran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB  I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Saat ini  profesi guru lebih  banyak disorot oleh masyarakat.kita dibandingkan profesi lain. Karena guru dianggap sebagai ujung tombak pendidikan. Oleh karena itu baik dan buruknya kualitas pendidikan di Negeri ini selalu disangkutpaudkan dengan  keberhasilan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. 

Dari pengalaman yang ditemukan dalam proses pembelajaran di kelas masih ditemukan bahwa siswa SMA Negeri 2 Waingapu kurang meminati mata pelajaran matematika. Penulis mengadakan  wawancara singkat kepada beberapa peserta didik saat mengajar di suatu kelas. Bagaimana Pendapatmu tentang matematika?  Mereka menjawab : bikin pusing, terlalu banyak rumus, cara kerja yang terlalu panjang, bikin mengantuk, bikin tensi, membosankan dan ada juga yang mengatakan bahwa matematika itu bikin stress, dan ada yang lebih ekstrim yaitu jawabannya bahwa matematika itu bikin gila. Dari sejumlah jawaban peserta didik dapat disimpulkan bahwa pelajaran matematika masih dianggap  sulit dipahami oleh mayoritas peserta didik sehingga berkorelasi positif dengan rendahnya prestasi belajar peserta didik yang mengakibatkan mutu pendidikan rendah secara khusus di kabupaten Sumba Timur. Citra negatif ini sudah lama terjadi dan jika citra negatif itu tetap dibiarkan, maka pelajaran Matematika akan selamanya menjadi momok yang  menakutkan.

 Kalau kita telusuri mengapa citra negatif  itu terus menghantui jiwa siswa di setiap generasi karena adanya beberapa faktor pendorong antara lain: Pertama, Matematika adalah mata pelajaran yang berisi konsep-konsep abstrak dan formulasi-formulasi yang memerlukan pemikiran tingkat tinggi. Sementara tingkat perkembangan kognitif otak siswa , khususnya di Sumba Timur  belum mencapai tingkat perkembangan setaraf itu, sehingga ada kesenjangan yang cukup lebar. Oleh karena itu guru dalam mengajarkan Matematika harus sabar, telaten dalam menanamkan  konsep dan formulasi-formulasi agar menjadi lebih mudah untuk dipahami oleh siswa. Kedua, adanya cerita dari generasi ke generasi mengenai Matematika sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga menciptakan stigma negatif yang permanen di otak siswa,sehingga mereka  menganggap bahwa matematika memang pelajaran yang sulit dan susah dipahami. Cerita seperti  itu telah mendoktrin pemahaman mayoritas siswa sehingga mereka menjadi “malas” berusaha  mempelajari Matematika secara lebih sungguh. Dampaknya, tentu saja kegagalan yang selalu ditemui dalam mendalami matematika.  Ketiga, Selain kedua hal tersebut sebagai pemicu kegagalan siswa mempelajari matematika adalah karena guru dalam menerapkan metode mengajar yang kurang menarik. Misalnya penerapan metode ceramah yang memicu kebosanan dan ketidak aktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Penerapan metode ceramah yang monoton ini mendorong guru untuk tidak mengenal karakteristik siswanya. Guru masih menganggap siswa “tidak tahu apa-apa” sehingga siswa perlu dicekoki berbagai ilmu pengetahuan melalui metode ceramah. Ibaratnya siswa masih dianggap sebagai bayi kecil yang masih disuapi. Siswa masih dianggap sebagai botol kosong yang perlu diisi air pengetahuan. Padahal konsep ini merupakan pandangan psikologi Behaviorisme yang dikemukakan oleh John Loke yang sudah ditinggalkan oleh ahli pendidikan modern. Sekarang sudah saatnya kita melakukan perubahan dari konsep lama ke konsep baru dalam membangun generasi milenea dengan menekankan pada siswa untuk mampu membangun konsep sendiri melalui pandangan psikologi konstruktivisme yang melibatkan aktifitas semua pihak yang terlibat, yaitu siswa-siswa, siswa- guru, dan siswa dengan lingkungannya.

