.Peristiwa Adalah Inspirasi Yang Tak Ada Habisnya
Oleh : Cahyadi Takariawan
Dalam satu hari, ada berapa peristiwa terjadi dalam kehidupan kita? Tak terhitung jumlahnya. Sejak dari peristiwa yang biasa-biasa saja, sampai peristiwa yang luar biasa. Sejak dari peristiwa normal, sampai peristiwa aneh. Sejak dari peristiwa yang kita memikirkannya, sampai peristiwa yang kita tidak peduli dengannya.
Oleh karena setiap hari kita bertemu sangat banyak peristiwa, maka peristiwa menjadi sumber inspirasi menulis yang tiada pernah ada habisnya. Setiap peristiwa, bisa ditulis menjadi satu atau lebih tulisan, baik fiksi maupun nonfiksi. Itulah sebabnya, kita bisa membuat banyak tulisan setiap hari.
Jangan meributkan definisi atau pengertian –apa yang disebut sebagai peristiwa? Lebih baik Anda fokus mengingat peristiwa dan menuliskannya, daripada Anda berdebat dan meributkan definisi peristiwa. Terserah apapun definisi Anda tentang peristiwa, itu tidak penting. Namun yang sudah pasti, Anda bisa menjadikan peristiwa sebagai inspirasi menulis.
Menulis Peristiwa Berkesan
Jika Anda memiliki pengalaman mengesankan, akan lebih mudah untuk menuliskannya. Anda tengah berada dalam suasana yang sangat tepat untuk menulis. Suasana jiwa Anda tengah berbunga-bunga, segera menuliskannya. Suasana jiwa Anda tengah berbahagia, segera mengabadikannya.
Seperti yang saya lakukan saat menuliskan pengalaman berkesan di kawasan Bromo Tengger. Silakan simak di sini, sebagai contoh menuliskan pengalaman berkesan serta cara mengambil pelajaran.
Atau ketika saya menemukan peristiwa berkesan, karena mendapat kiriman tak terduga. Tiga kilogram pecel Madiun. Slakan simak di sini, untuk contoh menuliskan pengalaman mengesankan.
Peristiwa Masa Lalu
Mari melongok ke masa lalu kita. Sangat banyak peristiwa yang masih tersimpan di memori jangka panjang otak kita. Ana bisa membuat tulisan tentang keceriaan masa kecil, ataupun kegetirannya. Semua bisa memberi makna.
Suatu ketika kami berjalan-jalan di sebuah taman. Anak saya yang kelas dua SD meminta untuk dibelikan ice cream yang dijajakan di taman tersebut. Saya bercerita kepadanya bahwa ia harus sangat bersyukur karena bisa dengan mudah menikmati ice cream. Saya bercerita kepadanya, “Dulu saat ayah masih kecil, tidak bisa menikmati ice cream”.
“Mengapa?” tanya anak saya penuh heran.
“Dulu saat ayah segede kamu ini, ayah lagi berjalan-jalan di sebuah taman dengan kakak-kakak. Waktu itu ada penjual ice cream berkeliling di taman, dan ayah sangat pengen membelinya. Kakak-kakak akhirnya memberanikan diri bertanya kepada penjual ice cream, berapa harga ice cream?”, jawab saya.
“Berapa harganya, Ayah?” tanya anak saya tidak sabar.
“Sangat mahal. Satu potong ice cream harganya seratus duapuluh lima rupiah. Itu harga yang tidak masuk akal bagi kami. Karena biasanya di kampung kami membeli makanan seharga sepuluh rupiah saja”, jawab saya.
“Bekal ayah dan kakak-kakak, jika digabung semua, hanya seratus rupiah saja. Tetap tidak cukup untuk membeli ice cream itu. Jadinya ayah sangat sedih dan kecewa”.
“Waw, andai saja kita bisa kembali ke masa lalu itu. Aku akan membelikan ayah ice cream yang hanya seratus duapuluh lima rupiah. Nih lihat, uangku ada lima ribu”, ujar anakku.
