Jumat, 28 Agustus 2020

Jawaban dari Tuhan

 


Oleh : Sri Rohmatiah

Leon Edel menuliskan Writing Lives, bahwa beberapa pengarang menulis tentang seseorang karena Ia kagum dan “jatuh cinta” kepada subyeknya, benarkah?

***

 

 

M

enuliskan seseorang seperti kata Leon Edel ada unsur-unsur kecintaan kepada subyeknya, sedangkan menulis my story, apa bisa dikatakan kagum atau mencintai diri sendiri? Sulit bagiku menjawab hal itu.

Mungkin saja kisahku ini biasa saja. Bukan hal heboh atau fantastis. Namun aku selalu yakin bahwa setiap kisah perjalanan kehidupan manusia, ada hikmah yang bisa diambil dan dipelajari. Sebesar gunung atau sebesar biji dzarrah, semua tergantung dari cara memberi makna atas peristiwa tersebut.

 

Masa Kecil hingga Dewasa

I

buku perempuan hebat. Ayahku lelaki bijaksana. Bersyukur aku menjadi anak mereka.

Namaku Sri Rohmatiah, anak kedua dari lima bersaudara. Nama yang tentu saja di telinga Anda, sangat sederhana. Namun, nama itu mengandung harapan yang tidak sederhana.

Mimi, begitu aku memanggil Ibuku, selalu menuturkan adanya harapan-harapan besar di balik nama sederhana itu. Sri itu menunjukkan identitas perempuan. Tidak semata-mata menjadi perempuan, namun diharapkan aku hidup dengan penuh rahmat dan kasih sayang Allah. Sejak kecil, hingga dewasa, dan kelak ketika sudah menghadapNya.

Hidup penuh dengan rahmat, adalah sebaik-baik kehidupan. Masa kecil bisa bersenang-senang, masa remaja penuh ceria, saat dewasa penuh makna, dan mati masuk surga. Itu harapan di balik kesederhanaan namaku.

Ayahku pekerja keras. Ia guru di sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dengan gaji yang sangat minim, ayah berjuang untuk membesarkan lima putra-putrinya. Bersyukur aku memiliki Mimi yang hebat, selalu setia mendampingi ayah dalam kerasnya benturan kehidupan.

Meski penuh keterbatasan, namun kehidupanku di masa kecil, serasa sangat menyenangkan. Aku bisa leluasa bermain, berlarian di pematang sawah yang membentang, dan berjalan-jalan di area perkebunan desa. Itu semua membangun keceriaan kami anak-anak desa yang jauh dari keramaian kota.

Sejak SD, aku mulai suka membaca buku. Teringat saat kelas lima hingga enam Sekolah Dasar.  Setiap hari Minggu bersama Neng Ade, teman karibku,  selalu berjalan kaki enam kilometer hanya untuk berburu buku ke perpustakaan.

Kami meminjam buku selama satu pekan dan pekan berikutnya mengembalikan sambil meminjam lagi yang baru. Sejak itulah aku selalu berimajinasi “seandainya aku penulis buku.”

Hidup di kota kecil, sangat banyak keterbatasan. Aku kesulitan untuk membeli buku, tak ada anggaran untuk itu. Satu-satunya cara adalah pergi ke perpustakaan terdekat, meminjam setumpuk buku dengan harga terjangkau.

Majalah yang aku sukai pada masa itu adalah Bobo dan Si Kuncung. Selain itu ada buku yang sangat berkesan, seperti Petualangan Lima Sekawan karya Enid Blyton, dan Trio Detektif  yang menjadi teman waktu libur sekolah.

Melihat kesukaanku terhadap buku dan sering coret-coret di kertas membuat puisi,  Ayahku tekun mengajariku membuat puisi dan cerita anak. Bukan hanya mengajari cara menulis, namun ayah juga membantuku mengetik naskah menggunakan mesin ketik kantor. Saat itu aku sekolah di SMP, dan mulai mengirim naskah berupa puisi dan cerita anak ke koran. Mendapat honor Rp. 25.000 setiap kali naskah dimuat, sudah menjadi kebanggan bagiku.

Ayah belum memiliki mesin ketik sendiri, sehingga untuk membantuku mengetik naskah, harus meminjam dari kantor atau tetangga. Aku merasa kasihan harus merepotkan ayah, belum lagi harus mendengar suara ribut mesin ketik manual saat tengah malam. Diam-diam semua puisi dan cerita aku tulis dalam buku, dan mengatakan kepada ayah kalau aku tidak ingin menulis lagi karena sibuk sekolah.

Kecintaanku kepada buku terus berlanjut hingga SMA. Perpustakaan sekolahku menjadi arena melepas kehausanku akan membaca. Buku “Pada Sebuah Kapal” karya NH. Dini, “Aku” karya Chairil Anwar, “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Buya Hamka, aku lahap semua. Termasuk kumpulan puisi W.S Rendra si Burung Merak, puisi “Ibu” karyanya sangat menusuk perasaanku.

Pada banyak anak remaja, masa SMA disebut masa yang sangat indah. Mereka menikmati dengan versi masing-masing. Masa remajaku menjadi sangat indah bersama buku-buku. Ya benar, buku pelajaran ataupun buku-buku fiksi. Duniaku benar-benar dunia buku.

Rajin membaca karena aku memiliki mimpi, mimpi terbesarku adalah kuliah di IKIP Jurusan MIPA, itu sebabnya ketika SMA masuk ke jurusan Fisika atau dulu disebut A.1. Namun karena terbentur biaya dan support orang tua yang tidak ada, angan-angan untuk kuliah kandas. Saat itu aku merasa terpuruk dan beranggapan percuma aku sering membaca dan belajar, pada akhirnya tidak dapat melanjutkan pendidikan. Semua buku aku tinggalkan dan memilih bekerja di salah satu SMK Negeri Bandung dengan hanya bermodalkan Ijazah SMA yang bagus dan keahlian mengoperasikan komputer.

Tahun 1998 aku kembali ke kota kelahiran dan bekerja sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) di SMAN tempat dulu  menamatkan Sekolah Menengah Atas.

Pada  waktu itu sekolah hanya memiliki dua unit komputer, satu untuk Tata Usaha dan satu lagi digunakan untuk keperluan kesiswaan. Namun, tahun berikutnya baru ada program pengadaan komputer bagi kelas dua dan tiga, di situlah aku mulai terlibat mentransfer ilmu komputer kepada siswa SMA kelas dua.

Selain bekerja di SMAN aku juga aktif di PGSI (Persatuan Gulat Seluruh Indonesia) sebagai bendahara untuk wilayah kabu­paten, kebetulan para atlet akan menghadapi PON 2004 di Cirebon.

Di tengah-tengah kesibukanku bekerja, Ayah mendorongku untuk menulis kembali. Alasannya karena aku sudah bisa menulis sendiri di komputer. Aku menolaknya karena merasa tidak memiliki ilmu tentang teknik kepenulisan yang bagus.

Pada saat yang sama, entah ide dari mana, Ayahku meminta aku meramaikan remaja masjid dan membuat bulletin atau koran kecil untuk dibagikan ke desa-desa atas perintah dari pak camat.

Mendengar nama pak camat dan ketua Muhammadiyah, aku tidak dapat menolak. Akhirnya dengan dibantu ketua remaja masjid di kecamatan, aku mengumpulkan remaja masjid yang memiliki potensi menulis di berbagai bidang.

Posisi sebagai sekertaris, semua naskah dari remaja masjid yang ditunjuk masuk ke tanganku. Kembali aku membaca buku untuk mengisi rublik yang aku pegang. Walaupun hanya bentuk koran kecil dan penanggung jawab kecamatan. Aku merasa senang, karyaku dan remaja lainnya bermanfaat bagi orang lain, khususnya remaja masjid yang berada di desa-desa.

Pembuatan koran kecil ini sifatnya sukarela, dana dari kecamatan hanya cukup untuk biaya produksi, sama seperti gajiku di kantor sebagai tenaga honorer yang kecil. Namun, Mimi selalu berkata “Jangan pernah melihat jumlahnya, yang penting cukup dan berkah.” Apa yang dikatakan Mimi memang benar, gajiku ternyata cukup untuk membantu membiayai kuliah adik perempuan, saat itu dia kuliah di UPI.

Kegemaranku membaca dan menulis aku tularkan kepada adikku. Di tengah kesibukannya kuliah, adikku memenangkan lomba karya tulis ilmiah tingkat Nasional dan mendapatkan beasiswa setiap semesternya hingga lulus.

 

 

Pernikahan

B

ekerja di sebuah sekolah mendekatkanku  kepada dunia buku yakni perpustakaan. Sehingga aku bisa melupakan tentang usia yang semakin bertambah, namun belum juga mendapatkan  jodoh. Orang tua mulai gelisah, khawatir anak gadisnya menjadi perawan tua.

Sepertinya, suatu hal yang wajar jika perempuan atau laki-laki belum menikah, teman dekat, saudara akan mencarikan pasangan yang tepat. Sama seperti halnya denganku. Berawal dari kedekatanku dengan teman satu kantor di SMA, semua orang memanggilnya Bu Ika, namun sayang kedekatan kami hanya sebentar karena dia ikut suaminya pindah ke Madiun. Namun, komunikasi kami berlanjut lewat telepon.

Melalui Bu Ika itulah perkenalan dengan seorang laki-laki asal Madiun yang notabene kakak iparnya terjadi lewat telepon. Selang beberapa hari sebuah foto dikirimkannya kepadaku. Ketika melihat foto itu, aku sempat kaget, ternyata laki-laki yang dikenalkan itu seorang difabel.

Sebelum kedua orang tua mengetahui kisah ini, pertama kali aku menceritakan kepada Kepala Tata Usaha, Bu Euis. Beliau tahu aku sering menerima telepon dan mendapat surat tersebut. Sebagai seorang ibu di kantor tentu dia sangat bijaksana menanggapi dilema yang kuhadapi. Surat izin diberikannya supaya aku bisa pergi ke Madiun menemui Bu Ika.

Mendapat izin dari Ayahku untuk pergi ke Madiun sangat sulit. Namun, aku juga tidak bisa menceritakan yang sebenarnya, hanya Mimi yang tahu akan hal itu. Mimi berhasil membujuk Ayahku untuk mengizinkan pergi ke Madiun. Ini adalah perjalanan panjang pertama dan paling menakutkan seumur hidup. Setibanya di statsiun Madiun, yang paling pertama saya cari adalah telepon umum. Bukan untuk mengabari Bu Ika kalau aku telah tiba tetapi memberi kabar ke kantor khususnya Bu Euis yang telah memberi dorongan untuk memastikan semuanya.

Satu hari berada di Madiun, semua yang tergambar di foto ternyata benar adanya. Apa yang bisa aku ceritakan kepada kedua orang tuaku, ternyata yang hendak melamar itu seorang difabel. Sepanjang perjalanan pulang, berbagai pertanyaan aku ajukan pada diri sendiri, namun hingga tiba di rumah tidak mendapat jawaban apapun.

Di kantor, Bu Euis sudah tidak sabar menunggu berita hasil perjalananku. Dengan penuh ambisi ditariknya tanganku ke ruang komputer tempat aku bekerja.

Ada air mata yang keluar dari mata seorang ibu saat kuceritakan apa yang terlihat  semuanya,  Bu Euis memeluk seranya berkata “Aku beri izin Neng Sri untuk tidak masuk kerja selama satu minggu.” Saat itu sekolah sedang penerimaan siswa baru, aku tidak pernah libur selama itu. Namun, izin libur  aku  ambil dan dipergunakan sebaik mungkin untuk konsultasi dengan sang Maha Penggerak Hati. Ada proses pertanyaan yang aku ajukan kepada Tuhan melalui salat istikharah selama tujuh malam dan puasa selama tujuh hari. Tidak lupa Mimi menemani proses ibadahku. Jawaban terbaik datang di malam ke-7 dengan isyarat keyakinan ini yang “Terbaik.”

Sebagian orang di kantor bahkan Ayahku sendiri awalnya mengatakan, ini sebuah keputusan yang tidak masuk akal memilih calon suami seorang laki-laki difabel. Kemarahan sempat tergambar dari wajah Ayah yang keriput tanda lelah mengurus putra putrinya yang sudah remaja. Aku paham maksud kemarahannya, intinya tetap ada kekhawatiran anak gadisnya akan salah memilih. Bila diterjemahkan, menikah dengan siapa saja boleh, namun, harus ada petimbangan.

Kita boleh saja memiliki tiga atau sepuluh sekalipun pertimbangan dalam menentukan pasangan, namun adakah yang sempurna? Itu yang aku katakan ketika Ayahku mengumpulkan seluruh orang tua dari pihak Ayah dan Mimi untuk dimintai pendapat. Malam itu terasa diadili tidak ada yang berpihak kecuali Mimi dan adik perempuan.

“Bagaimana dengan keturunanmu kelak? Siapkah jika mendapatkan keturunan yang difabel juga?” tanya Mbah Dali, orag tua dari Ayah.

“Bagaimana jika anak-anakmu merasa malu mengetahui ayahnya difabel?”

Berbagai pertanyaan dilontarkan seolah-olah aku terdakwa.

Mengapa harus mengkhawatirkan yang belum terjadi, ketika memutuskan dan merasa yakin, Allah akan memudahkan semua urusan. Kita lupa kepada siapa anak gadis harus dinikahkan? Nikahkan dengan laki-laki yang bertaqwa dan aku melihat semua itu pada dirinya.

Ketika aku mengajukan satu pertimbangan lain yakni menikah karena Allah hanya untuk beribadah. Ayahku yang pada dasarnya seorang ustadz dan aktif di Muhammadiyah, menangis. Aku tidak dapat menerka apa yang ada dipikiran Ayahku saat itu, senangkah? Sedihkah?

Keyakinan untuk menikah terjadi, tidak perlu waktu lama, sepuluh hari kemudian ijab qabul dilaksanakan secara agama. Ayah mengucapkan ijab atas nama Sri Rohmatiah dan Agus Yusuf mengucapkan qabul (penerimaan) untuk mengikat jalinan perasaan sebagai suami istri. Satu bulan kemudian, pencatatan di KUA dilaksanakan dengan saksi Kepala KUA kebetulan dia adalah keponakan Ayahku. Ketua Muhammadiyah beserta pengurus lainnya, keluarga dan keluarga besar tempat aku bekerja menjadi saksi pernikahanku.

 

***

 

Setelah Menikah

K

etika memutuskan menikah di situlah harus ada jiwa yang ikhlas karena kita memiliki kewajiban untuk mengurus keluarga. Aku rasa semua sama, mungkin yang terlihat berbeda adalah bagaimana bisa membina rumah tangga dengan seorang suami difabel. Mungkin sepintas tidak berdaya secara fisik. Namun jika kita melihat lebih dekat, tidak ada bedanya dengan kita, memiliki pekerjaan, bisa melakukan apa saja yang dilakukan orang pada umumnya, hanya caranya saja yang berbeda.

Ada bisikan dari seseorang kalau aku materialistis, terus apa bedanya jika teman atau aku menikah dengan seorang laki-laki pekerja memiliki gaji namun tidak cacat? Bisakah dikatakan materialistis?  Tentu jawabannnya tidak. Dikatakan materialistis karena suami difabel, namun memiliki penghasilan layaknya pegawai negeri sipil. Materialistis boleh saja, namun jangan perhitungan karena menikah bukan jual beli yang harus ada untung rugi.

Dengan penghasilan dari melukis, suami bisa memenuhi kebutuhan keluaga dengan baik. Selang satu tahun aku dikaruniai seorang putri dengan nama Najwan Sabila Yusuf dan dua tahun kemudian lahir pula putra kami dengan diberi nama Farhan Miftahul Yusuf. Alhamdulillah keduanya dalam keadaan sehat dan normal. Apa yang dikhawatirkan keluarga dahulu, tidak terbukti.

Bagaimana dengan kekhawatiran kedua yakni merasa malukah anak-anakku memiliki seorang ayah difabel? Tentu tidak karena aku sudah mendidiknya sejak dalam kandungan. Memeriksakan kandungan ke dokter bersama suami,  itu adalah cara mendekatkan bayi yang ada dalam kandungan mengenal ayahnya.

Ketika anak-anakku menginjak TK, kami berdua mengantarnya. Awal bertemu, teman-teman anakku terlihat kaget, wajar anak kecil jika melihat sesuatu yang berbeda akan kaget dan mendekat, jika ada keberanian akan bertanya “Om kenapa tangannya?” yang malu orang tua anak itu. Anak-anak kami santai saja bahkan terlihat bangga memiliki orang tua difabel. Sering anak-anaku mengajak teman-temannya ke rumah.

Untuk menambah percaya diri anak-anakku memiliki ayah difabel, kami sering mengajak mereka ke tempat umum. Kami pun berbaur dengan lingkungan seperti keluarga lain.

Semua yang terjadi dan aku alami selama ini adalah bukan pilihan, itu jawaban-jawaban dari setiap doa yang dipanjatkan. aku hanya memiliki cinta semata-mata karena Allah SWT.

Jalaludin Rumi berkata;

“Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam.”

***

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...