.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“We are what we repeatedly do. Excellence, therefore, is not an act, but a habit” — Aristoteles
.
Anda semua pasti pernah mengenal karya monumental Stephen R. Covey, berupa sebuah buku berjudul “The 7 Habits Of Highly Effective People”. Ini menjadi salah satu buku best seller dunia yang diterjemahkan ke dalam sangat banyak bahasa. Memaparkan tujuh kebiasaan yang sangat efektif dalam kehidupan manusia.
Ya, itu buku lama. Namun saya ingin membahas tujuh habit tersebut dalam perspektif tulis menulis. Bagaimana kita menggunakan tujuh kebiasaan yang efektif tersebut, sebagai seorang penulis.
Kebiasaan 1 : Jadilah Proaktif
Penulis harus proaktif. Jangan duduk menunggu mood berjam-jam tidak ngapa-ngapain. Jangan merenung bertahun-tahun dan tidak menghasilkan satupun karya tulis. Menurut Stephen R. Covey, bersikap proaktif artinya bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri dan membuat pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai, bukan pada suasana hati atau keadaan.
Menulis selalu memiliki tujuan, dan terkait dengan nilai-nilai yang kita yakini. Maka penulis mengembangkan sikap proaktif dengan mengoptimalkan empat karunia manusia yang unik, yaitu kesadaran diri, hati nurani, daya imajinasi, dan kehendak bebas. Menulislah dengan empat karunia ini.
Kebiasaan 2 : Memulai dari Tujuan Akhir
Apa tujuan akhir dari kehidupan Anda? Ingin masuk surga, pastinya. Nah, mulai saja dari sini. Jika Anda ingin menempati surga tertinggi, harus mengupayakan dengan tenaga, waktu dan perhatian yang tertinggi pula. Termasuk dalam menulis. Capailah surga, melalui tulisan Anda. Bagian ini, menurut Stephen R. Covey adalah penciptaan manusia secara mental.
Lalu, apa bentuk akhir dari tulisan Anda? Sebuah buku, sebuah artikel, puisi, cerpen, atau novel? Berapa halaman buku yang ingin Anda buat? Berapa karakter atau berapa kata yang hendak Anda hasilkan dari artikel Anda? Ini adalah bentuk akhir secara teknis, dari setiap tulisan Anda.
Mulai saja dari tujuan akhir, dipadukan dengan bentuk akhir ini. Dengan mendefinisikan secara jelas tujuan akhir kehidupan Anda, dan dengan menentukan bentuk akhir dari tulisan Anda. Setiap tulisan, harus Anda proses dengan segenap kesungguhan, agar bisa meningkatkan level surga Anda nantinya.
Kebiasaan 3 : Dahulukan yang Utama
Menentukan prioritas sangatlah penting. Hal ini karena semua manusia memiliki keterbatasan, maka dahulukanlah yang utama. Menurut Stephen R. Covey, mendahulukan yang utama artinya mengorganisasikan dan melaksanakan hal-hal yang telah diciptakan secara mental berupa tujuan, visi, dan nilai-nilai yang Anda yakini.
Saat Anda mengatakan tidak punya waktu untuk menulis, maka artinya Anda tidak menganggap menulis sebagai hal penting yang patut diprioritaskan. Anda tengah menyatakan, sangat banyak hal lain yang lebih penting untuk Anda kerjakan.
Jika memang demikian, jangan lagi bertanya bagaimana cara menulis atau cara membuat buku, jika hal itu memang bukan hal penting bagi Anda. Tentu saja, Anda berhak untuk memiliki prioritas yang lainnya.
Namun jika dalam prioritas hidup, Anda memasukkan menulis masuk sebagai hal utama, maka Anda harus mengalokasikan waktu khusus untuk melakukannya. Harus ada waktu rutin yang Anda gunakan untuk menulis. Ini menunjukkan, Anda telah membuat prioritas.
Kebiasaan 4 : Berpikir Menang / Menang
Menurut Stephen R. Covey, berpikir menang / menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Sebagai penulis, Anda tidak bisa sendirian dalam memunculkan karya tulis. Anda selalu memerlukan pihak lain.
Anda memerlukan editor, desainer buku, juga penerbit. Maka jangan berpikir konfrontatif, ingin menang dalam semua titik interaksi. Namun berpikirlah menang / menang, sehingga semua pihak merasa senang bekerja sama dengan Anda.
Anda juga memerlukan jalur distribusi bahkan mungkin reseller untuk mempercepat proses penjualan buku Anda. Berpikir menang / menang membuat buku Anda cepat terjual dan semua mendapatkan keuntungan.
Kebiasaan 5 : Berusaha untuk Memahami Terlebih dulu, Baru Dipahami
Sebagai penulis, Anda berusaha untuk memahami pembaca terlebih dahulu. Anda harus menyapa pembaca Anda, maka berusahalah untuk memahami kebutuhan mereka. Jangan malas melakukan survei, meskipun sederhana, untuk mengetahui kebutuhan segmen Anda. Dengan cara ini, Anda akan mampu memberikan tulisan terbaik untuk mereka.
Di antara cara sederhana untuk mengetahui kebutuhan pembaca adalah dengan survei melalui media baik online maupun media cetak / elektronik. Mengetahui persoalan yang tengah dialami oleh masyarakat, membuat Anda mampu menyapa mereka denga bahasa yang tepat. Dengan cara ini, pembaca akan merasa nyaman karena mendapat perhatian melalui tulisan Anda.
Menurut Stephen R. Covey, berusaha memahami menuntut kemurahan; sedangkan berusaha dipahami menuntut keberanian. Maka efektivitas terletak dalam kemampuan menjaga keseimbangan di antara keduanya.
Kebiasaan 6 : Wujudkan Sinergi
Sebagai penulis, sangat banyak hal yang bisa Anda wujudkan sebagai sinergi. Misalnya, membuat sinergi antara karya tulis Anda dengan semua akun medsos yang Anda kelola. Jika Anda mampu mengoptimalkan akun media sosial, miaslnya facebook, instagram, youtube dan lain-lain, maka sekaligus akan menjadi jalan lempang bagi Anda untuk melakukan sosialisasi, promosi atau publikasi karya Anda.
Secara sangat positif, ini mencapai tujuan-tujuan penulisan yang Anda lakukan —bahwa semakin banyak orang mendapat inspirasi dari tulisan Anda. Tentu nilai kemanfaatan bagi diri Anda akan semakin meningkat apabila tulisan Anda dibaca oleh semakin banyak orang.
Sinergi juga bisa Anda lakukan dengan berbagai pihak yang akan bisa membantu menyebarkan informasi ataupun promosi terhadap karya tulis yang Anda hasilkan. Misalnya bersinergi dengan toko buku online maupun offline, serta berbagai pihak yang bisa bekerja sama dengan Anda dalam proses penyebarluasan karya tulis Anda. Tetap dengan menggunakan prinsip win / win solution.
Kebiasaan 7 : Mengasah Gergaji
Suatu ketika Anda bertanya kepada seorang penebang pohon, “Apa yang sedang Anda kerjakan?”
“Tidak dapatkah Anda melihat? Saya sedang menggergaji pohon ini,” jawabnya.
“Anda terlihat lelah. Berapa lama Anda telah mengerjakannya?” tanya Anda.
“Lebih dari 5 jam, dan saya lelah. Ini benar-benar kerja keras!” serunya.
“Nah, mengapa Anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah gergaji itu? Saya yakin Anda dapat bekerja lebih cepat setelah mengasahnya,” ucap Anda.
“Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji. Saya terlalu sibuk menggergaji!”
Anda lihat, pisau gergaji penebang pohon itu pasti akan semakin tumpul, ketika ia tidak mau berhenti sejenak untuk mengasah gergajinya. Makin lama, ia semakin tidak produktif. Dengan waktu yang sama, hanya sedikit pohon berhasil ia gergaji.
Demikian pula menulis. Anda akan semakin produktif jika rajin mengasah ketrampilan. Anda belajar dan belajar. Anda menempa diri untuk menajamkan pisau gergaji kepenulisan Anda. Dengan demikian intuisi menulis Anda tidak akan pernah tumpul, bahkan bisa semakin tajam.
Bahan Bacaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar