.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Kita sering mendengar ungkapan “Family Is Not An Important Thing, Family Is Everything”. Selintas, pernyataan itu tampak berlebihan, namun hal itu akan benar-benar dirasakan pada saat seseorang kehilangan keluarga yang sangat dicintainya.

Bukan saja kehilangan karena kematian atau perceraian, namun termasuk pula kehilangan kehangatan, kehilangan keharmonisan, kehilangan cinta, atau kehilangan kemesraan. Sangat terasa betapa penting sebuah keluarga.

Dalam acara Launching Tiga Buku hari Sabtu 7 November 2020 lalu, saya mendapatkan kisah sangat inspiratif dari tiga emak penulis buku. Ketiganya menceritakan dukungan nyata dari suami dan anak-anak, sehingga proses pembuatan buku berjalan dengan lancar.

Optimalkan Potensi Keluarga

Yulia K. Rohima, penulis buku Catatan Pejuang Sakinah menceritakan dukungan nyata dari suami dan anak-anak dalam proses pembuatan buku. Sudah dua buku diterbitkan Mak Yulia, dari pembelajaran di Kelas Emak Punya Karya (EPK) Batch 1 / 2020.

Di kelas, saya sampaikan agar para peserta mampu mengoptimalkan potensi keluarga untuk kelancaran pembuatan buku. Dengan mengoptimalkan keluarga, akan bisa melakukan efisiensi dalam anggaran.

Mak Yulia benar-benar melakukan itu. Ia berdiskusi dengan suami soal isi buku. Untuk editing –yang menjadi komponen anggaran cukup besar apabila dilakukan oleh editor profesional, diserahkan kepada anak-anaknya. Demikian pula layout, dikerjakan oleh anak.

Yulia K. Rohima

Mak Yulia hanya meminta tolong kepada pihak lain untuk pembuatan cover. Setelah itu, bahan diserahkan kepada pihak penerbit, hingga buku bisa diterbitkan. Dengan demikian, ia sangat efektif dan efisien dalam pengeluaran biaya. Praktis hanya mengeluarkan biaya pembuatan cover dan proses mencetak buku saja.

Baik buku pertama maupun buku kedua, semua dikerjakan bersama tim keluarga inti. Yang dirasakan oleh Mak Yulia adalah –bukan hanya berhasil membuat buku. Namun membuat bisa lebih banyak mengobrol dengan suami, dan menguatkan keharmonisan keluarga.

Azzam Penggenggam Quran

Suami Siaga

Endang Supriati, penulis buku Azzam Penggenggam Quran, mendapatkan dukungan yang luar biasa dari sang suami tercinta. Mak Endang mengaku, dirinya tidak punya minat menulis. Namun sang suami terus mendorong dirinya agar belajar menulis.

Sang suami membiayai Mak Endang untuk ikut berbagai kelas menulis. Hingga akhirnya bertemu Kelas Jejak Cinta Ananda (JCA), dan Kelas EPK Batch 1. Dengan dukungan semangat dari suami, Mak Endang akhirnya bisa menuntaskan pembuatan naskah bukunya dalam waktu dua bulan.

Ia mengaku gaptek urusan laptop dan komputer. Maka ia optimalkan menulis menggunakan smartphone. Setiap hari ia menulis di smarphone, kemudian mengirim hasil tulisan ke suami melalui aplikasi whatsapp. Suami akan membaca dan memindahkan ke program MS Word di laptop. Begitu setiap hari.

Endang SP Usman

Sang suami dengan sabar dan telaten membantu proses merapikan tulisan di MS Word. Bahkan sang suami menghitungkan progres penulisan pada word count untuk mengetahui jumlah karakter yang telah dihasilkan setiap hari. Ini untuk laporan harian Mak Endang di Kelas EPK.

Sang suami juga membiayai proses pracetak, seperti editing yang dilakukan oleh pihak editor profesional, desain cover, serta layout. Berikutnya membiayai biaya penerbitan buku. Alhamdulillah, baru proses di penerbitan, preorder buku sudah terbeli lebih dari 200 eksemplar. Luar biasa.

Leni Cahya Pertiwi

Pengertian Suami

Leni Cahya Pertiwi, penulis buku Happy Mama merasa bahagia karena didukung sepenuhnya oleh pengertian suami. Saat Mak Leni meminta izin kepada suami untuk mengikuti Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku, sang suami langsung menyetujui dan membayari ongkosnya.

Demikian pula saat meminta izin untuk mengikuti Kelas EPK Batch 3, langsung disetujui dan dibayari oleh suami. Dilanjutkan dengan proses menulis buku, ia bersyukur karena didukung sepenuhnya oleh suami. Bahkan anaknya sering menanyakan, apabila tampak sang ibu pada hari itu belum menulis.

Mak Leni kadang harus lembur, atau mengurung diri di kamar saat menulis. Ia memerlukan suasana tenang agar bisa menulis, dan tidak diganggu dengan aktivitas lain. Sang suami sangat maklum, sehingga Mak Leni bisa optimal menulis.

“Suami saya tidak protes saat saya harus lembur atau mengurung diri untuk menulis. Ia sangat mendukung saya bisa membuat buku tentang ibu”, ujar Mak Leni bahagia.

Inilah bentuk dukungan nyata dari keluarga. Dengan dukungan suami dan anak-anak, para emak bisa leluasa menuliskan karya.

  18 kali dilihat