Di samping itu, masih ada kekeliruan guru dalam menanamkan konsep pendidikan Matematika di tahap awal terutama di tahap pendidikan dasar yang kurang mengakar sehingga ketika siswa memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi tidak mampu mencerna konsep, karena dangkalnya pengetahuan dan pemahaman konsep secara benar. Akibatnya para siswa tidak mampu menyelesaikan permasalahan  yang berkaitan dengan konsep Matematika dalam kehidupan sehari-hari karena fondasi pengetahuan yang kurang kuat.  

 

B.     Jenis Kegiatan

Penerapan pendekatan saintifik dengan model discovery learning agar merangsang daya pikir peserta didik untuk mampu berpikir secara kreatif, inovatif dalam pembelajaran abad 21 dan HOTS, 4C yang meliputi: (1) Communication (2) Collaboration, (3) Critical Thinking and problem solving, dan {4} Creative and lnnovative.

 

C.      Manfaat Kegiatan

1.      Manfaat bagi Guru

Diharapkan bahwa tulisan ini memberi manfaat bagi guru  terutama memberikan pertimbangan kreatif dalam merancang dam mempersiapkan pembelajaran yang lebih interaktif sehingga aktivitas pembelajaran menjadi lebih hidup, interaktif antarsiswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan media dan alam lingkungannya. Dengan demikian pembelajaran di kelas atau di manapun menjadi menyenangkan bagi siswa dan guru itu sendiri.

2.      Bagi Siswa

Meningkatkan minat belajar siswa pada pelajaran Matematika, dengan menyenangi pelajaran matematika akan membuat siswa lebih rajin belajar, rajin bertanya kepada guru saat mengerjakan soal-soal latihan, dengan begitu akan meningkatkan prestasi siswa itu sendiri.

3.      Bagi Sekolah

Jika  guru dan siswanya berprestasi akan membuat sekolah lebih terkenal dan diminati. Sekolah  berprestasi akan memicu kemajuan, khususnya tentang kemajuan di bidang  Ilmu Pengetahuan dan teknogi (IPTEK) dalam mewujudkan  Visi dan Misi Sekolah.

 

 

4.      Bagi Masyarakat

Manfaat bagi masyarakat, dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat dalam memberikan pendidikan dan pelayanan kepada masyarakat luas. Di samping itu menjadikan masyarakat lebih paham mengenai pendekatan-pendekatakan yang bisa diterapkan kepada anak-anak mereka untuk lebih menguasai suatu ilmu tertentu.

 

 

 

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PELAKSANAAN KEGIATAN

 

A.    Tujuan dan Sasaran Kegiatan

1.      Tujuan

Secara umum untuk meningkatkan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan, dan secara khusus bagi peserta didik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dengan metode pembelajaran discovery learning, serta meningkatkan aktivitas belajar siswa baik secara individual maupun secara kelompok .

2.      Sasaran

·         Guru sasaran untuk mata pelajaran matematika dalam satu area wilayah sumba timur.

·         Peserta didik di SMA Negeri 2 Waingapu Kelas XI IPA3

 

B.       Bahan dan Materi Kegiatan

Bahan :Spidol, white board, papan tulis, LCD, Chart

 

Materi :

Administrasi Perangkat Pembelajaran Saat  ON 2 dan ON 3  ( Terlampir )

 

C.    Metode/Cara Melaksanakan Kegiatan

Metode :

Menggunakan pendekatan saintifik , 5M ( Mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, Mengasosiasi, Mengkomunikasikan) dan yang terintegrasi dengan literasi ( GLN) dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam proses belajar mengajar (PBM). Yang memuat 4 Dimensi Pengetahuan :  Faktual, Konseptual , Prosedural dan Metakognitif dan Kecapakan Abad 2l  yang meliputi: PPK: Tanggung Jawab, disiplin, mandiri, jujur , Religius dan Integritas. Literasi : Membaca Buku paket, LKPD, Mengamati perubahan. Perlu juga diterapka 4c untuk  peserta didik  ( Creative,  Critical , colaborative dan Comunicative)dan tentunya harus perlu dilatih dalam  soal-soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) di dalam proses pembelajaran.

 

D.    Alat/Instrumen yang Digunakan

 

Model pembelajaran yang digunakan dalam  pembelajaran adalah model discovery learning dengan menggunakan LKPD, buku guru, buku siswa , buku penunjang lainnya dan buku paket matemati wajib kelas XI  kemendikbud  2017.

Instrumen yang digunakan dalam praktik yaitu : lembar observasi lembar penilaian sikap, kognitif dan keterampilan.

 

E.     Waktu dan Tempat Kegiatan

Waktu kegiatan

Best practice ini dilaksanakan pada tanggal 21 sampai 1 November  tahun 2019 bertempat di SMA Negeri 2 Waingapu.

 

 


 

BAB III

HASIL KEGIATAN

 

A.    Hasil Kegiatan

Pola pikir peserta didik yang menganggap belajar sebagai rutinitas belaka harus diubah bahwa belajar itu merupakan kebutuhan sehingga peserta didik tidak mudah bosan dan jenuh. Atau dengan kata lain, kunci untuk meraih prestasi maka kita harus mengubah kejenuhan dan kebosanan menjadi sebuah prestasi.

Kurikulum K-13 menuntut suasana kegiatan belajar mengajar di kelas harus semakin berkualitas dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Sehingga penerapan pendekatan saintifik (5M) yang meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/mengasosiasikan, dan mengomunikasikan sangatlah relevan demi tercapainya suatu proses pembelajaran yang berkualitas. Dimana optimalisasi peran guru dalam melaksanakan pembelajaran abad 21 dan HOTS (Higher Order Thinking Skills) menjadi sebuah tuntutan kurikulum yang harus dicapai. Disamping itu Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam proses belajar mengajar (PBM) juga harus nampak dari peserta didik. Pembelajaran pun perlu dilaksanakan secara kontekstual dengan menggunakan model, strategi, metode, dan teknik sesuai dengan karakteristik Kompetensi Dasar (KD) agar tujuan pembelajaran tercapai.

Penerapan pendekatan saintifik (5M) dalam pembelajaran abad 21 dan HOTS ternyata mampu meningkatkan prestasi belajar peserta didik dan meningkatkan animo atau semangat belajar peserta didik yang mana pada proses pembelajaran dengan pendekatan dan metode yang digunakan sebelumnya mereka mengalami kebosanan atau kejenuhan.

 

B.     Masalah

Adapun beberapa masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model discovery learning dengan tujuan untuk dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik yakni sebagai berikut :

1.      Peserta didik belum terbiasa dalam pembelajaran yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS).

2.      Kurangnya kepedulian Peserta didik terhadap pentingnya budaya literasi.

3.      Peserta didik belum optimal dalam menyelesaikan setiap tugas (portofolio, produk, keterampilan, dll)

4.      Masih terdapat sebagian besar peserta didik yang belum berani untuk memaksimalkan potensi diri.

5.      Sebagian besar siswa  kurang menguasi IT, jadi  untuk mencari  referensi soal-soal  terbatas hanya didapat dari guru atau dari teman.

 

C.    Solusi  

Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran di kelas maka :

1.      Peserta didik dibiasakan untuk memecahkan persoalan yang berkaitan dengan pembelajaran yang berorientasi HOTS.

2.      Menghimbau dan memotivasi peserta didik agar membudayakan literasi demi mengoptimalkan potensi diri untuk lebih memiliki wawasan yang lebih luas.

3.      Pada setiap akhir pembelajaran, guru memberikan tugas (produk, portofolio, keterampilan dll) kepada peserta didik.

