Sabtu, 27 Juni 2020

Pendidikanberkarakter #TanggungJawahSiapaYa?




Terinspirasi   dari beberapa kejadian yang saya rasakan  dan membaca beberapa postingan tentang curhatan guru. Siswa seolah olah  melihat guru dengan ‘sebelah mata’. Kalau kita bertemu mereka  begitu ‘cuek’ tanpa  ada bahasa yang lebih sopan  memandang orang tua, yang tak lain adalah gurunya.  Saya cerita  bukan memandang ‘semua’ jangan sampai ada yang  ‘tersinggung’ karena bahasa saya.  Karena beberapa kali kejadian  saya rasakan siswa dengan sengaja  atau pura pura kalau ketemu guru membuang muka. 
Pernah kejadian karena siswa bawa kendaraan,  di musim hujan, mereka ngebut, lewat di got ,  ‘tampias’lah   air got di baju saya dan teman saya  hingga  baju kotor. Teman saya spontan ‘maki’ karena tahu persis siswa tadi  murid  kita.  Ada juga siswa menabrak gurunya, tanpa merasa bersalah, cuek saja. Sedih,  sekaligus prihatin jika mengingat saat itu. Kejadian seperti itu  akan teringat seumur hidup, sebagai seorang guru.
Belum lagi beberapa kejadian di dalam kelas yang beraneka ragam, mulai dari  anak hanya main hp sementara guru mengajar,  keluar masuk ke WC tanpa ijin,  tidur sono di kelas, putar-putar saja di dalam  kelas seperti gasing sambil mengganggu teman, ijin ke WC tapi ternyata nongkrong saja di depan WC sambil main hp. Ada juga  yang  sekedar ngrumpi di belakang  kelas di tempat sepi ,  bersama rekannya  sambil  sembunyi. “Sesak!” dada ini jika mengingatnya. Saya pribadi sebagai guru sakit hati, ya hanya bisa sakit hati karena memang kadang kita tak mampu mengatasi sendiri, nanti kita salah  bertindak  siapa tahu malah masuk bui. Berabe deh jadinya, bagaimana urusan  suami dan anak kita nanti.
Saya  jadi ingat berita waktu itu di media, seorang guru honor bernama Ahmad Budi Cahyono, guru SMK di Sampang Madura, yang  kehilangan nyawa. Akibat  karena ‘menegur’ seorang siswa, berinisial MH. Dia mengganggu teman-temannya. Karena MH sakit hati ditegur oleh gurunya, akhirnya dia memukul sang guru sampai tak bernyawa. Kasus seperti ini yang mengundang rasa sedih,haru, prihatin yang teramat dalam bagi kita.

 Apa lagi saya  duduk di ruang BK, banyak kejadian-kejadian miris yg dilakukan siswa. Kadang orang tua tidak tahu yang dilakukan anaknya. Ortu  ‘tahunya’ anaknya baik-baik saja  di sekolah. Setelah ada panggilan untuk orang tua, tentang kasus yang dilakukan anaknya semula orang tua yang tidak percaya. Setelah  melihat bukti yang ada, mereka jadi sedih, kecewa, bahkan tak jarang  sampai mereka ‘tampar’ anaknya sendiri di depan kita gurunya.

Jika kita mencoba sharing kilas balik.  Jika adegan guru menegur itu terjadi di zaman dulu, tentu kita akan mendapat gambaran yang sama sekali ‘berbeda’. Anak-anak dulu jika ditegur gurunya, tidak akan ada yang ‘berani’ melawan atau apalagi bala-bala.  Tidak ada satupun siswa yang berani  macam-macam dengan gurunya. Pasalnya, guru dipandang sebagai orangtua kedua, setelah orangtua di rumah. Yang tentunya wajib di hormati.





“Mungkin!”  Pengaruh ‘tontonan”  baik itu yang didapat dari lingkungan keluarga, tetangga, video games, film-film, bacaan dan media lainnya, ikut ‘andil’ dalam membentuk perilaku anak kita.. Banyak survei sudah dilakukan dan memperlihatkan ‘fakta’ menyakitkan, bahwa tontonan yang ‘negativ’  dapat memberi dampak pada pikiran dan tindakan orang yang menyaksikannya. Lebih-lebih jika stimuli itu berlangsung secara terus menerus dan dalam jangka waktu lama.  Sekalipun ini tidak serta merta bisa dituding sebagai biang keladi, namun ada baiknya kita membentengi anak-anak kita dari konten maupun tontonan yang #tidakmendidik.

Pemandangan siswa hormat,respek, menghargai guru sudah mulai langka. Dengan gurunya yang mengajar saja tidak bisa tegur sapa, hormat  ‘apalagi’ dengan orang lain. Mereka seolah-olah cuek, masa bodoh, tak peduli, angkuh . Entahlah apa yang  mereka sombongkan. Jika saya boleh mengomentari, anak-anak zaman now mungkin  karena kurang diajarkan/ditanamkan nilai-nilai dan budi pekerti yang baik.  Bagaimana menghormati dan menghargai orang lain, bagaimana bersikap/merespon terhadap situasi dan masalah, bagaimana melakukan/membangun komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekitarnya, dan bagaimana membangun interaksi menjalankan kemanusiaan yang baik.

Lantas apa yang bisa dilakukan? Mari kita mulai bebenah diri. Jangan anggap sepi kasus-kasus seperti ini. Mulailah bekali dan wariskan anak-anak kita nilai-nilai hidup yang dapat membangunnya jadi manusia baik dan bermanfaat. Kebaikan kehidupan anak  diawali dari kelarga. Mungkin, anak-anak kita juga kurang mendapatkan cinta kasih. Dengan membawa cinta kasih dari keluarga, pastilah anak-anak akan tumbuh dengan cinta kasih,  pada akhirnya  akan bisa menghargai, menghormati  dan punya rasa rendah hati.  

Demikianlah curahan hari  tentang problema anak kita  dan pemecahannya. Harapan ke depan, apalagi menghadapi #newnormal ini, semoga  anak kita sudah bisa  punya  #semangatbaru,  wajah baru,  merubah diri ke hal yang  #lebihbaik.  Tugas dan tanggung jawab kita sebagai  guru, orang tua dan siswa. Salam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...