“Itulah, maka kamu harus bersyukur hidup di zaman sekarang yang lebih mudah untuk membeli ice cream. Kamu juga harus tahu, bahwa saat ini masih banyak anak-anak seusia kamu yang ingin menikmati ice cream namun tidak mampu membeli”, jawab saya.
Tulisan saya ini, telah menceritakan dua peristiwa sekaligus. Pertama, saya sedang menulis peristiwa di masa lalu saya, saat saya masih sekolah SD, mungkin kelas dua. Peristiwa masa lalu ini ternyata tidak terlupakan, karena ada keinginan yang sangat kuat untuk menikmati ice cream, namun tidak pernah kesampaian. Sebagai anak kecil yang pengen menikmati ice cream, peristiwa itu sangat mengesankan.
Kedua, saya sedang menulis peristiwa yang belum lama berselang, yatu ketika saya sedang berjalan-jalan di taman dengan anak saya yang kelas dua SD. Saya menceritakan kejadian yang menimpa saya kepada dirinya untuk dijadikan pelajaran. Bahwa bisa menikmati ice cream adalah sebuah nikmat yang harus disyukuri. Tidak semua anak mampu membeli ice cream.
Peristiwa di Hari Ini
Anda juga bisa menuliskan peristiwa-peristiwa aktual yang terjadi pada diri Anda, ataupun terjadi di sekitar Anda. Mungkin terjadi hari ini, kemaren, atau sepekan yang lalu, sebulan yang lalu, dan seterusnya. Semua peristiwa, pada dasarnya tergantung bagaimana kita melihat dan memaknainya.
Hari ini tadi, Sabtu 22 Agustus 2020, saya mengalami banyak peristiwa. Semua bisa saya tulis dan bisa diambil pelajarannya. Saya mulai dari peristiwa Jumat malam, saat saya meminta kepada enam orang tukang yang tengah bekerja membuat pendopo terbuka di samping rumah saya, untuk kerja lembur mengeraskan lantai.
“Pokoknya malam ini harus selesai, karena besok pagi sehabis subuh saya gunakan untuk menerima tamu”, pesan saya kepada para tukang.
“Ini kerjanya Bandung Bondowoso, Pak”, jawab mereka.
“Ya benar. Kalau bisa selesai malam ini, permintaan kalian akan saya penuhi”, jawab saya.
“Pesta ya Pak”, ujar salah seorang tukang.
“Boleh”, jawab saya. “Kalian pilih sendiri mau pesta apa. Yang penting lantai pendopo selesai malam ini”.
“Siaaaap… Pesan kambing ya Pak”, minta mereka.
“Boleh. Silakan kalian pesan sendiri kambingnya”, jawab saya.
Bersemangatlah para tukang bekerja menyelesaikan pengerasan lantai. Alhamdulillah, tidak sampai tengah malam, pekerjaan sudah selesai. Saya bersyukur dan berbahagia.
Sabtu pagi, tetamu saya datang. Tujuh orang dari Bekasi. Sengaja saya temui di pendopo terbuka yang terletak di tepian sawah, sekaligus untuk protokol pencegahan Covid-19. Physical distancing, mengenakan masker, dan di tempat terbuka.
Untuk pertama kalinya, pendopo yang belum jadi itu saya gunakan untuk menerima tamu. Saya sambut dengan istimewa, karena sudah lama tidak menerima tamu. Maka tetamu itu saya siapkan kopi arabika Gayo, jenis longberry yang baru saja saya grinding. Saya siapkan pula traditional brewer untuk menikmati longberry yang sangat harum aromanya.
Tulisan ini saya buat untuk menunjukkan betapa semua peristiwa adalah sumber inspirasi yang tak akan ada habisnya. Maka tulislah peristiwa. Apa saja, dan ambil pelajarannya. Saya ceritakan peristiwa tersebut, untuk mengajak kita semua berhati-hati dalam masa pandemi ini. Tetap menerapkan protokol pencegahan Covid-19 dalam menerima tamu, dan tidak memudah-mudahkan dalam membuat kegiatan yang melibatkan lebih dari tiga orang.
Selamat menulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar