Selasa, 13 Oktober 2020

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Saat Pandemi Melanda.

 


Kita  melihat di medsos, fb atau WA,. Tentang  PJJ saat ini.  Terkhusus  siswa SD.  Anak  diajar oleh orang tuanya sendiri di rumah. Karena  orang tua merasa punya tanggung jawab,  yahh!, akhirnya mama  harus belajar. Berusaha belajar kembali  materi SD untuk anaknya.Setelah itu mengajar. Action di depan anaknya. Begitulah kira-kira.

Pada awal  kegiatan belajar mengajar antara  mama  dan anak begitu komunikatif dan penuh suka cita. Mesra. Biasa-biasa saja,  mereka masing-masing  saling  rukun. Karena anak  diajari  tidak cepat mengerti, pertama  masih  bisa di tegur dengan cara halus anak kesayangannya itu. Kemudian,  terus menerus anak  melakukan kesalahan dan tidak ngerti-ngerti, materi  yang disampaikan oleh ortunya.  Ortu  mulai kecewa.  karena,  yang di serap anaknya tidak sesuai dengan harapan orang tua.  Murkalah mama. Sapu pun diambilnya untuk persiapan memukul anaknya. Rasa takut, cemas,gugup dari anak sudah mulai timbul. Saling emosi pun mulai mereka rasakan.  Yachh! anak tambah stresss. Mamapun tidak kalah stress.  

Orang tua sudah  dengan penuh pengorbanan, merelakan waktu dan tenaga utk mengajari anak. Eh anak ndak ngerti-ngerti. Pussingg!! Kasihan.Ya, kasihan keduanya, ya ortu dan anak. Rasa bosan, jenuh mulai muncul. Kalau begini terus  apa sudah solusinya.

Baik kalau orang tua ada waktu, kalau orang tua tidak ada waktu. Bagaimana?

Bagi  guru pun mengalami kesulitan. Guru memberikan materi sudah memilih yang sederhana. Yang tidak menyulitkan siswa. Guru sangat memahami, karena merasa siswa harus   belajar mandiri. Tapi, itupun  siswa masih merasa sulit. Apalagi yang  mata pelajaran menghitung. Bagaimana  dengan  waktu yang terbatas bisa  menyelesaikan target kurikulum? Dengan waktu  pembelajaran  yang kurang , apakah  guru bisa memenuhi  beban mengajarnya. Atau  bagaimana  perhitungan beban mengajar. Mungkin ada pencerahan. Guru  juga jelas susah berkomunikasi dengan  orang tua. Baik kalau  siswa yang diampu sedikit. Guru mengajar bisa di atas lima puluh orang, kalau SMA sampai ratusan orang.

Pemerintah  memberikan solusi dalam hal ini,  Untuk Guru : ada guru berbagi ,  bimtek  daring,  webinar-webinar . Untuk Siswa  adanya  penyediaan  kuota  gratis,  belajar  dari rumah di TV RI, belajar di radio RRI (yang ada  TV dan radio) , lewat rumah  belajar.  Tapi? Apakah  solusi itu  sudah menjangkau untuk kita semua.  Apalagi di  kota kecil saya?  Apakah sudah efektif ?

Ini merupakan PR kita semua. Semoga  Pandemi cepat berlalu. Semoga pembelajaran segera  normal seperti  dulu. Apapun  upaya pemerintah  tidak  bisa efektif.  Guru,  Orang tua dan Siswa pusing semua. Salam literasi!.

 

Waingapu, 14 Oktober 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...