4.      Memaksimalkan potensi diri peserta didik dengan cara presentasi di depan kelas (diwajibkan untuk setiap kelompok diskusi yang dibentuk)

5.      Perlu adanya  pelajaran lintas minat atau peminatan  mata pelajaran TIK ( Teknologi Informasi dan Komunikasi) agar anak anak semakin trampil dan  menguasai IT terutama dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru  yang harus Down Load di Internet.Mencari soal-soal HOTS yang lengkap dengan pembahasannya.

 

BAB IV

SIMPULAN  DAN REKOMENDASI

 

A.    Simpulan

Guru yang professional adalah orang dengan ketrampilan khusus yang bertugas mendidik, membimbing, mengarahkan, menilai, dan mengevaluasi hasil belajar siswa, sehingga bisa menghasilkan proses dan hasil belajar yang bermutu.

Guru harus mampu membekali diri dengan berbagai model dan metode pembelajaran yang relevan dengan pembelajaran abad 21 untuk menjawab tuntutan pemerintah telah berupaya meningkat mutu dan profesionalitas guru melalui berbagai pendidikan dan pelatihan yang memadai seperti kegiatan PKP yang kita lakukan saat ini dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Semua itu dengan satu tujuan meningkatkan motivasi guru dalam meningkatkan kualitas diri dan sikap ,profesionalisme guru yang lebih baik. Jika guru mempunyai kemampuan yang memadai dan profesional tentukan akan  membuat siswanya  lebih percaya diri dan mutu pendidikan  akan meningkat. Itu harapan. “semoga”

Melalui pendekatan saintifik dengan model pembelajaran discovery learning  ternyata mampu meningkatkan prestasi belajar peserta didik kelas XI IPA3 SMA N 2 Waingapu pada materi Transformasi Geometri dan dapat disimpulkan bahwa pendekatan tersebut dapat meningkatkan minat siswa mempelajari Matematika

 

B.     Rekomendasi

Berdasarkan hasil praktik baik pembelajaran dengan model pembelajaran Discovery learning, berikut disampaikan rekomendasi yang relevan.

a.    Pendekatan saintifik dengan model pembelajaran discovery learning cocok diterapkan untuk Kompetensi Dasar yang membutuhkan kerjasama, sehingga siswa tidak cepat bosan dan jenuh yang mampu meningkatkan prestasi belajar peserta didik.

b.    Kepala sekolah dapat mendorong guru lain untuk ikut melaksanakan pembelajaran berorientasi HOTS  untuk meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik dalam setiap proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai sebagai penunjang utama dalam pembelajaran HOTS harus benar-benar diperhatikan demi tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan.

c.    Guru seharusnya tidak hanya mengajar dengan mengacu pada buku siswa dan buku guru serta jaring-jaring tema yang telah disediakan, tetapi berani melakukan inovasi pembelajaran memenuhi 5M, 4C disesuaikan  dengan latar belakang siswa dan situasi dan kondisi sekolahnya. Hal ini akan membuat pembelajaran lebih bermakna.

d.   Siswa diharapkan untuk menerapkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam belajar, lebih banyak berlatih mengerjakan soal-soal yang HOTS supaya lebih  mampu  berpikir tingkat tinggi tidak terbatas pada hafalan teori  saja.. Kemampuan belajar degan cara ini akan membantu siswa menguasai materi secara lebih mendalam dan lebih tahan lama

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.      Buku Paket kelas XI

2.      Komara, Endang. 2006. Peran Pembelajaran CTL Dalam Mengimplementasikan Pembelajaran Interaktif. Bandung: suara daerah.

3.      Martoyo. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia, BPFE. Yogyakarta: Muchdarsah

      Rohmat. 2007. Kompensasi Pendidikan. Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan

4.      Rusyan, A. Tabrani. 1992. Kemampuan Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya

5.      Sagala, Syaiful. 2000. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta

      Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran dalam Iplementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana

6.      Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...