Terinspirasi dari beberapa kejadian yang saya rasakan dan membaca beberapa postingan tentang
curhatan guru. Siswa seolah olah melihat
guru dengan ‘sebelah mata’. Kalau kita bertemu mereka begitu ‘cuek’ tanpa ada bahasa yang lebih sopan memandang orang tua, yang tak lain adalah
gurunya. Saya cerita bukan memandang ‘semua’ jangan sampai ada
yang ‘tersinggung’ karena bahasa
saya. Karena beberapa kali kejadian saya rasakan siswa dengan sengaja atau pura pura kalau ketemu guru membuang
muka.
Pernah kejadian karena siswa bawa kendaraan, di musim hujan, mereka ngebut, lewat di got
, ‘tampias’lah air got di baju saya dan teman saya hingga
baju kotor. Teman saya spontan ‘maki’ karena tahu persis siswa tadi murid kita. Ada juga siswa menabrak gurunya, tanpa merasa
bersalah, cuek saja. Sedih, sekaligus
prihatin jika mengingat saat itu. Kejadian seperti itu akan teringat seumur hidup, sebagai seorang
guru.
Belum lagi beberapa kejadian di dalam kelas yang beraneka
ragam, mulai dari anak hanya main hp
sementara guru mengajar, keluar masuk ke
WC tanpa ijin, tidur sono di kelas,
putar-putar saja di dalam kelas seperti
gasing sambil mengganggu teman, ijin ke WC tapi ternyata nongkrong saja di
depan WC sambil main hp. Ada juga
yang sekedar ngrumpi di
belakang kelas di tempat sepi , bersama rekannya sambil
sembunyi. “Sesak!” dada ini jika mengingatnya. Saya pribadi sebagai guru
sakit hati, ya hanya bisa sakit hati karena memang kadang kita tak mampu
mengatasi sendiri, nanti kita salah bertindak
siapa tahu malah masuk bui. Berabe deh jadinya, bagaimana urusan suami dan anak kita nanti.
Saya
jadi ingat berita waktu itu di media, seorang guru honor bernama Ahmad
Budi Cahyono, guru SMK di Sampang Madura, yang
kehilangan nyawa. Akibat karena
‘menegur’ seorang siswa, berinisial MH. Dia mengganggu teman-temannya. Karena
MH sakit hati ditegur oleh gurunya, akhirnya dia memukul sang guru sampai tak
bernyawa. Kasus seperti ini yang mengundang rasa sedih,haru, prihatin yang
teramat dalam bagi kita.
Apa
lagi saya duduk di ruang BK, banyak
kejadian-kejadian miris yg dilakukan siswa. Kadang orang tua tidak tahu yang
dilakukan anaknya. Ortu ‘tahunya’
anaknya baik-baik saja di sekolah. Setelah
ada panggilan untuk orang tua, tentang kasus yang dilakukan anaknya semula orang
tua yang tidak percaya. Setelah melihat
bukti yang ada, mereka jadi sedih, kecewa, bahkan tak jarang sampai mereka ‘tampar’ anaknya sendiri di
depan kita gurunya.
Jika kita mencoba sharing kilas balik. Jika adegan guru menegur itu terjadi di zaman
dulu, tentu kita akan mendapat gambaran yang sama sekali ‘berbeda’. Anak-anak
dulu jika ditegur gurunya, tidak akan ada yang ‘berani’ melawan atau apalagi
bala-bala. Tidak ada satupun siswa yang berani macam-macam dengan gurunya. Pasalnya, guru
dipandang sebagai orangtua kedua, setelah orangtua di rumah. Yang tentunya
wajib di hormati.
“Mungkin!” Pengaruh ‘tontonan” baik itu yang didapat dari lingkungan keluarga, tetangga, video games, film-film, bacaan dan media lainnya, ikut ‘andil’ dalam membentuk perilaku anak kita.. Banyak survei sudah dilakukan dan memperlihatkan ‘fakta’ menyakitkan, bahwa tontonan yang ‘negativ’ dapat memberi dampak pada pikiran dan tindakan orang yang menyaksikannya. Lebih-lebih jika stimuli itu berlangsung secara terus menerus dan dalam jangka waktu lama. Sekalipun ini tidak serta merta bisa dituding sebagai biang keladi, namun ada baiknya kita membentengi anak-anak kita dari konten maupun tontonan yang #tidakmendidik.
Pemandangan siswa hormat,respek,
menghargai guru sudah mulai langka. Dengan gurunya yang mengajar saja tidak
bisa tegur sapa, hormat ‘apalagi’ dengan
orang lain. Mereka seolah-olah cuek, masa bodoh, tak peduli, angkuh . Entahlah
apa yang mereka sombongkan. Jika saya
boleh mengomentari, anak-anak zaman now mungkin
karena kurang diajarkan/ditanamkan nilai-nilai dan budi pekerti yang
baik. Bagaimana menghormati dan menghargai orang lain, bagaimana
bersikap/merespon terhadap situasi dan masalah, bagaimana melakukan/membangun
komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekitarnya, dan bagaimana membangun
interaksi menjalankan kemanusiaan yang baik.
Lantas apa yang bisa dilakukan? Mari kita mulai bebenah diri. Jangan anggap sepi kasus-kasus seperti ini. Mulailah bekali dan wariskan anak-anak kita nilai-nilai hidup yang dapat membangunnya jadi manusia baik dan bermanfaat. Kebaikan kehidupan anak diawali dari kelarga. Mungkin, anak-anak kita juga kurang mendapatkan cinta kasih. Dengan membawa cinta kasih dari keluarga, pastilah anak-anak akan tumbuh dengan cinta kasih, pada akhirnya akan bisa menghargai, menghormati dan punya rasa rendah hati.
Demikianlah curahan hari tentang problema anak kita dan pemecahannya. Harapan ke depan, apalagi
menghadapi #newnormal ini, semoga anak
kita sudah bisa punya #semangatbaru,
wajah baru, merubah diri ke hal
yang #lebihbaik. Tugas dan tanggung jawab kita sebagai guru, orang tua dan siswa. Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar